Galerians, in.
Hamba benar-benar minta maaf ya, kalau chap 6 kemarin itu jelek. Maklum, fic ini memang dibuat oleh author sedeng yang payah. Sekali lagi, maaf ya…
Oke dah, Reviews' replies:
Zhan: "Hahaha, mungkin seperti itulah. Tapi jangan sampai salah ngira Kyuubi itu Kushina ya, nanti jadi hubungan yang nggak sehat deh."
Saqee-chan: "Benarkah? Bahkan hamba sendiri nggak nyadar kalau selama ini hamba main kata, hehehe…"
Syeren: "Setelah chap ini, mungkin kau akan mulai melihat perbedaan antara Kyuubi dan Kushina. Dan sama-sama, makasih juga sudah mereview chap 6 ya."
Lady Regenbogen: "Kalau dibilang anak-anak sih, nggak juga. Kyuubi itu umurnya udah ratusan tahun. Walaupun sebagai 'manusia', dia emang baru berumur beberapa minggu sih. Dan rasanya kalau ini author udah 17 tahun nggak bisa dipanggil imut-imut, deh."
Upe Jun: "Oh, syukurlah hamba bisa bikin kau terharu. Seneng banget jadinya."
akuanakbaik: "Wedew, ente pake bahasa apa? Gak ngarti neh. Lho, jadi feel-nya kerasa? Syukurlah…"
Ren: "Hamba sangat meminta maaf karena sudah membuat kecewa."
Pein Nggak Mesum: "Oh, jadi udah seimbang ya? Baiklah, mari berjuang juga untuk chap ini!"
NaMiKAze Nara: "Yah, makanya liat-liat dong genrenya, di situ kan tertulis angst. Nggak mungkin hamba nggak mematuhi genre yang sudah dipasang kan?"
Ray Ichimura: "DOD, ya? Hamba sih niatnya nyambung setelah cerita ini sama yang Aku adalah Milikmu selesai, biar konsen-nya ga terganggu."
qhieZa-chan: "Oke!"
Rukawa-Alisa-chan: "Gitu? Padahal banyak yang bilang kalo chap kemarin itu membosankan. Jadi bingung hamba…"
lou: "Hoo~, ternyata sobat hamba satu ini suka nonton telenovela ya? Kalo ga, mana mungkin tahu kalo chap 6 itu lebaynya kayak telenovela…"
Micon: "Oh, gitu? Jadi sebenarnya feel macam apa sih yang ingin kamu rasakan? Hamba bingung nih…"
Higashikuni: "Deuh, biar ga ngerti ityu bahasa apwa, puokoknya makasih lah!"
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)
'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.
Selamat membaca!
~•~
I Can Never Have You, Can I?
Langit yang semula berwarna biru, kini menjadi hitam kelam. Butiran air yang tak bernyawa jatuh menghajar bumi, membawa basah pada tanah, riak pada air, dan dingin pada udara.
Awan berarak cepat, menyebarkan kapas-kapas hitam yang menutupi cahaya rembulan dan bintang. Perbedaan suhu pada daratan mengakibatkan angin bertiup kencang, sebuah kondisi di mana manusia memilih untuk berdiam di bawah lindungan dinding-dinding bangunan.
Namun ketika semua manusia asyik berleha dalam kehangatan rumah mereka, atau meringkuk di bawah selimut, satu anomali tersisa.
Satu manusia dan satu siluman. Satu laki-laki dan satu perempuan. Terpisah, yang satu berdiri kokok menahan ombak lautan yang menenggelamkan setengah kakinya, dan yang satu berlutut rapuh di pasir pantai yang basah.
Saling tatap dengan mulut yang bungkam, dengan emosi berbeda-beda yang membuncah dan saling hantam. Terus dan terus begitu, sampai akhirnya ada kata yang terucapkan.
"Kau akan membenciku…" ucap sang gadis, tangannya mencengkeram pasir di bawahnya. "Kalau aku memberitahumu, kau akan membenciku…"
"Tapi aku harus tahu…" jawab sang pemuda, nadanya memohon. "Kyuubi, kumohon…"
Untuk beberapa saat, Kyuubi hanya diam, seakan mempertimbangkan. Namun gadis itu tahu kalau dia tak bisa mengelak, dan dia tak mungkin menghindar selamanya. Setelah sekali lagi menatap mata Naruto, Kyuubi meletakkan gengsinya, dan membuka mulutnya. "Semenjak dulu…
"Semenjak aku terlahir ke dunia, aku tak pernah punya siapapun, apapun. Aku selalu sendirian, selalu kesepian…" Kyuubi menutup matanya dalam isakan. "Tak ada siapapun di sampingku, tak ada seorangpun yang bicara padaku. Tak ada yang mau melihatku, bahkan tak ada yang mau mendengarku. Semua itu… aku mulai berpikir semua itu adalah hal normal, dan aku berusaha untuk tak peduli…
"Tapi… hari demi hari, apa yang semula kuanggap biasa mulai terasa tak tertahankan. Aku tahu kalau rubah iblis sepertiku seharusnya tak punya teman, kalau monster sepertiku seharusnya selalu sendirian seumur hidupnya, tapi… kadang, aku berharap bisa punya seseorang, yang mau mendengarkanku, mau bicara padaku… mau menatapku…"
Naruto diam, walaupun derai hujan deras menciptakan desau dari laut di sekitarnya, setiap ucapan Kyuubi terdengar oleh telinganya, seakan suaranya berada dalam sebuah frekuensi khusus yang tak terganggu oleh cuaca…
Tidak, perkataan Kyuubi bisa terdengar oleh Naruto karena apa yang gadis itu katakan adalah sesuatu yang dulu juga dia rasakan, sebuah siksaan yang dulu sering mendera dirinya sendiri. Itulah…itulah kenapa setiap kesedihan yang tersimpan dalam suara Kyuubi, bisa menyentuh hati Naruto.
"Tapi…tapi saat aku bersamamu, saat aku bicara padamu dan mendengar suaramu, ada perasaan asing yang muncul dalam hatiku. Seakan-akan aku telah menemukannya, seakan-akan kau adalah orang yang…yang mau peduli padaku…" Kyuubi menundukkan kepalanya dalam-dalam, sampai rambutnya yang panjang tergerai ke pasir pantai yang basah. "…Seakan-akan, kau adalah orang yang akan menghapus semua kesepianku…"
Diam, hanya itu yang bisa Naruto lakukan sekarang. Dia mau mendengar semua yang ingin dikatakan Kyuubi, dia harus tahu semua perasaan Kyuubi. Karena hanya dengan itu… hanya dengan itulah, dia bisa mengucapkan apa yang harus diucapkan dan melakukan apa yang harus dilakukan.
"Kau selalu begitu baik padaku, dan lama-kelamaan, aku jadi terbiasa. Terbiasa selalu melihat wajahmu kala bangun di pagi hari, terbiasa mendengar suaramu setiap kali kau memanggilku untuk makan. Terbiasa dimarahi olehmu setiap kali aku melakukan kesalahan, terbiasa bertengkar denganmu karena masalah sepele…"
Gadis itu sesenggukan, menarik napas panjang-panjang seakan-akan tak kuat menahan emosinya yang bergejolak.
"…Dan pada akhirnya, aku jadi terlalu terbiasa…
"Aku tahu kau bukan milikku! Tapi kebersamaan kita…semua waktu yang kujalani bersamamu, membuatku perasaan ini semakin kuat, dan membuatku jadi semakin posesif padamu…"
Kyuubi mengangkat wajahnya untuk menatap Naruto, dan walaupun wajah itu basah seluruhnya oleh hujan, Naruto bisa tahu kalau Kyuubi sedang menangis… dan itu membuatnya juga ingin menangis…
"Aku jadi menginginkan kau hanya melihat diriku, hanya menggenggam tanganku, hanya mendengar suaraku…!"
Lautan emosi yang terkunci rapat-rapat kini meledak keluar, perasaan yang disimpan kuat-kuat kini terungkap lebar… tak ada lagi yang disembunyikan, hanya menyisakan kejujuran.
"Aku ingin kau membelai hanya wajahku, menyeka hanya air mataku, memeluk hanya tubuhku…!
"…Mencintai… hanya diriku…
"Tapi itu semua hanya ilusi, impian egois yang takkan pernah terjadi. Kau adalah seorang Hokage, pria yang dihormati oleh semua…dan dibutuhkan oleh semua. Sedangkan aku…aku hanyalah…" Kyuubi diam tanpa meneruskan, dan Naruto tahu itu karena apa yang akan ia katakan selanjutnya terlalu menyakitkan baginya. "Kau tak bisa menjadi milikku…takkan pernah menjadi milikku…"
Gadis itu tersenyum, namun tak terlihat seperti senyum. Tak ada kebahagiaan walaupun cuma secuil di wajahnya, hanya kesedihan… menyebabkan hati Naruto seperti disayat dengan sebuah pisau berkarat.
"Aku tahu semua ini hanyalah mimpi, yang mana cepat atau lambat akan berakhir. Dan pada saat itu tiba, aku akan sendirian lagi…dan kau, Naruto, takkan ada di sampingku lagi…"
Kyuubi tertawa kecil…sungguh, dia tertawa, walau segetir apapun kedengarannya. Menertawakan dirinya yang terlalu banyak berharap, menertawakan nasibnya yang terlalu mengenaskan…menertawakan kebahagiaannya yang telah menemui akhir…
"Aku bukanlah siapa-siapa, aku tak punya tempat di dunia ini. Aku juga tak bisa bersamamu lagi, karena itu…aku berpikir…mungkin inilah saatnya aku mengakhiri semua. Mungkin inilah saatnya, aku mengakhiri semua kesedihan…dan penderitaan ini…"
Naruto tersentak, dan baru saat itulah semua menjadi masuk akal. Kenapa dia memilih tempat ini dari semuanya, kenapa Kyuubi pergi ke laut ini…itulah alasannya.
"Kita bermain bersama di sini, kita tertawa bersama di sini. Semua ingatan bersamamu itu, membuatku yakin kalau setidaknya di sini aku bisa mati dengan bahagia…"
'Jadi…dia berniat bunuh diri…?' kata Naruto dalam hatinya yang tercabik-cabik oleh kesedihan. 'Dan alasannya…adalah aku…?'
Kyuubi menutup matanya, dan senyum tipis yang menghiasi wajahnya adalah bukti kalau dia telah mengungkapkan semua perasaannya, semua emosinya yang tersimpan. Bagian Kyuubi telah selesai, dan kini adalah giliran Naruto…
…Semula, kebingungan memenuhi setiap sudut pikirannya. Dia tahu kalau otaknya tak seberapa, dan dia juga tahu kalau dia sebenarnya tidak terlalu pandai bicara, tapi dia tidak boleh sampai membuat kesalahan. Apa yang harus dia katakan? Apa yang harus dia ucapkan…untuk menghapus segala keraguan Kyuubi?
Tapi saat pemuda itu menatap senyum pasrah yang tersungging di bibir Kyuubi, saat dia melihat sang gadis yang seperti kehilangan harapan, kehilangan arah dalam kehidupan, Naruto akhirnya sadar…
Ya, dari awal pilihannya memang hanya ada satu. Dia tak perlu bersusah payah memikirkannya, karena Kyuubi telah memberitahukannya, dengan setiap ratapan dan isakan, apa yang sesungguhnya gadis itu butuhkan…apa yang sebenarnya paling Kyuubi impikan…
Sesuatu yang hanya Naruto yang bisa memberikannya…
"…Jika kau tak punya tempat di dunia ini…jika tak ada satupun yang mau menerimamu di seluruh alam semesta ini," suara Naruto yang penuh kelembutan mengalahkan gelegar petir maupun derai hujan, karena setiap perkataannya adalah curahan perasaan. Emosi yang berkumpul bersama, mengukir sebuah keputusan, sebuah janji…sebuah sumpah. "Maka aku yang akan menerimamu."
Kyuubi terpana, "…E…h…?"
"Aku akan jadi tempatmu menangis, tertawa. Tempatmu bersedih dan berbahagia…" Naruto berhenti, bukan karena kebutuhan udara atau waktu menyusun kata-kata, tapi untuk membiarkan setiap kata, setiap huruf dari ucapannya mematri makna di hati rapuh Kyuubi. "Aku akan jadi tempatmu berteduh, tempatmu pulang…
"Aku akan menghangatkanmu setiap dingin mendera, memayungimu setiap hujan menerpa. Aku akan melindungimu, menjagamu…
"Aku…akan menjadi 'rumah' bagimu…
"Sekarang, aku bertanya padamu. Jangan pandang aku sebagai Hokage. Tapi hanya sebagai manusia bernama Naruto Uzumaki…" Naruto mengulurkan tangan kanannya, sebuah isyarat bahwa masih ada harapan. Untuk Kyuubi, untuk Naruto… untuk ikatan mereka berdua. "Bisakah kau percaya padaku, Kyuubi…?"
Percaya.
Kata itu terasa asing baginya, sebuah kata yang tak pernah ada dalam dunianya yang kasar dan kejam. Kyuubi sama sekali tak menyangka akan menggunakan kata itu lagi, dan dia juga tak mengira, akan dikatakan oleh laki-laki bernama Naruto Uzumaki ini.
Tapi pertanyaan itu…
'Bisakah aku percaya pada Naruto?' sebenarnya, dia sendiri telah menanyakan itu pada dirinya… ratusan, tidak, ribuan kali.
Bisakah dia percaya pada seseorang lagi? Setelah semua penderitaan, semua kesedihan, setelah semua yang ia lalui, bisakah ia mempercayai seseorang yang lahir dari spesies yang sama dengan yang telah begitu banyak menyakitinya?
…
Manusia, adalah makhluk yang egois…
Mereka mengklaim bahwa rubah setan sepertinya tak punya hak untuk hidup. Dia tak pernah mengganggu mereka, dia tak pernah mengusik kehidupan mereka dengan sengaja. Tapi mereka terus berusaha membunuhnya, hanya karena dia membuat mereka takut, cuma dengan alasan mereka tak ingin sesuatu yang terlihat begitu berbahaya hidup di dunia mereka.
Padahal yang Kyuubi inginkan hanyalah sebuah kehidupan, dia tak peduli biarpun harus sendirian dan kesepian, Kyuubi hanya mau hidup tanpa ada seorangpun yang mengganggunya, tanpa ada satupun yang mengejarnya dengan mata haus darah.
…Tapi setelah bertemu Naruto, Kyuubi sadar kalau dia ingin lebih dari sekedar itu. Yang sebenarnya paling ia inginkan, adalah sebuah kehidupan bersama seseorang yang peduli padanya. Yang akan memeluknya setiap kali mimpi buruk menghantui tidurnya, menemaninya setiap kali kesepian menyiksa batinnya. Seseorang yang menyayanginya, seseorang yang mencintainya…
…Dan bisakah dia, sekarang, mempercayai Naruto untuk menjadi 'orang itu'?
…
Entah oleh kekuatan apa, semua ingatan yang berisi kebersamaan mereka, mengalir masuk ke dalam kepala Kyuubi, meliputi dan melingkupi seperti sebuah selimut.
Naruto yang memaksanya pakai baju…
Naruto yang menggerutu, namun sabar saat menyuapinya makan…
Naruto yang mencucikan rambutnya dengan telaten…
Naruto yang memberinya rasa aman dengan pelukannya saat dia mimpi buruk…
…
Naruto yang menggenggam tangannya dengan hangat…
Naruto yang selalu tersenyum padanya…
…
Kyuubi tiba-tiba mengangkat tubuhnya, rasa sakit pada kakinya yang terlalu lama berjalan kini mendadak jadi hampir tak terasa. Baju sundress pinknya yang basah menggelayut dengan tak nyaman ke kulitnya, namun bagi Kyuubi sekarang, dunianya sekarang terfokus hanya pada Naruto dan uluran tangannya.
Gadis itu melangkah maju, menerabas lautan yang walau dangkal, namun ombaknya memiliki cukup kekuatan untuk membuat keseimbangannya goyah. Dia jatuh, hampir setengah rambutnya tenggelam di bawah air asin yang penuh riak karena butiran-butiran hujan yang menghantamnya, tapi Kyuubi berhasil mempertahankan pandangannya pada Naruto… dan hanya pada Naruto.
Tubuh sang pemuda berguncang ketika melihat Kyuubi tersandung, dan walaupun penglihatan telah diburamkan tetesan hujan, semua orang pasti bisa melihat kalau pemuda itu gemetaran. Mengisyaratkan betapa inginnya Naruto pergi menjemput Kyuubi, namun tak bisa, karena ini adalah hal yang harus dilakukan Kyuubi seorang diri. Sebagai pertanda bahwa dia menerima Naruto, untuk mengurusnya, untuk menjaganya…
Sebagai tanda bahwa Kyuubi telah memberikan kepercayaan penuhnya, pada seorang Naruto Uzumaki.
~•~
Bagi Kyuubi, jarak yang harus dilaluinya untuk meraih uluran tangan Naruto di pantai itu adalah jalan terjauh yang pernah ditempuhnya. Kakinya yang lelah terus-menerus menolak untuk digerakkan, otot-ototnya yang letih terus meneriakkan permohonan berhenti, namun tekad Kyuubi masih jauh lebih kuat.
Karena Kyuubi ingin mengingat lagi bagaimana caranya tersenyum.
Dia mengerti bagaimana cara melengkungkan bibirnya, dia tahu otot wajah yang mana saja yang diperlukan untuk melakukannya. Tapi dia juga tahu, bahwa untuk sebuah senyum yang asli, dia kekurangan satu hal yang esensial, yaitu kebahagiaan.
Dan Kyuubi merindukan bagaimana rasanya kebahagiaan.
Beda dengan senyum, Kyuubi tak pernah tahu apa arti sesungguhnya dari kebahagiaan. Baginya yang hanya tahu sakitnya penderitaan dan pedihnya kesedihan, kebahagiaan adalah kata yang asing, bisa dia baca dari kehidupan di sekitarnya tapi tak pernah tertulis dalam halaman manapun kamus kehidupannya.
Dia tak tahu apa yang bisa menciptakan kebahagiaan, maupun apa yang diciptakan kebahagiaan. Dia tak pernah tahu.
Dan di saat dia hampir lupa, di saat memori akan dua hal itu hampir lenyap dari kepalanya, seorang pria bernama Naruto Uzumaki kembali mengingatkannya. Tak hanya itu, Naruto menambahnya dengan kehangatan dan kelembutan.
Dia sudah tak tahan lagi hidup sendiri dalam kesepian, dia sudah tak tahan lagi hidup hanya bertemankan kesedihan dan kepahitan. Ingatan akan masa lalunya yang kejam berubah menjadi kekuatan, memaksa kakinya untuk melangkah walau kelelahan.
Satu demi satu, perlahan namun pasti, dia menapakkan kakinya, memapas lautan dan melawan gelombang, berusaha meraih sebuah uluran tangan yang akan menariknya keluar dari dunia penuh kegelapan. Tubuhnya yang tersiksa, badannya yang merana, Kyuubi acuhkan, sama sekali tak ia pedulikan.
Hanya butuh sebuah sentuhan kecil, sejentik pertemuan antara kulit ujung jari antara keduanya, sebelum Naruto lepas dari kekangnya dan menarik Kyuubi ke dalam pelukannya. Mengalungkan kedua tangannya seerat mungkin ke sekeliling tubuh Kyuubi yang mungil, Naruto memberikan semua yang dia miliki pada gadis yang ingin dia lindungi.
Kehangatan.
Rasa aman.
Perlindungan.
Kepedulian.
Cinta dan kasih sayang.
"Mm…" Kyuubi menyusupkan wajahnya dalam-dalam ke dada Naruto yang bidang, begitu keras, namun begitu hangat… membuatnya merasa berada di tempat teraman. Debar dadanya kuat, menghentak berderam-deram, dan Kyuubi merasa jantungnya membengkak sampai berkali lipat. Menyesakkan dada, menyumbat pernapasan, namun sekaligus membuatnya merasa begitu hidup… begitu bahagia. Namun demikian, dia merasakan sebuah guncangan, yang ia sadari bukan berasal dari tubuhnya sendiri. "Naruto?"
Pemuda itu… menangis. Menumpahkan air mata, membiarkannya bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya yang kini dibenamkan dalam-dalam ke samping leher Kyuubi.
"Dasar gadis bodoh…" suaranya hancur, rapuh bagaikan sebuah gelembung sabun. Menyimpan kesedihan… menyamarkan ketakutan. "Jangan pernah lakukan itu lagi…"
"Naruto…"
"Kau tak tahu seberapa bingungnya aku saat kau menghilang begitu saja, seberapa khawatirnya aku saat membayangkan kau berjalan sendirian, di bawah hujan, tanpa perlindungan…"
Tangan kanan Naruto merambah pinggang Kyuubi, tangan kirinya menekan punggung sang gadis, merapatkan tubuh mereka. Berkurang sudah getaran tubuhnya, namun masih tersisa isak tangisnya. "Aku mencari ke mana-mana, setiap sudut, setiap celah. Bisakah kau membayangkan, betapa besarnya ketakutanku, saat mengira tak akan bisa menemukanmu lagi?"
Dalam sekejab, Naruto melepaskan pelukannya. Dia menarik tangan Kyuubi, kemudian meletakkannya di dadanya.
"Bisakah kau membayangkan, betapa sakitnya hatiku saat mengira tak akan bisa bertemu denganmu lagi?"
Cepat… dan begitu kuat. Jauh lebih cepat dari detak jantung Kyuubi, jauh lebih kuat dari hentakan dalam dada Kyuubi sendiri. Gadis itu pelan-pelan mengangkat wajahnya, menatap Naruto dengan mata yang penuh ketidakpercayaan. Di sana, di antara air hujan pada wajahnya, Kyuubi menemukan dua arus berbeda, yang berasal langsung dari mata biru langit yang begitu disukainya.
Tiba-tiba, dia jadi ingin menangis juga…
"U…*hik* u-uu…" Kyuubi menggigit bibirnya, berusaha menahan. Tapi apakah gejolak perasaan yang telah terperangkap selama ratusan tahun, bisa terus terkekang? "Uuwaaannhh…!"
Kyuubi melompat, melingkarkan kedua lengannya ke sekeliling leher Naruto dan memeluknya kuat-kuat. Tangisannya bagaikan anak kecil yang tersesat, terisak dengan suara yang tersendat-sendat. Mengungkapkan, menyampaikan perasaannya yang kini telah terbebas dan meluap-luap.
Naruto menjawab dengan balas merengkuh tubuh kecil itu, wajahnya menempel ke leher Kyuubi yang langsing dan halus. Bukan lagi di depannya seekor rubah raksasa yang ditakuti di mana-mana, bukan lagi di depannya seekor monster yang telah menyebabkan kematian kedua orang tuanya.
Kini hanya ada Kyuubi, sang gadis berambut merah yang membutuhkan perlindungannya, gadis yang akan dia terima apa adanya.
Dan pada saat itu, jalinan benang hitam mereka yang telah putus, digantikan oleh jalinan benang merah takdir yang baru.
"Kyuubi…" Naruto mencium dahi gadis itu. "Jangan pernah pergi dariku lagi…"
To be Continued…
~•~
Banyak yang merasa Kyuubi mirip Kushina? Yah, hamba nggak menyalahkan kalian.
Lagipula, (hamba nggak merencanakannya sih) kelihatannya Mbah Masashi Kishimoto benar-benar ngedukung hamba ya. Liat deh di chap 504 manga aslinya. Antara salah satu pesan yang diberikan Kushina saat penyegelan Kyuubi, dia juga bilang agar Naruto mencari 'wanita yang sepertinya'. Mengingat Kyuubi juga berambut merah dan punya sifat hampir sama, jadi cocok banget kan?
Tapi apa itu membuat Naruto jadi 'mother complex'? Nggak tahulah…
Tak ada penjelasan nilai psiko lagi, hamba serahkan itu sepenuhnya pada pembaca, apa kalian bisa nemu dan mengerti, itu tergantung kalian.
Bagi yang menunggu interaksi dengan chara-chara laen, tunggu chap depan!
Terima kasih sudah membaca! Review yang buanyak yaa!
Galerians, out.
