Rhyme A. Black
PresenT
ANTARA AKU, KAMU, DAN ROKOK
NaruHina, The Greatest Pairing
Naruto belongs to Masashi Khisimoto-sensei
Warning : Bagi yang gak suka OOC mending tekan tombol back dah, dari pada nanti misuh-misuh gara-gara nih fict yang mengandung :
OOC SUPPER BERAT! Bahasa ngalur-ngidul! Dan... Keanehan?
Apabila ada kesamaan adegan dalam fict/cerita ini dengan fict minna-san, itu tandanya fict anda aja yang lagi ketiban sial, gara-gara samaan dengan fict saia! Wkwkwkw...
I Hope You Enjoy It!
1... 2... 3... TAKE... ACTION!
~0O0~
Siang hari ini matahari bersinar terik-terik nyebelin. Gimana gak nyebelin coba? Bentar-bentar panas, bentar-bentar mendung, eeehh beberapa detik kemudian udah panas lagi. Dan hal itulah yang membuat seorang cewek ngedumel sambil ngipas-ngipasin buku supaya dia gak kepanasan. Kita sebut dia Hinata Hyuuga. Kalo ngeliat tuh cewek cakep bin manis itu, orang-orang pasti pada mikir, 'otak tuh cewek dikemanain ya? kok mau-maunya berdiri sendirian dilapangan parkir ditengah siang bolong begini?', tapi sayang gak ada orang kurang kerjaan yang mau mikir kayak gitu. Si gadis manis itu, Hinata melirik sebentar ke jam tangan ungu yang nangkring di lengan kirinya. '01.45' pikirnya.
"Duuhhh... Naruto-kun kemana sih? Apa dia singgah ke kantin dulu ya makan ramen sampe lima mangkok? Uhhh, tapikan kantin dah tutup..." ucap Hinata sambil ngedumel gak jelas. Sesekali kepalanya menoleh ke arah kantin, sapa tau aja ada buah duren—eh kepalanya si Naruto yang nongol di situ. Naruto, lebih lengkapnya Naruto Uzumaki bin Minato Namikaze *?* itu adalah kekasih dari si cewek manis yang tadi nunggu itu sodara-sodara. Hubungan mereka itu baru seumur jagung, lebih kurang sebulan sudah mereka jadian dengan perantara mak comblang dan mereka yang harus menggaruk kocek lebih dalam karena saking banyaknya sobat-sobat mereka yang minta pajak jadian. Naruto itu sebenarnya anaknya asik dan cerdas, hanya... karena tampangnya yang sedikit diatas 'garis kejelekan' menjadikan wajahnya pasaran, mana kulitnya item, dekil, kurus lagi menjadikan dirinya jauh dari lirikan gadis-gadis.
Tapi entah tuh anak make guna-guna atau lagi rejekinya aja kejatuhan duren, dirinya yang gak cakep-cakep amat itu bisa dapat cintanya primadona satu sekolahan, Hinata Hyuuga. Bahkan beberapa anggota PMR sekolah, yang jam terbang keperawatannya hanya megang jarum suntik, itupun jarum suntik mainan berani mengatakan bahwa Hinata Hyuuga itu terkena penyakit katarak. Beeuuh, mentang-mentang warna mata Hinata pink kabur-kaburan malah seenak jidat aja mereka bilang kalo Hinata itu katarak. Tapi, emang yang namanya cinta gak pernah pilih-pilih, cinta terkadang gak masuk akal, apa lagi buat anak remaja. Jadi gak salah kalo author ngomong bahwa 'Cinta itu Ekstrem dan Aneh'. Seperti halnya yang terjadi antara Hinata dan Naruto ini. Bila mereka berjalan-jalan berdua di taman kota sembari bergandengan tangan, pasti kita akan teringat dengan cerita pengantar tidur 'Beauty and The Beast'. Tahu deh siapa yang beauty, siapa yang beast.
Akhirnya, setelah waktu menunjukkan jam dua kurang sedikit, orang yang ditunggu-tunggu datang juga. Sebenarnya Hinata udah mau pasang tampang galak gara-gara disuruh nunggu sampe setengah jam lebih, tapi setelah melihat senyuman menawan Naruto, tampang garangnya berubah menjadi tampang malu-malu. Aaaiihhh...
"Sorry ya, yank... kamu lama nunggunya, habis tadi ada urusan dikit..." ucap Naruto sambil masang tampang melas, haduh makin aneh aja tuh mukanya.
"Iya yank, gak papa' kok.." balas Hinata dengan nada yang pengertian.
"So, jadi nih kita pergi jalan-jalan?" tanya Naruto sambil mengeluarkan kunci motor dari saku celananya dan berjalan menuju Ninja hitam metaliknya yang diparkir di sudut lapangan. Hinata mengangguk malu-malu tanda setuju, masa' sih dia udah nunggu selama ini terus gak jadi pergi? Ya gak?
Akhirnya setelah Hinata naik ke motornya dan memakai segala prosedur keselamatan berkendara, Naruto segera tancap gas menuju tempat tujuan mereka. Konoharia Beach, tuh pantai beda sebelas duabelas sama pantai Hugua di Wakatobi sana. So, bisa kebayang dong gimana indahnya tuh pantai?. Jarak antara sekolah mereka dengan pantai itu memang lumayan jauh, tapi justru itulah yang menguntungkan buat mereka. Aslinya, hubungan mereka itu hubungan jalan belakang alias backstreet. Hal ini terjadi karena anggapan bahwa Hinata itu kebagusan buat cowok yang kayak Naruto. Terhitung ayah dan kakak laki-laki Hinata, Neji yang belum tahu hubungan mereka dan mereka harus hati-hati dalam menjaga hubungan mereka ini. Karena kalau tidak, bisa langsung disuruh putus mereka. Belum lagi fans-fans Hinata yang bener-bener kagak ridho ngeliat lengketnya Naruto sama pujaan hati mereka. Soalnya, buat cewek sesempurna Hinata, sangat sulit buat diridhoin apa lagi diikhlasin buat bisa jalan sama cowok yang terlalu biasa macam Naruto.
Setelah melewati lima lampu merah, lari dari kejaran polantas, nyalip kendaraan sana-sini, akhirnya mereka sampai juga ketempat tujuan dengan selamat sentosa, mengingat selama perjalanan mereka diperkirakan akan tertuju kerumah sakit. Naruto kemudian memarkirkan motornya ke bawah pohon yang tumbuh disekitar daerah pantai itu, kemudian berjalan beriringan dengan Hinata kedekat garis ombak.
Awalnya sih mereka malu-malu, tapi, perlahan tapi pasti tangan kecoklatan Naruto meraih tangan Hinata dan menyelipkan jari-jarinya disela-sela jemari lentik Hinata. Hinata yang merasakan perubahan suhu ditangan kirinya, perlahan menoleh dan mendapati Naruto tengah tersenyum padanya. Hinata sontak menundukkan kepalanya dengan pipi yang merona merah, Naruto yang tengah tersenyum padanya tak ubahnya mirip Zac Teplon yang jadi Trali di serial Tv 'Konoha High School Musical'. Meskipun mereka berdua saling tersipu malu dan detak jantung mereka yang serasa makin memburu, mereka berdua tetap berjalan beriringan, dengan tangan yang saling bertautan menyusuri pantai yang terlihat begitu indah.
"Hime-chan mau es krim?" tanya Naruto begitu melihat truk es krim yang ramai dengan anak-akan kecil yang ribut berebut membeli es krim.
"Boleh...?" tanya Hinata meminta kepastian.
Naruto mengangguk, "Aku beliin deh. Mau?"
"Mau deh..."
"Oke. Tunggu disini ya.." ucap Naruto sebelum berlari-lari kecil menuju pedagang es krim. Tak lama kemudian Naruto balik lagi sambil membawa satu stik es krim ditangan. Wah, pikiran Hinata udah melayang-layang kemana-mana.
"Kok Naruto-kun Cuma beli satu es krim aja ya? Jangan... jangan...WAW! Pasti Naruto-kun mau makan satu es krim berdua! Huwaaa romantisnya!" pikir Hinata sambil memegangi kedua pipinya yang memerah. Lha, bukanya kalo seperti itu ketahuan kere-nya? Imajinasi nih cewek kalo berhubungan dengan Naruto emang kadang suka kelewatan dah.
"Nih Hime-chan, es krimnya.." ucap Naruto sambil memberikan es krim itu pada Hinata, kemudian mereka kembali berjalan bergandengan tangan menuju ombak yang saling berkejar-kejaran.
Cuaca yang tadinya terik-terik nyebelin, sekarang berganti menjadi benar-benar mendung. Tapi hal itu tetap tidak menyurutkan keinginan dua anak muda yang ingin menghabiskan sepanjang sisa sore mereka di pantai ini. Mereka berdua duduk bersebelahan. Memandang jauh lurus ke depan sana, menatap nelayan yang sedang menjala ikan, melihat ombak yang terpecah menghantam karang, desir suara angin membelai telinga, dan aroma garam yang tercium melengkapi kebersamaan mereka. Tiba-tiba saja Naruto mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Bentuknya kecil, bulat dan panjang, berwarna putih dan beraroma khas. Terdengar suara korek api yang dinyalakan.
Crekk.. crekk.. kresssshhhhh...
Ada sesuatu yang terbakar.
Dan pelan-pelan Hinata pun menoleh, matanya membulat, dan wajahnya berubah heran. "Na-Naruto-kun...?"
Naruto menoleh, dari hidungnya keluar asap tanda dia membakar hidungya—eh salah, tanda dia telah membakar sesuatu. Diantara jari telunjuk dan tengahnya terdapat sesuatu yang disebut... ROKOK! Naruto nyengir dan dengan entengnya kembali mengisap benda yang mengandung nikotin dan zat-zat beracun lainnya itu.
"Naruto-kun, kamu ngerokok?" tanya/seru Hinata, yang pada akhirnya mendapatkan cengiran Naruto... lagi. Dan itu jawabannya sudah jelas, Naruto ngerokok. Mood Hinata yang tadinya very-very happy sekarang jadi very-very marah gara-gara asap rokok dan Naruto yang kayaknya enjoy aja dengan tindakannya. Dan langsung saja, tanpa pikir panjang Hinata mencak-mencak. "AKU GAK SUKA KALO NARUTO-KUN NGEROKOK!"
Naruto yang asyik menikmati rokoknya aja langsung meloncat kaget, dan Hinata pun juga meloncat bangun. Jadinya mereka main loncat-loncatan—gak ding—. Apalagi Naruto yang tadinya berpikir bahwa respon Hinata gak bakalan seperti ini. Mana dia pake diteriakin lagi, jadi deh Naruto masang muka bingung. Hinata berseru, Naruto bertanya.
"Lh-Lho mmemangnya kkenapa?" tanya Naruto ragu (rada gagu).
"POKOKNYA AKU GAK SUKA COWOK YANG NGEROKOK!" lagi-lagi Hinata teriak-teriak memanfaatkan suara sopran miliknya.
"Tapi sayang~" Naruto melancarkan ucapan mautnya, "cowok yang ngerokok tuh KEREN."
"KEREN? KEREN DARI HONG KONG," lha kenapa nih Hong Kong pake dibawa-bawa segala? "Iiihhh, ngerokok tuh banyak mudharatnya tauk! Bikin kere! Bikin orang sakit paru-paru! Bikin napas jadi bau NAGA! Bikin gigi jadi kuning! Bikin bibir jadi item! Dan kamunya juga, udah kerempeng kayak lidi, kalo ngerokok, kamu mau jadi makin kerempeng lagi? Kamu jelek Naru-kuuunnn kalo ngerokok! Pokoknya aku gak suka!"
Naruto mendelik, kaget. Gak nyangka Hinata bakalan naik darah, mana dia dibilang kerempeng dan jelek lagi."Ttapi sayang," Naruto mencoba bersabar mendengar hujatan kekasihnya tadi mengenai benda yang ditangannya itu, "kamu tahu gak aku ngedapetin nih rokok tuh penuh perjuangan.."
"..." gak ada respon.
"Pulang sekolah tadi aku bahkan mesti ngejar-ngejar Shikamaru biar dia mau ngebagi ini." Kata Naruto sembari mengacungkan apa yang ada ditangannya. Ohhh, kita sekarang jadi tahu apa yang menjadi sumber keterlambatan Naruto tadi.
"APAAA?" Hinata makin senewen aja. Saking jengkelnya Hinata, huruf 'A'nya jadi tambah banyak, "Jadi, kamu tuh tadi lebih mentingin tuh rokok dibanding aku? Tadi aku sudah panas-panas ditengah lapangan kamu malah ngejar-ngejar rokok! Kamu lebih mentingin barang yang harganya seribu perak dibanding aku?" Hinata geger. Matanya mulai berkaca-kaca, tanpa mengijinkan Naruto membela diri, dia sudah berlari.. menjauh dari Naruto.
"HINATA TUNGGU!" teriak Naruto. Namun apa daya, sekencang-kencangnya Naruto berteriak, pasti Hinata tak mendengar (saking marahnya).
Dan langit yang tadinya mendung, sekarang menjadi benar-benar hitam. Perlahan-lahan, titik-titik air berjatuhan membasahi bumi. Oh, sungguh suasana yang mendukung...
~0O0~
Hinata berlari sekencang-kencangnya dan berusaha menahan isak tangisnya. Begitu sampai diseberang jalan dia langsung menyetop taksi dan langsung menyebut alamat rumahnya kepada sopir taksi agar dia bisa segera sampai kerumahnya. Tadi, sebenarnya Hinata gak ada niat buat marah-marah sama Naruto, apa lagi sampe neriakin dia kerempeng dan jelek. Tapi yang namanya gengsi emang punya andil besar dalam kehidupan cewek ini, gak mungkin dong dia mau narik kata-katanya kembali. Tengsin bo. Lagi pula sekarang ini hatinya jadi was-was, gimana kalo Naruto jadi tersinggung lalu dia diputusin? Huwaaaaa... sumpah! Itu adalah hal terakhir yang pengen dia dengar. Sekalipun orang-orang mencemooh hubungan mereka, sekalipun muka Naruto emang mirip Brad Pitt yang ketiban gajah Sumatra. Namun bagi Hinata, Naruto itu adalah pangeran. Pangeran Kodok!
Dan yang jelas, Hinata emang benci banget dengan orang yang ngerokok. Tua muda, kaya miskin, cakep jelek, semua pasti bakalan disinisin sama Hinata kalo ketahuan megang rokok. Rokok tuh bawa banyak bencana, dan Hinata benar-benar tahu akan hal itu. Bukan cuma sekedar iklan belaka, tapi itu sudah banyak contohnya di dunia nyata. Karena Hinata kenal dengan orang yang akhirnya sengsara hanya gara-gara rokok.
Dilain sisi, Naruto yang udah tahu hujan turun dengan derasnya malah nekat menerobos tirai-tirai air itu mengejar taksi yang ditumpangi Hinata. Gak peduli dirinya basah kuyup dan motor kesayangannya sekarang udah berlapis lumpur, pokoknya ntu masalah harus diselesaikan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hmm, tapi sayang kayaknya Dewi Fortuna lagi gak mau melirik Naruto hari ini. Taksi yang dia kejar malah makin kencang membelah jalanan yang becek, dan laju motor Naruto tiba-tiba jadi melambat dan sedikit oleng. Naruto berhenti sebentar dan melihat ban motornya. Sial! Kempes!
Sekarang bagaimana caranya supaya dia bisa ngejar Hinata?
Hah, sudah jatuh, tertimpa tangga, benjol pula!
~0o0~
-TO BE CONTINUED-
-AUTHOR'S SIDE-
HALOHAAAA SEMUANYAAA!
Hehehe, saia balik lagi nih, membawa sebuah fict baru yang moga-moga menghibur teman-teman semua. Lagian kayaknya nih fict ada yang agak beda ya sama fict-fict saia yang lain. Kalo difict-fict yang sebelumnya saia selalu aja muji-muji Naruto, difict ini dia saia hina habis-habisan! Biar adil gitu, masa saban hari saia muji dia mulu? Yah, gak tahu deh kalo saia nulis dia itu 'Item, Dekkil, Kerempeng, Kere' ntar dianggap ngebashing chara... haduh. Tapi tetep, bagi saia Naruto adalah chara paling keren se-anime Naruto. Gak peduli kalo Sai, Neji, dan Sasuke yang emang dari sononya terlihat cool. Terus Hinata-nya juga, dia jadi hilang gagap-gugupnya... hihihi... mungkin karena di sini dia lagi senewen kali ya sama Naruto? Hihihi...
So teman-teman, tak ada lain yang saia minta...
Review ya! Kritik dan saran diterima!
Saia ada pantun nih friends...
Ada Naruto beli kembang
Kembangnya buat Hinata
Saia Cuma mau bilang
Minta reviewnya yaaaa...
Dan seperti biasa, saia mau bernarsis-narsis ria!
NaruHina, The Greatest Pairing
Ever after...
(gak setuju? aku tak peduli... hahaha...)
