~Author numpang cuap-cuap lagi~
Akhirnya UTS nista itu memberikan saya ide baru buat fanfic ini hohohohohoho~ ternyata tidur sewaktu ujian membuat pikiran saya jernih sejernih kali brantas yang ada di Malang itu lhooo~ mulai dari chapter ini bakal diselipin lagu-lagu yang bagus (kata saya lho) kalo belum tau lagunya cekidot aja di youtube.. pasti ada kok! Ntar judulnya saya cantumkan kok tak perlu khawatir~ saya langsung update kilat mumpung saya masih sempet OL dan nyawa masih ditempat! (?)
Nyok kita mulai aja langsung~ Otanoshimi ni~
Warning: pairing HiruMamo, AkaMamo, SenaSuzu, HiruOC, AkaOC! gaya bahasa saya, si author ndoweh yang ancur *dimutilasi massal*, oh ya ada typo nya juga..
Disclaimer: Eyeshield 21 jelas-jelas bukan punya saya! Tapi punyanya Inagaki Riichiro & Yuusuke Murata.. kalo Eyeshield 21 punya saya, saya bakal ngadain harem besar-besaran antara saya dan para tokoh-tokoh Eyeshield 21 yg cakep-cakep.. XD *dibunuh gara-gara menyebarkan ajaran sesat* O-OC nya... pu-punya sa... ya? *tepar*
*Kue Sus~ Kue Sus~ Kue Sus~*
Pagi itu mendung sekali bagi manager kita yang satu ini, Anezaki Mamori. Sepertinya kedatangan Ninomiya Sakura si "Teman Masa Kecil Hiruma" membuat tidurnya terusik. Jelas terlihat kalau Mamori masih penasaran akan hubungan antara Quarter Back Deimon Devil Bats itu dengan perempuan bermata violet yang sekarang dijuluki "Penakluk Iblis" oleh semua anggota Devil Bats. Mamori sedang mengawasi jalannya latihan pagi kali ini, tapi kemana si iblis?
'Kemana Hiruma ya?' gumam Mamori.
*bel sekolah berbunyi*
"Yak! Latihan pagi ini selesai! Cepat kalian gati baju dan masuk kelas!" teriak si Manager dari pinggir lapangan. Langsung saja mereka berhamburan ke arah ruang klub sambil mengambil minumannya masing-masing. Setelah ganti baju, mereka masuk kelas sangat terlihat wajah mereka yang sedikit senang karena si Hiruma tidak datang mengawasi latihan pagi kali ini yah... sepi sih tapi damai juga.
~Mereka masuk kelas XD~
Mamori duduk dibangkunya, ia menoleh ke arah Hiruma yang sedang asyik mengurusi senjata-senjatanya itu.
"Hiruma kenapa kau tidak datang saat latihan pagi tadi?" tanya Mamori sambil mendekati Hiruma.
"Aku mengurus suatu hal yang penting," jawabnya cuek.
"Ayo anak-anak kembali ke tempat duduk masing-masing ibu akan mengenalkan kalian dengan murid baru!" perintah guru yang kemudian masuk ke kelas.
Mamori kembali ke tempat duduknya, dilihatnya Hiruma yang sedang menyeringai. Ada sesuatu yang membuatnya senang... jangan-jangan...
"Nah ayo masuk!" guru itu menyuruh seseorang masuk ke dalam kelas. Tampak seorang perempuan memasuki ruang kelas, Mamori terkejut melihat anak tadi.
"Silahkan perkenalkan dirimu,"
"Baik bu, nama saya Ninomiya Sakura pindahan dari Amerika, salam kenal semua!" ternyata siswa pindahan itu adalah Sakura.
Semua anak yang ada disana langsung terpana melihat Sakura. Maklum wajahnya yang manis, kulitnya yang putih dan tingginya yang pas dirata-rata membuatnya menjadi idaman laki-laki. Apalagi rambutnya yang panjang berwarna karamel itu terlihat lezat karena mirip seperti kue, mata violetnya itu juga memancarkan aura menyenangkan dan menenangkan bagi setiap orang yang memandangnya. Tingkah lakunya yang bak seorang putri yang sopan dan baik hati membuat perempuan dan laki-laki yang ada disana tertegun melihatnya.
"Ninomiya-san kau duduklah di belakang Hiruma-san!" kata guru itu memecah keheningan kelas.
Spontan semua kaget jelas mereka tak menginginkan seorang putri yang baik itu "dinodai" oleh seorang setan yang menjadi legenda di SMA Deimon, Hiruma Youichi. Sakura malah tersenyum karena ditempatkan disana.
"Yo! Cengeng sialan jangan repotkan aku disini!" Hiruma menyeringai dan mengangkat tangannya yang dimiringkan sedikit ke atas.
"Tenang saja, aku juga tak berminat merepotkanmu," Sakura tersenyum, lalu mengangkat tangannya dan mengenai lengan Hiruma sehingga tangan setan dan penakluk iblis itu membentuk sebuah tanda silang. Sakura melanjutkan berjalan menuju tempat duduk di belakang Hiruma dan duduk disana.
Ekspresi yang lainnya bagaimana? Hmmm.. mari kita lihat, ada yang jawsdrop, ada yang sweatdrop, ada yang membatu, ada yang shock, ada juga yang pingsan (ihh lebay ih) dan ada juga yang cemburu, kau pasti tahu yang satu ini kan?
'Sakit lagi...' gumam Mamori memegangi dadanya.
Tiba-tiba muncul dua seringaian setan plus hadiah aura iblis entah darimana yang membuat orang-orang di kelas itu merinding.
"Aku tahu sesuatu yang menarik You-kun," bisik Sakura.
Akhirnya waktu pulang sekolah tiba, para anggota Devil bats berkumpul di lapangan setelah mengganti bajunya dengan seragam amefuto. Yah.. latihan seperti biasa berlari-lari keliling lapangan dan seperti biasa dikejar Cerberus juga, seperti biasanya lagi terdengar suara tembakan yang menggema, yang tidak biasa? Ada tiga orang perempuan yang ada di pinggir lapangan dan seorang laki-laki berambut merah.
"Ngomong-ngomong kenapa Akaba-kun ada disini? Kabur dari latihan amefuto ya? Tak kusangka orang seperti Akaba-kun akan bolos latihan," kata Sakura yang langsung menusuk Akaba.
"Kau sendiri juga sedang apa disini? Bukannya kau seharusnya menjaga rumah Hiruma? Seperti pembantunya saja," Akaba juga ikut melancarkan serangan.
"Ohh apa kau tak bisa lihat aku mengenakan seragam SMA Deimon? Mulai sekarang aku bersekolah disini jadi wajar saja kan kalau aku berada disini, lagipula aku juga akan membantu Hiruma memasang strategi. Setidaknya aku punya alasan disini tidak seperti seseorang yang kabur dari latihannya karena alasan tidak jelas." sekali lagi Sakura menusuk Akaba dengan telak.
Akaba terdiam dan melancarkan serangan kedua yaitu death glare tapi sepertinya ia salah mengajak orang untuk berperang death glare, kalian lupa? Sakura itu orang terdekat Hiruma otomatis kemampuan men-death glare-nya setingkat dengan Hiruma. Sementara terjadi perang death glare, orang-orang yang disana (minus Hiruma) bisa merasakan aura iblis yang sedang membara dari dalam diri keduanya. Mereka semua langsung bersikap pura-pura tidak tahu, tapi bukannya membaik malah muncul satu aura iblis yang lebih besar yahh.. itu Hiruma.
"Hei mata merah sialan! Sebaiknya kau kembali sana! Manager sialanmu menunggu di depan gerbang.." seru Hiruma.
Benar saja, Julie sedang menunggu Akaba di depan pintu gerbang tepatnya lagi mencak-mencak karena si Akaba yang begitu pulang sekolah langsung ngibrit ke Deimon. Dengan cantiknya, Julie menyeret Akaba pulang ke kandangnya (?)
Setelah latihan sore selesai, mereka berhamburan ke pinggir lapangan mengambil manisan lemon serta air mineral yang telah disiapkan Mamori. Dan mereka langsung mengganti seragamnya, lalu berkumpul sebentar. Sena melihat Mamori yang sedang membaca pesan di ponselnya dengan raut muka kaget. Sepertinya perlu diselidiki.
"Suzuna saatnya kita beraksi!" bisik Sena.
"Ya! Ayo!" Suzuna bersemangat.
Sena dan Suzuna mengikuti langkah Mamori yang berjalan pulang itu. Ternyata Mamori mampir di sebuah cafe yang terletak di pusat kota. Mamori menemui seseorang yang duduk di pojok belakang dekat jendela. Hari itu masih sore sekitar jam 4 karena itu Sena dan Suzuna memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka.. toh ortu mereka tidak akan marah kalau mereka belum pulang jam segini. Mereka mencari posisi yang strategis untuk menguping pembicaraannya. Tentu saja orang yang tadi menunggu itu adalah Akaba Hayato.
"Selamat sore, Akaba-kun! maaf aku telat ya ada apa kau memanggilku kemari?" Mamori segera duduk di depan Akaba.
"Sore, Anezaki-san aku ada sedikit perlu denganmu. Maukah kau menemaniku pergi ke taman ria yang baru buka itu? Aku punya dua tiket." ajak Akaba.
"Apa? Akaba-san mau mengajak Mamori-neechan kencan?" Sena kaget, Suzuna pun ikut kaget.
"Ssshhht! Sena jangan berisik, ayo kita dengarkan lagi!" pinta Suzuna.
"Ta-tapi aku sibuk, aku harus menyelesaikan pekerjaanku menyusun strategi dan mencari informasi tentang lawan kami berikutnya kalau tidak Hiruma bisa marah padaku.." Mamori berusaha membuat alasan selogis-logisnya untuk menghindari ajakan Akaba.
"Kalau begitu akan kubantu," tawar Akaba.
"Tidak usah! Aku bisa mengerjakannya sendiri!" jawab Mamori. Sepertinya akan sulit sekali menghindari Akaba.
"Kalau begitu kau tak bisa menolaknya! Sudah ya aku pergi dulu, hari Minggu depan kujemput kau di rumahmu jam 10 ya!" Akaba langsung pergi ke meja kasir dan membayar pesanannya tadi. Mamori cuma menghela nafas, tak bisa menolak Akaba.
Suzuna segera meraih ponselnya dan menelpon Hiruma.
"Yo! Ada apa cheer sialan?" jawab Hiruma santai.
"Begini You-nii, Akaban mengajak Mamo-nee kencan di taman ria yang baru buka itu minggu depan sekitar jam 10.." lapor Suzuna.
Spontan Hiruma kaget dan menjawab "Tak akan kubiarkan orang itu kencan dengan manager sialanku!" ditutupnya ponsel tadi, Hiruma merengut.
"Ada apa You-kun? kenapa merengut begitu?" tanya Sakura memberikan kopi pahit kesukaan Hiruma dan meletakkannya di meja kecil yang terletak di depan Hiruma. Sakura segera duduk disamping Hiruma.
"Mata merah sialan itu mengajak manager sialan kencan.." jawabnya singkat.
"Kencan?" Sakura kaget.
"Apapun yang terjadi rencana ini harus berhasil! Aku harus bisa mendapatkan Mamori, tak akan kubiarkan dia maju selangkah lebih dariku!" kata Hiruma
Terjadi kesunyian sebentar lalu...
"Tampaknya aku harus muncul nih! Sebentar.." Sakura meraih ponselnya dan menelpon Suzuna.
"Moshi-moshi, Suzuna?"
"Ah, Saku-nee? Ada apa?"
"Kemana arah Akaba pergi?" tanya Sakura sambil mengenakan cardigan pinknya.
Sena menyambar ponsel tadi dan berkata "Ke arah Taman Sakuramori*"
"Terima kasih Sena, kurasa Taman Sakuramori dan apartemenku tak terlalu jauh. Jya ne!" ia segera menutup ponselnya dam memakai sepatu boot tak berhak warna kremnya.
"Mau kemana cengeng sialan?"
"Menghentikan Akaba..? sepertinya.."
"Hm, ganbatte"
"Tentu saja!"
Sakura berlari keluar dari kamar Hiruma dan terus berlari hingga sampai ke Taman Sakuramori. Dilihatnya sekitar taman itu masih belum ada tanda-tanda kedatangan Akaba. Ia memutuskan menunggunya sambil duduk-duduk di ayunan. Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menangis karena terjatuh setelah berlari-lari dikejar temannya.
"Hiks... hiks... hiks..." tangis anak tadi.
"Kau kenapa adik kecil?" tanya Sakura bernada khawatir.
"Aku terjatuh kak.." kata anak tadi lirih.
"Sini, Kubersihkan lukamu itu.." Sakura menggendong anak tadi ke arah kran air, lalu dicucinya luka itu. Anak tadi menggerang-gerang kesakitan, setelah selesai dibalutnya luka tadi dengan saputangan motif kucing kesayangannya.
"Selesai! Sudah berhentilah menangis," Sakura mendiamkan anak tadi, tapi tak kunjung diam juga. Di depan Taman Sakuramori, Akaba lewat dan melihat Sakura yang kebingungan karena gadis kecil di depan Sakura tak kunjung diam juga. Akaba memutuskan untuk mendekat tapi...
"Kalau begitu akan kunyanyikan sebuah lagu, tapi kau harus diam ya?" pinta Sakura.
Sambil masih terisak-isak, gadis kecil tadi mengangguk. Sakura mulai menghela nafas dan bersiap menyanyi.
Yume no tsubomi hiraku mabushii sora o aogi
Mune ippai hirogaru yasashii kaori
Anak tadi mulai terdiam dan mendengarkan nyanyian Sakura sementara Akaba kaget mendengar nyanyian Sakura.
kikoeru wa koi no RIZUMU
kisetsu goe ai ni ki te ne
Teman-teman gadis kecil tadi langsung berkumpul mendekati Sakura. Suara Sakura yang lembut mulai perlahan menyihir semua orang disana sehingga larut dalam nyanyian dan bisa merasakan berbagai perasaan yang ada dalam lagu itu.
daisuki da yo sasayai tara
sekaijuu ni kikoe chau ka na
hazu ka shiku te utsumui te ta
watashi no te o tori hashiridasu **
"Ritme dan melodi yang bagus, mengalun indah dan lembut tapi menghangatkan," gumam Akaba.
Ternyata lagu tadi sukses membuat gadis kecil tadi berhenti menangis, Sakura tersenyum dengan lembut. Akaba kaget dengan senyuman Sakura tadi, ia merasakan ada yang aneh pada dirinya.. hanya karena lagu sekecil itu sanggup membuat hatinya menghangat melupakan segala rencana jahatnya untuk memisahkan Hiruma dan Mamori, karena senyuman Sakura pulalah jantung Akaba mulai berdebar tak karuan. Perasaan apa ini?
"Wah ada Hayato-nii!" anak-anak tadi mulai berlari ke arah Akaba dan memeluk kakinya.
Sakura segera membalikkan badannya menatap Akaba sambil tersenyum jahil.
"Rupanya kau sering bermain dengan anak-anak ini ya?" tanya Sakura lembut berhasil membuat wajah Akaba mengeluarkan semburat merah.
"Ti-tidak juga, kau sedang apa disini?" Akaba memalingkan wajahnya.
"Hanya berjalan-jalan, tidak boleh?" wajah Sakura mendekati wajah Akaba.
"Itukan terserah kau!" Akaba mencoba menghindar.
'Lucu juga ekspresinya, akan kujahili dia lagi! Hahaha' tawa Sakura dalam hati.
Akaba dan Sakura pun ikut bermain dengan segerombolan anak kecil tadi tepatnya mereka akan bermain petak umpet. Gadis kecil yang jatuh tadi panggil saja Mei yang menjaga, sedangkan yang lain bersembunyi.
"Kuhitung sampai 10 ya! 1, 2, 3, 4, 5..."
Akaba bersembunyi di balik Pohon Sakura di dekat taman itu. Ketika itu Sakura juga memilih tempat yang sama dan terjadilah pertengkaran kecil disana.
"A-apa yang kau lakukan disini Ninomiya-san? Aku yang pertama kali bersembunyi disini!" bisik Akaba dengan nada kesal.
"Aku yang pertama kali ingin bersembunyi disini tau! Minggir sana!" Sakura mulai mendorong Akaba.
"9... 10! Aku mulai mencari!" teriak Mei.
Akaba yang kaget lalu kehilangan keseimbangan sehingga Sakura terjatuh menimpa Akaba. Untung saja di depan Pohon Sakura tadi ada semak-semak yang sangat panjang jadi saat mereka jatuh, tubuh mereka tetap tak terlihat oleh Mei.
"Aduhhhh... sakit tau!" bisik Sakura dengan nada marah.
"Salah sendiri siapa yang suruh kau mendorongku!" bentak Akaba tapi masih dalam suara berbisik.
Lalu mereka berdua sadar posisinya sekarang. Sakura ada di atas tubuh Akaba, Akaba bisa merasakan kehangatan tubuh Sakura walau mereka tidak terlalu dekat. Wajah Akaba mulai memerah sedikit, tapi naas bagi Sakura wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus dan Akaba melihatnya. Terselip dipikiran Akaba untuk menggoda Sakura, tapi sebelum melakukan tindakan jahil itu si Mei berjalan mendekati semak-semak tempat Akaba dan Sakura bersembunyi.
"Ssst! Mei datang!" bisik Akaba.
Ia langsung mendekatkan Sakura ke dadanya, memeluk Sakura dengan erat. Sakura bisa merasakan hembusan napas Akaba yang mengenai rambut panjangnya, ia juga dapat mendengar alunan irama detakan jantung Akaba yang seirama dengan miliknya. Jantung mereka sama-sama berdetak sangat kencang. Akaba merasakan tubuh Sakura yang kecil itu sangat hangat, bahkan lebih hangat dari sebelumnya. Wangi rambutnya dan parfum milik Sakura yang lembut membuatnya ingin menghirup aroma itu sebanyak-banyaknya.
Mei mulai menjauh dan mencari anak-anak yang lain.
"Kuuga-kun! aku menemukanmu!"
"Yahhh... Mei menemukanku! Kalau begitu akan kubantu kau mencari yang lain"
"Wah! Arigatou Kuuga-kun!"
Terdengar suara anak-anak itu dari kejauhan, tapi posisi Akaba dan Sakura tidak berubah Akaba malah justru semakin mengeratkan pelukannya seperti tak mau melepas Sakura darinya. Ia ingin menghirup aroma itu lebih banyak lagi, lebih banyak lagi dari sebelumnya. Tanpa sadar, Akaba mulai mengangkat wajah Sakura dan mulai memperhatikannya.
'ah... sial! Wajahnya memerah membuatnya terlihat semakin cantik! Bibirnya yang merah dan lembut itu terlihat sangat lezat.. aku ingin mencoba melumatnya' fantasi liar Akaba mulai bekerja, disentuhkannya jari telunjuk tangan kanannya ke bibir merah Sakura sementara tangan kirinya mencengkram erat pinggul Sakura. Wajah Sakura lebih merah dari yang tadi, Akaba juga merasakan detak jantung Sakura yang semakin kencang, desah nafasnya, dan segala sesuatu di diri Sakura yag membuatnya semakin gila. Mata merahnya mulai menatap mata violet Sakura dalam-dalam.
Tangan kanannya mulai berpindah ke dagu Sakura, sementara Sakura sedikit bergetar maklum baru kali ini ia sedekat ini dengan lelaki selain Hiruma. Akaba mulai mendekatkan wajah Sakura dengan miliknya, dimiringkan sedikit wajahnya dan 5 cm... 4 cm... 3 cm... 2 cm... 1 cm... Sakura menutup matanya, Akaba membuka sedikit matanya agar bisa melihat Sakura, bibir mereka mulai bersentuhan sedikit dan...
"Wah! Aku menemukan Hayato-nii dan Sakura-nee! Ups–" anak-anak tadi datang disaat yang SANGAT tepat sebelum Akaba berhasil melumat bibir Sakura dalam-dalam.
Karena kaget Sakura langsung berusaha melepaskan diri dari Akaba dan mengambil posisi duduk, mukanya masih memerah dan diarahkan kepalanya ke arah yang berlawanan dengan Akaba ia terlihat gugup. Akaba mulai bangkit dan mencoba berdiri, lalu diraihnya tangan Sakura ditariknya tangan perempuan itu, mencoba membuatnya berdiri.
"Baiklah kalian berhasil menemukan kami! Tapi hari sudah senja saatnya kalian pulang, nanti orang tua kalian bisa khawatir," kata Akaba dengan santai tapi sebenarnya jantungnya masih berdebar seakan tak percaya dengan hal yag akan dilakukannya tadi. Tangannya masih belum melepaskan tangan perempuan berambut karamel itu.
"Hayato-nii dan Sakura-nee pacaran ya?" tanya Mei lugu.
"TIDAK! KAMI TIDAK BERPACARAN!" teriak keduanya bersamaan.
Anak-anak tadi cuma tertegun.
"Ya sudah kami pulang dulu ya! Besok kita main lagi oke! Arigatou ya Sakura-nee tadi sudah mau mengobati lukaku," kata Mei sambil berlalu.
"Iya! berhati-hatilah kalian! Mata nee!" teriak Sakura sambil melambaikan tangannya.
Tinggal lah mereka berdua disana, lalu Akaba menarik Sakura berjalan menuju tasnya dan segera mengambilnya.
"H-hei Akaba-kun le-lepaskan tanganku! Aku mau pulang!" teriak Sakura sambil berusaha melepas pegangan tangan Akaba tapi terlalu kuat, ia tak bisa melepasnya.
"Hayato"
"Hah?"
"Panggil aku Hayato"
Sakura kaget, tak disangka oleh Sakura, Akaba akan mengatakan hal itu.
"Ka-kalau begitu kau panggil aku Sakura!" kata Sakura malu-malu.
"Eh?"
"Supaya adil! Kau menyuruhku untuk memanggilmu dengan nama kecilmu berarti kau harus memanggil nama kecilku sebagai balasannya" kata Sakura tegas.
"Baiklah, Sakura" Akaba lalu tersenyum. Sakura blushing di tempat.
"Sekarang coba panggil namaku" pinta Akaba.
"Ha-ha-ha-ha... ha... ya... to..." Sakura gugup mengatakannya. Wajah Sakura terlihat manis sekali saat ia malu-malu.. Author jadi pengen ketawa.. hohoho~
"Sekali lagi..." pinta Akaba.
"Ha-Hayato"
Akaba mulai tersenyum dan mengantarkan Sakura kembali ke apartemennya. Di tengah jalan mereka melewati sebuah sungai kecil, matahari semakin tenggelam tapi cahaya merahnya masih terlihat jelas. Mereka berdua bercanda, tertawa, dan terkadang diselingi dengan pertengkaran kecil. Mungkin orang awam akan menganggap bahwa mereka berpacaran hihihi~ lucunya. Sesampainya di depan Apartemen, Akaba melepaskan pegangan tangannya.
"Sampai besok Sakura,"
"Sampai besok juga, Hayato," Sakura tersenyum kecil dan mulai mendekati pintu masuk.
"Oh ya, terima kasih sudah mengantarkanku pulang Hayato!" sambungnya, kemudian Sakura pun masuk ke dalam Apartemen.
'Aku ingin bersamanya lebih lama lagi... argh! Apa yang kupikirkan?' inner Akaba mencak-mencak sendiri.
~Keesokan harinya~
Sepulang sekolah Hiruma memanggil Sakura datang ke ruang klub.
"Cengeng sialan! Pergilah ke Bando,"
"HAH?" Sakura kaget.
"Sudah cepat kesana! Antarkan surat ini ke manager sialan mereka!" perintah Hiruma.
"Surat tantangan ya?" tanya Sakura
"..."
'Ternyata benar,' sekali lagi tebakan Sakura tepat.
"Kau butuh penyamaran, ini..." kata Hiruma sambil memberikan sebuah kotak yang dibungkus rapi.
"Apa ini?" tanya Sakura lagi.
"Bukalah!"
Sakura membukanya dan ternyata isinya adalah pakaian yang bisa dibilang imut, sebuah pakaian pengantar surat berwarna hitam dan merah ada lambang devil batsnya lengkap dengan aksesoris.
"Kau menyuruhku mengenakan ini?" Sakura sweatdrop.
"Hm" jawab Hiruma singkat.
Seperti tak ada option lain, Sakura pergi menuju kamar ganti dan mulai mengenakannya pelan-pelan. Dan voila! Sakura terlihat cantik mengenakannya. Ia berjalan mendekati Hiruma yang entah sejak kapan sedang berbicara dengan Mamori.
"Ba-bagaimana?" tanya Sakura malu-malu.
"Kyaaaaaa~ Sakura-chan imut sekali!" Mamori langsung memeluk Sakura.
"Lumayan juga, mungkin aku juga harus membuatkannya satu lagi untuk manager sialan" kata Hiruma blak-blakan.
"Aku tidak mau memakainya!"
"Bagaimana jika aku memaksamu manager sialan?"
"Pasti kau akan memasukkannya sebagai daftar ancamanmu kan? Makanya aku tidak mau," jawab Mamori
"Kalau aku bilang untuk koleksi pribadiku bagaimana?" goda Hiruma
"Ups" kata Sakura.
Muka Mamori merah seperti tomat karena perkataan Hiruma tadi.
"Pokoknya aku tetap tidak mau memakainya!"
"Kalau begitu aku akan tetap memaksamu.."
Hiruma mulai menyandarkan Mamori ke tembok ia berusaha membuat sang manager itu mau mengatakan kalimat "Ya, aku akan memakainya" walaupun harus menggunakan metode sexual harassment hitung-hitung juga memuaskan diri sendiri, sepertinya si iblis ini juga tidak tahan kalau terus-terusan menyembunyikan perasaannya. Hiruma memeluk Mamori dengan erat sambil membisikkan,
"Kau harus memakainya nanti demi aku"
Bisikan maut, ya itulah yang dipikirkan Mamori. Seketika tangan Hiruma pindah ke pipi Mamori dan mencium keningnya, lalu membenamkan wajah Mamori ke dadanya yang bidang itu.
'Jangan begitu, aku jadi tidak mengerti perasaan apa ini' pikir Mamori dalam hati. Sepertinya Mamori gundah, ia tak tahu bahwa dirinya menyukai Hiruma.
Hiruma terus memeluk Mamori dan mengabaikan Sakura, karena itu Sakura langsung "nyelonong" pergi dari sana membiarkan dua insan itu memadu kasih (cieee).
Sakura berangkat menuju Bando, sebenarnya ia malu sih memakai baju seperti itu dan berjalan-jalan keluar tapi ia sedang tidak mau cari gara-gara dengan Hiruma. Orang-orang di jalan berpikir kalau Sakura sedang ikut acara cosplay atau semacamnya. Sakura berusaha menahan malu dan akhirnya ia sampai di SMA Bando. Dengan modal sebuah surat dan sekantung plastik berisi kue yang tiba-tiba ada ditangannya, ia memberanikan diri masuk kesana. Baru saja satu langkah, langsung banyak anak laki-laki yang mengerubungi Sakura seperti semut mengerubungi kue milik L Lawliet dari fanfic sebelah.
"Kau mau jadi pacarku?" "Kau manis sekali" "Kamu anak baru disini ya?" dan berbagai pertanyaan muncul dari mulut para laki-laki itu. Sakura kebingungan tak tahu harus berbuat apa, datanglah Akaba yang mengenakan seragam amefutonya penasaran pada segerombolan anak yang mengerubungi sesuatu.
"Hei ada apa ini ramai- ra... mai... Sakura?" Akaba terkejut bukan main melihat Sakura datang ke sekolahnya apalagi dengan mengenakan pakaian yang imut itu (kalian bisa membayangkannya baju maid) plus nekomimi*** yang muncul entah darimana.
"Aku disuruh Hiruma mengantarkan su–" belum selesai Sakura melanjutkan kalimatnya, Akaba keburu menarik Sakura ke arah ruangan klub Bando Spiders. Si mata merah itu mengambil blazernya dan memakaikannya ke Sakura.
"Jangan berjalan-jalan dengan pakaian yang mencolok begitu bodoh!" Akaba terlihat sedikit kesal tapi bisa dibilang ia juga senang karena bisa melihat Sakura dengan pakaian yang "antik" seperti itu.
"Iya maaf" kata Sakura pelan. Semburat merah muncul dimuka keduanya, mereka terlihat malu-malu.
~Mereka pindah tempat ke lapangan~
"Jadi, ada apa kau datang kemari hah?" tanya Koutaro sedikit membentak Sakura.
"Hiruma menyuruhku mengantarkan ini.." kata Sakura sambil menyerahkan sepucuk surat dari Hiruma. Koutaro menyambarnya dan langsung membacanya.
"Si iblis itu ingin kita melakukan pertandingan persahabatan," sahut Koutaro.
"Lalu bagaimana Akaba?" tanya Julie.
"Terserah saja sih kalau kalian mau ikut juga tidak apa-apa.." jawab Akaba.
"Kalau begitu kita ikut!" teriak Koutaro bersemangat.
"Karena sudah diputuskan, aku akan memberitahukan pada Hiruma soal ini. Oh ya aku tadi membawa kue, silahkan dimakan anggap saja oleh-oleh tidak beracun kok soalnya yang berinisiatif membawa ini aku bukan Hiruma," kata Sakura berusaha meyakinkan mereka. Julie meraih plastik tadi.
"Ngomong-ngomong kamu siapa?" tanya Koutaro polos.
"Dia ini Ninomiya Sakura, teman masa kecilnya Hiruma," sambung Akaba.
"Panggil saja aku Sakura," Sakura menambahkan.
"Namaku Sawai Juri, panggil saja Julie salam kenal," Julie membungkukkan badan, Sakura membalasnya.
"Aku Sasaki Koutaro panggil Koutaro saja,"
Tiba-tiba cuaca menjadi mendung, akhirnya para anggota Bando Spiders memutuskan untuk menghentikan latihan sore mereka dan segera pulang. Tentu saja Akaba akan mengantarkan Sakura pulang lagipula blazer Akaba masih digunakan oleh Sakura.
~Ditempat lain~
"Sepertinya hujan akan turun.." kata Mamori.
Para anggota devil bats yang lain sudah pulang, kecuali Hiruma, Mamori, Sena, dan Suzuna. Tentu saja Sena dan Suzuna sedang mengawasi Sakura, ditugaskan oleh Hiruma daripada nganggur kan?
"Hm, kau tidak pulang manager sialan?" sambung Hiruma.
"Sebentar lagi saja lagipula aku tadi bawa pa– payungku hilang!" jerit Mamori.
Hiruma menyeringai, ini pasti perbuatan Hiruma. Menyembunyikan payung orang supaya punya kesempatan untuk mengantarnya pulang.. dasar licik!
"Berisik! Begitu saja kau teriak-teriak," kata Hiruma sambil menutup telinga.
"Itu payung kesayanganku tau!" bentak Mamori.
'Apa aku benar-benar menyukai orang ini ya? Kata Suzuna perasaan ini adalah cinta tapi orang menyebalkan seperti ini,' pikir Mamori.
"Sudah-sudah ayo pulang! Kau menghancurkan mood ku, aku jadi tak bisa kerja!" Hiruma menarik tangan Mamori dan mengambil payung berwarna hitam merah bermotif devil bats.
'Ah ternyata aku memang benar-benar menyukai Hiruma' bisiknya dalam hati.
Akhirnya Hiruma dan Mamori pulang bersama. Sebenarnya hujan belum turun tapi Hiruma memutuskan untuk membawa payung tadi untuk jaga-jaga. Sialnya payung tadi tertinggal di kereta yang mereka naiki begitu banyak orang yang ada di kereta itu hingga susah sekali untuk keluar, begitu mereka berdua berhasil keluar malah payungnya tertinggal. Ditambah hujan pun turun di musim panas itu saat mereka keluar stasiun, lengkaplah sudah penderitaan mereka.
"ARGGHHH! Sialan!" Hiruma mulai mengumpat.
Mamori cuma geleng-geleng, terpaksa mereka harus berlari lagipula stasiun itu dekat dengan rumah Mamori dan hujan pun belum begitu deras. Kedua orang itu berlari tapi dasar sial ditengah jalan hujannya semakin deras, tubuh mereka basah kuyup. Dan sampailah mereka dirumah Mamori.
"Ayo masuk Hiruma-kun, kubawakan handuk untukmu.." kata Mamori. Hiruma pun masuk ke dalam rumahnya.
'Rumah yang bersih,' pikirnya.
Mamori datang membawa dua buah handuk, sebuah kemeja plus dua gelas kopi untuk mereka. Mamori sendiri sudah mengganti pakaiannya.
"Ini untukmu Hiruma-kun," Mamori menyerahkan handuk dan gelas kopi itu. Hiruma pun mengambil posisi yang nyaman di sofa.
"Hm"
Hiruma berjalan ke kamar mandi yag ditunjukan Mamori dan mengganti pakaiannya. Begitu selesai ia keluar dan kembali duduk di sofa.
Tiba-tiba mati lampu, Mamori yang kaget langsung memeluk Hiruma yang ada disebelahnya.
"Kyaaaaa!" jerit Mamori.
"Wah lampunya mati," Hiruma terlihat santai. Dan halilintar pun mulai bergemuruh.
CTARRRRR!
Mamori semakin mengeratkan pelukannya ke Hiruma. Hiruma mulai sadar kalau posisi sangat "berbahaya" untuk jantungnya mencoba melepaskan diri dari Mamori, bukannya lepas malah Mamori semakin erat memeluknya.
"Hei manager sialan lepaskan aku!" Hiruma menggerang. Mamori menggeleng
"Aku takut.." kata Mamori lirih.
"Cih!" Hiruma kemudian memeluk balik Mamori.
"Tenanglah Mamori" bisik Hiruma.
Dalam sekejap Mamori langsung tenang, nafasnya kembali teratur ia sudah merasa nyaman dipeluk oleh Hiruma.
~Ditempat lainnya~
Akaba dan Sakura sedang berteduh di Taman Sakuramori.
"Hujannya deras sekali" kata Sakura memecahkan keheningan.
"Ya begitulah,"
"Hayato tidak kedinginan?"
"Lumayan sih.." jawab Akaba.
"Kalau begitu pakai saja blazer ini.." tawar Sakura
"Tidak usah, lagipula kau lebih membutuhkannya lengan bajumu itu pendek kan? Sedangkan aku panjang jadi aku tidak begitu memerlukannya,"
"Tapi kalau Hayato sakit pasti orang-orang di Bando Spiders akan khawatir," Sakura berusaha meyakinkan Akaba.
"Kalau kau sakit aku yang khawatir,"
"Eh?" Sakura blushing.
"Begini saja kau peluk aku sekarang,"
"HAH?" Sakura kaget
"Katanya kau tidak ingin aku sakit gara-gara kedinginan, bagaimana kalau kau peluk aku supaya tidak kedinginan," goda Akaba, ia hanya bercanda.
"Baiklah," Sakura memeluk Akaba, memastikan si mata merah itu mendapat kehangatan. Wajah Akaba mulai memerah dan membalas pelukan Sakura.
'Apa yang kulakukan? Kalau terus begini aku bisa menyukai Sakura, padahal aku hanya menginginkan Mamori' gumam Akaba dalam hati.
'Tidak akan kubiarkan Hiruma mengganggu segala rencanaku, aku yakin dia memanfaatkan Sakura untuk membuatku bimbang' inner Akaba muncul lagi.
~Tempat lain~
Sena dan Suzuna masih terus memperhatikan Akaba dan Sakura yag berpelukan, entah kenapa mereka jadi blushing sendiri.
"Dinginnya.." kata Suzuna
"E-eh begitu ya?" tanya Sena. Kemudian Suzuna dengan malu-malu memegang tangan Sena.
"Su-Suzuna?" Sena kaget, kemudian ia melepas pegangan tangan itu sebentar dan mengambil blazer yag ia kenakan. Lalu dipakaikan blazer itu ke Suzuna.
"Te-terima kasih Sena" Sena pun menggandeng tangan Suzuna lagi. Suasana disana menghangat.
~kembali ke HiruMamo~
Listriknya masih belum menyala, Hiruma dan Mamori juga masih berpelukan. Sunyi sekali... hanya terdengar suara hujan yang jatuh dari atas langit. Hiruma semakin mengeratkan pelukannya, rasa nyaman saat memeluk Mamori dan dinginnya suhu disana membuatnya mengantuk. Akhirnya Mamori dan Hiruma pun tertidur di sofa.
Hujan membuat mereka semua mengalami saat-saat romantisnya. Membuat mereka menyadari sesuatu "Ahh... aku mencintai orang ini". Tapi akankah semua ini akan terus berlanjut?
Death Note, eh salah! Author Note:
(*)= yang ini hanya karangan author saja, Sakuramori diambil dari kata Sakura dan Mori yang artinya Sakura= Pohon Sakura, Mori= Hutan.. kalo digabung jadi 'Hutan Sakura', soalnya menurut gambaran author, taman ini banyak Pohon Sakuranya jadi kayak hutan gitu.
(**)= lagunya Utau Hoshina dari anime Shugo Chara! Judulnya "Yume no Tsubomi" yang nyanyi Nana Mizuki.. author milih masukin lagu ini soalnya lagunya itu membangkitkan cerita masa lalu gitu hahaha~ lagunya juga bagus kok ada biolanya, kalo di animenya sih si Utau ini nyanyi lagu itu bareng sama kakaknya, Ikuto Tsukiyomi waktu masih kecil.. ^^
(***)= nekomimi itu artinya telinga kucing nyaan~
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Chapter 3 selesai! Banzai! Kali ini kepanjangan atau enggak sih? Kalo kepanjangan maaf ya.. (_ _) yang jelas author seneng banget bisa cepet update + banyak yang review.. XDDD
Review lagi yah~ makin banyak yang review makin cepet update! Yak seribu tiga seribu tiga~ (kok jadi jualan?)
Review onegai ^o^/~
