Magnolia
Chapter 11
Language: Indonesian
Rated: T
Genre: Supernatural/Drama/Romance
Disclaimer: Always Masashi Kishimoto
Summary: Sebuah tanda yang digambar di bagian lengan atas Nona Shizune menarik perhatiannya. Tanda berwarna hitam, yang menyerupai kobaran api, dengan bulatan-bulatan kecil di sekitarnya/AU/
x-x-x
"Jadi… kau yakin memakai cara ini?" tanya seorang gadis berambut merah muda, dengan secangkir coklat hangat dalam genggamannya.
Seorang pemuda bermata lavender di depannya hanya mengangguk pelan. "Percayalah. Tidak ada cara lain lagi selain ini," ujarnya, sedikit tidak mantap.
"Dengar, perkataanmu saja menunjukkan kalau cara ini 50:50, bagaimana kau mau meyakinkan kami?" tanya Naruto, yang memeluk kedua lututnya kedinginan.
Suasana malam itu memang sedikit lebih dingin dari malam sebelumnya. Hujan gerimis baru saja reda, yang mulai turun dari tadi sore.
Haruno Sakura, anak tunggal dari keluarga pemilik rumah yang ditinggali oleh keempat remaja itu sejak tadi bolak-balik memeriksa suhu pemanas ruangan disana. Cuaca hari itu agak dingin sejak siang hari, dan ketika malam datang pun tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka jaket.
Keempatnya berpakaian piyama lengkap, dengan celana panjang dan jaket tebal yang menutupi tubuh mereka. Walaupun belum memasuki musim dingin, namun di daerah pinggiran ini cuaca relatif berubah dingin lebih cepat.
Yah, bisa dipikirkan sendiri bagaimana dinginnya jika musim dingin yang sebenarnya sudah tiba.
"Tapi menurutku ini cara paling efektif, mengingat sudah ada bukti yang dipegang Tenten," tandas Sasuke, sedikit membela perkataan Neji. "Selama 3 tahun disana, hanya Tenten yang pernah terkena kutukan jahat macam itu kan?"
Neji mengerutkan alisnya, namun mengangguk. "Ya, kecuali korban-korban yang tewas misterius saja. Dulu, mereka tewas tiap 2 minggu sekali, makin kesini makin sering kejadiannya," ujarnya serius. "Apalagi semenjak kau masuk sekolah ini."
Gadis berambut merah muda yang merasa dirinya ditunjuk, sontak menaikkan sebelah alisnya. Bagaimanapun juga, hal yang dikatakan Neji memang ada benarnya.
Semenjak Sakura masuk ke sekolah itu dan menjadi murid disana, sekolah selalu saja digegerkan oleh kejadian-kejadian aneh. Dan yang perlu diingat, semua kejadian itu selalu menghasilkan korban, serta terkait dengan sebuah sosok berjubah hitam.
Menurut penuturan Naruto, Neji, dan Sasuke, sebelum dirinya menjadi murid disana, kejadian macam itu memang kadang terjadi. Namun, baru sekaranglah mereka tahu pelaku yang sebenarnya mendalangi semuanya. Satu hal yang disayangkan hanyalah, mereka belum mengetahui wajah dibalik tudung hitam tersebut.
"Tunggu. Kau tidak menuduhku sebagai seseorang dibalik tudung hitam itu kan?" tanya Sakura dengan nada menginterogasi.
Sasuke yang duduk disampingnya sambil bersila sedikit terkekeh. "Tentu tidak. Kau tidak ingat? Bukankah kau sendiri yang mengejar sosok itu sampai ke gudang saat ruang makan geger waktu itu?" tanyanya.
Gadis itu menoleh kearah Sasuke dengan dahi yang mengernyit. "Oh ya! Aku baru ingat. Gara-gara kejadian itu, kau sampai harus membawakan makaroni panggang untukku," ujarnya tersenyum. "Dan… disitu juga aku mendengar suara misterius dalam kepalaku."
Neji menghela nafas pelan. "Yang kau tafsirkan sebagai suara… Hinata?" tanyanya.
Sakura mengangguk. "Ya. Maksudku… hanya dia orang yang mungkin. Dia selalu berkata untuk membantu dan menjaga kakaknya, dan disini hanya kaulah yang memiliki seorang adik perempuan," jelasnya.
Suasana kembali hening, sementara waktu menunjukkan hampir lima menit sebelum mencapai tengah malam. Suara burung malam di luar terdengar makin keras dan ramai di telinga mereka, sehingga menyiratkan sedikit perasaan ngeri.
Naruto yang sedari tadi mencuri pandang kearah tangga yang menuju lantai dua, kini mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia kembali teringat saat dirinya masih berada di panti asuhan dulu.
Kakek pemilik tempat itu selalu mengumpulkan anak-anaknya, di malam penghujung musim gugur. Mereka selalu berkumpul di ruang tengah, menyalakan api di perapian, dengan secangkir coklat hangat di tangan masing-masing.
Sang kakek akan bercerita tentang kehidupan di masa mudanya, dengan sedikit bagian cerita yang dilebih-lebihkan. Ia selalu berkata 'berada dekatlah dengan teman dekat kalian, ketika bahaya tengah mengancam. Bagaimanapun juga, teman adalah senjata terbaik dalam medan pertempuran.'
Pemuda berambut kuning itu tersenyum kecil mengingat memori dimasa mudanya. Tentu saja, ia berusaha menyembunyikan ekspresinya itu. Sepasang mata birunya menoleh kearah Neji yang tiba-tiba bangkit dari duduknya, sambil mengusap-usap lengan bagian atasnya.
"Kau mau kemana?" tanya Naruto.
"Tidur. Besok kita harus bangun pagi-pagi," jawab Neji tanpa menolehkan wajahnya.
Sebelah alis Naruto mengangkat. Tidak, masih besar kemungkinannya kalau sosok bertudung hitam itu akan kembali malam ini, dan ia tidak ingin mengambil resiko membiarkan Neji terpisah dari mereka. Sejauh yang diketahuinya, keturunan kelima itu kelewat licik dalam menggunakan siasat.
"Jangan! Maksudku… kita harus selalu bersama," ujar Naruto.
Kini, giliran alis Neji yang terangkat. "Ayolah, kita bukan sekelompok anak kecil yang harus tidur bersama-sama karena takut gelap," balasnya.
Naruto menggelengkan kepalanya frustasi. "Bukan itu maksudku!" katanya. "Masih besar kemungkinannya sosok itu akan kembali. Jangan mempermudah kerjanya untuk membunuh kita semua, dengan tidur terpencar malam ini."
Sasuke yang semula terdiam mendengar perkataan mereka berdua, mengubah posisi duduknya. "Naruto ada benarnya. Ini malam terakhir, sebelum besok kembali ke asrama. Sosok itu tidak akan melewati kesempatan cemerlang macam ini," ujarnya pelan.
"Ya. Kurasa malam ini kita harus tidur disini," ucap Sakura, yang baru saja mengecek pemanas ruangan. "Siapa tahu kalau dia kembali kesini, kita bisa langsung membuka kedoknya."
Onyx, emerald, dan biru laut, ketiganya memandang kearah pemuda bermata lavender itu, sementara Neji masih terdiam di tempatnya. Ia belum juga mengambil langkah maju, ataupun mundur. Sesungguhnya, ia kembali teringat pada Hinata, sehingga pikirannya agak kacau sekarang.
Pemuda itu merasakan pandangan dari ketiga sahabatnya. Ia memang butuh waktu untuk sendirian, namun ia juga membenarkan perkataan Naruto dan Sasuke, bahwa mereka tidak boleh membiarkan sosok bertudung itu untuk kembali menjadikan mereka sebagai bulan-bulanannya.
Dengan pikiran itu, seringai tipis terbentuk di bibirnya. "Baiklah, aku mau mengambil selimut dan bantal dulu," ujarnya. "Sebaiknya… kalian ikut untuk mengambil milik kalian juga."
x-x-x
"Mau kemana, Shizune?" tanya sebuah suara berat dari arah ujung lorong di depan pintu utama asrama.
Wanita berambut hitam pendek yang berjalan agak pincang itu terpaksa menghentikan langkahnya, dan menoleh kearah datangnya suara. Ia menyibakkan rambut hitamnya yang sedikit menghalangi pandangannya saat itu.
"Hanya… berjalan-jalan sebentar keluar, Kakashi. Aku mau mencari angin," jawabnya pelan.
Terdengar suara kekehan kecil dari arah seorang pria berambut perak dengan masker biru tua yang menutupi sebagian wajahnya. Ia mengenakan jaket panjang berwarna hitam sebatas lutut, serta sepasang sarung tangan yang terbuat dari wol. Andaikan bibir dan hidungnya tidak tertutup masker, maka uap-uap berwarna putih akan keluar setiap kali ia menghembuskan nafas.
Pria itu melangkahkan kakinya pelan, mendekati dimana Shizune berdiri. Suara ketukan antara sepatu bersol keras dengan lantai pualam pun agak terdengar pelan.
Shizune yang masih diam di tempatnya, berusaha untuk menutupi raut wajahnya yang sedikit gugup. Berkali-kali uap-uap putih keluar dari hidung dan mulutnya saat ia tergesa-gesa untuk bernafas.
"Kau pikir kau bisa membohongiku semudah itu, Nona Shizune?" tanya pria berambut perak itu. "Itu hanyalah sebuah alasan biasa bagi orang yang pintar berkilah."
Sepasang alis berwarna hitam gelap itu mengerut. "Ka… Kakashi… ini tidak seperti yang kau pikirkan. Sungguh, aku hanya ingin keluar."
Kakashi menyeringai di balik maskernya. "Coba kau pikir, Shizune. Kemarin kau sampai di sekolah ini siang hari, dengan penampilan layaknya seorang pengembara jalanan. Kau bertelanjang kaki, dan kakimu mengalami retak tulang…"
"… sebenarnya, apa tujuanmu, Shizune?"
x-x-x
"Menurutmu apa kita akan berhasil, Sasuke?" tanya sebuah suara feminin pelan, dengan nada putus asa di dalamnya.
Seorang pemuda berambut hitam mencuat yang merasa namanya dipanggil itu perlahan kembali membuka sepasang mata onyxnya. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya yang bersumber dari lampu jalanan itu, mata onyxnya terlihat lebih gelap.
Ia melempar pandangannya ke jendela, dimana cahaya-cahaya dari lampu diluar membias disana. Suara rintik-rintik kecil yang terdengar jelas di suasana yang sunyi itu menandakan bahwa hujan akan turun sebentar lagi.
Sasuke merubah posisi tidurnya, yang tadi menghadap kiri menjadi berbaring. "Aku… tidak tahu, Sakura," jawabnya pelan, dengan suara berat khasnya. "Aku hanya bisa berharap, kalau semua cara ini dapat berjalan lancar."
Seulas senyum tipis menghiasi wajah gadis berambut merah muda itu. "Mudah-mudahan saja. Mulai besok di sekolah kita harus bergerak cepat. Jangan sampai kita kehilangan satu atau beberapa nyawa lagi," ujarnya. "Pasti turunan kelima itu melakukan ini untuk memperbesar kekuatannya."
Sasuke mengangguk. "Yah. Secepatnya kita harus tahu status Nona Shizune," ucapnya. "Ngomong-ngomong kau tidak mengantuk?"
"Tidak. Kau?" tanya Sakura balik.
Pemuda berambut hitam itu menggeleng pelan. Walaupun Sakura tidak melihatnya, namun dengan 'aksi diam' Sasuke, gadis itu akan segera mengetahuinya.
Sasuke menarik selimut berwarna biru gelapnya lebih naik keatas, sebatas dadanya. Pemuda itu belum juga melepaskan jaket tebal berwarna hitam yang sedari tadi sore menutupi tubuhnya di atas piyama.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi, dan ia bersumpah bahwa kesepuluh jari kakinya sudah membeku sekarang.
"Lucu juga ya kita tidur seperti ini," ujar Sakura lagi. "Kenapa kita tidak tidur seperti ini waktu pertama kali sampai disini ya?"
Terdengar suara hembusan nafas berat. "Ya, dan akibatnya punggungku, Naruto serta Neji akan sakit setiap pagi," jawab Sasuke dengan nada sarkastik.
Sakura terkekeh kecil. "Maaf. Maaf. Habis, aku kan perempuan sendiri disini. Jadi, aku memang harus tidur di sofa, dan kalian bertiga mengampar di bawah."
Sasuke memutar bola matanya. Memang benar perkataan Sakura. Mereka berempat memang tidur di ruang tengah keluarga Haruno, dengan Sakura satu-satunya orang yang tidur diatas sofa panjang. Sementara itu, Sasuke mengampar di samping sofa, dilanjutkan dengan Naruto dan Neji.
Intinya, pengaturan tempat ini deal setelah berperang mulut selama kurang lebih 3 menit. Neji terus mengatakan kalau ide Naruto untuk tidur di ruang keluarga hanya akal-akalan saja karena takut akan gelap. Sementara Naruto membela idenya dengan mengatakan bahaya akan selalu menguntit mereka.
Sakura yang masih sibuk mengecek pemanas ruangannya yang sedikit rusak hanya dapat mengetukan kakinya keras-keras ke lantai. Lain halnya dengan Sasuke yang masih berkutat menyusun karpet lebar, selimut-selimut tua yang tebal, lalu seprai untuk dijadikan alas tidur.
Saat alas tidur sudah selesai, Neji dan Naruto kembali ribut dengan siapa yang akan tidur di tengah-tengah. Neji yang sudah menyadari akan hal ini, dengan sigap duduk di tempat paling pinggir dekat dengan televisi dan meja tamu, dan Sasuke dengan cepat 'menyelamatkan' tempatnya dengan sedikit ancaman pada Naruto.
"Berikan tempat ini padaku, atau kau tidak akan pernah merasakan ramen terbaru lagi."
Dengan mengingat kejadian itu, Sakura tertawa halus. "Kalian ini, seperti―"
"Sssstttt…"
Sepasang alis berwarna merah muda itu mengerut. "Kenapa Sasuke?" bisiknya pelan.
"Aku… mendengar sesuatu dari arah dapur."
x-x-x
"Katakan padaku, Shizune. Sebenarnya, apa tujuanmu?" tanya suara berat milik Kakashi, dengan nada sedikit memaksa.
Wanita berambut hitam pendek itu, kini lebih memilih untuk mengambil selangkah untuk mundur dari tempatnya semula. Kedua tangan tanpa sarungnya bergetar, entah karena hawa yang dingin ataupun karena terlalu takut menghadapi pria dengan bola mata onyx tajam di depannya.
Suara ketukan antara sepatu berhak milik Shizune dengan lantai yang dingin terdengar agak goyah di telinga Kakashi, yang disebabkan oleh kakinya yang pincang. Satu langkah mundur yang diambil oleh wanita itu, segera 'dibayar' oleh satu langkah maju dari Kakashi.
Begitu seterusnya, hingga akhirnya bagian belakang tubuh Shizune berinteraksi dengan dinding berbatu yang dingin.
"Kakashi, hentikan ini. Kau membuatku seperti seorang tersangka yang harus mengakui perbuatan jahatnya," ucap Shizune agak memelas. "Tolonglah… aku bukan seseorang yang seperti itu."
Lagi-lagi, seulas seringai tipis terbentuk di balik masker pria itu. "Hn? Kau yakin dengan ucapanmu?" tanyanya dengan nada angkuh. "Menurutku, kau lebih mirip dengan situasi pada kalimatmu yang pertama."
Shizune menggigit bibir bawahnya. Agak keras, sehingga ia bisa merasakan bagian disana terasa kelu. Blus panjang yang dikenakannya serasa tidak mampu sama sekali untuk melawan rasa dingin yang semakin menggigit. Apalagi dengan keadaan terpojok seperti itu.
Ia tidak berbohong, ketika mengatakan pandangan Kakashi yang tertuju padanya saat itu, membuatnya sulit bernafas. Sesekali uap putih yang dihasilkan sangat tipis, namun adakalanya juga agak tebal.
Kakashi sendiri yang saat itu masih dalam status 'penyidik' tidak tahu harus merasa senang, melihat tersangkanya kini ketakutan, atau iba, melihat seseorang yang dekat dengannya berada di posisi itu. Namun, ia selalu mengingatkan dirinya, atas sedikit bukti yang saling terkait selama ini.
"Katakan, Shizune. Kemana saja kau setelah berpisah denganku waktu aku diserang beberapa hari lalu?" tanya Kakashi menginterogasi. "Saat itu, kau benar-benar menghilang. Rumor mengatakan kau sakit, sampai-sampai Nona Ayame menggantikan tugasmu di kantin."
Shizune mengerutkan sepasang alisnya. "A-aku, benar-benar sakit, Kakashi. Aku… tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan penyakitku itu―"
"Bisa kau jelaskan kenapa kau muncul setelah kematian Rock Lee? Saat berada di aula waktu itu pun, wajahmu terlihat segar bugar," ujar Kakashi tajam, memotong kata-kata wanita itu. "Mustahil dikatakan kau baru sembuh dari sakit keras, atau apalah itu."
Wanita berambut hitam pendek itu kembali terdiam, dengan pertanyaan Kakashi yang berkaitan dengan kematian Rock Lee. Sialnya lagi, ia tidak bisa menyangkal kebenaran atas kata-kata Kakashi yang terkesan memojokkannya.
Kini, bukan waktu bagi dirinya untuk meminta belas kasihan. Ia bisa saja mengatakan semua yang sebenarnya. Namun, ia tahu pasti. Dirinya tidak bisa berkutik selama tanda itu masih ada, dan menempel pada anggota tubuhnya.
Kakashi menghela nafas panjang. "Beritahu aku, Shizune. Apa kau membunuh Rock Lee? Atau… kau sibuk mengurus seseorang yang lemah karena tidak mendapat korban?"
x-x-x
"Kau yakin?"
Seorang pemuda berambut hitam yang tengah berjingkat menuju dapur keluarga Haruno, hanya menganggukan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan Sakura. Keduanya berjalan berdekatan, dengan insting masing-masing yang terpasang kuat.
Sejak ia meninggalkan sofa tempatnya tidur, ia masih belum juga melepaskan bagian belakang jaket yang dikenakan Sasuke. Pegangannya agak bergetar, sehingga pemuda itu merayapkan tangannya ke belakang dan menangkap tangan Sakura.
"Tidak apa-apa. Toh kalau memang dia disini dan akan menyerang, aku yang akan kena duluan," ujarnya berbisik, namun setengah bercanda.
Sakura mengerutkan alis atas candaan Sasuke, atau kata-kata pemuda itu, yang kelewat mengerikan baginya. Bagaimana mungkin kau tega melihat sahabat sendiri jatuh di depanmu, gara-gara sebuah sosok bertudung hitam?
Gadis itu sama sekali tidak merespon kata-kata Sasuke tadi, dan hanya terdiam ketika pemuda itu mulai membuka pintu kayu yang menuju dapur. Sedetik setelah pintunya dibuka, mereka langsung berhadap-hadapan dengan dua buah jendela kaca geser besar tanpa teralis, dengan bingkai kayu.
Sepasang mata emerald milik Sakura terfokus pada sudut kanan dimana disana terdapat sebuah kulkas besar. Sudut kosong yang tadinya tempat sebuah konter, terlihat janggal untuknya. Namun, ia langsung mengalihkan pandangannya saat dirasanya tubuh Sasuke menegang kaget.
"Ada apa?" bisik Sakura pelan.
Sasuke sontak melepaskan pegangannya pada Sakura, dan segera bergegas menuju jendela geser itu, dan menggesernya kasar. Angin dingin di pagi buta menerpa wajahnya, dan sepasang onyx kelam itu mencari sesuatu diluar dengan tergesa.
"Sasuke katakan, ada apa?" tanya Sakura, merenggut jaketnya lemah.
"Dimana…" bisik pemuda itu pelan. "Dimana surat peninggalan itu?"
Gadis berambut merah muda itu mengerutkan dahinya. "Tadi… Neji membawa surat itu bersamanya. Kurasa surat itu dibawanya tidur. Memang kenapa?" jawabnya.
Sasuke tak menjawab, melainkan langsung menarik tubuh Sakura keluar dari ruangan itu. "Dia dalam bahaya."
x-x-x
"Jawab aku, Shizune," ujar Kakashi dengan nada memaksa.
Pria itu mengambil selangkah maju lebih dekat lagi, dan menangkap kedua bahu Shizune dengan agak kasar. Sementara itu, wanita di depannya hanya bisa bergetar lebih hebat, dan menggigit bibir bawahnya lebih keras hingga bagian disana agak memerah.
Saking keras Shizune menggigit bibirnya, dirasanya cairan hangat yang agak asin mampir di ujung lidahnya. Ia juga merasakan cairan itu mengalir menuruni lekuk antara bibir dan dagunya.
Kakashi tersenyum di balik maskernya. "Shizune… Shizune. Jangan sakiti dirimu seperti ini. Lihat, bibirmu saja sampai berdarah begini," ujarnya pelan sambil menyeka bagian merah itu. "Yang perlu kau lakukan adalah katakan semuanya padaku."
"K-kau… tidak akan mengerti," jawabnya pelan, tak lebih dari sekedar bisikan.
Kekehan kecil terdengar dari arah Kakashi. "Dengar. Akan kukerahkan semua kerja otakku untuk dapat mengerti semua yang akan kau katakan. Jangan khawatir, aku tidak akan menarik kata-kataku," ujarnya. "Aku hanya ingin membantu anak-anak itu."
Shizune mengerutkan dahinya. "Tolong Kakashi… lindungi aku setelah kuceritakan semua rahasia ini. Aku… takut."
Suara Shizune yang terdengar memelas hampir membuat pijakan kaki pria itu goyah. Sejak semenit lalu pun ia tidak ingin semakin memojokkan Shizune seperti ini. Namun di kepalanya, terlintas bayangan keempat orang remaja yang tengah berusaha memecahkan teka-teki nenek moyang mereka.
Lalu, muncullah bayangan Obito serta masa-masa terakhir bersamanya. Hatinya kelu, saat kembali mengingat soal hadiah yang diberikan oleh sahabat kecilnya itu. Ia hanya tak ingin keempat muridnya merasakan hal sama seperti Obito, yakni mati sia-sia.
"Aku akan melindungimu, Shizune. Aku berjanji, tapi setelah kau mengatakan semua ini," ujarnya, memegang erat bahu wanita itu. "Sekarang katakan padaku. Darimana semua kejadian ini berasal?"
Shizune menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum akhirnya menyinsingkan lengan baju kanannya. Sebelah mata onyx Kakashi membelalak, dengan sebuah tanda berwarna hitam disana.
Tanda itu berupa kobaran api hitam, yang diselilingnya terdapat lingkaran kecil-kecil. Kakashi hanya bisa menggumam tak jelas dengan dilihatnya tanda yang terdapat di lengan Shizune itu.
"Hm… baiklah. Malam ini, sampai anak-anak itu kembali, jangan pernah keluar dari ruanganku. Kecuali siang hari saat kau tugas di kantin."
x-x-x
Suara derap langkah yang tergesa menemani Sasuke dan Sakura yang tengah berlari menuju ruang tengah. Beberapa kali lengan, atau kaki mereka terantuk perabotan di ruang makan.
Sementara Sasuke fokus untuk mencapai ruang tengah dengan waktu singkat, Sakura masih sempat mengedarkan pandangannya menyisir daerah di sekelilingnya.
'Ya Tuhan!'
Sedetik setelah kedua remaja itu mencapai ruang tengah, lagi-lagi mereka disambut oleh sesuatu yang hancur tak berbentuk. Sepasang pintu kayu yang menghubungkan ruangan itu ke ruang tamu, kini tidak ada di tempat yang semestinya, melainkan sudah terganti oleh kepingan-kepingan kayu yang berantakan.
Sasuke masih mencari-cari kemana sosok itu pergi. Pencarian itu berakhir dengan ditemukannya sosok hitam yang ingin menancapkan sebatang potongan kayu tajam pada seseorang yang tidur paling pinggir.
"Neji! Naruto! Bangun!" teriak Sasuke, sambil berlari menghampiri dimana sosok itu berdiri.
Semakin cepat pemuda itu melangkahkan kakinya, semakin cepat pula gerakan sosok itu, yang sebentar lagi akan mengakibatkan luka fatal pada Neji. Sepasang mata onyx Sasuke tertuju pada sosok itu, tapi sepertinya sosok itu dapat memblok semua sihir pemuda itu padanya.
Dengan rasa putus asa, Sasuke semakin mempercepat larinya. Ia sedikit mengalihkan pandangannya ketika ujung tajam batang kayu mencapai 2 senti dari tubuh Neji.
'Sialan!'
Praang!
Suara barang pecah belah memaksa Sasuke untuk membuka matanya kembali. Sepasang onyx itu membelalak dengan tidak ditemukannya sosok bertudung hitam dari sisi Neji, yang malah digantikan oleh sosok Neji tengah mengucek matanya.
"Hei kalian, tidurlah… lihat ini pukul berapa?" tanya pemuda itu dengan wajahnya yang mengantuk.
Sasuke menggigit bibir bawahnya. "Bodoh! Buka matamu! Kau ini hampir mati sedetik lalu!"
Sebelum pemuda bermata lavender itu sempat merespon kata-kata Sasuke, pecahan benda pecah belah tadi melayang di udara. Sontak, tubuh Neji menegang kaget karena hampir tidak mengantisipasi serangan yang terlalu cepat.
Neji hanya bisa menggeser tubuhnya agak menjauh, sebelum kemungkinan paling buruk terjadi padanya. Kepala bagian belakangnya masih terasa nyeri, dan hal itu membuatnya agak oleng ketika langsung berdiri dari posisinya yang berbaring.
Pandangannya terasa berputar, dan ia dapat merasakan tubuhnya jatuh ke tanah. Mungkin saja wajahnya duluan yang akan membentur, jika saja Sakura tidak segera menangkap tubuh Neji yang lemah itu.
"Hm… terima kasih," bisik Neji pelan.
Persoalan tubuh Neji yang akan membentur lantai memang sudah selesai. Kini giliran soal pecahan beling yang tadi sempat tertuju lurus padanya.
Sasuke yang memperhatikan keadaan di depannya, berusaha untuk mengerahkan seluruh kekuatannya. Namun sepertinya sosok itu sudah lebih dulu menyihir Sasuke, sehingga kini kedua kaki pemuda itu sulit untuk digerakkan, seperti membatu.
Begitu juga halnya pada Sakura dan Neji. Gadis itu hanya bisa membantu Neji sebatas menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke tanah, lantaran kini keduanya tidak bisa bergerak sama sekali. Kedua remaja itu benar-benar sudah seperti sasaran empuk bagi sosok bertudung itu.
Pecahan-pecahan itu mundur, seakan mengambil ancang-ancang untuk menerjang kearah Neji dan Sakura. Sosok itu berdiri penuh kemenangan, dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Lengan baju kurung hitam yang dikenakannya longgar, sehingga ketika ia mengangkat kedua tangannya, lengan itu merosot sebatas lengan atasnya.
Dari kondisi lengan yang mulus, serta kesepuluh jari yang dikuteks merah Sasuke hanya bisa menyimpulkan kalau penyerang hari ini adalah wanita. Tapi, bukan hal itu yang sekarang dicarinya, melainkan cara untuk membebaskan dirinya dari pengaruh sihir.
Pecahan-pecahan itu melesat cepat. Kedua remaja yang menjadi sasarannya saat itu hanya bisa menutup kedua mata mereka dalam kepasrahan.
Bruagh!
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Sebelah alis Sakura mengangkat. Tidak mungkin pecahan itu belum sampai, dan bersarang pada tubuhnya. Minimal jika dengan rentang waktu seperti ini, kulit mereka sudah mengalami besetan disana-sini. Tapi sekarang, merasakan ujung tajam pun tidak.
'Hm mustahil. Menuju kemana sebenarnya pecahan-pecahan itu?' batin Sakura.
Iapun membuka kedua mata emeraldnya, dan segera menoleh kemana sosok itu tadi berada. Namun, ia tidak menemukan apa-apa disana. Sementara itu, tiba-tiba saja kakinya dapat bergerak bebas, dan Neji langsung bergegas mengamankan surat peninggalan yang tadi ia simpan di bawah bantal.
"Kenapa…"
"Sudah kubilang, kan? Sosok itu akan kembali," ujar Naruto, dengan cengiran di wajahnya.
Ketiga remaja yang sudah terbebas dari pengaruh sihir itu sontak mengikuti arah tunjukan jari telunjuk Naruto, yang masih terduduk di tempatnya tidur. Pemuda berambut kuning itu menunjuk kearah sudut ruangan dengan meja kecil berhias bunga disana.
Tapi, keberadaan meja kecil itu kini tergantikan oleh seseorang dalam selimut yang tengah meronta-ronta. Seulas senyum tipis menghiasi wajah Sakura, yang segera mengambil langkah untuk menyingkapkan selimut itu.
Ketika gadis itu sampai di depannya, perlahan ia mengulurkan tangannya untuk menyingkap selimutnya, serta membuka kedok dari sosok itu.
"Kutemukan…" ujarnya dengan nada semangat. "…kau."
…
…
…
"Sial! Dia melarikan diri!"
Sasuke yang mendengar teriakan Sakura, segera bergegas menuju ruang tamu melewati pintu yang hancur tadi. Sosok bertudung hitam yang berlari di depannya menjadi objek penglihatannya kali ini. Tapi, jarak mereka terpaut jauh.
Seringai tipis terbentuk, saat dilihatnya sosok itu berhenti di kejauhan. Sasuke semakin mempercepat larinya, sekaligus menegang kaget saat sosok itu kembali mengangkat kedua tangannya.
"Oh sial. Jangan lag―akh!"
Dengan satu gerakan singkat, tubuhnya terlempar ke belakang. Seakan mengucapkan selamat tinggal pada Sasuke, sosok itu dengan santai menghancurkan pintu depan lalu menghilang di balik udara dingin di pagi buta itu.
"Ah sial! Lagi-lagi hak sepatu hitam yang ditinggalkannya!"
x-x-x
"…jadi, seperti yang kujelaskan tiga hari lalu di aula, dua hari ini silahkan kalian belajar sendiri. Guru-guru mata pelajaran akan ada di kantornya masing-masing jika kalian ingin bertanya―"
Suasana di kantin siang itu terlihat ramai dengan kembalinya para murid dari liburan 3 hari mereka. Bis yang mereka tumpangi baru sampai di sekolah sekitar setengah jam yang lalu. Para murid disambut oleh Tuan Ibiki, Tuan Iruka, dan Tuan Kakashi, yang sekaligus mengabsen mereka.
"―mengenai pencarian yang sudah kami lakukan sepanjang 3 hari kemarin, sudah dipastikan kalau sekolah ini bersih. Dewan sekolah memutuskan kalau pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini adalah ulah orang luar, yang memiliki gangguan jiwa―"
Para murid langsung menuju kekantin, atas perintah Nona Tsunade. Disana, sudah berkumpul seluruh warga sekolah, tidak terkecuali para pesuruh dan penjaga. Para guru disiapkan meja di sisi kanan, para pesuruh dan penjaga di sisi kiri, sementara para murid berada di tengah-tengah mereka.
Sakura dan Sasuke mengambil tempat agak ke tengah. Keduanya terdiam mendengar penjelasan Nona Tsunade, yang saat itu terlihat agak kelelahan. Ia hanya memakai blazer dan rok pendek selutut yang berwarna hitam, dengan dalaman putih. Sementara, suara ketukan di lantai berasal dari sepatu hak tingginya yang berwarna merah. Kuteks merah di setiap kukunya juga mencuri perhatian.
Hal itu membuat Sakura menaikkan sebelah alisnya. Sebelum ia sempat menyadari ada yang berubah, tepukan di bahu mengagetkannya.
"Hei, lihat. Nona Tsunade berganti warna sepatu. Dia itu memang modis ya?" bisik sebuah suara feminin yang ia kenal sebagai suara Ino. "Sepertinya sepatu hitamnya yang dulu rusak, sampai ia menggantinya. Sepatu hitam yang dulu itu kan sepatu kesayangannya."
Sakura menoleh kearah gadis pirang itu. "Tapi tetap saja auranya tidak berubah," jawabnya sambil tersenyum, yang segera dibalas oleh Ino.
"―baiklah, hanya itu pidato selamat datang dariku. Silahkan semuanya untuk bersantap siang. Terima kasih."
Nona Tsunade beserta ketukan sepatu anggunnya berjalan menuju meja para guru. Ia berjalan lurus ke satu arah, yaitu kearah Nona Shizune. Setelah mereka berhadap-hadapan, Nona Tsunade membungkukkan tubuhnya, seakan ingin berbisik.
Tentu saja hanya sedikit orang yang memerhatikan pemandangan ini, itupun sebagian besar dari mereka tidak peduli dan singkatnya mengalihkan pandangan kearah lain.
Tapi tidak, untuk Sasuke dan Sakura.
Onyx dan emerald, keduanya terfokus pada bagaimana cara Nona Tsunade mengubah raut wajah Nona Shizune, yang tadinya tenang menjadi agak gugup. Seusainya membisikkan sesuatu yang mungkin rahasia, sang kepala sekaligus pemilik sekolah itu berbalik, dan menuju pintu keluar.
Berbarengan dengan menjauhnya ketukan sepatu Nona Tsunade di luar kantin, Nona Shizune berdiri dan menuju konter makanan. Ia menyisir daerah di atas lemari yang tinggi, dan mencoba mencari sesuatu disana.
Dengan langkahnya yang pincang, ia berjalan agak ke samping, dan sedikit berjinjit. Tentu saja agak sulit dengan keadaan kakinya yang seperti itu.
Seulas senyum tipis menghiasi wajah Sakura. "Lihat ini, Sasuke."
Sebelum pemuda itu menangkap kata-kata Sakura, terlebih dahulu suara di ruangan itu hilang. Dalam sedetik, ia merasa bahwa ia tengah berada di suatu ruangan kedap suara. Dan, sedetik kemudian, para murid yang tengah mengobrol, menyuapkan makanan ke mulutnya, ataupun bercanda, seolah tersihir beku. Tidak terkecuali para guru dan pegawai.
Bahkan, ia dapat melihat jelas percikan air yang jatuh ketanah, yang berasal dari gelas Chouji. Hal yang menangkap perhatiannya kini adalah sosok Sakura yang berjalan perlahan menuju tempat Nona Shizune. Dengan mudah, gadis itu menyingkapkan lengan baju Nona Shzune sebatas lengan atasnya.
"Sasuke, kemari," ujar Sakura, tanpa mengalihkan pandangannya. "Cepat. Sihir pembeku ini hanya bisa bertahan selama 5 menit."
Sasuke lantas bangkit dari duduknya, dan segera membuat langkah. Ia berlari kecil menuju tempat Sakura berdiri dan segera berdiri di sampingnya.
Sebuah tanda yang digambar di bagian lengan atas Nona Shizune menarik perhatiannya. Tanda berwarna hitam, yang menyerupai kobaran api, dengan bulatan-bulatan kecil di sekitarnya.
"Sekarang aku hanya bisa berharap, Neji dan Naruto mendapatkan jawaban dari Tenten," bisik Sakura pelan.
x-x-x
"Benar ini apartemennya?" tanya seorang pemuda berambut kuning jabrik.
Neji hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Naruto, yang membuat sebelah alis pemuda itu terangkat. Pemuda bermata lavender itu lantas mengulurkan tangannya untuk mengetuk di pintu bertuliskan angka 189.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Naruto lagi.
Pemuda di sampingnya mengangkat bahu. "Insting," jawabnya. "Tapi, apartemennya sudah pasti yang ini."
Naruto tidak dapat berbuat banyak, kecuali hanya percaya pada Neji bahwa tebakannya benar. Sialnya, mereka berdua yang tidak tahu nama belakang Tenten, tidak mendapat informasi apa-apa dari meja resepsionis.
Neji dan Naruto sengaja kabur saat bis asrama mereka menjemput di tempat yang sama. Keduanya agak ragu, ketika tidak mengantisipasi Nyonya Kurenai yang akan mengabsen mereka sebelum masuk ke dalam bus. Namun, sedikit dorongan dari Sakura membuat keduanya lantas bersembunyi.
"Bersembunyi saja dulu. Sasuke akan mengurus semuanya. Ya kan?"
Saat tersisa Sasuke dan Sakura di hadapan Nyonya Kurenai, kilatan hitam lewat melintang di atas pupil onyx pemuda Uchiha itu. Bagai terkena disorientasi, Nyonya Kurenai seakan melupakan tugasnya untuk mengabsen, dan lantas menyuruh dua murid itu untuk segera memasuki bus.
Begitulah, sampai akhirnya mereka tiba di apartemen ini.
"Pertanyaan apa yang akan kita tanyakan padanya?" tanya Neji pelan.
Naruto hanya bisa mengangkat bahunya. Ia tidak ada di tempat kejadian saat Tenten tiba-tiba merasa seperti tercekik dan muntah darah. Kejadian itupun ia ketahui melalui cerita Neji.
Pikiran Naruto buyar saat didengarnya suara pintu yang terbuka, serta suara sapaan ramah.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita berambut hitam yang digelung keatas.
Naruto tersenyum ramah kearah wanita itu. "Siang. Err… kami kesini ingin mencar―"
"Neji? Naruto?" pekik sebuah suara dari belakang wanita itu. "Biarkan mereka masuk, Haku. Mereka teman-temanku."
Wanita yang dipanggil Haku itu kembali tersenyum, sambil membuka pintu itu agak lebar. Ia menyilakan kedua pemuda itu masuk, yang langsung disambut oleh Tenten dengan piyama berwarna hijau yang melekat pada tubuhnya.
Dahi Neji berkerut melihat penampilan gadis bercepol 2 itu. Sepasang mata coklat tuanya terasa kelam dan kurang bersinar, tubuhnya pun terlihat agak kurus dari biasanya. Sepasang lingkaran hitam tipis juga menghiasi area sekitar matanya.
"Kau sakit?" tanya Neji pelan, setelah Tenten mempersilakan mereka duduk.
Gadis itu mengangguk lesu. "Yah. Kau tahu, setelah kejadian itu," jawabnya. "Ngomong-ngomong tumben kalian kesini. Apa sekolah sedang libur?"
Naruto memperlihatkan cengiran khasnya. "Ya begitulah."
"Kami kesini untuk bertanya sesuatu padamu, Tenten," ujar Neji dengan nada yang mulai serius. "Bisakah kau mengingat orang yang kau temui sebelum waktu itu kau memasuki ruang kimia?"
Tenten tertegun atas pertanyaan Neji. Jemari-jemarinya tanpa sadar merenggut kain piyama yang dikenakannya, dan kedua kakinya saat itu terasa ngilu.
Neji yang sadar akan perubahan wajah Tenten, sedikit merutuki dirinya karena bertanya terlalu cepat. Seharusnya ia datang dengan sedikit basa-basi. Namun, apa mau dikata. Ia juga harus bergegas sebelum kemungkinan paling buruk terjadi.
Sepasang mata lavender itu menyisir penampilan Tenten di depannya. Ia masih mengingat akan kalung yang tiba-tiba dikenakan gadis itu saat masuk ke ruangan kimia. Padahal, hampir mustahil jika seseorang yang bukan penyihir memiliki kalung dengan simbol itu.
Tapi kali ini, dia bisa bernafas lega karena ia tidak menemukan kalung itu di leher jenjang Tenten.
"Aku… bingung. Tolong… beri aku… petunjuk," ucap Tenten sambil menutup wajahnya frustasi. "Aku… tidak dapat mengingatnya, Neji. Tolong, beritahu situasinya dulu."
Lemparan pada gadis itu, kini berbalik kearahnya. Giliran Neji yang harus mengingat situasi sebelum Tenten tiba-tiba berteriak karena tercekik, dan akhirnya ia harus membawanya ke ruang kesehatan.
"Kau memakai kalung itu," jawab Neji. Sialnya, hanya hal inilah yang paling diingatnya,
Tenten memejamkan kedua matanya erat. "Iya aku ingat yang itu. Tolong beri aku petunjuk mengenai… kenapa aku datang telat, minimal… apa kau mengingat kata-kataku?"
Neji menarik nafasnya lebih cepat. Tinggal selangkah lagi, dan mereka akan tahu. Siapa sebenarnya anggota keluarga Magnolia yang terakhir.
"Aku ingat," bisik Neji pelan, sebelum mengangkat wajahnya. "Dasimu terlalu longgar, dan bajumu sedikit kusut. Kau telat… datang dengan wajah muram. Pasti kau…"
Naruto nyengir. "Dimarahi."
x-x-x
To be Continued
A/N: Pertama-tama, saya mau minta maaf karena tidak jadi menghadirkan pertanyaan yang berkaitan dengan turunan kelima itu. Setelah dipikir-pikir, nanti jadinya kurang 'wah' pas di chapter terakhirnya. Apalagi, saya baru pemula buat fic rada misteri gini. Jadi, lebih baik tunggu chapter depan aja ya. *dikemplang
Bener, saya minta maaf banget karena gajadi. Di chapter ini juga udah keliatan kok sebenernya. Chapter 5, Tenten masuk kelas, pake kalung, muntah darah. Waktu Neji keluar, ada yang senyam-senyum gaje di pintu. Trus, pas Shikamaru dateng ke UKS, dia bilang 'seseorang' masuk tiba-tiba ke , suruh jagain Tenten. Janggal gak tuh? *enggaaa
Oke, ini balesan buat non-login:
rio murasaki: udah di update nih, hehe makasih yaa reviewnya. di chapter ini udah ketahuan kok, jati diri Shizune *cieilaah
Mugiwara Pirates: yap! udah nih. thanks for review...!
Aurellia Uchiha: yak, Sakura kan kuat. hehe. udah diupdate nih. makasi yaa reviewnya..
Naru-mania: iya, hehe. di chapter ini dah ketahuan kok jati diri Shizune. thanks for review yaa...!
See ya at the next chapter,
pick-a-doo
