Making Our Way Back from Mars
(Alfred dan Burger Sucinya)

.

"Ah... Bagus, terus begitu... Nikmat sekali, Alfred... Ahh, enak... begitu enak.. Lakukan lagi padaku, lakukan! Mmh... lekas! Kumo—"

Alfred meletakkan telunjuknya di bibir merah itu lembut. Peluh membanjir di seluruh kulitnya dan kulit pasangannya yang menempel erat. Ia tersenyum tipis dan berbisik pelan sekali, "Bersabarlah..."

Orang di bawahnya hanya bisa terdiam lemas, memandang sendu dengan mata yang berlinang. Bibirnya—yang belepotan cairan putih kental bercampur ludah—mencoba berkata-kata dengan susah payah, "Aku... mencintaimu, Al..fre...ed...d.."

Alfred tersentak. Betapa manisnya. Betapa merangsangnya. Begitu nama kita disebut penuh desahan macam itu, dengan muka yang dapat menghajarmu ke langit nomer tujuh tanpa diminta, betapa sebagai lelaki sejati, tidakkah kau menginginkan lebih? Lebih. Lagi. Terus-menerus. Kekonstanan yang tanpa akhir.

Kau yang salah. Kau yang salah karena telah mengucapkannya...

Alfred memacunya semakin ganas. Tanpa ampun. Bertubi-tubi. Matanya nyalang penuh berahi. Mencoba membuat orang di depannya—entah siapa—menaikkan libidonya lagi dengan... dengan menyebut namanya.

"A... al.. fred.. aahh... Aku... akh!"

Bagus. Sebut terus. Kau pikir untuk apa aku melakukan ini?

Wajah keduanya semakin pucat. Tapi keliaran, kebrutalan, dan kenikmatan beranjak semakin capat seperti orang yang terburu-buru kabur dari kobaran api. Lahapan panas yang membawa puas tak tertahankan.

"Hn...n. a..ah. Jangan berhenti... Kumohon..."

Tapi manusia adalah makhluk penuh limit.

Blast. Cairan itu meleber dari sana dan sini. Mengalir lembut, meninggalkan rasa asing. Mencuri kesadaran dari dunia mimpi, balik ke dunia nyata. Betapa mereka baru merasa kepayahan. Betapa rasa nikmat itu tinggal titik-titik kecil berkesudahan.

Alfred memandang pria yang terkapar di sebelahnya. Dadanya kembang kempis. Direngkuhnya pipi pucat itu penuh getir. Takut dan sesal. Lekas ia menarik kepala itu, tenggelam dalam jakunnya yang berdetak-detak. Rambutnya mengiris-iris lehernya seperti sembilu. "Maafkan saya... Maafkan saya..."

"Kenapa kau minta maaf?"

"... Karena... saya bahkan tidak mengenalmu," ia menjawab sambil memalingkan muka. Tiba-tiba ia merasa jengah. Rasa bersalah mengimpit-impit dadanya. Terutama... terutama karena tatapan mata orang itu menyuruk dalam, memintanya mampus.

Apakah mata violet selalu seseram itu? Apakah kulit pucat selalu sedingin itu? Apakah rambut beige yang sama pucatnya selalu selembut itu? Menggesek-gesek tubuhnya dengan...

Brett. Bahunya dicengram oleh genggaman keras orang itu. Ia terpaksa menoleh. Memandang wajah mengerikan yang menatapnya penuh horor. Kalau saja ia bisa mengulang waktu...

"Berpacu denganku, da?"

"Hah?"

"Kita jelajahi alam-alam mistis milik kita berdua. Dengan kuda-kuda kita... Hei manis, bagaimana dengan kudaku? Kau belum mencobanya, kan?" Mulutnya memiriskan senyum. Dan tawanya meledak.

"A... apa-apaan..? Tunggu, saya minta maaf. Jadi—"

"Mari berpacu bersama."

"AAAAAAAAAAAAAA" BRUK. Alfred jatuh dengan posisi nungging dari kasurnya. Cepat-cepat ia bangkit, menoleh kanan kiri. Panik. Tapi tidak ada orang Soviet itu di kamarnya. Haaah. Bagus.

Untunglah yang tadi itu cuma mimpi. Tapi, ah, hei, apa ini? Celanaku kok... basah?


Overwhelmed

(Amerika dan Uni Soviet)

.

Alfred membiarkan kucuran air dingin menusuk-nusuk kepalanya dengan buas. Pancuran air menyemprotnya tanpa malu-malu lagi.

Basuh. Basuh aku terus. Gila. Ini sungguh gila!

Segera setelah sadar ada yang aneh dengan burger sucinya, Alfred buru-buru mengobrak-abrik setiap inci almari, mempreteli tiap buku yang ia temukan. Mencari buku sebesar kotak sepatu dengan titel "Dokter di Rumah Anda".

Ketemu! Lembaran buku itu ia buka-buka penuh napsu. Jengkel. Dongkol. Matanya bolak-balik kiri-kanan. Mencari... dan mencari...

Mana? Di mana? Muncullah! Muncullah, brengsek!

Tepat di halaman 197, jemarinya berhenti menepis. Ia pandangi tiap deret kata satu-satu. Memahaminya dalam-dalam. Tahu-tahu ia tertunduk. Mendesah. Ia alihkan pandangannya ke atas meja kerja. Tepat di atas monitor, potret pria bermata hijau dengan rambut pirang, menatapnya penuh tawa. Tawa yang bagi Alfred seperti kikikan nenek sihir, tukang kutuk bermuka jelek. Mampus kau, Alfred. Mampus kau!

Alfred menggeleng-geleng. Tangannya menggenggam sesuatu di antara pahanya. Sial. Dari seluruh pria tampan di dunia yang dikenalnya, atau paling tidak, dari semua wanita-wanita fantasi liar yang pernah menyapanya, menembakinya di taman sekolah, kenapakah...

Kenapakah mimpi basah pertamaku harus dengan pria Soviet anonim itu!

Di tengah guyuran air, ingatan-ingatan berkelebatan seperti burung—jangan burung, Alfred sedang sensitif soal yang ini. Baik. Di tengah guyuran air, ingatan-ingatan berkelebatan seperti capung yang mau cepat-cepat keluar dari genggaman otaknya.

Waktu itu juga air. Hujan lebat. Air mata, peluh, presipitasi awan... Oksigen, hidrogen... Matthew, Gilbert... dirinya... semuanya tidak lagi punya beda. Napasnya tercekat. Cepat-cepat ia menutupi mukanya dengan tangan. Membekap segara kekesalan, berikut tangisnya yang mungkin saja akan pecah.

Apa yang sudah terjadi antara kamu sama si brengsek itu, Matthew? Kamu lebih membela dia ketimbang saya. Saya, kakakmu. Saya kakakmu!

Saya... stop. Ngapain saya mewek! Masalah ginian doang. Nggak gentle. Nggak keren. Nggak hero abis!

Malam itu hujan. Kaki-kakinya melangkah teratur menuju restoran makanan sampah—junk food—tanpa berpikir. Mungkin karena perutnya berontak lapar. Mungkin karena sudah kebiasaan, sampai tapak kakinya pun jadi hapal.

Alfred memesan Paket A. Burger sama coca cola hero sugar. Kentang? Nggak. Kalau ada Arthur, mungkin dia pesan. Tapi saat itu, Arthur atau siapapun tidak terlintas di benaknya. Ia membayar, berbalik pergi bagai zombi.

Bruk. Sepatunya terserimpet kaki kursi. Tidak mengaduh, tidak protes. Pikirannya hampa. Lesehan, ia memutuskan memakan burgernya. Krauk. Alih-alih roti, giginya merobek kulit jarinya yang pucat. Merah darah dengan kontrasnya memercik di sana.

Sakit... Burgerku mana?

"Ambil punya saya, kalau kamu mau."

Alfred tengadah. Ngiler melihat burger mejeng di depannya. Krauk. Tanpa ancang-ancang, ia langsung menggigiti si burger. Mengulitinya luar dalam. Merasakan mayonaise yang meluber di mulut. Meleleh pias di tenggorokan yang kelaparan dan kebanyakan sesungukan.

Orang asing itu asyik menatapnya penuh minat. Ia berjengit ketika sesekali lidah Alfred menyapu jari-jarinya. Ia tahu yang dinapsui orang itu hanyalah si burger, tapi efek samping yang berimbas pada jemarinya benar-benar terasa ganjil, sekaligus membuat darahnya berdesir. Orang menarik, pikirnya saat itu. Memakan burger yang ditawarkan tepat di tanganmu, tidakkah itu menakjubkan? Persis seperti anjing kecil yang diselamatkan dari jalan. Di mana lagi kau bisa temukan orang macam itu? Langka!

"Terima kasih...!" Alfred untuk pertama kalinya menatap penolongnya. Sungguh tidak sopan, kalau kau tanya pendapatku. Tapi setidaknya, ia berterimakasih. Dan penolongnya cukup senang akan hal itu.

"Sama-sama," ia menjulurkan tangan, sekaligus menarik Alfred berdiri. "Anda sepertinya lapar. Dan saya... yah, sebagai orang Soviet, saya agak sedikit kasihan."

Eh? Ngomong apa sih, dia? Yah, tapi senyumnya... lembut sekali. Manis. Minta dikecup.

(...Coret kalimat terakhir. Itu fantasi liar pribadi.)

Alfred memasang wajah jenaka. Hatinya bersinar-sinar silau. Kepedihannya yang nempel sedari tadi sudah mudik entah kemana. Setelah membungkuk sekali, Alfred menyongsong keluar. Melepaskan segala penat. Tapi tepat di pintu keluar ia teringat sesuatu, berbalik, dan memandang si orang Soviet untuk terakhir kalinya. "Makasih, lho. Kamu dapat salam dari hero!"

Orang itu terlonjak kaget. Dan dia hanya bisa tersenyum. Lagi.

Alfred terpana, saat itu ia berjanji diam-diam dalam hati. Senyum itu akan membekas selamanya di hati, benak, dan mimpi.

... Dan di situlah ia. Air masih mengucur. Cara mandinya sering dikomentari Arthur. Tanpa sabun, tanpa sampo. Cuma air. Air saja.

[Dasar tukang buang-buang air!]

Baginya itu sudah cukup bersih. Tidak ambil peduli meski pernyataan Arthur mengandung makna ganda.

Dok dok dok. "Kak Alfreeeeedd..! Kak Aa~lfred!" Dok dok dok.

Alfred melongokkan kepala lewat bukaan kecil di pintu. "Apa, Fidel?"

Fidel Che Guevara, orang berkebangsaan Kuba yang baru sebulan ini homestay di rumahnya hanya bisa mengentak-ngentak kaki sebal. "Mandi lama banget.."

"Kenapa sih, ribut amat?"

"Cepetan ya, mandinya," Fidel memarahi gaya cewek-cewek minta pacarnya buruan dateng ke lokasi kencan. "Kalo udahan, cepet buka FTF. Arya bikin fic baru. Keren banget. Ati-ati tar kecolongan penggemar lho, Kak Alfred..."

Alfred mendelik. Memijit kepalanya yang masih nyut-nyut. "Ah iya. Saya udahan, kok." Ia keluar berselimut handuk, membuat Fidel megap-megap terpesona dengan ototnya yanga aduhai.

"Nggak pakean dulu?" tanya Fidel, nggak sinkron dengan hati kecilnya.

Jangan.. Jangan.. Ayo, bilang... Nggak usah pakaian aja..

"Nggak."

Yes!

"Mau liat doang kaya apa ficnya. Bagus abis, ya?"

"Ya... liat aja sendiri. Kamu kan suka yang begitu..," sambil menutupi rasa senangnya, Fidel membuka window yang tadi di minimize. "Taraa!"

Mata Alfred mulai mebaca ogah-ogahan.

Ganggu, deh. Lagi males FTF, nih. Lagi doyan smackgeeves dot com...

Tapi, eits, matanya mulai fokus. Ia membaca pelan-pelan. Senggg.. Rasa pening menjalari kepala. Pandangannya jadi berbayang. "Kacamata," pintanya. Sejak menemukan internet, rasa-rasanya matanya mulai agak bermasalah. Minimal tiga jam sehari dihabiskan di depan layar. Dengan pola makan orang stres macam begitu, bagaimana mungkin penglihatannya tidak memburuk?

Alfred meraih kacamata yang diberikan Fidel. Lekas ia membacanya penuh perhatian.

Edan. Orang kok bisa, bikin fic kayak gini?


Red Swastika

(Kenalkan, Dialah Nazi Jerman. Arya yang Agung)

.

Yang dibaca Alfred adalah karyanya Arya Beilschmidt. Beilschmidt... Cih, marga yang tidak menyenangkan. Membawa kenangan buruk saja. Ia sudah mengecek, bukan pacarnya Matthew. Syukurlah. Lagipula yang ini memang nggak senarsis yang satunya. Genre baru. Lebih gore. Alfred sangat menyukai happy ending, berharap hidupnya bisa seperti itu. Tapi orang ini mengobrak-abrik impiannya. Dengan gaya bahasa yang menceracau liar. Angst yang menusuk-nusuk tanpa ampun.

Temanya saja memang sudah nyebelin. Putri duyung. Cinta tak sampai. Karya H. C. Kohler, pendongeng terkenal dari Denmark. Katanya orangnya rada gila dan narsicst. Ceritanya kebanyakan norak. Masih mending Brothers Grimm. Tapi di FairyTaleFiction, tidak terpungkiri karyanya memang dipuja-puja. Meskipun di-AU sana-sini, toh dia nggak peduli dan terus menciptakan karya-karya baru. Atau... ia memang tidak tahu ada situs bernama FTF?

Yang manapun, ia berdosa besar karena telah mengobarkan Review War.

Sehabis kejatuhan Arthur, Gilbert, Antonio, van Couver, dan kawan-kawan, rupanya ada orang Jerman yang minta disalib. Tiga bulan yang lalu muncul dan langsung jadi pujaan. Ia meng-update cepat sekali. Seperti tidak berpikir, seperti terlalu banyak yang harus ia sebarkan. Ideologi-ideologinya, cara menulisnya, segalanya.

Seperti kisahnya yang satu ini. Mari kita baca sama-sama. Jangan mau kalah sama Alfred yang sudah baca sampai paragraf kedua.

Dulu ia juga duyung. Duyung yang cantik. Suaranya juga indah. Tidak kalah dengan penyanyi opera manapun. Tapi ia tidak tahu kalau waktu berjalan cepat sekali. Dalam sekejap, rambutnya memutih. Siripnya mulai menampakkan kerutan di sana-sini. Gerakannya tidak semolek dulu, dan suaranya... suaranya seperti lembu yang mengorek-ngorek sadis di kuping.

Bertahun-tahun ia menagisi dirinya yang menua, suaranya yang mengerek bagai biola. Hingga ia melihat gadis itu. Duyung kesepian yang mengandung luka. Mencintai manusia, ketololan yang patut ditertawakan. Tapi suaranya... amboi, mengingatkannya akan masa-masa remaja silam! Manis dan mendesah penuh pesona. Serak, tapi menggoda. Ahh, betapa ia terpukau! Batapa ia ingin memilikinya!

Maka dihampirinya gadis itu. Mengaku sebagai tukang sihir. Sebutkan satu permintaanmu, katanya. Gadis itu tertegun, tampak bingung. Ayolah sebutkan saja. Nenek itu terus membujuk. Akhirnya si gadis menyerah, mengatakan permintaannya dengan takut-takut, "Ijinkan aku memiliki sepasang kaki manusia."

"Ah, itu mudah bagiku yang sakti ini!" Duyung tua menjentikkan jarinya. Tiba-tiba di tangannya sudah tergenggam botol kaca. Terisi penuh dengan cairan pekat, kental, dan... apa itu yang bergerak-gerak di dalam sana?

Belum selesai. Di tangannya yang satu lagi tergenggam sepotong kaca. Tajam dan bening. Tapi si duyung muda tidak melihatnya. Ia terlalu terpesona pada ramuan pengubah bentuk. "Oh, terima kasih... Terima kasih..." katanya sesungukan sambil menggenggam tangan si nenek sihir.

"Nah, minumlah," si nenek mempersilahkan dengan senyumnya yang dibuat-buat. Begitu terteguk semua cairan itu, tiba-tiba ia berkata, "Kamu... ada apa itu di lidahmu?" Gadis itu terlonjak. Ia refleks menjulurkan lidahnya, mengusap, mencari-cari ada apa gerangan. Saat itu si nenek menawarkan bantuan. Namun...

Alih-alih membersihkan lidah, wanita tua itu malah mengiris lidah si gadis. Cepat, menyakitkan, dan darah muncrat kemana-mana. Dengan gesit, si nenek berenang pergi. Menjauh secepat badai. Meninggalkan gadis duyung yang perlahan-lahan berubah bentuk, dengan darah yang tak henti menetes dari mulut.

Alfred bergidik. Line berikutnya agak menyeramkan. Lesbian, ya? Waw.

Aku sebenarnya mencintaimu. Suaramu. Tubuhmu. Perasaan sakit hati yang membekas dalam. Masa remaja yang kuhabiskan tanpa bisa kukenali. Oh, betapa aku mencintaimu wahai duyung tanpa nama!

Kau pasti tak tahu, aku sebenarnya patah hati sekali. Melihatmu bersama manusia. Itu penyiksaan!

Maka... ijinkan aku menukar kebahagianmu yang semu dan singkat, dengan suara Muse milikmu yang memikat. Toh, kita sama-sama untung. Benar, tidak?

Lidah yang berharga. Ia simpan dalam peti terkunci, jauh di dasar rumah keongnya yang paling dalam. Semata-mata agar Pangeran tidak mendengar suara Putri yang memabukkan. Agar si bangsawan tidak jatuh hati, pada mutiaranya yang abadi.

Suara Putri hanya milikku.

Deg. Saat itu terkenang kembali olehnya Arthur. Alfred terpana lama. Sifat posesifnya ternyata mirip sekali dengan tokoh rekaan Arya. Bukan. Bukan Arthur yang mirip nenek sihir. Tapi dirinya.

Alfred melirik lagi potret orang tercinta di atas monitor. Merasa bersalah...

Penyihir Lautan sungguh jahat, dan ia benar-benar makhluk yang beruntung. Lucky bitch bastrad. Putri kembali padanya, dengan hati terobek-robek, dalam bentuk buih yang meletup-letup.

Ini lidahmu.

Penyihir Lautan menaruh buih itu bersama gumpalan daging busuk sewarna lavender dalam peti terkunci.

Dalam saat-saat sepi dan bosan, kadang-kadang si penyihir akan mendekatkan kupingnya ke peti. Mendengarkan alunan menyayat hati, dari buih yang bisa bernyanyi.

End of Story

Review(s) History:

*Roderich Edelstein (Wednesday 7.38 pm)

*Cekoslowakia (anonymous)

*Feliks Łukasiewicz (Sunday 7.39 pm)

*Then Mark (Thursday 7.40 pm)

*Norge (Thursday 7.40 pm)

*Van Couver (Friday 7.40)

*Bellagium (Friday 7.40)

*Luxxie Bourg (Friday 7.40 pm)

*Francis Bonnefoy (Saturday 7.40 pm)

*Heracles Karpusi (Thursday 7.41 pm)

*You Go Slave Aeia (Thursday 7.41 pm)

*North Africa (anonymous)

(Intermezzo, cara baca sejarah yang benar. Contoh: You Go Slave Aeia (Thursday 7.41 pm) artinya Yugoslavia ditaklukan Nazi Jerman pada bulan ke-empat (April) bukan hari ke-empat (Thrusday) pada tahun 1941. Maap, saya bikin ribet…)

Haaah. Alfred menghela napas. Bagus banget. Nggak salah. Tapi ya, gaya nulisnya itu yang dia tidak suka. Kalau tokohnya jahat, penulisnya pasti lebih jahat. Itulah kepercayaan yang selama ini Alfred anut. Aneh? Tidak juga. Fic memang mencerminkan penulisnya, kok.

Tengoklah Berwald Oxenstierna. Jangankan menyusun kalimat, menulis kata-kata pun masih sering kena typo. Namun sekarang ada Tino Väinämöinen sebagai beta-nya. Well, tapi sepertinya tidak ada perubahan berarti. Tino pasti orangnya sabar sekali ya, pikir Alfred ketika itu.

Ah, atau si Kiku Honda. Ideologinya lebih aneh lagi. Dasar orang Asia. Masa' cowok dipasangin sama cowok? Apa dia nggak malu? Dia kan cowok juga, toh? Tapi reviewnya... Oh man, jangan ditanya. Kyaa kyaa kyaa semua.

(Alfred nggak usah muna', deh. Kamu pikir yang tadi pagi itu apa?)

Veneziano Vargas lain lagi. Ficnya biasa-biasa saja. Tapi banyak yang ngereview. Kok aneh... Akhirnya Alfred mengecek. Wah, ada blog-nya. Dan oh, lihat! Kereeeeen... Alfred pun terkesima. FanArtnya memukau sekali. Minta di "save picture as" semua, nih!

Terakhir. Uhm... siapa ya? Ah, Stalin Braginski! Walah walah... Ini dia nih, yang lagi panas-panasan berebut posisi runner-up di bawahnya! Ketimbang Arya, karyanya memang minta digetok. Ngiris-ngiris gimanaaa gitu. Dalem deh, pokoknya. Kalau aku collabs sama dia... ehem, Alfred mulai menebak-nebak.

"Hayo, mikirin apa!" Suara Fidel mengagetkannya. Alfred langsung memalingkan muka.

"Ehm... saya mau bikin fic tandingan. Kamu sana gih kek, ngapain..." Sudah kebiasaannya menulis fic tanpa kehadiran makhluk hidup di sekitar. Bisa bahaya, katanya. Tiap orang kecuali dirimu sendiri adalah mata-mata. Alfred sudah mempelajarinya dari dulu.

... ...Ketika ia masih bersama Arthur Kirkland.


Impasse Points

(Amerika dan Inggris, bagian II)

.

Malam itu, matanya tak henti mencium layar. Hanya berkedip sesekali ketika agak perih, dan jemarinya menari lincah di atas tuts keyboard.

Cerita ini dimulai dulu, dulu sekali. Ketika ia masih tinggal di zona bathyal yang gelap dan dingin. Ketika ia terburu-buru kembali menyelam selepas mengambil napas ke permukaan. Ketika rasa takut, jijik, dan malu pada mukanya yang acak-acakan masih bertahta. DUGONG. Makhluk buruk rupa yang lenguhannya bahkan lebih mengerikan dari tampangnya. Dan ya, jangan membuatku mulai bicara soal ia punya daging. Sungguh, kau tak akan menemukan mamalia air lain yang lebih lezat ketimbang otot putih bergelambir seekor dugong! Perpaduan rasa gurih dari kulitnya yang kenyal, ditambah dengan dagingnya yang tidak amis dan terkenal bergizi. Cukup hidangkan dugong sebagai menu utama Thanks Giving, dan esoknya harga kalkun pasti turun drastis (Demand and Supply Theory, ceteris paribus).

PANGERAN bukan pengecualian. Tidak ada satu orang Kerajaan pun yang dapat mengalahkannya dalam adu santap dugong. Adu berburu dugong apalagi. Abad itu adalah Dark Age bagi kaum dugong di seluruh lautan Mediterania...

Dipandanginya kalimat yang berderet-deret itu di monitor. Ada kursor berkedap-kedip malas di sana. Entah sedang mencoba flirting, atau meregang nyawa dengan napas putus-putus. Jam hampir menunjukkan pukul 24, dan ia masih beku dalam dunianya. Masa bodoh dengan durasi. Idenya mati. Putus di tengah jalan.

Inilah titik di mana seniman manapun akan mengalami. Titik Kebuntuan. Di mana ide-ide yang mengklaim imaji tahu-tahu angkat kaki. Di mana dada rasa hampa dan jantung yang berdetak. Di mana mereka—kami—mati muda.

[TIK. Kursor mengedip.]

Alfred mendesah. Sudah mogok kerja, otaknya malah getol memproyeksikan hal-hal gila. Arthur. Orang yang mengadopsinya, membimbingnya menjadi seorang penulis besar, sumber insiprasinya. Perlahan menjauh bagai ditelan lipatan kabut. Alfred bisa melihat punggungnya yang tegap dengan rambut pirang yang berkibar-kibar.

[TIK. Kursor menampakkan wujud.]

Arthur. SATU-SATUNYA orang dalam daftar list penulis favoritnya. Kendatipun sejak kejadian itu, karangan-karangan Arthur lenyap bagai diciduk malam, menyisakan rangka rapuh penuh rongga bernama akun tanpa cerita. Hanya daftar penulis favoritnya yang dipenuhi SEMUA author KECUALI Alfred F. Jones.

Arthur yang menyukai semua kecuali Alfred.

Alfred yang hanya menyukai Arthur.

Seperti si egois AB yang menerima segala, dan si royal O yang memberi segala. Dengan kontrasnya, mereka saling melengkapi. 69. Pion-pion puzzle. Jigsaw yang saling berkait. Tidakkah Hukum Alam itu adil?

"Kakaaaak, makaaan!" panggil Fidel dari meja makan.

"Iya, Sayang.. Nanti aja. Saya sibuk!" balas Alfred sekenanya.

"Bener, nih?"

"Serius mampus! Udah deh, duluan aja..."

Tak ada balasan. Alfred menduga rekannya itu sudah asyik dengan makanan-makanannya—yang sekarang jadi pangkat dua.

Sial. Yaudalah, tar gampang tinggal masak mi.

[TIK. Kursor kembali menutup kelopak tubuhnya yang kotak-kotak.]

Ahhh! CUKUP. Negeri Dongeng begini ia mana ngerti! Jadinya malah aneh dan nggak jelas juntrungannya. OOC di FTF sih biasa, justru bakal dicemooh nggak kreatif kalau nggak. Malah bisa dikatain Kohler Sindrome. Idiih, Alfred lebih memilih terjun payung dari liberti daripada disamain sama penulis satu itu. Aduduh, gimana, dong?.! Apa diakhiri aja di sini? Pengennya sih.. Alfred sudah tidak tahan untuk menulis superman, gatot kaca, atau paling nggak megaman deh.. P-Man kek sekalian. Tapi ya... sial, jadi author ternyata ribet banget!

See? Bahkan Viet Cong sudah memintanya discontinued saja. Selera bocah Asia itu memang nggak cocok sama dia.

Tunggu, ada lagi yang lebih anta'. Im Yong Noo dari benua yang sama. Apa orang Asia memang seleranya antik-antik?

—Alfred benar-benar berharap ada seorang Arthur yang bisa membeta-nya soal NEVER-LANDS.

...

...

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti segala lukaku

karena cinta telah sembunyikan pisaunya

Membayangkan wajahmu adalah siksa

Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan

Engkau telah menjadi racun bagi darahku

Apabila aku dalam kangen dan sepi

itulah berarti

aku tungku tanpa api

…..

[TIK. Kursor kembali setor muka.]

Arthur. Aku kangen.


Arthur Kirkland mendengus. Ia memperhatikan chapter pertama Putri Dugong. Buah karya Alfred F. Jones. Huh. Tidak menarik. Apa 3G waktu itu hanya ilusi? Ia melirik PM. Euhm, ada surat rupanya. Dari siapa?

Al...fred?

Alfrednya? Alfred si maniak hamburger yang MENJUNJUNG TINGGI COPYRIGHT, HAK ASASI MANUSIA, sekarang MENGKOPI PUISI W. S. RENDRA mentah-mentah tanpa disclaimer? Mengirim ke PM-nya?

Tunggu. Arthur mencoba mengingat-ingat judul puisi itu. Mencari tahu apa kira-kira arti yang terkandung di dalamnya. Mengapa bocah sok tahu itu mengiriminya beginian.

Biasanya kan kalau nggak "Artie... aku minta maap, yah?"

pasti "Art, kamu kloning seni-nya Michaelangelo, ya? Kok cantik, sih?"

atau "Maapin aku ya. Tar kamu kutraktir Mekdi deh..."

atau yang lebih menjijikan "Coba liat Monalisa, deh. Ada kamu lho, di situ~"

PM-PM laknat yang langsung dihapus tanpa sempat dibuka. PM-PM kurang ajar yang tidak lagi memanggilnya dengan embel-embel "Kakak". Alfred jelek. Kamu bagai burger lupa plastiknya!

TUNG-GU DU-LU.

Kemerdekaan tanpa cinta...

...Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan...

...Apabila aku dalam kangen dan sepi

TING. Ide itu muncul oleh cahaya Tinkerbell. Judul puisi Rendra itu... Ya, sekarang Arthur mulai sedikit mengerti. Perasaannya melunak. Puisi itu berjudul...

.

"KANGEN"

.


Cold Nostalgia Chills Me to The Bone

(Kenapa Kamu Harus Kembali?)

.

Suasana subuh yang remang-remang, gelap, dan dingin, sukses menyadarkannya.

Ah well, saya belum mandi. Ngantuk, lagi. Tidur dulu, a—

Tok tok tok.

"Fidel, buka pintu. Ada tamu tuh, kayaknya..." Alfred berteriak malas dari dalam kamar.

Tak ada jawaban.

"Fidel Che Guevaraaaa...!"

"Saya lagi mandi, Kakak!" jawab satu suara akhirnya, meski samar-samar.

Cih, Alfred mendesah. Ia angkat pantatnya dengan lebam menuju pintu depan.

Tok tok tok.

"Sabar, woi!" makinya jengkel.

Gue lagi mati ide abis kayak gini juga! Ada gangguan apa lagi, sih?

"Siapa, ya?" Alfred bicara dari interkom. Matanya menyipit melalui lobang intip, mencoba menerka-nerka siapa yang berdiri di baliknya. Tapi, aduh, ia lupa mengenakan kacamatanya.

Tak ada jawaban.

Apa kabar, Dunia? Kenapa hari ini semua orang rasanya nyuekin saya, ya?

Alfred ogah-ogahan membuka pintu. Sosok itu berdiri mematung. Tas selempang menggantung di pundaknya yang tegap. Muka Alfred langsung mengeras. Menyadari siapa yang telah menyantroni rumahnya.

Tidak... tidak.. Kenapa harus dia?

Tangannya mengepal erat. Bulir-bulir keringat mengucur dari sana. Begitupun pelipisnya. Darahnya ikut berdesir. Kalut dan tak terdefinisi.

Tidak.. Tidak.. Kubilang tidak!

"Permisi. Saya—

Ivan Braginski. Temannya Fidel Che Guevara."

Alfred memandangi pria di depannya dengan muka kaget yang tidak disembunyikan. Orang ini. Syalnya, jaket kulitnya yang terlihat begitu hangat, suaranya yang lembut, senyumnya yang memabukkan. Betapa Alfred ingin menjamahnya. Berpacu bersamanya seperti saat itu. Belum sempat ia berkhayal lebih jauh, satu suara sukses bikin dia kaget bin malu.

"Ivan!" Fidel berlari menyongsong rekannya. Tak tanggung-tanggung, dengan badan masih basah sehabis mandi, hanya berbalut kimono yang pendek dan tipis, direngkuhnya si pemuda Soviet lekat.

Ah, Alfred lagi-lagi terapi jantung. Melihat mereka berdua seperti itu, rasanya kok jengkel juga, ya? "Lho? Kamu? Ini?" Alfred menunjuk-nunjuk keduanya bergantian, bingung.

Apa-apaan? Haduh, mudah-mudahan ia tidak ingat!

"Ah, si bocah burger, da?"

Bocah burger katanya?

"Aku bukan—"

"Hero yang waktu itu, kan?"

Deg. Kok rasanya kalo dia yang panggil gue hero...

"Kalian saling kenal? Wah, senangnya! Ivan, ini induk semang saya, Alfred F. Jones. Kakak, ini Ivan Braginski," jelas Fidel sambil cengengesan.

"A... alfred.. panggil saya Alfred sudah cukup," Alfred mengulurkan tangannya gemetar.

"Senang kenalan denganmu, Alfred."

Detik itu juga, Alfred merasa tak berjantung. Rona-rona merah menghiasi mukanya yang seputih tembok.

[Nikmat sekali, Alfred...]

[Lakukan lagi padaku, lakukan!]

[Aku... mencintaimu, Al..fre..ed...d..]

"Panggil saya Ivan," lanjut Ivan mantap, semantap senyumnya.

Tangan mereka berjabat sekilas. Begitu hangat. Kontak langsung pertama. Alfred nampak tidak rela ketika tangan mereka lepas setelahnya. Di saat-saat seperti itu, benaknya tidak berhenti mengentak-entak liar, tentang ingatan mimpi semalam.

Hush. Hush. Pergi sana. Ia menggeleng-geleng kalut.

"Anda tidak apa-apa?"

"Ngh..." Alfred entah kenapa merasa pusing. Semalaman ia terus mengetik fic tandingan Arya. Rasanya staminanya sudah terkuras habis. Perutnya juga belum dikasih ganjelan. Masalah dengan Arthur dan Matthew pun nggak kelar-kelar. Bagi perokok berat, mungkin Dji Sam Soe sudah yang paling top. Bagi pecandu heroin, pastilah mariyuana di peringkat satu. Tapi bagi Alfred, kalian tahulah, ia benar-benar butuh junk food saat itu juga. Sekedar melupakan semua masalah sejenak. Masalah, masalah... kamu kok nakal, sih!

Pandangan Alfred semakin kabur, dan kakinya sudah mulai goyang kanan-kiri.

Tenang, ini pasti karena gue nggak pake kaca—

Alfred kaget menyadari Ivan telah menggenggam tangannya. Menahannya ketika nyaris limbung. Fidel yang sudah melepaskan pelukannya pun memandang induk semangnya khawatir.

PLAK. Alfred menampik tangan Ivan. Ia agak kaget. Ivan juga. Fidel juga. "A... apaan sih. Norak lo semua. Gue nggak apa-apa, kali. Masa iya hero begini doang—"

BRUK. Dan tubuhnya jatuh menghantam lantai tanpa bisa ditawar-tawar lagi.


.

.

.

Glossary, Impression, Note, Credit, and Disclaimer:

(970 words. nggak wajib dibaca kecuali poin-poin disclaimernya, kerena memang isinya rata-rata curcol semua =.=a)

1) Semua karakter punya Hidekaz Himaruya. Eeh salah, tau. Harusnya Hidekaz Himaruya punya semua karakter... Lho? *bingung sendiri*

2) The Little Mermaid, dan sepertinya makin banyak dongeng-dongeng lain yang akan saya nistakan nantinya, sebagian besar punya Hans Cristian Andersen, kalo nggak Brothers Grimm (Gebrüder Grimm). Andersen orang Denmark, makanya saya tumbalin itu si Mathias. Oh, ijin? Nggak perlu... Kata Norway boleh, kok, diapain juga... *duaghh!* *blep..blep..*

3) Eh eh, nama Cuba belum official, kan...? Kebetulan gue baru belajar Revolusi Kuba nih. Ada Fidel Castro sama Ernesto che Guevara. Yah, pokoknya mereka manis banget. Halah halah.. apa sih, yang nggak gue pasang-pasangin? Adam Smith x David Ricardo udah.. Mpu Tantular x Mpu Prapanca udah.. Soekarno x Hatta, wah, skandal ini.. Hayam Wuruk x Gadjah Mada... tunggu tanggal mainnya, tar gue yang buat.. Hatta x Rachmi? Eh, itu mah canon! *bletak* Ada ide lain? *blep..blep..blep..*

...Di sini anggaplah Cuba masih polos, kecil mungil, belom gontok-gontokkan sama USA gara-gara Cuba Crisis Missile.

...Dan kenapa sama Russia mesra gitu? Nah, itu baru OOC. Sengaja. Biar Alfred cemb— *bletak* But seriously, di sejarahnya emang rada complicated. Karena lokasi Kuba ada di Amerika Latin, efeknya jarak tempur ke Washington juga jadi deket. Padahal Fidel Castro sendiri memimpin dengan haluan komunis blok timur. Selain itu, kerja sama erat antara Kuba & Uni Soviet memungkinkan kolhoz menyimpan salah satu rudalnya di sana...

...Stop, stop. Nanti keterusan jadi spoiler =_="

4) Jadi begini... ehem *tes suara* Ceritanya di Jerman, tahun 1933-an, Nazi berkuasa. Yahudi dibunuh-bunuhin. Sagregasi, you know lah. Tadinya gue pengen jadiin Gilbert tumbal, tapi di saat-saat terakhir—anda bisa lihat di chapter satu—dia nggak ada pantes-pantesnya jadi refleksi swastika yang yahud. Nah, akhirnya gue cobalah si Ludwig. Oh no, nggak bisa juga. Dia terlalu.. yah, perfect dan gue nggak tega. Harusnya sih padahal EMANG DIA! Tapi setelah gue mengingat ada ras yang namanya Arya atau Aria, yang katanya Hitler bangga-banggain setengah mampus, gue pun jadiin nama alias (penname) di sini. Yah, jalan tengah, area abu-abu. Gue banget... *ditampol*

5) W. S. Rendra. Kyaaa aku cinta sekali puisi Anda! Temanya ternyata emang "kesepian". Pantes waktu ulangan gue salah dong dong dong dong jawab "kemerdekaan". Dan... dan dengan begonya gue pernah ngebacain itu puisi pas lomba agustusan di sekolah! Huwow, untunglah juri-jurinya amat sangat tidak kompeten. Haha, dan congratulation, gue juara 3 waktu itu! *sombong mode* *padahal menang tidak jujur*

...Tadinya nih puisi kan mau buat fic satunya.. Pas Indo merdeka tanpa Nethere (van Couver?).. Sepi kan, Ndo? Ya, kan? Sepi, kan? *guncang-guncang Indo* *disetrum*

6) Apa-apaan uke!Alfred mode begitu, hah? Jelek banget. Unyu! Weleh... weleh.. Jadinya AmeRus atau RusAme, nih...?

...Nggak, kok. Setia gue mah sama JOKER.. Pisss..

...Boong... Tar terakhir-terakhir lo jadiin FrUK, ya?...

...Nggak, norak...

...Boong...

...oke, NetherexIndoxMalay pasti ada! *ngibrit*

7) Awal-awal itu limun nggak niat. Hei, hei, rating tetap T, kan? Huadoh, abis bikin adegan begituan jadi... no! Gue nggak ketagihan! *ketauan boong* *dijejelin melon eh lemon*

...Buat inspirasi "berpacu-pacu" nggak jelas—eh, jelas, ding!—kayak begitu, gue dapat dari novel Jalang-nya Maroeli Simbolon. Ya Tuhan, gue baca ampe megap-megap. Urban banget. Keren abis. Gamblang. Bahasanya bersih. Dan adegan model gituan bertebaran. Dan karena straight... gee, pinggul sama dada, halah pokoknya badan cewek banget, diekspos abis-abisan. Apa karena si Maroeli ini cowok, ya? Hm... aiyaya, what a great book. Read it sometimes!

...Dan shojo-ai-nya... Ampun, nggak ketolong, deh. Cacat abis. Maap, saya bukan yuri, sih. Terus ketika saya coba riset tanya fujoshi meja sebelah, ehhh dia dengan malu-malu bilang, "Googling sana!" Anjir, nggak ada kata-kata lain, apa? *ngedumel*

8) Lagi dilema mempertahankan tipe tulisan. Mau bikin PoV America... Uhuhu...

9) Demand and Supply Theory. Hukum Permintaan dan Penawaran. Ceritanya kalkun dan dugong itu barang subtitusi, bisa saling menggantikan. Jadi, misalkan pemintaan kalkun yang selama ini tinggi dan berharga mahal, kita coba gantikan dengan dugong yang permintaannya rendah dan murah. Maka keadaannya akan berbalik. Karena hukum permintaan itu negatif, berbanding terbalik. Dan hukum penawaran itu positif, berbanding lurus. Kalo permintaan konsumen tinggi, produsen pasti naikin harga biar untung, kan?

...ceteris paribus itu maksudnya, anggaplah semua faktor lainnya konstan alias tetap.

...Halah-halah... mengerti, tidaaak? *sok pinter*

10) smackgeeves itu harusnya smackjeeves. Plesetan dikit, lah. Pengalaman pribadi fujoshi meja sebelah. Tapi dasar watak, aku mau liat webcomic dia masa' nggak boleh... huhuhu

(Jangan Nam, isinya BL semua. Gue aja sampe muak..)

[Terus ngapain lo bikin akun di sana!]

11) Stalin, ya? Well, dia ganteng dan berkharisma. Sayangnya, komunisnya bikin najis. Sama aja kaya Lenin. Nah, tadinya tuh mau gue bikin Alfred ekspektasi-ekspektasi dikit lah, siapa si Stalin ini. Atau dia dilema mikirin apakah Stalin dan Ivan orang yang sama. Tapi ya... dasar dudul, malah nggak kesampean. Yasudah, jadi penname si bocah sunflower saja. *bocah?* *nggak, salah denger kali, mas*

12) Kayaknya A/N nya bisa buat chapter sendiri, neh... Oke sabar. Bentar lagi. *lirik jam* Jadi, Viet Cong itu Vietnam Utara. Si cewek-nya Himaruya. Eh salah ding, Viet Cong gue boleh nyolong dari nama... ehm, nama kelompok pergerakan revolusioner Vietnam Utara, yang katanya nge-gerilya bareng oposisi Ngo Dinh Diem (PM Viet Selatan) gara-gara tuh PM otoriter dan menganut Katolik, bukannya Buddha.

...Im Yong Noo? Yah, anggaplah dia Korea Utara. Haduh, Korut babeh, jangan perang dong.. Mau jadi apa Koreacest? *duesh* Alala... masa' katanya WikiLeaks, Yao NGGAK bakal ngebantuin dia lawan Korsel and Amrik. Oh, why, Yao? You're so rude! Mendukung unifikasi tapi dengan pusat di Seoul itu nggak adil! *ditembakin* Hyaaa artis-asrtis Korea gue... wajib militer? Kesesese, bahan fic baru, neh... /apadeh

13) Oh, man... Apapula adegan di toko fast food? Russia beli burger? Emang dia doyan? Jangan bilang dia sengaja beli pas liat burger Alfred jatuh? Hawawa, aku fangirling~ (Nam, jujur. Lo penulisnya bukan, sih? *mengangguk-angguk yakin* Oh... *mari ganyang narator bintang-bintang nggak jelas ini sekali-kali*)

14) Terakhir, maaf saya lama update.. Terima kasih teramat dalam dan tulus dari hati saya yang paling bejat bagi temen-temen semua. Hehe, becanda kok. Tararengkyu! ^^