Yosh, lanjut gan
Hetalia milik Hidekaz Himaruya
"Eh lho? Russia mana?" Tanya England.
"Gak gue ajak, kalo dia datang, hantunya kabur semua." jawab Bandung.
"Oke, pasangan pertama, Germany dan Italy, silakan masuk!" perintah Jakarta.
Mereka pun masuk, dan Indonesia nafsu ngeliatin di kamera.
~('w')~ ~('w')~ ~('w')~
"Vee~ Aku takut~" rengek Italy.
"Tak apa, ada aku disini." jawab Germany. ((CIIEHHH! #plakbumjeder))
Mereka pun berjalan, dan sampai ke hall.
"Hmmm… Besar juga…" gumam Germany.
Tiba-tiba, ada yang nyolek mereka berdua.
"Eh… Germany nyolek?" Tanya Italy.
"Nggak kok…" jawab Germany.
Mereka pun dicolek lagi.
"Ge-Germany… Itu siapa…?" Tanya Italy takut-takut.
"Ki-kita lihat bersama saja… Satu… Dua…"
Saat mereka menengok
Mbak kunti ada di belakang mereka.
Germany buru-buru membekep Italy dan menyenderkan kepalanya ke tubuhnya yang besar.
"Mas… Mau Tanya… Toilet dimana ya…?" Tanya mbak kunti itu.
"G-G-Ga tau! M-M-Maaf mbak!" jawab Germany takut-takut.
"Oh… Yaudah…"
Dan, mbak kunti langsung menghilang begitu saja.
"I-I-Italy… Kita harus keluar dari sini!" Germany teriak dan langsung menggendong Italy ala bridal ((prikitiew! #apaini)) dan lari ke pintu masuk.
Pas mereka keluar, si Nesia langsung main jepret aja, untung ga ketahuan.
"Gimana?" Tanya Semarang.
"Buruk…" jawab Germany ngos-ngosan.
"Oke, pasangan kedua! Spain dan Romano!" perintah Bandung.
Spain langsung narik tangan Romano masuk.
~('w')~ ~('w')~ ~('w')~
"Romaaa~ Aku takuutt!" rengek Spain.
"Diam tomato bastard! Udah kita jalan cepetan biar bisa cepet keluar!" teriak Romano.
Tiba-tiba, Romano melihat sesuatu.
"Eh? Itu apaan?" Tanya Romano.
"Mana?" Tanya Spain.
Mereka langsung melihat bayangan putih di balik jendela yang tertutup.
Spain, dengan polosnya, mendekati jendela itu dan…
"BODOH! JANGAN DIBUKA!" teriak Romano.
Tapi terlambat, Spain keburu ngebuka jendelanya, dan muncullah om pocong yang nongol.
"AAAAAAAAAAAAA!" Spain histeris, Romano pun langsung menarik tangannya dan berlari ke pintu masuk.
"Gimana?" sapa Bandung.
"Nakutin!" teriak Spain.
"Pasangan berikutnya, Nethere dan Nesia!" umum Jakarta.
Nesia beranjak dari tempat duduknya dan menarik Nethere masuk.
~('w')~ ~('w')~ ~('w')~
"Hoi, hoi, ga apa-apa nih?" Tanya Nethere.
"Tenang aje, gue kan kenal sama penunggu sini." jawab Nesia santai.
Nethere diam akhirnya.
"Jalan woi, jangan bengong melulu!" teriak Nesia.
"Eh, sori." jawab Nethere.
Mereka pun jalan, dan sampai ke ruangan besar.
"Widih, ada kaca-kaca gini, kayak gereja aja." si Nesia takjub.
"Eh, ini maksudnya bukan buat keagamaan, tapi ini memang melambangkan Belanda." jawab Nethere.
"Oohh…" si Nesia ngangguk-ngangguk aja.
Mereka pun menyusuri ruangan yang gelap itu hanya dengan senter.
"Gile, ni beneran bekas penjara gue? Ngeri gini… Nyesel nyiksa masyarakatnya si Nesia disini…" bisik Nethere sendirian.
"Lu bicara apa?" Tanya Nesia.
"Eh, nggak." jawab Nethere.
Mereka berjalan, dan secara ga sadar, mereka nyampe jalan buntu.
"Waduh, jalan buntu." si Nesia ngomong akhirnya.
"Eh, gue hapal kok jalan-jalannya, mau balik?" Tanya Nethere.
"Boleh." jawab Nesia.
Dan dengan dituntun oleh Nethere, mereka berhasil balik dengan selamat.
"KOK BISA?" Tanya Romano.
"Secara, gue gitu." jawab Nesia.
"Eh… Pasangan berikutnya…"
~To be continued~
Satu chapter 3 pasangan, tunggu aja chapter depan… Saya usahakan ngebut deh ^^
Minta revieeww
