Galerians, in.

Hamba minta maaf. Fic ini lama tidak diupdate karena kemarin hamba sedang 'temporary hiatus', karena lagi banyak bahan bacaan, a.k.a novel bawaan kakak hamba dari Bandung. Sekarang sih satu novel udah selesai dibaca, jadi nulis fic lanjut dulu lah.

Ngomong-ngomong, siapa yang mau ngeliat fanart FemKyuubi, yang hamba bikin khusus untuk fic ini, dipersilakan meng-add hamba di FB. Kenapa? Karena tu gambar diuploadnya di FB. Kualitasnya? Insyaallah bagus.

Oke, Reviews' Replies:

lou: "Wei, gak ada salahnya toh komen panjang-panjang. Itu hak orang, ente main protes-protes aje."

CHIKARA KYOSHIRO: "Hahaha, makasih banyak. Itu juga yang hamba pikirkan saat pertama bikin fic ini dulu: bikin sesuatu yang beda! Oh ya, salam kenal juga, dan makasih udah mereview ya!"

Namikaze Ryuuka: "Gak usah peduliin komentar orang gila di atas itu, kamu kalau mau review panjang gak ada yang ngelarang kok. Soal interval, kayaknya susah deh apdet per minggu. Kalo bikinnya buru-buru, kualitasnya bisa jadi menurun kan? Kalau soal mengagetkan sih, kita kan emang harus bikin fic yang ga terduga oleh pembaca, ya kan?"

NaMIAkaze-kawaii: "Salam kenal juga ^_^. Eh, chap kemaren segitu sedihnya ya? Buset, gak nyangka hamba bikin sampe segitunya. Ehehe, mudahan hamba bisa terus mempertahankan kualitasnya."

Syeren: "Kalau soal 'lengket' sih, kayaknya kamu bener-bener harus liat apa yang ada di chap ini. Thanks-nya sama-sama ya, karena udah mereview."

kasugano shara: "Ratusan tahun? Kau datang dari jaman mana, imouto-chan? Hahaha, sori, sori, ^_^. Oh, jadi kau juga suka Narukyuu? Oke, hamba akan makin berusaha bikin fic ini tambah bagus lagi!"

Rukawa-Alisa-chan: " 'Sekarang, kau tak sendirian lagi, Naruto akan selalu ada si sampingmu. Jadi, jangan takut.' Gitu terjemahannya, kira-kira?"

Saqee-chan: "Sama! Chap 7 itu juga favorit hamba! Pas bikinnya bener-bener bikin hati campur aduk!"

Upe Jun: "Gitu? Hmm, tapi gak ada salahnya kita milih Kyuubi kan? Tapi hamba emang bener-bener berharap Kyuubi yang jadi 'the one' sih."

Tenshi Kamimaru: "Oh, Hinata? Di fic ini, dia udah jadi punya orang laen. Ada kok infonya di chap ini, lihat aja ndiri. Dan nggak usah minta maaf, mereview chap kemaren aja sudah bikin hamba sangat berterima kasih. Chap ini review juga ya?"

Ray Ichimura: "Makin dingin kan jadi makin asyik peluk-pelukan, ya gak? Oh ya, makasih lagi udah jadi constant reviewer ya!"

Higashikuni: "Dibuat pendek, karena hamba ini pasti bakal banyak ngelantur dan berbelit-belit kalo kepanjangan. Coba deh liat chap-chap sebelumnya. Ngerti sendiri kan?"

Lady Regenbogen: "Kok kesannya hamba jadi kayak orang jahat sih T_T…"

Micon: "Syukurlah kalo begitu. Ah, makasih udah mereview lagi ya!"

Zhan: "Untuk melihat bagaimana reaksi mereka, ada di chap ini dan chap depan kok. Tenang aja. Ah, tapi sori banget udah telat. Maklum, author ini kalo ketemu bahan bacaan emang lupa nulis sama sekali."

Pein Nggak Mesum: "Ya, kau benar! Liat saja bagaimana reaksi Sakura cs saat Naruto memperkenalkan Kyuubi di chap ini!

Warning:

Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.

Selamat membaca!

~••~

Moment of Revelation

Naruto merasakan langkahnya menjadi semakin gontai seraya menelusuri jalanan Desa Konoha di kala malam, lebih karena lelah mental daripada fisik. Tak pernah terlintas dalam kepalanya bahwa menjadi seorang Hokage bisa sebegitu merepotkan, atau mungkin dia memang terlalu naïf saat kecil dulu, berpikir bahwa jabatan ini lebih banyak enaknya.

Dan kayaknya sekarang Naruto kena batunya.

Setelah sepanjang jalan menjawab sapaan dari para penduduk, serta menyeret langkah sebaik yang bisa diijinkan tubuh lemasnya, pada akhirnya pandangan Naruto jatuh pada sebuah pintu apartemen, yang walaupun tidak bagus-bagus amat, tapi sudah menjadi tempat berteduh baginya sejak kecil.

Begitu pintu mengayun tertutup, Naruto harus berusaha kerasa agar tak terhuyung jatuh. Tapi sebelum dia sempat pingsan dan mampir ke alam ketidaksadaran, suara pintu lain yang terbuka menyambutnya dengan segera.

"Ah…!" satu paras cantik muncul dalam pandangan, beserta lautan rambut panjang semerah kobaran cahaya matahari senja. "Okaerinasai, Naruto!"

Naruto sendiri tak begitu mengerti apa alasannya, tapi mendengar suara itu selalu saja membuatnya merasa seperti mendapat tubuh baru, membebaskan sang Hokage dari rasa lelah dan lesu yang tadi merajalela. Seraya menyunggingkan senyum terbaiknya, Naruto mengangkat sebelah tangan, lalu mengatakan, "Tadaima, Kyuubi."

"Kau lelah?" sambil bertanya, gadis yang mengenakan celemek itu bergegas ke samping Naruto dan mulai membantu melepaskan jubah berwarna merah tua yang selalu dipakainya semenjak menjadi Hokage.

"Yah…" Naruto mengamati Kyuubi sejenak, dan apa yang ia lihat semakin meyakinkannya bahwa Kyuubi terlihat sangat cocok memakai celemek putih bersih itu, membuat Naruto semakin bersyukur telah membelikannya tempo hari. "Kurasa melihat wajahku yang ancur ini sudah cukup sebagai jawaban kan?"

Kyuubi hanya tertawa kecil sebelum bergerak ke depan Naruto. Karena perbedaan tinggi yang cukup signifikan, Kyuubi harus berjinjit tinggi-tinggi dulu ketika ia bekerja menguraikan simpul ikatan Hitai-ate dengan lambang Konoha yang terpasang di kepala sang Shichidaime.

"Kau mau makan atau mandi dulu?" tanya Kyuubi dengan lembut setelah pekerjaannya selesai, keriangan yang ditunjukkan oleh wajah dan senyumnya mau tak mau menular pada Naruto juga.

"Hmm…" Naruto berpura-pura berpikir sebentar, walau sebenarnya dia sudah mendapatkan jawabannya. Karena jujur saja, perutnya tak henti menggeram karena aroma harum yang sudah bisa terendus hidung sejak masuk rumah. "Kalau mencium wanginya sih, rasanya aku milih makan dulu deh."

"Baiklah, tunggu sebentar ya."

Kyuubi berbalik lalu berjalan pelan menuju pintu kamar Naruto yang dicat merah, memberi sang pemuda pemandangan tentang apa yang dikenakannya di balik celemek itu. Dalam kesempatan inipun, Kyuubi kembali memakai kamisol putih ringan yang sudah beberapa hari ini menjadi favoritnya.

Naruto takkan mengakui ini terang-terangan padanya, tentu saja, tapi menurutnya Kyuubi terlihat begitu cantik memakai kamisol itu.

Kyuubi kembali beberapa saat kemudian, dan sambil terus tersenyum, meraih tangan Naruto dan menggandengnya menuju dapur, tempat berasalnya bau harum yang memenuhi rumah.

"Kau mau teh atau kopi?" tanya Kyuubi setelah Naruto duduk di meja makan.

"Teh," jawabnya singkat. "Tapi ingat, jangan sampai kemanisan lagi ya."

Dia mengangguk kecil, sebelum beranjak pergi untuk menyiapkan pesanan. Dalam kurun waktu itu, Naruto menyempatkan dirinya untuk melihat hidangan di meja makan, dan kali inipun, ia terpaksa membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam kekaguman.

Sudah enam hari sejak kepulangan mereka dari pulau Mikazuki, dan pada saat itu, jujur harus Naruto katakan kalau dia sangat terkejut dengan permintaan Kyuubi di pagi keesokan harinya.

Bayangkan, gadis itu memintanya mengajarinya cara menggunakan perkakas rumah tangga. Semuanya.

Awalnya Naruto sangsi. Namun setelah melihat perkembangannya, hanya satu kata yang pantas ia katakan…yaitu luar biasa. Kyuubi tak butuh lebih dari 2 hari sampai akhirnya dia mengambil alih semua pekerjaan rumah tangga, mulai dari bersih-bersih, mencuci dan melipat baju, sampai memasak.

Naruto selalu merasa Kyuubi itu punya keterampilan dan kecerdasan di atas manusia biasa, namun ia sama sekali tak menyangka kemampuannya ternyata selevel ini. Jujur, hebat banget, tres bien, c'est magnifique, de el el.

Lihat saja hidangan di atas meja makan ini, Naruto bahkan sama sekali tak mengenal beberapa di antaranya. Membuatnya mikir lagi, apa benar memasak itu benar-benar sebuah subjek yang bisa dikuasai hanya dalam 6 hari?

Ada dua alternatif jawaban. Pertama, jawaban untuk pertanyaan di atas adalah ya. Alternatif kedua, Kyuubi adalah seorang jenius dalam urusan rumah tangga.

Namun Naruto tak sempat meneruskan pemikiran itu lebih lanjut, karena Kyuubi kini sudah muncul lagi di sampingnya sambil membawa sebuah teko dan gelas yang masih beruap. Dia meletakkannya di meja tanpa menimbulkan suara, sebelum mengambil mangkuk kecil dan mengisinya dengan nasi yang masih panas.

"Ini," Kyuubi menyodorkan mangkuk itu ke depan Naruto. "Silakan."

Pada saat ini, reaksi yang wajar seharusnya adalah berterima kasih, menerima mangkuk itu, dan mulai makan. Tapi respon Naruto hanyalah diam dan terus menatap Kyuubi tanpa melakukan apa-apa.

"Naruto?" gadis yang memiliki mata seindah rubi itu kini memiringkan kepalanya dalam tanda tanya. "Kenapa? Kau tidak mau makan?"

Naruto hanya diam dan tersenyum lagi, cepat atau lambat Kyuubi juga pasti mengerti apa yang ada dalam kepalanya.

Ketika wajah sang gadis tiba-tiba memerah, Naruto segera tahu kalau dia sudah paham.

"B-b-baka…!" serunya sambil buang muka, tersipu malu. "K-kau bisa melakukannya sendiri kan…!"

"Tapi aku sukanya begitu," jawab sang pemuda pelan. "…Kau mau melakukannya untukku kan?"

Kyuubi mengerucutkan bibirnya dalam kekesalan, namun ekspresinya itu malah terlihat sungguh lucu sampai membuat Naruto terkekeh. Setelah beberapa saat, dia menarik kursinya mendekat lalu duduk menghadap Naruto yang menunggu.

"…" Kyuubi menjumput segumpal nasi dengan sumpitnya, sebelum mengangkatnya ke arah sang Shichidaime yang masih memandanginya lekat-lekat. "Aaa…"

Pernahkah Naruto mengatakan kalau Kyuubi terlihat begitu manis dengan semburat merah di wajahnya?

~•~

Naruto baru selesai membasuh bersih semua busa sabun di permukaan tubuhnya ketika pintu geser kamar mandi tiba-tiba terbuka, menampakkan sebuah sosok bertubuh cukup kecil yang hanya dibalut oleh selembar handuk putih. Rambutnya yang berwarna merah dan sangat panjang kini diikat dalam kuncir kuda demi memudahkannya bergerak.

"Ada apa?" Naruto bertanya walau sudah tahu akan jawabannya.

"Biar kugosokkan punggungmu," Kyuubi menjawab singkat. Gadis itu mengambil spons dan sabun sebelum berlutut di belakang si pirang, lalu mulai membersihkan punggungnya dari semua daki yang dihasilkan keringat seharian.

"Hei, kau nggak perlu melakukan ini tiap hari lho…"

"Oh, diamlah," Kyuubi mengambil baskom yang telah terisi dan menyiram punggung Naruto dengan air dingin. "Kalau tidak kuawasi, kau mandinya pasti nggak bersih."

"O-oi, kok kau bisa bilang begitu? Kau kan nggak tahu."

"Tahu kok," Kyuubi tiba-tiba menjambak rambut Naruto, walau dengan lembut dan tanpa tenaga. "Lihat saja, kau lupa mencuci rambutmu kan?"

"…Sial, kau benar."

"Kau selalu saja begitu," Kyuubi menuangkan cairan kental kebiruan dari botol shampo ke tangannya, lalu mulai mencuci rambut keemasan Naruto dengan telaten. "Kau memperlakukan orang lain layaknya permata, tapi memperlakukan dirimu sendiri seperti lumpur di pinggiran jalan saja."

Kyuubi menghela napas, kemudian melepaskannya sambil tersenyum tipis, "Mengurusmu itu benar-benar sebuah tugas yang berat, tahu."

"…" untuk sejenak, perkataannya itu membuat sang Hokage terhenyak, bahkan ia sama sekali tak sadar ketika dia membilas rambut pirangnya dari semua busa shampo. Beberapa saat kemudian, pemuda itu memutar kepalaku untuk menatap sang gadis, lalu berkata pelan, "…Kyuubi, kau tak perlu mengurusku kalau malah merepotkanmu, kau tahu."

Mendengar itu, Kyuubi hanya diam sambil menatap Naruto tanpa ekspresi. Ketika dia bicara lagi, yang dia katakan hanyalah, "…Baka."

…Lalu mengejutkan Naruto dengan memeluk lehernya erat-erat dari belakang, hingga wajah mereka bersampingan.

"K-Kyuubi…?"

"Naruto no baka…" katanya lagi sambil membuat dekapannya makin erat, membuat dinginnya air terlupakan oleh kehangatan yang disimpan tubuh mungilnya. "Baka, baka, baka…"

"H-hei, tidak usah meledekku sampai segitunya dong. Aku kan cuma nggak ngerti kenapa kau mau mengurus orang sepertiku…"

"…Kau mau tahu?" kata Kyuubi dengan nada misterius. "Baiklah, tapi aku hanya akan mengatakannya satu kali. Jadi dengarkan baik-baik."

"…?" sang pemuda menoleh dan mengerutkan dahi ketika Kyuubi mendekatkan bibirnya ke telinganya, menghadirkan sesuatu yang sangat mirip sengatan listrik.

"...Karena mengurusmu seperti ini, justru membuatku bahagia."

Sekarang, giliran wajah Naruto yang jadi panas dan merona merah.

~•~

Naruto tiba-tiba terjaga.

Dari tubuhnya yang sudah agak lemas, Naruto memperkirakan kalau dia telah tertidur untuk beberapa lama. Mengecap udara dengan sedikit kulit yang tak tertutup selimut, dan mencari suara dengan telinganya yang semakin siaga. Tapi dari udara yang hangat dan heningnya suasana, Naruto tiada menemukan satupun alasan yang membuatnya terbangun dari tidur yang nyenyak.

Namun ketika tangannya merasakan kekosongan, akhirnya Naruto mengetahui apa yang membuat tidurnya terhenti.

Tubuh mungil yang merupakan sumber kehangatan terbesar dan selalu membuat tidurnya nyaman, gadis yang kini selalu didekapnya setiap malam. Biarpun itu berarti mereka berdua harus berbaring berdempet di satu futon yang tidaklah besar, mereka malah menjadikan itu alasan untuk saling peluk lebih erat dan membuat tubuh mereka kian rapat. Dan seraya dia membuka matanya, Naruto mengonfirmasi bahwa sosok yang harusnya ada di sampingnya itu kini hilang entah ke mana.

"Kyuubi…?" panggilnya pelan, sambil berusaha menyiagakan setiap ototnya demi membuat gerakan. Tapi lama ia menunggu, tetap tak ada jawaban.

Sambil mengerang singkat, Naruto duduk dan meregangkan tubuhnya, menampakkan kalau ia tidur dengan hanya memakai celana panjang. Pemuda berusia 18 tahun itu berdiri, menengok ke kanan-kiri, sebelum berjalan keluar kamar.

Inspeksi singkat memberitahu Naruto kalau malam telah mencapai puncak usianya, namun kegelapan tidaklah merajalela karena berkah gelimang cahaya bulan purnama. Dibantu oleh penerangan yang merembes masuk lewat jendela-jendela, Naruto berjalan mencari, sampai langkahnya terhenti di depan pintu balkon yang terbuat dari kaca tembus pandang.

Dan dia tersenyum.

Kyuubi sedang menikmati semilir angin malam ketika dua lengan tiba-tiba muncul entah dari mana dan melingkari pinggangnya, menghadiahkan kehangatan dalam pelukannya. Kyuubi tak perlu menunggu lama sampai pemilik tangan itu meletakkan wajahnya di puncak kepalanya, untuk menghirup wangi yang tersebar di setiap helai rambutnya yang berwarna merah menyala.

"Naruto…" dia memanggil pelan, dan kemudian diam.

"Ada apa…?" pertanyaan itu mengikuti kemudian, dan di dalam suaranya, terdengar sedikit nada kekhawatiran. "Kau kesusahan tidur?"

"Mmn…" gumam Kyuubi kecil sambil menggeleng. "Hanya agak ingin menikmati udara malam…"

"Tapi dingin kan? Kau bisa flu, tahu…"

"Ehehe, maaf…" Kyuubi meraih tangan Naruto, dan meremasnya. Sebuah isyarat kecil agar Naruto mengeratkan pelukannya. "Tapi sekarang sudah nggak apa-apa kok…"

Mereka diam untuk sementara, menikmati kebersamaan dalam irama hening kata-kata dan melodi angin yang bersilir-silir. Pupil merah Kyuubi kembali terpusat pada pemandangan desa yang sepi, yang kini dimandikan cahaya putih rembulan dengan sedikit bintik-bintik kunang-kunang.

"Naruto…"

"Hm…?"

"Kau tahu, setelah kuperhatikan baik-baik, tempat ini memang indah sekali ya…"

Naruto hanya diam, menunggu Kyuubi menyambung untaian perkataannya.

"Sepanjang kehidupanku, aku selalu bermimpi bisa hidup di tempat seindah ini. Menjalani kehidupan yang tentram, berbaur dengan penduduk, memiliki banyak teman…" tutur Kyuubi penuh harapan. "…Tapi…

"Tapi semua harapan itu, membuatku takut. Maukah mereka menerimaku setelah mereka tahu siapa aku sebenarnya? Akankah mereka memberiku kesempatan kedua, setelah semua yang kulakukan, setelah semua kesedihan yang kuberikan pada mereka…?"

Dan seperti apa yang dikatakannya, Naruto bisa mengendus adanya ketakutan dalam suara gadis itu. Yang semakin ditunjukkan oleh tubuh mungilnya yang gemetar sedikit dan jari-jarinya yang semakin erat mencengkeram lengan Naruto, seakan mencari penopang.

"Tapi aku juga tahu, aku tak boleh takut selamanya," Kyuubi akhirnya meneruskan, setelah terdiam cukup lama. "…Naruto, kurasa aku sudah siap."

"…Kau yakin?" Naruto bertanya sambil merapatkan tubuh Kyuubi ke dalam pelukannya. "Kau tahu tak akan ada jalan kembali jika kita melakukan ini kan?"

"Aku tahu. Tapi cepat atau lambat, ini pasti akan terjadi juga. Lagipula, teman-temanmu berhak tahu kebenarannya…" jawab Kyuubi. "Aku memang masih takut…sangat takut, malah. Tapi tak ada jalan lain…kau harus memberitahu tentang keberadaanku pada mereka…"

"…Baiklah, jika itu memang keputusanmu. Tapi setidaknya biarkan aku mengatakan hal ini," ucap Naruto pelan, memindahkan tangannya dari pinggang Kyuubi untuk menggenggam tangan gadis itu. "Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan selalu mendampingimu. Kau bisa pegang kata-kataku."

"…" Kyuubi terpana sebentar, sebelum tiba-tiba tersedak seperti sedang menahan tawa.

"H-hei…! Kok malah ketawa sih…!"

"M-maaf, tapi *snrk*, rasanya aneh saja mendengarmu bicara seperti itu…!" dan layaknya bom waktu yang sudah habis hitungan, tawa Kyuubi meledak. "Ahahaha…!"

"Grr. K-kau ini…"

Selagi Kyuubi memuaskan dahaga tertawanya, Naruto hanya bisa merengut dan membuang muka.

"H-hei…" Kyuubi berbalik setelah tawanya reda dan menangkupkan telapak tangannya di wajah Naruto. "Jangan ngambek dong…"

Naruto terus diam, namun kekesalan apapun yang masih tersisa di hatinya segera pupus ketika mendengar Kyuubi berkata, "…Terima kasih."

Ucapan itu membuat Naruto mengembalikan pandangannya, dan dia melihat kalau kini dua mata Kyuubi basah, berlinang air mata. Namun senyum yang menghiasi wajah gadis itu menunjukkan kalau dia menangis adalah karena bahagia.

"Terima kasih…karena bersedia menerimaku, dan selalu ada saat aku membutuhkanmu…"

"Kyuubi…"

Kyuubi mengalungkan kedua tangannya di leher Naruto, sebelum berjinjit tinggi-tinggi sambil memejamkan kedua kelopak matanya. Ketika ia menangkap isyarat gadis itu, Naruto segera meletakkan sebelah tangannya di punggung Kyuubi, lalu menarik tubuh gadis itu mendekat padanya.

Untuk yang kesekian kali, Naruto kembali merasakan betapa manisnya ciuman Kyuubi. Dengan bertemankan kehangatan musim panas dan belaian angin malam. Disaksikan oleh sebuah desa yang tertidur, bintang gemintang, dan bulan purnama yang terang.

Jika ada satu kenikmatan duniawi yang takkan takkan pernah puas Naruto nikmati, maka itu adalah kebersamaannya dengan Kyuubi. Entah itu tubuh mungilnya yang hangat, bibirnya yang lembut dan manis, atau rambutnya yang harum, Naruto hanya tahu bahwa Kyuubi adalah candu yang takkan pernah bisa dia tolak seumur hidupnya.

~•~

"Sakura, kau tahu kenapa Hokage-sama memanggil kita semua begini?"

"Kalau boleh jujur, aku juga sebenarnya tak tahu, Neji," jawab sang asisten Hokage. "Tapi mengingat dia juga memanggil semua Jounin, kurasa ini pasti sebuah hal yang besar kan?"

"Benar juga…" Tenten menimpali. "Dia bahkan sampai mau menunggu kita semua menyelesaikan misi kan ya?"

"Ahh, tapi sekarang kita sudah jarang sekali bertemu Naruto ya...!" seru Rock Lee, yang kelihatannya paling bersemangat di rombongan kecil itu. "Dan yang lebih jarang lagi, kita semuanya ngumpul begini…!"

"Yah, 'kita semua' itu kurang tepat sih…" keluh Kiba. "Hinata tidak ada di sini…"

"Hei, sudah satu tahun, kau masih memikirkannya juga? Dia sudah jadi istri Kazekage tahu." kata Ino sambil menepuk bahu Kiba.

"Oh," Sai, dengan tidak sensitifnya, tiba-tiba bilang, "Kau masih setia dengan 'cinta bertepuk sebelah tangan'mu itu?"

Sebelum ada yang bisa mencegah, Kiba tiba-tiba jadi jongkok di sudut, memain-mainkan jarinya sambil menggumam-gumamkan hal-hal yang tak jelas, bikin teman-temannya jadi sweatdrop berjamaah.

"Sai," panggil Sakura. "Kurasa aku sudah bilang supaya jangan mengungkit-ungkit soal itu lagi kan? Dasar tidak sensitif."

Sai diam sebentar, lalu dengan sebuah senyum menjawab, "Terima kasih."

"Aku tidak memujimu, brengsek!"

"Oi, kalian ini terlalu ribut," suara malas dari samping menandakan Shikamaru akhirnya memutuskan untuk angkat bicara. Di sampingnya terlihat Chouji yang asyik mengunyah makanan ringannya, alasan yang membuat dia tidak ikut ambil bagian dalam pembicaraan. "Kita ini sudah terlambat, tahu. Bikin repot saja."

"Kalau begitu, ayo," Shino berjalan menuju Kiba dan menarik kerah cowok yang masih depresi itu. "Walaupun kita teman-temannya, kurasa tak sopan membiarkan Hokage-sama menunggu."

Mereka semua berjalan kembali, dengan Shino menyeret Kiba karena pemuda itu kelihatannya sudah kehilangan gairah hidup. Mereka terus berjalan dalam waktu kurang dari 3 menit, dan tahu-tahu mereka sudah ada di depan pintu aula gedung Hokage.

Saat masuk, mereka melihat kalau semua Jounin memang sudah berkumpul, termasuk Kakashi (Gai tidak ada karena masih dalam misi). Hal yang wajar, mengingat mereka memang sudah terlambat setidaknya 10 menit. Tapi saat kesembilan orang itu mengambil barisan, mereka juga menyadari kalau sang Hokage masih belum ada di ruangan.

"Mana Naruto?" Sakura bertanya pada Kakashi yang berdiri di sebelahnya. "Bukannya dia yang memanggil-"

"Memang, dan aku sudah menunggu, Sakura-chan." suara yang ramah itu mengagetkan Sakura. Dan saat sang asisten itu kembali memandang ke depan, Naruto kini sudah berdiri di sana.

"N-Naruto, bagaimana kau…?"

"Hiraishin no Jutsu," jawab sang Hokage singkat. "Cukup praktis untuk dipakai di kehidupan sehari-hari."

"Tapi-" apapun yang ingin dikatakan Sakura selanjutnya terpotong ketika ia melihat kalau di sana, sang Shichidaime tidak berdiri sendirian. Di belakangnya, Sakura melihat seorang gadis berambut merah panjang dengan sundress putih, yang terlihat masih remaja, dan sama sekali tidak pernah ia lihat sebelumnya di Konoha.

Dan saat melihat berkeliling, Sakura yakin kalau kebingungan yang dia miliki juga dirasakan oleh semua Jounin yang ada di ruangan itu. Dan karena itulah, dia bertanya, "Siapa dia, Naruto?"

Gadis itu berjengit sedikit mendengar perkataan Sakura, dan berdiri semakin merapat sambil memegang jubah sang Shichidaime, seakan ketakutan. Dan tindakannya itu dengan sukses membuat semua orang semakin heran.

"Akan kuberitahu satu-persatu," suara Naruto tenang, dan nadanya mengandung wibawa yang lebih kuat dari biasanya.

"Pertama, dan aku rasa masih ada banyak yang ada di ruangan ini yang belum tahu, harus kuberitahu pada kalian bahwa aku sudah berhasil menguasai ekor kesembilan dari chakra Kyuubi," urai Naruto. "Mungkin memang beberapa minggu terlambat, tapi kurasa lebih baik daripada tidak kuberitahu sama sekali."

Terdengar beberapa gumaman dari kumpulan Jounin di depannya, dan walaupun Naruto tidak mendengar jelas, dia bisa menangkap adanya nada yang tak menyenangkan.

"Baiklah, kalian harus tahu bahwa kukatakan ini bukan karena ingin menyombongkan diri," ucapan Naruto tepat sasaran, terutama karena banyak Jounin yang tubuhnya tiba-tiba menegang, dan langsung memasang wajah bersalah karena tertangkap basah. "Tadi itu hanyalah info latar belakang. Yang ingin kusampaikan pada kalian, adalah mengenai komplikasi dari pencapaian ini."

Naruto meraih tangan gadis di sampingnya, lalu menariknya sedikit agar berhenti bersembunyi. Namun sebelum anak-anak buahnya sempat melayangkan pertanyaan apapun, Naruto mendahului mereka, "Neji dan Kakashi-sensei."

"Ya, Hokage-sama!" kedua pria itu menjawab pemimpin mereka tanpa ragu.

"Aku perlu teknik pupil kalian."

Yang diminta saling tatap untuk beberapa saat, merasa sangat heran dengan suruhan yang terdengar tak biasa itu. Namun demikian, mereka yakin bahwa Hokage mereka takkan menyuruh tanpa alasan yang jelas.

"Byakugan!"

"Sharingan!"

"Kyuubi," Naruto berbisik pada gadis di sampingnya, begitu pelan agar hanya mereka berdua yang dengar. "Ini saatnya."

Kyuubi menelan ludah, namun dia mengangguk. Dan dengan kepastian itu, Naruto mengirimkan perintahnya.

"Mungkin akan sangat susah. Tapi kalian berdua, gunakan teknik pupil kalian pada gadis ini, lalu beritahu aku apa yang kalian lihat."

Neji dan Kakashi langsung menjalankan perintah, kening mereka berkerut cukup dalam karena menyadari kalau sang gadis hampir tak memiliki aura chakra. Namun setelah perhatian terpusat, samar-samar mereka mulai melihat aura chakra yang semula tersembunyi. Dan hal itu hampir membuat jantung mereka berhenti berdetak.

Neji menatap Naruto dengan mata tak percaya, kemudian bertanya, "H-Hokage-sama, i-ini hanya main-main kan?"

Seluruh Jounin yang ada di ruangan mulai membuat sedikit keributan. Semua orang tahu kalau kekaleman dan ketenangan adalah salah satu yang membuat Neji sangat dihormati. Tapi sekarang, apapun yang dilihatnya, itu cukup mengejutkan sampai membuat bicaranya tersendat.

"N-Naruto, apa ini benar?" kali ini Kakashi yang bertanya, dan kedua matanya yang melebar shock memberitahu semua orang tentang seriusnya situasi. "Kau tidak bercanda?"

"Ada saatnya main-main, ada saatnya serius, Kakashi-sensei," jawab Naruto. "Dan kali ini, aku tak bisa lebih serius lagi."

Kedua Jounin elit di depannya hanya bisa terpaku untuk beberapa saat, sampai tiba-tiba mereka berdua memasang kuda-kuda, masing-masing meneriakkan perintah.

"Kalian semua!" teriak Neji pada semua Jounin di belakangnya. "Segera bersiap untuk bertempur!"

"Formasi menyebar! Jaga pintu dan semua jendela, jangan biarkan ada satupun jalan kabur tersisa!" Kakashi menambahkan.

"N-Neji? K-Kakashi-sensei?" Sakura, yang berdiri paling depan, bertanya selagi belasan Jounin mulai mengambil posisi berdasarkan perintah Neji dan Kakashi. "A-ada apa sebenarnya?"

"Itu!" seru Neji sambil menunjuk gadis yang kini berjengit ketakutan di depan mereka. "…Adalah Kyuubi! Kyuubi si Rubah Iblis!"

"APA!" banyak teriakan tak percaya terdengar dari semua arah.

"Tapi…!"

"Dia hanya seorang gadis!"

"Bagaimana mungkin!"

"Tapi…kalau Hyuuga dan Hatake sampai bereaksi begitu…!"

Sedetik kemudian, Naruto tiba-tiba sudah kembali ada di depan Kyuubi, merentangkan satu tangannya di depan gadis itu seakan melindunginya dari mata-mata yang menatapnya dengan ketajaman sebuah pedang. Kyuubi sendiri kini mencengkeram jubah merah Naruto, ketakutan begitu jelas tergambar di wajahnya.

"Itu benar. Dia adalah Kyuubi."

Perkataan sang Hokage itu menjadi pembatas terakhir, dan akhirnya semua manusia yang ada di ruangan itu benar-benar mengerti tentang identitas sang gadis yang 10 menit lalu masih tak mereka ketahui. Dan karena itu, belasan kunai tiba-tiba muncul di pandangan, dan setiap batangnya siap digunakan.

…atau setidaknya, HAMPIR sempat digunakan.

"Apa yang kalian lakukan?" Naruto bertanya dengan tenang.

"Apa maksudmu, Hokage-sama!" teriak salah satu Jounin di dalam ruangan itu. "Anda harus segera menjauh dari iblis itu! Berbahaya!"

"Siapa yang memperbolehkan kalian mengeluarkan senjata?" tetap tenang seperti tadi, namun kali ini, nada suara Naruto mulai tercemar rasa murka. "Siapa yang memperbolehkan kalian menganggap gadis ini berbahaya?"

"Tapi, Shichidaime-sama…!"

"Diam."

Mereka semua melihat mata Naruto, dan menemukan betapa seriusnya pemimpin mereka itu sekarang. Dan walaupun banyak dari mereka lebih tua dan berpengalaman dari Naruto, aura kemarahan sang Hokage itu kini benar-benar dahsyat sampai keringat dingin mulai keluar dari pori-pori mereka.

"Turunkan senjata kalian. SEKARANG."

Walau enggan, namun semua senjata segera menghilang dari pandangan. Kuda-kuda siaga pun segera diturunkan, namun tetap tak ada yang berani bertanya. Bahkan teman-teman Naruto pun hanya bisa terdiam, baru kali ini mereka melihat Naruto semarah dan semurka ini.

…sampai tiba-tiba sebuah suara memecah ketegangan itu tanpa terduga. "Naruto…"

Semua mata kini tertuju ke samping Naruto. Tak ada satupun dari mereka yang menduga bahwa suara sekecil, dan selembut itu, bisa datang dari seseorang yang tadi mereka sangka sebagai sang rubah iblis yang ditakuti di mana-mana.

Dan efeknya pun sangat mengejutkan. Aura kemarahan yang tadi membara dari Naruto, tiba-tiba pupus seperti api yang disiram air.

Pemuda itu memalingkan wajahnya untuk menatap Kyuubi, dan begitu matanya bertemu dengan warna merah rubi itu, setiap sisa-sisa kemarahan yang tadi mungkin masih ada hilang sepenuhnya. Setelah menarik napas panjang, Naruto kembali menghadap para bawahannya.

"Apapun yang kalian ingin kalian katakan atau tanyakan, tahan." Naruto memberi perintah sebelum ada satupun mulut yang terbuka. "Dan biarkan aku bertanya dahulu…

"Adakah satupun dari kalian yang bisa menyebutkan, apa yang berbahaya dari gadis ini?"

Beberapa orang langsung membuka mulut mereka, namun Naruto mendahului mereka dengan satu kalimat.

"Sebutkan dari apa yang bisa kalian lihat, bukan dari persepsi."

Naruto bersidekap, dan melihat bagaimana mulut-mulut yang tadi terbuka dengan bersemangat itu kini tertutup dengan lesu. Satu menit dia menunggu, tak ada respon apapun.

"Baiklah, karena kalian diam, biar aku yang bicara," kata Naruto. "Neji dan Kakashi-sensei mungkin belum sempat bilang ini, tapi kalian harus tahu bahwa Kyuubi, dan yang kumaksud adalah Kyuubi yang INI," Naruto menarik tangan Kyuubi sehingga gadis itu maju ke depan. "Sudah kehilangan hampir semua chakranya.

"Yang kalian lihat di depan kalian sekarang tak lebih dari seorang gadis biasa, hanya sisa dari rubah raksasa yang dulu pernah menghancurkan Konoha," Naruto melanjutkan. "Kyuubi si Rubah Iblis telah kubunuh ketika aku mengambil chakranya. Yang ada di depan kalian sekarang hanya Kyuubi, dan mulai sekarang aku tak ingin mendengar ada yang menyebutnya rubah iblis, monster, siluman, atau julukan apapun lagi."

Naruto membuat perintahnya jelas, dan nada suaranya sama sekali tak mengizinkan adanya satu argumen sekalipun. Setelah satu tatapan menyeluruh pada semua Jounin di ruangan itu, Naruto melanjutkan perkataannya, "Mulai hari ini, Kyuubi ada dalam pengawasanku, secara pribadi. Aku akan bertanggung jawab penuh atas setiap tindakannya. Tapi selama dia tak membuat masalah, maka tak ada yang boleh mengusiknya.

"Satu hal terakhir, aku ingin hal ini dirahasiakan sampai keputusanku selanjutnya. Aku tak mau ada keributan karena info ini bocor ke luar. Apa perintahku sudah dimengerti?"

Walaupun sebenarnya mereka masih punya sangat banyak untuk dikatakan, para Jounin di ruangan itu hanya bisa mengangguk. Karena mereka tahu, apa yang ingin mereka katakan hanya akan membuat api kemarahan Naruto kembali berkobar, dan setelah satu kali menyaksikannya, mereka tak yakin ingin membuat sang Shichidaime semarah itu untuk yang kedua kalinya.

"Baiklah, kalau begitu pertemuan ini selesai. Kalian boleh keluar."

Merasakan tarikan kecil pada jubahnya, Naruto berbalik ke belakang. Awalnya, dia agak tersentak saat melihat kekhawatiran yang masih terlukis di wajah Kyuubi, namun segera menepisnya dengan seulas senyum dan elusan di kepalanya yang penuh rambut merah.

"N-Naruto…" gadis itu terbata sebentar, namun ucapannya tak jadi terkatakan karena kini Naruto mengacak-acak rambutnya. "A-auh…!"

"Sudah, sudah," ujar Naruto, tersenyum makin lebar. "Sekarang sudah selesai kok."

"Ooii! Narutoo…!" tiba-tiba suara Sakura menyapa telinga Naruto. "Bisa kita bicara sebentar?"

"Oh, oke…!" jawab Naruto, dia dapat melihat kalau semua teman-temannya belum pergi, juga beberapa bekas sensei-nya. Tapi sebelum berjalan, pemuda itu berbalik dan mengulurkan tangannya pada Kyuubi. "Ayo."

"…" dengan agak ragu-ragu, Kyuubi menerima uluran tangan Naruto sambil mengangguk pelan. "…Mn."

"Jadi…" Kiba memulai. "Ini Kyuubi?"

"Ya." Naruto menjawab mantap.

"Serius? Benar-benar Kyuubi?"

"Satu-satunya."

"Masa iya sih?" kata Kiba ragu, terutama setelah melihat betapa pemalunya gadis yang kini bersembunyi di balik tubuh Naruto itu. "Kok aku sangsi ya...?"

"Aku tidak menyalahkanmu," Naruto mengangguk, lalu menghadap Kyuubi. "Kau sih, ngapain dari tadi sembunyi terus?"

"H-habisnya…"

"Kau pemalu di hadapan orang lain, tapi tidak di depanku…?" nada suara Naruto terdengar agak sakit hati. "Padahal pertama kali aku bertemu denganmu, kau sama sekali nggak malu tuh nggak pake baju-"

"A-ah, baka! Kenapa malah mengungkit soal itu lagi sih…!" teriak Kyuubi kesal sambil menghajar dada Naruto dengan kepalan tangannya yang kecil. "Baka! Naruto no baka!"

Melihat pertengkaran Naruto dan Kyuubi yang terus berlanjut, atau lebih tepat disebut senda gurau, mereka menyipitkan mata dalam tanda tanya besar.

"Neji, Kakashi-sensei…" Sakura menoleh ke dua pria itu, sambil menunjuk ke arah Naruto dan Kyuubi. "Kalian…bener-bener yakin itu Kyuubi?"

"Yah, tadi sih iya. Tapi sekarang, rasanya kok jadi gimana~ gitu…" jawab Kakashi sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Aku sangat yakin. Apalagi, biarpun aura chakra itu sangat samar, aku tak mungkin salah mengenalinya…" kata Neji, namun entah kenapa dia terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri. "…Tapi seperti kalian, aku sendiri sekarang jadi kurang yakin…"

Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka, menampilkan dua orang tua yang merupakan Tetua Konoha dan kini berjalan terburu-buru ke arah orang-orang berkumpul. Dan dari wajah mereka, sangat jelas kalau mereka sedang tidak senang.

"Apa maksudnya ini!" sang nenek berteriak lantang, dan ketika pandangannya jatuh pada Kyuubi, matanya berubah kian garang. "Apakah benar dia ini Kyuubi?"

"Dasar Jounin-Jounin payah. Padahal sudah kubilang supaya mereka jaga rahasia…" Naruto menggeram rendah, sehingga hanya Kyuubi yang bisa mendengarnya. Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya, Naruto berdiri dan menghadap kedua Tetua. "Ya, itu benar.

"Kalau begitu, kenapa dia ada di sini?" perempuan tua itu mendesis, nada suaranya penuh kemarahan. "Jika benar dia si Rubah Iblis terkutuk itu, maka sewajarnya dia harus dikurung! Makhluk seperti dia-"

"Hentikan!" seru Naruto marah, matanya menatap Kyuubi dengan khawatir. Pemuda itu kembali menghembuskan napas, sambil berusaha tetap tenang. "Apapun yang ingin kalian katakan, kita bicarakan di ruanganku saja."

"Naruto…" Kyuubi kembali memegangi jubah Naruto, tak ingin pemuda itu pergi meninggalkannya.

"Tak apa-apa," sahut Naruto menenangkan, sambil member tatapan sekilas pada teman-temannya. "Mereka semua baik kok. Bicaralah pada mereka."

"Hei, Naruto! Jika kau mengira aku bisa terima ini-"

"Ke ruanganku," Naruto memotong perkataan perempuan tua itu. "SEKARANG."

Nenek tua itu terdiam, protesnya telah dihentikan secara efektif oleh Naruto. Namun sebelum dia dan suaminya mengikuti sang Hokage itu ke ruangannya, nenek itu memberikan satu tatapan tajam lagi pada Kyuubi, sama sekali tak berusaha menyembunyikan kebenciannya.

Untuk beberapa saat Kyuubi hanya bisa menatap pintu dimana sosok Naruto menghilang, meremas-remas ujung sundress putihnya karena gugup tanpa bisa menghadapi sekumpulan orang di belakangnya.

"Hei," merasa kesunyian ini sungguh tak enak, Sakura mencoba bicara. "Kau baik-baik saja?"

Keramahan suara Sakura menurunkan sedikit kegugupan Kyuubi, dan akhirnya gadis itu cukup berani untuk berbalik, dan perlahan-lahan mengangkat kepalanya hingga mereka bertatap mata.

"Aku tahu Naruto sudah bilang pada kami, tapi aku hanya harus dengar dari mulutmu sendiri," kata Sakura dengan pelan dan lambat, seakan menimbang-nimbang perkataannya dengan teliti. "Apa kau benar-benar Kyuubi?"

Sebuah senyum berat dan pasrah muncul di bibir Kyuubi, sebelum dia mengangguk, "Ya, itu benar. Aku Kyuubi. Kyuubi no Youko."

"Kalau begitu aku punya satu pertanyaan," Sakura mengambil satu langkah ke depan. "Apa yang membuatmu berubah sedrastis ini?"

Untuk sejenak, Kyuubi nampak terkejut. Tapi detik berikutnya, ekspresi wajah gadis itu melunak, seakan semua ketegangan mendadak menghilang. Senyumnya berubah menjadi begitu lembut ketika dia mengucapkan, "Dia, tentu saja."

Sakura terpaku untuk beberapa saat, sebelum segenggam napas terhembus dari mulutnya dan seulas senyum muncul di bibirnya. Gadis berambut pink itu mendekati Kyuubi, dan dengan tak terduga, mengangkat tangannya dan mengelus kepala gadis itu.

"E…h…?" Kyuubi yang terlalu kaget, hanya bisa mengucapkan itu.

"Hei, kalian semua!" seru Sakura pada orang-orang di belakangnya. "Tak perlu khawatir lagi. Dia memang benar-benar tidak berbahaya kok…!"

"S-Sakura, bagaimana kau tahu?" Ino bertanya, wajahnya masih terlihat ragu.

"Naruto memercayai gadis ini," jawab Sakura, tersenyum dengan penuh percaya diri. "Alasan apa lagi yang kau perlukan?"

"Haa?" semua yang ada di ruangan itu hanya bisa sweatdrop.

"Nggak usah masang muka begitu deh…!" seru Sakura riang, sebelum meraih tangan Kyuubi. "Hei, ayo pergi…!"

"K-ke mana?" tanya Kyuubi kebingungan.

"Ke tempat yang lebih enak dari tempat ini lah…!" jawab Sakura sambil menggandeng Kyuubi.

"Ada sangat banyak yang ingin kubicarakan denganmu…!"

To be Continued

~••~

Chap ini dimulai dengan fluff, menceritakan perubahan hubungan Kyuubi dan Naruto setelah apa yang terjadi di pulau Mikazuki kemarin. Tema nilai psikologi di sini juga adalah 'warna', lihat bagaimana warna pakaian yang dipakai Kyuubi kini sepenuhnya adalah putih? Kalian ngerti kan?

Oh ya, mbah Masashi Kishimoto lagi-lagi ngedukung teori hamba! Di chap 505, saat Naruto memakai chakra Kyuubi, dia bisa memakai Hiraishin no Jutsu! Dan ga kayak Minato, Naruto gak perlu pake Jutsu-shiki, dahsyat men! Kayaknya tebakan hamba benar terus ya?

Sekali lagi, bagi mereka yang ingin tahu bagaimana wujud manusia Kyuubi, silakan add hamba di FB dan liat sendiri fotonya. Daripada cuma ngehayal nggak jelas, mending ngeliat bukti yang konkrit kan?

Apa yang akan terjadi nanti? Apakah Kyuubi akan bisa hidup di Konoha bersama Naruto? Atau sesuatu akan kembali menghalangi hubungan mereka? Tolong kasih komentar kalian!

Terima kasih sudah membaca!

Galerians, out.