A Life

Chapter 2

By : Vhy Otome

Disclaimer By

Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Warning : Gaje, typo.


Hari ini tepat tanggal 25 Desember. Tanggal dimana seharusnya sebagian orang merayakan hari ini dengan canda dan tawa bahagia, tapi tidak bagiku. Saat ini aku berada di tempat yang sudah berhasil merebut kebahagiaanku berkali-kali. Kutatap batu nisan yang ada di hadapanku dengan pandangan penuh arti. Kuangkat wajahku dan kutatap langit yang sudah berubah menjadi kelabu, lama kupandangi langit itu sampai tetes-tetes air berjatuhan membasahi wajahku. Kututup mataku seraya menunduk, lalu kutatap kembali nisan tersebut dan berjalan menuju nisan di mana tempat orang yang ku sayangi terbujur kaku dan duduk di sampingnya. Aku membuka mulutku dan berkata "Aku pasti akan menjaga mereka. . . . Ibu."
Setelah mengatakan itu akupun berdiri dan berjalan menjauh dari nisan tersebut. Tak ku pedulikan tetes hujan yang membuat sekujur tubuhku basah. Setiap berada di sini entah mengapa hatiku selalu terasa sakit. Luka lama yang ku pendam selalu terbuka kembali jika aku berada di sini. Membuatku merasa seperti orang paling menyedihkan di dunia ini. Tapi yah, aku harus tetap menjalaninya, demi mereka.
"Demi mereka." bisikku di tengah hujan yang tak henti-hentinya berjatuhan. Akupun berjalan pulang di tengah hujan yang terus berjatuhan.

-Pinggiran Kota Tokyo-

Dresss. . .

CTAR CTAR!

Hujan lebat dan petir yang sesekali menyambar, membuat sebuah gedung tua tak terawat kelihatan semakin suram dan menakutkan. Gedung tua itu dulunya adalah sebuah perusahaan sepatu yang cukup terkenal di seluruh jepang. Namun, pemilik perusahaan ini tertipu oleh rekan bisnisnya sendiri hingga harus gulung tikar dengan perasaan kecewa.

Dari gedung itu sayup-sayup terdengar suara rintihan kesakitan seorang pria yang berasal dari salah satu ruangan gedung.

"Hah . . . Hah . . . Hah . . Maaf, maafkan saya. Saya cuma disuruh oleh mereka." Mohon seorang pria separuh baya dengan tubuh penuh luka yang cukup dalam sampai membuat darahnya berceceran di seluruh ruangan. Dia bersujut dan memeluk kaki orang yang berada di hadapannya. Yang tak lain adalah malaikat pencabut nyawanya.
Sang malaikat mengibaskan jubahnya yang berwarna hitam dan dipenuhi bercak-bercak darah, diapun menarik kakinya dari pelukan pria itu.

CTAR!

Seberkas cahaya kilat sekilas menerangi wajah malaikat itu. Dari wajahnya tersirat kebencian dan kebengisan.

"Hah. . . Hah . . . Sa . . Saya mohon tuan." ucapnya bersujut di depan malaikat mautnya.

"Cih . . . Kau sudah mengotori sepatu dan bajuku dengan darah menjijikkanmu orang tua bodoh. Karna itu kau pantas mati." ucapnya dengan nada datar dan tatapan dingin.

CTAR

Sang malaikat menyibakkan jubahnya dan mengambil sebilah pisau kecil dari balik jubah itu.

"Eh . . . A . . .a. . .apa yang akan anda lakukan tuan?" seru pria itu ketakutan dan mencoba bergeser mundur walau dia sudah tersudut di ujung ruangan.

Sang malaikat mengangkat pisaunya tinggi sampai melewati kepalanya, lalu dia menunduk dan memegang leher pria itu.

"A. . .argh. . . To . .tolong lepaskan tu. .tuan." ucapnya tergagap-gagap karna lehernya dicekik hingga sulit berbicara.

CTAR

Terbersit sebuah wajah yang tersenyum penuh kemenangan dan sorot matanya menyiratkan sebuah keinginan gila. Yaitu keinginan untuk membunuh pria yang ada di depannya.

Pria itu terkejut dan dengan tergesa-gesa dia mencoba melepas tangan malaikat mautnya dari lehernya. Namun terlambat, sebilah pisau kecil yang sangat tajam melesat dengan cepat dan menghunus kepalanya.

"Aaarrrgggh . . . " teriak pria itu kesakitan sampai akhirnya dia terdiam dan menatap kosong mata malaikat mautnya.

Melihat mangsanya sudah tak bernyawa, dia melepas cekikannya dan mencabut pisau yang menancap di kepala pria itu.

Dreesssh

Hujan tak henti-hentinya menghujam gedung itu dengan air sedingin es.

Sang malaikat menunduk dan memandang wajah mangsanya yang berselimutkan darah.

"Hi . . . Hi . . . Hi . . . Dasar orang tua bodoh." dengan terkikik pelan dia berdiri dan pergi meninggalkan mangsanya yang bergelimangan darah.

"Nah, ayo pergi ke tempat selanjutnya. Hi . . . Hi . . . Hi . . ."


Maaf kalau kependekan.

Saya lagi kekurangan ide X(

Ada tidak yang ma memberikan saya ide ^_^ *berharap*

Mohon r&R para reader semua ^^v