Rhyme A. Black

PresenT

ANTARA AKU, KAMU, DAN ROKOK

NaruHina, The Greatest Pairing

Naruto belongs to Masashi Khisimoto-sensei

Warning : Bagi yang gak suka OOC mending tekan tombol back dah, dari pada nanti misuh-misuh gara-gara nih fict yang mengandung :

OOC SUPPER BERAT! Bahasa ngalur-ngidul! Dan... Keanehan?

I Hope You Enjoy It!

1... 2... 3... TAKE... ACTION!

~0o0~

Malam ini benar-benar malam yang nelangsa buat buat Naruto. Istilah 'Dunia itu Kejam' sekarang benar-benar terpatri didalam otaknya yang udah mumet mikirin pr fisika dan juga Hinata yang tadi marah-marah kepadanya. Belum lagi emaknya si Naruto misuh-misuh gara-gara anaknya pulang telat plus basah kuyup. Lengkap sudah penderitaanmu, Naruto. Mana emaknya, bukannya ngasih handuk ke anaknya, terus dibikinin sekoteng biar hangat. Ehhh ini malah dilemparin spongebob buat nyuci piring. Ckckckc...

Nih malam rencananya kalo gak ada insiden 'rokok', Naruto bakalan bisa ngerjain pr fisika itu dengan sangat cepat, mengalahkan kecepatan cahaya *?*. Secara gitu, diakan cerdas. Keterlaluan bangetlah kalo Tuhan sudah ngasih tampang 'diatas garis kejelekan' ke Naruto, terus dikasih otak bloon lagi. Gak mungkinlah Tuhan sejahat itu. Tuhan tuh Maha Adil.

Tapi, karena berhubung ada insiden tadi siang menjelang sore, otak Naruto jadi buntu abis. Pikirannya yang tadi terbelah antara fisika dan Hinata, sekarang benar-benar terarah ke Hinata semua. Akhirnya diapun memutuskan, daripada duduk didepan buku gak ngerjain apa-apa, mending dia nelpon Hinata, kali aja mau diangkat. Telepon pertama, nihil dan Naruto pun mencoba lagi. Telepon kedua, sama dan Naruto mencoba lagi. Telepon ketiga, terdengar suara operator "Nomor yang anda tuju sedang ngambek, tolong jangan hubungi dia lagi". Buset, sotoy amat nih operator. Naruto melengos sebal sebelum akhirnya menghempaskan dirinya ke atas tempat tidurnya, memikirkan cara agar dia dan Hinata bisa baikan kembali.

Sementara itu, dikediaman Hinata, di kamarnya yang luas, mewah, dan hangat, terbaring sesosok gadis sambil tersedu-sedu memandangi sebingkai foto cowok dekil (tahukan siapa?) ditangannya. Pipinya lengket akan air mata. Manik matanya kemudian melirik ke sebuah benda tipis kecil persegi panjang dan berwarna hitam. Sudah tiga kali benda itu berdering, namun tak diraihnya juga. Dia sudah tahu siapa yang malam-malam begini menelponya. 'pasti Naruto-kun' pikirnya. Dan sedetik kemudian dia mulai mewek lagi.

"Seharusnya tadi gue angkat teleponyaaaa!"

~0o0~

Hari ini dengan semangat pejuang empat lima, Naruto berangkat ke sekolah dengan sebuah janji dan harapan. Sebuah janji yang sangat begitu penting dan harapan agar kekasihnya tersayang mau memaafkannya dengan janji itu. yaphz! Setelah semalaman gak tidur karena merenungi hal ini, mempertimbangkan segala kemungkinan dan baik buruknya, Naruto mengambil sebuah keputusan. Bahwa mulai saat ini dia tidak akan mau menyentuh rokok lagi. Huhuhu, pasti buat aktivis anti rokok yang mendengar janji dan melihat semangat Naruto ini bakalan nangis terharu, saking berartinya tuh janji. Sebab Naruto telah memikirkan perkataan Hinata kemarin, dan diapun gak mau kalau hubungannya dengan Hinata retak hanya gara-gara benda bulat, panjang, kecil, dan berwarna putih itu.

Dan Naruto pun telah bertekad, bahwa dia akan mulai makan banyak mulai hari ini saking malunya dia kemarin dibilangin kerempeng dengan Hinata. Naruto yang biasanya sarapan Cuma makan sepiring nasi goreng ma'nyus buatan ibunya, sekarang jadi sebakul penuh. Jadi jangan heran kalau bentar Naruto bolak-balik masuk WC dan papanya Naruto sarapan cuma dapet tulang ikan aja.

"Ya ampun Naruto, kamu ngabisin sarapannya?" tanya bapak Naruto terheran-heran melihat seluruh makanan di meja makan habis.

"Iya pah." Jawab Naruto enteng, masih lanjut mengunyah ikan goreng.

"Lauknya ramen ya, sampe kamu ngabisin semua?" tanya Minato lagi dengan nada miris melihat meja makan yang diatasnya hanya ada piring-piring kotor dengan tulang-tulang ikan diatasnya.

"Kagak pah. Lauknya tuh ikan goreng, ikan bakar, ikan rebus..."

"Lha, tapi kamu sudah makan semuanya. Nanti papa makan apa dong...?"

"Hmmm..." Naruto mikir, "Tulang ikan!"

Wadawwww... telinga Naruto langsung dijewer.

~0o0~

Kemudian sebelum bel jam pertama berbunyi, Naruto sampai juga ke sekolahnya. Setelah dia memarkir ninja hitamnya Naruto segera melesat menuju kelasnya, XI IA-3. Dari luar telah terdengar suara ribut dari dalam kelasnya, maklumlah ini adalah kelas ketiga terberisik setelah XI IS-1 dan XI IA-7. Naruto kemudian membuka pintu dan mengedarkan pandangannya ke pelosok kelas. Dilihatnya Sasuke, sang ketua kelas sekaligus sobat setianya sedang asyik mojok berdua bareng pacarnya Sakura, Juugo, Karin dan Suigetsu sedang asyik berceloteh yang topiknya tuh tentang 'Game Online', Ino, Tenten, dan Temari sudah pasti lagi ngegosipin orang-orang, Shikamaru tidur, Chouji tetep ada dengan kripik kentang ditangan, serta Kiba dan Lee yang sedang bertanding 'menghapus papan sampe bersih'. Saking bersihnya sampe-sampe ntu papan tulis hilang gak ditahu mana rimbanya.

"Yaahh, ayang-ayang gue belum datang." Naruto melengos kecewa kemudian berjalan menuju tempat duduknya di bagian paling pojokan, yang berarti...

"Yaa, Naruto datang deh." Ucap seorang cewek pink addict ketika melihat wajah Naruto, belum lagi ditambahnya bergidik ngeri karena ngeliat tampang nelagsanya Naruto.

"Sabar aja ya manis, bentar deh pas istirahat kita sambung lagi ..." ujar Sasuke pangeran bebek sembari mengelus-elus rambut Sakura. Yang diperlakukan dengan begitu hanya tersenyum malu-malu sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Sarap!" pikir Naruto. Seharusnya tuh Sasuke diberi gelar pangeran gombal, buaya darat cap gajah Sumatra. Gimana enggak, pacarnya gonta ganti mulu. Dua minggu lalu, Ino, minggu lalu Karin, sekarang Sakura, Minggu depan sapa lagi neh?

"Gila lo Sas, pacaran ganti mulu tiap minggu." Ucap Naruto sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi yangt adi diduduki Sakura.

"Eh, iya dong. Gue kan cowok terkeren di sekolah ini."

"YEEE GIGI LO GONDRONG!" seru Naruto. Terkadang, dia terheran-heran dengan sifat narsis sobatnya yang kayaknya udah mendarah daging di keluarga Uchiha. Lalu, karena melihat tidak ada guru, Sasuke mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Rokok.

"Nih, lo mau?"

"Kagak. Makasih dah" jawab Naruto menolak pemberian Sasuke. Yang memberi jelas-jelas kaget, wah ada apa nih?

"Lo kenapa Nar? Habis dicium banci?" Sasuke ngasal.

"NENEK LO KELINDES TRUK! Alah, lo bebek, ada-ada aja lo kalo ngomong. Emang gue itu elu, saban hari diapelin lekong?" seru Naruto, lagi. Akhirnya Sasuke mingkem, gak mau nanya-nanya lagi. Karena perkataan Naruto tadi kembali mengingatkannya pada seseorang yang selalu mendatangi rumahnya. Cukup sudah dia tadi dikejar-kejar mbak-mbak penjual jamu gara-gara minum jamu gak bayar. Bagusan juga kalo mbak-mbaknya ya mbak-mbak beneran, lha ini... mbak jamunya malah mbak jadi-jadian yang suka nongkrong di Taman Lawang. Hihihi...

Bel jam pertamapun berbunyi, jam pertama ini jamnya Asuma-sensei, Matematika. Namun, tadi datang guru BK yang mengatakan bahwa Asuma-sensei tidak masuk hari ini. Hal itu menandakan sudah seminggu lebih Asuma-sensei tidak masuk mengajar. Entah karena apa, tapi kedengarannya dia sedang dirawat di rumah sakit. Tidak tahu menderita penyakit apa.

Seharian ini, Naruto bawaannya lemes, loyo, lesu, lelah sampe akhirnya ntu mukanya makin melas aja. Gimana gak mau kayak gitu? Dia yang tadi bela-belain datang cepat ke sekolah buat minta maaf kepada sang pujaan hati kini harus menelan kekecewaan. Habis, dari pelajaran jam pertama sampe pelajaran terakhir Hinata gak datang-datang alias absen hari ini. Naruto udah mikir macam-macam, gimana kalo seandainya Hinata marah terus gak mau ketemu dia lagi? Haduh.

"Eh, kita jenguk Asuma-sensei yuk!" usul Ino kepada teman-teman sekelasnya ketika Orochimaru-sensei, guru jam pelajaran terakhirnya pergi.

"Lo tahu Asuma-sensei dirawat dimana?" tanya Karin.

"Tahu dong. Di rumah sakit Provinsi Konoha. Hinata yang ngasih tahu gue." Jawab Ino dengan sejelas-jelasnya. 'Oooalah, apa hubungannya Asuma-sensei dengan Hime-chan?' Pikir Naruto.

Kemudian setelah ada acara patungan sana-sini buat beli buah-buahan, merekapun sekelas berangkat menyerbu RS Konoha. Hanya memakan waktu perjalanan duapuluh lima menit dengan naik kendaraan mereka semua sudah sampai dirumah sakit terbesar di Konoha. Dengan segera, Naruto, Sasuke dan Lee bertanya pada suster bagian administrasi.

"Permisi, Ruangan pasien yang bernama Asuma Sarutobi dimana ya, Sus?" tanya Sasuke sambil masang tampang 'cool'.

Namun, si suster mendelik, matanya menyipit,, keningnya mengernyit, bibirnya mengerucut. "Sus, Sus, lo kata gue susu? Manggil pake 'sus-sus'?"

Alhasil Sasuke jadi ngacir gara-gara gak nyangka tampang coolnya malah dibalas tampang suku Aborigin.

"Permis—" pertanyaan Naruto dipotong oleh suster galak sebelum dia sempat menyelesaikannya.

"Ruang Melati. Kamar 102!" seru suster itu galak. Ckckckc, kok bisa ya suster macam begini ditaruh dibagian administrasi? Kemudian, Naruto dan Lee balik lagi ke teman-temannya, memberitahukan dimana guru mereka itu dirawat.

Atmosfer di sekitar ruang melati, kamar 102 itu tampaknya menunjukkan sesuatu yang aneh. Dari kejauhan Naruto dan rombongannya melihat Kurenai-sensei, istrinya Asuma-sensei sedang menangis sambil menjerit-jerit sementara beberapa suster tampak menenangkannya. Belum lagi terlihat pemandangan yang cukup gak biasa. Bapaknya Hinata, Hiashi-sama berdebat dengan dokter sementara Neji, kakak laki-laki Hinata berusaha untuk menengahi perdebatan yang sepertinya tak akan berakhir itu. Nah pertanyaannya sekarang adalah, kalau sebagian keluarga Hyuuga ada disitu, sedang apakah mereka? Dan dimanakah Hinata?

Berdasarkan pertanyaan yang ada dibenak mereka semua, Naruto cs beramai-ramai mendekati tempat kejadian perkara. Neji yang melihat mereka segera menghampiri mereka.

"Ada apa nih, Neji-san?" tanya Shikamaru sambil pasang muka was-was, dia udah ngerasain firasat buruk sejak mereka berangkat dari sekolah tadi. semua yang adapun pasang tampang was-was juga.

"Innalilahi wa' innalillahi roji'un. Asuma-sensei udah... gak ada." Ujar Neji pelan, memberitahukan berita yang sedih itu. tangisan Kurenai-sensei kian menjadi, begitu pula beberapa siswi yang ikut hadir disitu turut mengeluarkan air matanya. Kesedihan itu menjalar dengan cepat bagaikan setetes tinta yang tumpah ke segelas air jernih, siswi-siswi yang tadinya ribut kini terdiam dan setitik bening jatuh di pipi mereka, apalagi Ino yang notabenenya adalah murid kesayangan guru tersebut. Sementara siswa-siswanya hanya bergumam tak jelas. Intinya, mereka semua bersedih. Karena hari ini, mereka telah kehilangan sesosok guru yang begitu mereka cintai.

"Me-mmengingalnya kapan?" tanya Ino.

"Barusan..." jawab Neji pelan dan singkat. Tanda bahwa dia tidak ingin menjawab pertanyaan lebih dari ini.

Asuma-sensei adalah sosok guru yang begitu diidolakan murid-muridnya. Pelajaran matematika, yang biasanya selalu dianggap sebagai momok yang menakutkan, menjadi berubah bila guru yang brewokan itu yang masuk mengajar. Sifatnya yang humoris, tegas, dan selalu melakukan komunikasi dua arah dengan murid-muridnya tidak hanya menjadikan mata pelajarannya menjadi disukai banyak siswa, tak hanya itu, dirinya juga yang dicintai sebagai seseorang yang telah dianggap sebagai sosok seorang ayah. Sayang, dia harus menutup mata diusianya yang ketiga puluh sembilan. Menurut sumber berita, mengatakan bahwa Asuma-sensei meninggal karena komplikasi jantung dan paru-paru. Hal ini tidak lain diakibatkan karena kebiasaan buruknya, mengkonsumsi rokok.

Tak lama kemudian, seorang gadis keluar dari ruangan 102. Naruto yang tadinya terbawa suasana sedih, tiba-tiba langsung bersinar-sinar begitu mengetahui siapa gadis itu. Buset dah...

"Hime-chan!" seru Naruto. Alih-alih minta izin ke Neji, Naruto langsung menarik tangan Hinata dan berjalan menjauhi kerumunan yang sedang diselimuti kedukaan itu.

Naruto membawa Hinata ke koridor rumah sakit yang cukup sepi, membawanya kesebuah pembicaraan empat mata yang kelihatannya serius. Dalam hati Hinata sudah was-was, jangan sampe dia diputusin sama Naruto gara-gara hal yang kemarin. Sumpah dia gak mau!. Setelah mendapatkan tempat yang pas, Naruto kemudian berhenti dan menghadapkan tubuhnya ke Hinata yang sedari tadi udah komat kamit 'jangan sampe gue diputusin. Gak mau!'. Setengah mati dia berusaha menarik perhatian Naruto, mencoba memperlihatkan cintanya pada cowok yang sama sekali gak peka itu sampai akhirnya mereka jadian. Hinata tuh cinta banget sama Naruto. Jangan sampe deh, gara-gara kejadian kemarin mereka hubungan mereka jadi tamat.

"Hime-chan, aku... aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Naruto serius. Uggghhh, Hinata bawaannya udah harap-harap cemas, gak biasanya Naruto ngomongnya pake nada serius kayak gini.

"Setelah menimbang, memikirkan, dan termenung di WC *?*, aku... aku MINTA MAAF HIME-CHAN!" ucap/seru/ mohon Naruto sambih berlutut dan mengatupkan kedua tangannya didepan Hinata, persis kayak orang yang lagi mohon-mohon biar gak dihukum gantung jaman kolonial dulu. "Aku sadar Hime-chan, aku sudah salah selama ini. Dan demi kamu, orang yang sangat aku cintai, aku rela ninggalin tuh rokok. Hanya demi kamu Hime-chan."

Hati Hinata yang tadinya harap-harap cemas, sekarang jadi tenang. Ternyata dia gak diputusin, tapi juga Naruto mau ninggalin kebiasaan jeleknya itu.

"Kamu maukan maafin aku, Hime-chan?"

"I-iiya Naruto-kun, aku maafin kok." Ucap Hinata sembari tersenyum mau-malu. Sontak Naruto meloncat girang sambil nari-nari gaje ala pemain bola yang berhasil memasukan gol ke gawang lawan. Selepas itu, Naruto tersenyum lima jari lalu memeluk tubuh mungil Hinata. Nyuri kesempatan cooyy...

"Makasih Hime-chan, Kamu adalah cewek terindah yang pernah aku miliki." Ucap Naruto ngegombal. Ya iyalah terindah, orang cuma Hinata doang yang mau sama dia.

"Ii-iya Naruto-kun. Aku juga minta maaf karena kemarin aku dah bilangin kamu jelek dan kerempeng." Ughhh, Hinata udah panas dingin dipeluk Naruto.

"Iya. Iya sayang. Eh, ngomong-ngomong, kamu ada hubungan apa sama Asuma-sensei?" tanya Naruto penuh selidik.

"Enggg... itu. Kurenai-sensei itu tante aku, saudaranya mama aku, gitu. Jadi beberapa hari yang lalu, Kurenai-sensei datang kerumah ngabarin kalau Asuma-sensei tuh sakit. Dan dia niat buat minjem duit sama papaku buat biaya operasinya Asuma-sensei karena penyakitnya udah parah banget. Namun, tahu sendirikan operasinya gak berjalan lancar. Gitu Naruto-kun.." jelas Hinata panjang kali lebar sama dengan luas persegi panjang.

"Oalah, pantesan kamu gak suka rokok.." Naruto manggut-manggut.

"Ya ialah aku gak suka!" beuh, Hinata mulai panas lagi, "memangnya, kamu gak liat apa gimana keadaannya Kurenai-sensei? Kamu gak maukan nasib aku kayak gitu?"

Naruto mengkeret, dia gak mau menyela lagi. Belajar dari pengalaman kemarin-kemarin. Ingat! Pengalaman adalah The Best Teacher!

"Gimana coba, nanti kalo kita udah nikah, punya anak, terus gara-gara rokok kamu modar? Kamu rela ninggalin aku sendirian ngurusin anak APA?"

Ya ampun nih cewek. Naruto aja belum kepikiran kalau lulus SMA mau kuliah dimana, Hinata sudah mikirin buat nikah dan punya anak. Tiba-tiba saja, Naruto jadi senyum-senyum iblis.

"Jadi... kamu mau nikah sama aku, Hime-chan?"

Dan Hinata langsung tersadar. Dia baru saja membocorkan rahasia permohonannya diulang tahunnya yang keenam belas dulu. Yaitu pengen hidup bahagia sama Naruto, happily ever after.

Hinata tertunduk malu, Naruto ngakak. Wakakakakakkk...

-THE END-

Dan endingnya nih fict jadi gak jelas banget, wakakakakakkaakk... *ngakak bareng Naruto*

-AUHTOR'S SIDE-

'Warning : merokok dapat menyebabkan Kanker (kantong kering), napas jadi bau naga ,gigi jadi kuning, kerempeng, jadi jelek, dimarahin pacar sampai kematian.'

Ya... yang suka ngerokok dengerin tuh ceramahnya Hinata yang'rokok itu bikin... blablabla...'. wuakakakkaa.. kalo ada yang tersinggung and tersungging gara-gara nih fict, saia minta maaf ya! It's just for fun sekaligus sebagai pelajaran buat kita semua. Bahwa ngerokok tuh banyak mudharatnya/kerugiannya. Dari menghadapi omelan pacar kayak Si Naruto, sampai kematian kayak Asuma-sensei.

Semoga aja dengan fict ini, kita semua bisa mengambil hikmahnya*ihmaksabanget*. Gak hanya rokok, tapi tentang cinta yang emang butuh yang namanya pengorbanan. Assikk. Eh buat fans-fans chara yang tadi aku 'hina-hina' diatas, sabar aja ya... wkwkwkw... maklum otak saia lagi mengalami gangguan yang katanya terkena virus 'Hinaus Charatus'. Saia minta maaf ne, kalau ceritanya rada-rada aneh (apalagi bagian endingnya, huhuhu…)

Arigato ne, buat teman-teman yang sudah review… review lagi yaaa..

Ada ayam pergi jalan-jalan

Ayamnya pulang pagi

Rhyme mohon pada teman-teman

Tolong di Review lagi…

Dan seperti biasa, saia mau bernarsis-narsis ria!

NaruHina, The Greatest Pairing

Ever after...

(gak setuju? Bakar laut, hahaha...)