RE-PUBLISH
God's Rules
Chapter 2
Summary: Sakura senang bisa mengenal Gaara. Menurutnya, Gaara anak yang baik, keren, tampan, dan yang paling ia sukai, Gaara selalu ada di sampingnya. Ia sadar bahwa sekarang ia benar-benar sedang jatuh cinta, jatuh cinta pada Dewa Penyelamatnya, Sabaku no Gaara.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story: Dreamer_Girl0210
Pairing: GaaXSaku
Rated: T
Warning! AU, OOC, TYPO, DLDR, RnR. I'm still a newbie. Give me more advice!
Write in Normal POV.
.
.
.
"Sakura!"
Gaara mendapati Sakura menangis di balik pintu. Ia terkejut saat melihat seseorang tergeletak di lengan gadis itu, Nyonya Haruno tergeletak tak sadarkan diri. Di dekatnya terdapat pecahan-pecahan gelas, entah apa penyebabnya.
"Gaara, tolong aku." isak Sakura. Gaara segera menggendong tubuh tak sadarkan diri itu dan membawanya keluar, masuk ke dalam mobilnya. Sakura mengikutinya dari belakang.
"Ayo, cepat kita ke rumah sakit." seru Gaara dan setelah semuanya masuk, mobil itu meluncur dengan kecepatan tinggi.
"Hei, hei, semua akan baik-baik saja, Sakura," Sakura menangis di bahu Gaara. Mereka sekarang sedang menunggu di depan ruang UGD, ruang dimana Nyonya Haruno berada. "Percayalah padaku." lanjut Gaara, mencoba menenangkan gadis di sebelahnya.
"Aku tidak bisa tenang. Aku khawatir," isak Sakura.
"Aku tahu, aku tahu," jawab Gaara berulang-ulang kali. Sampai akhirnya seorang dokter keluar dari ruang UGD tersebut. Ia berjalan ke arah Sakura dan menyentuh lengannya, "Ibumu tidak apa-apa. Ia hanya sedikit syok," ujar dokter tersebut.
"Syok?" tanya Sakura heran.
Dokter itu mengangguk, "ada sesuatu yang membuatnya sangat terkejut, hingga ia kehilangan kesadaran."
Sakura diam. "Baiklah, ibumu sudah bisa pulang, saat dia sadar nanti," ujar dokter tersebut, "aku permisi dulu." lanjut dokter itu.
"Terima kasih, Dokter," ujar Gaara, kemudian dokter itu pun pergi.
Flashback Time
Nyonya Haruno mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumahnya. Ia segera bergegas menuju jendela depan untuk melihat mobil siapa itu. Dilihatnya Sakura turun dari mobil merah itu, dan dari sana ia juga bisa melihat dengan cukup jelas siapa orang yang ada di balik kemudi. Seorang pemuda berambut merah...
Nyonya Haruno seketika tak sadarkan diri.
Skip Time
Sejak kejadian seminggu yang lalu, Sakura benar-benar bersikap overprotective terhadap ibunya. Ia mengatur jadwal makan, mandi, tidur dan terapi ibunya. Tapi, sampai sekarang ia belum mengetahui apa penyebab ibunya syok seminggu yang lalu.
Sore itu, pukul enam lewat lima belas menit. Ibunya baru saja minum obat dan kini ia sudah tertidur pulas. Sakura mengganti-ganti saluran televisi dengan remote di tangannya. Ia sama sekali tidak menemukan acara yang bagus sejak tadi. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa laptop tuanya menuju area hot spot terdekat.
Sakura duduk di salah satu kursi taman di Central Park. Tempat itulah yang selalu menjadi tempat penghilang bosan Sakura. Taman itu hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya.
Sakura menyalakan laptop di pangkuannya, satu-satunya teman tak hidup yang ia miliki. Ia mengklik ikon mIRC di desktop laptopnya. Ia mengetik username dan password yang selalu ia gunakan saat berselancar di chat room itu.
Joined: Queen of Pink
Sakura mulai menyapa orang-orang yang tak ia kenali di dalam chat room tersebut. Ia mengamati satu persatu username yang terdapat di room tersebut. Matanya langsung tertuju pada sebuah nama: Dark_cold_Red. Ia mengklik nama itu dan mulai menulis.
Queen of Pink: Hi.
Dark_cold_Red: Hi. asl?
Queen of pink: 16 f Tokyo
Queen of Pink: u?
Dark_cold_Red: 16 m Tokyo
Dark_cold_Red: senang bisa bertemu teman sekota :)
Queen of Pink: Ya, sama-sama
Dark_cold_Red: Punya msn?
Queen of Pink: Aku punya.
Dark_cold_Red: Boleh tahu alamatnya?
Queen of Pink: Tentu. pinksakura live. com punyamu?
Dark_cold_Red: akan aku add secepatnya.
Dark_cold_Red: darkssr hotmail. com
Dark_cold_Red: sent!
Sebuah tulisan muncul di desktop Sakura: darkssr invited you in Messenger. Sakura cepat-cepat mengklik tombol accept.
Sakura membuka profil teman barunya itu untuk mengetahui nama dan rupanya. Tetapi, sayang, teman barunya itu sama sekali tidak menampilkan nama dan fotonya.
Queen of Pink: Tidak ada nama dan foto?
Dark_cold_Red: Kau juga.
Sakura tertawa. Ia juga mengedit profilnya sedemikian rupa, tanpa nama asli dan gambar.
Dark_cold_Red: Misterius itu menyenangkan, bukan?
Queen of Pink: lol
Alasan Sakura tidak memasang nama dan gambarnya bukanlah karena ia ingin menjadi seorang yang misterius, tetapi karena ia terlalu malu terhadap dirinya sendiri. Cukup di dunia nyata ia berlaku sebagai seorang anak yatim miskin tanpa teman. Ia tidak mau dunia maya juga tahu tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Dark_cold_Red: Kau pasti maniak pink.
Queen of Pink: Yap.
Queen of Pink: Dan kau pasti maniak warna gelap.
Dark_cold_Red: Jangan sok tahu!
Dark_cold_Red: Bercanda :P aku memang maniak warna gelap.
Queen of Pink: hobi?
Dark_cold_Red: main basket dan fotografi
Dark_cold_Red: Kau?
Queen of Pink: menyendiri.
Dark_cold_Red: hobi yang aneh.
Dark_cold_Red: Biar kutebak,
Dark_cold_Red: Pasti kau anak yang pemalu
Queen of Pink: HAH? Kau peramal ya?
Dark_cold_Red: lol
Dark_cold_Red: aku bisa melihatnya dari hobimu.
Dark_cold_Red: dengar ya, menyendiri itu tidak baik
Dark_cold_Red: jika kau sedang punya masalah, sebaiknya kau cari teman
Dark_cold_Red: untuk berbagi.
Queen of Pink: Terimakasih, Tuan Bijak
Queen of Pink: lol
Queen of Pink: Hei, aku harus pergi.
Dark_cold_Red: buru-buru sekali
Dark_cold_Red: senang bertemu dengan mu :)
Queen of Pink: sama-sama.
Sakura mengklik tombol quit.
Left: Queen of Pink
Siang itu, kantin sungguh ramai dan padat. Maklumlah, saat itu adalah waktu makan siang untuk tiga angkatan sekaligus. Gaara dan Sakura memutuskan untuk membeli makanan bungkus dan memakannya di taman. Gaara membawa tiga bungkus makanan ringan dan sekaleng soda. Sementara Sakura membawa bekalnya dan segelas jus stroberi.
Mereka berdua bedesak-desakan saat mencoba keluar dari kerumunan anak-anak kelaparan yang memenuhi kantin. Nasib sial menghampiri Sakura. Saat ia berjalan, kakinya tersandung tali sepatunya yang terlepas hingga ia terjengkang ke depan dan menabrak orang di depannya.
Jus stroberinya tumpah di seragam seorang pemuda berambut hitam model emo dan meninggalkan noda merah di seragam putihnya. "A-aku minta maaf," ucap Sakura tergagap.
Orang itu menatap Sakura tajam. Terlihat bahwa ia benar-benar tidak suka atas apa yang telah diperbuat oleh gadis di depannya. Ia mendorong gadis berambut pink di depannya dengan kasar hingga punggungnya terbentur ujung meja.
Gaara terkejut atas apa yang terjadi di depan matanya. Ia segera membantu Sakura berdiri. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Sakura hanya menggeleng.
Gaara menoleh ke pemuda berambut emo yang baru saja mendorong Sakura. Ia menggenggam kerah seragam anak itu dan menariknya. "Apa kau merasa telah melakukan sesuatu yang tidak sopan?" tanyanya sinis.
Pemuda berambut emo itu juga memasang wajah sinisnya, "aku berhak melakukan apa yang aku mau." jawabnya.
"Cih, kau pikir kau siapa? Hanya seorang Sasuke Uchiha bodoh yang tidak menghargai perempuan." balas Gaara.
Pemuda yang bernama Sasuke itu mendorong Gaara hingga cengkramannya terlepas. "Kau mau jadi jagoan, Sabaku?"
Gaara pun melakukan hal yang sama, "harusnya aku yang bertanya seperti itu, Uchiha."
"Cukup." ujar Sakura menengahi, "sekali lagi aku minta maaf, Sasuke. Kalau kau mau, aku bisa mencucikan seragammu." tambahnya.
"Sakura, kau—"
"Tidak perlu. Lain kali, gunakan matamu saat berjalan." ujar Sasuke yang kemudian pergi.
Gaara menatap kepergian Sasuke dengan marah. "Sudahlah, toh aku sudah minta maaf, kan?" ucap Sakura lalu menarik Gaara untuk pergi.
Gaara memasuki rumahnya. Sebenarnya tempat itu sangat tidak pantas disebut rumah, lebih tepat jika disebut istana. Rumah itu benar-benar besar, dengan pilar-pilar kokoh yang menambah kesan megah. Rumah besar itu juga selalu sepi. Rumah itu hanya dihuni oleh seorang kakek tua dengan seorang cucu lelakinya, serta empat orang pegawai.
"Aku pulang." seru Gaara saat sampai di ruang keluarga. Di sana kakeknya sedang duduk di kursi goyang sambil membaca koran harian.
"Halo, Gaara. Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya sang kakek tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran koran di depannya. Gaara menghempaskan tubuhnya di sofa. "Buruk," jawabnya.
Sang kakek menatap cucu sematawayangnya itu. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku ribut dengan si Bocah Uchiha tadi siang." cerita Gaara.
"Yang mana? si Bungsu Sasuke?"
Gaara mengangguk.
"Memangnya dia melakukan apa?" tanya lelaki tua itu.
"Sakura tidak sengaja menumpahkan minumannya ke bajunya. Sakura sudah meminta maaf, tapi anak bodoh itu malah mendorongnya hingga terjatuh,"
"Sakura? Siapa dia?"
Wajah Gaara yang tadinya kesal berubah seketika saat sang kakek menanyakan soal siapa itu Sakura. Sang kakek hanya tersenyum, "dia pacarmu?"
"B-bukan." jawab Gaara salting.
"Kau menyukainya, ya?" goda sang kakek, membuat wajah Gaara semakin memerah. Gaara tidak tahu harus menjawab apa. Ia berkali-kali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau kau menyukainya, jawab saja iya. Aku tidak melarangmu menyukai seseorang." lanjut kakek.
Wajah Gaara berubah sumringah. Ia mencoba tetap tenang, tetapi tidak bisa. Bibirnya serasa tertarik oleh magnet hingga terus menimbulkan senyuman.
"Siapa tadi namanya? Sakura?" tanya sang kakek.
Gaara mengangguk semangat, "Ya. Sakura, Sakura Haruno."
Sang kakek terlihat terkejut. Ia mengeja nama gadis itu perlahan-lahan, "Haruno?" Ia tahu nama itu. Sangat-sangat tahu. Nama yang mengandung rahasia besar.
Flashback Time
Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah besar. Seorang lelaki berpakaian serba hitam turun dari mobil itu sambil menggendong seorang anak yang kini tengah tertidur.
Lelaki itu berjalan menuju pintu rumah besar di depannya. Diketuknya rumah itu dengan bersemangat. Tak lama keluarlah seorang tua berusia sekitar enam puluhan.
Lelaki itu tersenyum dan berkata pada orang tua itu, "aku sudah mendapatkan apa yang kau mau. Sekarang, aku minta bayaranku." Lelaki itu menyerahkan anak kecil tadi ke pelukan orang tua di hadapannya.
Setelah anak itu berada di pelukannya, orang tua itu menyerahkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal kepada lelaki serba hitam tadi. Lelaki itu menerimanya dengan cengiran lebar di wajahnya. "Senang berbisnis denganmu,"
"Jadi, band-mu akan tampil di ulang tahun sekolah?" tanya Sakura pada Gaara. Sekarang mereka berdua berada di café tempat mereka biasa makan. Gaara menjawab dengan sekali anggukan.
"Itu hebat. Aku akan menontonnya." ujar Sakura. Gaara tersenyum.
Gaara menatap mata emerald Sakura. Begitu juga Sakura. Mereka bertatapan dalam diam. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka. mereka sibuk bertarung dengan pikiran mereka masing-masing.
"Tuhan, apa aku harus menyatakannya sekarang?" batin Gaara.
"Ah, ada sesuatu di tatapannya. Ayo katakan, Gaara, katakan." ujar Sakura di dalam hati, seolah bisa membaca pikiran cowok di depannya.
"Sakura, aku mau jujur. Kau harus dengarkan dengan baik. Karena aku tidak akan mengulangnya." ujar Gaara.
Sakura menegakkan duduknya, menajamkan pendengarannya, dan yang jelas ia sudah menunggu-nunggunya.
"Hm, aku benar-benar bingung harus memulainya darimana. Tapi, hatiku bilang bahwa aku harus cepat-cepat menyatakannya." Suara Gaara terdengar sangat ragu.
"Sejak aku bertemu denganmu, saat kita tidak sengaja bertabrakan, aku terus-terusan teringat tentang dirimu. Aku sama sekali tidak tahu tentang perasaan ini. Karena jujur, aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Aku—" Gaara tiba-tiba menjatuhkan kepalanya ke atas meja. "Aku tidak tahu harus mengatakannya dengan cara seperti apa, Sakura."
Saat ia menegakkan kepalanya lagi, ia mendapati Sakura tengah tersenyum memandangnya. "Aku tahu apa yang kau rasakan." ujarnya tulus.
"Kau jatuh cinta, Gaara," ucap Sakura sambil tetap tersenyum, "aku bisa mengetahuinya karena... aku juga merasakan hal yang sama denganmu." Sakura mengakhiri ucapannya.
Gaara terkejut atas apa yang didengarnya. Ia merasa dadanya akan meledak sekarang juga. Ia masih menatap emerald Sakura. Gadis itu juga masih mengamati mata hijaunya. Suasana berubah canggung.
"Sudah malam. Sebaiknya aku pulang." ujar Sakura bangkit dari hadapan Gaara. Tapi, lelaki itu menangkap pergelangan tangannya.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tapi Sakura belum bisa terlelap. Dipikirannya masih terbayang kejadian empat jam yang lalu. Saat dimana ia dan Gaara mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
Sakura membuka laptopnya. Ia mengklik ikon messenger di sudut kanan bawah desktopnya. Matanya melebar saat ia melihat nama "darkssr" tertera di daftar online user. Sakura mengklik namanya dan mulai menyapa teman dunia mayanya itu.
pinksakura: hi, still awake?
darkssr: ya. Kau sendiri?
pinksakura: aku sedang bimbang. bisa bantu aku?
darkssr: masalah apa?
pinksakura: percintaan :P
darkssr: aku tidak pandai soal itu.
darkssr: tapi aku akan berusaha membantumu.
darkssr: jadi, apa masalahmu?
pinksakura: terima kasih banyak.
pinksakura: aku mengungkapkan perasaanku kepada orang yang kusukai,
pinksakura: empat jam yang lalu
darkssr: lalu?
darkssr: dia menolakmu? lol
pinksakura: tidak.
pinksakura: dia juga mengungkapkan perasaannya kepadaku
pinksakura: dia juga menyukaiku.
darkssr: lalu? bukankah itu bagus?
pinksakura: entahlah, aku bingung bagaimana harus bersikap.
darkssr: kau ini benar-benar membingungkan ya.
darkssr: ikuti kata hatimu. kalau kau menyukainya maka bersikaplah sesuai dengan itu
darkssr: bersikaplah selayaknya kau menyukainya.
Sakura baru saja akan membalas pesan dari teman chat-nya itu saat telepon genggamnya berbunyi. Tertulis nama Gaara di sana.
Sakura menjawab telepon itu dengan ragu, "halo, Gaara, ada apa?"
"Kau belum tidur?" tanya Gaara.
"Belum. Aku tidak bisa tidur. Kau sendiri?"
"Sama. Aku juga belum bisa tidur."
Keduanya terdiam. Mereka seperti kehilangan kemampuan untuk berbicara.
"Err, Sakura. Soal yang tadi, mungkin akan jauh lebih mudah jika aku ungkapkan lewat lagu." ujar Gaara, "Kau mau mendengarkannya, kan?"
Diam lagi-lagi datang. Sakura masih memegang telepon genggamnya erat-erat, menahan gejolak di dadanya. Beberapa detik kemudian Sakura bisa mendengar suara Gaara mengalun lewat telepon di genggamannya.
I hung up the phone tonight
Something happen for the first time
deep inside
It was a rush, what a rush...
Cause the possibility
That you would ever feel the same way
about me
just to much, just to much...
Terdengar Gaara di ujung sana menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Why do I keep running from the truth?
All I've ever think about is you
You got me hypnotized, so mesmerized
And I just got to know...
Do you ever think when you're all alone,
all that we can be, where these thing can go?
Am I crazy or falling in love?
Is it really just another crush?
Do you catch a breath when I look at you?
Are you holding back, like the way I do?
Cause, I'm try and try to walk away
But I know this crush ain't going away...
Gaara mengakhiri lagunya. Ia merasa lega. Ternyata semua memang lebih mudah dinyatakan lewat lagu.
"Sakura, kau masih di sana?" tanya Gaara.
"Ya," jawab Sakura, "aku tidak tahu harus berkata apa. Itu tadi sangat indah."
Gaara tersenyum di ujung telepon. Ia sangat ingin melihat ekspresi Sakura saat ini. Haruskah ia berlari ke rumah Sakura saat ini juga? Itu memang gila. Semua orang tahu, cinta itu gila.
"So, Sakura, would you like to be my girl?" kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Gaara. Ia bisa mendengar Sakura menahan nafasnya mendengar pertanyaannya tadi.
Sedetik berikutnya, Sakura bisa bernafas seperti biasa. Tanpa ragu Sakura menjawab, "Sure, I'd like to, Sabaku no Gaara."
Sakura cepat-cepat mengetik, membalas seseorang yang masih menunggunya di messenger,
pinksakura: Aku jadian!
-To Be Continue-
Chapter 2 has been released.
Mudah-mudahan chapter-chapter berikutnya akan semakin cepat terselesaikan.
Review dibutuhkan, ya! :)
