Galerians, in.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih banyaak~ *bungkuk-bungkuk terus sampai encok*. Hamba sama sekali tak menyangka akan dihadiahi dengan review sampai sebanyak ini, benar-benar bikin jiwa hamba jadi serasa terbang melayang ke langit *SFX: itu mah mati woy!*. Pembuatan fic ini boleh dibilang sebagai salah satu yang tersusah, karena untuk menentukan sifat Kyuubi itu lho… rumit banget!
Ah udahlah, ini saatnya menjawab para reviewers kan?
Reviews' replies:
Saqeechan: "Masih dalam pertimbangan. Hamba kalau bikin romance memang rasa nggak pas kalau tidak ada unsur 'H'-nya, jadi kemungkinan besar lemon akan hamba masukkan (cuman nggak tahu kapan)."
Lady Regenbogen: "Fic mah dibaca neng, jangan cuma dipelototin. Tapi ngomong-ngomong, hamba ini baru 17 tahun lho, kok sudah dipanggil mbah? Bahkan walaupun diukur dari segi authornya, hamba ini baru mulai nulis satu tahun terakhir ini lho. En satu lagi, namanya manusia itu kan punya umur, penyakit, atau sederhana saja, bisa dibunuh. Jadi Kyuubi ya pastilah bakal mati juga nantinya kalau jadi manusia. Tapi jika yang kau maksud dalam pertanyaanmu adalah: apakah 'wujud'nya sebagai manusia ini bisa membahayakan nyawanya? Maka jawaban hamba adalah 'tidak'."
akuanakbaik: "Iya, iya, ini udah diupdate."
TheIndonesianGuy: "Wedew, hamba diancem mau dibunuh! Tapi kalau hamba ambrahum, siapa yang bakal nerusin cerita ini coba?"
shiMizu: "Hamba baru memeriksa review ini hari Kamis kemaren, dan saat itu chapter tiga sudah selesai diketik. Jadi hamba sangat kaget saat melihat kalau satu kalimat dalam reviewmu ternyata sama persis dengan kalimat di chapter ini! Selamat, Anda memenangkan jackpot, sebuah mobil Avanza! (Silakan beli sendiri). Hm, Taiga? Hamba akui ada kemiripan, yaitu Kyuubi dan Taiga memang sama-sama 'tsun-tsun'. Sasuke? Nanti juga ada informasinya…"
Ruiko: "Alhamdulillah kalau keren. Terima kasih ya!"
Dani no Kyoko: "Tapi kita harus nunggu waktu yang tepat, tidak mungkin kan asal masukin lemon aja."
Chido Victim: "Ah, panggil hamba 'abang' saja sudah sangat membuat tersanjung. Kyuubi di fic ini memang bersifat kekanak-kanakan (seperti yang hamba tuliskan di biografinya kemarin), soalnya dia itu ratusan tahun kan hidup sebagai rubah iblis raksasa, jadi mungkin nggak tahu bagaimana bersikap sebagai manusia dewasa."
Tama Uzumaki: "Jangan keburu nafsu dong, romansanya dikemanain? Tapi kamu nggak usah khawatir…"
Kuroi5: "Oke, ini lanjutannya!"
Ray Ichimura: "Perasaan… nggak perlu kamu paksa juga hamba sudah sering dapat ancaman. Tuh lihat di atas, ada yang niat bunuh hamba lho."
Lou: "Oke, my underling, kita lihat apakah hamba bisa mempertahankan romance ini sampai chap akhir."
Micon: "Khayalanmu itu nggak salah-salah amat kok. Soalnya kemeja yang dipakaikan Naruto waktu itu juga sebenarnya agak sedikit kebesaran (Kyuubi tak disangka cukup kurus). Sebagai informasi tambahan, kemeja yang dulu itu ujung bawahnya hanya sampai setengah paha Kyuubi.
Zizi Kirahira Hibiki 69: "Nggak apa-apa, biar namamu panjang. Apapun untuk reviewers yang terhormat! Ah, kalau menurutmu adegan memakaikan baju pada Kyuubi itu lucu, hamba jadi nunggu komentarmu untuk scene yang ada dalam chapter ini."
Terima kasih pada semua reviewers yang telah berbaik hati memberi komentar pada author nggak bener satu ini pada chapter-chapter sebelumnya. Mohon bantuannya juga untuk chapter ini juga ya!
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)
'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)
~(FBS)~ = Flashback Start
~(FBE)~ = Flashback End
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.
Selamat membaca!
~••~
She and Me
Malam di Konoha adalah waktu di mana kesunyian dan kegelapan saling berjabat tangan. Malam di Konoha adalah waktu di mana langit dan hitam saling mendampingi dan berbaur menjadi langit-langit dunia yang kelam, horizon di mana perhiasannya adalah bintang dan tiaranya adalah rembulan.
Malam di Konoha adalah dunia di mana angin berhembus membelai jalan-jalan yang kesepian. Pintu-pintu rumah telah tertutup, jendela terkunci, dan seisi bangunan hanya diterangi oleh kegelapan atau sekedar lampu yang temaram. Kesenyapan merajalela, kesunyian merambah dengan sewenang-wenang di mana-mana.
Memang seperti itulah kodrat dunia. Sebagaimana siang yang dimaksudkan sebagai wadah untuk melangsungkan kegiatan dan menari nafkah, malam juga memiliki tujuan sebagai waktu saat manusia bisa mengistirahatkan tubuh sejenak dan melupakan hiruk pikuknya dunia.
…Namun di dalam beras segantang, biasanya pastilah ada satu biji yang berwarna hitam. Di antara semua bangunan gelap yang mengisi area Konohagakure, satu gedung apartemen masih menunjukkan tanda-tanda adanya kegiatan. Bahkan lampu di salah satu kamarnya masih terlihat menyala terang dan dari dalamnya terdengar suara-suara keributan yang mengundang kecurigaan.
"H-hei…! Jangan sentuh bagian itu!"
"Sudah ah, diem! Kalau kau bergerak-gerak terus aku jadi tidak bisa fokus nih!"
Di saat semua orang sudah berbaring beralaskan bantal mereka dan terlelap dalam perlindungan selimut yang hangat, dua orang dengan gender berbeda ini malah masih sibuk dengan kegiatan pribadi mereka. Di atas lantai porselen yang putihnya mampu memantulkan cahaya lampu, dua sosok kini bergumul satu sama lain dengan tubuh yang sama-sama basah kuyup… dan telanjang.
"T-tapi… aku sensitif di bagian itu!" rengek sebuah suara feminin.
"Makanya tadi kusuruh diem!" seru si pemuda sambil mempercepat pergerakan tangannya. "Lagipula kau sendiri kan yang memintaku melakukan ini!"
"Tapi ini pertama kalinya bagiku!" sahut si cewek tak kalah sengit, namun tubuhnya tak bisa berhenti menggeliat.
"Hei, ini juga pengalaman pertamaku! Jadi sori kalau aku belum tahu betul apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan sang Kyuubi yang hebat dan digdaya!"
"Kenapa nadamu seperti tidak senang begitu? Bisa melakukan hal ini dengan seorang gadis sepertiku, kau harusnya bersyukur, tahu!"
"Iya, kalau yang kuhadapi adalah gadis biasa. Tapi yang ada di depanku sekarang hanyalah seorang siluman rubah yang nggak tahu malu, cerewet, kasar, dan banyak maunya!"
"H-hei, apa maksudnya itu—AANH!"
"Mau diem atau harus kuulangi itu lagi?" tanya Naruto mengancam sambil menyiagakan tangannya di depan tengkuk gadis itu, yang diklaim Kyuubi sebagai bagian tubuhnya yang sensitif. "Ini pertama kalinya aku memandikan seseorang, jadi aku perlu konsentrasi."
"Iya, iya, aku akan tutup mulut!"
"Begitu dong, kalau begini kan bisa lebih cepat selesai."
Naruto tersenyum puas saat tak mendengar adanya jawaban atau sahutan apapun datang dari Kyuubi. Pemuda itu kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada rambut merah Kyuubi yang saking tebal dan panjangnya, sampai memerlukan usaha yang ekstra telaten dalam proses keramasnya.
Mungkin tak akan serumit ini andai saja Naruto bisa memperlakukan rambut Kyuubi sebagaimana dia mencuci rambutnya sendiri. Biar bagaimanapun juga, Kyuubi yang sekarang tetaplah seorang gadis, karena itulah Naruto harus memastikan rambut merah itu bersih secara menyeluruh untuk mempertahankan keindahannya.
Sayang, kesunyian yang dianggap Naruto sebagai suasana yang cocok untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya, malah membuat Kyuubi tak tenang. Posisi duduknya yang membelakangi Naruto membuat gadis itu sama sekali tak bisa mengetahui apa yang dilakukan pemuda itu kecuali dari sedikit suara yang samar-samar terdengar oleh aktivitasnya.
Heran, bingung, dan malu, kira-kira seperti itulah perasaan Kyuubi sekarang. Seingatnya, sebelum ini dia sama sekali tak peduli apakah Naruto melihatnya dalam keadaan telanjang bulat sekalipun. Lalu apa yang membuat wajahnya merah padam dan tubuhnya tidak bisa berhenti bergerak-gerak gelisah seperti ini hanya karena Naruto sedang memandikannya sekarang? Kenapa dia bisa merasa semalu ini cuma karena tatapan Naruto, yang sebelumnya tidak ia gubris sedikitpun? Apakah ini berarti, hatinya mulai menerima kalau dirinya kini bukan lagi sang Kyuubi no Y óko, melainkan hanyalah seorang gadis biasa?
"Hei…" panggil Kyuubi dengan suara menyerupai bisikan, tapi tak ada jawaban. "Hei…!"
"Kalau boleh kuingatkan, namaku itu Naruto, bukannya 'Hei'," sindiran Naruto tepat mengena sehingga wajah Kyuubi langsung merona lagi. "Dan nggak perlu teriak segala juga aku bisa dengar kok."
"Kalau dengar, jawab dong!"
"…Memangnya ada apa lagi sekarang?"
"Ha-habis, kau diam terus sih…" kata Kyuubi dengan nada seperti orang menggumam. "Kukira kau marah…"
"Ngapain juga aku mesti marah?"
"Ya… karena aku memintamu melakukan ini…" ucap Kyuubi sambil menoleh ke belakang. "Memangnya kau tidak kesal harus memandikanku seperti ini?"
"Yah, bohong kalau aku bilang aku tidak merasakan apa-apa," jawab Naruto sambil mengambil tangkai shower, lalu mulai menyiram rambut Kyuubi yang sudah selesai dicuci mulai dari pangkalnya, dengan teliti memastikan semua helainya sudah bersih dari shampo. "Tapi entah kenapa aku sudah bisa mengira hal seperti ini akan terjadi sejak apa yang terjadi saat kita makan malam."
~(FBS)~
"Tolong katakan kau bercanda."
"Aku tidak bercanda...!"
"Kalau begitu, katakan kalau kau bohong."
"Aku tidak bohong!"
"Lalu aku harus percaya, begitu?" tanya Naruto sambil mengurut dahinya. "Kau ingin aku memercayai kekonyolan macam ini?"
"A-apa maksudmu konyol? Ini tidak konyol!"
"Lalu apa lagi namanya?" seru Naruto sambil menggebrak meja, menyebabkan mangkok ramen yang telah kosong melompat di atas permukaannya. "Aku nggak percaya di dunia ini ada seseorang yang sudah hidup ratusan tahun, tapi nggak bisa pakai SUMPIT!"
"T-tapi...!" gadis yang hanya memakai kemeja sebagai penutup tubuh di depannya berusaha berkilah, dengan wajah merona merah. "Kami para Bijuu tidak perlu makan! Makanya aku nggak pernah pakai sumpit seumur hidupku!"
"Ya ampun..." pantat Naruto jatuh kembali ke kursi dengan suara berdebuk sambil membiarkan bahunya merosot lemas. "Dan kau ini adalah Kyuubi yang seharusnya ditakuti di seluruh dunia?"
"M-maaf kalau membuatmu kecewa...!" bentak Kyuubi karena merasa malu dan kesal. "Kau terus mengejekku, padahal kau sendiri juga payah karena tak punya garpu satupun!"
"Hei, dulu aku hidup sendiri, sudah begitu miskin lagi. Untuk apa aku menyediakan garpu kalau bisa pakai sumpit?" kata Naruto sambil membalas tatapan Kyuubi.
"Y-yah, aku bisa mulai belajar sekarang kok." Kyuubi menyahut sambil buang muka, lalu kembali memungut sumpit yang sempat terlupakan di samping mangkok ramennya.
Naruto hanya bisa memasang muka kasihan saat melihat bagaimana Kyuubi berusaha menjepit lembar-lembar mie ramen dengan dua bilah kayu kecil di tangannya, hanya untuk menjatuhkannya kembali ke mangkok dengan sia-sia sebelum makanan itu sempat mencapai mulutnya. Dengan sebuah hembusan napas berat, Naruto berdiri lalu membawa kursinya ke samping Kyuubi…
~(FBE)~
"…Dan aku harus menyuapimu sampai selesai," Naruto menutup ceritanya sambil menyunggingkan sebuah senyum pasrah. "Saat itu aku langsung tahu, kalau melakukan hal sederhana seperti itu saja kau tidak bisa, maka rasanya masuk akal kalau kau juga tidak tahu caranya mandi."
"Mau bagaimana lagi, aku kan tidak pernah merencanakan harus memakai wujud manusia lagi," jawab Kyuubi sambil memberengut. "Padahal saat masih menjadi Bijuu, aku tidak perlu mandi, makan, atau segala macam hal merepotkan dan sepele yang harus manusia lakukan…"
"…Sayang sekali."
"'Eh? Apa maksudmu?"
"Soalnya melakukan hal-hal yang kau anggap sepele macam ini juga punya keasyikannya sendiri," jawab Naruto. "Misalnya ramen tadi. Kau suka kan?"
"…Yah, rasanya memang lezat sekali sih…" jawab Kyuubi dengan wajah tersipu malu.
"Itu cuma salah satu dari sekian banyak keuntungan menjadi seorang manusia," ujar Naruto sambil berdiri. "Mungkin… sudah saatnya kau berhenti menjadi seekor rubah iblis, untuk hidup sebagaimana seorang gadis."
"Rasanya aku memang tak punya pilihan kan? Aku sudah tak bisa lagi berubah jadi wujudku yang dulu karena kau sudah mengambil habis semua chakraku," Kyuubi kembali menoleh ke belakang, namun dahinya segera berkerut saat melihat Naruto yang berjalan menjauh. "Tunggu, Naruto. Kau mau ke mana?"
"Berendam di bak," jawab Naruto singkat. "Aku sudah menyelesaikan bagian susahnya, sekarang kau bisa menyelesaikan mandi seorang diri kok."
"Lalu aku mesti ngapain?"
"Kau lihat botol biru itu?" Naruto menunjuk ke sebuah botol yang berada di rak tidak jauh dari tempat Kyuubi duduk. "Itu isinya sabun. Tuangkan sedikit ke spons, remas beberapa kali sampai berbusa, baru sapu bersih seluruh tubuhmu dengan itu. Kalau sudah, siram dengan air sampai tak ada busa yang tersisa, baru deh kamu boleh berendam di air panas."
Kyuubi hanya mengangguk dengan patuh sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil botol sabun yang telah disebutkan oleh Naruto, kemudian mulai mengerjakan sesuai apa yang telah diinstruksikan oleh sang Hokage. Naruto sendiri kini memasukkan tubuhnya ke dalam bak mandi yang berisi air panas dengan sebuah lengusan puas, dan terus menurunkan tubuhnya sampai hanya tinggal dadanya ke atas saja yang tidak tenggelam. Seluruh rasa lelah yang dia terima seharian ini langsung saja kembali terasa, namun mulai terhapus sedikit demi sedikit oleh air panas yang membantu melemaskan ototnya.
'Hah~ capek…' gumam Naruto dalam hati, memejamkan matanya dalam usaha untuk lebih memanjakan dirinya dalam kenikmatan air panas. 'Tapi kenapa rasanya sangat menyenangkan…?'
~•~
"…aruto…"
"Hmh?"
"Ba…un dong, Naruto…"
"Hm? Hnh?"
"Bangun, oi!"
"Nnn, lima menit lagi…"
PLAK!
"Aduoh!" jerit Naruto kesakitan, matanya menjeblak terbuka. "Kalau ngebangunin orang nggak usah pakai nampar segala, dong…!"
"Habis kau tidak bangun-bangun…!" Kyuubi merengut. "Kita harus berendam di sini sampai kapan sih?"
Baru setelah ucapan itulah, Naruto benar-benar tersadarkan dari rasa kantuknya. Suhu air di bak mandi yang ia tempati kini cuma sebatas hangat-hangat kuku dan uapnya pun sudah tak ada, memberitahu Naruto kalau dia ketiduran terlalu lama.
Tapi yang benar-benar membuat mata Naruto terbelalak dan tubuhnya langsung mengeras bukanlah air yang sudah tidak panas lagi, melainkan fakta bahwa kini tubuh telanjang Kyuubi sudah berada tepat di depan matanya. Kalau pagi tadi tubuh mulus itu sebagian besar tertutupi oleh rambutnya yang panjang bukan main, dan saat mandi tadi Naruto hanya bisa memandangi punggungnya, kali ini pria itu bisa dengan bebas mengamati semua fitur kewanitaan yang terpasang pada badan Kyuubi.
Sejak pertama kali melihatnya, Naruto sudah tahu kalau Kyuubi itu agak kurus jika dibandingkan dengan standar para cewek Konoha, sehingga dia tidak kaget-kaget amat saat melihat dada gadis itu sedikit lebih kecil dari ukuran rata-rata. Namun yang membuat Naruto tak mampu melepaskan matanya adalah kenyataan bahwa meskipun dada Kyuubi tidak besar, bentuknya yang elegan dan simetris sempurna adalah sebuah titik tambah yang membuat mata Naruto terus memandanginya tanpa berkedip. Ditambah dengan pinggulnya yang meliuk ramping dan perutnya yang rata dan langsing, keindahan tubuh Kyuubi adalah sebuah karya yang patut diperhitungkan.
"Naruto?" ucapan Kyuubi memecahkan lamunan Naruto. Pemuda itu mendongakkan wajahnya, dan dari jarak sedekat itu, barulah dia sadar betapa cantiknya Kyuubi. "Kenapa bengong, bocah bodoh?"
"T-tidak apa-apa…!" sahut Naruto gelagapan. "A-ayo keluar, kita sudah kelamaan berendam…!"
"Baik…lah…?" kata Kyuubi, mata merah rubinya dengan heran memandangi Naruto yang melangkah dengan terburu-buru ke arah ruang ganti baju, sebelum melangkahkan kakinya sendiri untuk mengikuti sang Shichidaime. 'Ada apa dengannya?'
'Kenapa aku jadi berdebar-debar begini?' gumam Naruto dalam hati sambil membuka pintu kamar mandi, tangannya meraih sehelai handuk. 'Masa cuma karena melihat tubuh telanjangnya satu kali, aku sudah jadi seperti ini?'
'Dia kok jadi aneh begitu?' sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk, Kyuubi melempar sebuah tatapan secara sembunyi-sembunyi pada Naruto, hanya untuk melihat pemuda itu kini berdiri membelakanginya. 'Aku salah apa sih? Apa dia marah padaku?'
Mereka berdua terus diam karena masing-masing tak tahu apa yang harus dikatakan. Tak ayal, kesunyian yang datang kemudian melahirkan sebuah kecanggungan. Seingin-inginnya Naruto dan Kyuubi memecah kesenyapan ini, otak mereka tiba-tiba saja menjadi buntu dan kata-kata pun sangat susah untuk diramu.
Tapi sang Hokage Ketujuh bukanlah laki-laki yang akan membiarkan dirinya dikuasai oleh situasi kikuk lama-lama. Setelah mendinginkan dan membersihkan kepalanya dari gambaran-gambaran tak sopan tubuh Kyuubi, ditambah beberapa saat berpikir sejenak, pemuda berusia 18 tahun itu memutuskan kalau bersikap seperti biasanya adalah jallan keluar terbaik untuk masalah ini.
"Kyuubi, kau sudah selesai?" tanya Naruto sambil memasang celananya, berusaha sekeras mungkin agar suaranya terdengar biasa-biasa saja. "Aku sudah menyiapkan piyama untukmu."
"E-eh…?" Kyuubi tergagap ketika mendengar nada datar Naruto, karena sejujurnya dia tadi sudah mulai menyangka yang bukan-bukan. Tapi saat mendengar suara Naruto yang tak menyimpan baik kemarahan atau kekesalan sedikitpun, entah kenapa Kyuubi merasa sangat, sangat lega. "A-anu, aku masih harus mengeringkan rambutku…"
"Kemarikan handuknya," perintah Naruto, yang langsung dituruti oleh Kyuubi tanpa banyak tanya. "Rambut sepanjang ini, pasti susah mengeringkannya seorang diri."
Mereka berdua kembali diam tanpa ada kata yang dikeluarkan, hanya suara napas mereka yang mengisi ruangan tersebut. Tapi dalam kesunyian kali ini, tak adalagi kecanggungan yang tak mengenakkan, dan itu ditandai oleh senyum tipis namun lembut yang tersungging di bibir keduanya.
'W-wow…' hati Naruto berdecak dalam kekaguman. 'Aku tahu kami memakai shampo yang sama, tapi kenapa rambut Kyuubi bisa seharum ini…?'
…
"Nah, selesai…!" cetus Naruto puas. Dia bergerak ke mesin cuci yang terletak berdekatan dengan dinding, lalu mengambil baju kemeja putih yang terlipat rapi di atas benda itu. "Pakai ini."
"Kukira tadi kau bilangnya piyama," kata Kyuubi sambil mengenakan kemeja yang agak sedikit kedodoran di tubuhnya itu. "Ternyata cuma pakaian seperti ini toh…"
"Hei, kau sendiri yang bilang tak mau memakai sesuatu yang membuatmu tak bisa bergerak bebas," Naruto memimpin jalan, lalu membuka pintu kamar dan menyalakan lampu. Pemuda itu membuka kloset dan menarik keluar satu set futon sebelum menggelarnya di lantai. "Lagipula, kau cukup manis memakai itu."
"E-eh…?" Kyuubi yang tidak siap menerima pujian itu langsung tersipu malu dengan wajah merona, yang semakin memerah gelap saat menyadari kalau Naruto sekarang sedang nyengir lebar ke arahnya. "Ja-jadi, aku harus tidur di mana?"
"Lho? Bukannya sudah jelas?"
"Oh, jadi malam ini aku harus tidur di lantai lagi?"
"Ya nggaklah," sahut Naruto sambil menepuk permukaan futon di sampingnya. "Kau tidur di sini."
"Eh? Lalu kamu?"
"Tak usah khawatirkan aku," kata Naruto sambil tersenyum, lalu tiba-tiba tangannya terangkat dan mengacak-acak rambut Kyuubi. "Tidur yang nyenyak ya."
Setelah mematikan lampu kamar, sosok Naruto langsung menghilang di balik pintu. Tanpa sepengetahuan pemuda pirang itu, sang gadis kini berdiri terpaku, wajahnya merah padam dan kedua tangannya mencengkeram dadanya kuat-kuat, seakan berusaha menghentikan degup jantungnya yang gegap gempita.
Mengherankan, kenapa dia jadi berdebar-debar begini hanya karena diperlakukan begitu?
Sedang Naruto sendiri, sekarang sedang berjalan melewati ruang tengah dengan langkah-langkah santai. Arah tujuannya jelas, sofa yang terletak di pinggir ruangan, tepat berada di bawah jendela. Walau tanpa sebab yang jelas, sebuah senyum masih menempel di wajah pemuda yang hanya tinggal memakai celana sejak keluar dari kamar mandi itu, seakan-akan ada yang memplester senyum itu dengan lakban tak terlihat ke bibirnya, bahkan sampai dia membaringkan tubuhnya di empuknya sofa.
'Hehehe…' pemuda itu terkekeh dalam hati sembari merapatkan kedua kelopak matanya secara bersamaan. Dia sendiri tak begitu mengerti kenapa, tapi yang pasti, hari ini dia merasa begitu senang. 'Kalau aku tidak berhenti senyum-senyum sendiri begini, lama-lama aku bisa gila nih…'
Segera setelah kata-kata itu keluar dari pikirannya, kesadaran Naruto langsung menghilang ditelan oleh rasa kantuk yang begitu hebat, sampai hanya butuh beberapa bagi jiwa Naruto untuk lepas dari tubuhnya dan pergi bertandang ke alam mimpi.
~•~
Naruto terbangun oleh suatu suara grasak-grusuk, samar mungkin tapi sudah cukup nyaring untuk mengganggu tidur sang Hokage yang secara alami memang memiliki pendengaran tajam. Baru 3 kali mengerjap, mata Naruto langsung menjeblak terbuka selebar-selebarnya karena bantuan insting sebagai shinobi yang selalu peka pada setiap peluang bahaya.
Naruto berguling dari atas tempat tidurnya, tangannya berkelebat untuk mengambil sebuah kunai yang tersembunyi di bawah sofa. Dia tak repot-repot menyalakan lampu dulu karena tindakan itu hanya membuang waktu, tapi sebagai gantinya, warna merah menyelimuti kelopak mata Naruto selagi iris matanya berubah warna menjadi kuning emas dan pupilnya bertransformasi menjadi sebuah garis horizontal.
Naruto segera menggunakan kemampuan khusus Sennin untk mendeteksi aura chakra makhluk hidup, dengan kunai siap siaga di tangan kanannya. Satu menit berlalu, tapi Naruto tak bisa menemukan keanehan apapun dalam apartemennya, tak ada bekas maupun jejak aktivitas. Untuk jaga-jaga, sang Hokage memperluas ruang lingkup pencariannya sampai mencakup seluruh permukaan bumi Konoha, tapi hasilnya sama: nihil.
Naruto menonaktifkan mode Sennin-nya, namun tetap menjaga kewaspadaan karena suara grasak-grusuk itu masih bisa terdengar di telinganya. Sesaat kemudian, suara kasak-kusuk itu mulai ditemani oleh suara-suara erangan yang samar, dan hanya perlu 2 detik bagi Naruto untuk menyadari kalau suara itu berasal dari kamar tidurnya. Pemuda berambut pirang itu langsung berkelebat tanpa pikir panjang lagi, otaknya dan seluruh benaknya hanya diisi oleh satu nama: Kyuubi.
Saat Naruto tiba di depan pintu kamar dan hendak membukanya, wajah dengan 3 kumis kembar yang khas itu telah dipenuhi hanya oleh satu emosi: kekhawatiran. Dugaannya tepat, erangan-erangan itu memang berasal dari, tak lain dan tak bukan, sang gadis berambut merah itu sendiri. Tapi sebanyak apapun dia mempersiapkan dirinya, Naruto tetap saja terkesiap saat melihat keadaan gadis yang kini ikut mengisi kehidupannya itu.
Tangan Kyuubi mencengkeram pinggiran selimut dengan begitu kuat sampai jari-jarinya seperti melesak ke dalam kain tebal tersebut. Badannya gemetaran laksana diserang oleh badai salju di tengah-tengah Kutub Utara, dan bahunya berguncang bak menahan sesuatu yang siap meledak dalam dirinya.
Kepala Kyuubi tak berhenti melengos ke kanan kiri dalam tempo yang rancu, dahi gadis itu dipenuhi oleh keringat yang sama sekali tak berasal dari suhu kamar yang hangat. Wajahnya berkeriut diteror ketakutan seperti seorang pendosa yang dihadapkan pada maut, setiap inci paras cantiknya kini pucat dalam ekspresi yang merupakan campuran dari kesakitan, penderitaan, dan kengerian sekaligus.
Mulutnya terpisah untuk melepaskan napas terengah bagai oarng yang lelah luar biasa, walau sebagian besar yang keluar saat bibir merah muda itu terbuka adalah ucapan "Tidak…" atau "Jangan…" dalam suara menghiba, meminta belas kasihan dan ampunan pada siapapun yang ada dalam mimpinya.
"Kyuubi…!" Naruto, yang akhirnya menemukan suaranya kembali, segera melesat dan berlutut di samping Kyuubi sambil meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat-erat. "Hei, Kyuubi! Bangunlah!"
"TIDAK!" alih-alih menjadi tenang, gadis berambut merah itu malah langsung menjerit ketakutan dan meronta sesegeranya setelah tangan Naruto menggenggam tangannya. "Tolong… kumohon…! Jangan sakiti aku…!"
"H-hei, Kyuubi! Ini aku!"
"Tidak! Kumohon, jangan!" seakan tak bisa mendengar suara Naruto, bagaikan terperangkap di dalam mimpi, Kyuubi terus berusaha berontak, bahkan sekarang kedua tangannya mulai memukuli Naruto seperti berusaha mengusir apa yang ada dalam mimpinya. Air mata meleleh dari kelopak matanya yang tertutup, dan mulai mengalir deras sampai membasahi pipinya yang sepucat mayat. "Aku tidak melakukan apa-apa! Itu bukan salahku!"
"Kyuubi, tenanglah!"
"Kumohon, hentikan…" suara Kyuubi yang semula berupa jeritan kini berubah menjadi sepelan bisikan. Tubuhnya yang meronta dan tangannya yang semula berontak dengan gigih, kini diam, seakan-akan gadis itu telah kehilangan kemauan dan tekad untuk melawan. "Kumohon… aku tidak pernah menyakiti siapapun… bukan aku penyebab kematian mereka…"
Naruto tak mengerti apa maksud perkataan itu, dan dia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya tengah berlangsung dalam mimpi Kyuubi. Namun, hanya dengan melihat bagaimana air mata menyelimuti wajah gadis itu, merasakan gemetar tubuhnya yang mengisahkan betapa dalam dan pedihnya rasa takut Kyuubi, serta mendengar ratapan yang begitu memelas dari suaranya yang serak, sudah cukup… bahkan sangat cukup bagi Naruto untuk ikut merasakan penderitaan Kyuubi.
…Dan rasanya sungguh sakit, sampai-sampai Naruto tak tahu lagi, mana yang lebih sakit antara ditusuk ratusan kali oleh sebilah pedang berkarat di jantung, atau merasakan penderitaan dan kesedihan Kyuubi.
"…Kyuubi," panggil Naruto dengan suara selembut yang ia bisa. "Hei, Kyuubi…"
Seiring makin pelannya suara isakan Kyuubi, kelopak mata gadis itu mulai bergerak-gerak, sampai akhirnya benar-benar terbuka beberapa hitungan kemudian.
Semula, mata merah Kyuubi bergerak liar ke seluruh kamar, seakan-akan setengah berharap dia masih belum terbebas dari mimpi buruknya. Namun semua ketegangan yang melanda gadis itu segera reda ketika matanya bertemu dengan mata biru langit Naruto yang lembut dan teduh. Dua bola mata gadis itu mulai berair kembali dan bibirnya gemetar seperti orang yang siap menangis.
"Kyuu-"
"NARUTO!" jerit gadis itu sambil melompat bangun dan langsung menerjang Naruto, melingkarkan tangannya begitu erat di sekeliling tubuh Naruto, mendekapnya serapat mungkin sambil mulai terisak ke dada bidang pemuda itu. "Aku takut… aku sangat takut…!"
"Hei, sudah tidak apa-apa, oke…?" Naruto menggunakan tangan kirinya untuk merengkuh Kyuubi ke dalam pelukannya, sedang tangan kanannya kini diletakkan di kepala gadis itu dan mulai membelainya. "Aku ada di sampingmu…"
Di tengah-tengah kegelapan malam, dengan sedikit penerangan yang berasal dari sinar rembulan yang menembus lubang ventilasi di atas jendela, Kyuubi menangis dalam kungkungan dekapan Naruto, tak peduli air matanya yang bercucuran membasahi dada Naruto yang telanjang.
Sang Shichidaime sendiri hanya berdiam mulut, karena Naruto tahu, di saat-saat seperti ini, kata-kata tidaklah dibutuhkan. Hanya dengan berada di sana, sudah bisa membuat gadis itu tahu kalau dia tidak sendirian. Hanya dengan berada di sana, sudah cukup agar gadis itu mengerti bahwa apapun yang terjadi, Naruto akan terus ada untuknya, mendampinginya, menemaninya. Semua itu saja, walaupun sederhana, sudah lebih dari cukup.
~•~
"Hei, Kyuubi…" bisik Naruto. "Kau sudah tidak apa-apa…?"
Naruto tak bisa melihat dengan jelas di antara keremangan malam, namun dia bisa merasakan anggukan kecil dari gadis itu.
"Benarkah? Kau yakin?"
Sekali lagi, jawabannya hanya berupa anggukan.
"Kalau begitu, kau mau tidur lagi?" tanya Naruto sambil melepaskan kedua tangannya… sebuah tindakan yang tidak diikuti oleh Kyuubi. "Em, Kyuubi? Bisa kau lepaskan aku dulu?"
Bagaikan tiba-tiba jadi tuli, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Seperti apapun Naruto berusaha membujuknya, Kyuubi tetap menilak untuk melepaskan sang Hokage tersebut. Bahkan untuk sekedar menjauhkan wajahnya dari dada pemuda itu, Kyuubi sama sekali tidak mau.
"Kyuubi, kalau begini, bagaimana caranya aku kembali ke sofa nih?" ujar Naruto kebingungan. Tapi saat dia merasakan gadis itu menggelengkan kepalanya, Naruto mendadak langsung mengerti apa keinginan Kyuubi. "Kau… ingin aku tetap di sini?"
Tak ada jawaban, atau anggukan, atau gelengan. Semuanya tak ada karena memang tak diperlukan, sebab bahasa tubuh Kyuubi telah mengisyaratkan semua jawaban yang diperlukan Naruto.
"A-aku sih sebenarnya oke-oke saja. Ta-tapi yakin nggak apa nih…?" pertanyaan Naruto lepas dengan sedikit terbata-bata, menandakan betapa rasa gugup juga mulai menyerang hati pemuda itu. Namun pertanyaan kali ini tidak membutuhkan jawaban, karena sebetulnya, jauh di dalam lubuk hati Naruto, dia sudah tahu apa jawabannya. "Kalau begitu…"
Dengan perlahan-lahan, Naruto beringsut masuk sampai dia berbaring di samping Kyuubi, yang sepanjang waktu terus memeluknya seperti anak kecil yang manja pada ibunya. Selagi Naruto menarik selimut untuk memastikan tubuh mereka tetap hangat, Kyuubi menyusupan wajahnya ke pangkal leher Naruto, menggunakan lengan kanan pemuda itu sebagai bantal bagi kepalanya.
Mata Naruto tak pernah meninggalkan wajah Kyuubi, dia terus memperhatikan sampai napas gadis itu berubah teratur dengan perlahan-lahan, menandakan kalau dia sudah tertidur. Dengan tangan kirinya yang bebas, Naruto menyeka sebutir kecil air mata yang masih tersisa di pipi Kyuubi, kemudian membiarkannya mengering tertiup angin.
'Saat ini aku masih tak tahu pengalaman seperti apa yang membuatmu bermimpi buruk begitu…' Naruto merebahkan kepalanya, dan memejamkan matanya. 'Tapi, suatu hari nanti, kau pasti akan memberitahuku kan…?'
'Ya kan, Kyuubi?'
To be Continued…
~••~
Dalam chapter kali ini, hamba memasukkan nilai-nilai psikologis yang tersembunyi. Kalian bisa mencoba mencarinya sendiri, atau langsung membaca penjelasan di bawah ini.
#1: Pada teks di adegan memandikan Kyuubi, ada salah satu kalimat narasi yang menuliskan perasaan Naruto, yaitu "…Biar bagaimanapun juga, Kyuubi yang sekarang tetaplah seorang gadis…". Kalimat ini menunjukkan bahwa setelah melihat Kyuubi dalam bentuk aslinya (manusia) dan melihat bagaimana gadis itu bersikap, secara tidak langsung telah mengubah kesan Naruto untuk sosok sang Bijuu. Kini, dia tak lagi melihat Kyuubi sebagai seekor rubah berekor sembilan yang bengis dan kejam, tapi hanya sebagai sosok seorang cewek yang cerewet dan tidak tahu malu.
#2: Kalian mungkin mengira ini aneh, kenapa Naruto bisa dengan mudah menerima kehadiran Kyuubi di rumahnya. Lihat, mereka baru bertemu tidak lebih dari satu hari, tapi Naruto sudah dengan senang hati membelikannya baju, ramen, menyuapinya makan, memandikannya, bahkan membiarkan Kyuubi tidur di futon miliknya. Ini tidak kebetulan, karena jika kalian lupa, sampai hari Kyuubi keluar dari tubuh Naruto, mereka sebenarnya telah hidup bersama selama 18 tahun lebih, dan tidak hanya di satu rumah, tapi dalam satu tubuh.
Selama 18 tahun itu (bisa dilihat sendiri di anime dan manganya), ingatlah bagaimana chakra Kyuubi selalu menyembuhkan luka-luka Naruto, bahkan Kyuubi beberapa kali meminjamkan kekuatannya pada Naruto agar dia bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Kyuubi menjaga hidup Naruto dengan memberinya kekuatan dan menyembuhkan luka-lukanya, sedangkan Naruto menjaga hidup Kyuubi dengan kegigihannya yang terbukti selalu berhasil membuat Naruto menang dalam pertarungan.
Jadi, kalian lihat sendiri. Walaupun mungkin dilakukan secara tak sadar bahkan ada unsur keterpaksaan, sebenarnya kedua orang ini telah mempunyai ikatan yang cukup erat, dan masing-masing memiliki hutang budi dan nyawa pada satu sama lain.
#3: Mengapa Kyuubi tiba-tiba bisa jadi begitu terikat pada Naruto, bahkan sampai langsung memeluknya sesudah bangun dari mimpi buruk? Kyuubi, jika kalian lupa, seumur hidupnya selalu saja diburu oleh para shinobi. Entah itu untuk digunakan dalam perang, disimpan sebagai senjata, atau mau sekedar dibunuh saja karena dianggap berbahaya. Bahkan Klan Uchiha, satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan Kyuubi, hanya pernah memakai makhluk ini untuk perang dan menyerang orang lain. Semua ini, tanpa disadari, membuat Kyuubi menjadi makhluk yang 'terlihat' hanya dipenuhi oleh kebencian, padahal mungkin dalam hatinya, Kyuubi malah haus akan kasih sayang.
Di sini, kita bisa melihat betapa ramahnya Naruto pada Kyuubi sejak pertama kali dia memakai wujud manusianya. Walaupun mungkin disampaikan dalam cara yang tidak biasa, perlakuan Naruto pada Kyuubi tetaplah sebuah bentuk kepedulian, yang dengan kata lain juga bisa diartikan sebagai kasih sayang. Kyuubi, yang begitu mendambakan seseorang yang mau peduli padanya, tentu saja akan langsung menempel pada Naruto seperti laron pada lampu.
#4: Mendekati akhir chapter, tertulis sebuah kalimat seperti ini, "…Naruto menyeka sebutir kecil air mata yang masih tersisa di pipi Kyuubi, kemudian membiarkannya mengering tertiup angin…". Air mata, adalah simbol kesedihan dan penderitaan yang telah dialami Kyuubi. Dan rasanya kita semua sudah tahu kalau elemen utama Naruto adalah 'Angin'. Sekarang, bisakah kalian mengerti apa artinya Naruto menyeka 'air mata' itu, lalu membiarkannya kering oleh hembusan 'Angin'?
…Bagi yang belum mengerti, itu artinya Naruto lah, dengan tangannya sendiri, yang akan menyembuhkan luka hati Kyuubi.
Phuah, capek juga rasanya menulis semua itu, tapi hamba rasa itu bisa memberi kalian gambaran lebih mendalam tentang nilai cerita ini kan? Sebenarnya, masih banyak lagi nilai psikologis yang hamba tanam di cerita ini, tapi cukup hamba sebutkan 4 yang paling penting kan? Nanti malah kepanjangan lagi
Sekali lagi hamba tekankan, kalian tidak perlu ragu untuk memberikan komentar apapun pada hamba. Baik itu kritik, saran, pertanyaan, flame atau apapun akan hamba terima dengan senang hati. Hamba sangat mengerti kalau cerita ini sangat abal, dan kalian tahu itu, jadi sekali lagi, jangan ragu untuk menghina hamba jika ada kejelekan dalam cerita ini.
Terima kasih sudah membaca!
Galerians, out.
