Disclaimer: One Piece dan seluruh karakternya © Eiichiro Oda.

Ide fic dan penulis: Shimacrow Holmes

Setting: Seminggu setelah pertarungan di pulau melayang Shiki, One Piece Film: Strong World.

Words approximately: 1955

Sebelumnya: "Anak-anak! Ada pulau!" Luffy berteriak tiba-tiba dari haluan utama Sunny-go. Si kapten berdiri di atas kepala singa dan melambai-lambaikan tangannya pada rekan-rekan yang lain. "Nami, ayo mendarat di sana!"


"Hai, nona. Sendirian saja?" sepasang pria berjalan menghampiri gadis berambut oranye sebahu yang tengah duduk di tempatnya.

Wanita tersebut mengenakan gaun panjang berwarna merah tua dengan bahu terbuka. Ia nampak mengenakan sepasang bros mawar kembar di dadanya, yang nampak begitu serasi dengan pakaiannya. Penampilan yang begitu anggun seperti itu, pastinya hampir tidak mungkin tidak mengundang beberapa lusin pasang mata menghampirinya sekaligus.

Si rambut jingga itu mempelototi kedua pria itu. "Bukan urusan kalian!" balasnya dengan sengit.

"Hoo, gadis yang galak. Mau kami temani? Pasti menyenangkan." lanjut pria lainnya yang nampak lebih muda dari satunya yang memang kelihatan sudah separuh baya. "Ayolah."

Pria itu menarik tangan si gadis. "Aduh!" rintih si rambut berwarna kulit jeruk tersebut.

Gadis itu meraih belakang pinggangnya. "Jangan main-main denganku, ya!" hardiknya.

Tapi sebelum si gadis sempat mencabut 'sesuatu' di belakangnya, sesosok tangan yang kuat menggenggam tangan si pria muda tersebut.

Pria berambut hijau- dengan sebotol gin di tangan lainnya membalas tatapan kedua pria asing itu. "Pergi." perintahnya datar.

"Zoro!" kejut si gadis.

"Hii!" mereka berdua melarikan diri setelah sedikit berupaya keras melepaskan tangan si pria muda dari genggaman si lelaki berrambut hijau.

"Mau ditangkap penjaga, hah, Nami?" tanya Zoro.

"Uh… salah mereka sendiri."

Nami kembali duduk, dan menyentuhkan segelas anggur ke bibirnya yang nampak begitu memukau.

Zoro menyadari, diam-diam arah pandangan mata Nami menuju ke hall utama dansa- diam dan dingin.

"Hah, cemburu ya?"

"Ap-apa katamu? Aku tidak… Seenakmu saja menyimpulkan, tukang tidur!"

"Terserah." Zoro meninggalkan Nami sendiri, dan berlalu begitu saja sambil menenggak gin-nya. "Hwaah, sake barat enak juga rupanya…" gumamnya.

Tapi, kata-kata sindiran itu terus-terusan diputar ulang oleh Nami di kepalanya.

Aku cemburu? pikirnya. Tidak mungkin aku cemburu. Tidak mungkin aku cemburu hanya karena melihat dua rekan- dua sahabatku berdansa- di ballroom utama, tidak mungkin. Aku cemburu? jangan bercanda.

Nami kembali menenggak anggur merahnya.

Luffy, Usopp, Chopper, Franky, dan Brook terlalu sibuk dengan santap gratis mereka di pulau Ballhall- di theater opera pulau dansa ini. Tapi, lagipula Nami tidak peduli dengan mereka semua—mau apa mereka, ya terserah mereka. Lagipula dia juga tidak berharap ada yang menemaninya malam ini. Bahkan kedua rekan yang biasanya selalu ada di dekatnya pada acara-acara sejenis sudah sibuk sendiri dengan dansa mereka yang begitu elegan di aula utama.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tapi Nami masih saja melipat alis matanya.

Ia kembali teringat saat baru mendarat tadi petang di pulau ini.

"Selamat datang, di pulau Ballhall. Pulau dimana anda sekalian dapat berdansa 24/7 tanpa batasan—dengan hidangan gratis non-stop." sapa resepsionis di gerbang masuk pulau.

"Pulau dansa…?" tanya Nami.

"Tepat sekali nona." jawab si pemandu. "Ada berapa orang, ingin berlibur atau menjarah? Maaf apabila menyinggung perasaan kalian, ya."

"Menyinggung, tahu…" respon Usopp mencibir dan berbisik-bisik.

"Tentu saja berlibur!" sorak Luffy, dengan ekspresi tidak sabar ingin berdansa apalah itu namanya. Yang dia pedulikan hanyalah tawaran makan gratis setiap hari.

Setelah masing-masing mengisi angket data pribadi, kapal Thousand Sunny berlayar memasuki pelabuhan, dan berlabuh dengan tenang layaknya bukan bajak laut.

Pulau ini paling parah, gerutu Nami.

Kali ini Nami memangkukan pipi di atas telapak tangannya di meja. Tidak cuma sekali juga napasnya tertahan, terpukau dansa Sanji yang begitu 'gentle', dan gerakan Robin yang begitu elegan.

Dari sejumlah set gerutu yang tak henti-hentinya, akhirnya Nami berucap cukup keras sampai pelayan yang melintas di sebelahnya terkejut. "Kenapa aku tidak bisa berdansa!"

Nami terdiam, dan kembali menyadari situasi di sekitarnya. "…Maaf." ujarnya pendek.

"Hei pelayan, bawakan aku anggur merah lagi…!" perintahnya.

"S-segera, nona yang manis." hatur si pelayan dengan pakaian bartender.

Dasar Sanji-kun. Dia pikir dirinya siapa? Jangan kau pikir aku akan cemburu, ya.

Bukan aku yang mengejar laki-laki, tapi merekalah yang mengejar-ngejar diriku. Mereka semua akan bertekuk lutut di hadapanku, memohon-mohon akan cintaku. Tidak akan. Mereka akan kugantung dan kubiarkan begitu saja.

"Silahkan, Mademoiselle. Anggur merah pesanan anda."

Dengan segera Nami berdiri dari bangkunya dan bersorak. "Aku tidak cemburu!"

"Hii!" si pelayan pun terkejut, tapi untungnya segelas anggur itu sudah diletakkannya di meja. "I-iya, baiklah! Ter-terserah anda, nona… Ma-maafkan saya!"

Nami kembali tersadar. Ia terdiam sebentar, dan menggeleng. Pikiran macam apa yang kubayangkan barusan? "Tidak, aku yang seharusnya minta maaf." ia berjalan melalui si pelayan, dan berjalan menuju pintu keluar.

Gadis berambut oranye itu menuju penitipan jaket dan mengambil mantel dengan desain bulu miliknya.

Nami kemudian berjalan seorang diri menyisiri sekitar jalan kota yang masih 'hidup'. Belum ada tanda-tanda kalau pulau ini akan menyepi. Suasana yang lebih meriah dari Water7 malam hari ini membuat perasaan Nami bercampur aduk.

Dia sangat menginginkan dan membutuhkan keheningan untuk mendinginkan kepalanya sesaat. Akan tetapi, ia juga berharap keramaian ini tidak meninggalkannya sendirian. Ia takut apabila kebisingan ini menghilang pikiran gila ini akan memakan jiwa warasnya, dan memaksa dirinya mulai berhitung kalau satu tambah satu itu sama dengan sebelas.

Udara malam hari membuat tubuhnya menggigil. Ia lalu mengeratkan apitan tubuh pada kedua lengannya.

Menatap ke langit malam, ia melihat uap berembun dari mulut dan hidungnya menjadi satu dan membuyar di udara.

Nami bersikeras berpikir, aku tidak mencintai Sanji-kun. Begitupula dia—yang Nami pikir memang hanyalah mata keranjang—suka bermain mata dengan perempuan, dan ditambah mesum luar biasa.

Nami pribadi berpikir kalau Sanji pun tidak menyukainya dan hanya bermain-main.

Tentu saja aku menyukai Sanji-kun, pikir Nami akhirnya- meruntuhkan egonya. Aku menyukai sikapnya yang suka melayaniku. Aku merasa seolah menjadi seorang tuan putri, dimana dia adalah pelayan pribadiku.

Seorang tuan putri. Ya, tuan putri yang manja… Itulah aku, ujar Nami.

Apakah itu makanya dia lebih memilih… menghabiskan waktu bersama Robin yang dewasa, daripada bersama gadis manja sepertiku.

Apakah sifatku yang selalu berusaha memanfaatkannya itu yang membuatnya sedikit demi sedikit menjauh – menjauhiku.

Tapi, aku tidak ingin Sanji-kun menjauhiku. Aku benci sendiri.

Alasan mengapa aku tidak bunuh diri saat menjadi budak Arlong selain demi Nojiko, Gen, dan seluruh penduduk desa adalah karena masih ada anak buahnya yang masih mau melayaniku saat itu. Masih memperlakukanku seperti anak kesayangan Arlong sendiri.

Itu membuatku senang. Walaupun di dalam aku merasakan sakit yang teramat perih, pastinya.

Tapi apa yang diharapkan dari anak berumur 8 tahun memangnya?

Aku jelas 'tidak' mencintainya. Karena itu aku ingin selalu ia layani- itulah yang membuatku senang berada di dekatnya – di dekat Sanji-kun.

Kupikir, mungkin itulah ikatanku dengannya.

Tapi, kenapa aku merasakan panas di ulu hatiku sekarang. Kupingku seolah perlahan membakar keseluruhan kepala juga rambutku, dan benakku seolah siap meledak kapan saja saat melihat Sanji bersama Robin.

"Na~~~mi!"

"Hih, Luffy!" kejut si gadis. Nami membalikkan badannya, dan mendapati Luffy dengan pakaian yang tidak jauh beda saat menyerbu istana Shiki. "Mau kemana kau?"

"Hh… Hh… Aku sedang main kejar-kejaran bersama yang lain. Kau lihat Usopp dan Brook? Tinggal mereka yang belum kutemukan… Hh… Hh…"

"Ah, umur kalian berapa 'sih? Kadang aku iri dengan kalian… Lalu…" Nami mengarahkan pandangannya pada dua genggam penuh daging kalkun di tangan si kapten. "Apa-apaan dengan tiga potong kalkun masing-masing di kedua tanganmu saat sedang bermain seperti ini…?"

"Aku laper!" protes Luffy.

"Hah… iya, iya."

Luffy menyengir pada Nami. Tapi, sebaliknya Nami menatap Luffy seperti ada sesuatu yang ingin diucapkannya. Tapi ia berpikir untuk membatalkannya. Percuma bertanya pada Luffy yang di otaknya hanya berpikir daging – daging – dan daging.

"Ada apa Nami? Kalau mau tanya, tanya saja."

Nami tersentak. Beginilah kapten kami, batinnya. Begitu peka terhadap rekan-rekannya, biarpun bodohnya setengah mati bukan main.

"Luffy, jujur saja… aku berpikir kalau… sebenarnya Sanji-kun itu… sebenarnya dia tidak menyukaiku…"

"Ah, tidak mungkin!"

Sekali lagi untuk kesekian kalinya dalam beberapa kesempatan Nami tersentak, mendengar jawaban spontan si kapten. "Tak ada satu orangpun yang tidak menyukai Nami! Bahkan si pria tambang pemalu juga menyukai Nami. Apalagi Sanji. Semuanya menyukai Nami!"

"Tu-tunggu, tahu apa kau hah? Si pria tambang…? Pauly itu? H-hei, bukankah itu terdengar seperti kalau aku ini wanita murah, disukai banyak orang?" sahut balik Nami, menepuk keningnya. "Dasar kapten bodoh…"

"Tenang saja, aku mengenal rekan-rekanku, sebaik aku mengenal Ace dan Sabo. Sanji menyukaimu, 'kok!" hibur Luffy, masih dengan cengiran yang lebar.

Rona yang luar biasa merah nampak begitu jelas di wajah Nami. "K-kalau kau mengatakannya sekeras itu, aku…"

"Ya, sudah ya Nami! Deadline-nya lima menit lagi. Kalau aku tidak menemukan mereka, bisa-bisa aku kalah lima potong kalkun! 'Dah!" Luffy berlari menjauh dari Nami, secepat dia menghampiri gadis itu.

"…Terima kasih Luffy." Melihat punggung Luffy, dia sungguh berterima kasih pada si manusia karet tersebut. Tapi… "Sabo...? siapa itu?"

Nami menatap langit di atasnya. Ia mendesah. "Apa memang aku yang sudah seenaknya berpikiran seperti itu…?" ia menggeleng. "...Tidak usah dipikirkan lagi. Kalau itu insting Luffy, kurasa benar…"

Ia pun kembali berjalan menuju kapal.

Thousand Sunny, kamar wanita.

"Fuuuh, duduk selama itu bisa membuatku selelah ini…" Nami menanggalkan jaket panjangnnya yang cantik, dan melangkah menuju meja rias.

Di sana ia memandang wajahnya yang terpantul di cermin. Ada apa denganmu, Nami, tanyanya dalam hati. Kau adalah nakama Sanji-kun. Begitupula Robin yang tidak lain dan tidak bukan nakama si koki dan kau sendiri. Tak ada larangan yang mengatakan kalau mereka tidak boleh bersama-sama seperti itu.

Tapi…

Nami mengencangkan pegangannya pada kursi rias, dan menggapit bibir bawahnya yang masih berbalut lipstik merah.

Tapi...

Ia kembali terdiam.

"Ahh, kenapa 'sih aku ini? Berpikir negatif terus daritadi..." Nami menghembuskan napas panjang, dan meregangkan badannya ke atas. "Baiklah, sekarang mandi, dan lekas tidur. Besok pagi mungkin aku bisa merasa lebih baik."

Berusaha berpikir positif, Nami menyunggingkan senyuman sembari berjalan menuju kamar mandi pribadinya.

Sudah satu jam setelah Nami selesai mandi, namun dia masih belum bisa menyelami alam tidurnya. Ia masih menatap langit malam yang gemerlapnya terpancar dari balik lubang jendela kamar. Menutupi keseluruhan tubuh dengan selimut yang hangat sampai sebatas dagu mulusnya, matanya terus menerawangi langit malam.

Tiba-tiba ia merasakan langkah kaki dari beberapa orang yang semakin lama semakin mendekati kamarnya. Awalnya ia merasa panik, kalau-kalau itu adalah para penjarah kapal. Tapi, dengan cepat ia merasa lega, karena mendengar suara kaptennya yang bagai suara anak kecil.

"Nami-chan..." setelah pintu kamar terbuka, kali ini si navigator mendengar suara Robin.

"Hh...Hh... Nami-san ada, Robin-chan...?" tanya seorang pria dengan nada kecemasan.

Robin melangkah masuk dan menyentuh bahu mungil Nami. "Syukurlah. Ia sedang tertidur pulas saat ini, teman-teman..."

"'Tuh 'kan, apa kubilang... Nami sudah duluan ke kapal!" sentak Luffy.

"Huh, si Nami ini membuat khawatir saja!" susul Usopp. "Usopp jangan bilang begitu. Kalau Nami dengar kau bisa kena omel nanti..." sergah Chopper mengoreksi perkataan Usopp.

"Shh, tolong tenang semuanya," potong Robin.

Robin melepaskan tangannya dari pundak Nami dan tersenyum kecil.

"Baiklah, anak-anak. Kalian tidak boleh lama-lama di kamar lady." ujar Sanji penuh kelegaan. "Keluar, keluar!" lanjutnya mendorong para topi jerami.

"Fufu..." gelak Robin, berjalan menyusul yang lain. "Sanji-kun, kalau kau tak keberatan..."

Nami tak bisa mendengarkan kelanjutan perkataan Robin, karena pintu kamarnya sudah tertutup kembali.

Nami dengan segera berdiri dari kasurnya, dan berjalan mengendap-endap ke pintu kamar. Ia berusaha menguping suasana di luar kamarnya, namun yang terdengar hanyalah suara ombak dari dek luar dan dari jendela kamarnya.

Nami membuka pintu kamarnya dengan perlahan, dan melihat keadaan sekitar. Tak ada siapa-siapa.

Apa mereka semua sudah kembali ke kabin masing-masing, tanya Nami. Tapi mana Robin dan Sanji-kun?

Nami melangkah keluar, dan berjalan jinjit-jinjit agar tidak ketahuan dan kedengaran siapapun. Dia berjalan ke dek kemudi, dan melihat pemandangan yang ia bersumpah tidak ingin dilihatnya.

Robin mendekatkan wajahnya ke wajah Sanji—yang berarti hal terburuk yang pernah dibayangkan Nami terjadi saat ini.

Sekujur tubuhnya membeku. Tangan dan kakinya gemetar, selagi perut dan ulu hatinya terasa menjadi satu- hati dan lambungnya seolah naik turun diguncangkan oleh perasaan yang membuatnya mual.

"Ini... tidak mungkin…" gumamnya pelan, seperti berbisik.

Nami tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya seperti runtuh, dan dia juga tidak bisa merasakan apa-apa lagi saat berjalan balik menuju kamarnya. Seolah melayang layaknya hantu, ia lemparkan tubuhnya ke atas kasur.

Suatu pilihan terburuk yang pernah dilakukan Nami: menguntit mereka berdua. Akan terasa lebih baik apabila ia tidak mengetahuinya, karena sekarang Nami sungguh-sungguh tidak bisa tidur, dan benaknya tak bisa lepas dari pemandangan itu.

-Next to the Chapter 4-


A/N: Disini Shimacrow melaporkan, chapter tiga bersambung di sini. Hmm, gimana kelanjutannya? Cuma saya yang tahu. Wahahaha.

Cukup lama meng-edit yang satu ini. Karena ada banyak tugas kuliah yang harus saya selesaikan.

Sekali lagi thanks buat review2-nya para pembaca setia: thepoetry (yang udah ngebantu mengkoreksi ;D), Cendy Hoseki buat curcol-nya ;), dan Uchiha Hazuki-chan (2 review berturut2). Saya makin ngerti gimana rasanya mangaka kalo ngebaca surat dari penggemar ceritanya :D

Dari sini ke bawah saya mau curhat tentang OP dikit. Gapapa 'kan, ya...? *Twinkle little stars on my eyes*

Note: JANGAN LANJUTKAN KALAU KAMU BELUM BACA CHAPTER TERBARU 598 2 YEARS LATER! IT'S CONTAIN MAJOR SPOILER!

Setelah 4 minggu kita dibuat menunggu, secara pribadi saya berusaha bersabar (sekeras yang saya bisa) TANPA MENCARI SPOILER DIMANA-MANA. Saya berharap terjadi sesuatu yang menarik, tapi yang saya dan kita dapat malahan sangat77x jauh luar biasa 'menarik'!

Oda merubah (hampir total) seluruh penampilan para topi jerami!

Tapi, melihat perubahan yang terjadi pada anak2 topi jerami, bisa ngebuat bayang2 kita hancur ya ga…? (Ato cuma gw yang ngerasa gitu?)

Contoh, Zoro yang keilangan satu lengan, rambut Nami yang memanjang, Usopp berotot, Franky botak yang makin mirip gorilla segede kingkong, dan yang paling parahnya Sanji yang tuker poni dan alis lingkar yang luar biasa makin aaaaneeeeeeh!

Saya kayak ancur aja nih. Jadi makin susah ngebuat dan ngebayangin ceritanya…

Menurut kalian gimana? Saya cuman pengen nanya aja... Mereka semua makin aneh banget kan...?

Well, but once again no one can expect what Odacchi's got on his mind. And what, I dare to say, no one has—even once imagined our favorite crew would became like that.

See you, Sign, and out,

Shimacrow H.