Galerians, in.
Ohh, makasih, makasih, makasih banyaak deh sama semua reviewer yang baek-baek! Hamba sungguh senang kalian mau membaca dan mengomentari cerita yang (sebenarnya) abal dan aneh ini! Ohh~, kemarilah kalian! Biar hamba cium satu persatu-
…Oke, kalo dicium seorang cowok yang mantan preman gini, pasti jijik abis ya. Tolong gampar hamba sebelum hal itu bener-bener kejadian.
Hmmh~, benar, fic ini mulai kekurangan feel-nya. Mungkin karena hamba agak memperpanjangnya dengan menulis hal-hal yang sebenernya gak penting ya?
OKELAH!
Mulai dari chap ini, kita akan serius! Nggak ada lagi istilah 'merry merry go round', blibeth ribeth kesambeth! Pokoknya kali ini, perkembangan plot adalah prioritas U! TA! MA! Nggak ada ganggu gugat!
Yokai desu, saatnya reviews' replies:
Zhan: "Rambut Kyuubi agak lebih merah lagi dari Kushina, tapi Kyuubi gak pake jepit rambut."
Upe Jun: "Ouuh, tengkyu banget udah mereview semua 5 chap ya! Tapi tolong deh, hamba ini tiap udah terlalu sering dibilang sakit jiwa, jadi nggak usah diulang lagi ya…"
akuanakbaik: "Yep, ini memang si Hikaru yang pake kacamata segede tutup botol susu!"
Saqee-chan: "Hah? Kamu bicara apa?"
Micon: "Yep, kau benar sekali. Hamba memang agak terlalu 'memanjangkan cerita'. Ending? Hohoho, nanti jadi spoiler dong. Dan untuk pertanyaanmu soal yaoi…TIDAK. Hamba bukannya membenci, tapi hamba cuma nggak bisa nemu apa yang banyak fujoshi bilang bagus dari yaoi. Maaf."
Lou: "Sama kayak di atas, kau betul sekali! Chap 4 dan 5 itu sebenarnya mah bisa dibikin satu chap aja, tapi kayaknya hamba gak sengaja bikin kepanjangan! Dan untuk pertanyaanmu…belum ada."
Ray Ichimura: "Artinya kamu harus nunggu dong…"
Rukawa-Alisa-chan: "Hahaha, bener juga tuh! Noh, Kyuubi, dengerin! Mendingan rumput laut daripada sepatu!"
Syeren: "Gimana bisanya? Hiraishin no Jutsu itu pada dasarnya memakai konsep Kuchiyose no Jutsu. Jadi istilahnya, belajar sendiri pun jadi (walaupun mungkin amat susah sekali), ayah dan anak sama-sama hebat kan? En soal berguru…kayaknya hamba ini masih terlalu amatiran deh buat ngajarin orang…"
mika94 agustus: "Hehehe, iya, dia memang hamba bikin kekanakan…"
Kuroi5: "Makasih banget atas pujiannya~. Rasanya bisa bikin hamba terbang melayang. Semoga hamba bisa mempertahankan kualitasnya."
qhieZa-chan: "Sneak peek itu artinya sama kok dengan preview, cuma bahasanya aja lebih keren."
Pein Nggak Mesum: "Yep, betul sekali! Cuma Hikaru kali ini juga udah lebih dewasa."
Higashikuni: "Ou, terima kasih banyak atas reviewnya ya! Juga atas reviewnya di fic 'Aku adalah Milikmu'."
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)
'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.
Selamat membaca!
~••~
The Severed Bond
Kyuubi melangkah perlahan, berjalan melalui koridor yang besar namun sunyi, menjauhi gegap gempita dari pesta yang makin lama makin pudar suaranya. Tak terlihat siapapun, bahkan walau cuma satu penjaga. Tapi itu bukan masalah, karena kesunyian ini justru membantunya.
Naruto sudah bilang padanya agar dia menunggu saja di tempat pesta, selagi pemuda itu pergi bersama si bocah bernama bernama Hikaru, entah ke mana dan entah untuk urusan apa.
Tetapi sendirian di antara orang-orang asing membuat Kyuubi merasa tak nyaman, dan apapun yang dilakukan oleh Hikaru dan Naruto entah kenapa terasa begitu lama. Dia sudah mencoba mencoba menunggu, tapi lama-kelamaan, Kyuubi menjadi tak tahan dan akhirnya memutuskan untuk pergi mencari.
Di sepanjang jalan, Kyuubi menemukan beberapa ruangan, tapi semuanya kosong melompong kecuali oleh furnitur-furnitur, dan keadaannya terus begitu sampai dia menemukan sebuah pintu kayu berukuran sedang di ujung koridor yang, entah karena alasan apa, terbuka sedikit.
Ketika Kyuubi meraih handel pintu, dinginnya logam membuat hatinya tiba-tiba menjadi cemas. Tapi sebelum ia berhasil membukanya, sebuah teriakan menghentikannya.
"Itu tidak mengubah apapun!"
Kyuubi serta merta mengurungkan niatnya.
"Biarpun dia sekarang sudah berwujud manusia, itu tidak mengubah fakta kalau dia adalah Kyuubi no Youko! Dan kau, Naruto-niichan, harusnya mengerti apa artinya itu!"
Seluruh tubuh Kyuubi membeku, bahkan tangannya tak bisa ditarik dari handel pintu. Dari sedikit celah pintu yang terbuka, Kyuubi bisa melihat dua pemuda itu kini berdiri berhadapan di sebuah pekarangan, yang tanpa penerangan kecuali kemilau rembulan.
"Tapi dia sudah tak berbahaya…!" Naruto berusaha berargumen, namun tak seperti Hikaru, suara Naruto sama sekali tak mengandung ketegasan…hanya ada keraguan. "Dia itu…bahkan lebih lemah dari gadis biasa…!"
"…" Hikaru diam, tangannya bersidekap selagi matanya menatap Naruto dengan ketajaman sebuah pisau belati. Ketika dia bicara selanjutnya, Hikaru sama sekali tidak membiarkan adanya ruang untuk argumen. "…Apa itu bisa mengubah apa yang telah dia lakukan?"
Saat itu, tanpa diketahui oleh pemiliknya sendiri, hati Naruto dan Kyuubi terasa begitu sakit seperti tertusuk pisau berkarat…dalam waktu yang bersamaan.
"Apakah wujudnya sekarang, bisa mengubah kenyataan kalau dulu dia telah melakukan hal-hal yang tak termaafkan?" Hikaru meneruskan, suaranya tegas dan berwibawa layaknya seorang raja yang bijaksana. "Apakah karena dia sekarang hanya seorang gadis biasa, lalu bisa melupakan kalau dia telah membunuh begitu banyak orang? Dan menyebabkan begitu banyak penderitaan?"
Di balik pintu yang memisahkan dirinya dan dua pemuda itu, Kyuubi merasakan lututnya kehilangan tenaga. Tubuh gadis itu merosot pelan, punggungnya tersandar pada daun pintu yang entah kenapa terasa sedingin es.
"Dan jangan bilang kau lupa, Onii-chan. Dia…" Hikaru menyentakkan jari telunjuknya ke arah bangunan megah yang berdiri di sampingnya, seakan menunjuk Kyuubi yang masih ada di dalam sana. "Dia…yang telah menyebabkan kau jadi yatim piatu."
Di sana, tersisa kesunyian yang menyesakkan. Naruto telah kehilangan argumen, Hikaru telah membuktikan bahwa semua perkataannya memiliki dasar yang kuat dan tak bisa didebat. Walaupun demikian…walaupun Naruto tahu semua itu benar, dia masih bisa merasakan keengganan yang kuat dalam hatinya.
Karena dia tak ingin. Dia tak mau hubungan mereka berakhir…tidak seperti ini…
"Aku…" sang Shichidaime berusaha memulai, namun tetap tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan. "…A-aku…"
Sejenak hanya hening, sampai Hikaru mengucapkan hal yang membuat tubuh Naruto bergetar hebat.
"Kalian tak bisa bersama…" kata Hikaru, seakan tahu dengan begitu jelas apa yang sebenarnya tersembunyi dalam hati Naruto. "Kau…tak boleh memiliki perasaan itu padanya, Onii-chan…"
"A-apa…?" Naruto bukannya tidak mengerti…namun dia menolak untuk mengerti. Walaupun Naruto tahu menyangkal kenyataan itu hanya akan membuat hatinya semakin sakit. "A-apa yang kau bicarakan, Hikaru?"
"Aku tahu, Naruto-niichan…" suara Hikaru berubah menjadi lebih lembut. "Cukup dari caramu memandangnya saja, aku sudah tahu…"
'Eh…?" Kyuubi tiba-tiba merasakan dadanya berdetak cepat. 'A-apa…?'
"Sepanjang pesta, kau terus saja menjaganya agar dekat denganmu. Kau tak mau melepas tangannya, dan kau selalu saja mengeluarkan hawa membunuh setiap kali ada laki-laki lain yang mencoba mendekatinya."
Baru pada saat itulah, Kyuubi mengerti apa maksud Hikaru. Benarkah…? Benarkah Naruto…?
"Tapi tetap saja, kau tak boleh sampai memiliki perasaan itu," nada suara Hikaru kuat dan tegas, seakan memukulkan palu di sebuah meja pengadilan. "Kau adalah Hokage, pemimpin Konohagakure, dan dia adalah Kyuubi no Youko. Perasaan macam itu…tak seharusnya kalian miliki…"
"…Kenapa…?" setelah lama tak bersuara, akhirnya Naruto bicara juga. Tapi suaranya…terdengar begitu menyedihkan dan penuh keputusasaan. "Kenapa…kenapa? Kenapa harus begitu, kenapa kami tidak bisa…?"
"Karena kau tak bisa menyembunyikan dia selamanya." jawab Hikaru dengan cepat dan tanpa keraguan, seakan dia sudah mempersiapkan jawaban tersebut sejak lama.
"Apapun yang kau lakukan, cepat atau lambat, hal ini pasti akan ketahuan juga…" Hikaru meneruskan. "Dan jika saat itu tiba, bisakah mereka, para penduduk Konoha dan semua teman-temanmu, menerima seseorang yang dulu telah membunuh begitu banyak kerabat, keluarga, dan teman-teman mereka?"
Mata Naruto melebar, dan bahunya berguncang sekuat sebuah gempa. Itulah kenyataan…begitu pedih dan menyakitkan.
Tak seberapa jauh dari Naruto dan Hikaru, tak terlihat dan diketahui oleh mereka berdua karena tersembunyi oleh tubuh kayu dari daun pintu, seorang gadis yang mengenakan sundress berwarna pink merasakan matanya menjadi panas.
Namun sebelum dia sempat meneteskan air mata, gadis itu berdiri dan berlari pergi, seakan berusaha kabur dari kenyataan yang kini telah menghancurkan kebahagiaannya.
~•~
"Kamar nomor berapa, Nona?"
"N-nomor…ugh…" Kyuubi kesulitan bicara, dan semua itu karena berat seorang pemuda yang kini harus dipapahnya. "N-nomor 12…"
"Ini…" pelayan perempuan yang bertugas menjaga meja resepsionis itu menyodorkan sebuah kunci, sebelum mengerutkan dahinya melihat Kyuubi yang kesusahan. "E-em, apakah tuan itu baik-baik saja?"
"T-tidak apa-apa kok…" sahut Kyuubi sambil tersenyum tipis, mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil kunci tersebut. "Dia hanya terlalu mabuk…"
"Apa Anda perlu bantuan memapahnya?"
"Tidak usah. Aku bisa sendiri kok…"
Sebelum pelayan tersebut bisa mengucapkan hal lain, Kyuubi sudah melangkah pergi, berjalan menuju koridor di mana pintu kamarnya berada. Tapi walaupun dia telah menolak tawaran pelayan itu, Kyuubi tetap saja harus mengakui kalau pria yang harus dipapahnya ini sangat berat.
Setelah membuka pintu kamar, tanpa menyalakan lampu Kyuubi langsung berjalan menuju ranjang yang terletak agak di pinggir ruangan, bersampingan dengan jendela. Dengan susah payah, Kyuubi berhasil membawa dan menjatuhkan tubuh pria itu ke atas ranjang, membiarkan kasur yang empuk dan berpegas mengambil alih beban berat badannya.
Kyuubi berhenti sejenak di samping jendela, mendengar langit bergemuruh dan awan hitam bergerak cepat, menutupi bintang-bintang dan bulan dari pandangan. Seakan-akan langit ikut berduka untuknya, seakan-akan langit tahu betapa keras usaha Kyuubi untuk menahan air matanya…
'Tidak…' pikir Kyuubi sambil mengalihkan pandangannya. 'Aku tidak boleh menangis sekarang…'
Dengan gerakan yang lambat dan tak menimbulkan suara, Kyuubi bergerak membetulkan posisi tidur sang pemuda, sebelum bergerak melepaskan sepatunya yang masih terpasang. Setelah dia benar-benar terlihat layaknya orang tidur, barulah Kyuubi menghentikan pekerjaannya dan duduk bersimpuh di samping sang pemuda.
'Wajahnya…merah sekali…' pikir Kyuubi pelan sambil membelai wajah dengan kumis kembar tiga itu, mengetahui dengan jelas bahwa warna merah itu dihasilkan oleh pencemaran alkohol yang begitu banyak. 'Kenapa kau membuat dirimu semabuk ini, Naruto…?'
~(FBS)~
Tak sebegitu lama setelah Kyuubi lari dari tempat itu, Hikaru dan Naruto kembali. Mereka berdua memang tersenyum, dan bersikap seakan semuanya baik-baik saja, namun Kyuubi bisa melihat bahwa senyum Naruto tidaklah lagi ringan dan riang seperti yang ada dalam ingatannya. Senyum itu dipaksakan, dipampangkan hanya demi menyembunyikan kalut dan kemelut yang bergolak dalam hatinya.
Kyuubi sendiri jadi tidak banyak bicara lagi, karena setiap kali memandang wajah Naruto, selalu ada perasaan menyesakkan yang memenuhi dadanya. Membuat Kyuubi menjadi susah bernapas, membuatnya jadi ingin sesenggukan, menyebabkan hatinya terasa sakit dan matanya basah. Semua hal itu, membuat Kyuubi menghindari Naruto, secara tak sadar membuat sang pemuda jadi makin frustasi.
Di penghujung malam, Naruto tiba-tiba mendatangi Kyuubi, yang duduk jauh di samping ruangan pesta, bau Naruto yang berubah menjadi aroma alkohol memberitahukan bahwa dia telah minum terlalu banyak sake dan akhirnya mabuk berat.
Saat mereka mau pergi, Hikaru sempat menawarkan untuk mengantar mereka, yang Kyuubi tolak dengan halus. Walaupun itu berarti Kyuubi harus memapah Naruto sepanjang jalan, ia ingin setidaknya satu kali lagi waktu bersama Naruto tanpa ada orang lain.
Karena jika semua ini harus segera berakhir, Kyuubi ingin paling tidak sekali lagi merasakan satu kebahagiaan lagi bersama Naruto…karena setelah malam ini…
Takkan ada lagi kebahagiaan baginya.
~(FBE)~
"Kenapa…Naruto…?" bisik Kyuubi, telapak tangannya tak henti mengusap wajah Naruto dengan lembut. "Kau tahu semua masalahmu takkan hilang walau sebanyak apapun alkohol yang kau telan…"
Itu kembali mengingatkannya. Kyuubi mengerti, semua masalah yang membebani Naruto sampai membuatnya seperti ini adalah karena dirinya…dan hubungan mereka.
"Padahal…aku tak butuh yang lain…" gumam Kyuubi kecil, berusaha sebisa mungkin agar tak terisak. "Padahal…hanya begini saja, sudah membuatku bahagia…"
Tapi itu tak mungkin. Seperti kata Hikaru, masa lalu adalah sesuatu yang tak bisa dihapus dengan cara apapun. Dan Kyuubi tak bisa mengubah fakta kalau dialah yang sudah membuat Naruto harus kehilangan kedua orang tuanya, dialah yang membuat Naruto harus mengalami sakitnya kesepian di masa kecilnya.
Bahkan sekarangpun, keberadaannya hanya akan menciptakan masalah bagi Naruto.
"Aku harus melakukannya sekarang…" kata Kyuubi, berusaha terdengar tegas walaupun suaranya hancur menahan kesedihan. Menarik tangannya dari wajah Naruto membuatnya begitu tersiksa, tapi Kyuubi bertahan, dan mulai beringsut untuk turun dari ranjang itu. "Kalau tidak, aku…"
Namun sebelum Kyuubi berhasil mencapai sisi ranjang, dua tangan yang kuat tiba-tiba saja muncul dan memeluk pinggangnya dengan erat, menghalanginya untuk pergi. Kyuubi merasakan jantungnya berhenti berdetak, terutama setelah sebuah suara tiba-tiba saja membelai gendang telinganya.
"…Jangan pergi…"
Kyuubi tak ingin mempercayainya, namun dekapan kedua tangan itu semakin erat, seakan-akan pemiliknya tahu apa yang akan terjadi jika dia sampai melepaskan Kyuubi.
"…Kumohon…jangan tinggalkan aku…"
Kyuubi memutar tubuhnya perlahan-lahan, menatap wajah Naruto yang masih begitu merah dan mata birunya yang terbuka, namun tak fokus karena pengaruh zat memabukkan dari sake yang telah begitu banyak ia telan. Kyuubi berusaha tersenyum, walaupun dipaksakan.
Tanpa bicara ataupun secarik suara, Kyuubi bersimpuh dan membetulkan posisi Naruto, lalu membaringkan kepala penuh rambut pirang itu di atas pahanya. Kyuubi meletakkan tangan kirinya di pipi Naruto, kemudian mulai membelai kepala sang Hokage Ketujuh dengan tangan kanannya, menyisir rambutnya dengan jari-jarinya yang lancip.
Memberi Naruto kenyamanan dan kehangatan…
Mengungkapkan kasih sayang yang kini telah mekar di dalam hatinya…
Sejenak kemudian, mata Naruto kembali tertutup dan nafasnya yang semula agak terengah-engah kembali normal, menandakan bahwa dia telah tertidur kembali. Mengisyaratkan bahwa kesadarannya telah kembali ke alam mimpi.
…Dan dengan ini, tibalah saatnya mengucapkan perpisahan.
"…Beberapa minggu ini benar-benar menyenangkan, Naruto…" bisik Kyuubi sambil terus membelai kepala Naruto yang tertidur di atas pahanya. "Bahkan sampai terasa seperti mimpi…"
Gadis itu terus memandangi Naruto, seakan berusaha mematri wajah sang pemuda ke dalam kenangannya. Kyuubi ingin bisa mengingat Naruto, wajahnya, rambutnya…semuanya, walau untuk yang terakhir kali…
"Tapi…" dengan begitu lembut dan pelan, Kyuubi mengangkat kepala Naruto dan meletakkan bantal untuk menggantikan pahanya, sebelum berdiri dan berjalan lambat-lambat ke pintu. "Tak ada mimpi yang berlangsung selamanya…"
Pintu terbuka tanpa suara, dan cahaya dari koridor hotel yang terang menyusup masuk lewat celahnya ke dalam kamar yang gelap. Kyuubi berhenti, kemudian menolehkan kepalanya untuk kali terakhir. Dari matanya yang semerah rubi, mengalir dua arus yang berkilau oleh cahaya.
"Terima kasih…" dia berbisik pelan, sebelum menyelipkan dirinya melewati pintu dan menutupnya perlahan-lahan. Namun sebelum cahaya dari celah pintu menghilang dan kamar kembali menjadi gelap gulita, bisikan terakhirnya terdengar laksana sebuah gema. "Dan selamat tinggal…"
Ketika pintu tertutup tanpa suara, langit tiba-tiba menggelegar, selarik petir biru muncul bagaikan membelah angkasa. Hujan turun tanpa ampun, begitu lebat seakan-akan langit benar-benar meratap, meraung dengan gunturnya, terisak dengan kilatnya. Seakan memberi sebuah pertanda pada dunia…
Bahwa pada detik itu, satu ikatan yang tercipta dan terus ada selama 18 tahun, telah putus dan hilang untuk selamanya.
~•~
"Ugh…" ketika kesadaran kembali padanya, Naruto merasakan sakit kepala yang luar biasa. Seluruh tubuhnya terasa tidak enak, dan rasanya seakan-akan ada sebuah roda bergerigi yang terus berputar di dalam batok tengkoraknya.
Tak seberapa lama, rasa mual yang hebat menyerang Naruto, memaksa pemuda itu untuk berdiri dan melesat ke arah kamar mandi. Dengan satu gerakan, dia membuka tutup pispot lalu memuntahkan semua isi perutnya. "HOOEK!"
Setelah tiga muntahan, akhirnya Naruto selesai. Tanpa ada hasrat untuk melihat apa yang tersisa di pispot, dia menekan tombol flush dan mendengar suara bergelegak pertanda isi perutnya akan segera hilang dari pandangan.
Naruto segera berkumur di wastafel untuk menghilangkan rasa asam dan pahit yang masih tersisa di mulutnya, sebelum kembali ke kamar yang begitu gelap.
"Nnn…" perlu waktu beberapa detik bagi Naruto sebelum otak dan panca inderanya kembali fokus, dan saat itulah dia menyadari suara deru hujan yang begitu lebat, angin yang menampar-nampar kaca jendela, dan pemandangan air hujan yang membasahinya. "…Lebat sekali…"
Dengan mata sayu karena masih pusing, Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hanya butuh waktu sebentar bagi mata Naruto untuk terbiasa pada kegelapan. Pemuda itu terus memandang berkeliling, mencari sesuatu secara tak sadar.
Dia tak bisa melihat Kyuubi ada di mana.
"…Kyuubi?" dia memanggil pelan, namun setelah beberapa saat menunggu, sama sekali tak ada jawaban. "Hei, Kyuubi…"
Tatapan pemuda itu jatuh ke ranjang, namun selimut yang masih rata menunjukkan kalau tak ada siapa-siapa di sana. Tatapannya berpindah ke sofa, dan akhirnya meneliti seluruh ruangan, tapi tetap tak ada perubahan pemandangan.
Saat itu, bagaikan kuatnya hantaman sebuah palu godam, Naruto tersadar akan satu fakta. Kyuubi tak ada di mana-mana.
"H-hei, Kyuubi…!" dia merasakan kecemasannya meningkat, terus dan terus sampai terasa menyakitkan dadanya. "Kyuubi, ayolah, jangan bercanda…! Ini tidak lucu!"
Sakit kepalanya sama sekali tidak ia gubris ketika pemuda itu tergopoh-gopoh kembali membuka pintu kamar mandi, lalu menarik tirai bath tub dengan kasar. Namun seperti ketakutannya, di sana tetap tak ada siapa-siapa.
"Kyuubi!" Naruto sudah berteriak sekarang, namun suaranya diredam oleh lebatnya hujan. "KYUUBI!"
Walaupun kepalanya masih pusing sebagai akibat mabuk, Naruto melesat ke pintu dan membukanya tanpa peduli keributan macam apa yang ia timbulkan. Naruto bahkan sama sekali tak menutupnya selagi dia berlari, agak terteter karena tubuhnya masih lemas, ke arah lobi.
Tepat di pintu lobi, seorang pelayan tiba-tiba saja muncul, yang dikenalinya sebagai penjaga meja resepsionis.
"Tuan, ada apa ribut-ribu-"
"Hei, apa kau melihat gadis yang datang bersamaku?" potong Naruto cepat, mencengkeram lengan sang pelayan dengan kekuatan yang agak sedikit berlebihan dari yang sebetulnya ia inginkan. "Tolong katakan kau melihatnya!"
"Baik, baik, tenang dulu, Tuan," kata pelayan itu, sedikit ketakutan melihat ekspresi di wajah Naruto. "S-saya memang melihatnya…"
"Di mana dia? Di mana gadis itu!"
"D-dia keluar dari hotel ini beberapa menit setelah mengantar Anda masuk, tepat ketika hujan mulai turun," jawab pelayan itu. "Saya sudah mencoba menghentikannya, tapi Nona tak menjawab sedikitpun. Kecuali…"
"Kecuali?" desak Naruto. "KECUALI APA!"
"D-dia minta saya menyampaikan ini kalau-kalau Anda menanyakannya," pelayan itu mengernyit kesakitan karena cengkeraman Naruto, namun dia meneruskan perkataannya. "Nona itu bilang, 'Terima kasih untuk semuanya'…"
Cengkeraman tangan Naruto tiba-tiba lepas, dan matanya melebar shock. Perkataan itu…hanya memiliki satu arti…
'Tapi kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa dia sudah merencanakan ini sejak lama? Atau jangan-jangan…dia mendengar pembicaraanku dengan Hikaru? Tapi, itu berarti…'
Semua pemikiran Naruto tiba-tiba terputus saat sebuah guntur yang begitu kuat menggelegar, saking dahsyatnya sampai listrik di hotel itu berkedip-kedip sebentar dan dinding sampai terasa bergetar. Saat itu juga, Naruto menyadari apa yang sebenarnya harus paling ia khawatirkan sekarang…
'Dia…sendirian di bawah hujan selebat ini…tanpa perlindungan…'
Melihat Naruto yang tiba-tiba diam, sang pelayan perempuan jadi merasa cemas. Dia sudah hampir mengucapkan sesuatu ketika Naruto tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan kecepatan tinggi, dan dia terkesiap saat melihat mata pemuda itu kini berwarna keemasan, dan pupilnya telah berubah horizontal.
…Sebelum sosoknya tiba-tiba menghilang dalam cahaya kuning keemasan, menyisakan angin yang begitu kuat seperti ledakan tenaga pendorong roket.
…
"KYUUBI!" Naruto berteriak dengan seluruh udara yang terhela oleh napasnya. Namun dia tahu kalau itu hanyalah usaha sia-sia, gemuruh hujan yang selebat ini akan menelan semua suara, tak terkecuali teriakannya. "Ugh…!"
Satu jam lebih telah berlalu, namun usaha Naruto tetap tak membuahkan hasil. Dia tak hanya mencari, pemuda itu juga telah bertanya kesana-kemari, namun sayang, selalu 'tidak' yang ia dapatkan sebagai jawaban.
Namun pemuda itu tak menyerah, dan terus melesat sekuat tenaga, memapas guyuran hujan, mengacuhkan sambaran petir. Bajunya basah sampai ke serat kain terdalam, dan dinginnya suhu membuat giginya gemeletuk dengan sendirinya, tapi Naruto sama sekali tak peduli pada keadaannya sendiri.
'Jika aku saja sedingin ini…bagaimana dengan Kyuubi…?'
Mode Sennin memang membuatnya bisa mendeteksi aura chakra, tapi dia juga tahu bahwa Kyuubi yang sekarang hampir tak memiliki aura chakra lagi. Hujan yang begitu deras juga ikut mengacaukan kemampuannya, tapi… TAPI…!
Naruto tak mau melewatkan kesempatan sekecil apapun…! Dia…tak mau kehilangan orang yang berharga baginya lagi!
Gadis itu pasti sangat menderita sekarang, dan itu semua disebabkan olehnya! Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Dia berjalan sendirian, di bawah hujan yang sebegitu lebat dan suhu yang sebegitu rendah…tanpa siapapun untuk melindunginya! Bagaimana kalau dia…! AAGH!
"SIALAAN!" di puncak sebuah gedung tertinggi, Naruto meraung sehabis-habisnya. "KYUUBIII!"
Angin yang begitu kencang tiba-tiba berhembus, saking kuatnya sampai Naruto merasa dia bisa diterbangkan kapan saja. Namun tepat di kejab itu, dalam satu kedipan mata, Naruto melihat sesuatu yang membuat jantungnya hampir meledak karena terkejut.
Tangan Naruto berkelebat, membentuk sebuah gerakan dalam kecepatan tak terlihat, dan menangkap sebuah objek yang melayang di udara, sesuatu yang begitu tipis dan panjang bagaikan sebuah benang.
Satu helai rambut berwarna merah menyala kini tergenggam oleh tangannya.
Naruto memutar kepalanya pelan-pelan, menuju ke arah asal angin bertiup. Jantungnya yang sempat berhenti, berdetak kembali, tapi kali ini dengan sebuah hentakan yang membuat Naruto merasa seakan bisa mendengarnya berdebar, walaupun di tengah gemuruh badai angin dan deru hujan.
Naruto berlari sampai ke tepi gedung, dan menjejakkan kakinya dengan sebegitu kuat sampai meninggalkan bekas remuk di atas permukaannya.
Ini mungkin hanya kebetulan, dan tak ada yang bisa mengatakan kalau ini adalah arah yang benar. Tapi Naruto akan mempertaruhkan semuanya, dan hatinya berharap, bahwa helai rambut merah ini akan menjadi benang takdir baginya.
~•~
Kakinya sudah begitu sakit, dan berkali-kali keseimbangannya goyah, namun gadis itu menolak untuk menyerah. Dia terus berjalan, memapas semak belukar sembari menyibakkan ranting-ranting yang menghalangi jalannya, satu tujuan dan tekad terpatri dalam nuraninya.
Dan pada akhirnya, setelah terus berjalan selama berjam-jam, Kyuubi akhirnya berhasil keluar dari hutan. Pemandangan pantai yang luas, dengan debur kencang yang dihasilkan badai angin, menyambutnya dengan tangan terbuka. Membuat sebuah senyum muncul di wajahnya.
"Akhirnya…" bisik Kyuubi, mengambil beberapa langkah di atas pasir putih yang basah di bawah kakinya.
Dia merasakan kebahagiaan dan kesedihan bercampur aduk di dalam hatinya. Dia bahagia karena bisa setidaknya bisa mencapai pantai ini sebelum kehabisan tenaga, tapi dia juga sedih karena sampai di tempat ini adalah pertanda akhir perjalanannya.
Kyuubi melihat berkeliling pantai, dan kenangan akan pengalamannya siang tadi seakan berputar kembali di depan matanya. Gadis itu seakan bisa melihat dirinya, bergerak kesana-kemari dengan susah payah karena serangan bola pantai yang gencar dari lawan mainnya.
Pandangan matanya sekarang terpaku ke arah laut, tepat di mana siang tadi ia hampir tenggelam. Seakan sebuah ilusi, Kyuubi seakan melihat kembali bagaimana laut terbelah ketika Naruto menggunakan jurusnya, dan bagaimana pemuda itu menyelamatkannya dari bahaya.
Kyuubi mendengus pelan, mengingat bagaimana saat itu dia dengan lancangnya mengklaim bahwa pemuda itu adalah pangeran berkuda putih baginya. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir begitu? Padahal Kyuubi tahu kalau dia…makhluk sepertinya, tak pantas menganggap orang itu sebagai pangerannya…
Dan yang terakhir, pandangan Kyuubi jatuh pada sebuah karang besar, tempat di mana ia dan sang pemuda memancing bersama. Di sana, untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun hidupnya, Kyuubi tertawa yang murni berasal dari kegembiraan, tanpa kesinisan ataupun kekejaman. Dan penyebabnya, adalah satu pemuda…
"Naruto…" kakinya akhirnya kehabisan tenaga, dan gadis itu jatuh berlutut sambil terisak-isak memanggil sebuah nama yang begitu disukainya. "Naruto…Naruto…"
Selalu saja seperti itu, di saat dia berpikir telah menemukan kebahagiaan, hal itu selalu saja direnggut dengan paksa darinya. Seakan dia ditakdirkan hanya untuk merasakan sakitnya kesedihan…dan pedihnya kesepian.
Kyuubi membuka matanya, menunjukkan perasaan yang hancur berantakan, hati yang remuk redam. Memandang ke arah laut, tempat di mana dia akan mengakhiri semua penderitaan ini…
…Sesuatu berdesing, dan tiba-tiba saja, debur yang begitu kuat tercipta di laut di depan Kyuubi seakan ada sebuah bom yang meledak di bawahnya. Dan saat semua itu berlalu, Kyuubi tak bisa memercayai matanya.
Di depan sana, berdiri di tengah laut yang mencapai setengah pahanya, adalah sebuah sosok yang memakai sleeveless jacket berwarna jingga dan hitam. Rambutnya, yang pirang dan gondrong dan basah, menempel ke wajahnya, membuat ekspresinya tersamarkan.
Kyuubi menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan isakan yang hampir saja pecah.
"…Kenapa…?" dia telah mengira takkan melihat sosok itu lagi, Kyuubi telah mengira dia takkan melihat wajah itu lagi. Lalu kenapa? Kenapa? "Kenapa kau di sini…?"
"Harusnya aku yang bertanya," mereka berbicara dengan volume seakan-akan ini hanyalah sebuah obrolan, namun suara mereka bisa terdengar di antara gemuruh hujan. "Kenapa kau pergi…?"
Kyuubi diam.
"Jika kau pergi karena apa yang dikatakan Hikaru, itu-"
"Tidak," jawab Kyuubi cepat. "Bukan karena itu…"
"Lalu apa?" Naruto mulai tak sabar. Dia kebingungan, dan sama sekali tak tahu apa yang harus dia lakukan atau katakan. "Lalu apa, Kyuubi?"
"Karena ini adalah yang seharusnya. Kau dan aku…tak akan pernah bisa bersama…"
"Lalu kau menerimanya begitu saja? Dengan kemauanmu sendiri?" teriak Naruto keras, meminta sebuah penegasan.
"…Ya," Kyuubi mencengkeram rok sundress-nya erat-erat, mencoba mengekang perasaannya. "Aku menerimanya, dengan kemauanku sendiri…"
"…Kalau begitu, beritahu aku satu hal," Naruto menggertakkan giginya, entah karena marah, kesal, murka…atau hanya karena dia sendiri sedang menahan tangisnya. "Kenapa kau menangis…?"
"…E-eh…?" Kyuubi tersentak kaget, sebelum mengusap kedua matanya. "A-aku tidak, ini hanya…hujan…"
"Kau kira kau bisa bohong…?" potong Naruto. "Aku…juga sudah banyak menangis. Kau kira aku tak bisa membedakan yang mana air mata dan yang mana air hujan…?"
"A-aku…aku…!"
"Kumohon, berhentilah berbohong…" pinta Naruto. "Jika perasaanmu mengatakan begitu-"
"Hentikan!" Kyuubi tiba-tiba berteriak sebelum mulai terisak. "Kau tidak mengerti perasaanku! Kau tak punya hak untuk bicara begitu!"
Mereka terdiam, dan selama beberapa saat, Naruto hanya mendengarkan isakan Kyuubi. Dan kemudian, pemuda itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan pada hatinya tertoreh sebuah tekad.
"…Benar," adalah perkataan Naruto yang membuat berhenti Kyuubi terisak. "Kau benar, aku memang belum mengerti. Tapi karena itulah…
"Beritahu aku," ucap Naruto dengan tegas.
"Dan buat aku mengerti perasaanmu."
To be Continued
~••~
Hmmh, hamba punya satu janji ya. Baiklah, saatnya melanjutkan penjelasan tentang nilai-nilai psikologis yang ada dalam fic ini!
#5: Poin untuk nilai psikologis kelima, yang sejak chapter 3 sampe 5 terus disebutkan berulang kali, adalah warna. Yaitu, warna sundress Kyuubi, pink.
Warna aura Kyuubi adalah merah, dan merah punya banyak arti seperti kemarahan, kebencian, dan lain sebagainya. Warna ini juga bisa diartikan untuk menggambarkan masa lalu Kyuubi yang kelam, terutama banyaknya dosa yang telah ia lakukan dan banyak darah yang telah ia alirkan.
Sedangkan Naruto, sesuai sikap dan kelakuannya, memiliki aura yang terang dan hangat (ingat lagi, warna chakra tidak selalu sama dengan aura), seperti matahari. Dan kalian semua tahu bagaimana warna matahari kalau lagi di puncak-puncaknya kan? Walaupun agak kurang tepat, tapi kita bisa menyebutnya sebagai 'putih' saja. Putih yang sangat terang.
Warna merah, biar sepekat apapun, jika dicemari oleh putih, lama-lama pasti akan berubah jadi pink juga. Baju sundress pink itu dipilih sendiri oleh Kyuubi, dan itu memiliki arti bahwa walaupun hanya sedikit demi sedikit, kehangatan dan keramahan Naruto telah menular pada Kyuubi.
Hamba pingin memberitahu lebih banyak lagi, tapi kayaknya chap ini sudah kepanjangan. Nanti aja lagi deh ya? Di chap 7 nanti…
Ah ya, Kyuubi itu tak tepat jika disebut Kyuubi no Kitsune (Kyuubi the Fox). Yang tepat adalah Kyuubi no Youko (Atau juga Yōko), yang artinya adalah Kyuubi the Demon Fox.
Gimana? Apa feel-nya dah kerasa lagi? Hamba sangat berharap begitu! Mohon komentarnya lagi ya? Hamba selalu menghargai readers yang murah review!
Terima kasih sudah membaca!
Galerians, out.
