There's Something Strange with The Hana and The Cigarrete: Last Chapter
Setting: Seminggu setelah pertarungan di pulau melayang Shiki, One Piece Film: Strong World.
Words approximately: 2302
Sebelumnya: Hanya satu tujuannya malam ini. Sesuatu yang ia pertaruhkan kali ini adalah persahabatan; sesuatu yang tak dapat diuangkan atau dibeli. Sesuatu yang sakral, sesuatu yang begitu penting dan dalam maknanya. Dua wanita itu berdiri saling tatap. Tak seorangpun mengalihkan pandangan dari mata lawan bicaranya. Kini keheningan menyelimuti mereka. Hanya angin malam yang berani mengeluarkan suara, karena 'kepolosan' tak memiliki pengaruh apa-apa di sini.
Malam terus berjalan, menyelimuti Thousand Sunny dengan kesunyian. Tak terdengar apapun lagi, kecuali desiran ombak yang lembut—desiran ombak yang begitu menghanyutkan.
Kedua pasang mata itu tak pernah melengah dari satu sama lainnya. Mata yang memandang dengan segala keraguan, dan mata yang memandang dengan begitu tenang.
"Nah," Robin membuka. "Kira-kira apa yang mau kau katakan padaku selanjutnya, Nami-chan?"
Si rambut jingga tersentak. Ia menjadi semakin ragu dari sebelumnya. "A-aku... itu..."
"Ada apa, Nami? kenapa jadi ragu-ragu seperti itu?" lanjut tanya Robin, melihat Nami yang merundukkan kepalanya. "Hubunganku dengan Sanji-san, bukan?"
Kenapa nyaliku tiba-tiba meninggalkanku di saat aku begitu membutuhkannya, pikir Nami. Ia mengangguk dan memberanikan diri kembali menatap mata Robin. "Aku melihat semuanya. Aku melihatnya dengan begitu jelas, Robin. Kau- kalian tidak bisa membohongiku."
"...Fufufu, jadi kau memang melihatnya, ya?"
"Ro-Robin, jangan bilang kau..."
Robin kembali tersenyum. "Nami, kau tidak pernah mengerti tuan koki."
"Ap-apa?" tanya Nami, tidak mengerti dengan jalan pembicaraan ini. Bukankah seharusnya aku mengetahui kebenarannya. Aku datang bukan untuk dikuliahi.
Robin berjalan menuju haluan utama. Nami mengikutinya dari belakang, begitu penasaran. "Robin, katakan apa maksudmu?"
Robin membalikkan tubuhnya, dan kembali memandang kedua bola mata hazel milik Nami.
"Pernahkah kau membuat tuan koki merasakan sedikit kesenangan?" tanya wanita yang lebih tua itu dengan tatapan serius. Tak ada lagi pandangan lembut dan dewasa. Mata itu berubah menjadi tatapan yang lurus dan menusuk. "Bahkan, apa pernah kau memikirkan sedikit saja demi keuntungan tuan koki?"
"I-itu... ke-kenapa tiba-tiba, Robin? Aku-aku tidak mengerti sama sekali..."
"Nami... kau tidak perlu mengerti apa-apa lagi sekarang. Kau mendatangiku malam ini atas niatanmu sendiri. Kurasa kau sendiri pasti sudah mengerti." ujar Robin, mengalihkan pandangan dari Nami. "Tapi, kau tidak pernah menyadarinya. Kau tak pernah sekalipun berusaha mengungkitnya,"
"...Ro-Robin...?"
"Selama kau untung. Begitu ya...? selama kau untung, terserah saja yang lain mau seperti apapun juga. Begitu, 'kan Nami?" Robin menusuk si navigator muda dengan kata-kata tepat di jantungnya. Robin tidak seperti biasanya. Ia seperti bukan Robin yang kukenal, pikir Nami. Ia begitu dingin, bukan lagi Robin yang hangat dan selalu menenangkan.
Mata Nami mulai berair. Dia tidak sanggup digempur terus menerus seperti ini. Ia tidak kuat. "Ro-Robin, kau kenapa? kenapa kau sedingin ini padaku? A-aku salah apa?" isak si navigator. "Aku hanya... aku hanya ingin mengetahui hubunganmu dengan..."
"Tidak perlu lagi, Nami. Kupikir kau tahu. Aku yakin." balas Robin, merapatkan kedua matanya. "Kau tidak mengerti Sanji. Kau tidak pernah menghargai kerja kerasnya setiap hari untuk melayani kita para 'lady'."
"...Aku-aku menghargainya, kau tahu? Aku lebih lama bersama dengan Sanji-kun. Dia selalu melayaniku. Dia selalu melindungiku di medan tempur yang sudah tidak terhitung banyaknya. Dia selalu mau berkorban nyawa demi diriku. Aku-aku... karena itu aku begitu menghargainya."
"Tidak. Hanya dengan menyadari itu... aku yakin, kau pasti masih ingin 'mengelaki' dirinya. Kau tidak sepenuhnya berterima kasih padanya."
"Tidak benar. Itu-itu tidak benar!" Nami mulai mengalirkan air matanya. Hatinya bergetar begitu kencang. Berdegup-degup seperti hendak pecah sekarang juga. "Kau tidak tahu, Robin. Kau tidak tahu apa-apa!"
"…Tapi, sayangnya aku tahu, Nami. Dari koki kita sendiri malahan... kata-kata itu keluar,"
Pukul lima kemarin sore, kebun bunga dan pohon mikan.
Sanji dan Robin masih duduk bersebalahan di atas kursi santai milik Robin. Sanji sedang membaca-baca buku mengenai Jazz dan Blues milik Robin, walau hanya membolak-balikan halaman semata. Tapi, beberapa saat kemudian Sanji terdiam, nampak berpikir.
"...Aku tidak masalah, Robin-chan."
"Hm? soal apa?"
"Aku dan Nami-san sudah berteman cukup lama. Aku tahu bagaimana Nami-san itu. Aku begitu mengerti dirinya."
"...Tapi, kau bahkan tidak mengetahui lagu kesukaannya. Tuan koki, aku sama sekali tidak mengerti maksudmu."
Sanji mendongakkan kepalanya ke langit. "Bukan yang seperti 'itu' masksudku. Melainkan bagian dalamnya."
"Oh, sungguh? seperti apa?"
"Dia itu ya..."
Kembali ke haluan utama, waktu sekarang.
"Sanji begitu semangat bercerita mengenai dirimu." mulai Robin, memangkukan lengan dengan kedua tangannya kembali. "Mungkin itu adalah ekspresi yang belum pernah ditunjukkannya pada rekan-rekan lainnya."
"Aku tidak mengerti... apa maksudnya Robin?"
"Nami. Sanji begitu mencintaimu." jelas Robin, dengan nada suara yang meninggi. "Tidakkah kau menyadarinya? sedikit saja?"
"...Ap...?" Nami kehilangan kata-kata. Dia tak bisa merangkai kalimat yang tepat saat ini. Isi kepalanya berputar-putar. Ia merasa seperti anak kecil yang dibodoh-bodohi atau dijanjikan sebuah mainan agar mendengarkan sebuah pernyataan lurus. Tapi lucunya, ia tidak bisa menangkap maksud kata-kata Robin dengan jelas.
"Aku menyukainya, Nami. Aku menyukai sifatnya. Tidakkah kau juga begitu?" tanya Robin, berjalan mendekati Nami. "...Tapi, aku tidak bisa."
"Eh...? apa maksudmu, Robin? a-aku sama sekali tidak mengerti semua hal yang berusaha kau sampaikan padaku sedari tadi..." balas Nami.
"Kau tahu, Nami. Aku tidak bisa... mengambilnya darimu."
"Ro-Robin... kau...?"
Tenggorokan Robin serasa seperti diikat dengan rantai berat. Ia begitu susah mengucapkan ini, karena ini benar-benar sudah seperti bukan dirinya lagi.
Robin diam-diam memendam perasaan kagum dan hormat pada sosok Sanji. Tapi, ia sangat tahu dengan baik, mana sesuatu yang benar, dan mana hal yang tidak seharusnya.
Berkat tingkat pemahaman dan intelenjesianya yang tinggi, ia begitu mengerti seluruh anggota krunya. Baik dari sisi yang disinari cahaya mentari, sampai yang diselimuti kabut malam.
"...Tidak perlu dilanjutkan, Nami." Robin akhirnya kembali memberikan senyumnya yang begitu lembut pada si navigator. Sebuah senyuman yang menghangatkan hati.
Robin menepuk pundak Nami dengan lembut. "Pergilah, Nami. Aku tahu kau menunggu pangeran berkuda putihmu, jadi untuk apa menunda-nunda penantianmu."
"Ta-tapi bukankah kau... dan Sanji-kun tadi malam ber- ber..."
"Berciuman?" susul Robin dengan nada bermain-main. "Fufufu, kau memang begitu lucu Nami."
Robin menghela napas dalam. "Dengar Nami. Sanji sudah mengetahui semuanya tentang dirimu sekarang. Tapi, saat itu dia menyatakan padaku bagaimana kau memperlakukannya selama ini. Ia tahu dengan persis bahwa ada titik kejanggalan dalam hubungan diantara dirinya dengan dirimu."
Nami terdiam. Ia mengingat segala macam hal yang sudah dilaluinya bersama si koki, dari hal yang paling remeh, sampai segala macam kejadian yang menuntutnya untuk mempertaruhkan nyawa. "...Kau benar." ucap Nami, setelah merenung cukup lama. "...Aku berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaan berterima kasih atas kerja kerasnya setiap hari. Aku tidak pernah berterima kasih secara langsung padanya."
Robin memandang kepala Nami yang merungkuk ke tanah. "Nami, dia tidak memperdulikan itu. Dia tidak peduli dengan semua rasa terima kasih darimu. Yang dia butuhkan hanyalah sedikit saja perhatian dari orang yang dicintainya: kau." wanita yang lebih tua itu kembali tersenyum lembut begitu si navigator mengangkat kepala menatapnya. "Dia mengharapkan perhatianmu... yang sedihnya tak pernah kau curahkan padanya. Hanya itu."
"...Aku mengerti. Begitu rupanya, ya... aku mengerti." ujar Nami, mengeratkan tangannya di depan dada. "Ta-tapi, bagaimana denganmu Robin? bukankah kau...?"
"Tak perlu khawatir, Nami. Itu semua cuma akting untuk memancingmu. Fufufu..." tawa geli Robin.
"Bohong...! Ja-jadi kalian membohongiku selama ini?"
"Fufufu, aku tidak punya cara lain untuk mendekatkan kalian." ujar Robin, dengan sedikit semburat merah. "Tadi malam juga sebenarnya aku tahu bahwa kau belum tertidur. Karena itu aku memancingmu keluar, dan berhasil." tambah jelasnya. "Mungkin kau tidak menyadarinya kalau di belakangmu berdiri tadi malam ada sepasang mata menatapmu."
"Ya ampun, Robin. S-sampai seperti itu...?" tanya Nami, begitu tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu. "Aku... tidak..."
"Aku juga tidak memintamu memaafkan perbuatanku." potong Robin dengan lembut—dengan tatapan yang begitu hangat. "...Aku hanya berharap usahaku berhasil."
Tanpa selang waktu sedikitpun, Nami memeluk Robin dengan begitu erat. Ia memendamkan wajahnya dalam pelukan balik Robin. Si navigator meneteskan air mata, terisak-isak. "Aku... tidak percaya hiks... hiks... kenapa kau begitu... begitu... begitu peduli, Robin? hiks, aku..."
"Tidak ada yang perlu kau tangisi, Nami." Robin mengusapkan tangannya di kepala si navigator. "Tidak ada yang perlu kau sembunyikan sekarang. Kau tidak perlu menyembunyikannya lebih lama lagi. Kau tahu kalau kau juga mencintainya, bukan begitu?"
Nami mengangguk ragu-ragu, masih memeluk Robin. "Aku takut..."
"Takut? dengan apa?"
"...Aku takut, aku sangat takut kalau suatu hari nanti—ketika kami sudah bersama... aku takut apabila rasa cintanya memudar dariku." isak Nami. "Dia begitu pandai. Dia begitu brilian. Dia begitu lihai dalam profesinya. Dia begitu gentle. Dia begitu romantis. Dia begitu memukau di pandangan para wanita- tanpa melihat sisi mesumnya. Dia begitu bersinar di mata mereka. Aku takut... aku takut dia akan berpaling dariku suatu hari nanti." jelas Nami, panjang dan lebar. "...Aku mencintainya—mengaguminya, sekaligus… takut pada dirinya yang seperti itu."
Mata Robin membesar, namun kembali melembut. "Aku mengerti. Lihat, kau bahkan mengagumi koki kita dari segala macam aspek. Aku kagum, fufufu." gelak kecil Robin.
Semburat Nami semakin memerah. "Ro-Robin...!"
"Nami, apakah menurutmu Sanji itu orang yang selalu memegang kata-katanya?"
"Err... ya, kupikir...?" jawab Nami, melepas pagutannya dan menatap wajah Robin.
Robin berjalan menuju ujung buaian kapal, seperti melayang—langkah kainya begitu ringan bagai di tiup angin. "Kau tahu Nami...? dulu—dulu sekali, ada seorang raksasa yang mengatakan ini padaku..."
"...Raksasa...?"
""Robin, percayalah pada sesuatu yang kau percayai, dereshishishi""
"De-dereshi...?"
Robin membalik tubuhnya. "Unik, bukan? karena tawa orang itu yang begitu menarik, kata-kata itu tak pernah kulupakan sampai sekarang." ujar Robin, nampak berbinar membayangkan masa lalunya. Tentu saja lanjutan dari kata-kata itu masih ada; dan tidak ada sangkut paut dengan situasi ini sama sekali. Wanita arkeoogis itu tidak berniat sama sekali untuk berbagi kesedihan dengan rekannya yang lebih muda itu.
"Kata-kata tersebut adalah salah satu dari beberapa hal yang menyokongku untuk terus hidup pada masa-masa itu."
"Robin..." si navigator menangkap kesedihan rekannya itu. Alis matanya sedikit berkerut, dan ia kembali merasakan iba dan keprihatinan yang pernah diberikannya dulu pada Robin saat di Water7.
"Sudah cukup, Nami." Robin melangkah meninggalkan Nami. "Maafkan aku karena sudah membuatmu sakit hati, ya. Tapi, tidak juga tidak apa... aku sudah terbiasa. Selamat tidur, Nami."
Dengan itu, wanita berambut hitam itu berpaling menjauh. Ia melangkah di dalam kegelapan malam yang dimandikan cahaya bintang. Nami merasakan rasa bersalah yang dalam di hatinya. Entah apa alasan Robin melakukan itu, ia tidak mengerti sama sekali. Ia tidak bisa menerima ini. Ia sangat tidak suka melihat Robin yang seperti itu. Ia teramat sangat tidak suka melihat Robin yang merenung—nampak sedih seperti ini.
Bagi Nami, Robin sudah seperti pengganti kakaknya dalam perjalanan ini. Lebih dari itu, terkadang, ia juga menganggap Robin sebagai seorang ibu yang ramah dan baik karena segala sifat kedewasaan dan kesabarannya.
Nami kembali meneteskan airmatanya, lebih deras dari sebelumnya.
Robin hendak menuruni tangga menuju dek tengah saat ia mendengar sebuah derap kaki yang cepat ke arahnya. Tidak sempat membalikkan tubuh, ia merasakan sebuah pelukan yang hangat dari belakangnya.
"Robin... Robin..."
Si arkeologis merasakan isak tangis Nami di punggungnya.
"Robin, ke-kenapa kau selalu seperti ini? k-kau selalu mau berkorban... itu tidak baik, 'kan...?" tanya si navigator di tengah isakan tangis.
"...Nami, aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Dan aku percaya kalau ini yang terbaik, Nami." jawab Robin, begitu lembut—menyentuhkan tangan pada lengan Nami yang memeluknya. "Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu."
"...Aku... aku bersyukur memilikimu sebagai rekan, Robin. Le-lebih dari itu..."
Robin tersenyum simpul. "Ya, aku juga Nami." Robin menatap langit malam yang terbentang luas sejauh matanya menatap. "...Aku selalu bermimpi—dulu saat kecil... bagaimanakah... rasanya memiliki seorang adik...?"
Wanita dewasa itu melepas pagutan Nami dengan perlahan. "...Selamat tidur, Nami-chan." ujar Robin tanpa membalikkan wajah. "Jujurlah. Jujurlah pada dirimu sendiri."
Gadis berrambut jeruk itu melihat Robin berjalan turun, dan mengangguk penuh dengan kesungguhan. Matanya kembali dipenuhi dengan cahaya harapan, berbinar sungguh cantik oleh cahaya bintang dan bulan.
XXX
Lebih dari itu, ya, lebih dari itu. Hubungan kami sungguh unik—kami semua. Kami seperti terikat dengan sebuah benang halus yang tak kasat mata—menjalin kami menjadi sebuah keluarga yang harmonis. Hidup ini sungguh indah, dan terlalu mahal untuk disia-siakan. Sebanyak apapun Berry yang kumiliki tak 'kan pernah bisa membelinya.
"Selamat pagi, Nami-san."
"Hai. Pagi yang indah ya, Sanji-kun?"
Aku menyadari ekspresinya yang terangkat—lebih bahagia dari raut wajah yang biasanya saat kusapa. Hanya dengan sedikit permainan kata dan rasa keterikatan yang jujur, aku sudah bisa membuatnya bahagia. Itukah yang hendak kau sampaikan padaku, Robin?
Ia tersenyum tulus padaku—Robin. Aku hanya bisa membalas balik senyuman dewasa wanita yang kukagumi itu. Aku tidak tahu, apakah Sanji mengetahui rencana Robin atau tidak. Tapi yang jelas... entah mengapa aku menjadi seperti merasa, Sanji-kun mengetahui segala hal mengenai diriku kini.
Apakah itu artinya, sekarang ia tahu kalau aku tidak bisa berdansa?
Tidak penting. Yang jelas kini aku bisa sedikit menikmati kebersamaanku bersama si koki cinta itu. Aku bisa memberikan senyuman yang benar-benar tulus padanya kini adalah sesuatu yang cukup membuatku terkejut. Jujur, senyumnya juga begitu menawan—senyuman yang begitu gentle dan keren.
"Nami-san, aku membeli piringan lagu klasik. K-kalau kau tak keberatan, maukah kau sesekali berdan-menar... err, maksudku..."
"...Berdansa? ...tapi, aku tidak yakin, Sanji-kun..."
"O-oh, ti-tidak apa-apa. Hehe, ma-maaf sudah mengganggumu, Nami-san..."
"Bukan begitu maksudku, bodoh. Kau tahu... mm, aku tidak yakin... bisa mengikuti dansamu yang begitu lihai..."
Sekali lagi, ekspresinya menjadi begitu cerah—secerah mentari pagi hari ini.
"Aku bisa mengajarimu... k-kau mau?"
"Hihi, boleh juga..."
Hanya dengan sedikit saja kejujuran dan keberanian, segalanya pasti akan menjadi lebih indah pada akhirnya. Tapi, kita tidak bisa menerka-nerka bagaimana akhir nantinya. Namun, itulah manusia—untuk berusaha sekuat dan sekeras mungkin adalah sebuah keharusan bagi mereka masing-masing. Aku mengerti sekarang. Terima kasih, Robin.
-There's no Fin in One Piece-
Author: Shimacrow Holmes
One Piece © Eiichiro Oda
Terima kasih buat semua Review yang udah masuk. Maaf untuk Update-nya yang telat, dan saya harap kalian menikmati chapter terakhir ini. Maaf karena saya gak bisa menjawab review2 dari kalian, karena tugas kuliah saya banyak banget; dan waktu megang laptop malah jadi bingung pengen nulis apa... Hehe.
Semoga sedikit makna yang saya selipkan di fic ini bisa menggugah hati kita bersama.
Turut berduka dengan banyaknya bencana di negeri tercinta ini.
Let's pray for Indonesia.
Sampai ketemu lagi di karya fic One Piece saya berikutnya, ya :D
See u, and Viva One Piece!
