Galerians, in.

Ahhahaha, hamba benar-benar minta maaf karena keterlambatan ini *membungkuk sampai nyentuh lantai*. Satu setengah minggu terakhir ini hamba ada di luar kota, menghadiri beberapa ujian masuk universitas secara berturut-turut. Pulang ke rumah 3 hari yang lalu, maunya nyantai aja, en akhirnya proses penulisan pun jadi berjalan lambat.

Tapi terima kasih ya *bungkuk-bungkuk lagi*. Kebiasaan ngecek review hanya sebelum update itu ternyata berbahaya juga, karena hamba hampir nangis karena bahagia saat melihat begitu banyaknya orang yang mereview chapter 3. Ogah emang (hamba kan mantan preman), tapi sebesar itulah rasa terharu hamba.

Oke, inilah review's reply:

naMIKAze nara: "Oh, panggilannya nana-chan ya? Sebenarnya boleh apa aja, tapi kebanyakan readers sih manggil hamba Gale atau Galerians dengan berbagai suffiks. Cerita Naruto dan Kyuubi dalam fic ini punya jalan sendiri, tapi memang, Naruto tak akan bisa merahasiakan keberadaan Kyuubi selamanya. Kita lihat saja nanti."

Ao n Ai: "Hamba juga anak baru lho! Sekitar Oktober tahun lalu masuk ke situs ini, mulai nulis juga tidak seberapa lama sebelum itu. Duh, terima kasih sekali sudah berbaik hati me-review cerita hamba yang jelek dan abal ini ya, hamba juga akan selalu menunggu reviewnya."

Rukawa-Alisa-chan: "Oi, PM-nya sudah masuk kan? Terima kasih atas reviewnya ya, hamba sangat menghargainya!"

Lou: "Makhluk satu ini sudah dikasih script aslinya malah sekongkol mau memaksa hamba apdet. Ya ampun…"

KonRoeKoeda: "Peace and Love for all! Many thanks, buddy!"

Ikara no Shinji: "Maaf karena tidak kilat, tapi paling tidak hamba sudah apdet kan?"

TheIndonesianGuy: "Nilai psikologis itu sebenarnya sudah sangat sering hamba masukkan, tapi mungkin memang cuma di chapter kemarin yang hamba jelaskan. En untuk requestnya, rasanya nggak mungkin deh, karena hamba sudah terlanjur membuat Kyuubi jadi tsundere begitu, tapi terima kasih atas sarannya. Dan terakhir, ampun, hamba ini sudah sering merasakan yang sakit-sakit *grinning pitifully*."

ShiMizu: "Hm, kalau dipikir-pikir lagi, perbandingan tubuh Naruto dan Kyuubi itu emang agak mirip Ryuuji dan Taiga (Naruto 183 cm dan Kyuubi 157 cm). Shi-chan, Naruto itu umurnya 18 tahun, sudah jadi Hokage pula, jadi wajar sajalah reaksinya nggak heboh-heboh amat, sudah dewasa kan? Lalu, rambut Kyuubi itu panjangnya sampai lutut lho, kan sudah ada di biografinya kemarin di chapter 2?"

Chido Skeleton: "Dia sudah dewasa, ya jelaslah bisa mengendalikan nafsunya. Lagipula, rasanya kata 'tomboy' bukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan Kyuubi, karena dia itu tsundere."

3m8un P461: "Akhirnya kau bisa mereview juga ya, lama banget. Oh, tapi terima kasih atas reviewnya, kasih komen juga ya buat chapter ini."

akuanakbaik: "Alhamdulillah, semoga hamba bisa mempertahankan kualitasnya."

Ray Ichimura: "Apa, jadi kau yang nyuruh orang membunuh hamba? Kono yarooo~…*Pake suara Momotaros di Den-O* (hehehe, bercanda). Hm, memang akan ada konflik, tapi hamba tidak akan memberi spoiler dulu."

Aozora Kuro: "Hahaha, jarang kan? Tapi justru itulah yang bikin hamba ingin membuat fic ini. Review juga untuk chapter ini ya…"

Lady Regenbogen: "Ah, tentu saja hamba nggak marah. Hamba ini laki-laki kok, jadi masalah usia itu sebenarnya nggak terlalu mengganggu. Tapi kalau kakak-kakak hamba denger kamu manggil hamba imut, mereka pasti pada muntah, dijamin deh (T_T). Oh, nggak boleh nggak dibalas dong, reviewer itu terhormat di mata hamba, biar seperti apapun pasti akan hamba hargai!"

Kuroi5: "Eh, kok jadi lemas? Minum obat kuat dulu sana gih. Ah, terima kasih banyak buat pujiannya, benar-benar membuat hamba senang."

Micon: "Waduh, 3607 kata (tidak termasuk Author's Note) itu pendek? Ya ampun, artinya hamba harus memforsir diri lagi dong supaya bisa bikin yang lebih panjang. Yep, chap ini melebihi yang sebelumnya kok, walaupun hanya beberapa ratus kata."

eisa ayano: "Oh, tentu saja boleh. Hm, secara umum memang seperti itulah hubungan mereka, Kyuubi yang mencoba hidup sebagai manusia dan Naruto yang dengan sabar membimbingnya. Dan sejujurnya, nilai psikologis itu sudah sering ada, tinggal tergantung kamunya yang nemu atau tidak."

seiichiro raika: "Cepet banget nikah, punya anak segala pula. Jangan cepat-cepat, hubungan antara perempuan dan laki-laki itu harus dijalani dengan sabar kalau mau lho? Tapi mengingat genre fic ini adalah romance, rasanya hal itu pasti akan terjadi juga kan?"

Terima kasih lagi ya bagi yang telah meluangkan waktu berharganya untuk mereview hamba yang bodoh dan bego ini. Semoga hamba bisa terus memenuhi harapan kalian, dan terus mempertahankan kualitas cerita ini.

Warning:

Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.

Selamat membaca!

~••~

Let's Go Together!

Pagi yang cerah selalu menjadi obat yang bagus bagi mood yang sedang buruk. Terang sinar mentari, merdu nyanyian pipit, dan hangatnya musim semi, tercipta laksana obat bagi penyakit-penyakit hati yang lebih sering dikenal sebagai duka. Tentu saja, semua ini berlaku pada sebagian besar orang, tidak terkecuali Haruno Sakura.

Dari pintu rumahnya, langkah-langkah ringan mengantar Sakura berjalan melalui desa Konoha yang sibuk dan penuh aktivitas. Baik itu para pedagang yang berusaha menjual jajaannya, atau kedai-kedai yang dipenuhi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan pengisi perut atau sekedar mencari tempat bersantai. Berisik mungkin, tapi tidak sampai ribut.

Senyum ramah menghiasi wajah cantik Sakura, menjawab segenap semangat para penduduk Konoha dengan keceriaan yang tidak kalah cerahnya. Tanpa pernah menanggalkannya, shinobi muda yang baru berusia 18 tahun itu melangkahkan kakinya ke arah gedung Hokage, sebuah bangunan mirip menara yang terletak di tengah-tengah areal Konohagakure, sembari mempersiapkan dirinya untuk kewajiban sehari-hari yang walaupun melelahkan dan tak pernah banyak berubah, tapi juga tak pernah membosankan…

…Andai saja Sakura juga mempersiapkan dirinya untuk sebuah kejutan, maka mungkin dia bisa menyelamatkan beberapa tahun usia hidupnya yang pasti akan hilang. Sayang, langkah pengamanan yang dibutuhkan tak dapat terlaksana dalam waktu yang tepat, dan akhirnya Sakura harus pasrah menerima wajahnya jadi bengong sempurna tepat setelah pintu bangunan Hokage terbuka.

"A-a-apa-apaan ini…?"

~•~

Keterkejutan adalah sebuah kondisi yang ditimbulkan ketika manusia tidak bisa langsung menerima informasi yang masuk melalui panca inderanya. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa indikasi-indikasi untuk fenomena yang begitu sering terjadi pada makhluk hidup yang tak pernah punya masa depan yang pasti ini antara lain adalah: mata terbuka lebar, hidung mengembang, tubuh kaku tak bisa bergerak, kaki keras atau malah gemetaran, dan masih banyak lagi.

Jika semua informasi di atas benar dan bisa dipercaya, maka kita bisa menyimpulkan bahwa Haruno Sakura, pada detik ini, tanpa bisa diperdebatkan lagi, sedang terkejut… SANGAT terkejut, malah.

Belasan pertanyaan yang murni berasal dari rasa heran dan bingung berputar-putar di kepalanya dengan dengung yang menyebalkan bak kerumunan lebah. Sakura boleh saja dinobatkan sebagai alumni terpintar dari Akademi Ninja, dengan nilai-nilai yang jauh melebihi rata-rata dan membuat semua guru bangga. Tapi di hadapan laki-laki ini… di hadapan pria yang mendapat gelar Ninja Nomor Satu dalam Mengejutkan Orang ini, bahkan seorang Haruno Sakura pun bisa dibuat tak berdaya.

Selalu, selalu, dan selalu saja pria itu punya cara untuk membuat orang ternganga dan tak bisa bicara karena serangan shock yang membekukan nurani dan mengguncang jiwa. Di saat Sakura yakin dirinya sudah tak bisa terkejut lagi oleh ulahnya, pemuda itu akan muncul dengan metode yang sama sekali tak terduga dan tak terjangkau nalar—dan sampai detik ini rekornya masih tak terkalahkan—untuk mengejutkannya.

Di hadapan mata Sakura, pemandangan yang muncul setelah pintu Menara Hokage terbuka, adalah sesuatu yang akan terukir, terpaku, terpasang, tertempel, atau apalah lagi, selamanya di lapisan otaknya yang bertugas menyimpan memori.

…Karena mungkin inilah satu-satunya hari sejak detik didirikannya Konohagakure di mana SEMUA orang yang bekerja di Menara Hokage bisa dideskripsikan hanya dengan satu kata, atau tepatnya, satu nama… Naruto.

Apa tidak mengagetkan jika saat kau tiba di tempat kerja dan membuka pintu masuknya, setiap pegawai yang seharusnya sedang bekerja, sekarang telah tergantikan oleh sekelompok orang dengan sosok yang semuanya identik sempurna? Bahkan setelah mengamati lebih baik, jumlah yang bisa dilihat Sakura sekarang jauh melebihi jumlah pekerja yang seharusnya. Gila, untuk sekedar lobi depan saja sudah dipenuhi oleh hampir 20 orang!

"Apa-apaan ini?" sebaris pertanyaan yang sebelumnya sudah keluar dari mulutnya kembali lepas dari bibir Sakura, namun sial, ia sama sekali tidak dipedulikan. Naruto yang biasanya SELALU menyempatkan dirinya untuk menyapa Sakura dalam setiap kesempatan, sekarang bersikap acuh tak acuh seakan menganggap gadis itu hanya setitik debu di jalan raya. "Hei, Naruto! Aku tadi tanya apa-apaan ini!"

"Ah, Sakura-chan," ucap (salah satu) pemuda itu, mau tak mau harus memberi Sakura perhatian karena kini asistennya itu mencengkeram lengannya dengan kekuatan cakar elang. Tapi sebesar apapun ancaman yang dia terima sekarang, itu tetap tidak mengubah fakta bahwa jawabannya hanyalah… "Maaf, Sakura-chan. Aku sangat sibuk sekarang."

Ada apa pula ini? Kegilaan macam apa yang tengah terjadi di Konoha? Naruto… sibuk? Satu-satunya orang dari tujuh generasi Hokage yang sifatnya paling santai dan malas-malasan, serta suka memakai Kagebunshinnya untuk menyelesaikan semua tugas-tugas kantor, juga suka tidur siang di meja kerjanya sendiri, telah membuat sebuah pernyataan kalau dirinya 'sibuk'?

Ya Tuhaann! Sepertinya kiamat sudah dekat!

Warna orange dan hitam memenuhi pandangan Sakura hampir ke manapun dia melangkah. Baik itu ke ruangan pemberian misi, ruangan dokumentasi, bahkan koridor sekalipun, dipenuhi oleh sosok Naruto-Naruto yang membeludak seperti kerumunan lebah madu di sarangnya. Seakan melihat warna kulit jeruk secara terus-terusan itu masih belum cukup untuk membuat otak Sakura pusing, usaha dan konsentrasi yang harus ia keluarkan agar bisa berjalan dengan selamat tanpa tertabrak di 'lalu lintas' tanpa lampu merah yang penuh sesak ini ikut menyumbangkan rasa sakit yang signifikan ke batok kepala Sakura.

'Cowok itu…' geram Sakura dalam hati, giginya gemeletukan ketika gadis itu mengentakkan kakinya dalam campuran rasa sebal, kesal, dan penasaran sekaligus. 'Awaass saja, saat aku sampai di sana nanti…'

~•~

"T-tunggu, Sakura-chan! Ini ada apa tiba-tiba?"

"Kau masih tanya 'ada apa'? Dasar cowok bego, bodoh, tukang bikin masalah-"

"HEII! Aku sama sekali nggak ngerti apa yang kau bicarakan nih!"

"Kau tidak mengerti masalah yang kau ciptakan sendiri…? Naruto no BAKA!" teriak gadis itu sambil menjambak kerah sang Hokage Ketujuh dan mulai mengguncang-guncangnya. "Ngapain kau membuat Kagebunshin sampai sebanyak itu, hah! Saking susahnya jalan, untuk sampai ke puncak menara saja penampilanku sampai berantakan seperti ini!"

"O-oh, cuma itu toh…" jawaban Naruto yang terdengar lega dan tak ambil pusing itu malah menyebabkan semakin banyaknya urat yang bermunculan di dahi lebar Sakura. "Kukira tadi ada apa…"

TEPOW!

"Oohh, jadi kau menganggap ini sepele?" tanya Sakura dengan nada sadis, kedua tangannya masih belum melepaskan cekalan mereka pada kerah sang Shichidaime yang kini memiliki benjol sebesar bola tenis di kepalanya. "Sekarang katakan, apa tujuanmu menciptakan kegilaan macam ini?"

"Eehh…?" jawab Naruto dengan wajah seperti mau protes, tapi tatapan mata hijau jamrud Sakura yang begitu tajam menusuk membuat Naruto sadar kalau ini bukanlah waktu yang tepat untuk canda-canda konyol… kecuali dia sangat kepingin mati muda. "Baiklah, akan kukatakan…"

"…Aku menunggu."

"Sebenarnya sederhana saja kok. Aku hanya ingin semua pekerjaan yang membutuhkan campur tanganku untuk 3 hari ke depan agar diselesaikan hari ini juga. Kasihan kan kalau aku menyuruh para pegawai untuk bekerja sekeras itu? Makanya, supaya mereka nggak perlu capek-capek, sebagai solusi ya kupakai saja Kagebunshinku. Praktis kan?"

Tik. Secepat itulah kemarahan dan kekesalan yang membara di dalam diri Sakura berubah jadi keterkejutan. Yep, gelar Naruto memang terpasang padanya bukan tanpa alasan kuat, ada-ada~ saja caranya untuk mengagetkan orang.

"Memangnya ada masalah apa sampai pekerjaan sebanyak itu harus diselesaikan secepat mungkin?"

"Yah, aku tak akan menyebutnya masalah sih, tapi-"

Brak!

Pintu mendadak terbuka.

"Taichou!" sebuah teriakan menggema di ruangan kantor Hokage. "Semua pekerjaan di ruangan dokumentasi sudah selesai tuntas, tas, TAS~!"

"Good job, anak buahku!" sahut Naruto segera sambil mengacungkan jempolnya dan sebuah senyum lebar. "Satu tugas lagi untukmu! Sampaikan pada semuanya, deadline akan habis dalam dua menit lagi! Dan hitungan mundur dimulai dari SEKARANG!" Naruto berbalik pada 7 'Naruto' yang ditugaskan di ruangannya. "Itu juga berlaku bagi kalian!"

Jawaban yang datang serentak kemudian begitu nyaring sampai sukses membuat telinga Sakura berdenging.

"SIAP, TAICHOU!"

"Heii~, Naruto~!" Sakura menjewer telinga sang Shichidaime sebagai ungkapan kekesalannya. "Beraninya mengacuhkan aku seperti itu!"

"G-gyah! M-maafkan aku!"

"Hmph." Sakura hanya mendengus sambil bersidekap ketika Naruto mengusap telinga kanannya yang semerah tomat segar.

"J-jadi, seperti yang tadi aku katakan, semua ini bukan disebabkan oleh masalah apapun kok. Begini, sejak dilantik jadi Hokage satu tahun yang lalu, aku belum pernah mengambil cuti atau hari libur biar cuma satu hari kan?" tanya Naruto sambil berjalan menuju meja kerjanya dan mulai merapikan alat-alat tulis yang saking berantakannya, Sakura sampai tidak bisa tahu lagi sesibuk apa Naruto sebelum dia masuk ke ruangan ini. "Makanya, untuk 72 jam ke depan, aku mau lepas dari semua pekerjaan dulu supaya…"

"Supaya?"

"Supaya aku bisa liburan!" seru Naruto sambil mengangkat wajahnya, dan untuk sekejab itu membuat Sakura terpana. Wajah dan suara itu… wajah dan suara Naruto yang begitu riang dan penuh keceriaan adalah sesuatu yang sudah sangat lama tak pernah ia lihat lagi semenjak pemuda itu menapaki kedewasaan. Sakura seakan kembali melihat Naruto yang dulu, bukan Naruto sang Hokage yang keren dengan kedewasaannya, namun Naruto sang ninja bodoh yang tak pernah kehilangan senyumnya walau seperti apapun kesulitan dan kesedihan yang menghadang.

Karena tenggelam dalam entah kekaguman atau kebingungan, Sakura sama sekali tidak bisa memberi respon maupun jawaban ketika Naruto mengucapkan salam perpisahannya sambil melompat ke arah jendela yang terbuka lebar, sepanjang waktu senyum lebar itu tak pernah meninggalkan wajahnya yang jenaka.

'Heee…' Sakura berjalan ke arah ambang jendela yang dilompati Naruto, sebelum meletakkan kedua sikunya di kusen. Dua mata hijau jamrudnya mengawasi sosok sang Shichidaime yang perlahan-lahan mengecil seiring lompatan-lompatan yang membawanya semakin menjauh dari Menara Hokage. Sakura menopang dagunya sambil menghembuskan napas dengan keingintahuan mengisi hatinya, selagi 7 Kagebunshin Naruto yang sudah selesai pekerjaannya mulai hilang satu persatu. "Kira-kira apa yang bisa membuat dia sesenang itu ya…?"

~•~

"Tadaimaa!" suara berisik teriakan orang yang pulang ke rumah dan pintu yang menjeblak terbuka segera menyingkap kesunyian macam apapun yang semula menguasai apartemen kecil yang dimiliki oleh Naruto Uzumaki. "Kyuubi! Hei, Kyuubi!"

Kedua sepatu sandal yang semula melindungi kakinya dari kotoran atau bahaya apapun yang disimpan oleh permukaan tanah tempatnya berpijak kini ditinggalkan, terlupakan begitu saja selagi pemuda itu berlari melewati lorong rumah yang sebenarnya sama sekali tidak panjang. Pada wajahnya hanya tergambar sebuah kegembiraan kekanak-kanakan yang sesungguhnya agak tidak sesuai dengan postur tubuh dan raut wajahnya yang sudah dewasa, namun pria itu tidak ambil peduli. Karena hari ini dia akan pergi untuk sebuah rekreasi yang telah lama ditunggu-tunggu.

"Kyuubi! Kau sudah siap-"

…Tapi…

Kebiasaan buruk yang tak pernah berubah dari kecil itu memang kadang akan menyusahkan jika sudah dewasa, terutama jika kau adalah seorang laki-laki yang notabene sering bernasib sial. Dan dalam hal ini, kebiasaan buruk yang tak pernah berubah dari seorang laki-laki bernama Naruto Uzumaki bahkan walau dia sudah menjadi seorang Hokage sekalipun, adalah fakta kalau dia suka bertindak tanpa berpikir sedikitpun.

Jika diingat-ingat lagi, dia sudah sangat sering diperingatkan oleh teman satu timnya akan sebuah sopan santun yang walaupun simpel, namun sangat krusial dalam hubungan sosial, yaitu agar selalu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar seseorang, terutama jika kamar itu sedang ditempati oleh seorang gadis. Tapi emang dia sudah bengal, atau memang benar-benar tak ingin nasib sial menjauhinya, pemuda berambut pirang yang dihormati oleh setiap warga desanya ini malah cuma menganggapnya sebagai angin lalu, atau yang kita kenal sebagai 'masuk telinga kanan, keluar telinga kiri'.

Efek peristiwa ini cukup dahsyat, mengingat siapa orang yang harus dihadapi Naruto setelah pintu terbuka mempunyai temperamental yang tidak bisa dikira-kira. Namun itu cerita untuk nanti, karena sekarang kita masih perlu memfokuskan diri pada apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Naruto terdiam, benar-benar tak mampu bergerak kecuali bibirnya yang masih gemetaran dan kelopak matanya yang semakin lebar terbuka. Tentu saja, reaksi seperti ini sudah bisa diduga akan terjadi, menilik Naruto masuk tanpa permisi dan pastinya perbuatan tak tahu adat itu pasti akan menuai konsekuensi.

"…Ah."

~•~

Makhluk hidup memiliki mata untuk melihat, tidak peduli apakah itu adalah keindahan atau keburukan alam semesta. Supaya organ itu terus bekerja dalam performa puncak, maka diperlukan kelembaban yang konstan pada bagian kornea, dan untuk alasan inilah 'kedipan' diciptakan. Mengedipkan mata dibutuhkan oleh sebagian besar makhluk hidup, terutama manusia, jika ingin penglihatannya selalu dalam kapabilitas maksimum, juga jika mereka ingin organ foto reseptornya terus bekerja dan dapat terus memandang apa yang terpampang di dunia.

…Dengan semua data di atas, maka akan muncul sebuah pertanyaan, apakah seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Naruto Uzumaki bisa digolongkan sebagai manusia? Karena sudah satu menit berlalu, tapi dia tak kunjung berkedip juga, bahkan terus membelalakkan matanya selebar-lebarnya.

Atau mungkin ada alasan khusus? Mari kita teliti lagi apa yang ada dalam jarak pandang Naruto sampai membuatnya jadi seperti itu.

Berdiri di depan sebuah cermin, seorang gadis bertubuh kurus dan kecil dengan tinggi sekitar 150 cm lebih. Rambutnya yang berwarna merah menyala bagaikan lautan api membara terlihat begitu lembut dan halus, terlapis oleh kelembaban yang membuatnya berkilau tertimpa pancaran sinar matahari pagi yang menembus ventilasi. Selain itu, butir-butir air yang sedikit menetes dari ujung rambut yang sangat panjang tersebut adalah bukti kalau gadis itu baru selesai mandi, dan agak kurang teliti mengeringkan rambutnya.

Sungguh, yang paling dia inginkan saat ini adalah mengambil selembar handuk lalu menuntaskan pekerjaan yang belum selesai itu, tapi keinginan hati tak akan bisa terjalan tanpa bantuan respon tubuh yang bersangkutan, mengingat pemuda itu kini hanya bisa tertegun dalam kekaguman dan dua mata birunya terpaku pada keindahan terlarang yang membuat seluruh dunia di sekitarnya seakan menghilang. Namun yang sebenarnya membuat pemuda itu tak bisa mengalihkan pandangannya bukanlah rambut merah berkilau yang masih agak basah itu, bukan pula dua boa mata seindah permata rubi yang menghiasi wajah itu. Tidak, apa yang menarik perhatian Naruto adalah sesuatu yang lebih, lebih mencengangkan…

…Dan itu adalah pemandangan sang gadis yang, karena sepertinya baru selesai mandi, hanya mengenakan sebuah handuk. Selain kenyataan bahwa kain tipis berwarna biru muda itu sama sekali tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya, perbuatan Naruto yang masuk ke kamar tiba-tiba dan tanpa permisi memiliki efek yang cukup dahsyat sampai pegangan gadis itu melonggar, membuat kain yang melilit tubuhnya lepas dan jatuh ke lantai tanpa suara sedikitpun.

"…A-ah…" dia membuka mulutnya, namun suara yang keluar dari bibirnya yang lembab dan berkilau hanyalah desahan pelan dan putus-putus karena masih belum bisa mencerna situasi. Yang dia ingat hanyalah dia baru saja keluar dari ofuro dan ingin memakai baju. Dan tiba-tiba saja, suara gedebak gedebuk datang dari ruang depan dan pintu kamarnya terbuka dalam interval kurang dari 2 detik, menampakkan orang terakhir yang inginkan untuk melihatnya dalam penampilan ini. "N…Na…"

'Oh, sial…' Naruto menyumpah dalam hatinya ketika wajah gadis itu mulai memunculkan rona merah yang semakin lama semakin tebal dan kedua tangannya mulai bergerak untuk melindungi seberapapun kesopanannya yang masih tersisa, mengisyaratkan bahwa pemuda berada dalam sebuah masalah yang besar… benar-benar besar. 'Sial, sial, sial, sial, sial… SIAAL~…!'

"KYAAA!" sebuah teriakan feminin langsung membahana, membawakan berita bahwa ada bencana yang akan segera datang. "NARUTO NO HENTAAII!"

"T-tunggu, i-ini sebuah kecelaka—Ugah!" sesuatu menghantam wajah Naruto, sebuah botol cologne yang melayang dalam lemparan dengan akurasi mematikan. Pemuda itu terhuyung ke belakang sambil memegangi hidungnya yang merah dan sakit karena benturan tadi, tapi kelihatannya gadis itu masih belum selesai.

"TIDAAK! JANGAN LIHAAT!" dalam kesempatan-kesempatan lain, maka Naruto akan menganggap jeritan Kyuubi ini terdengar sangat imut bagi telinganya. Tapi di waktu dan tempat ini, suara Kyuubi bagaikan menjelma jadi pekikan malaikat maut yang membawa sebuah sabit hitam dalam genggamannya. "BEGO! MESUM! NARUTO NO BAKAA!"

"Aow! H-hei, kita berdua tahu kalau ini hanya ketidaksengajaa—OGH!" seruan Naruto dihentikan oleh hair dryer yang menghantam bagian lambungnya dengan kekuatan yang hampir menghambat jalan pernapasannya. Namun itu merupakan masalah yang jauh lebih ringan, karena Naruto kini baru ingat kalau benda-benda yang bisa dilempar di kamar ini cukup terbatas dan jika semua itu sudah habis, maka Kyuubi mungkin akan mulai melemparkan benda berat seperti vas, kursi, atau bahkan meja.

…Atau memang sudah dimulai. Karena sekarang di hadapan Naruto, Kyuubi sudah mengangkat sebuah furnitur yang mereka anggap sebagai meja rias meskipun rasanya cukup tidak masuk akal ia bisa melakukan hal tersebut dengan kekuatannya jika melihat tubuh yang kurus dan kecil itu. Namun apa daya, dalam kungkungan kemarahan dan murka, bahkan seorang kurcaci akan bisa mengangkat sebuah bastard sword.

Yep, dia benar-bena~r harus keluar dari tempat ini. Detik. Ini. JUGA.

"Hiah!" Naruto menerjang pintu di belakangnya sampai terbuka dengan sebuah debam, dan segera melompat keluar dengan gaya prajurit perang yang menghindari ledakan bom.

BRAKK!

Suara benturan dari balik daun pintu terdengar begitu keras sampai telinganya sedikit berdenging, namun Naruto jauh lebih bersyukur daripada harus menerima penyebab keributan itu mendarat di kepalanya.

'Hah~, hampir saja…' gumam Naruto dalam hati sambil menyandarkan punggung ke kerangka kayu pintu di belakangnya, membiarkan semburan adrenalin dalam aliran darahnya mereda. Pemuda itu menyeka keringat dingin yang membasahi dahinya sebelum menghela napas panjang, berusaha melupakan semua fragmen 'insiden' tak terduga yang baru saja terjadi di depan matanya…

…Sialnya, bayangan gadis bertubuh kurus dan berkulit mulus yang hanya memakai selembar kain minimalis dan basah yang membuat setiap lekuk tubuhnya tergambar jelas itu malah balik lagi ke dalam kepalanya, mengakibatkan panas membara kembali merayap di kedua pipi Naruto yang juga dihiasi rona merah delima.

'Gah, tidak! Naruto goblok, berhenti mengkhayalkan cewek urakan yang tidak seksi itu!' dia mengomel sendiri dalam hati sambil membentur-benturkan dahinya ke dinding manapun yang terlalu sial harus berdekatan dengan pemuda yang ada dalam fase penyangkalan itu. 'Dia itu cuma seorang gadis menyebalkan yang kasar! Tidak tahu terima kasih! Tidak tahu ma-"

Rentetan penghinaan Naruto langsung berhenti ketika hatinya hampir mengucapkan 'tidak tahu malu'. Memori tentang wajah tersipu gadis berambut merah yang sudah hidup di bawah satu atap bersamanya selama satu minggu ini kembali berputar di kepalanya, memaksa Naruto untuk menelan lagi kata-kata yang akan ia ucapkan.

'Sial…' wajah Naruto berubah cemberut seperti seorang anak kecil yang harus mengakui kesalahan yang telah mati-matian ia sangkal. Dengan langkah gontai, sang Shichidaime berjalan menjauhi kamar Kyuubi, rona merah itu tak pernah hilang dari pipinya. 'Kalau dia semanis itu, aku kan jadi…'

~•~

"H-Hei, Kyuubi…" Naruto mencoba memanggil nama gadis itu sekali lagi, tapi Kyuubi menjawabnya hanya dengan sebuah dengusan marah sambil membuang muka. "Aku kan sudah minta maaf, jadi jangan marah lagi dong…"

"…Hmph."

"Aku tidak sengaja, dan aku sama sekali tidak ada maksud ingin mengintipmu…"

Penampilan Kyuubi telah berubah dari hanya dililit selembar handuk biru muda menjadi ditutupi oleh sebuah sundress yang terbuat dari bahan riangan berwarna merah muda dan topi jerami bundar di kepalanya, dan Naruto sendiri kini mengenakan versi jaketnya yang tak berlengan. Kalau menilik penampilan dan perlengkapan, sebenarnya kedua orang itu sudah siap pergi untuk rekreasi mereka, namun sebelumnya Naruto harus memulihkan situasi tak mengenakkan ini terlebih dahulu.

…Tapi gadis itu sepertinya benar-benar marah pada Naruto, karena walaupun pemuda berpangkat Hokage itu sudah terus-terusan minta maaf selama 10 menit lebih, Kyuubi hanya meresponnya dengan dengusan kesal atau malah cuma diam saja. Naruto sebenarnya jauh lebih senang jika gadis itu marah-marah atau menghajarnya habis-habisan seperti Sakura sekalian. Namun jika Kyuubi sama sekali tidak mau bicara seperti ini, itu benar-benar membuatnya tersiksa karena rasa bersalah.

"Hei, ayolah. Apa aku harus sujud di depanmu sebagai permintaan maaf?"

"…Kau kira dengan meminta maaf saja sudah cukup?"

'Ah, akhirnya dia mau bicara. Paling tidak ada kemajuan.'

"Lalu mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa kukatakan," ucap Naruto sambil menundukkan kepalanya dan menatap Kyuubi dalam-dalam untuk menunjukkan kalau dia benar-benar serius dengan setiap perkataannya. "Aku telah masuk ke kamarmu tanpa permisi dan tanpa mengetuk pintu. Aku sudah berbuat salah, wajar kan kalau aku minta maaf?"

"Makanya tadi kubilang, kau kira itu saja sudah cukup?"

'Hee, ternyata dia cukup alot juga. Hm, ini tak akan menjadi pertarungan yang mudah.'

"Lalu, kau ingin aku mengucapkan apa? Atau tepatnya, kau ingin aku melakukan apa?" pertanyaan Naruto kali ini mengambil nada yang jauh lebih serius. "Apakah kau ingin aku memanggilmu 'Ojou-sama' dan menuruti segala perintahmu? Atau aku harus memakai tali pengekang di leherku dan menjadi hewan peliharaanmu seharian? Atau mungkin kau ingin aku bersujud, lalu mencium dan menjilat kakimu?"

"A-apa-apaan dengan semua usulan itu! Memangnya aku ini seorang penyihir jahat yang sering muncul di buku cerita anak-anak?"

'Ah~, akhirnya ada reaksi juga. Kelihatannya aku berhasil melancarkan serangan critical…'

"Lalu apa lagi yang bisa kuperbuat, Kyuubi?" tukas Naruto dengan segera sembari mengambil satu langkah ke arah sang gadis, keseriusan yang terkandung dalam suaranya membuat Kyuubi tersentak kaget. "Asal kau tahu, aku mau melakukan apa saja untuk mendapatkan maafmu."

"E-ehh…?" wajah Kyuubi yang semula ditekuk dalam kemarahan kini berubah menjadi terkeriut karena kebingungan dan kegugupan. Dia berusaha keras kepala tapi usahanya untuk tetap terdengar dingin mulai terganggu oleh jarak mereka berdua yang sudah menjadi kurang dari sejengkal. "H-huh, aku tidak peduli. Apapun yang kaulakukan atau katakan, aku masih marah."

'Bingo.'

"Oh?" Naruto bergerak maju seakan tak punya rem sama sekali, dan pada akhirnya mendesak Kyuubi sampai punggung gadis itu bersandar ke dinding. "Dan kiranya apa yang membuatmu marah?"

"B-bukannya sudah jelas? Kau melihatku saat sedang setengah telanjang, tahu!" bentak Kyuubi pedas, walaupun dia menjadi semakin gugup dan debar dadanya semakin kuat karena Naruto yang terus mendekat tanpa henti ke arahnya. "Su-sudah begitu, kau sempat-sempatnya bengong segala dan terus-terusan memandangiku!"

'Sedikit lagi…'

"Hee, kenapa kau marah hanya karena aku melihatmu dalam keadaan itu?"

"Soalnya, a-aku…!" Kyuubi tersentak kaget saat mendongak dan langsung memalingkan muka ketika menyadari kalau wajah Naruto hanya terpisah sekian inci dari wajahnya yang merah padam. "Aku… aku malu, tahu…"

'Waktunya mengakhiri ini…'

"Tenang saja, melihat tubuhmu sama sekali tidak membuatku merasakan apa-apa kok…"

'…Tunggu dulu…'

Dasar Naruto emang sudah berotak bego dari kandungan, bukannya menghabisi pertahanan terakhir Kyuubi dengan jurus pamungkas yang ampuh, pemuda itu malah menjerumuskan dirinya dalam samudra kekalahan dengan menekan tombol bom bunuh diri.

Rona merah yang menghiasi wajah imut Kyuubi menghilang seketika, digantikan oleh rengut kesal seperti yang semula terpasang di sana. Dengan kemarahan yang tak disembunyikan, gadis itu mendorong paksa dada Naruto kemudian menjauh sambil membelakanginya, kedua tangannya bersidekap. Tak perlu waktu lama bagi sang Hokage untuk menyadari kalau dia sudah salah bicara, atau lebih parah lagi, jangan-jangan dia sudah melukai perasaan Kyuubi.

'Jadi seperti inilah rasanya berada dalam momen penting di mana hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu tindakan…' begitu pikir Naruto. Kali ini, dia tak boleh melakukan kesalahan apapun, atau semuanya akan selesai dan tak akan bisa diperbaiki lagi. Jika dia ingin hubungannya dengan Kyuubi terselamatkan, maka Naruto harus melakukan ini.

"Kyuubi," Naruto berhenti untuk membasahi bibirnya dan menelan ludahnya. Untuk mengucapkan apa yang akan ia katakan selanjutnya, maka Naruto tak punya pilihan selain menelan semua harga diri dan gengsinya. "Maaf… karena sudah bohong…"

Awalnya, Kyuubi masih marah dan memutuskan tak mau lagi mendengarkan permintaan maaf Naruto, bahkan berniat melangkah meninggalkannya sendiri jika sampai Naruto mengucapkan itu. Tapi langkahnya terhenti bahkan sebelum sempat dilakukan, karena kata 'bohong' dalam ucapan Naruto telah sukses menarik keingintahuannya, membuat Kyuubi mengurungkan niat untuk pergi.

Tanpa membalikkan tubuh, Kyuubi menoleh ke belakang. Dan apa yang dilihatnya saat itu benar-benar bukanlah sesuatu yang ada dalam perkiraannya.

'D-dia… tersipu…?'

Ya, Naruto Uzumaki sang Shichidaime, laki-laki yang telah berhasil menundukkannya saat masih berwujud Bijuu dan menguasai semua kekuatannya. Pewaris kejayaan Yondaime yang dikenal sebagai Hokage terkuat, pria yang menjadi seorang Sennin di usianya yang masih sangat muda. Manusia terkuat di seantero bumi Konoha dan Lima Negara, kini sedang memalingkan wajahnya yang merah merona, tersipu malu.

"A-anu, itu…" Naruto perlu usaha yang keras untuk mengungkapkannya, dia tahu itu. "Anu… a-aku…"

'Kau…?' kata Kyuubi dalam hati, semakin penasaran.

"Se-sebenarnya… a-aku pikir… kau…" seakan menjawab kegugupannya, rona merah di pipi pemuda itu semakin gelap dan wajahnya pun kian panas. Otak Naruto kini serupa kekacauan, menyusun kata-kata pun dia tak karuan. "Ka-ka-kakaka…"

'Kakaka? Dia sedang ngomong atau berkaok sih?' Kyuubi mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto yang kini menutup matanya dan mengerutkan alisnya, sangat penasaran pada apa yang akan dikatakannya sampai jadi terbata-bata kayak orang gagap begitu.

"K-kau…" Naruto mendongakkan kepalanya, menunjukkan pada Kyuubi betapa merah wajahnya sekarang. "Kau… manis sekali…"

'Eh? Eh, eh, eh?' Kyuubi berbalik dengan tepat waktu untuk menyembunyikan warna merah yang jauh lebih gelap dari wajah Naruto yang kini muncul di pipinya sendiri. 'D-dia bilang apa tadi…?'

"Sejujurnya…" sambung Naruto, sama sekali tidak tahu soal temperatur wajah Kyuubi yang meningkat pesat seperti ada api misterius yang membakarnya. "Kau begitu manis… sampai aku jadi terpesona. Dan sekuat apapun aku berusaha, bayangan dirimu pada saat itu tak bisa hilang dari kepalaku…"

'Dia bilang aku… manis…?' Kyuubi mengangkat tangan untuk menutup mulutnya yang kini tergantung terbuka karena keterkejutan hebat. 'T-tunggu, itu tak mungkin. Dia pasti boho-'

Tapi saat dia menoleh sekali lagi, ekspresi Naruto yang tersipu malu itu adalah semua bukti yang dibutuhkan Kyuubi untuk meyakini kalau semua yang dikatakan pemuda itu bisa dipercaya. Dengan tangannya yang mungil, gadis berambut merah itu mencengkeram dadanya, berusaha meredam debar jantung yang secepat derap serdadu perang.

"Kyuubi?" Naruto memanggil dengan ragu, karena dia sama sekali tidak tahu apa gadis itu masih marah atau sudah memaafkannya. "Hei, Kyuu-"

Tiba-tiba Kyuubi berbalik dan berjalan dengan langkah cepat, melewati Naruto tanpa sedikitpun menatap pemuda itu ataupun memberinya kesempatan untuk berkata lebih jauh. Wajah sang Hokage langsung berubah muram, merutuki dirinya sendiri dalam hati karena telah membiarkan ini terjadi.

"Naruto, kenapa kau bengong di situ?" di saat Naruto mengira Kyuubi tak mau lagi bicara dengannya, hal sebaliknya malah terjadi. Pemuda itu mengangkat wajahnya, ternganga tak percaya, lalu menatap Kyuubi yang sekarang berdiri di pintu depan dengan sebuah senyum manis di bibirnya. "Bukannya ini sudah waktunya pergi? Kenapa kau malah diam saja?"

"A-ah…" setiap keraguan Naruto langsung hilang saat dia benar-benar sadar kalau Kyuubi memang sedang tersenyum padanya, wajah sang Shichidaime itu langsung menyala dengan kegembiraan ketika ia mengambil dua tas ransel berisi perlengkapan yang telah mereka siapkan satu hari sebelumnya dan menggantungkannya ke bahu. "Baik!"

"Oh ya, tolong ingat satu hal," kata Kyuubi setelah Naruto berdiri di sampingnya. "Aku masih marah padamu."

"A-apa? Kok begitu sih-"

"Jadi," Kyuubi memotong perkataan Naruto sambil mengangkat telunjuknya dan meletakkannya ke bibir Naruto, tersenyum. "Selama wisata ini, kau harus mengabulkan semua keinginanku."

Naruto terdiam untuk sekejab, terpesona oleh senyum Kyuubi yang begitu menawan. Namun pemuda itu segera sembuh dari lamunannya dan menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Aku janji."

"Ehehe," Kyuubi tertawa riang sambil meraih tangan kiri Naruto yang bebas lalu menggenggamnya erat-erat. "Kalau begitu, pimpin jalan, Naruto."

"Yosh!" seru Naruto bersemangat. Membalas genggaman Kyuubi, pemuda itu membuka pintu apartemen dengan tangannya yang lain sebelum menggandeng gadis itu ke bawah cerahnya sinar matahari. "Ayo pergi!"

To be Continued…

~••~

Hm, seakan menyetujui cerita yang hamba ini, Masashi Kishimoto menunjukkan pertanda yang bagus di chapter 499. Coba deh baca, di sana Naruto mengatakan kalau dia 'tak akan memperlakukan Kyuubi dengan buruk'. Kok bisa pas banget ya? Bukannya itu berarti mbah Masashi membuka kemungkinan adanya hubungan Narukyuu?

Entah kalian berpikiran sama atau tidak, tapi hamba merasa chapter ini pasti agak kurang seru dibanding 3 chapter sebelumnya. Mengingat chapter 4 ini sepertinya hanya menceritakan perkembangan hubungan (dengan kata lain, fluff) Kyuubi dan Naruto, dan tak ada plot khusus, dan ada alasan yang cukup bagus untuk itu. Kenapa? Karena chapter ini hanya merupakan interlude, dan setelah ini, barulah bagian reff dimulai, di mana plot utama akan terungkap. Kalian akan mulai melihat warna sebenarnya dari fic ini, dan konflik macam apa yang akan tercipta dari hubungan Kyuubi dan Naruto.

Kali ini hamba tak akan menjelaskan nilai psikologis yang ada di chap ini, karena hanya ada satu, walaupun cukup penting. Kalian dipersilahkan untuk mencarinya sendiri, tapi hamba akan memberi sebuah petunjuk: nilai psikologis itu ada pada satu baris di seperempat akhir cerita. Kalimat yang manakah itu? Silakan cari tahu.

Terima kasih sudah membaca!

Galerians, out.