Galerians, in.
Wahh, saat pertama posting fic ini, hamba mengira akan mendapat siraman flame karena keabalan dan kejelekan cerita, ditambah lagi pairingnya yang tidak biasa. Tapi saat mengecek story stats hari minggu tadi, hamba langsung begini, "Eh? Alhamdulillah ada yang mau nge-review!". Hehehe, jadi kepingin jingkrak-jingkrak saking senangnya, tapi kalau hamba melakukan itu nanti ada yang ngatain sakit jiwa lagi.
Reviews' replies:
Rukawa-Alisa-chan: "Terima kasih banyak ya, untuk review ini juga karena sudah bersedia menyukai karya-karya hamba yang kualitasnya nggak seberapa."
ShiMizu: "Hahaha, itu juga yang jadi pikiran hamba pas menulis chapter 1 cerita ini. Tapi biar pairing jarang, kalau authornya pengen, ya mau gimana lagi? Oh ya, biografi Kyuubi dan Naruto (khusus fic ini) ada di akhir chapter."
Micon: "Walaupun hamba sering bikin romance, tapi memang untuk soal mengukur 'dapet atau nggaknya' itu memang harus hamba percayakan pada readers ya. Ngomong-ngomong, kamu mau nggak kalau fic ini di-insert lemon juga?"
Kuroi5: "Oh, itu pasti."
Ray Ichimura: "Sudah pernah baca ya? Hamba sih bikin pairing ini sebenarnya spontan saja, nggak ada rencana apa-apa, tapi karena inspirasinya muncul, ya apa boleh buat. Sayang kan kalau ide nggak disalurkan."
Chido Victim: "Wah, baru pertama kali ini ada yang manggil hamba abang. Jadi berasa 'kyun' gimana~ gitu…"
Feyri: "Benar? Syukurlah kalau cerita ini keren…"
Zizi Kirahira Hibiki 69: "Buset, panjang amat namamu. Tapi terima kasih sudah jadi reviewer pertama ya, mohon reviewnya juga untuk chapter berikutnya."
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC.
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.
Selamat membaca!
~••~
Living with Your Beast
"K-Kyuubi?" ulang Naruto, tak yakin pada pendengarannya.
"Ya, bocah bodoh," jawab sang gadis dengan sinis. "Atau harus kuejakan dulu baru kau mengerti?"
"Tapi… bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Naruto tanpa basa basi. "Bagaimana kau bisa keluar dari tubuhku?"
"Secara teori, aku sudah bisa keluar dari tubuhku sejak 2 tahun yang lalu," jawab Kyuubi sambil bangkit berdiri. "Atau tepatnya, sejak kau melepaskan Shisho Fuin dan merampas semua chakraku."
Naruto hanya diam menunggu karena tahu wanita itu masih belum selesai bicara. Lagipula, pandangan mata penuh nafsu membunuh yang dia terima adalah peringatan yang jelas-jelas menyatakan kalau pemuda itu lebih baik tutup mulut untuk sementara.
"Selama 2 tahun, aku tetap tinggal di dalam tubuhmu karena aku masih berharap, suatu saat kau akan kehilangan kontrol atas chakraku dan memberiku kesempatan untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi kepunyaanku," desis perempuan bermata merah itu dengan kebencian yang sama sekali tidak disembunyikan. "Andai saja kau membiarkan dirimu dikuasai oleh kebencian satu kali saja, maka aku akan bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk merampas balik chakraku!"
"Tapi itu tak pernah terjadi," potong Naruto. "Dan tak akan pernah terjadi lagi."
"Heh," gadis itu mendengus kesal. "Ya, dan setelah apa yang terjadi kemarin, aku telah kehilangan kesempatanku untuk selamanya. Kau telah menguasai chakra Bijuu secara keseluruhan, kau bahkan mencapai kesempurnaan yang jauh lebih baik dari si Gurita. Semua kekuatanku, semua kemampuanku, kini sudah berpindah ke tanganmu…"
Kyuubi diam sebentar sebelum melanjutkan, "Sekarang, aku tak punya alasan lagi untuk tetap berdiam di dalam tubuhmu…"
Naruto mengerutkan dahi melihat kelakuan gadis berambut merah yang telanjang di depannya. Kalau boleh jujur, saat gadis itu pertama memperkenalkan dirinya sebagai Kyuubi, Naruto sudah menyiapkan dirinya untuk seseorang dengan sikap dan kelakuan yang berbahaya, mengingat kalau Kyuubi itu tercipta dari murni kebencian. Namun sikap gadis yang kini berdiri diam di depannya, sama sekali tidak cocok dengan apa yang ada dalam bayangannya.
"Aku masih bingung," Naruto mengaku. "Kau bilang kalau kau adalah Kyuubi, tapi aku masih menemukan sedikit sekali persamaan antara kalian."
"Apa maksudmu?" tanya gadis itu dengan mata mengernyit.
"Pertama, Kyuubi yang kukenal selalu bersikap ganas, dan dia selalu bersikap seakan ingin mencabik-cabik siapapun yang muncul di depannya. Dan yang kedua…" mata Naruto kembali menelusuri tubuh gadis itu sekali lagi… dan itu membuat wajahnya merona. "Seingatku Kyuubi adalah seekor rubah raksasa berekor sembilan. Dan bagaimana kau ingin aku percaya perkataanmu itu jika sosok yang kulihat sekarang ini hampir tak ada bedanya dengan gadis biasa?"
"Kau sudah jadi Hokage tapi tetap sebodoh ini?" tanya Kyuubi dengan sebuah senyum sinis. "Dasar idiot…"
"Paling tidak aku masih punya kesopanan," balas Naruto dengan sengit, menaikkan sebelah alisnya. "Biarpun bodoh, setidaknya aku punya cukup rasa malu untuk mengenakan baju…"
"Hei, apa gunanya seorang siluman rubah sepertiku memakai pakaian?" tanya Kyuubi acuh, gadis itu bahkan tanpa malu-malu membusungkan dadanya di depan mata Naruto. "Atau kau mengakui kalau tubuhku ini membuatmu bernafsu?"
"H-huh, mending aku menatap nenek-nenek yang lagi mandi," bantah Naruto ketus sambil memalingkan wajahnya, walaupun perbuatannya itu malah semakin memperjelas rona merah yang merayap di kedua pipinya.
"Hehehe, kau manis sekali jika sedang tidak jujur begitu, Na-ru-to-chan…" ucap Kyuubi sambil menjentik pipi Naruto dengan centil, menghasilkan sebuah tatapan tajam dari sang Hokage. "Aww, Naruto-chan menakutkan…"
"Hentikan bercanda seperti itu…!" omel Naruto sambil meraih tangan Kyuubi dan menyentakkan ke samping.
"Tidak perlu bersikap kasar seperti itu kan?" kata Kyuubi sambil mengusap-usap tangannya, berpura-pura kesakitan. Namun ekspresi sang Shichidaime yang dingin dan keras membuat gadis berambut merah panjang itu memutuskan untuk berhenti. "Baiklah, baiklah… aku mengerti…
"Dengan mengambil semua chakraku, kau juga sekaligus membersihkan semua kebencian yang semula mendominasi perasaanku. Asalkan kebencian itu tidak lagi menguasai, maka aku juga tidak akan selalu bersikap ganas. Biar bagaimanapun, aku ini juga makhluk hidup, aku juga punya emosi selain kebencian…" Kyuubi menjelaskan sambil melangkah mundur dan bersandar ke dinding. "Sedangkan untuk pertanyaan kedua… mungkin kau akan terkejut mendengar ini, tapi inilah wujudku yang sebenarnya."
"…Eh?"
"Wujud rubah raksasa itu hanyalah penyamaran yang kubuat demi menyembunyikan diriku yang asli. Dan karena sekarang aku sudah tak memiliki chakra lagi, secara otomatis aku akan kembali ke wujud gadis biasa seperti ini."
"Ho…" Naruto manggut-manggut. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang setelah keluar dari tubuhku…?"
Kyuubi menatap wajah Naruto dengan ekspresi yang tidak bisa dimengerti, Naruto tidak bisa memutuskan apakah itu kemarahan, kerinduan, kebencian… atau sekedar kebingungan. Namun sebelum Naruto bisa meyakinkan dirinya, gadis itu sudah memutus kontak mata mereka untuk menatap ke arah lain.
"Hei…"
"Apa?"
"…" Kyuubi hanya diam sambil menunjuk sesuatu di yang sedang diperhatikannya, dan saat Naruto mengikuti arah tersebut, mata sang Hokage langsung melebar. Sudah jam 9 pagi. "Bukannya ini sudah waktunya kau kerja?"
"…Ah, sial."
~•~
Semua generasi Hokage memperoleh reputasi mereka dengan hal-hal yang berbeda. Sandaime dikenal di mana-mana karena kebijaksanaan dan wawasannya yang luas. Yondaime menjadi terkenal karena keramahannya dan kekuatannya yang ditakuti oleh semua negara. Godaime mendapatan kehormatan tinggi karena kemampuannya dalam penyembuhan yang melampaui shinobi mana saja.
Namun, sang Shichidaime mendapatkan rasa hormat dari bawahannya bukan hanya karena kekuatannya, kebaikannya, atau keceriaannya yang menular pada semua orang. Karena di antara semua Hokage, hanya Naruto-lah yang selalu menyelesaikan pekerjaan di atas meja dalam waktu tersingkat yang memecahkan rekor di semua negara.
Prestasi ini tentu saja membanggakan, terutama bagi sang asisten yang notabene juga merupakan rekan satu tim dengan sang Shichidaime di saat-saat masih aktif sebagai shinobi dulu. Gadis muda dengan rambut pink yang panjangnya sebahu itu kini bahkan bersenandung lembut sambil berjalan melewati koridor menuju kantor Hokage dengan santai.
"Pagi, Sakura-chan!" sapa Naruto dari ruang pemberian misi.
"Pagi, Naruto." Sakura menjawab, menyertainya dengan sebuah senyum lebar.
Dia terus berlalu sampai ke pintu ruang dokumentasi yang terbuka lebar.
"Pagi, Sakura-chan!" Naruto yang sibuk meneliti dokumen-dokumen baru menyapa Sakura yang lewat di pintu.
"Pagi, Naruto." sekali lagi, Sakura hanya menyapa balik sambil terus berlalu.
Semenit kemudian, dia bertemu dengan beberapa Chuunin yang kelihatannya sedang memberi laporan… pada sang Hokage.
"Ah, pagi, Sakura-chan!" sapa Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Pagi, Naruto."
Sakura tidak berhenti, bahkan terus berjalan dengan tempo yang tidak berubah. Senyum di wajahnya masih terpasang, walaupun senandung yang semula mengalun dari bibirnya kini sudah tiada.
Langkah Sakura membawanya sampai ke ruangan di ujung koridor pada lantai tertinggi gedung Hokage, yang pintunya ia masuki tanpa mengetuk karena dia tahu tak perlu. Sesampainya di dalam, tanpa kehilangan senyumnya, Sakura berjalan lurus menuju seorang pemuda berambut pirang yang kini duduk dengan bersandar di punggung kursi dan tangan menopang kepalanya, dengkur yang perlahan terdengar dari hidungnya adalah pertanda kalau pria berusia 18 tahun yang mengenakan jubah merah itu tertidur nyenyak.
Pemuda itu terbangun saat Sakura sampai di sampingnya. Dengan mata sayu karena masih mengantuk, dia mengangkat sebelah tangannya dan memberi salam singkat, "Pagi, Sakura-chan…"
" 'PAGI, SAKURA-CHAN' GUNDULMU!" teriakan penuh kemarahan itulah yang menjadi awal mula dari serentetan peristiwa, dengan urutan sebagai berikut:
1. Mengayunnya tinju kanan Sakura.
2. Terhantamnya pipi kiri Naruto.
3. Suara pukulan yang bergema ke seluruh gedung dan membuat siapapun yang mendengar langsung berjengit ketakutan.
4. Suara kaca pecah.
5. Tubuh Naruto yang menembus jendela dan melayang bebas ke udara.
Saking dahsyatnya, keributan itu bahkan bisa dilihat dan didengar oleh seluruh akademi ninja walau jaraknya terpisah cukup jauh dari gedung Hokage. Iruka yang semula sedang mengajar PKN pada bab peraturan-peraturan yang harus diketahui oleh seorang shinobi, kini hanya bisa menghela napas berat.
"Jadi, anak-anak…" katanya untuk menarik perhatian murid-murid kelas 1 yang masih terpesona pada pemandangan Naruto yang sampai saat itu masih terbang dan belum juga mendarat ke tanah. "Peristiwa semacam inilah yang melatarbelakangi dibuatnya peraturan 'Jangan buat Sakura marah' di desa kita. Kalian mengerti?"
"Iya~, Sensei~!"
~•~
"Sakura-chan, aku mengerti kalau kau rindu padaku setelah tak bertemu selama 1 minggu…" kata Naruto sambil mengusap-usap pipinya yang membengkak biru. "Tapi tidak perlu sampai memukulku begitu kan?"
"Kau mau kuhajar lagi?" tanya Sakura dengan senyum menakutkan, buku tangannya berkeretak saat dia mengepalkan tinju kuat-kuat. Naruto langsung tahu diri, dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku kecewa, Naruto! Kau itu sekarang sudah menjadi orang yang dihormati dan diharapkan oleh penduduk Konoha! Apa nanti kata mereka kalau melihat sang Hokage menggunakan Kagebunshin untuk mengerjakan tugasnya?"
"Hm! Aku yakin mereka akan memuji kecerdasanku!" tukas Naruto sambil membusungkan dadanya dan tersenyum bangga.
Namun senyum itu langsung hilang saat Naruto merasakan kerah bajunya dicengkeram oleh seseorang. Saat membuka mata, keringat dingin langsung keluar dari setiap pori-pori dahi Naruto karena harus melihat kilatan mata setan yang kini terpasang pada wajah cantik Sakura.
"O-oke, ampun…" kata Naruto sambil menyatukan telapak tangannya macam biksu. Sakura terus mendelik tajam untuk beberapa saat, sebelum mencampakkan Naruto dan membiarkannya jatuh kembali ke kursi. "Mau bagaimana lagi, Sakura-chan. Mungkin kau memang wajar marah jika selama tujuh hari ini aku cuma berbaring malas-malasan di kamar, tapi kenyataannya kan berkata lain. Menguasai ekor kesembilan dari chakra Kyuubi itu bukan hal yang mudah lho…"
"Oh, jadi kau berhasil melakukannya?" tanya Sakura, mood-nya yang agak buruk kini dicerahkan oleh kabar bagus ini. "Wah, aku harus kasih selamat dong!"
"Aku butuh itu," kata Naruto dengan sebuah senyum lelah. "Walaupun rasanya, masih belum waktunya aku menerima ucapan selamat…"
"Lho, kenapa?"
"Karena setelah lepas dari mulut harimau, sekarang aku malah masuk ke mulut buaya…" Naruto membaringkan kepalanya di meja sambil menghembuskan napas panjang.
"Oh, ayolah, masalahnya tidak mungkin seburuk itu kan?" Sakura berusaha menghibur. "Tambah lagi, kau jangan berkelakuan seperti orang tua begitu dong. Nanti nggak ada cewek yang mau sama kamu."
"Ah," Naruto tiba-tiba saja berdiri dengan kecepatan yang membuat Sakura tersentak kaget. "Benar juga, soal itu."
"Soal itu?" tanya Sakura dengan dahi berkerut, entah kenapa merasa hal yang dibicarakan Naruto sama sekali tak ada hubungannya dengan apa yang tadi dia katakan. "Naruto?"
"Hei, Sakura-chan, aku bisa minta bantuanmu kan?"
"…Sebenarnya sih boleh saja, tapi bantuan apa?"
Naruto beranjak dari mejanya dan terus berjalan menuju pintu, lalu membukanya sambil berkata, "Belanja baju cewek."
~•~
"Dasar Sakura-chan…" keluh Naruto dengan kepala tertunduk, matanya menatap dengan sedikit kekesalan pada 7 kantong warna-warni yang kini nangkring di kedua lengannya. "Niatanku kan cuma beli satu atau dua, tapi dia malah membuatku membawa pulang semua ini…"
Sambil berjalan menyusuri ramainya jalanan desa Konoha, Naruto kembali mengingat-ngingat pengalaman pertamanya di toko baju perempuan, atau yang bersikeras Sakura panggil dengan nama butik (hanya karena katanya nama itu jauh lebih trendi dan modern).
Sial bagi Naruto, dia yang tidak terlalu kenal dengan kata fashion hanya bisa mengekor di belakang Sakura yang tidak henti-hentinya berdiskusi, yang selalu saja diselingi cekikikan centil, dengan sang penjaga toko yang juga masih muda. Selama berada di butik itu, peranan Naruto dalam pemilihan pakaian ini hanyalah pada saat dia harus ditanya tentang ukuran baju yang dicari, dan setelah itu dia langsung diacuhkan bak puntung rokok.
Dia tidak menyesal, tentu saja, namun rasanya agak kesal juga mengingat jumlah uang yang harus dia keluarkan untuk membeli semua pakaian ini. Karena dia tidak hanya harus membayar baju-baju yang bisa dipakai untuk sehari-hari, Sakura bahkan memaksanya untuk memborong beberapa one-piece dan gaun-gaun terbaru dari brand terkenal… yang harganya bahkan bisa menutup kebutuhan makan Naruto selama hampir 2 minggu.
Pemuda yang baru menjadi Hokage selama sekitar 1 tahun lebih sedikit itu menggelengkan kepalanya, memutuskan bahwa menyesali apa yang sudah terjadi tidak akan memberi manfaat sama sekali. Dia melirik baju-baju yang sudah dibelinya, dan bibirnya mulai melengkung saat mengira-ngira reaksi seperti apa yang akan dikeluarkan oleh orang yang akan menerima semua ini nanti.
Tiba-tiba langkah Naruto terhenti saat aroma sedap menggelitik nafsu makannya. Dia menoleh ke samping, dan baru sadar kalau ternyata ia sudah berdiri tepat di depan kedai Ichiraku Ramen, yang seperti biasa menguarkan bau kuah yang membuat perut Naruto menggeram dan air liurnya hampir berlelehan. Tanpa pikir panjang, Naruto segera memutar arah haluan dan masuk ke kedai tersebut.
"Ah, Naruto!" sapa Teuchi, sang pemilik, yang penampilannya tidak berubah banyak dari ingatan Naruto, kecuali keriput di wajahnya yang semakin banyak saja. "Selamat datang!"
"Hmh, bau ramenmu selalu saja membuat seleraku terbit, Ojii-san!" kata Naruto sambil duduk. "Pesan satu mangkok!"
"Segera datang!" si pak tua mengumumkan. "Hei, Ayame, kita kedatangan pelanggan!"
"Baik, Otou-san…!" terdengar sebuah jawaban dari dalam kedai. Tak beberapa lama kemudian, sang pemilik suara yang cantik muncul ke hadapan Naruto. "Ah, Naruto, hari ini datang lagi?"
"Ya, Ayame Nee-chan," jawab Naruto dengan ceria. "Mau bagaimana lagi, aku tak pernah bosan makan ramen di sini."
"Hehehe, itu malah bagus, jadi kami tidak akan kehilangan salah satu pelanggan terbaik kami…!" kata Teuchi dengan sebuah tawa yang ramah.
"Hm, apa yang kau bawa itu, Naruto?" tanya Ayame sambil menunjuk kantong-kantong yang masih nangkring di lengan Naruto. "Kau habis belanja ya?"
"Ah…" celetuk Naruto. Melihat baju-baju itu, dia jadi teringat lagi pada alasan mengapa dia membeli semua ini. "Benar juga…"
"Naruto?" kata Teuchi dengan heran saat melihat Naruto berdiri. "Kau tidak jadi makan?"
"Bukan begitu. Anu, ramennya aku bawa pulang saja ya?" kata Naruto dengan sebuah senyum tipis. "Dan aku minta dua mangkok."
~•~
"Aku tidak mau!"
Saking shocknya, Naruto bahkan tidak bisa menghilangkan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Untuk apa dia capek-capek pergi ke butik dan menghabiskan puluhan ribu yen yang bisa saja dia salurkan ke keperluan lain, kalau hanya untuk ditolak begitu saja? Oh tidak, sang Shichidaime tidak bisa terima itu.
"Hei, aku ini sudah berbaik hati membelikanmu baju," kata Naruto sambil mengangkat pakaian yang tadi baru saja dicampakkan oleh gadis di depannya. "Apa kau tidak tahu cara berterima kasih?"
"Tidak, dan aku tidak mau tahu. Lagipula, aku tidak ingat pernah meminta baju padamu!" balas gadis itu dengan sengit.
"Aku sudah keluar uang banyak untuk semua ini, nih! Jangan disia-siakan dong!"
"Lho, siapa juga yang menyuruhmu beli?" cibir si rambut merah sambil duduk bersila dan bersidekap, menjulurkan lidahnya dengan mengejek seperti anak kecil. "Pokoknya aku tidak mau pakai itu. Titik!"
"Apa salahnya sih pakai baju?" bujuk Naruto, berusaha terdengar lembut dan sabar. "Memangnya kau suka telanjang terus seperti itu?"
"Tentu saja," jawaban tanpa keraguan itu langsung menghapus senyum di wajah Naruto. "Selama ratusan tahun aku tidak pernah mengenakan pakaian. Lagipula, memakai kain yang dijahit seperti itu membuatku jadi kurang bebas bergerak."
"Tapi itu kan ketika kau masih berwujud rubah raksasa," kata Naruto sekali lagi, walaupun jujur, kesabarannya sudah mulai menipis. "Sekarang ini kau pakai tubuh manusia, jadi wajar saja jika kau mengikuti tata cara hidup manusia…"
"Buat apa? Suka-suka aku dong!" gadis itu buang muka dengan keras kepala. "Lagipula, kau tidak punya hak menyuruh-nyuruhku…!"
"Oh, jadi kau tidak mau disuruh…?" kata Naruto sambil berdiri tegak. "Oke kalau begitu…"
"Bagus kalau kau mengerti kedudukanmu-KYAA!" gadis dengan rambut panjang yang mengalir bagai sungai merah sampai ke kakinya itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah pekikan yang benar-benar imut saat Naruto menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya ke atas sampai kakinya terangkat dari lantai. "L-lepaskan aku!"
"Kalau aku tidak boleh 'menyuruh'mu…" gadis itu berjengit saat melihat ekspresi aneh yang terpampang di wajah Naruto dan disertai dengan sebuah senyum lebar khas maniak. "Maka aku hanya harus 'memaksa'mu, Kyuubi."
"Ugh, le-pas-kan a-ku~!" teriak gadis itu sambil berusaha meronta, namun dia yang kini tak ubahnya gadis biasa tak memiliki upaya atau daya untuk melawan kekuatan Naruto yang notabene seorang ninja kelas atas.
Merasa kalau perjuangannya sia-sia, gadis itu mengerahkan seluruh kekuatannya dalam sebuah perbuatan nekat. Diawali dengan mengayunkan kaki kanannya jauh ke belakang, dia melesatkannya dengan satu ayunan setengah lingkaran yang telak menghantam dagu Naruto dan sukses membuat pegangan yang memasungnya langsung lepas ketika pemuda itu terjungkal ke belakang.
"Heei!" teriak Naruto sambil mengusap dagunya yang nyeri, walaupun dia sama sekali tidak diperdulikan oleh sang gadis yang kini berlari kabur keluar kamar. Tangannya berkelebat mengambil sebuah kemeja secara sembarangan, yang penting asal ambil saja. "Kyuubi, kembali ke sini!"
Derap langkah mereka membuat sebuah keributan yang bisa terdengar bahkan sampai ke luar apartemen, namun saat ini Naruto tak bisa lebih acuh lagi. Peduli amat apa yang akan dikatakan para tetangga nantinya, pokoknya sekarang yang harus menjadi fokusnya adalah menangkap si gadis menyebalkan dan memaksanya mengenakan baju.
"Ketangkap kau!" seru Naruto girang saat tangannya berhasil menggenggam pergelangan sang gadis tepat di lorong yang ada di satu garis lurus dengan pintu depan. "Sekarang, kenakan ini!"
"Ng-gak ma-u!" gadis itu meronta sekuat tenaga, tangannya yang kecil berusaha mendorong wajah Naruto dengan sia-sia selagi pemuda itu memaksa sebelah tangannya masuk ke lengan baju kemeja yang dia bawa. Pria itu bahkan harus menjepit tubuh sang gadis ke dinding dengan tubuhnya sendiri untuk meredam perempuan yang terus berontak dengan gigih itu.
"Tidak mau tahu, pokoknya kau harus pakai baju!" kata Naruto, tanpa belas kasihan merenggut tangan yang mendorong wajahnya dan mendesaknya masuk ke lengan baju yang lain. Namun walaupun terlihat kasar, sesungguhnya sang Hokage berusaha semampunya untuk tidak menyentuh bagian-bagian pribadi dari tubuh sang gadis. "Ini rumahku, jadi kau harus nurut pada peraturank-"
"Hei, Naruto~" sebuah suara yang berasal dari pintu membuat kedua muda-mudi itu langsung terdiam tak bergerak. "Aku mau ke Ichiraku Ramen, kau mau ikut?"
Pintu terbuka untuk menampilkan seorang laki-laki dengan rambut dikuncir belakang dan sebuah bekas luka melintang di hidungnya. Saat matanya bertemu dengan pemandangan Naruto yang mengapit seorang gadis asing setengah telanjang ke dinding, Umino Iruka hanya bisa terpana dengan mulut ternganga.
Dia sebenarnya datang ke sini dengan niat mau menghibur Naruto karena merasa kasihan melihat sang Hokage yang dihajar sampai terbang keluar jendela siang tadi. Tapi apapun yang semula ada dalam bayangan Iruka saat membuka pintu apartemen Naruto, sudah pasti hal semacam ini bukanlah salah satu di antaranya. Dan biar bagaimanapun dia berusaha menafsirkan peristiwa ini, hanya satu kesimpulan yang bisa muncul di kepalanya.
"Maaf mengganggu…" kata pria itu sambil menutup pintu kembali, meninggalkan Naruto dan Kyuubi yang masih cengok, tak mampu bergerak maupun bersuara. Saat di luar, sang pria berjalan menuruni tangga bangunan tersebut dengan sebuah senyum kebapakan di wajahnya. "Narutoku yang dulu sangat suka berbuat usil itu sekarang sudah besar ya…" Dia menyeka matanya yang terasa basah. "Aku jadi agak kesepian…"
Di dalam apartemen, dengan ngototnya kedua orang yang berbeda gender itu masih saja mempertahankan posisi yang memang sangat potensial memberi kesan salah pada siapapun yang melihat. Naruto memasang wajah seakan-akan dia baru saja ditampar dengan kekuatan satu truk tronton, sedangkan Kyuubi sih diam cuma karena nggak pengen bicara saja.
Namun kelamaan dalam posisi itu mau tidak mau membuat Kyuubi merasa tidak nyaman juga, terutama karena kini dia memiliki tubuh manusia, siluman itu jadi bisa merasakan sensasi-sensasi aneh hanya dari tubuh Naruto yang terus menekan tubuhnya.
"Hei," panggil Kyuubi, membuat Naruto memalingkan wajah ke arahnya. "Kurasa kau sudah mengerti bagaimana rasanya dipermalukan oleh hasil perbuatanmu sendiri kan? Jadi bagaimana kalau lepaskan aku sebelum kau jadi lebih malu lagi?"
Untuk sesaat, pegangan tangan Naruto pada pergelangan Kyuubi melonggar, membuat gadis siluman itu tersenyum tipis karena merasa sudah menang. Namun kesenangan itu hanya bertahan untuk paling tidak 4 detik, sebelum sekali lagi Kyuubi menemukan pergelangannya digenggam lebih kuat dan tubuhnya diapit kian rapat ke dinding.
"Sudah kepalang tanggung," suara Naruto sekarang mengambil nada yang jauh lebih tajam dan runcing daripada biasanya, dan suaranya itu bahkan mampu membuat sang Kyuubi jadi bergidik ngeri. "Kalau sudah begini, akan kupastikan kau memakai baju itu, seyakin-yakinnya. Dengan. Cara. APAPUN."
"T-tunggu…" Kyuubi hanya bisa mencicit ketakutan, karena hawa semangat Naruto yang begitu besar membuatnya tahu kalau dia tak akan berdaya mencegah hal ini. "T-TUNG-Kyaaa!"
Beberapa menit kemudian…
"Nah," Naruto mendengus puas sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya. "Begitu lebih baik…"
Kyuubi duduk berlutut sambil memeluk tubuhnya sendiri, otaknya hampir tidak bisa memercayai apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Naruto benar-benar tidak bercanda saat berkata dia akan menghalalkan segala cara untuk memasukkannya ke selembar kain tipis yang dijahit menjadi benda bernama kemeja ini.
Wajah Kyuubi kembali menunjukkan rona merah saat ingatan saat-saat itu kembali berputar di kepalanya. Dia masih bisa mengingat dengan sangat baik setiap sentuhan tangan Naruto yang terasa sepanas api, terutama saat pemuda itu menggerayangi tubuhnya tanpa rasa malu sama sekali.
…Yah, mungkin dia agak berlebihan dengan menyebut Naruto sudah 'menggerayangi' tubuhnya. Tapi itu tetap tidak mengubah fakta kalau laki-laki sialan itu sudah menyentuh dan meraba beberapa bagian tubuhnya yang, ahem, agak sensitif…
"Tuh kan, kau terlihat jauh lebih pantas kalau pakai baju," kata Naruto, sama sekali tidak peduli pada tatapan penuh nafsu membunuh yang dilancarkan Kyuubi pada dirinya. "Kalau begini, kau jadi terlihat tak ada bedanya dengan gadis biasa."
Andai saja dia masih bisa berubah menjadi sosok rubah raksasa, sebagaimana wujudnya dulu, sekarang ini pasti Kyuubi sudah menggigit kepala Naruto yang kelewat besar sampai lepas dari lehernya. Tapi mengingat kini dia tidak lebih kuat dari gadis seusia 15 tahun, siluman rubah berambut merah itu hanya bisa cemberut dengan bibir mencibir.
"Hei, tidak usah merajuk begitu," ujar Naruto, masih dengan sengirannya yang menyebalkan Kyuubi. "Kau lapar kan? Aku tadi beli ramen."
"Aku tidak lapar!" teriak Kyuubi, namun pernyataannya itu segera dikhianati oleh perutnya yang berbunyi nyaring, membuat wajahnya semakin merona merah karena malu ketika sang Hokage yang berjongkok di sampingnya terkekeh. "Jangan tertawa, dasar manusia bodoh!"
"Biarpun bodoh, aku punya cukup otak untuk membelikanmu makanan," tanpa menghentikan tawanya, Naruto meraih tangan Kyuubi dan menggandengnya ke ke dapur. "Ayo makan."
"…Baka."
To be Continued…
~••~
Fic ini hanyalah salah satu dari sekian banyak hasil spekulasi 'Bagaimana jadinya jika Kyuubi jadi manusia?'. Hamba tidak bisa menjamin apakah pemikiran hamba ini akan tepat dengan keinginan Masashi Kishimoto atau tidak, tapi yang namanya fanfiction itu kan dibuat untuk menampung imajinasi seorang author.
Apakah fic ini terlalu aneh? Kurang menarik? Atau tidak nyaman dibaca? Silahkan ungkapkan komentar kalian, dan jangan ragu-ragu untuk memberikan kritik, karena hamba menerima flame, ejekan, bahkan hinaan sekalipun dengan besar hati.
Oh ya, bagi yang masih bingung dengan penampilan Naruto dan Kyuubi di fic ini, hamba akan berikan biografinya:
Naruto
Usia: 18 tahun, 3 bulan
Tinggi: 1.83 m
Berat: 59 kg (tubuhnya yang sekarang sedikit lebih berotot lagi)
Penampilan: Rambutnya sudah lebih gondrong, sehingga penampilannya jadi mirip Yondaime kecuali 3 kumis yang masih setia nangkring di pipinya. Bajunya masih sama, tapi celananya sudah lebih panjang sehingga nggak terkesan nanggung lagi. Lalu, semenjak jadi Hokage, jubah merah dengan motif api hitam di pinggirannya (yang dulu dia pakai saat invasi Pain) kini tak pernah lepas dari tubuhnya.
Kelakuan: Usia yang sudah lebih dewasa membuat Naruto tidak lagi se-enerjik dulu, dan bisa dilihat dari cara bicaranya yang nggak teriak-teriak lagi. Sikapnya juga jauh lebih dewasa dan maskulin, walaupun senyum ramah masih menjadi ciri khas sang Shichidaime ini.
Kyuubi
Usia: Berabad-abad, walau tidak jelas berapa
Tinggi: (Wujud manusia) 1.57 m
Berat: 37 kg
Penampilan: Setelah mengambil wujud manusia, Kyuubi menjadi seorang gadis menawan dengan rambut merah yang panjangnya sampai ke lutut, tapi matanya masih sama persis dengan mata Kyuubi si Rubah, walaupun sudah tidak terlihat buas lagi. Usianya memang sudah beberapa ratus tahun, tapi entah kenapa wujudnya sebagai manusia terlihat seperti tidak lebih dari 15 tahun. Dan karena chakranya (sumber seluruh kekuatan Kyuubi) sudah diambil secara total dan permanen oleh Naruto, kekuatan Kyuubi yang sekarang tak ada ubahnya dengan gadis remaja biasa (bahkan tidak sampai level seorang shinobi).
Kelakuan: Kebencian yang semula mendominasi sifat Kyuubi, kini sudah lenyap bersama-sama chakranya. Kyuubi si Manusia tidak lagi bersikap sangat ganas dan tidak bersahabat, walaupun dia masih mempertahankan sikap sinis dan suka menyindirnya. Tapi di kesempatan-kesempatan tertentu (dan hanya di depan Naruto), Kyuubi juga bisa bersikap kekanak-kanakan, bahkan genit dan centil layaknya gadis remaja biasa.
Terima kasih sudah membaca!
Galerians, out.
