Disclaimer: One Piece dan seluruh karakternya © Eiichiro Oda.

Ide fic dan penulis: Shimacrow Holmes

Setting: Seminggu setelah pertarungan di pulau melayang Shiki, One Piece Film: Strong World.

Words approximately: 1981

Oke, setelah di-cek ulang, saya pikir gak ada mistypo. Tapi kalo kamu nemu, ga usah segan ngasi tau saya ya. Saya ingin ngebuat fic ini serapih mungkin. Jadi, jangan harap saya bisa meng-update dengan cepat ya... :) mohon dimengerti.

Chapter tiga sedang dalam pengecekan, doakan aja bisa di update cepet.

Oh y, kirim2 saya message ya, biar agak ramean dikit. Hehehe.

Sebelumnya:

"Robin-chan…!" sahut Sanji terburu-buru, dengan ekspresi yang nampak ragu. Robin pun sedikit terkejut mendengar suaranya. "…A-apakah aku ini pria yang kurang jantan?"


Tak ada ekspresi lain yang dapat diberikan Robin selain keterkejutan yang luar biasa. "Jan…tan atau tidak…?"

Sanji mengangguk. "Belakangan aku mulai memikirkan ini semua. Apakah karena 'sifat'ku, atau karena aku sendiri yang kurang jantan… aku…"

"…Entah mengapa Nami-swan tidak pernah memberikanku perhatian lebih. Begitu, 'kan?"

Si koki terpaku. "Kenapa kau bisa tahu, Robin-chan?"

Robin tertawa kecil. "Fufufu, membaca wajahmu semudah menggeledah buku, tuan koki."

"Haha- ha… memang seperti Robin-chan, ya…" Sanji tertawa pahit, mengalihkan pandangannya dari senyum dewasa Robin. Sanji merasakan malu yang tak bisa dia sangkal. Semudah itu diriku 'dibaca'? pikirnya.

Benar. Mata Robin seperti menembus ke dasar hati terdalam seseorang yang memiliki problematika. Dan kata-katanya mengalir seperti sungai di pagi hari yang berdercik menenangkan ke nurani seseorang. Sanji merasa seolah dibimbing oleh Robin, menuju dunia milik wanita tersebut.

Sanji berusaha berdiri, dan beranjak. Berusaha melarikan diri dari kepungan perasaan malu. "A-aku harus segera kembali ke dapur, sampai nant…"

"…Kalau kau pergi dari sini, berarti kau memang bukanlah seorang pria jantan, Sanji,"

Si koki terhenti, merasakan pergelangan tangannya dalam genggaman lembut Robin. Semburat merah meluap di wajah si koki ketika pandangan mereka kembali beradu. "Ro-Robin-chan…?"

Robin berdiri. Ia berjalan dan berdiri menghalangi jalur Sanji. "Bagaimana, tuan koki cinta?"

Sanji kembali mengeluarkan senyuman pahit. "Ohh, aku sekarang semakin malu menggunakan julukan itu, Robin-chan."

"Karena itu, kau harus berani."

"…Ke-kenapa, tiba-tiba Robin-chan…"

"Fufufu, kenapa tiba-tiba aku mau mencampuri urusan pribadimu?" lanjut Robin, menerka pikiran Sanji dengan begitu mudah. "Tentu saja untuk membalas budimu, Sanji. Hanya itu. Tapi… kalau kau merasa terganggu, aku tidak keberatan menarik diri."

"…Robin-chan, k-kau pasti tahu banyak tentang Nami-san, 'kan…?"

"Tak sebanyak yang kau pikirkan mungkin." Robin kembali tersenyum lembut menatap wajah Sanji. Entah kenapa hal ini membuat dirinya semangat. Mungkin menjadi buronan selama 20 tahun, dan tidak pernah mendapatkan kesempatan membantu seseorang-lah faktor utama kekeras kepalaannya saat ini.

Balkon atas, kebun bunga dan pohon mikan.

"Baik, sekarang biar ku-review segala hal mengenai Nami-san. Pertama, hal yang paling disukainya… mikan. Lalu, yang paling dibencinya… bajak laut…"

"Ironis memang, mengingat kita semua merupakan rekannya sebagai bajak laut." sahut Robin dari sebelah Sanji.

Mereka berdua tengah bersender di pagar kayu balkon atas. Angin sejuk ke-hangatan sore hari meniup rambut mereka. Rambut pirang Sanji yang bersinar dengan megah, dan rambut hitam gelap Robin yang berayun mengalir seperti sungai gangga.

"Tapi, pasti bajak laut dalam artian tertentu bagi Nami-san sendiri, ya 'kan?"

"Benar." balas Robin, menutup kedua matanya dan tersenyum tipis. "Fufufu…"

"Ada apa, Robin-chan?" Tanya Sanji.

"Ah, tidak. Hanya saja… ini tidak seperti diriku sendiri."

"…Hm, iya ya,"

"Sepertinya aku mengkhianati Nami-chan. Tambah lagi, ini persis sama seperti pekerjaan selama 20 tahun masa-masa pelarianku: berkhianat. Fufufu." jelas Robin.

"…Uh, maaf…" lanjut Sanji.

"Tak masalah. Lagipula aku menikmatinya." sahut Robin dengan jujur, kembali menatap mata Sanji.

Si koki memberikan senyumannya pula. "Ya… kau tampak begitu senang, kulihat…"

"Begitu?"

"Ya."

"Fufufu, kalau begitu, kau – tuan koki, kaulah yang harus meminta maaf pada Nami-chan nantinya!"

Sanji tersedak. "A-apa? Kau bercanda, 'kan Robin-chan?" senggah Sanji dengan panik. "Berapa banyakpun nyawa yang kumiliki, pasti tidak akan cukup untuk manghadapi amukan Nami-swan…"

"Fufufu… ahaha, bisa kubayangkan," Robin memejamkan kedua matanya, dan tertawa tidak seperti biasanya. Kali ini lain, seolah ia tertawa sungguh geli.

Sanji terdiam lagi terpaku. "…Ini pertama kalinya aku mendengar dan melihat tawamu yang seperti itu, Robin-chan." ujar Sanji, yang tengah terpana menatap Robin.

"Ah, maaf. Aneh, sepertinya aku menjadi semangat sendiri…" balas Robin, me-lap sedikit air yang timbul di bawah mata kanannya.

"Hahaha, kenapa begitu?" tanya Sanji sedikit penasaran, tertawa, dan penuh dengan rasa penasaran.

Robin mengangkat kedua bahu juga tangannya. "Siapa yang tahu. Tapi, mungkin karena… aku tidak pernah mengalami kehidupan remaja yang penuh dengan…" Robin menatap balik Sanji. "Percintaan?"

Mendengar pernyataan tersebut, entah mengapa Sanji mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Keragu-raguannya menghilang, dan dia sudah menjadi lebih mantap saat menatap mata indah milik Robin. Dia memberikan senyuman simpulnya yang menawan pada wanita nan anggun dan dewasa tersebut.

"Yang seperti itu juga sangat… manis."

Mendapati tatapan Sanji yang begitu lurus ke matanya, ia merasa sedikit tidak tenang. Dan jantungnya mendadak berdegup kencang. Tapi, dengan cepat Robin dapat mengambil alih kontrol atas dirinya kembali.

"…Fufufu, merayuku?"

"Maaf..." susul tawa Sanji, menggaruk belakang kepalanya. "Tapi, aku sungguh tidak berbohong, Robin-chan… kau begitu menawan."

"…Ara, terima kasih kalau begitu, tuan koki. Tapi, sepertinya ada yang sudah lupa dengan tujuan awalnya, ya?"

"Hegh, argh sial! Kebiasaan lamaku muncul."

"Nah, bagaimana kalau dilanjutkan…?" ujar Robin, masih dengan senyuman ramah dan akrabnya.

"Oh, iya. Hm, poin yang berikutnya…"

Sementara itu,

Kabin bawah, ruang makan dan dapur.

"Sanji-kun…"

Nami memasuki ruang makan. Ia mengitar seluruh sisi kabin, mencari orang yang dimaksud. "Sanji-kun…"

"Oi, Nami."

"Zoro!" Nami membalikkan badannya, dan mendapati Zoro berdiri di depan pintu ruang makan. "Kau membuatku terkejut, bodoh!"

"Apa 'sih! Sedang apa kau memangnya, terpergok ingin maling?" tanya Zoro, setengah malas-malasan. Seperti biasa, wajahnya selalu seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari.

"Apa katamu? Enak saja. Untuk apa aku mencuri di dapur!" balas Nami semakin ngotot.

Tidak ingin terlibat lebih jauh, Zoro berjalan masuk dengan cuek dan melewati Nami. "Terserah."

"Zoro, kau lihat Sanji-kun?" tanya Nami.

Sambil mencari sebotol bir, Zoro menjawab- masih dengan malas-malasan. "Mana kutahu kemana si alis lingkar itu pergi. Memangnya aku penjaganya apa?"

"Ih, 'ga ngenakin banget nanya sama 'nih orang!" gerutu Nami kesal.

"Loh, tung… apa ini, Coca co…apa?" ujar Zoro tiba-tiba, mengangkat dan memperhatikan botol di tangannya. Berulang kali dia berusaha keras membaca dan mengeja ulang mereknya, tapi…

"Hm, kenapa?"

"Sejak kapan… rak bir-ku menjadi rak cola!" protes Zoro. "Grr, robot sial itu…! Kemana dia membuang semua bir-ku!"

Zoro berlari cepat kearah lift dekat tungku, dan membuka gerbangnya. "Nami, dimana ruang kerja Franky?"

"Di basemen bawah, bodoh. Memangnya kau tidak tahu, ya?" jawab Nami datar.

"Awas kau, Franky!" gerutu Zoro menekan tombol yang tersedia.

…Dan lift-pun bergerak ke atas.

"…Uh, kebodohannya benar-benar membuat letih."

Nami berjalan ke luar ruang makan, dan berdiri menegakkan pinggang di depan pagar pembatas kabin. "Giliran dicari, susah banget nemunya."

"Yo, Nami."

"Luffy, kau lihat Sanji-kun?"

Si kapten berjalan menuju Nami dengan jala raksasa di tangan kanannya. "Sanji?"

Mata Nami terbelalak. "Untuk apa jala sebesar itu, memangnya kau nelayan apa? Mau menangkap raja laut, ya…?" tanya Nami, tidak habis pikir kepada kaptennya.

"Kata Usopp ikan di laut ini enak-enak. Jadi aku akan menangkap mereka semua, dan kumasukkan ke dalam akuarium!" jawab si kapten dengan polos dan cengiran yang lebar.

"…'Kok dia bisa tahu?"

"Katanya dia pernah ke sini sebelumnya."

"Haah—Usopp, ya…? Tidak heran…"

"Apa?"

"Oh, tidak."

"Oh, iya Nami. Kau mencari Sanji, 'kan? Dia di kebun bunga bersama Robin." ujar Luffy, masih dengan cengiran lebar. "Sudah, ya. Kalau mau ikut memancing datang saja ke bawah."

Luffy pun berlari dengan semangat, menuruni tangga menuju dek bawah.

"Sanji-kun dengan Robin? Ada apa ya?"

Kembali ke balkon atas, kebun bunga dan pohon mikan.

"Lalu… musik kesukaan Nami-san…" Sanji membuat catatan manual yang baru, dan mencatat hal-hal yang penting di sana. "…Memang seperti Nami-san, ya. Benar-benar mengerti dengan lagu yang indah."

"Begitulah, fufufu." ujar Robin.

"Baiklah, sudah semuanya. Terima kasih banyak, Robin-chan. Kau benar-benar membantu."

"Kembali. Semoga berhasil, tuan koki." balas Robin dengan lembut.

Sanji mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya. "Oh, ngomong-ngomong Robin-chan…"

"Ya?"

"Kau suka lagu klasik?"

Robin kembali menyenderkan pinggangnya dipagar kayu pembatas berwarna putih. Franky benar-benar melakukan pengecatan dengan sangat baik, tak ada tanda-tanda cat yang terkelupas sedikitpun.

"Begitulah. Lagu klasikal milik Beethoven, lalu simponi orkestra dan sejenisnya begitu. Hm, Blues dan Jazz juga menarik perhatianku akhir-akhir ini,"

"Oh, ya? Aku juga suka Jazz dan Blues." balas Sanji dengan semangat.

"Hm…" Robin kembali menatap Sanji, memangkukan dagunya pada ibu jari kanan. "Jazz dan Blues sangat cocok dan begitu menggambarkan dirimu, tuan koki,"

Robin melangkah menuju bangku santainya. "Apa kau tahu… buku apa yang sedang kubaca saat ini?" wanita arkeologis itu memungut bukunya, dan memperlihatkan sampulnya pada Sanji. "…Sejarah Blues dan Jazz."

"Woah, buku yang sangat menarik." Sanji lalu berjalan ke arah Robin dan mengambil buku yang disodorkan wanita tersebut.

Sanji membolak-balikkan halaman dan men-skeming buku itu. "Ho, jadi dasar dari Blues dan Jazz itu… hmm, jadi begitu…" dia menutup buku itu, dan mengembalikannya pada Robin. "Aku malu, mencintai sesuatu tanpa tahu dasar ataupun informasi yang umum seperti yang tertera di sana…"

"Fufufu, karena itu kau harus mengenali lebih dalam tentang Nami-chan, tuan koki."

"Benar sekali…" Sanji menarik tangan kanan Robin, dan merangkul pinggulnya. Wanita arkeologis tersebut tentu saja terkejut. Sesaat secara reflek ia memasuki kuda-kuda bertarungnya namun lalu melonggarkannya, mengetahui pria tersebut adalah Sanji si koki- yang tidak mungkin ia patahkan tangannya. Robin mengarahkan tangan kirinya pada dada koki andal tersebut. "Tapi sebelumnya, bagaimana kalau kututup kekuranganku tadi dengan menunjukkanmu keahlianku berdansa,"

"Fufufu, tak perlu sampai begitu…" jawab Robin, yang mulai mengikuti ritme gerakan Sanji. "Ara… dansa ini…?"

"Jazz,"

"Sudah kuduga. …Tapi… hmhmhm, kau begitu mahir, tuan koki,"

Selagi mereka mengikuti beat dan ritme tanpa lagu, kaki mereka saling menepuk alasan lantai kayu. Satu… dua… satu… dua… tapakan mereka begitu senada, dan tak satupun yang melakukan kesalahan. Nampak begitu mahir, dan seperti duet profesional, alunan keheningan pun bukanlah masalah bagi mereka.

"Ro-Robin-chan… kau hebat…" ujar Sanji penuh takjub. "Kau mengikuti semua step-ku. Sempurna!"

"Fufufu, kau terlalu memujiku, tuan koki." balas Robin, masih bergerak aktif bersama Sanji mengikuti step masing-masing. "…Tidak heran, kalau kau begitu mahir dengan kelihaian kakimu dalam bertarung."

Sementara itu,

"Be-berdansa? Sedang apa mereka berdua?" bisik Nami dari tepian tangga menuju balkon atas. Ia melihat si koki kapal dan si arkeologis tengah bertukar dan saling mengikuti gerakan satu sama lainnya.

"Indah. C-cantiknya…" gumam si navigator melihat gerakan-gerakan anggun yang diperagakan kedua rekannya itu. Nami langsung membuyarkan segala macam pikiran dengan menggelengkan kepalanya. "…Sebaiknya aku turun sekarang. Sejak awal… untuk apa aku kesini, 'sih…?" Nami membalikkan badannya, dan berjalan menuruni tangga. "Dasar koki mesum."

"Anak-anak! Ada pulau!" Luffy berteriak tiba-tiba dari haluan utama Sunny-go. Si kapten berdiri di atas kepala singa dan melambai-lambaikan tangannya pada rekan-rekan yang lain. "Nami, ayo mendarat di sana!"

"Nami…!" Chopper si dokter juga ikut bersorak menghampiri Nami yang baru menuruni tangga. "Ada pulau, kita akan mendarat, 'kan?"

Tidak mendapati jawaban, Chopper menepuk-nepuk kaki gadis itu. "Nami… Nami…!"

"Eh, Chopper…?" ucap Nami. "Iya, ayo kita mendarat…"

"Hyahooo, aku mencium petualangan!" sorak balas Luffy. "Anak-anak ke arah jam 3! Cepat!"

"Yang benar arah jam 9, Luffy…" potong Nami, menghampiri si kapten.

"Ha ha ha ha. Kapten Usopp siap berpetualang!" sahut Usopp dari sebelah Luffy. "Pulau itu tampak tenang, tapi jangan kendorkan penjagaan kalian, anak buahku sekalian! Siapa tahu saja ada monster Gojira sebesar gedung yang terlihat disana itu!" soraknya menunjuk ke arah bangunan terbesar di pulau yang bentuknya menyerupai cangkang telur.

"Eh, sungguh!" kejut Chopper.

"Yohohoho, memang bukan pulau berbahaya, 'kok! Ya 'kan, Nami-san…?"

"Hm, iya… sepertinya." jawab Nami. Ia lalu melihat ke sekelilingnya, dan melihat log pose-nya kembali. "Pulau ini adalah pulau musim semi di perairan musim gugur. Pulau yang sangat bagus untuk berlibur."

"Sungguh!" sorak Luffy, Usopp, dan Chopper. Mereka bertiga langsung pergi ke kabin pria, dan keluar dengan pakaian renang. Tak lupa tiga buah pelampung di badan Luffy dan Chopper.

"Hoi, hoi, siapa yang bilang kita akan berenang? dasar kalian ini…" gurau Sanji, berjalan ke dek utama bersama Robin di sampingnya. "Ya 'kan, Nami-swan?"

"Sanji…-kun,"

"Hoahm…" Zoro melompat turun dengan wajah setengah tidur dari menara pengintai. "Persingkat semua bincang-bincang, dan segera naikkan layar kalau kita tidak ingin dianggap 'penjajah' oleh orang-orang pulau,"

"Bang pendekar benar, biar kujalankan Sunny dengan docking. Anak-anak kembali ke posisi masing-masing!" sorak Franky dengan semangat.

"OU!"

Dengan itu, tujuan berikutnya Sunny-go pun sudah ditetapkan. Bajak laut topi jerami berencana sedikit meringankan otot, dan pergi berlibur setelah pertarungan besar melawan Shiki si singa emas.

Hari sudah hampir memasuki malam, dan kapal tersebut menepi dengan santai di pulau musim semi itu.

Pengalaman seperti apa kali ini yang akan mereka alami?

-Next to Chapter three-


A/N: Halo, Shimacrow disini LAGI. Bagaimana menurut kalian chapter ini? Saya berusaha keras memasukkan humor-humor yang biasa dilakukan kru topi jerami. Tapi kalau kalian punya uneg-uneg silahkan di kasih tau, ya.

Nah, sekarang apa yang akan terjadi dengan mereka? Trus gimana dengan Sanji dan Nami? atau Sanji dengan…Robin?

Ups, jangan dibocorin dulu, deh. See u in the next chappy.

P.s: Tadi Zoro (salah) naik lift ke atas yang berarti menuju ke kabin perpustakaan. Jadi, bisa dipastiin dia gak ikut nguping di ladang bunga :)

P.s: Informasi Jazz dan Blues-nya saya CROP! males nulisnya… hehe, yang mau tahu baca di Wik*pedia aja yah :)

Untuk chap berikutnya adalah Nami-centric. Jadi siap2 utk merasakan sedikit ke-angst-ian, ok?

ciao for now, Shimacrow H.

Makasih buat bountyvocca, MelZzZ, Eleamaya, dan Cendy Hoseki buat reviewnya. Saya bener2 termotivasi.

Makasih juga yang udah sudi mengisi polling di PP saya. Yang belum, boleh kok kalo lagi iseng2 ngisi itu. Thanks before, ya.