Author: Hwaa! Minna! X'D Akhirnya saya bisa ngelanjutin fanfic ini X'3
Ryuuki: *ngelindes author pakai roadrollernya Rin* KENAPA SIH NGELANJUTIN FIC INI LAMA BANGET?!
Author: Oi! Jangan jebolin capslocknya napa!
Ryuuki: AAAA! *nyerbu author*
Author & Ryuuki: *berantem kayak kucing dan anjing*
Kameharu: Ah, kelamaan. Langsung disclaimer, woi!
Author: Disclaimer? Vocaloid milik Crypton, tapi cerita ini milik saya! XD
Normal POV
Miku, Mikuo, Gumi dan Gumiya langsung menoleh ke belakang mereka. Miku langsung terbelalak kaget melihatnya.
"MaᅳMasaka... AᅳAnata wa..."
"Untuk apa kaget seperti itu? Aku adalah dewi Kitano!" serunya terbang ke atas.
Dewi Kitano yang mereka lihat itu berambut hitam pendek dan bermata kuning emas seperti mata kucing juga disertai telinga kucing di atas kepalanya. Ia memakai baju (seperti Miko) yang panjang dengan selendang indah mengelilinginya.
"DeᅳDewi Kitano..."
"Omedetou. Kalian berhasil melewati berbagai rintangan hingga sampai ke sini. Hahh... Aku sudah menantikan saat-saat bertemu dengan peri selama 3000 tahun. Sayangnya, banyak yang mati, tragis sekali. Nah, karena kalian berhasil sampai kesini, aku akan mengabulkan permohonan kalian" kata dewi Kitano.
"Ano... Yang mulia. Sebenarnya, kedatangan kami kesini adalah untuk meminta bimbinganmu untuk memberikan manusia-manusia ini senjata untuk mengalahkan Chiaki" kata Gumiya.
"Eh? Jadi mereka manusia yang diutus itu? Senang bertemu dengan kalian" kata dewi Kitano.
"..." Miku dan Mikuo hanya terdiam, tidak tau harus menjawab apa.
"Lalu apa yang kalian inginkan?" tanya dewi Kitano kepada Gumi dan Gumiya.
"Eh? EᅳEto..." Gumi kelihatan ragu dan bingung.
"Kalau bisa, kami ingin skill sihir kami dinaikkan! Karena kami akan mengembara, maka pasti sihir akan sangat dibutuhkan" jawab Gumiya.
"Baiklah. Tentu saja aku bisa mengabulkan permintaan kalian semua dengan satu syarat" kata dewi Kitano.
"Apa syarat itu, yang mulia...?"
"Aku ingin kalian pergi melewati desa peri langit. Karena kemungkinan besar, akan terjadi suatu bencana yang menimpah desa itu. Mungkin kalian dapat menghentikannya dengan kekuatan kalian. Kalian bersedia?" tanya dewi Kitano.
"Kami bersedia, yang mulia" jawab Miku, Gumi, Gumiya dan Mikuo.
"Arigatou. Sekarang, terimalah ini" kata dewi Kitano memberikan 2 buah pedang kepada Miku dan Mikuo.
Miku diberikan pedang perak dengan pegangannya yang berwarna putih bersih dan ditengahnya terdapat batu permata berwarna biru muda. Mikuo pun juga diberikan pedang perak, hanya saja pegangannya berwarna hitam dan ditengahnya pun terdapat batu permata berwarna biru tua.
"Dewi, maksud pedang ini apa?" tanya Miku sambil memandangi pedangnya.
"Kedua pedang yang ku berikan pada kalian itu adalah pedang yang sangat langka. Pedang itu memang sudah dikhususkan kepada orang yang akan menyelamatkan dunia peri ini. Dan sekarang, kalianlah yang menjadi pemiliknya" kata dewi Kitano.
"Sugoi.." kata Mikuo.
Dewi Kitano hanya tersenyum, kemudian ia menatap Gumi dan Gumiya.
"Biar ku pinjamkan kekuatanku untuk energi dan skill sihir kalian. Terimalah ini" kata dewi Kitano sambil mengulurkan tangannya seakan-akan sedang menyerang.
Namun yang ada, sebuah sinar mengelilingi 2 makhluk peri itu. Dan setelah itu, perlahan sinar itu menghilang.
BRUKK!
Gumi dan Gumiya langsung terjatuh seperti pingsan sehingga Miku dan Mikuo kaget.
"Aku sudah menaikkan skill sihir mereka. Sekarang aku akan membiarkan kalian keluar dengan selamat dari goa ini. Hehe... Sayonara" kata dewi Kitano langsung menyihir Miku dan yang lainnya sehingga mereka keluar dari goa itu.
"Ung.. Um?" Miku membuka matanya secara perlahan.
Ia melihat ke sekeliling dan melihat pedang yang sudah terikat dipinggangnya secara tiba-tiba.
"Pedang ini... pemberian dewi Kitano.." kata Miku.
Ia kemudian bangkit dan mengadah ke langit.
"Yosh... Dengan pedang ini, aku akan mengubah takdir dunia!" seru Miku.
"NᅳNg..." Miku menatap Gumi yang baru saja tersadar.
"Gumi nee-san sudah sadar?!" tanya Miku.
"Eh? Ah, iya... Gumiya-kun? Mikuo-kun?" Ia mencari ke sekeliling.
Miku mendekati Gumi dan menemukan Gumiya dan Mikuo ada di belakangnya.
"Gumi nee-chan..." panggil Miku.
"Ya?" balas Gumi.
"Mereka berdua ada dibelakang Gumi-nee..." jawab Miku.
Gumi menoleh ke belakangnya dan raut wajahnya berubah menjadi kaget. Miku dan Gumi blushing sejenak. Apa yang mereka lihat? Mereka melihat Mikuo dan Gumiya yang masih belum sadar. Jarak muka sangat dekat. Mereka berpelukan.
"YaᅳYa... YAOI!" teriak Gumi.
"Uwah! Uwah! Apaan tadi?!" tanya Mikuo yang langsung terbangun akibat teriakan Gumi dengan wajah kagetnya.
Sedangkan Gumiya, ia terbangun dengan santainya tanpa memedulikan keadaan disekitarnya seakan-akan ia masih berada di alam mimpinya. Menyadari hal itu, Gumi langsung berteriak di telinga Gumiya, "BANGUNN!" teriak Gumi.
PLAK!
Bukannya bangun, Gumiya malah tanpa sengaja menjauhkan muka Gumi menggunakan tangannya. Dan setelah itu, ia tidur kembali walau dalam posisi duduk. Gumi merasa kesal dengan perbuatan Gumiya dan akhirnya menampar Gumiya dengan keras (Author: Tabahkan nasibmu, Gumiya... :v).
PLAKK!
Alhasil, ternyata tamparan Gumi yang cukup 'pelan' itu berhasil membangunkan Gumiya dari alam mimpinya. Walaupun Gumiya tak menyadari apa yang terjadi sama sekali. Miku dan Mikuo yang melihatnya hanya bisa bersweatdrop-ria.
"Apa yang terjadi? Eh? Kenapa rasanya pipiku sebelah kanan sakit sekali?" tanya Gumiya yang sambil menyentuh pipi kanannya.
"Hmph!" Gumi memalingkan wajahnya.
Gumiya menatap Gumi dengan bingung. Namun, ia tetap tidak peduli apa yang terjadi.
"E.. Eto... Kalau begitu.. ayo kita ke desa peri langit" ajak Miku berusaha mengubah suasana.
"Hm? Untuk apa?" tanya Gumiya dan Gumi.
"Ih, kalian lupa ya kalau dewi Kitano menyuruh kita ke desa peri langit karena mungkin ada bahaya disana" jawab Miku.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan desa itu?" tanya Gumiya.
"Ah, mungkin kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi kan kita harus mencegahnya dulu" jawab Miku.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo pergi sekarang!" ajak Gumi langsung bangkit.
"Yo!" balas Miku dan Mikuo.
Mereka pun bergegas pergi menuju desa peri langit. Selama perjalanan, Miku merasa ia terus diteror oleh seseorang. Entah siapa, ia tidak tau dan tidak peduli sama sekali. Namun, perasaan curiga masih terpendam dihatinya. Ia ingat bahwa ia masih belum bisa menggunakan pedangnya. Oleh karena itu, sebaiknya ia mencobanya di desa peri langit nanti.
"Siapa, ya...?" tanya Miku.
To Be Continued
Author: Fyuuhh.. Akhirnya chapter 4 selesai dibuat :3 Untung mata belum kenapa-napa sebelum update chapie ini
Kameharu: Pasti update chapter 5 tahun depan ¬_¬
Author: wwww Bisa jadi! #diserbureaders
Ryuuki: Author, lain kali jangan lama-lama, dong!
Author: Kenapa sih memang? Readersnya kangen ya sama saya? #PLAKK Baca aja fic I Love You 'By The Cake' :D
Kameharu: Yah, jadi promo, deh ¬_¬
Author: Hehe, yosh review ya minna! 'w'
