A/N : Hyaaaa… Sumpah yang chapter satu kemaren banyak banget typonya… salah eyd, dkk. Kampret… Haduh. Ini lagunya gak pas. Masa' bikin ff gloomy bin suram begini lagunya Mika? Yang 'Touches You' pula. I wanna be your brother. Wanna be your father too. Never make you run for cover even if they want us to. I wanna be your sister. Wanna be your mother too. I wanna be. Wanna be whatever else that touches you.' Haih. Dan sekarang berganti ke 'Marukaite Chikyuu Poland version'. Lucuuuu~! XD Hyaaa… Dan sekarang ganti ke Spain.
Tapi, entah kenapa gue sangat bisa membayangkan Sugar Baby menyanyikan 'Touches You' buat Joujou…
Ah, anyway. Gue kembali lagi dengan chapter 2! Woohoo! Lama, ya update-nya? Soalnya gue masih ada ujian lagi 1 minggu. Kemaren aja gara-gara kalap presentasi udah kelar, gue bikin cerita ini. Padahal, tanggungan gue masih ada seminggu lagi. Ahahaha! Mana presentasi kemaren mesti dibuat design report-nya pula. Halah… Dan salah satu yang bikin gue lama update adalah kegiatan keluarga yang jalan-jalan mulu sama NANCY DREW : WARNINGS AT WAVERLY ACADEMY yang gokil sangat! Hahaha! Ah, tapi gak sehoror yang gue perkirakan. Masih seruan yang THE SECRET OF SCARLET HAND sama SHADOW RANCH and DANGER BY DESIGN. Kereeennn…
Disclaimer : Punya Om Kazuki Takahashi. Jadi, karakter gokil nan edan ini bukan punya gue. Tau kenapa? Kalo YGO punya gue, Jou gak mungkin naksir Mai, tapi naksir Seto. Dan pasti bakal lebih banyak scene puppyshipping daripada duel gaje para karakternya.
Warning : Puppyshipping. Blood. Gore. Dan all the pretty things in vampire land. Hahaha! Welcome to the land of vampire, guys! Zombie? BASI! #tampoled
Dingin.
Hening.
Berdiri sepanjang hari, diapit palang-palang besi yang begitu kokoh membuatnya merasa sangat claustrophobic. Sayang, ia tak sanggup berbuat banyak atas ketidaknyamanan ini. Kakinya mulai kelelahan menopang beban tubuhnya walaupun ia tak sepenuhnya berdiri pada kedua kakinya. Sebuah dudukan kecil terletak tepat di antara selangkangannya, menjadi sebuah kursi kecil. Tak nyaman, tentu saja, karena terbuat dari besi. Padat, keras, dan dingin. Sama seperti suasana ruangan yang luar biasa luasnya itu.
Dingin.
Mencekam.
Tidak menyenangkan sama sekali.
Berkali-kali tangannya mencoba untuk menutupi tubuhnya yang tak tertutupi sehelai benangpun, namun apa daya. Kedua tangannya terbelenggu dengan begitu erat pada palang-palang besi yang menghimpit tubuhnya. Rantai besi berceloteh saat ia melemaskan dan meregangkan tangannya, seolah-olah mengingatkannya akan keadaannya yang tidak berdaya. Bukan hanya tangannya yang terbelenggu besi berat, namun juga kedua pergelangan kakinya. Belum lagi sabuk-sabuk besar melilit tubuh rampingnya, menekan tubuh kurus itu semakin merapat pada papan besi yang menjadi sandaran. Lagi-lagi kontak pada benda dingin sepanjang hari yang membuatnya menggigil.
Tak ada satu pun anggota tubuhnya yang sanggup ia gerakan, bahkan kepalanya. Sebuah alat aneh terpasang di lehernya. Cukup besar hingga memaksanya untuk terus menatap lurus ke depan. Hanya lirikan yang menyakitkan mata yang membuatnya dapat melirik kiri dan kanannya. Alat aneh itu memiliki pasangannya yang terpasang di atas kepalanya. Kawat tipis menghubungkan kedua alat terpisah itu, membuat keduanya menjepit begitu erat kepalanya, mencegah mulutnya untuk terbuka. Dengan ini, komunikasi pada orang-orang di sekitarnya sangatlah tidak mungkin.
Terbelenggu dan tak sanggup berbuat banyak masih belum sebanding dengan rasa sakit serta nyeri yang menyergap di sekujur tubuhnya.
Puluhan jarum-jarum yang tajam dan begitu besar menusuk hampir di setiap kulitnya, menembus epidermis dan langsung menuju pembuluh darahnya. Puluhan pula selang-selang tipis tersambung pada jarum itu dimana cairan berwarna merah segar mengalir tiap detiknya. Ia tak tahu kemana cairan tersebut dialirkan. Namun, yang ia ketahui hanya satu.
Mereka menyedot darahnya secara paksa. Semua orang yang ada di ruangan itu diperlakukan layaknya sapi perahan yang diambil susunya. Hanya saja, mereka bukan sapi. Mereka manusia. Dan yang disedot dari mereka juga bukan susu, melainkan darah.
Darah untuk mencukupi kebutuhan hidup para vampire.
XXX
THE IMMORTALS © are. key. take. tour
Yu-Gi-OH! Duel Monster © Kazuki Takahashi
The Daybreaker © Lionsgate and The Spierig Brothers
XXX
Marik dan Bakura berjalan dengan langkah pasti ke dalam kantor Kaiba Gozaburo. Sang pemimpin Kaiba Corp telah mengutus sekretarisnya untuk memanggil kedua kapten tersebut. Katanya, sebuah pembicaraan penting ingin ia lakukan dengan kedua prajurit terbaik Kaiba Corp. Begitu rahasia dan penting, sampai-sampai Gozaburo tak mengijinkan kedua prajurit itu memberitahu siapapun perihal pertemuan ketiganya. Bahkan, kepada kekasih masing-masing.
"Kira-kira, apa yang akan ia bicarakan dengan kita?" tanya Marik gelisah.
"Entahlah. Nanti juga kita tahu. Ayo." ucap Bakura sambil mendorong pintu menuju kantor pribadi sang CEO.
"Bakura. Marik." sapa sang CEO. Vampire itu sedang menuangkan darah segar ke dalam gelas anggurnya. "Kalian sudah mendapat pesanku, rupanya. Bagus."
Perlahan-lahan, Gozaburo berjalan kembali ke singgasananya; sebuah kursi kerja empuk yang terbuat dari kulit mahal. Ia meneguk sedikit demi sedikit darah dalam gelasnya dan memejamkan mata penuh kenikmatan. Ia langsung menatap Bakura dan Marik setelah menikmati sesaat darah yang baru saja ia teguk. "Darah ini baru diambil tadi pagi dari persediaan kita." ujar Gozaburo santai sambil mengangkat gelasnya. "Masih hangat dan bau manusia menguar begitu kuat dari darah ini." lanjutnya seraya menghirup aroma dari darah tersebut.
Bakura dan Marik hanya menatap pimpinan mereka. Tak satupun di antara keduanya berani berkata-kata sebelum disuruh.
"Sayangnya, sumber darah kita ini mulai menipis." kata Gozaburo sambil memandang darah tersebut dengan tatapan sedih. "Dibutuhkan lebih banyak dari dua puluh manusia yang kalian tangkap baru-baru ini untuk bisa terus mencukupi kebutuhan darah kita."
"Tapi, Tuan." Bakura akhirnya memberanikan diri untuk bicara sebelum dipersilakan. "Yami Atem dan timnya sedang mati-matian membuat darah pengganti. Mungkin dalam waktu dekat ia bisa…"
Perkataan Bakura terhenti di tengah jalan saat Gozaburo memukul tangannya ke atas meja. Beberapa dokumen dan peralatan kantor lainnya yang berada di atas meja ikut bergeser karena getarannya. Bakura dan Marik sendiri tersentak kaget. Nyali mereka langsung ciut saat melihat raut kemarahan yang begitu jelas pada wajah Gozaburo. Entah karena apa ia marah. Mungkin karena Bakura sudah lancang berbicara sebelum disuruh. Mungkin juga bukan.
"Aku tidak peduli dengan penelitiannya itu!" sembur Gozaburo murka. Matanya berkilat berbahaya. "Yang aku pedulikan adalah kehidupan perusahaan ini untuk beberapa hari ke depan! Yang aku pedulikan hanyalah darah segar dengan aroma yang begitu khas ini bisa terus ada dalam genggamanku!"
Kedua kapten pasukan khusus itu hanya sanggup terpaku dalam diam. Kepala keduanya tertunduk menatap lantai berlapis karpet yang mereka pijak.
Gozaburo menegak kembali beberapa teguk darah segar untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia memejamkan sebentar matanya untuk meresapi rasa dan aroma memabukkan yang dikeluarkan darah tersebut, menyebar hingga ke ubun-ubun. Setelah merasa lebih tenang, ia membuka kembali matanya dan berkata, "Sayangnya, tak semua orang sepaham denganku dan memutuskan untuk membantu beberapa manusia dalam persembunyian."
Mendengar kalimat ini, Bakura dan Marik langsung mendongakkan kepala mereka, terkejut.
"Mungkin hal ini akan menjadi berita yang sangat mengejutkan bagi kalian berdua, namun inilah kenyataannya." Gozaburo berjalan menuju sebuah jendela besar yang langsung berhadapan dengan hiruk pikuk perkotaan di malam hari. Darah kental dalam gelas anggurnya ia putar-putar untuk lebih mengeluarkan aromanya. "Aku punya tugas khusus untuk kalian berdua. Hanya kalian. Aku mau kalian mengawasi Seto."
Marik mengernyitkan kening saat nama temannya disebut. "Maaf, Tuan. Tapi, untuk apa kami mengawasi Seto?" tanyanya.
"Karena aku curiga ia membantu seorang manusia untuk kabur." balas Gozaburo. "Awasi terus Seto, dan bila kalian berhasil menemukan persembunyian manusia itu, lekas beritahu aku. Aku ingin melihat secara langsung penangkapannya."
Bakura dan Marik hanya sanggup mengangguk mengiyakan. Bagaimanapun juga, perintah adalah perintah, walaupun mereka tak sanggup mengkhianati teman sendiri.
"Seto!" seru Katsuya gembira saat melihat kedatangan kekasihnya. Ia langsung berlari menghampiri sang vampire dan memeluknya erat. "Aku merindukanmu!" Suaranya sedikit terpendam oleh dada bidang milik Seto.
Sebuah tawa renyah keluar dari mulut Seto. Ia balas memeluk sang kekasih sambil berbisik, "Aku juga merindukanmu, Katsuya."
Katsuya tersenyum manis dan memberikan kecupan selamat datang pada Seto. Ia kemudian menarik lengan Seto menuju dapur dan memberikan sebuah cangkir dengan darah segar mengisi hampir setengahnya. Tentu, hal ini membuat Seto tekejut dan panik setengah mati.
"Sudah kubilang, aku tidak butuh minum darah darimu, Katsuya!" bentak Seto kesal dan frustrasi. "Kalau begini terus setiap hari, kau bisa kehabisan darah! Selain itu, kau melukai tubuhmu! Itu tidak baik!"
"Tapi, aku juga tidak ingin kau mati, Seto." bisik Katsuya lembut. Seulas senyum sedih terlihat pada wajah manisnya. "Kalau kau terus menerus menolak untuk meminum darah, bisa-bisa kau berubah menjadi vampire buas itu. Akhir-akhir ini mereka berkeliaran di kota-kota, mencari mangsa melalui sesama vampire. Aku tak ingin kau berubah menjadi seperti itu, Seto. Aku ingin kau tetap sehat."
"Tapi kalau begini terus…"
"Makanya, pastikan kau minum darah paling tidak satu kali setiap harinya supaya aku tidak khawatir akan kesehatanmu terus menerus." kata Katsuya tegas. Ia menepuk-nepuk pipi Seto lembut dengan tangan kirinya yang diperban. Sepertinya ia melukai telapak kirinya untuk mengambil darah.
"Katsuya…" Seto menggenggam tangan beperban itu dan mendekatkannya ke bibir. Kehangatan yang menenangkan dapat ia rasakan memancar dari kulit lembut sang kekasih. Begitu hangat dan menyenangkan, serta meneduhkan. Sambil tersenyum, Seto mengambil gelas berisi darah itu dari tangan sang kekasih dan meneguknya, disaksikan oleh Katsuya sendiri. "Terima kasih. Darahmu memang yang paling enak dari yang pernah kuicipi." kata Seto lembut dan menyerahkan kembali gelas tersebut pada Katsuya.
"Terima kasih." balas Katsuya pelan sebelum berlari kecil menuju tempat pencucian piring. Sekilas, Seto bisa melihat sepuhan merah menjalar di kedua pipi Katsuya dan menciptakan rona yang sangat menarik.
Setelah Katsuya selesai mencuci bersih gelas itu, ia dan Seto duduk di sofa sambil menonton televisi. Kepalanya ia sandarkan pada bahu bidang sang vampire berambut cokelat. Katsuya tidak terlalu mempermasalahkan suhu dingin yang memancar dari kulit sang kekasih. Yang ia pedulikan saat ini adalah keberadaan Seto di sampingnya dan itu sudah cukup.
"Kau tahu," ucap Seto membuka pembicaraan mereka. Tangannya ia lingkarkan dengan santai pada pundak Katsuya. "Bakura dan Marik baru saja kembali dari perburuan mereka."
"Oya? Berapa banyak yang mereka bawa pulang?" tanya Katsuya ringan.
"Sekitar dua puluhan."
"… Banyak juga…"
Lalu keheningan kembali menjangkiti di antara mereka. Seto sendiri diam-diam mencatat dalam pikirannya sendiri untuk tidak membuka topik mengenai jumlah manusia hasil tangkapan perusahaannya. Itu hanya membuat Katsuya semakin sedih dan depresi mengingat adiknya, Shizuka, juga masih berada di luar sana sebagai manusia. Entah dimana sang adik berada. Seto tak sempat menyembunyikannya bersama kakaknya saat itu.
Membicarakan mengenai masa lalu, mau tak mau membuat Seto teringat akan hari pertama ia berubah menjadi vampire, serta hari pertama virus ini menyebar sekitar tiga tahun yang lalu.
FLASHBACK
Seto dan Katsuya. Dua sejoli yang baru saja mendeklarasikan hubungan istimewa mereka ke hadapan publik sedang duduk berdampingan menatap matahari senja dari kamar Seto. Biasanya, mereka berdua harus sembunyi-sembunyi untuk bisa berkumpul bersama seperti ini, namun keduanya lelah akan persembunyian mereka dan memutuskan untuk keluar lalu membeberkannya. Banyak pihak yang mencibir dan mencerca hubungan mereka. Maklum, masyarakat masih belum bisa menerima seutuhnya akan hubungan sesama jenis. Belum lagi para fans Seto yang kelewat maniak ikut serta membenci Katsuya dengan sepenuh hati mereka. Namun, tak sedikit juga pihak yang mendukung kelangsungan hubungan mereka. Diantaranya adalah adik mereka serta Kaiba Gozaburo. Sedikit mengejutkan memang, namun itulah faktanya. Mungkin hal ini juga terdasari dari latar belakang keluarga Katsuya yang memiliki perusahaan sebesar Kaiba Corp. Hubungan bisnis yang baik harus terus dijaga, bagaimana pun caranya.
Namun, keseharian mereka sore itu akan berakhir hanya karena kedatangan Gozaburo.
"Ayah?" gumam Seto, bingung. Saat ini, ia melihat ayahnya berdiri di ambang pintu menuju kamarnya. Setelan hitam-hitam masih melekat rapi di sekujur tubuh sang Kaiba senior. Kulitnya sedikit pucat, membuat Seto agak khawatir pada kesehatan ayahnya. "Tumben Ayah sudah pulang jam segini. Biasa sampai malam." ucap Seto sambil berdiri dari tempat duduknya, diikuti Katsuya.
"Ah, ya… " gumam Gozaburo pelan. Matanya menatap berkeliling kamar putra sulungnya itu dengan pandangan yang agak menerawang.
Seto tak mengeluarkan suara apa-apa, bahkan tak menggerakkan sedikitpun anggota tubuhnya. Ia terdiam di tempatnya berdiri, menunggu respon dari ayahnya. Meskipun dahinya agak berkerenyit, bingung akan sikap sang ayah yang seperti linglung itu. Selain itu, kulitnya begitu pucat, bahkan hampir putih seputih kertas.
"Seto," Akhirnya sang Kaiba senior berbicara. Matanya masih belum fokus pada sosok Seto yang berdiri tak jauh di depannya. "Kau tahu akan penelitian yang sedang ayah kembangkan di perusahaan, kan?" tanyanya.
Seto menggangguk pelan, tak mengerti kenapa sang ayah tiba-tiba membahas penelitian itu. Belum lagi di dalam ruangan itu ada Katsuya yang seharusnya tidak tahu mengenai penelitian rahasia itu. Bisa-bisa sang pemuda berambut pirang membocorkan rahasia perusahaan mereka ke ayahnya. Yah, meskipun Seto yakin Katsuya tidak akan melakukan tindakan serendah itu.
"Penelitiannya berhasil."
Kedua bola mata biru milik Seto membesar, kaget. Berhasil?
Penelitian yang sedang dikerjakan oleh Kaiba Corporation adalah sebuah penelitian untuk menghentikan umur manusia. Dengan kata lain, mereka sedang membuat sebuah obat yang sanggup menjadikan manusia immortal, abadi selamanya, awet muda, dan tanpa penyakit. Orang yang memakai obat itu akan bertahan terus pada umur dan kondisi fisiknya saat menegak obat tersebut. Hanya saja segala penyakit yang ada di dalam tubuh mereka akan sirna tanpa bekas, seolah-olah penyakit itu tak pernah ada. Tentu, dengan iming-iming keabadian selamanya harga obat ini akan melonjak sangat tinggi bila berhasil diciptakan. Mungkin, hanya kalangan terbatas yang sanggup membelinya dan menjadi abadi selamanya.
Sayang, keabadian seumur hidup tampaknya memberikan efek lainnya pada manusia.
"Be… Berhasil? Darimana Ayah tahu kalau penelitiannya berhasil?" tanya Seto. Ia perlahan-lahan bergerak mendekati sang ayah yang masih berdiri di ambang pintu.
Kaiba Gozaburo mengangkat kedua tangannya dan memperhatikan kulitnya yang semula berwarna kuning langsat telah berubah menjadi putih pucat. Paru-parunya yang berat karena kebiasaannya merokok entah kenapa berubah menjadi enteng dan ringan. Belum lagi pernapasannya yang selalu terganggu akibat kebiasaan buruknya itu ikut menghilang bersamaan dengan penyakit paru-parunya. Tubuh tuanya yang beberapa waktu lalu terasa sangat lemah tiba-tiba saja mendapatkan kekuatan luar biasa entah darimana.
"Kekuatan baru ini… Begitu luar biasa. Rasanya aku terlahir kembali…" gumam Gozaburo, masih mengagumi tubuhnya yang tanpa cacat. Tak ada nyeri sama sekali di persendiannya.
"Ayah mencobanya sendiri? Bagaimana kalau ada efek sampingnya?" tanya Seto sedikit khawatir. Entah kenapa hati kecilnya berkata akan lebih baik bila ia mengkhawatirkan dirinya dan kekasihnya. Mengikuti instingnya, Seto meraih tubuh ramping Katsuya dan menariknya ke belakang punggung, melindunginya.
Gozaburo mendongak menatap Seto setelah beberapa lama termenung. Sang CEO kemudian berkata, "Tentu saja ada. Obat seperti ini pasti ada efek sampingnya. Tenang saja, Seto ini tidak membahayakan jiwa." Gozaburo tersenyum lebar kepada Seto dan Katsuya yang meringkuk di balik punggung Seto. "Mungkin untuk menenangkan sedikit perasaan kalian, ada baiknya bila aku memberitahu efek sampingnya. Kalian mau tahu?"
Jauh di dalam lubuknya hatinya, Seto tak ingin tahu efek samping. Sama sekali tidak mau. Merasakan firasat buruk, Seto semakin mendekap Katsuya erat.
Senyum lebar masih menghiasi wajah Gozaburo. Melalui sela bibirnya, Seto dan Katsuya bisa melihat sepasang taring panjang. "Efek sampingnya hanya akan membuatmu haus akan darah manusia."
Sedetik kemudian, Gozaburo langsung menerjang keduanya. Seto langsung mundur dan mendorong Katsuya menjauh secara refleks, membuat sang vampire gagal mendapatkan mangsa pertamanya. Sebuah geraman penuh kekesalan keluar dari mulut Gozaburo yang langsung menegakkan tubuhnya dan kembali siap menerkam.
"KATSUYA, LARI!" jerit Seto pada sang kekasih.
Katsuya masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia bimbang, kemana harus lari. "Aku tidak mau pergi tanpamu!" balas Katsuya.
"KATS…!" Belum sempat Seto menyelesaikan perkataannya, Gozaburo menerjang ke arahnya. Beruntung Seto masih sanggup menghindar.
"Ayolah, Seto." bisik Gozaburo sambil berdiri. Terlihat sekali ia sudah mulai kesal dengan permainan kejar-kejaran ini. "Aku berusaha untuk membantumu. Memangnya kau tidak mau hidup abadi dan awet muda? Kau adalah putraku. Aset berharga bagi perusahaan. Mana mungkin aku mau membiarkanmu mati menua, Seto."
"Apanya yang obat?" bantah Seto. "Kau tidak menciptakan obat, Ayah. Kau menciptakan virus! Dan apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah mau berubah menjadi vampire seperti Ayah!"
Gozaburo terkekeh pelan saat mendengar kata vampire keluar dari mulut Seto. "Vampire, ya? Kau benar juga, Seto. Kondisiku saat ini sangat mirip dengan vampire. Tapi, apa salahnya menjadi seorang vampire? Kita punya kekuatan besar dan yang penting abadi selamanya."
Tak sempat Seto membalas perkataan ayahnya, sang vampire kembali melancarkan serangan yang ketiga. Kali ini, usahanya tak sia-sia. Ia berhasil menyambar pundak Seto dan menghempaskan tubuh tinggi sang pemuda berambut cokelat ke dinding tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"SETO!" jerit Katsuya, panik. Dengan gerakan kalap, ia berusaha mendekati dan menolong kekasihnya, namun bentakan dari Seto membuat langkahnya terhenti di tengah jalan.
"Jangan! Lari, Katsuya! Selamatkan dirimu sendiri!" seru Seto. Ia tak ingin kekasihnya juga digigit oleh vampire ini. Baru saja Seto mencoba untuk berdiri dengan support dari tembok di belakangnya, sosok Kaiba Gozaburo sudah berdiri tepat di depannya. Bayangan sang pria paruh baya itu membayangi Seto. Detik berikutnya, Gozaburo menarik Seto berdiri dan langsung menghujamkan taring-taringnya yang beracun, tepat ke pangkal leher Seto.
"ARRGGHH!" Jerit penuh kesakitan terdengar begitu memilukan dari mulut Seto. Sekujur tubuhnya menegang menahan sakit. Tangannya sibuk mencengkeram kemeja ayahnya begitu kuat, berusaha untuk mendorong laki-laki yang lebih tua itu menjauh darinya. Kakinya meronta-ronta, berusaha melarikan diri dari genggaman sang vampire. Sayang, semua usaha itu sia-sia belaka.
"SETO!" jerit Jounouchi Katsuya. Pemuda berambut pirang ini tak kuasa menahan tangis saat melihat kekasihnya dilukai seperti itu. Matanya membelalak lebar saat darah mengalir deras dari dua buah lubang kecil yang tercipta di leher Seto sementara Gozaburo sibuk mengisap tiap tetes darah yang keluar. "Se… Seto…" Ingin sekali ia menolong kekasihnya.
"La… Lari, Katsuya…" bisik Seto lemah. Pandangannya mulai mengabur. Dengan susah payah, ia memfokuskan kedua matanya kepada wajah penuh air mata dan raut kekhawatiran yang dipancarkan oleh sang kekasih. Napas Seto semakin tersengal-sengal dan lambat. Sebentar lagi, kegelapan akan menyelimutinya. "Lari… Lari… Kat… Suya…"
Lalu kesadaran pun terenggut dari Seto. Tubuhnya yang tinggi tegap melemah dan akhirnya terkulai lemas dalam dekapan ayahnya. Gozaburo sendiri masih sibuk mengisap darah yang mengucur deras dari urat leher putranya dengan nafsu. Ia bahkan tak memperhatikan kalau mangsa keduanya telah menghilang. Kabur entah kemana.
Seto tak terlalu mengingat bagaimana ia terbangun keesokkan harinya. Yang ia ketahui, tubuhnya sudah berubah. Kulitnya telah menjadi putih seputih kertas. Sepasang taring panjang muncul mengapit gigi serinya. Ia tak sanggup melihat bayangannya di cermin dan itu cukup membuatnya frustrasi. Seharian ia habiskan di rumah untuk mengikuti perkembangan berita. Akhirnya, 'obat' awet muda itu dipasarkan. Tentu, Gozaburo tidak menyebutkan efek sampingnya. Ia hanya menyebutkan segi-segi positif yang dihasilkan obat itu pada penggunanya.
Masalah haus darah tidak disinggungnya sedikitpun.
Sesuai dengan harapan sang CEO Kaiba Corp, 'obat' ciptaan perusahaannya itu menjadi populer di kalangan menengah ke atas. Banyak sekali orang-orang dengan uang banyak membeli obat tersebut. Mulai dari kalangan politikus sampai selebriti. Pengusaha dan beberapa orang lainnya yang takut mati juga ikut membeli 'obat' tersebut.
Namun, bagaimanapun juga obat itu tidaklah sempurna. Ia merubah orang menjadi vampire dan vampire membutuhkan darah. Hal inilah yang membuat obat ini menyebar ke kalangan luas. Kehausan darah yang diderita oleh mereka yang telah meneguk 'obat' tersebut membuat mereka menyerang manusia lainnya. Entah itu keluarganya, teman, rekan bisnis, ataupun orang yang mereka temui di jalan. Dan tanpa mereka sadari seluruh dunia telah terinfeksi virus tersebut. Membuat manusia menjadi golongan tertindas sementara vampire menjadi superior.
END OF FLASHBACK
"Seto?"
Seto mengedipkan matanya dan menatap Katsuya. Rupanya pikirannya sempat melantur kembali ke masa lalu. "Maaf, aku bengong." ucap Seto lembut diiringi senyum hangat.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Katsuya. Sang pemuda bermata cokelat ini kembali merebahkan kepalanya ke pundak sang kekasih.
Tangan kanan Seto secara otomatis langsung merangkul pundak ramping Katsuya sambil berbisik pelan, "Aku… hanya teringat akan hari saat aku pertama kali menjadi vampire. Serta hari dimana kita berpisah."
Katsuya tak bereaksi apa-apa. Tentu, ia mengingat betul kejadian itu. Begitu mengerikan dan mencekam. Ia bahkan harus sembunyi dari dunia luar hampir enam bulan lebih sebelum Seto menemukannya. Selama enam bulan, ia hidup bagaikan binatang. Ia hanya tidur beralaskan rerumputan di hutan dan diatapi bintang-bintang. Semua makanan yang dia ambil hanyalah buah-buahan hutan dan beberapa pucuk daun untuk pencernaan. Kalaupun ia memakan daging, ia tak berani menyalakan api untuk memasak daging tersebut. Dengan kata lain, ia harus memakan daging itu mentah-mentah.
Keberuntungan keduanya tiba saat Seto pergi ke sebuah danau di dalam hutan tempat ia dan Katsuya sering menghabiskan waktu bersama. Katsuya yang juga rindu akan kebersamaan dengan kekasihnya kebetulan berada di tempat yang sama dan bertemulah mereka. Danau kenangan tempat mereka sering bercengkrama jauh dari mata dunia inilah yang kemudian dijadikan tempat persembunyian tetap oleh Seto bagi Katsuya. Pondok kecil dan sederhana dekat danau yang telah ditinggalkan pemiliknya menjadi pilihan bagi tempat berteduh Katsuya.
"Mungkin, ada baiknya bila aku tidak kabur saat itu…" bisik Katsuya lirih.
"Apa maksudmu? Kau mau menjadi vampire?" tanya Seto. Ia sedikit terkejut dengan perkataan Katsuya.
"Kalau Paman menggigitku saat itu, kita tidak perlu terpisah seperti ini. Selain itu, kita akan terus bersama selamanya, Seto. Lagipula, kau akan abadi selamanya dan aku… aku akan menua, penyakitan, dan akhirnya mati. Kau tidak akan mencintaiku lagi bila aku sudah menua nanti. Kulitku akan keriput, tubuhku renta, lemah, tidak mena…"
Perkataan Katsuya terhenti saat Seto meraih kepala Katsuya diantara kedua tangannya dan mencium bibir ranum tersebut. Beberapa detik mereka terlarut dalam ciuman yang diberikan kekasihnya sebelum Seto menjauhkan wajahnya dari Katsuya dan berkata, "Aku tak peduli bagaimana penampilanmu. Aku tidak mencintai wajahmu, atau fisikmu, atau apapun itu. Yang aku cintai adalah kau, Jounouchi Katsuya. Hatimu, jiwamu, bukan fisikmu."
Katsuya terpaku sesaat mendengar perkataan Seto. Malu-malu, kepalanya ia rundukkan dan berbisik sangat pelan, bahkan hampir tak terdengar, "Terima kasih, Seto."
Seto tersenyum lega dan mendaratkan sebuah kecupan hangat pada kening kekasihnya. "Jangan pernah berpikir untuk berubah menjadi vampire karena menjadi vampire tidak seenak yang kau duga."
"Kenapa? Karena harus minum darah?"
"Ugh. Darahnya saja masih tidak apa-apa. Tapi campurannya itu… Bayangkan darah dicampurkan ke dalam kopi. Ugh." Katsuya tertawa renyah saat melihat ekspresi Seto.
Kebersamaan yang mereka nikmati terpaksa dihentikan saat suara mobil terdengar. Bukan hanya satu, melainkan lebih dari dua. Selain itu, mobil yang datang juga bukan mobil biasa, tapi mobil militer. Angkatan khusus yang bertugas menangkapi manusia yang masih berkeliaran. Seto dan Katsuya tak sempat berbuat apa-apa ketika pasukan tersebut menyeruak turun dari mobil dan mendobrak pintu pondok tersebut. Senapan bius terarah langsung pada Katsuya. Atau lebih tepatnya ke arah Seto yang melindungi Katsuya.
"Sudah kuduga." Terdengar suara berat yang begitu familiar. Langkah kaki berat menggema di lantai kayu pondok. Tak berapa lama kemudian, sosok Kaiba Gozaburo sudah berdiri di depan Seto dan Katsuya. Senyum penuh kemenangan tersungging di bibirnya. "Kau menyembunyikan kekasihmu, Seto."
"Bukan urusanmu!" bentak Seto gusar. Ia semakin merapatkan tubuh Katsuya ke belakang.
Gozaburo menatap jauh ke belakang punggung Seto hingga matanya beradu dengan sepasang bola mata cokelat milik Katsuya. "Katsuya. Lama tak berjumpa." sapa Gozaburo sambil tersenyum. Deretan gigi yang putih terpampang rapi. Namun, yang menjadi fokus Katsuya adalah sepasang taring yang begitu tajam dan beracun. Taring yang telah membuat Seto tersiksa. Taring yang telah membuat ia tersiksa.
"Bagaimana kalau kau menyingkir sehingga kami bisa menangkap manusia ini, Seto?" tanya Gozaburo.
"Tidak akan!" jawab Seto ketus. "Langkahi dulu mayatku kalau mau mengambil Katsuya!"
Gozaburo terdiam sesaat begitu mendengar balasan dari putranya. "Baiklah kalau begitu." kata Gozaburo enteng sambil mengangkat pundaknya. Ia memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan pasukannya yang sudah siap siaga. "Tangkap manusia itu, tapi jangan lukai Seto. Well, lukai sedikit tak apa, tapi jangan sampai ia harus kumasukkan rumah sakit."
Mendengar perintah itu, prajurit-prajurit itu langsung maju untuk menyeret Katsuya keluar dari bentengnya. Seto, dengan geraman mengerikan, maju ke depan dan menghantam prajurit terdekat dengan pukulannya. Semua yang mendekat berhasil ia kalahkan sedikit demi sedikit. Bahkan, Katsuya ikut membantunya dengan menghajar sebagian prajurit. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi diberikan pasangan ini kepada prajurit-prajurit yang menyerbu. Titik-titik vital seperti perut, kepala, bahkan selangkangan berkali-kali mereka bidik untuk mengurangi pergerakan musuh mereka. Sayangnya, mereka lupa kalau para prajurit itu bukan hanya dipersenjatai dengan kemahiran beladiri, namun juga senjata. Hanya perlu satu tembakan peluru bius ke arah Katsuya berhasil membuat pemuda itu jatuh pingsan tak berdaya.
"KATSUYA!" jerit Seto. Mata birunya menatap tak percaya sosok kekasihnya yang terkapar di lantai tak sadarkan diri. Belum sempat ia bergerak untuk menolong Katsuya, beberapa pasangan tangan meraih lengannya dan menarik tangannya ke belakang punggung. Dengan gesit, para prajurit tersebut mengikat pergelangan tangan Seto. Beberapa orang prajurit lainnya mengambil Katsuya dan juga mengikat tangan serta kakinya.
"Pekerjaan bagus." puji Gozaburo. Ia menatap Seto tepat di kedua bola matanya, seolah-olah menantang putra sulungnya itu untuk melawan. Tak mendapat respon apapun dari Seto malah membuat Gozaburo tersenyum puas dan tertawa. "Tak akan ada manusia yang lepas dari tanganku, Seto. Sekalipun itu kekasihmu. Nah, sekarang ayo kita kembali. Masukan Seto ke mobilku."
Prajurit-prajurit tersebut mengangguk mengiyakan dan langsung menyeret Seto menuju sebuah sedan mewah berwarna hitam. Seto masih meneriakkan nama Katsuya dan mengucapkan sumpah serapah saat digiring masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana dengan pemuda pirang ini?" tanya seorang prajurit yang ternyata adalah Bakura.
"Bawa dia ke ruang pribadiku di kantor." jawab Gozaburo tenang. Ia berbalik dan tersenyum seraya menepuk-nepuk pundak Bakura. "Pekerjaan bagus, Bakura. Dengan ini, kau telah membantu perusahaan."
Bakura menatap sosok Gozaburo yang berjalan semakin menjauh menuju mobilnya. Keningnya berkerenyit. Entah kenapa, ia tidak merasakan kebanggaan apapun dari penyergapan malam itu. Tak sedikitpun rasa bangga, senang, ataupun tersanjung atas apa yang telah ia lakukan. Malah, ia merasa sangat berdosa.
Penyesalan yang sama juga dirasakan oleh rekannya, Marik.
To Be Continued
A/N : … Sumpah ngerjain chapter ini diiringi Marukaite Chikyuu versi siapa aja itu gak cocok… Apalagi yang Chibitalia. Bawaannya pengen bergoyang. Hahaha! Belom lagi sambil denger Eurovision yang Dum Tek Tek-nya Hadise. (at)Severnesh! Ini salah lo!
Ah, anyway, mari kita berbalas review.
ReddishDragonoid : Kuzu! Ganti-ganti penname mulu lo. =_= Hahah! Tapi yang ini lucu namanya. Bwahaha! Sugar Baby-ku! Namanya juga mau ngapelin pacar, masa' dia mau keliatan jelek? Biar yakin, makanya dia kacaan dulu. Hohoho. Yup. Jou itu orang. Awww… menyentuh. #plak masa', sih? Hoho. Baguslah kalo gitu. Makasih reviewnya. Btw, Marukaite Chikyuu-nya Prussia gokil! XD
Severnesh : Bwahahahaha! Akhirnya Milan KALAH dan yang menang si LENA itu! Terima nasibmu, Boy. Ntar juga suatu hari nanti Milan akan bersatu dengan Rybak. Gak di Eurovision, di ranjang pun boleh. Hahah! #plak. BOY! Akhirnya lo keluar juga dari persembunyian. Gini, dong. Cerita teman sesama labil akut di-review. Hohoho. Wah, gue malah gak ngikutin Underworld… Umm… telantarin, gak, ya? Hehehe. Gue buat tergantung mood, sih, Boy. Yah, semoga yang ini mood terus. Tapi yang lain kalo lagi mood juga gue lanjutin, kok. Hohoho. Makasih reviewnya, wahai teman seperjuangan. Eh, itu cerita kita berempat kapan di-update, cuy?
MoonZheng : BOY! #nyampah yuk bareng (at)severnesh sama (at)Psychochiatrist! Hahah! Duh gue berharap ffn berubah jadi twitter… Hyaaa… Ntar kalo si Sanguini sama Remmykins, Sirikins sama siapa, dong? Masa' Sirikins dilempar sama Lucy? Ogah bener… Iya, ya. Pas gue ngetik bagian Jou juga kok gue ngerasa dia kayak jadi simpenan rahasia politikus manaaa gitu. Hahahaha! Ah, sutralah. Eh, jangan nyanyi The Potters disini, ah. Nyanyi yang lebih elit-an dikit. "Mau dibaaaawa kemanaaa hubungan kitaaaa…" Whahahah! #plak. Bakura sama Marik masuk di militer, kok. Yang peneliti cuma Yami, Yugi, Ryou. Malik gak tau apa jabatannya. Numpang JB (join bareng) doang kayaknya. Makasih reviewnya! Eh, lanjutin ff kita!
Sweet lollipop : Yep! Cinta terlarang antara vampire dan manusia. Ah… Tapi ini SANGAT BEDA JAUH sama Twilight. Please, jangan samain sama itu… Anyway, makasih reviewnya, lho. Hohoho.
Messiah Hikari : Hahaha. Emang banyak banget ff YGO yang ambil setting vampire. Yasud, lah. Entah kenapa gue jadi pengen buat pas nonton Daybreakers. Salahkan ketampanan dan ke-cool-an Ethan Hawke disana. Aaah… Ethan… Game? Pasti Persona. Gue juga, nih. Di otak gue adanya Nancy Drew. Ah, ntar gue cobain yang senior detective, ah! Hahahah! Anyway, makasih reviewnya!
Shinrei Azuranica : Nica! Padahal fic-mu tu gak usah diapus juga gak apa-apa. Sampe mati kita tunggu, kok. Hohoho. Ho? Kaget pas Jou ngiris tangan? Tadinya gue mau dia ngiris urat nadi sekalian aja. Atau daripada dia ngiris tangan, kenapa dia gak bantuin gue motong potongan denah gue? Oiya, waktu itu tugasnya udah kelar. Hohoho. Yup. Semuanya udah jadi vampire. Hahahah! Hidup vampire! Makasih reviewnya, ya.
Uchiha 'Haruhi' Gaje : Wahahah! Lo kena virus dari si (at)Psychochiatrist, ya? Ah, tu anak sekarang lagi menggalau di twitter. Ntar gue samperin, ah. Hohoh. Bukan, kok. Ini di chapter ini dijelasin kenapa bisa jadi vampire semua. Ya kalo Jou ngasih lewat leher, nanti si Jou berubah jadi vampire juga, dong. Jangaaan… makasih reviewnya, ya.
cHizu drarryo : Yeah! Me back! Presentasinya sukses. Hahaha! Beneran, pas kepilih buat maju presentasi eksternal rasa mau nangis sama mau seneng. Lagian, udah begadang berapa hari buat nyiapin yang internal, eh disuruh tambah satu malem lagi buat yang eksternal. Haiiihh… Yup. Hampir semuanya vampire. Makasih reviewnya, ya. Hehehe.
101 hiru yorunita : Biar kalian yang baca makin penasaran dan makin gak tahan buat baca chapter berikutnya. Hohoh. Makasih, lho, udah mau direview dan dibilang keren. Menyentuh… Hohooho. Yah, mungkin chapter 2 ini gak secepet yang gue kira karena alasan-alasan yang gue sebut di atas. Hehehe. Yah, yang penting gue update. Iya, tak?
Fujoshinki-akut : Yeiy! Me back dengan new puppyshipping! Wahahha! Lo harus liat di filmnya. Pas dia ngaduk kopi dan ngangkat sendoknya ada gumpalan darah gitu. Aaaww… Menyentuh. #plak Maaf, updatenya gak bisa sekliat yang diharapkan. Huhuhu. Tapi, makasih buat reviewnya, ya.
YuuRi Uchiha-Namikaze : Hehehe. Iya, iya. Gue banyak utang. Ntar gue lunasin, deh. Hehehe. Semoga bisa. Gak suka kopi, ya? Wah, gue malah pecinta kopi. Hidup kopi! Ini pasti gara-gara gue sering begadang sambil ditemani pengaris, drawing pen, pensil, kertas, dan tak ketinggalan segelas besar kopi. Hahaha! Anyway, makasih reviewnya, ya.
Sora Tsubameki : Sora! He? Masa', sih? Waktu gue nonton Daybreakers itu biasa-biasa aja, ah. Emang rada kasian, sih, tapi kalo diliat dari segi estetika, itu sangat amat gak bener. Masa' baru keluar lift langsung disambut pemandangan gaje macem gitu? Oke, OOT… Iya, dong. Itu sampe mati, sampe gak ada darah lagi yang bisa diambil. Seberapa kesadisan gue? Mau tahu? Bwahahahah! (ketawa laknat ala Netherlands) Sip, sip! Nantikan kesadisan gue berikutnya! Muahahahahah! Lho? Bukannya lo sering juga bikin beginian? Yang suka menyiksa Jou siapa, tu? Hehehe. Makasih reviewnya, ya.
Aki Kadaoga : Tau, tuh. Padahal gue udah penasaran setengah mati mau baca vampfic elo. Eh, belom nongol-nongol juga. Huh! Yaudah gue buat sendiri. Tapi, beneran gak ada yang sama, kan? Makanya, cepet posting punyamu! Eh, dikau sudah menghambat kemajuan zombie, lho. Hohohoho! (gak penting) Nih, di chapter ini udah mulai sedikit dijelasin. Mungkin, makin ke belakang cerita makin jelas. Dan you know what? Gue sendiri masih bimbang sama endingnya. Hahah! (shoot) Kan darah manusia rasanya beda. Bayangin, kalo lo dikasih pilihan makan steak sama makan tempe. Lo pasti milih yang steak, kan? Nah, sama kayak vampire. Darah manusia sama darah kambing tu ibaratnya steak banding tempe. Mereka lebih milih steak a.k.a. darah manusia. Gituu… Nah, detailnya itu… Ntar deh gue research lagi. Mumpung lagi libur juga. Hahaha. Mau make Sugar Baby ke vampfic-mu? Boleh! Nih! (nyodorin Sugar Baby as in KOTAK bermerk Sugar Baby yang berwarna pinky). Have fun sama Sugar Baby, and makasih reviewnya, Aki.
Din-chan : Iya, sih. Yang terakhir. Tapi gak apa-apa, kok. Gue juga sering mengalami 'mager' alias males gerak dalam segala bidang. Hehehe. Hah? Angsty-angsty cihuy? Hahaha! Keren, tuh! Berima! Iya, nih. Semuanya jadi vampire. Yah, kita tunggu aja tanggal mainnya kapan si joujou mau jadi vampire. Enaknya yang gigit siapa, ya? Hmmm… yang lain… kayaknya gak bisa diupdate cepet, deh. Heheh. Musenya mulai menguap. Hohoho. Anyway, makasih udah mau review. Heheh.
Udah semuanya gue bales. Sekarang, gue mau kembali ke Nancy Drew dan menyelesaikan senior detective-nya. Bwahahahah!
Toodles, and adieu.
