Akhirnya, saya bisa menyelesaikan chapter 3. Kemarin, saya sempat gak ada ide. Pembelokan ceritanya agak membingungan. Tapi, akhirnya saya bisa menyelesaikannya.
Tadinya saya mau memasukan Sasuke jadi peran utama. Tapi karena sudah terlalu banyak peran, akhirnya tidak jadi saya gunakan. Maaf ya...
Ohiya, untuk chapter 2 akan saya re-publish. Banyak kesalahan di chapter itu.
Terima kasih telah membaca. ^^
God's Rules
Chapter 3
Summary: Jika kenyataan itu menyakitkan, aku lebih memilih hidup dalam kepura-puraan.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Story: Dreamer_Girl0210
Pairing: GaaXSaku
Rated: T
Warning! AU, OOC, TYPO, DLDR, RnR. I'm still a newbie. Give me more advice!
Write in Normal POV.
.
.
.
Jam weker Sakura berbunyi tepat di samping kepalanya. Sakura terbangun. Ia mengusap-usap matanya yang belum sepenuhnya terbuka. Sedetik kemudian gadis itu tersenyum.
"Yang semalam itu bukan mimpi, kan?" tanyanya pada dirinya sendiri. Sakura mengingat lagi kejadian kemarin, kejadian yang membuat tidurnya tidak pernah senyaman ini. Saat-saat di mana Gaara menyanyikannya sebuah lagu yang sangat indah dan menembaknya dengan cara yang benar-benar unik.
Deringan ponsel membuyarkan lamunan Sakura. Ia meraih ponsel itu dan mendapati sebuah pesan singkat baru. Ia cepat-cepat membukanya.
Sender: Gaara
Sudah bangun?
Mau berangkat bersamaku? Jika mau, I'll pick u at 06:30.
Sakura tersenyum, kemudian mengetik balasan dengan cepat.
To: Gaara
Tentu. Aku tunggu.
Seorang pemuda berambut merah dengan kaca mata hitam dan coat kulit hitam berjalan keluar dari pintu arrival Tokyo International Airport. Ia berjalan sambil menggeret kopornya. Gayanya yang cool membuat mata wanita-wanita di sekitarnya terus menatapnya.
Ia adalah Sasori no Akasuna. Pemain basket yang sudah merintis karirnya hingga ke jenjang internasional. Semua orang tahu siapa dirinya. Seperti pemain-pemain basket lainnya, Sasori memiliki tubuh yang tegap, tinggi dan err, sixpack. Itulah yang membuat semua wanita terkagum-kagum padanya.
Sasori memandang sekeliling tempat parkir mencari sebuah mobil yang akan mengantarnya ke rumah kakeknya, rumahnya selama ini.
"Tuan Sasori!" panggil seseorang dari belakangnya. Seorang lelaki, sekitar empat puluh tahun, berdiri beberapa langkah di belakangnya. Sebuah mobil mewah terparkir di samping lelaki itu.
"Yo, Paman. Aku baru saja berkeliling tempat parkir untuk mencari Paman." ujar Sasori. Ia melangkah menghampiri orang kepercayaan kakeknya itu. "Apa kabar, Paman?"
Lelaki itu tersenyum, "masuklah. Kakek dan Gaara sudah menunggumu sejak tadi." Sasori pun masuk dan duduk di kursi belakang bersama Asuma, orang kepercayaan kakeknya itu. Asuma memerintahkan sang supir yang duduk di balik kemudi untuk jalan. Dan mobil pun melaju menuju rumah kakek Sasori.
"Jadi, kau dan si Sakura itu sudah jadian?" tanya Kakek saat ia dan Gaara tengah duduk di ruang keluarga, menanti kedatangan salah satu cucunya dari . Gaara hanya bisa nyengir sambil mengangguk semangat.
"Kapan-kapan, kau harus bawa dia kemari. Kenalkanlah pada Kakek." ujar lelaki tua terasa miris. Selama sepuluh tahun ini, ia telah menyembunyikan sebuah rahasia besar terhadap cucunya itu. Ia sangat-sangat ingin memberi tahunya. Tetapi, apakah ia sanggup menerima reaksi Gaara saat mengetahuinya.
Lamunanya terpecah saat ia menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Sedetik kemudian, sang Kakek mendapati orang yang sejak tadi ditunggunya tengah berdiri di pintu ruang keluarga. "Sasori!" sapanya pada tamunya.
Pemuda yang disapa 'Sasori' itu setengah berlari menghampiri kakeknya, kemudian memeluknya. "Kakek, aku merindukanmu." ujarnya seraya memeluk sang Kakek.
"Aku juga. Kau makin tinggi dan gagah, Sasori." balas sang Kakek. Sasori hanya tersenyum, kemudian berbalik dan menyapa Gaara, "Hei, kau apa kabar?"
"Kabar baik. Kau sendiri?" jawab Gaara.
"Aku baik juga."
"Sasori, kau pasti lelah. Pergilah ke kamarmu, istirahatlah." perintah sang Kakek. Sasori mengangguk dan bergegas menuju ke kamarnya sambil menenteng kopornya.
Sesampainya di kamarnya, ia langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia membuka coatnya dan mengeluarkan laptopnya dari dalam kopornya. Ia menyalakannya dan langsung mengklik icon messenger di sudut bawah desktopnya.
Di layarnya tertera contact list yang menampilkan semua temannya yang sedang online. Sasori menelusuri setiap nama itu dan menemukan orang yang dicarinya, pinksakura. Ia mengklik nama itu dan mulai menyapanya.
darkssr: hi
pinksakura: hi, apa kabar?
darkssr: baik
darkssr: kau sendiri?
pinksakura: sangat baik =D
darkssr: aku tahu kau baru jadian ;P
pinksakura: lol
darkssr: btw, aku punya kabar baik
pinksakura: apa?
darkssr: aku sedang di Tokyo
pinksakura: kau sudah pulang dari Korea?
darkssr: Yep, dan...
darkssr: aku berencana mengajakmu ketemuan.
darkssr: makan siang bersama. Mau?
pinksakura: hmmm, tentu :)
TIIN... TIIIINN...
Suara klakson sebuah mobil membuat Sakura refleks melihat ke arah jendela. "Itu Gaara!" serunya. Ia bergegas menghabiskan sarapannya, menyambar tasnya dan melangkah menuju pintu. Tapi saat ia hendak membuka pintu, seseorang menahan tangannya, "Sakura, kumohon, menjauhlah dari anak itu."
Sakura menatap heran ibunya. Ia benar-benar tidak mengerti tentang ucapan wanita itu barusan. "Kk-kenapa?" tanya Sakura heran.
Ibunya hanya terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap mata emerald Sakura penuh arti. Sakura makin tidak mengerti. Ia lalu meninggalkan ibunya dan bergegas keluar dari rumah. "Aku pergi dulu," pamitnya.
Di luar, Gaara sudah berdiri di depan pagar rumahnya. Sakura cepat-cepat menghampirinya. "Maaf, ada sedikit masalah dengan ibuku," ujarnya sambil menutup kembali pintu pagar yang ia lewati.
"Bukan masalah," ujar Gaara, membukakan pintu di sebelah kiri depan mobil. "Ayo, berangkat." ajak Gaara.
"Ada sesuatu dengan ibuku," gumam Sakura. Saat itu sedang jam istirahat. Ia dan Gaara memutuskan untuk duduk di bangku taman di belakang sekolah. Sakura duduk sambil membaca novel terjemahan kesukaannya, sementara Gaara merebahkan tubuhnya di sebelah Sakura dengan kepala di pangkuan gadis itu. "Ada apa dengan ibumu?" tanya Gaara.
Sakura menutup buku novelnya dan menatap mata jade hijau milik Gaara, "entahlah, tadi..." Sakura ingin sekali menceritakan tentang ucapan ibunya tadi pagi. Tapi, ia terlalu takut akan reaksi Gaara. Baru seminggu ia menjalin hubungan dengan Gaara, Sakura tidak mau membuat semuanya berantakan.
"Ibumu kenapa, Sakura?" Gaara menatap mata Sakura, meminta penjelasan.
Gadis itu menggeleng, "tidak penting, kok. Lupakan saja." ujarnya sambil tersenyum. Ia cepat-cepat mengalihkan pembicaraan. "Jadi, sepupumu yang dari Korea itu sudah pulang?"
Gaara mengangguk, "Yep. Ia baru datang tiga hari yang lalu. Bagaimana kalau nanti kau datang ke rumahku. Aku akan mengenalkanmu dengannya, juga kakekku," tawar Gaara.
Sakura cepat-cepat menolaknya, "jangan hari ini. Aku sudah ada janji. Bagaimana kalau besok?"
Gaara menatap Sakura lagi, "Kau mau kemana hari ini?"
Siang ini Sakura ada janji makan siang dengan teman dunia mayanya itu. Gadis itu merasa sedikit kesulitan untuk menjelaskannya kepada Gaara. "Err, kau masih ingat tentang teman chatting-ku yang aku ceritakan tempo hari, kan?" tanyanya pelan-pelan.
"Hm-mm," jawab Gaara dengan dahi berkerut.
"Siang ini, dia mengajakku makan siang," ujar Sakura. Gaara spontan menegakkan tubuhnya, duduk tegap di samping Sakura, "APA?"
"Dia. Mengajakku. Makan. Siang." jelas Sakura ragu-ragu.
Gaara berpikir sejenak kemudian berkata, "Aku ikut."
Sakura membulatkan matanya, tak percaya. "HA? Kau mau ikut?" tanyanya terkejut.
Gaara mengangguk, kemudian berkata, "Kau tahu, kan? Kau satu-satunya orang yang selalu kukhawatirkan. Aku bisa mati berdiri karena khawatir jika aku tidak ikut. Kau mau, aku mati berdiri karena mengkhawatirkanmu?" kata Gaara dengan wajah lugu dan puppy-eyes-nya.
Sakura nyengir, menahan dirinya untuk tertawa. "Lagipula, apa yang kau khawatirkan?" tanya gadis itu.
"Bagaimana kalau dia ternyata seorang penculik? Bagaimana kalau ternyata dia mempunyai rencana jahat terhadapmu? Dan yang paling buruk..." Gaara berhenti bicara sejenak, kemudian melanjutkan, "bagaimana kalau dia berencana merebutmu dariku?"
Tawa Sakura meledak seketika. Ia menutup wajahnya untuk menutupi tawanya yang besar itu. "Kau lucu sekali, tahu?" ujar Sakura.
"Hei, aku serius. Pokoknya aku harus ikut!" tukas Gaara.
"Ya, ya, kau boleh ikut." ujar Sakura, "Kalaupun dia berniat merebutku darimu, kau akan tetap menjadi satu-satunya pria terbaikku." lanjutnya.
"Dia hanya bilang kalau dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru, celana jeans hitam dan err... rambutnya merah, sepertimu." jelas Sakura pada Gaara. Mereka berdua sudah berada di sebuah restaurant ramen, tempat dimana Sakura akan menemui teman misteriusnya. Gaara menatap sekeliling restaurant dan mendapati seseorang berambut merah duduk memunggungi mereka berdua.
"Itu dia." ujar Gaara, menarik tangan Sakura menghampiri orang itu.
"Siang," sapa Gaara saat mereka berdua sudah berdiri tepat di samping meja pemuda itu. Dan, seketika wajahnya menyiratkan keterkejutan. Begitu juga pemuda berambut merah yang duduk di kursi di hadapan mereka. "Sasori?"
Mata cokelatnya menatap Gaara dengan terkejut, "Gaara? Kau sedang ap—"
"Kalian saling mengenal?" tanya Sakura memecahkan ketegangan di antara dua cowok dihadapannya.
Gaara cepat-cepat bertanya pada gadis di sampingnya, "Apa benar dia orangnya? Kau tidak salah orang, kan?"
Sakura tampak semakin bingung. Ia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang rupa teman dunia mayanya tersebut. Tetapi, kalau dicocokkan dengan ciri-ciri yang ia berikan, semuanya persis. "Entahlah, tapi menurut ciri-cirinya, memang dia orangnya," jawab Sakura ragu.
Gaara mendesah, "dia ini sepupuku yang baru saja pulang dari Korea."
Sakura tertegun. Ia baru sadar bahwa pepatah yang mengatakan bahwa 'dunia ini sempit' itu benar-benar nyata. Ia tidak pernah menyangka kalau sepupu Gaara yang baru saja pulang dari Korea adalah teman dunia mayanya yang juga baru pulang dari Korea.
"Dunia memang sempit," ujar pemuda yang dipanggil 'Sasori' itu, seakan ia bisa membaca pikiran Sakura. "Lebih baik kalian duduk." tawarnya saat menyadari bahwa Gaara dan Sakura masih berdiri sejak tadi.
Gaara dan Sakura akhirnya duduk bersebelahan berhadapan dengan Sasori. "Oh ya, aku Sasori no Akasuna. Senang bertemu denganmu, ngg—"
"Haruno Sakura," timpal Sakura sambil tersenyum.
"Dan, kau. Kenapa kau di sini?" tanya Sasori pada sepupunya yang datang tanpa diundang. Gaara memutar bola matanya, kemudian bertanya, "apa dia belum menceritakan tentang diriku?"
Sasori menatap bingung terhadap Sakura dan Gaara bergantian, "menceritakan tentang apa?" tanyanya bingung.
Sakura tertawa kecil, "dia pacarku." ujarnya pada Sasori, "aku sudah menceritakannya, kok, tapi aku belum menyebutkan namamu." jelasnya pada Gaara.
"Jadi dia Sakura yang kau bicarakan? Kau harus cepat-cepat mengenalkannya pada Kakek," ujar Sasori.
"Aku merasa jadi benda mati barusan," keluh Gaara saat ia mengantarkan Sakura pulang. Selama dua jam tadi, Sakura dan Sasori mengobrol panjang lebar tanpa memperhatikan dirinya. Ia berkali-kali menguap dan mengetuk-ngetukkan jemarinya untuk mengusir kebosanan.
"Aku sudah bilang, kan? Kau tidak perlu ikut, Gaara," jawab Sakura lembut.
"Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak menyesal untuk ikut denganmu tadi." sanggah Gaara.
Sakura mengerutkan dahinya, "kenapa?"
"Well, semua orang tau siapa Sasori. Dia terkenal, kaya, atlet hebat dan err, keren. Semua cewek pasti luluh terhadapnya, tanpa terkecuali. Setidaknya, dengan adanya diriku, aku bisa menghalangi 'pancarannya' yang meluluhkan itu terhadapmu." jelas Gaara.
Tawa Sakura meledak saat mendengarkan pengakuan Gaara, "Kau salah." tukas Sakura.
"Salah?"
"Yep. Kau bilang semua wanita akan luluh terhadapnya, tanpa terkecuali. Nyatanya aku tidak begitu." jawab Sakura.
"Oh ya?" goda Gaara, menutupi rasa bahagia yang meledak-ledak di hatinya.
"Tentu. Kau bahkan tau, siapa satu-satunya pemuda yang bisa membuatku luluh dan meleleh di tempat." terang Sakura.
"Siapa?" Gaara bertanya sambil menyembunyikan senyumnya.
"Kau perlu penjelasan?" tanya Sakura, "dia pemuda termanis yang pernah kutemui. Kau tahu, dia sama sekali tidak berbakat soal cara menyatakan perasaan dengan baik. Tapi dia sangat-sangat berbakat soal cara menyatakan perasaan dengan unik."
"Unik? Apanya yang unik?"
"Dia meneleponku di tengah malam. Dia bilang dia tidak bisa tidur, lalu dia menyanyikanku sebuah lagu indah dan akhirnya menyatakan perasaannya padaku. Kau tahu, itu membuatku luluh!" serunya.
Jade bertemu emerald. Mata jade itu terang-terangan memancarkan cinta dan ketulusan. "Aishiteru, Sakura." ujar si empunya sepasang jade hijau itu.
Sakura masuk ke dalam rumahnya. Sepi, seperti biasa. Ia menoleh ke arah jam dinding, pukul tujuh lewat tiga puluh menit. "Ibu pasti sudah tidur," ujarnya pada diri sendiri.
Tapi ternyata dugaannnya salah, saat ia sampai di ruang keluarga, ia mendapati ibunya sedang duduk terdiam. "Hai, bu. Belum tidur." sapanya. Tidak ada jawaban dari ibunya, hanya sebuah gelengan pelan. Sakura menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan, 'kau hanya perlu sabar, Sakura.' batinnya.
Sakura bergegas melangkah ke kamarnya. Namun, "Sakura," panggilan dari ibunya menghentikannya. Ia menoleh ke arah ibunya, mendekatinya dan duduk tepat di sampingnya.
"Ada ap—" tanya Sakura yang langsung dipotong oleh pertanyaan ibunya, "Kau masih berhubungan dengannya?"
Sakura terlonjak. Ibunya menanyakan pertanyaan ini lagi. "Dengan Gaara?" tanya Sakura. Padahal, ia sudah tahu bahwa memang dialah yang ibunya maksud.
"Kau tidak bisa berhubungan lagi dengannya. Kau harus menjauhinya." jelas Nyonya Haruno.
"Tapi, kenapa? Ibu selalu melarangku tanpa sebab. Aku menyukainya, bu. Aku mencintainya," terang Sakura.
Ibunya menggeleng pelan. "Itu tidak wajar. Itu tidak boleh."
"Kenapa, bu? Kenapa tidak wajar? Kenapa tidak boleh?" tanya Sakura setengah berteriak. Ibunya hanya diam. Tidak menjawab. Sakura masih mencoba bersabar. Ia tahu ibunya berbeda. Ia harus sabar.
Sakura masih menunggu jawaban ibunya selama beberapa menit. Tapi tak kunjung ada jawaban yang keluar dari bibir ibunya. Ia pun bangkit dan bergegas menuju kamarnya.
"Dia itu saudara kembarmu," tukas ibunya tanpa ragu.
Sakura merasa atap rumahnya runtuh dan menimpa dirinya. Ia masih mencoba mencerna kalimat yang diucapkan ibunya. 'Dia itu saudara kembarmu'...
Gaara, saudara kembarku.
"Tidak mungkin."
Sasori duduk di pinggir ranjang kakeknya. Ini sudah masuk waktu tidur kakeknya. Tapi, ia dan kakeknya masih asyik mengobrol.
"Apa tidak ada wanita yang cantik di Korea?" tanya kakeknya setengah menggoda.
Sasori menggeleng. "Cewek di sini lebih cantik. Aku juga tidak mau punya pacar yang berbeda kota. Terlalu jauh." jawabnya.
Mereka terdiam sejenak. Sang Kakek menegakkan duduknya, matanya menerawang. Ada satu hal yang ingin sekali ia ceritakan kepada Sasori dan ia rasa inilah saatnya.
"Sasori, kau sudah bertemu dengan kekasihnya Gaara?" tanyanya.
Sasori mengangguk, "Ya. Ada apa dengan Sakura?"
Sang Kakek menaut-nautkan jemarinya. Ia kelihatan kesulitan untuk menceritakannya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kau dan Gaara sebenarnya sama sekali tidak memiliki ikatan keluarga. Dia bukan sepupumu," ujarnya perlahan.
Sasori tampak terkejut. Ia membuka mulutnya, hendak bertanya. Tetapi, cepat-cepat ia tutup kembali saat kakeknya melanjutkan ceritanya.
"Saat ibunya Gaara melahirkan, anak yang ia lahirkan meninggal seketika. Padahal, ia sangat-sangat mengidam-idamkan anak itu. Anaknya laki-laki. Tidak ada yang berani memberitahunya tentang kematian anaknya. Mereka semua takut akan reaksi wanita itu. Begitu juga denganku," ungkap Sang Kakek.
"Dua bulan kemudian, wanita itu meninggal, bunuh diri. Aku sangat terpukul saat itu. Aku kehilangan satu cucuku, kemudian disusul dengan kehilangan anak perempuanku. Aku merasa aku akan gila saat itu juga,"
"Sampai akhirnya, enam tahun kemudian, aku bertemu dengan keluarga Haruno. mereka mempunyai sepasang anak kembar berumur enam tahun, salah satunya Gaara. Ia sangat-sangat mirip dengan cucuku. Mereka juga seumuran. Entah setan apa yang sedang merasukiku saat itu. Aku menyuruh orang untuk menculiknya dan membawanya kemari,"
"Aku memang jahat." ujar Sang Kakek mengakhiri ceritanya.
Sasori tidak tahu harus berkata apa. Kepalanya dipenuhi jutaan tanda tanya. "Jadi, Gaara dan Sakura adalah... saudara kembar?"
-TBC-
Review ya! ^^
