Disclaimer: One Piece dan seluruh karakternya © Eiichiro Oda.

Ide fic dan penulis: Shimacrow Holmes

Setting: Seminggu setelah pertarungan di pulau melayang Shiki, One Piece Film: Strong World.

Words approximately: 2018

Sebelumnya: Robin mendekatkan wajahnya ke wajah Sanji—yang berarti hal terburuk yang pernah dibayangkan Nami terjadi saat ini.

Sekujur tubuhnya membeku. Tangan dan kakinya gemetar, selagi perut dan ulu hatinya terasa menjadi satu- hati dan lambungnya seolah naik turun diguncangkan oleh perasaan yang membuatnya mual.


Esok pagi. Thousand Sunny, 8 AM.

"Selamat pagi, semuanya."

"Ou, Nami! Kau sudah bangun?" Luffy si kapten menyapa navigatornya yang baru memasuki ruang makan. Tentu saja orang biasa pasti akan terkejut melihat gaya memakan Luffy yang tiada ampun; tambah lagi tanpa tata karma: berjongkok di atas kursi.

"Yo, nona kecil! sudah kami tunggu-tunggu daritadi!" sahut balas Franky, sambil menenggak cola.

"Yohohoho, akan kunyanyikan lagu selamat pagi khusus untukmu Nami-san! Pagi-pagi~~Kuu—bangun tidur~~ Tidak lupa kucuci celana dal..." sambut Brook, menyanyikan 'lagu' karangan sendiri dengan biola khasnya.

"Ah, diam Brook. Kau bisa merusak mood pagi hari Nami-san." tukas Sanji, memegang biola Brook untuk menghentikannya. "Nami-swan, kau ingin minum apa, dengan senang hati akan kubuatkan apa saja khusus untukmu?"

Nami menyunggingkan senyuman pada si koki. "Teh saja Sanji-kun. Teh hitam, ya…"

"Ahh, dengan senang hati Nami-swan!" balas Sanji dengan love hurricane yang semangatnya bukan main tiada dua.

Namun, dengan cepat senyuman manis itu menghilang. Tak ada yang memperhatikannya, bahwa senyum barusan tidaklah asli. Mata Nami menyorot punggung Sanji yang tengah berjingkrak-jingkrak menuju dapur. Dari balik rambut jingganya yang menghalangi inspeksi eksternal, matanya seolah berusaha menerka isi hati Sanji.

"Dasar koki mesum. Yang merubah mood pagi hari kami itu sebenarnya kau!" bentak Zoro.

"Apa! Marimo, tak akan ada sake untukmu hari ini!" balas Sanji dengan cepat, selagi tangannya masih mengaduk adonan teh hitam yang telah diseduh selembut mungkin.

"Ap- woi, seenakmu saja, alis lingkar! Tidak akan kuserahkan sake-ku!" dengan sigap Zoro segera berlari menuju rak minuman keras miliknya dan meyakinkan kalau 'anak-anak'-nya aman di tempat mereka masing-masing.

"Ah, Luffy! Itu potongan steak terakhirku!" rengek Chopper. Tanpa sadar dia sudah mengangkat sebelah kakinya ke atas meja dengan liar.

"Luffy, itu kalkun bakar-ku! Ja- Luffy, kau...!" lanjut sorak Usopp, berusaha meraih-raih kalkunnya yang seperti tersedot vakum kliner ke mulut Luffy.

Luffy menelan segala macam makanan di mulut ke dalam perutnya. Dia kemudian menegakkan duduknya. "Chopper, Usopp. Meja makan adalah medan perang."

Dengan itu, dia kembali merauk segala macam hal yang tersedia di meja.

"Itu 'kan pepatah pribadi milikmu sendiri!" balas Usopp dan Chopper menepuk dada kaptennya. "Dan jangan seenaknya membuat kata-kata mutiara tidak jelas seperti itu!"

"Ah! Luffy, itu roti bakar-ku, kau bodoh!" sorak Zoro dari kejauhan. "Anak sial!" lanjutnya, berlari menuju meja makan.

"Fufu..." tawa kecil Robin, yang mengundang pandangan diam-diam Nami menuju pada wanita tersebut.

"Ramai seperti biasanya, ya Nami." lanjut Robin mengarahkan kedua mata cantiknya pada si navigator. "Oh, aku punya buku baru disini. Kau mau lihat?"

"Oh ya? buku apa itu, Robin?"

Si navigator kembali mengeluarkan senyuman palsunya. Dan sekali lagi, tak ada seorangpun yang menyadari itu. Nami berjalan ke sofa ruang makan, dan duduk di sebelah Robin. Ia berbincang-bincang bersama si arkeologis seperti biasanya, begitu antusias dan tertarik dengan sesuatu yang ditawarkan wanita lebih tua tersebut.

Haah, Robin, desah Nami dalam hatinya. Kau pikir aku tidak melihat kegiatan kalian tadi malam apa? dan sekarang aku tak percaya, kau masih berlaku seperti biasa – seperti tak ada yang terjadi sama sekali.

Kapal Sunny-go masih bersandar di dermaga pulau Ballhall, dan akan berangkat kira-kira tengah siang hari ini. Tidak heran mengapa banyak sekali pengunjung di pulau ini. Itu dikarenakan kemampuan medan magnet pulau yang memungkinkan para pendatang untuk terus menerus mendatanginya setiap hari. Karena memiliki pencatatan medan magnet yang sangat cepat, pulau inipun selalu makmur akan bahan dan pangan yang masuk dari luar.

Sanji, Luffy, Usopp, dan Franky menuju pasar pulau guna membeli bahan-bahan keperluan kapal untuk pelayaran selanjutnya. Sanji tentu saja menuju pasar tradisional, dimana memiliki banyak variasi daging, ikan, dan sayur-sayuran yang beraneka ragam banyaknya.

"Hmm, aku bisa membuat begitu banyak jenis hidangan lezat nanti malam. Sweet." ujar si koki, sambil memilih buah nanas di kedua tangannya.

Luffy mengiter di belakang Sanji, mencoba setiap makanan gratis yang memang dipersilahkan untuk dicoba. Tidak sekali juga Luffy berusaha mencomot makanan untuk dijual, tapi dengan cepat kaki Sanji sudah melayang ke kepala dan menghentikannya.

Usopp dan Franky menuju pusat pabrik dan peralatan kerja milik pulau. Seperti biasa, mereka adalah ahli dalam bidang tersebut. Dan itu tugas mereka untuk mengurus bagian tersebut. Paling tidak, Franky sudah senang dengan dua kantong plastik besar cola spesial buatan pulau – yang dia nilai lain nikmatnya dengan cola biasa.

"Franky, Franky! lihat!" sorak Usopp dengan begitu hebohnya. "Ini bisa kugunakan sebagai senjata terbaruku!"

Franky pun terkejut. "Apa itu! Mesiu super? bom atom mini?" dengan begitu penasaran, Franky berlari ke arah Usopp dengan semangat.

"Telur busuk selama empat bulan!"

Franky terseret di tanah dan segera berdiri, lalu menepuk kepala Usopp setelahnya. "Itu bukan senjata! Lagipula mana ada orang yang menjual atau mau membeli telur busuk!" protes Franky yang dibalas cengiran mencurigakan si penjual.

Kembali ke kapal,

Zoro tengah membereskan dan merapihkan tali haluan utama kapal. Mengencangkan ikatan layar, dan mengangkat jangkar adalah tugas utama 'peliharaan kapal' ini.

Begitu selesai, dia berjalan melintasi dek rumput. Zoro lalu berselisih jalan dengan Nami dan Robin.

Si pendekar menyadari ada sesuatu yang 'lucu', seraya menolehkan kepalanya melihat si gadis berkepala kulit jeruk dari belakang. "Apaan 'sih?" komennya pendek. "Mau apa si Nami itu?"

Thousand Sunny bertolak dari pulau ballhall, mengikuti arah log pose menunjuk. Nami berdiri di haluan utama, memfokuskan dirinya dengan cuaca hari ini.

Ia menghembuskan napasnya sedikit demi sedikit. Ia juga merasakan setiap hembus tiupan angin yang melewati pori-pori tubuhnya dengan begitu mulus. Si navigator akhirnya membuka kedua mata, menatap lautan biru di bawah sinar matahari yang begitu cerah.

"Perjalanan ini akan aman-aman saja... setidaknya untuk satu hari ini..."

Di dalam hati, Nami merasa sedikit lega. Karena bagaimanapun juga yang diinginkannya adalah perjalanan yang aman dan menyenangkan, walaupun cuaca ekstrem pun tak bisa ditangkal oleh mereka yang melintas di lautan Grand Line.

Ia menarik dan menghembuskan napasnya dalam-dalam. Nanti malam. Nami menggapit satu lengannya dengan genggaman tangan yang mengencang. Nanti malam akan kuperjelas 'semuanya', pikir Nami.

Aku tahu, aku ini jahat. Mencurigai rekan satu kapal adalah kejahatan di atas kapal bajak laut. Jangan dikira aku tidak tahu hukum tak tetulis dunia bajak laut. Tapi aku hanya tidak ingin memelihara perasaan ini lebih lama lagi. Dan lagipula... Robin serta Sanji-kun juga tetap seperti biasanya denganku. Begitu ramah dan hangat. Tidak ada yang salah di sini sebenarnya. Masalahnya hanyalah pada ego-ku yang tidak bisa diredakan.

Ya. Aku hanya tidak suka 'digantung'.

Waktu pun berjalan begitu cepat. Seperti sekejap mata saja, matahari sudah berpulang ke balik khatulistiwa kembali petang ini.

Perut Nami berputar-putar di dalam. Terus-terusan batinnya mengatakan untuk membatalkan rencana ini. Tapi, ia menguatkan tekad-nya.

Dipikir-pikir kembali, bahkan Nami sendiri tidak tahu apa yang hendak ia lakukan sekarang. Mengetahui bahwa Robin dan Sanji adalah pasangan tidak akan menyelesaikan apapun sekarang.

Mengetahui kebenaran tidak akan memberi kepuasan kepada semua orang, melainkan terkadang kebenaran itu sendiri memberikan rasa perih melebihi dari kematian yang menyakitkan.

Jadi, untuk apa melakukan ini? Nami kembali berdebat dengan batinnya.

Sedari tadi si navigator hanya duduk diam di sofa ruang makan. Nami sudah mendapat pasokan gizi yang cukup dari makan malam Sanji yang luar biasa lezatnya. Walau ia tidak menghabiskannya, tapi tentu saja Luffy sudah melakukan tugas 'penyapuan'-nya dengan baik.

"Nami-san,"

Si navigator tersadar dan mengangkat kepalanya, menatap si koki andal yang menghampirinya.

"Kau mau jus nanas tropikal yang baru kubuat ini? Aku yakin kau pasti suka." tawar Sanji pada si navigator. Di wajahnya terukir senyuman seorang koki yang baru mencoba resep baru, dan bangga atas karyanya yang berhasil.

Nami mengeluarkan senyum – sebuah senyuman terpaksa. Namun ia begitu pandai memainkan mimik wajahnya. Sekali lagi, tak seorangpun menyadarinya bahwa itu adalah sebuah kepalsuan.

"Terima kasih, Sanji-kun. Wah nampaknya lezat sekali!" lanjutnya, meraih segelas mewah jus yang nampak begitu nikmat.

"Swanjwi, akwu jwuga mwau!" sahut Luffy dari meja makan, seperti biasa dengan mulut yang penuh akan makanan.

Sanji mengatakan pada si kapten ada sisa jus ini di dapur, dan Luffy segera bergegas berlari ke sana.

"Mm..." gumam Nami dengan wajah bahagia. Robin yang melihat dari kejauhan juga memberikan senyuman lembut pada gadis navigator itu. Si koki juga tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. "Ba-bagaimana resep terbaruku Nami-san? Te-tentu saja itu hanyalah jus nanas biasa, tapi aku menambahkan suatu bahan agar rasa nanas tersebut menjadi lebih beraroma dan lezat"

"Luar biasa, Sanji-kun..."

"Wenwaaak!" sorak Luffy dari belakang. Di tangannya, segenggam blender berisi jus nanas sudah setengahnya habis. "Luar biasa, Sanji! Baru kali ini aku mencoba jus nanas seenak ini!"

"Heh, seperti lidahmu bisa membedakan rasa hidangan saja, Luffy. Kupikir semua rasa sama saja di dalam mulutmu nantinya." balas Sanji dengan gelak kecil, disusul tawa pelan Nami.

"Twidak swopan!" protes Luffy.

"Me-memangnya seenak itu ya, Luffy!" sambut Usopp, semakin penasaran dengan sesuatu di genggaman si kapten. "Aku minta 'donk!"

"Aku juga!" sahut si rusa kecil, Chopper.

"Yohohoho, aku juga mau coba Luffy-san!" lanjut Brook, yang langsung disusul oleh Franky. "Super! Bagi sedikit bang Luffy!"

"Oi, Luffy, memangnya benar seenak itu?" tanya Zoro, masih sedikit ragu-ragu.

Mereka pun mulai berebut jus nanas spesial si koki andal. Dan seperti biasa, terjadilah keributan yang sebenarnya tidak diperlukan sama sekali.

"...Terima kasih, ya Sanji-kun." ucap Nami pelan. "Kau selalu baik padaku."

Sanji mengangkat alis matanya, dan ia tersenyum selagi bersumpah: jangan sampai Nami-san melihat wajahku saat ini. "Ah, dengan senang hati, Nami-san."

Haluan utama Sunny, 8 PM.

Semilir angin malam meniup rambut jingga Nami. Ia berjalan dengan tenang menaiki tangga haluan. Di depannya, tengah berdiri ke arah lautan Robin si arkeologis. Rambut hitamnya yang lembut terbawa angin dengan begitu anggun. Mata setengah sendunya juga begitu cantik. Nami, sebagai sesama wanita pun tidak memungkirinya. Dia menyatakan bahwa Robin adalah salah satu wanita terindah yang pernah ditemuinya selain Bellemere dan Nojiko.

Jujur saja, Nami tidak pernah berpikir bahwa dirinya lebih memukau dari Robin. Dia juga dalam hati mengakui kalau ia bukanlah apa-apa disbanding segala daya tarik yang dimiliki Robin.

Nami menelan gumpalan di kerongkongannya. Lalu ia menajamkan matanya, seolah berusaha menguatkan dirinya untuk yang satu ini.

"Ara, Nami?" tegur Robin. "Ingin menikmati pemandangan laut malam hari juga?" lanjut Robin dengan senyuman dewasanya seperti biasa.

Nami sekali lagi menyadari sesuatu. Ia tak lebih dari anak-anak di depan tatapan mempesona dan dewasa Robin yang begitu dalam. Dari sorot matanya terpancar rasa sayang, pengalaman, kepahitan hidup, dan kesenduan yang mendalam. Seperti sebuah cemoohan pada Nami yang juga pernah mengalami beratnya hidup saat kecil dulu. Mana yang lebih menderita, kehilangan keluarga, kampung halaman, dan peradaban atau berusaha mencari uang dengan segala cara guna membebaskan orang-orang yang di sayang?

Ia tak tahu. Ia tak peduli. Sebodoh dengan semua itu. Masa lalu tetaplah masa lalu—tak 'kan pernah bisa dirubah.

Hanya satu tujuannya malam ini. Sesuatu yang ia pertaruhkan kali ini adalah persahabatan; sesuatu yang tak dapat diuangkan atau dibeli. Sesuatu yang sakral, sesuatu yang begitu penting dan dalam maknanya.

"Langsung saja, Robin." ujar Nami, blak-blakan. Robin pun sedikit terkejut mendengar nada suara Nami yang seperti itu. Tidak biasanya ia menggunakan nada bicara yang begitu dingin pada Robin.

"...Ya, Nami. Silahkan..." Robin kembali mendapatkan ketenangannya kembali.

"...Sudah sejauh mana hubungan kalian...?" ujar Nami. "Kau dan... Sanji-kun maksudku."

Robin terdiam seribu bahasa. Ia lalu memangkukan sikunya satu sama lain dengan genggaman tangan. Robin tersenyum kecil—sungguh kecil hingga begitu sulit kentara.

"...Sudah kuduga." balas Robin, tenang dan dingin. "Cepat atau lambat... kau pasti akan mendatangiku, Nami-chan."

Dua wanita itu berdiri saling tatap. Tak seorangpun mengalihkan pandangan dari mata lawan bicaranya.

Kini keheningan menyelimuti mereka. Hanya angin malam yang berani mengeluarkan suara, karena 'kepolosan' tak memiliki pengaruh apa-apa di sini.

-Next to the Last Chapter-


A/N: Oke itu dia pra-klimaksnya. Kalian suka? Tidak suka? komennya WAJIB!

Nah, ke arah mana kisah ini berjalan? Robin atau Nami? Skali lagi cuma saya yang tau, hahahaha. Maaf tapi saya akan meninggalkan kalian dalam ke-suspense-an untuk chapter berikutnya.

Sekali lagi, silahkan kasih tau saya kalau ada mistypo di chapter ini. Saya begitu mengapresiasikan bantuan kalian :)

See u in the last chapter :D

Rant:

Wahahaha, rupanya lengan Zoro gak buntung. Shit that little fuckin dammit spoiler in mangastream! Tapi, DAMN, Zoro keren abis di chapter 599...

Franky juga, seh kayak apaan sih tu? Ga nyapein apa Oda nggambarnya?

And, Robin makin HAWT bangget! Pretty woman!

Sanji oh Sanji. Kenapa alis mata itu terus menempel di wajahmu? Hiks...

Luffy's ROCK! Haki's rule!