God's Rules

Chapter 4

Summary: Jika semua ini benar, aku hanya boleh mencintainya sebatas saudara kembar. Padahal, cintaku padanya lebih dari itu... lebih dari apapun.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story: Dreamer_Girl0210

Pairing: GaaXSakuXSaso

Rated: T

Warning! AU, OOC, TYPO, DLDR, RnR. I'm still a newbie. Give me more advice!

Write in Normal POV.

.

.

.

Sakura menenggelamkan wajahnya di bantal. Ia tidak mau orang lain mendengar isakannya. Padahal, ia sendiri tahu, bahwa tidak ada orang lain di rumah itu. Selain ibunya.

Matanya terasa sangat perih. Ia sudah menangis lebih dari dua jam. Rasa perih itu sama sekali tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

Sakura tak percaya atas apa yang baru saja ia ketahui. Ia dan Gaara adalah saudara kembar. Ia menemukan puluhan foto dirinya dan Gaara saat kecil di belakang lemari pakaian ibunya. Sama sekali tidak ada hal yang bisa mengelakkan kenyataan itu, kenyataan bahwa Gaara adalah saudara kembarnya.

Sakura ingin sekali memberitahu seseorang tentang hal ini. Ia butuh seseorang untuk berbagi. Ia butuh seseorang yang bisa menghiburnya, menghentikan tangisannya, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan orang itu bukan Gaara, tidak mungkin dia.

Sakura tidak sampai hati untuk memberitahunya. Ia sudah membayangkan reaksi Gaara saat mengetahuinya. Ia tidak mau Gaara merasa sakit.

Tangis Sakura makin menjadi saat telepon genggamnya berdering dan memunculkan nama Gaara di sana. Sudah yang kesekian kalinya Gaara menelepon dan tak ada satu pun yang ia jawab. Ia tidak mau Gaara mengetahui keadaannya sekarang.


Gaara melempar telepon genggamnya ke meja kayu di samping tempat tidur. Ia berkali-kali menelepon Sakura tapi gadis itu tidak pernah mengangkatnya. Di kepalanya muncul banyak pertanyaan yang membuat perasaannya kalut.

"Kau dimana, Sakura?" tanya berkali-kali.

Waiting for your call,

I'm sick,

I'm angry,

I'm desperate for your voice

.

Cause every breath that you will take

when you're sitting next to me

Will bring life into my deepest hope

Gaara menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Ia merasa dirinya akan mati saat itu juga.

Gaara mencoba mencari apa alasan Sakura untuk menutup diri terhadapnya. Ia memutar otaknya, mencoba mengingat apa yang Sakura pernah katakan kepadanya.

'Ada sesuatu dengan ibuku,'

"Ya, pasti karena itu," seru Gaara. Ia bangkit dari tempat tidurnya dengan terburu-buru. Menyambar jaket kulitnya, meraih handphone dan kunci mobilnya, kemudian bergegas pergi bersama Porsche-nya.


pinksakura: Sasori, kau sedang sibuk?

darkssr: tidak.

darkssr: ada apa?

pinksakura: bisa bertemu?

pinksakura: sekarang, di central park

darkssr: tentu. tunggu aku disana.

pinksakura: terima kasih.


Sakura tidak tahu harus bicara kepada siapa. Ia tidak mungkin bicara dengan Gaara—kau sudah tahu alasannya. Akhirnya ia menghubungi Sasori. Memintanya untuk datang ke central park, tempat ia berada saat ini.

Sakura duduk sambil sesekali menyeka air matanya. Angin sore yang berhembus kencang membuatnya sedikit menggigil. Sakura tidak merasakan dingin sedikitpun—dan bahkan dia tidak memakai jaket, sweater, atau penghangat lainnya, ia hanya mengenakan jeans kusam dan kaus biru muda berlengan pendek. Tubuhnya mati rasa. Perasaan sakitnya yang luar biasa membuat seluruh inderanya tidak berfungsi dengan baik.

"Hai," sapa seseorang. Sakura menoleh ke belakang dan mendapati Sasori tengah berdiri menatapnya sambil tersenyum. Sakura balas menyapanya dan sekuat tenaga mencoba memberikannya senyum. Ia sama sekali tidak bisa tersenyum saat ini.

Sasori duduk di samping gadis berambut pink itu. Tanpa sengaja telapak tangan mereka bersentuhan. Dingin. Itulah yang dirasakan Sasori. Gadis di sampingnya hampir membeku. "Kau kedinginan?" tanyanya. Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Sasori segera melepas cardigan-nya dan menyodorkannya pada Sakura. Sakura menatap mata cokelat Sasori, kemudian memakainya ragu-ragu. Sakura bisa merasakan kehangatan di balik cardigan hitam ini. Aroma khas Sasori menguar dari cardigan itu.

"Terima kasih," ujar Sakura seadanya. Sasori membalasnya dengan senyuman.

"Jadi, kenapa kau menyuruhku datang kemari?" tanya pemuda itu.

Sakura menelan ludahnya kemudian mulai bercerita, "ini soal aku dan Gaara," ujarnya.

Sasori terdiam. Ia mencoba menebak ada apa antara gadis di depannya dengan Gaara, dan seketika ia tahu jawabannya. Sakura terlihat lemah. Matanya memerah karena menangis. Wajahnya pucat. Dan tubuhnya dingin. Rambut merah mudanya kusut dan berantakan. "Kenapa?"

Sakura tidak menjawab. Ia malah menunduk dan mulai terisak. Matanya berkaca-kaca. Sasori tahu gadis itu akan menangis sebentar lagi. Ia mengeluarkan selembar sapu tangan katun yang terlipat rapi dan menyodorkannya pada Sakura. Gadis itu menerimanya dan cepat-cepat menyeka air matanya.

Sasori sama sekali tidak tahu cara menenagkan seorang wanita yang sedang menangis selain dengan merangkul dan menariknya ke pelukan. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Lihat siapa gadis ini! Sakura. Dia cinta mati Gaara, sepupunya. Walaupun sekarang keadaannya lain. Gaara bukanlah sepupunya. Dan, Gaara adalah...

"Sebenarnya," ujar Sakura memulai ceritanya, "aku dan Gaara adalah—" Sakura berhenti berbicara. Ia tidak sanggup mengucapkan kata-kata selanjutnya.

"Saudara kembar?" ujar Sasori pelan, "aku sudah tahu soal itu. Kakek yang menceritakannya kepadaku." lanjutnya.

Mata Sakura melebar. Ia terkejut. Ia menatap Sasori, "Apakah Gaara juga mengetahuinya?" tanya Sakura.

Sasori menggeleng, kemudian mata cokelatnya menatap langsung sepasang emerald hijau di sampingnya. "Sama seperti kau. Dia juga akan hancur."

"Kumohon jangan beritahu dia," pinta Sakura, "maksudku, dia memang harus tahu yang sebenarnya. Tapi, tidak sekarang," lanjutnya.

Sasori mengangguk pelan, "aku mengerti."

Sunyi. Mereka berdua diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Sasori membukanya lagi, dengan sebuah pertanyaan, "Kau tidak mengangkat semua telepon dari Gaara hari ini?"

Sakura menggeleng, "Aku tidak bisa berhenti menangis sejak pagi. Aku tidak mau dia tahu keadaanku," jelasnya.

"Kurasa itu bukan tindakan yang tepat. Kau tahu? Dia mengurung dirinya di kamar. Tidak makan sejak pagi. Itu karena kau," ujar Sasori.

Sakura sadar bahwa Gaara pasti akan mengkhawatirkannya. Tapi, Sakura sama sekali tidak punya pilihan untuk menyembunyikan keadaan dirinya, selain dengan menutup diri terhadapnya.

"Gaara ada di rumah, kan? Antar aku ke sana, sekarang." ujar gadis itu tiba-tiba.


Gaara menatap kediaman keluarga Haruno dari luar pagar. Sepi. Ia tidak yakin apakah gadis yang ia cari ada di dalam.

Gaara membuka selot pintu pagar rumah itu dengan hati-hati, kemudian berjalan mendekati pintu depan. Ia mengetuk pintu kayu di depannya. Tidak ada seorang pun yang muncul dari balik pintu itu selama beberapa menit. Tetapi, saat Gaara hendak meninggalkan rumah itu, seorang wanita paruh baya berwajah pucat muncul di ambang pintu.

Gaara cepat-cepat menyapanya, "Selamat sore, Nyonya Haruno." Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya diam menatap Gaara.

Gaara mengerutkan dahinya. Tapi ia mencoba tetap tersenyum dan kembali bertanya, "bisa bertemu dengan Sakura? Saya Sabaku no Gaara, teman sekolah Sakura."

Nyonya Haruno menggeleng. Sama sekali tidak ada emosi yang bisa Gaara liat di wajahnya. Wajahnya datar. Matanya terus menatap Gaara, entah apa artinya.

"Terima kasih, kalau begitu. Saya permisi dulu, Nyonya Haruno. Selamat sore." ujar Gaara akhirnya. Ia membungkukkan badannya, kemudian berbalik. Tapi saat ia hendak pergi, terdengar Nyonya Haruno memanggil namanya, "Gaara,"

Gaara berbalik lagi, berhadapan dengan Nyonya Haruno yang masih menatapnya. Ia mendekati wanita paruh baya itu. Dan tanpa ia duga, wanita itu menghambur memeluknya. "Kau kemana saja selama ini?" ujar wanita paruh baya itu.

Gaara tidak bisa menjawab. Ia sama sekali tidak mengerti atas pertanyaan Nyonya Haruno. Dari suaranya terdengar luapan rasa rindu yang sangat besar. Tapi itu tidak mungkin. Ia bahkan baru kali ini berbicara dengan Nyonya Haruno secara langsung.

Setelah beberapa menit, wanita tadi melepaskan pelukannya, kemudian kembali menatap Gaara. Gaara cepat-cepat membungkukkan badannya, kemudian berpamitan dan segera bergegas masuk ke dalam mobilnya.

Saat Gaara menjalankan mobilnya, ia masih bisa melihat Nyonya Haruno berdiri menatapnya. Dan, wanita itu menangis.


Gaara menghempaskan dirinya begitu saja di tempat tidurnya. Kepalanya terasa pusing. Banyak pikiran yang berlarian di kepalanya. Ia masih belum tahu dimana dan bagaimana keadaan kekasihnya sekarang. Ditambah dengan kejadian di rumah Sakura beberapa saat yang lalu.

Gaara menutup matanya. Ia mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan dirinya selama ini. Apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang dirinya selama ini? Pasti ada seseorang yang bisa menjelaskan ini semua. Tapi siapa?

Sampai akhirnya seseorang mengetuk pintu kamarnya. Gaara enggan membukanya. Ia sama sekali tidak mau seorang pun mengganggu ketenangannya—jelas-jelas Gaara sedang tidak tenang. "Siapa? Kalau tidak penting, kau lebih baik pergi," ujarnya keras-keras.

"Gaara, ini aku. Sa—"

"Sakura?"

Gaara merdengar sebuah suara yang sejak tadi pagi ia tunggu-tunggu, yang sekarang berada di balik pintu kamarnya. Ia menampar pipinya, memastikan bahwa... "Ini bukan mimpi," gumamnya.

Gaara cepat-cepat bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas membuka pintu kamarnya. Ia menghambur memeluk gadis di depannya saat pintu kamarnya sudah terbuka. Gadis itu membalasnya dengan pelukan erat. "Kau kemana saja, Sakura? Aku merindukanmu," bisiknya.

"Aku juga." jawab gadis itu singkat.

Dua sejoli itu berpelukan cukup lama, hingga akhirnya masing-masing melepaskan pelukan mereka. "Darimana kau tahu rumahku?" tanya Gaara.

"Sasori," ujar Sakura sambil tersenyum, "aku senang bisa bertemu denganmu lagi." lanjutnya.

Gaara memasang wajah kesalnya, "Kau tahu, kau hampir membunuhku hari ini? Kau tidak memjawab teleponku, tidak membalas pesanku, tidak mengabariku kau sedang apa dan dimana," tuntutnya, kemudian wajahnya melembut dan terukir sebuah senyuman di sana, "Jangan ulangi itu lagi." lanjutnya.

"Tidak akan. Aku tidak akan mengulanginya," jawab Sakura lembut.

Mereka saling menatap untuk sejenak. Mata emerald Sakura memancarkan rasa kagum terhadap sepasang jade hijau di depannya.

"Sasori bilang kau belum makan sejak pagi. Benar?" tanya Sakura kemudian.

"Sasori itu lama-lama seperti ember, ya." gumam Gaara, "Belum," jawabnya.

"Ayo, aku akan menemanimu makan," ajak Sakura.


Sakura dan Gaara akhirnya mekan malam bersama. Mereka berdua menikmati makanan mereka masing-masing di ruang makan keluarga Gaara yang megah itu. Sakura tertawa saat melihat pemuda di hadapannya memakan banyak sekali makanan, seperti orang yang belum makan tiga hari.

"Pelan-pelan saja, Gaara. Makanannya tidak akan kemana-mana." ujar Sakura sambil menggeleng.

"Kau tahu sendiri kalau aku belum makan sejak pagi. Dan ini semua gara-gara kau," balas Gaara.

Sakura dan Gaara kembali menyantap makanannya. Hingga akhirnya mereka selesai dan Sakura bertanya, "Kakekmu dimana?"

"Ada di kamarnya. Setelah ini kita akan ke sana. Kau tahu? dia selalu memintaku membawamu kemari, mengenalkanmu kepadanya. Ternyata kau malah datang kemari dengan sendirinya," ucap Gaara sambil nyengir.

"Ayo, kita temui kakekku," ajak Gaara beberapa saat kemudian. Sakura mengangguk dan mengikuti Gaara menaiki tangga ke lantai dua.

Gaara dan Sakura berhenti di depan sebuah pintu kayu di lantai dua. Itu pintu kamar kakek Gaara. Gaara mengetuk pintu itu beberapa kali, kemudian mendorong pintu itu setelah mendengar gumaman singkat dari dalam kamar.

Gaara bisa melihat gadis di belakangnya merasa ragu untuk masuk. Ia kemudian menggandeng tangan gadis itu dan menariknya masuk.

Kamarnya luas, sejuk, nyaman dengan cahaya yang cukup. Sakura bisa melihat seorang pria berusia tujuhpuluhan duduk bersandar di atas tempat tidur mewah di tengah-tengah kamar. Gaara berjalan menghampiri pria itu. Mau tidak mau Sakura harus mengikutinya. Dalam hati, ia meruntuki dirinya sendiri, kenapa ia tidak meminta Sasori untuk mengantarkannya kembali ke rumahnya sejenak, untuk mengganti pakaian yang lebih sopan.

"Hai, Kakek. Sudah makan dan minum obat?" sapa Gaara. Kakeknya mengangguk, kemudian tersenyum saat melihat ada seorang gadis di belakang cucunya, "Dia pasti Sakura-mu," tebak pria tua itu.

Gaara nyengir, kemudian berkata pada Sakura, "Sakura, perkenalkan, ini kakekku," Sakura membungkukkan tubuhnya di depan kakek Gaara. Gaara menoleh ke arah kakeknya dan mengatakan hal yang sama, "Kakek, ini Sakura."

"Senang bertemu dengan Anda, Tuan—"

"Panggil saja aku 'Kakek'. Sama seperti Gaara dan Sasori," ujar pria tua itu cepat-cepat, memotong perkataan Sakura.

"Ya. Senang bertemu dengan Anda, err—Kakek." ujar Sakura sedikit canggung.

Pria tua itu terkekeh perlahan, "Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Sakura. Kau jauh lebih cantik daripada yang Gaara ceritakan." ujar Sang Kakek sambil menatap Sakura dari atas hingga ujung kaki.

"Err, saya minta maaf. Tadi saya terlalu terburu-buru datang kemari, hingga tidak sempat berganti pakaian," ujar Sakura sangat jujur.

Kakek Gaara hanya tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Sakura. Memangnya kenapa kau buru-buru datang kemari?" tanyanya.

"Sasori bilang bahwa Gaara mengurung dirinya di kamar sejak pagi. Ia juga tidak mau makan. Yah, saya pikir dia membutuhkan seseorang untuk memaksanya keluar dan makan. Jadi saya cepat-cepat kemari," ungkap Sakura tanpa basa-basi.

Gaara hanya menatap Sakura dengan tatapan yang berkata 'Kau sama embernya dengan Sasori'. Sakura memalingkan wajahnya sambil tertawa.

"Tapi ini semua karena dia tidak menjawab teleponku sepanjang hari. Wajar saja jika aku khawatir," ujar Gaara melakukan pembelaan.

Tawa pria tua itu makin besar saat mendengarkan cerita dari kedua anak muda di depannya. Ia sejenak melupakan kenyataan bahwa mereka saudara kandung. Begitu juga Sakura. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu bahagianya bersama Gaara yang sebentar lagi akan usai.

Sakura melirik jam dinding yang menempel di dinding kamar itu dan mendapati jarum pendenk sudah mendekati angka delapan. "Kakek, sepertinya saya harus pulang sekarang. Saya tidak ingin mengganggu waktu istirahat Anda. Ibu saya juga akan khawatir jika saya pulang terlalu larut." pamit Sakura.

"Yah, sebenarnya aku masih ingin mengobrol banyak bersamamu, Sakura. Kuharap kau bisa sering-sering mengunjungiku." ujar Kakek.

"Ya. Aku akan sering-sering datang kemari, Kakek." jawab Sakura.

"Kalau begitu, aku juga pamit ya, Kek. Aku akan mengantar Sakura pulang." pamit Gaara.

Pria tua itu mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, ini sudah malam." pesan Sang Kakek.

Sakura cepat-cepat membungkukkan lagi tubuhnya, kemudian berkata, "Sekali lagi, senang bertemu dengan Anda. Selamat malam," ujarnya.

Sakura pun mengikuti Gaara berjalan menuju pintu. Sesaat sebelum Gaara menutup pintu, pria tua itu berseru pada Gaara, "Tolong panggilkan Sasori. Aku perlu bicara dengannya." Gaara mengangguk singkat, kemudian menutup pintu kamar itu rapat-rapat.


Porsche Gaara berhenti di depan rumah keluarga Haruno. Gaara menoleh ke arah gadis berambut merah jambu yang duduk di sampingnya, "Sudah sampai." serunya.

Sakura tersenyum, "Aku senang bisa mengenal kakekmu. Dia pria yang baik," ujarnya. Mereka berdua diam, hanya saling berpandangan. Sakura sangat enggan untuk turun. Ia masih ingin menghabiskan harinya bersama Gaara.

"Aku mencintaimu," ujar Gaara perlahan. Ia merengkuh tengkuk Sakura, mendekatkannya dan mengecup keningnya. Ia membiarkan bibirnya tetap di sana. Kalau bisa, ia sangat-sangat ingin membiarkannya begini terus. Selamanya.

"Aku juga. Kalau ada yang bilang cintaku padamu sebesar dunia, kau tidak boleh mempercayainya," ujar Sakura, "karena cintaku lebih besar dari itu. Lebih besar dari apapun."

"Ya. Aku tahu," jawab Gaara, "Jangan juga percaya jika ada seseorang yang bilang bahwa aku akan menangis saat kehilanganmu. Karena, aku akan mati saat itu juga jika aku kehilanganmu. Seperti tadi,"

'Aku juga tidak bisa membayangkan jika aku harus kehilanganmu, Gaara. Takdirku mengatakan itu akan terjadi sebentar lagi. Ya, sebentar lagi aku akan kehilanganmu, saat kau tahu siapa kita sebenarnya.' batin Sakura.

Waktu mendesak Sakura untuk turun dari mobil. Tapi, saat Sakura hendak keluar, Gaara memanggilnya lagi. "Ada apa?" tanya Sakura.

"Err, ada yang ingin aku ceritakan kepadamu. Tapi, kurasa lebih baik kita membicarakannya besok, di sekolah." jawab Gaara, ragu-ragu.

"Baiklah, selamat malam."

Porsche milik Gaara langsung melesat saat Sakura menghilang dibalik pintu rumahnya.


Gaara melempar jaket dan kunci mobilnya di sofa di ruang keluarga. Ia cepat-cepat naik menuju kamar kakeknya. Ia ingin meminta pendapatnya tentang Sakura.

Namun, niatnya tak bisa terpenuhi saat Gaara mendapati kakeknya sedang mengobrol bersama Sasori. Ia bisa melihatnya dari celah pintu kamar kakeknya yang tidak tertutup dengan rapat. Samar-samar ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Sakura sudah mengetahuinya,"

Gaara tahu itu suara Sasori. Ia mengerutkan dahi. Ia heran, mengapa mereka membicarakan Sakura. Ia juga tidak mengerti tentang apa yang diketahui Sakura.

"Kurasa Gaara harus tahu soal ini. Ia harus tahu bahwa mereka sebenarnya bersaudara kembar,"

Gaara terkejut. Ia tidak percaya atas apa yang ia dengar barusan. "Ini tidak mungkin," gumamnya berkali-kali. Ia mencoba keras untuk meyakinkan dirinya bahwa barusan ia salah dengar.

...bersaudara kembar.

Kata-kata itu memenuhi otaknya.

Gaara menghambur masuk ke dalam kamar kakeknya, membuat kedua orang yang ada di dalam terkejut.

"Katakan bahwa itu tidak benar." ujar Gaara keras-keras.

-TBC-

Abis baca jangan pada kabur, ya! Review dulu, baru kabur. ^^

Ohiya, baca juga fict oneshot saya yang baru. Special for New Year eve, loh!