Galerians, in.
Apdetnya lama, hamba tahu itu. Tapi itu mungkin disebabkan karena hamba sedang menyelesaikan… 3 chapter sekaligus. Ide lagi banjir-banjirnya, dan akhirnya hamba berhasil menyusun konsep cerita ini sampai selesai (masih berupa kerangka aja sih), apa yang menjadi plot twist, bagaimana klimaksnya, adegan seperti apa di anti klimaks, serta bagaimana ending untuk menggambarkan takdir hubungan Naruto dan Kyuubi. Berdasar estimasi awal, fic ini mungkin akan selesai di chapter 10 atau kurang.
Ngomong-ngomong, mulai sekarang hamba akan kembali ke style menulis hamba yang dulu, sehingga satu chapter nggak akan panjang-panjang amat (sekitar 4 ribu kata ke bawah), jadi readers nggak akan sempat bosan baca satu chapternya. Pemendekan ini juga sebagai bentuk perbaikan, karena hamba sadar fic-fic hamba sekarang banyak yang berbelit-belit, ambigu.
Ah, betul. Reviews' replies:
Lou: "Iyo, iyo. Ngerti deh…"
Miss. Tomboy The NarutoMania: "Poin I, kalau bilang Aishiteru sih, mungkin bakal nanti ya. Soalnya hamba ini tipe author yang suka bikin pernyataan cinta ini hanya di klimaks yang benar-benar klimaks (lihat lagi fic Ini Tentang Kamu). Mereka liburan di pulau Mikazuki (Bulan Sabit), ada kok infonya di chapter ini. Poin II, kamu bikin akun author saja dulu, nanti kirim pesan. Pasti hamba ajarin kok cara-caranya, mau publish fic, apdet, apa aja deh. Poin III, tebakanmu hampir benar, tapi masih salah."
Yuusaki Kuchiki: "Ya kan? Itu jugalah yang bikin hamba suka banget bikin pair ini. Kalau mengenai soal kurus itu sih, coba kamu lihat chapter 499. Di sana kelihatan banget kan Kyuubi si Rubah jadi kurus kering abis diambil chakranya oleh Naruto? Hamba sih sebenarnya awalnya nebak doang, eh ternyata tebakan hamba betul."
Ao n Ai:"Benarkah? Hamba senang mendengarnya. Ah ya, kenapa harus 'hamba', begitu? Karena hamba ingin pakai sesuatu yang unik, habisnya kata 'saya' dan 'aku' itu kan udah generik banget."
hikari momoka: "Hamba janji akan mengusahakannya. Terima kasih atas reviewnya juga ya…!"
Rukawa-Alisa-chan: "Hamba nggak keberatan dipanggil dengan suffiks 'chan' kok, walaupun melihat status hamba yang mantan preman mungkin malah jadi mirip Kurogane di Tsubasa Reservoir Chronicle (dia kan sering dipanggil Kuro-chan). Kalimat yang mana? Nunjuk-nunjuk kok arahnya gak jelas, hehehe."
akuanakjahat gara2 gak login: "Kamu ingat lagi dong siapa Kyuubi, pertemuan dengan teman-temannya Naruto itu bukanlah sebuah event yang bisa dibuat begitu saja. Tapi memang ada kok, dan di chapter ini adalah salah satunya."
Saqee-chan: "Mungkin di chap berikutnya, soalnya bonus untuk chap ini bukan itu. Dan kalau mau tahu bonusnya, ada di akhir chapter."
Kuroi5: "Hm, hamba jarang baca fandom Naruto, jadi gak bisa komentar banyak soal itu. Tapi hamba janji akan berusaha membuat agar konflik yang ada dalam hubungan Naruto dan Kyuubi menjadi sesuatu yang menarik dan bisa menyentuh hati readers (dan hamba rasa akan muncul di chap 6 nanti)…!"
Haru glory: "Terima kasih atas pujiannya. Hm, Naruino? Kayaknya boleh juga, namun hamba masih kurang yakin apakah sifat mereka, yang sama-sama meledak-ledak, bisa dipersatukan semudah itu. Tapi, hamba pikir-pikir dulu…"
Micon: "Eh, kenapa pada muntah? Tentu kangen dong, walaupun kalau nggak sampe pingin peluk-peluk dan cipika cipiki (Kalau sampe begitu mah namanya hamba ini kurang ajar). Hamba kalau bikin romance biasanya hanya fokus pada perkembangan hubungan antar dua sejolinya aja, karena dengan begitu bisa memperdalam nilai asmaranya. Tapi tenang, pertemuan Kyuubi dan teman-teman Kyuubi itu sesuatu yang tak terhindarkan, pasti akan muncul kok."
naMIKAze nara: "Tsundere itu adalah sikap khusus cewek, yang mana mereka bersikap dingin bahkan kayak memusuhi karakter prianya. Walau sebagian besar waktu mereka bersikap memusuhi, di saat-saat tertentu mereka juga bakal bersikap sangat penyayang. Ada kok istilah Indonesianya, 'Cinta bilang Benci'. Eh, nggak bisa nebak nih, siapa namamu?"
Chido Rokuro: "Penjelasan tsundere ada di atas. Makasih banyak sudah mereview ya."
ShiMizu: "Ya kan? Emang rada-rada datar chap 4 itu. Dan hamba ini sudah bukan 'baru lulus sma lagi', tapi sudah 'baru jadi mahasiswa'."
Ray Ichimura: "Hamba senang ada yang mau bilang gitu, dan memang, adegan itu sudah cukup cliché. Coba kalau hamba bisa bikin komiknya, dijamin bakal mencengangkan tuh.
Ren: "Hahaha, itu benar sekali. Chap 4 emang rada berbelit-belit dan nggak to-the-point. Makasih udah ngasih tahu, semoga hamba bisa memperbaiki itu…"
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)
'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.
Selamat membaca!
~••~
Her True Smile
"Ahh~, Naruto curang!" seru Kyuubi. "Sudah kubilang kau harus tutup mata kan!"
"Oi, gimana mau main kalau aku nggak boleh lihat apa-apa?"
"Tapi kalau begitu kan nggak adil, kau jauh lebih kuat dan cepat dariku!"
"Eh, kalau sudah tahu begitu kenapa juga tadi merengek pingin main bola pantai?"
"A-aku nggak merengek!"
"Oke, kurasa itu sudah keluar dari topik," tukas Naruto sambil mengibaskan tangannya. "Kamu benar-benar pingin main bola pantai atau tidak sih?"
"Aku mau! T-tapi…" wajah Kyuubi berubah muram. "Gimana aku bisa menang kalau perbedaan kekuatannya sejelas ini?"
"Oke, oke. Karena kita hanya main-main, aku janji bakal main kayak manusia biasa deh," kata pemuda yang hanya memakai celana berwarna biru navy dengan panjang selutut itu. "Tapi itu bukan berarti aku akan mengalah padamu."
"Ehehe, begitu dong!" seru Kyuubi sambil menepukkan tangannya dengan kekanak-kanakan.
"Heh, tapi jujur ya, aku sangat kaget," kata Naruto sambil melempar bola plastik hijau muda berukuran sama dengan bola basket itu ke udara.
"Apanya?" tanya Kyuubi sambil mengembalikan bola itu, walau tubuhnya yang kecil dan cukup pendek mengharuskannya untuk menggunakan tenaga lebih.
"Ah, nggak. Cuma gini… aku nggak nyangka seekor rubah siluman raksasa yang ditakuti di mana-mana ternyata malah ingin main beginian…"
"H-hei, biarpun aku ini seekor siluman, aku juga boleh punya keinginan kan!"
"Aku sama sekali nggak keberatan kok, hanya saja, imejnya jadi gimana~ gitu…"
"Kalau soal imej, harusnya yang kita bicarain itu kau kan…"
"Heh? Memangnya aku kenapa?" tanya Naruto dengan dahi berkerut.
"Jutsu yang kau pakai untuk membawa kita berdua ke sini tadi, itu Hiraishin no Jutsu kan?" Kyuubi menaikkan sebelah alisnya. "Dan kalau ingatanku benar, itu adalah jutsu level S yang membuat ayahmu dijuluki Konoha no Kiiroi Senkou…"
"E-eh, itu…"
"Tak kusangka kau, dengan usia semuda ini, sudah berhasil menguasai jutsu setingkat itu…" tanpa sepengetahuan Naruto, sebuah senyum licik tiba-tiba tersungging di wajah Kyuubi. "Kuakui, aku sangat kagum."
"Ah, nggak usah berlebihan begitu. Aku kan jadi malu-"
PLAK!
"…Ah."
"Yehey!" Kyuubi melompat-lompat dengan girang. "Bo~lanya~ masuk! Bo~lanya~ masuk!"
"K-k-ko…" Naruto yang benar-benar tertipu kini hanya mampu memasang ekspresi terpukul di wajahnya. "Kono yarroo…!"
"Ne, Naruto-chan~," asap di atas kepala Naruto kian tebal mengepul karena melihat Kyuubi yang kini melewek ke arahnya. "Seorang shinobi itu harus selalu berkepala dingin lho…"
"…Huh," Naruto mendengus sambil memungut kembali bola pantai yang terbuat dari karet itu. Walaupun bibirnya tersenyum, urat-urat yang bermunculan di dahinya telah memberitahu bahwa semua itu palsu. "Kita lihat kau bisa apa kalau aku serius."
~•~
Dari sekian banyak sisi yang bisa dijadikan poin perbandingan bagi kualitas manusia, 'perkataan' adalah salah satunya. Di dunia ini terdapat 2 macam manusia, yaitu manusia congkak yang hanya bisa membual saja dan manusia yang bisa membuktikan dan merealisasikan setiap perkataannya.
Nah, dalam hal ini, Naruto masuk ke dalam kategori yang kedua. Ini adalah poin pertama.
Dan untuk poin kedua, kita harus mengingat sekali lagi pada peribahasa ini: 'Penyesalan selalu datang belakangan'.
…Karena hal itulah yang kini terjadi pada Kyuubi.
Sudah terlambat bagi Kyuubi untuk mengubah keadaan sekarang, namun itu bukan berarti dia rela menyerah begitu saja di hadapan kekuatan Naruto. Dia boleh saja kewalahan, harus lompat koprol kanan kiri bahkan sampai jungkir balik hanya demi menangkis serangan Naruto yang dipenuhi oleh smash-smash mematikan, namun ego Kyuubi mendeklarasi bahwa ia tak akan jatuh sebelum memberikan pertarungan yang layak!
15 menit plus 20 detik kemudian…
"Wahaha! 25 lawan 1, aku menang telak!" teriak Naruto sambil mengangkat kedua tinjunya ke udara, berpose untuk merayakan kemenangannya. "Hehehe, bagaimana Kyuu…bi…?"
Terang saja ucapan Naruto jadi begitu, karena yang diajak bicara kini duduk membelakanginya sambil memeluk lututnya, rambut merahnya tergerai di atas pasir. Gadis itu menoleh sebentar ke arah Naruto, memperlihatkan kedua bola mata semerah rubi berkaca-kaca yang dengan imutnya membuat detak jantung sang pemuda berhenti beberapa saat, sebelum kembali membuang mukanya.
"Kyuu-"
"Naruto jahat."
"H-hei, kau-"
"Jahat."
"A-aku kan cuma-"
"Jahat…!"
Kyuubi tiba-tiba berdiri dan mengambil bola pantai yang teronggok sekitar satu meter dari tempatnya semula duduk. Dengan wajah yang cemberut dan pipi berkedut, Kyuubi mengayunkan kedua tangannya kuat-kuat dan melemparkan bola itu tepat ke arah muka Naruto yang masih cengok sambil berteriak, "NARUTO JAHAAT!"
"Buah!" si cowok yang memang kurang sensitif akhirnya menerima akibat perbuatannya, dan rupanya lemparan Kyuubi cukup kuat sehingga bola yang sebenarnya hanya terbuat dari karet itu bisa meninggalkan bekas merah membulat di wajahnya yang berkumis kembar tiga. "O-oii!"
Ketika penglihatan Naruto sudah kembali dalam genggamannya, dia cukup kaget karena melihat gadis berambut merah yang memakai swimsuit one piece berwarna merah muda dengan hiasan berbentuk kupu-kupu di dadanya itu kini berlari kencang dan pergi ke arah laut, langkah-langkahnya kakinya menciptakan kecipak dan riak kecil di air asin yang berombak. Sontak saja Naruto berteriak, "Wooyy, jangan lari-lari, nanti jatuh!"
Tepat sebelum dia berlari mengejar Kyuubi, sebuah ide muncul di kepala Naruto, 'Tunggu, mungkin lebih baik kubawa pelampung juga, buat jaga-jaga…!' Dengan tergesa-gesa, dia kembali ke sisi pantai di mana sebuah gulungan kertas berukuran sedang tergeletak menunggunya.
Dengan satu gerakan yang menunjukkan keahlian yang ditempa oleh waktu, Naruto membuka gulungan itu dan meletakkan tangannya di segel pertama yang terlukis di atas kertas putih tersebut. Suara "Poof!" pelan menunjukkan bahwa sebuah objek telah muncul dan asap putih yang segera pupus kemudian menampakkan sebuah pelampung karet berwarna senada dengan bola pantai yang baru saja mereka mainkan bersama.
…Dia tak tahu, keputusannya mengambil pelampung lebih dulu itu hampir menjadi sesuatu yang akan membuatnya menyesal seumur hidup.
Naruto berlari ke sisi pantai sambil menenteng pelampung ban itu, namun untuk suatu alasan, sekarang hatinya berdegup kencang dengan suatu kekhawatiran yang tak bisa ia jelaskan. Dan kekhawatiran itu terkonfirmasi ketika ujung jari kaki Naruto bersentuhan dengan air, karena dia tak bisa melihat apapun di permukaan laut itu. Tak satupun. Tidak apapun. Tidak siapapun.
"K-Kyuubi…?" bibirnya berbisik pelan, kesadaran pelan-pelan menyingsing dalam kepala Naruto. 'Oh Tuhan, kumohon, jangan sampai-'
Bahkan sebelum dia berhasil menyelesaikan kalimat itu, Tuhan telah memberinya pertanda… dalam bentuk sebuah riak kecil, berpuluh-puluh meter di tengah laut.
"K-!" suara yang hampir menjadi raungan tiba-tiba tercekat begitu di leher Naruto tanpa kesempatan untuk keluar, karena dia tahu bahwa berteriak sia-sia saja. Dengan gerakan yang dipaksakan oleh instingnya untuk melindungi Kyuubi, tangan kanan Naruto terangkat ke atas dengan jari-jari diluruskan. Sebuah sinar biru yang samar muncul di sepanjang lengannya, sebelum Naruto membabatkan tangannya kuat-kuat ke bawah. "Chikyuu Bunriki no Jutsu!"
Dalam jangka sepersekian detik, laut seakan terbelah menjadi dua bagian dengan jarak yang luar biasa. Pasir di sekitar kaki Naruto meledak, menghamburkan butir-butir kuning dan debu tipis beterbangan di udara ketika sang pemuda menjejakkan kakinya sampai batas kekuatan yang menyebabkan sosoknya langsung lenyap ditelan kecepatan.
"KYUUBI!"
…
Dia telah berbuat bodoh, Kyuubi tahu itu dengan baik. Hanya karena kesal sudah dalam sebuah permainan kecil yang sepele, dia sudah, dengen sembrononya, pergi ke laut dan terus berjalan menuju bagian yang dalam tanpa tahu bahaya yang menghadang. Saat air sudah mencapai lehernya, sebuah ombak besar tiba-tiba saja terbentuk dan menghantam wajahnya tanpa belas kasihan, dan tepat di detik itulah, gaya yang dihasilkan dengan sukses mengangkat kaki Kyuubi dari pijakannya dan merusak seluruh keseimbangan gadis itu.
Gadis itu tersadar, dia sudah benar-benar lupa bahwa tubuhnya sekarang hanyalah tubuh seorang cewek remaja tanpa kekhususan apapun. Dan saat kedua tangan dan kaki Kyuubi meronta-ronta dengan tak berdaya dalam kungkungan air asin itu, dia juga baru sadar kalau ia sama sekali tak bisa berenang.
Ombak dan gelombang laut menyeretnya kian jauh dari pantai, dan air yang memblokir napasnya juga membawa Kyuubi makin dekat pada kematian. Di saat udara terakhir keluar dari mulutnya dalam bentuk gelembung-gelembung, Kyuubi mengira dia telah kehilangan harapan. Harapan untuk sebuah kehidupan baru, untuk mendapatkan kebahagiaan yang telah lama ia dambakan dan idam-idamkan. Dia bahkan bersiap untuk menyerah, tapi walau demikian…
Tuhan menghempaskan kembali harapan itu, tepat ke telapak tangannya…
~•~
Walaupun pengetahuan Kyuubi tentang kehidupan manusia dan budayanya cukup terbatas, paling tidak dia cukup tahu bahwa hampir semua cewek di dunia ini, atau paling tidak semua yang normal, selalu memimpikan bisa mempunyai seorang pangeran berkuda putih, dengan senyumnya yang berkilau, yang akan menyelamatkannya dalam situasi bahaya macam apapun.
Dan dia juga tahu, hal-hal macam ini seringkali berakhir hanya menjadi mimpi semata, bagaikan fatamorgana yang sering muncul di gurun pasir Sahara karena panasnya udara. Kehidupan itu kadang kejam, dan 'kenyataan' itu jauh lebih kejam lagi, karena setiap manusia yang cukup merasakan asam garam kehidupan tahu bahwa tak semua hal akan berjalan seperti yang kita inginkan. Itulah kodrat. Itulah takdir.
Tapi, Kyuubi sama sekali tak pernah menyangka bahwa mimpi yang hampir tidak pernah terealisasi bagi sebagian besar populasi kaum Hawa itu akan terwujud, dan tambah lagi, pada seseorang seperti dirinya…
…dalam bentuk seorang laki-laki muda dengan rambut kuning keemasan menyala, yang kini merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan erat, dengan dua dinding air mengapit mereka berdua bagaikan tebing. Semula, tak ada satu hal pun yang muncul ke dalam kepala gadis itu, sehingga yang bisa Kyuubi lakukan sekarang hanyalah memandang, memandang, dan terus memandang ke arah wajah Naruto yang sarat akan kecemasan.
Di saat itu, ketika tatapan Kyuubi jatuh dua bola mata biru langit yang membalas menatapnya, terisi kekhawatiran namun tetap penuh kehangatan, keyakinan langsung mengisi hati Kyuubi.
"Na…ru…to…"
Ya, Naruto adalah pangeran berkuda putihnya. Pangeran miliknya seorang.
…
"Dasar bodoh!" omel pemuda itu sambil menggendong Kyuubi di tangannya. "Kenapa ke tengah laut kalau gak bisa berenang sih?"
"H-habis…" gumam Kyuubi sambil memain-mainkan jarinya, terlalu malu untuk menatap wajah Naruto. "Aku kan cuma…"
"Jangan beralasan deh, nggak guna," tukas Naruto cepat, mengeliminasi kemungkinan apapun bagi Kyuubi untuk mengelak. "Lagipula, jadi sekesal itu hanya karena kalah main? Benar-benar…"
"A-apanya…?"
"Kau itu," Naruto menurunkan Kyuubi dari gendongannya untuk membiarkan gadis itu berdiri dengan kakinya sendiri, sebelum menempelkan ujung jari telunjuknya di dahi gadis yang hanya setinggi pundaknya tersebut. "…kekanak-kanakan."
"…" Kyuubi hanya bisa diam dan terus memain-mainkan jarinya sambil mengekor di belakang Naruto, mengetahui setiap kata yang diucapkan Naruto adalah benar tanpa keraguan sedikitpun. Dia sendiri juga bingung, kenapa dia selalu bersikap seperti ini di depan Naruto?
"…Sudahlah, tidak usah terlalu sedih begitu," Naruto kembali berbalik untuk menghadap Kyuubi, dengan dua buah objek asing yang kelihatannya diambilnya dari sebuah gulungan yang tergelar di atas pasir. "Bagaimana kalau kita main ini saja?"
"Apa itu?" tanya Kyuubi polos sambil terus menatap dua benda kayu kecil berbentuk silinder memanjang yang dipasangi tali dengan penasaran.
"Oh, kau belum pernah lihat?" Naruto tersenyum tipis. "Ini namanya pancing. Karena kita sudah pergi ke laut, kenapa tidak mencoba memancing sekalian?"
12 menit kemudian…
"Aku bosan!"
"…" Naruto hanya diam. Dia cukup sebal dengan semua gerutuan Kyuubi, namun jauh di dalam hati, dia setuju dengan pernyataan gadis itu. "Hah…"
"Naruto, apa serunya memancing sih? Kita sudah lama duduk menunggu seperti ini, tapi tak ada satupun ikan yang mematuk umpan kita nih!"
"Aku juga sebenarnya hanya dengar dari teman kalau di pulau Mikazuki ini mudah dapat ikan, tapi sepertinya aku kena tipu…" gumam Naruto seakan bicara pada dirinya sendiri. "Dan soal ikan yang tidak mematuk umpan, rasanya aku punya teori untuk itu…"
"Apa?"
"Karena mereka bosan mendengar omelanmu yang kayak burung beo kebelet kawin, mungkin?"
"Giih! Kenapa kau justru membuatku makin kesal si—ah," ucapan Kyuubi tiba-tiba terhenti, mulutnya tergantung selagi jarinya menunjuk sesuatu. "Pancingmu…"
"Hm?" Naruto membuka matanya yang tertutup, dan terkejut. Kyuubi benar, pancing di tangannya mulai bergerak! "Ou! Kayaknya aku dapat satu nih!"
"Hm, hm! Ayo tarik, Naruto!" seakan dia sendiri yang dapat ikan, Kyuubi mulai menyemangati Naruto yang saking bergairahnya sampai langsung berdiri hanya untuk mengangkat pancingnya.
"Hiya! Aku dapat…ara?"
Ketika kail itu melayang ke udara, bukanlah makhluk hidup dengan nama latin Pisces itulah yang mengisi pandangan mereka. Melainkan rumput laut, yang kini dengan tidak sopannya melayang di udara hanya untuk mendarat dan nangkring di kepala Naruto.
"Hmph…" Kyuubi tiba-tiba saja jadi tidak tahan melihat wajah Naruto yang penuh shock. "Aha… hahaha…!"
"O-omae…" geram Naruto keki, tapi sayang dia tak bisa menemukan alasan apapun untuk merasa marah pada Kyuubi. "Kau! Jangan menertawai orang kalau sendirinya belum dapat apapun!"
"Ihih… hihihi…! M-mending gak dapat apa-apa deh, daripada hanya dapat rumput laut…!" kata Kyuubi dengan penuh usaha, karena entah kenapa dia sama sekali tak bisa menahan tawanya. "Kayaknya kau benar-benar dicintai oleh bangsa 'daun' deh, Naruto-chan!"
"Selagi kau mengejekku begitu, noh," Naruto memberi isyarat dengan kepalanya. "Pancingmu juga kena tuh."
"Ah!" sorot mata Kyuubi langsung bersinar dengan antisipasi. "Baiklah, akan kubuktikan kalau aku beda denganmu! Aku pasti akan dapat ikan yang besa-"
Byur!
Yep, dia memang dapat sesuatu. Namun itu bukan ikan, dan bukan pula rumput laut…
"…Kih."
…melainkan sebuah sepatu butut nan buruk.
"Puh…"
Saat itu juga, Naruto langsung tahu kalau usaha untuk menahan tawanya adalah sebuah pertarungan yang takkan pernah bisa ia menangkan.
"GYAHAHAHA…!"
"J-jangan tertawa, Naruto no baka!"
"Ah hahaha, ih hihihi…!" dengan kedua perut di tangannya, Naruto tertawa begitu keras dan terbahak-bahak sampai-sampai dia harus berguling-guling di karang tempat mereka memancing. "R-rumput laut sih, masih benar-benar penghuni laut…! Tapi, ini, sepatu? SEPATU? Ya Tuhan, aduh perutku…!"
"Grrr…"
"Hah, aduh…" Naruto pada akhirnya berhenti tertawa setelah air matanya berkucuran dan perutnya benar-benar tak bisa menahan rasa sakit lebih banyak lagi. "Kyuubi, kurasa kalau kau jadi pelawak, pasti bakal kocak abis…"
"Hei."
"Hm?" Naruto membuka matanya yang masih berair dan menyekanya, walau sekitar 2 detik berikutnya dia berharap tetap menutup matanya setelah melihat Kyuubi yang bersiap-siap di depannya. "…Oh, sial."
"BAKAA!"
Swing!
Kapoosh!
"…Auw."
Malang nian nasib sang sepatu butut, harus nangkring di wajah Naruto.
Perolehan skor pertandingan Kyuubi vs Naruto saat ini adalah… 2-0.
"Kau sebenarnya tidak perlu menghajarku dengan sepatu itu kan…" gumam Naruto sambil mengusap wajahnya yang masih agak kemerahan. "Lagipula, kenapa kau masih marah sih?"
"…Habis kau menyebalkan."
Mata mereka bertemu, dan untuk beberapa sesaat, Naruto dan Kyuubi hanya terus saling tatap, tanpa bicara, tanpa suara, hanya bibir mereka yang mulai terkerucut seperti menahan sesuatu.
Kemudian, bermula dengan satu dengusan singkat dari Naruto, tawa lepas terbebas dari bibir mereka berdua. Seakan-akan tak pernah bosan, mereka berdua terus tertawa, tertawa, dan terus tertawa terbahak-bahak sampai perut mereka serasa ditusuk-tusuk jarum, air mata pun mulai mengalir dari mata keduanya tanpa kekang.
'Heh,' Naruto yang lebih dulu sembuh dari kegilaannya menggunakan kesempatan ini untuk memandangi Kyuubi yang masih tertawa. Entah kenapa, dia merasakan kebahagiaan yang begitu besar sampai-sampai rasanya hati Naruto menjadi bengkak dibuatnya. 'Aku baru sadar kalau dia begitu cantik saat tersenyum seperti ini…'
Dan di tempat itu, disaksikan oleh laut dan langit biru, Naruto mencetuskan sebuah sumpah sunyi. Sebuah janji sederhana, namun pelaksanaannya akan membutuhkan pengabdian jiwa dan raganya.
'Mulai detik ini, aku akan selalu melindungi senyummu,' dia menatap Kyuubi dengan sinar biru langit yang lembut memancar dari bola matanya, memandangi senyuman yang bisa menularkan kebahagiaan bagi siapapun yang memandangnya. 'Karena, biar baru satu kali aku melihatnya…
'Itu sudah membuatku tak ingin kehilangan senyumanmu lagi.'
~•~
"Ngomong-ngomong, jalan membukit ini sebenarnya sepanjang apa sih?" tanya Kyuubi selagi mereka berdua melangkah melalui jalan setapak yang diapit oleh pepohonan yang lebat nan rapat, indah hijaunya dan merdu gemerisiknya dedaunan adalah hiburan tersendiri bagi mata dan telinga gadis itu, namun jarak yang mereka tempuh sudah terlalu jauh bagi kakinya yang mulai terasa penat. "Aku sudah rada capek nih…"
"Hm, teman lamaku itu tinggal di puncak sana, tapi seharusnya nggak jauh lagi kok," Naruto berhenti melangkah untuk mengecek keadaan Kyuubi. "Kau tak apa? Kita tak sempat istirahat lama-lama di penginapan tadi kan? Aku bisa menggendongmu lho kalau mau…"
"Tidak perlu repot-repot," tolak Kyuubi dengan halus. "Selama kakiku belum kepayahan, aku mau jalan dengan kakiku sendiri."
"Oke. Oh, tapi…" Naruto menunjuk pada sesuatu di depan mereka. "Lihat, bangunannya sudah nampak."
"Oh, mana? Mana?" Kyuubi segera pergi ke sisi Naruto, tapi dia langsung ternganga pada pemandangan yang menyambutnya. "…Naruto, yakin itu tempat yang kau maksud?"
"Mh~hm. Eh, tunggu dulu, kayaknya tempat itu jadi makin gede aja deh…" kata Naruto sambil memicingkan matanya, berusaha menaksir berapa ukuran sebenarnya bangunan tersebut. "Lagipula, rasanya aku melihat adanya keramaian…"
"Tunggu, Naruto! Itu, itu-itu-itu-"
"Hei, sejak kapan kau jadi gagap, Kyuubi?"
"B-bukan!" seru Kyuubi sambil menunjuk bangunan di puncak bukit itu dengan efek dramatis. "Itu istana kan! Apa itu berarti teman lamamu itu…?"
"Ou," angguk Naruto. "Dia pangeran… ah bukan, harusnya dia sudah jadi raja di pulau ini."
"EEEHH!" Kyuubi menjerit sambil mencengkeram dua pipinya. "G-gimana ceritanya anak bego, bodoh, dan mesum seperti kamu bisa punya teman seorang raja?"
"Definisi memuji bagimu itu pasti sama dengan menghina ya," ujar Naruto sambil menundukkan kepalanya dan tersenyum masam. "Dulu aku bertemu dengannya dalam sebuah misi pengawalan, dan saat itu dia masih berstatus anak pangeran. Walaupun sebenarnya kami harus berurusan dengan masalah kudeta dan membantunya membasmi para pemberontak itu, tapi yang benar-benar membuat kami jadi teman adalah janji itu."
"Janji?"
"Yep. Dulu kami pernah berjanji, jika sudah menjadi Hokage dan raja, kami akan membuat Konohagakure dan Tsuki no Kuni ini menjadi teman," Naruto tersenyum tipis sambil menatap ke kejauhan, seakan mengenang kembali ingatan di saat-saat itu. "Hah~, aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengan anak itu lagi…"
"Hee…" Kyuubi memperhatikan wajah girang Naruto, dan itu membuatnya ikut tersenyum. "Kelihatannya kalian benar-benar akrab ya…"
"Ah, aku jadi tidak sabar lagi…!" Naruto tiba-tiba menghilang dan muncul lagi tepat di belakang Kyuubi. Dengan satu sapuan cepat, pemuda itu meraup sang gadis ke dalam buaiannya dan mulai berlari. "Daripada lama nunggu, mendingan kugendong saja kamu…!"
"Eh, ah, t-tunggu…!" terlambat, Naruto sudah mulai berlari kencang, dan rapatnya dekapan pemuda itu sama sekali tak memberi ruang bagi Kyuubi untuk membebaskan diri atau meronta. 'Tak apalah, lagipula aku merasa cukup nyaman dibuai olehnya seperti ini…'
Perjalanan mereka selanjutnya berlangsung cepat dan singkat, bagaikan perjalanan air dari puncak menuju kaki gunung, namun tiba-tiba terhalangi oleh sebuah rintangan dalam bentuk pria-pria bertubuh besar dengan pakaian senada yang berdiri di depan gerbang masuk istana. Naruto menurunkan Kyuubi, mengangguk untuk mengisyaratkan agar dia menunggu, sebelum berjalan menuju para penjaga gerbang itu.
"Siapa kau?" pertanyaan bernada kasar itu langsung memberitahu Naruto kalau para penjaga ini pastilah tak terbiasa bersikap ramah. "Di istana saat ini sedang diadakan sebuah pesta anak muda, dan hanya bagi yang membawa kartu undangan yang diperbolehkan masuk."
"Ah, aku tak punya benda itu, tapi aku diundang secara pribadi oleh penyelenggara pesta ini."
"Tak bisa. Kalau tak punya kartu, kau tak boleh masuk…!"
"Ayolah, coba saja tanyakan sendiri padanya," kata Naruto dengan tak sabar, sikap tak bersahabat para penjaga gerbang ini mau tak mau membuat emosinya mulai meluap juga. "Katakan saja pada Hikaru, Naruto di sini untuk menemuinya."
"Hei, beraninya kau menyebut nama Yang Mulia tanpa gelar kehormatan!" geram salah satu penjaga itu sambil mencekal kerah Naruto yang notabene sama tinggi dengannya. "Jangan coba-coba cari masalah ya!"
"Hentikan!" sebuah suara berwibawa, namun anehnya dikenal baik oleh telinga Naruto, bergema di belakang para penjaga gerbang tersebut. Pria di depan Naruto melepaskan cekalannya, dan dengan wajah takut-takut yang sama dengan teman-temannya, berbalik ke belakang untuk menghadap si pemilik suara. "Laporkan apa yang terjadi di sini!"
"Ah, Hikaru-sama," nada suara pria itu langsung berubah drastis, dimanis-maniskan seperti layaknya seorang penjilat. "Tidak ada masalah apa-apa, hanya keributan kecil…"
"Tapi yang kulihat di sini adalah kalian berlaku tak sopan pada seorang tamu!" pemuda dengan rambut cokelat dan kacamata persegi berbingkai perak itu berjalan ke depan mereka semua sambil memberikan tatapan tajamnya. "Dan, tolong katakan kalian sudah tahu siapa orang ini saat bersikap seperti itu?"
"Ah, t-tidak, Yang Mulia. M-memangnya siapa gerangan orang ini?"
"Dia adalah Naruto Uzumaki, sang Hokage Ketujuh dari Konohagakure, negara sahabat kita!" bentak pemuda itu pada anak-anak buahnya, matanya berkilat dengan sinar amarah. "Bersyukurlah aku datang ke sini tepat waktu, karena andai kalian meneruskan perbuatan bodoh menantangnya begitu, kujamin kepala kalian sudah terpisah dengan tubuh sekarang!"
"Hei, Hikaru, kurasa kau agak berlebihan lho…" kata Naruto sambil melihat para penjaga yang masih muda itu kini menatapnya dengan tubuh gemetar ketakutan. "Cara bicaramu itu seakan-akan mengatakan kalau aku ini pembunuh berdarah dingin saja…"
"Ah, Naruto-niichan! Aku sungguh minta maaf atas ketidaksopanan mereka!" melihat raja mereka membungkuk pada Naruto semakin mengonfirmasi ketakutan para pria penjaga gerbang itu bahwa pemuda yang baru saja mereka perlakukan dengan cukup kurang ajar memiliki derajat yang sangat tinggi. "Yakinlah, aku akan memastikan mereka mendapatkan hukuman yang pantas!"
"Hei, sudahlah, tidak usah berlebihan," Naruto menyertai perkataannya dengan sebuah senyum ramah seperti seorang kakak pada adiknya, sebelum merentangkan tangannya. "Dan ngomong-ngomong, sudah berapa lama kita tidak bertemu, Hikaru?"
"5 tahun lebih," gumam pemuda berkacamata bernama Hikaru itu sambil melangkah maju dan memeluk figur kakaknya, menepuk-nepuk punggungnya sambil tertawa bersama-sama. "Jangka waktu yang cukup lama untuk membuat kita berubah. Kau jadi semakin dewasa dan ganteng lho, Onii-chan."
"Dan kau menjadi makin disiplin dan berwibawa, tepat seperti bagaimana seorang raja seharusnya," Naruto tersenyum lebar. "Jadi teringat, dulu kau anak yang sangat sombong…"
"Em, bisakah kita tidak membicarakan itu? Kalau ingat lagi bagaimana sikapku saat kecil, itu jadi membuatku malu…"
"Bicara soal masa lalu, bagaimana Occhan? Dietnya sudah sukses?"
"Mungkin lebih baik kalau kau lihat sendiri. Ayo," pemuda itu mengisyaratkan pada Naruto untuk mengikutinya. "Papa sudah menunggumu lho."
"Ah, baiklah," Naruto sudah siap melangkahkan kakinya ketika ia merasa telah melupakan sesuatu. Yah, dia tak perlu susah-susah mencari, karena tarikan kecil di ujung bajunya telah berhasil mengingatkannya dengan sukses.
"Naruto…" gadis itu kini memasang ekspresi terluka seperti anak anjing yang terlupakan. "Kau tidak akan melupakanku di sini kan…?"
"A-ah haha, tentu saja aku tidak melakukan itu…!" bohong. Kalau boleh jujur, maka Naruto harus mengaku kalau dia tadi memang benar-benar lupa pada keberadaan Kyuubi.
"Hei, aku tidak menyadarinya sampai sekarang. Siapa ini, Naruto-niichan?"
"Perkenalkan, namaku Kyuu—Haup!"
"H-hanya itu! N-namanya Kyuu!" kata Naruto dengan terburu-buru sambil terus menekap mulut Kyuubi sebelum menyeret si rambut merah itu menjauh dari Hikaru yang menatap mereka dengan bingung, dan berbisik. "Hei, ngapain memperkenalkan diri pakai nama aslimu…!"
"Ah, aku lupa," jawab gadis itu singkat sambil menjulurkan lidahnya, tersipu malu. "Gomenne…"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Tapi ingat, jika ingin memperkenalkan diri, jangan pakai nama itu. Bisa berabe, tahu."
"Kalian kenapa?" curiga dengan sikap Naruto yang terasa aneh, Hikaru mendekat dan bertanya. "Kok pada aneh begitu?"
"H-hahaha, bukan apa-apa kok, tenang saja, tenang saja," walau masih merasa penasaran pada sikap Naruto, toh pada akhirnya Hikaru tak mempermasalahkannya lebih jauh lagi. "S-seperti yang tadi kubilang, perkenalkan, ini Kyuu."
"Yoroshiku onegaishimasu…" ucap Kyuubi lembut sambil membungkuk.
"A-ahh, yoroshiku…" dia mungkin hanya berhalusinasi, tapi dia merasa ada sesuatu yang mengganggunya ketika mereka bertemu pandang. Hikaru tidak tahu kapan atau di mana, tapi entah kenapa dia merasa pernah melihat mata merah itu, dulu… dulu sekali. 'Kenapa matanya terlihat familiar ya…?'
Namun kecurigaan apapun yang dimiliki Hikaru saat itu harus ditunda dulu, karena kini Naruto menepuk pundaknya dan berkata, "Hei, kita pergi sekarang?"
"A-ah, ya," walaupun sedikit susah, Hikaru berhasil menemukan kekalemannya lagi. "Mari, ikuti aku."
To be Continued…
~••~
Hiraishin no Jutsu (Flying Thunder God Technique) adalah jurus perpindahan tempat ultra cepat yang menggunakan konsep Kuchiyose dan diciptakan oleh Yondaime. Sedangkan Chikyuu Bunriki no Jutsu (Earth Splitter Technique) adalah teknik Taijutsu yang diciptakan oleh Naruto sendiri, menggunakan aliran chakra untuk membelah bagian manapun dari bumi (batu, air, dll). Kelemahan jutsu ini, sekaligus merupakan kelebihannya, adalah walaupun bisa membelah 'bumi' tapi tak bisa membelah makhluk hidup.
Ah, Konoha no Kiiroi Senkou (Konoha's Yellow Flash) adalah julukan Yondaime.
Ngomong-ngomong, penjelasan nilai-nilai psikologis tersedia di chap berikutnya, tapi hamba punya hadiah nih.
Sneak peek
"Beberapa minggu ini benar-benar menyenangkan, Naruto…" bisik Kyuubi sambil membelai kepala Naruto yang tertidur di atas pahanya. "Bahkan sampai terasa seperti mimpi…"
Gadis itu terus memandangi Naruto, seakan berusaha mematri wajah sang pemuda ke dalam kenangannya. Kyuubi ingin bisa mengingat Naruto, walau untuk yang terakhir kali…
"Tapi…" dengan begitu lembut dan pelan, Kyuubi mengangkat kepala Naruto dan meletakkan bantal untuk menggantikannya, sebelum berdiri dan berjalan lambat-lambat ke pintu. "Tak ada mimpi yang berlangsung selamanya…"
Pintu terbuka tanpa suara, dan cahaya dari koridor hotel yang terang menyusup masuk lewat celahnya ke dalam kamar yang gelap. Kyuubi berhenti, kemudian menolehkan kepalanya untuk kali terakhir. Dari matanya yang semerah rubi, mengalir dua arus yang berkilau oleh cahaya.
"Terima kasih…" dia berbisik pelan, sebelum menyelipkan dirinya melewati pintu dan menutupnya perlahan-lahan. Namun sebelum cahaya dari celah pintu menghilang dan kamar kembali menjadi gelap gulita, bisikan terakhirnya terdengar laksana sebuah gema. "Dan selamat tinggal…"
…
Yep, hamba rasa segitu cukup. Jika kalian ingin membaca lanjutannya, maka tolong berikan komentar kalian. Karena chapternya sudah selesai, hamba sih tinggal nunggu aja.
Terima kasih sudah membaca!
Galerians, out.
