Galerians, in.

…Oke, hamba minta maaf. Sebenernya sih, fic ini harusnya diapdet tepat sehari sebelum Idul Fitri. Tapi…karena hamba lupa sama sekali…yah, begitu deh pokoknya. Maaf.

Ookay, enough with the gloom! Mulai sekarang, jika review anda mengandung pertanyaan, akan langsung hamba jawab sesegeranya dengan fitur 'review answer' yang disediakan (udah tau dari dulu sih, hanya males makenya aja XP). Tapi kalo review biasa atau anonymous, maka akan dijawab di dalam chapter-nya aja (jadi bagi yang udah, nggak dijawab lagi di dalam chapter).

Reviews' Replies:

AeroBoy: "Di fandom Negima mah, kalo bikin yang bahasa Indonesia, bakal nggak banyak (bahkan hampir gak ada) yang baca, bro."

UZUMAKI YUKI: "Yah, bukannya bagus kalau hamba bisa meyakinkanmu seperti itu? Namanya juga fanfiction, ini. Oh ya, kalo kamu merasa bingung soal setting Gaahina di fic ini, coba deh baca fic LOVEvolution milik rully bee. Keren loh. Satu lagi, alamat FB-nya, Backt no Galerians."

kafuyamei vanessa-hime: "Oh, tak usah minta maaf. Kau mau mereview pun hamba sudah sangat senang, review lagi buat chap ini ya?"

kuraishi cha22dhen: "Yah, gak salah dong dia jadi keren? Wong udah 18 tahun gitu."

Sadistic Shinigami Aoi: "Oh, makasih banyak ya! Hamba senang sekali! Penjelasanmu tentang nilai psikologis chap kemarin itu juga sangat tepat. Selamat! Dan maaf, hamba memang salah soal pupil itu."

Upe Jun: "Nggak nyesel deh hamba bikinnya sepanjang itu, hehehe. ^_^"

Rukawa-Alisa-chan: "Mungkin ada hubungannya dengan hamba yang makan coklat saat nulisnya? Hehehe…"

Saqee-chan: "Lha, kok malah bengong?"

Micon: "Memang nggak semuanya, tapi paling tidak 3/5 bagian chap ini adalah adegan Kyuubi dan Sakura cs. Kau lihat aja sendiri."

Lou: "Ujung-ujungnya kau itu bakal jadi makanan buka puasa, tahu."

chikara kyoshiro: "Loh? Gak ada angin gak ada kentut kok tiba-tiba bilang Kyuubi kabur lagi? Tapi ya, reviewmu ini mah belum panjang (atau paling tidak, bukan yang terpanjang yang pernah hamba terima). Tapi tetep makasih banyak ya, udah mereview."

Ray Ichimura: "Coba dulu minta sama Masashi supaya kamu bisa masuk komik Naruto, baru minta jodohin ama Hinata. Bisa kagak?"

Pein Nggak Mesum: "Sebenarnya sih hamba kepingin supaya Sasuke gak disebutin di fic ini (bukan karena gak mau, tapi karena kalo gitu kan hamba jadi kayak menentukan takdir Sasuke yang dalam manga aslinya aja belum jelas).

Zhan' Masamune: "Oh, bagus! Selamat ya! Semoga bisa jadi author yang hebat!"

Higashikuni: "Bener-bener gak banyak kata ya. Tapi tetep makasih ya!"

ShiMizu: "Hm, untuk suruhan kamu itu, liat aja di chap ini apa yang bakal terjadi."

akuanakbaik: "Oh, gakpapa. Penasaran? silakan baca dengan segera!"

Warning:

Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.

Selamat membaca!

~••~

Acceptance

Kyuubi tak bisa ingat jelas bagaimana urutan peristiwanya. Tapi setelah berjalan beberapa lama, dan dengan sedikit terseret-seret karena kurang bisa mengimbangi kecepatan berjalan gadis berambut pink yang menyeretnya, Kyuubi tiba-tiba menemukan dirinya sudah duduk di kafeteria dikelilingi oleh orang-orang yang merupakan teman-teman Naruto.

"Kami mau pesan!" gadis berambut pink, yang Kyuubi kenali bernama Sakura, memanggil sang pelayan. Setelah pria itu tiba dengan sebuah buku catatan kecil, Sakura segera menoleh ke arah Kyuubi, "Kau mau minum apa?"

"Eh?" Kyuubi, yang masih kurang terbiasa dengan semua keramahan ini, hanya bisa cengok. "Terserah saja sih…"

"Jangan gitu dong. Kalau aku yang traktir, kau bisa milih apa saja kok…!" Sakura mendesak.

"Kalau begitu, aku minta jus alpukat!" seru Kiba.

"Aku jus tomat!" Rock Lee ikut-ikutan.

"Aku cukup ice lemon tea saja." Sai nimbrung.

"Enak aja!" seru Sakura sambil mendelik ke arah 3 cowok itu. "Aku nggak nawarin kalian!"

"Pelit!"

"Sakura-chan kejam!"

"Tak punya hati."

"Eh~, ngeyel ya," geram Sakura. "Oke deh, biar kutraktir!"

Mata Kiba langsung berbinar, "Traktir apa?"

"Tinjuku!" seru Sakura sambil menyingsingkan lengan bajunya. "Kukasih gratis! Sini!"

Namun sebelum perkelahian (atau tepatnya, penyiksaan) itu sempat terjadi, suara tawa kecil pelan menghentikan amukan Sakura. Ketika mereka menoleh, ternyata tawa itu berasal dari Kyuubi.

"Ehehe, kalian lucu sekali ya…" ucap Kyuubi setelah tawanya mereda. "Aku bisa lihat alasan mengapa Naruto sangat humoris…"

"Hei, jangan bilang seakan kami yang menularinya dong," kata Kiba keberatan. "Dia yang nularin kami, tahu!"

"Tenang, aku nggak peduli siapa yang nularin kok," sahut Kyuubi, lalu berkata polos, "Soalnya begonya sama aja."

"A-a-apa kau bilang…!" seru Kiba seperti harimau luka, siap menerjang Kyuubi yang sudah melukai harga dirinya. "Kono yarroo…!"

TEPOW!

"Heh, jangan ganggu dia, dasar anjing kampung!" omel Sakura dengan tinju terkepal, memperhatikan Kiba yang kini terkapar di lantai dengan benjol yang berasap.

"Anu," sela sang pelayan, yang sedari tadi berdiri menunggu dan sekarang sudah habis kesabaran. "Kalian mau pesan? Atau mau ngebanyol seharian?"

"Ah, maafkan kami," ucap Kyuubi, kemanisan yang dikandung suaranya membuat kekesalan sang pelayan langsung hilang. "Bisa pesan jus jeruk?"

"Jus jeruk?" tanya Sakura, senyum tipis muncul di bibirnya. "Wah, kau memilih kesukaan Naruto tuh."

"Eh…?" ucap Kyuubi pelan, lalu tersipu-sipu sambil menggaruk-garuk pipi dengan telunjuknya. "Ehehe…"

'Uh~!' Sakura, beserta Ino dan Tenten yang sedari tadi hanya diam saja, harus berusaha keras untuk menahan diri mereka dari melompat dan memeluk Kyuubi kuat-kuat. 'Imutnya~!'

Di belakang mereka semua, Kakashi berdiri sambil bersidekap dan bersandar ke dinding. Di balik topengnya yang menyembunyikan, sebuah senyum tersungging di bibirnya, dan kekaguman mengisi ruang hatinya.

'Naruto, Naruto…' Kakashi menggumam dalam hati. Dulu Kakashi telah melihat, dengan mata kepalanya sendiri, betapa beringas, kejam, dan mematikannya Kyuubi. Tapi sekarang, makhluk yang sama, telah berubah sedemikian jauh hanya karena berhubungan dengan seorang Naruto Uzumaki. 'Kau tak pernah gagal membuatku terkagum-kagum…'

"Jadi, bagaimana ceritanya…?"

"Cerita…?" tanya Kyuubi sambil menyeruput jus jeruknya.

"Oh ayolah, jangan pura-pura nggak ngerti…" Sakura menyenggol bahu Kyuubi pelan dengan sikutnya. "Kau jatuh cinta pada Naruto kan?"

"Bruuh…!" Kyuubi menyemburkan isi mulutnya lurus menuju wajah Shikamaru yang duduk tepat di seberangnya, sebelum terbatuk-batuk hebat. "Uhuk…! U-uhuk…!"

Karena merasa marah-marah itu terlalu merepotkan, si rambut nenas cuma menyeka wajah dengan lengan baju sambil mengumpat sunyi, "…Sompret."

"A-apaan sih…!" seru Kyuubi panik. "Siapa yang jatuh cinta!"

"Kau," kali ini Ino yang menjawab, dan dari wajahnya, perempuan berambut pirang itu kelihatan sangat menikmati reaksi Kyuubi. "Malah, menurut pendapatku, kau sedang SANGAT jatuh cinta."

"Jangan asal bicara dong…! Kalian punya bukti apa?"

"Hei, jangan meremehkan intuisi perempuan ya," kata Sakura sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya. "Keliatan jelas banget tahu, terutama dari sorot matamu setiap kali kau menatapnya."

"Oi, jangan ganggu dia terus dong. Gimana dia bisa cerita kalau begini?" Kakashi menengahi, hingga Kyuubi membuat catatan mental agar berterimakasih padanya nanti. "Sudahlah, Kyuubi. Tak usah diladeni cewek-cewek jahil ini, ceritakan saja kisahmu."

Kyuubi berdiam diri sebentar, memastikan kalau orang-orang yang mengelilinginya sudah siap mendengar dan takkan mengajukan interupsi apapun, sebelum mengeluarkan pembuka kisahnya, "Kurasa…kalian semua belum tahu bahwa ini," Kyuubi memberi isyarat ke arah badannya. "…Adalah wujud asliku, kan?"

Hening sebentar, sebelum, "APAA!"

"Tunggu…!" Sakura berdiri begitu cepat sampai meja berguncang sedikit. "Biar kuulangi, wujud ini adalah wujud aslimu? Bukan rubah raksasa berekor sembilan itu?"

"Benar," Kyuubi menjawab. "Di dunia ini hanya segelintir orang yang tahu, tapi pada saat dilahirkan, kami para Bijuu semuanya memiliki wujud manusia."

"Lalu kenapa? Kenapa kau memutuskan untuk menjadi makhluk semengerikan itu?" tanya Ino kebingungan.

"Yah, untuk awalnya, cobalah kalian pikirkan sebentar…" Kyuubi menarik napas panjang. "Bagaimana perasaan kalian jika gadis berpenampilan sepertiku tiba-tiba muncul entah dari mana, dan dengan kekuatan chakra yang begitu dahsyat?"

Kyuubi menunggu orang-orang itu mendalami perkataannya, sebelum mengucapkan, "Kalian pasti curiga…dan jadi takut padaku kan…?

"Seperti itulah bagaimana mereka dahulu memperlakukanku. Awalnya mereka hanya menjauhiku, namun lama-kelamaan dan entah dimulai oleh siapa, mereka mulai menyebutku iblis yang harus dibunuh karena membawa kutukan pada dunia…"

Saat itu, Sakura yang duduk paling dekat dengan Kyuubi, bisa melihat dengan jelas kalau dua tangan gadis berambut merah itu terkepal kuat-kuat, seakan berusaha menguatkan hatinya.

"Padahal aku tak melakukan apa-apa, padahal aku tak pernah mengganggu siapa-siapa, tapi mereka mulai mengejarku, memburuku dengan pedang dan pisau dan sabit, meneriakkan makian dan cacian sepanjang waktu. Dan apapun yang kukatakan tak pernah bisa menghapus nafsu membunuh yang selalu bersinar di mata mereka…

"Aku tak punya pilihan. Jika terpojok, maka aku pun harus membunuh untuk bertahan hidup, seberat apapun dan sesakit apapun hatiku saat melakukannya. Dan oleh sebab itulah, aku terpaksa mengambil wujud rubah berekor sembilan, dengan harapan para manusia akan jadi takut dan takkan menggangguku lagi…"

"Yah, tapi walaupun begitu…" Kyuubi melanjutkan, kesedihan begitu jelas terukir di antara kelembutan suaranya. "Harapanku tak pernah terwujud…"

Mereka semua menatap Kyuubi dengan penuh rasa kasihan. Tak pernah ada satupun dari mereka yang mencoba berpikir dari sudut pandang Kyuubi, dan setelah mendengar semua ini, mereka tak bisa menyangkal bahwa mungkin justru perlakuan manusia pada Kyuubi-lah yang sudah menciptakan monster rubah itu.

"Lalu…" setelah waktu yang cukup lama, Kyuubi kembali bicara. "Nasib mempertemukanku dengan Naruto."

Kyuubi mencengkeram dadanya dengan kuat, seakan memperlihatkan bahwa kini jantungnya berdebar dengan cepat, "Dan dialah yang mengubahku…

"Kami mengalami penderitaan yang sama, sama-sama ditolak oleh orang di sekeliling kami, namun dia berbeda. Tak sepertiku, yang kabur dan bersembunyi layaknya pengecut, dia malah menerima semua hinaan dan cacian yang diberikan padanya, dan malah mengubah penderitaan sebagai alasan untuk terus bertambah kuat. Untuk membuktikan bahwa dirinya pantas diterima…

"Orang-orang menjauhi dan memusuhinya, namun daripada membenci mereka, dia justru melindungi mereka. Dia punya kekuatan yang begitu besar, tapi tak pernah sekalipun terlintas dalam kepalanya untuk membalas dendam atas apa yang telah mereka lakukan…

"Semua itu…karena kekuatan dan kebaikannya yang begitu besar itu, yang membuatku berpikir bahwa mungkin dia memanglah sang penyelamat, yang ditakdirkan untuk menghapus kebencian dan memberi kebahagiaan ke dunia ini…

"Dan mungkin karena alasan itu jugalah, yang menyebabkan aku kalah dengan begitu mudah dari Naruto," mata Kyuubi menerawang jauh, menyelami kolam kenangannya untuk kembali ke saat itu. "…Karena mungkin, jauh di dasar hatiku, aku telah merelakannya. Karena aku merasa bahwa jika ada satu orang yang pantas untuk mengambil semua kekuatanku, maka itu adalah Naruto."

"…Yah, bukan berarti aku jatuh cinta padanya karena hal itu sih…" Kyuubi melanjutkan beberapa saat setelahnya, dengan semburat merah mulai nampak di permukaan pipinya yang mulus tanpa cacat.

'Oh,' semua yang ada di sana berpikir bersamaan, walaupun kalimat selanjutnya ini hanya terlintas di kepala 3 kaum Hawa, 'Ini nih bagian serunya…'

"Tak pernah ada yang tahu ini selain kami berdua, dan bahkan kurasa Naruto sendiri tidak menyadarinya," Kyuubi memulai kisahnya yang lain. "Tapi dari jutaan, dan benar-benar jutaan, manusia yang pernah kutemui, hanya Naruto yang memberiku perlakuan berbeda."

"Berbeda?" Kiba menelengkan kepalanya. "Berbeda gimana maksudmu?"

"Dia tak pernah takut padaku," kata Kyuubi sederhana, tersenyum karenanya. "Tak pernah. Sekalipun."

"…Hanya itu?" dengan ekspresi yang bahkan jauh lebih bingung dari Kiba, Lee ikut menelengkan kepalanya. "Maaf kalau tidak sopan, tapi kurasa itu tidak berarti banyak deh."

"Lee!" ketiga cewek di situ langsung berteriak marah, bahkan Tenten sudah berdiri dan siap memukul si alis tebal yang merupakan teman satu timnya.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa," Kyuubi cepat-cepat menenangkan gadis bersanggul kembar itu. Dia lalu menghadap Lee sebelum kembali bicara, "Kau tahu, sepanjang aku bisa mengingat, semua manusia selalu saja takut padaku, bahkan menjauhi dan memusuhiku. Dan setelah berabad-abad terus seperti itu, kurasa menemukan seseorang yang tidak bersikap begitu sangat berarti banyak bagiku."

"…" dia mengambil beberapa saat untuk memikirkan perkataan Kyuubi, dan akhirnya Rock Lee benar-benar menyadari seberapa pentingnya hal yang terdengar sepele itu bagi Kyuubi. Sedetik kemudian, wajah Lee terlihat begitu menyesal dan dia langsung bersujud di lantai. "Maafkan aku! Kau boleh menghajarku atau menyiksaku atau terserah deh, tapi maafkan aku karena menyakiti perasaanmu!"

"Tidak apa-apa kok, aku malah senang kau mengerti," Kyuubi tersenyum pengertian. "Sekarang, sampai mana aku tadi…?

"Setelah aku keluar dari tubuhnya, aku semakin yakin akan hal itu. Padahal dia tahu bahwa aku adalah perwujudan Kyuubi no Youko, padahal dia mengerti bahwa aku hanyalah seekor rubah iblis yang telah membunuh kedua orangtuanya dan menyebabkan begitu banyak penderitaan baginya, tapi tatapan Naruto tak pernah menyimpan rasa takut, atau kebencian, ataupun dendam.

"Dia tak pernah mengatakannya terang-terangan, tapi setiap kali mata kami bertemu, aku bisa tahu bahwa setelah semua kesedihan yang kusebabkan baginya…dia memaafkanku…"

Tepat setelah mengatakan itu, arus kecil air mengalir dari mata Kyuubi. Menggambarkan betapa besar keharuan yang memenuhi hatinya.

"Hanya dia yang mau mengerti bahwa semua tindakanku semata-mata kulakukan demi melindungi diriku sendiri, walaupun untuk setiap nyawa yang kulayangkan, hatiku harus tercabik-cabik oleh kesedihan…" Kyuubi terisak kecil, dan seluruh emosinya bagaikan terkirim ke hati semua orang yang mengelilinginya. "Hanya Naruto yang mau memahami, bahwa makhluk macam aku pun juga menginginkan kepedulian, juga mendambakan kasih sayang…"

"Kyuubi…" mendengar curahan perasaan gadis berambut merah itu, Sakura sendiri tak bisa menahan matanya untuk tidak jadi berkaca-kaca.

"Jadi, kalian mengerti alasanku kan…?" biarpun matanya terlihat seperti kaca karena beningnya air mata yang masih mengalir di wajahnya, Kyuubi mengangkat kepalanya dan menatap mereka semua dengan sebuah senyum bahagia terpasang di wajahnya. "Bagi kalian, alasan macam ini mungkin terdengar sepele. Tapi bagiku, yang selama ratusan tahun terus mencari dan menunggu, menemukan seseorang yang mau menatap dan menyayangiku layaknya gadis biasa…

"Tentu saja aku akan jatuh cinta padanya. Sangat jatuh cinta."

~•~

Mereka meneruskan obrolan baru selama setidaknya 10 menit, dan Kyuubi baru saja selesai menceritakan kejadian di pulau Mikazuki ketika raungan yang nyaring luar biasa mengguncang Gedung Hokage. Sebuah teriakan penuh kemarahan dan kemurkaan, membuat Kyuubi, Sakura, dan semua yang duduk di kafeteria saat itu (sebenarnya, semua orang yang ada di dalam bangunan juga), tiba-tiba menggigil ketakutan.

"A-apa itu?" Ino mencicit ngeri, terutama karena raungan itu terus berlanjut tanpa henti.

"Kelihatannya berasal dari kantor Hokage…" gumam Sakura sambil bergidik kecil karena teriakan itu semakin bertambah nyaring. "Ouw, dia pasti sedang sangat marah sekali tuh…"

"Naruto…?" Kyuubi berbisik pelan ketika dia mengenali suara itu. Tidak beberapa detik setelahnya, suara debam pintu dan derak kayu yang remuk kembali membahana. Diikuti oleh suara langkah yang jelas-jelas menandakan bahwa siapapun yang sedang berjalan, kini sedang diliputi oleh kemarahan yang tidak sedikit.

Pintu kafeteria tiba-tiba berdebam terbuka, dan Naruto merangsek masuk tanpa memedulikan keributan yang ia ciptakan. Pemuda berjubah merah tua itu langsung menuju konter dan menghempaskan pantatnya, lalu menggebrakkan satu tinjunya ke atas meja.

"Jus jeruk!" teriaknya pada sang pelayan, membuat pria berjanggut itu berjengit ketakutan. "Dan aku minta lima gelas!"

Sang pelayan yang benar-benar ketakutan langsung melesat ke belakang demi membuatkan pesanan sang Hokage. Ketika pesanannya tiba, Naruto bahkan sama sekali tak mengucapkan terima kasih dan langsung menenggak minuman berwarna oranye itu satu persatu.

Tangannya baru saja meraih gelas keempat ketika seseorang menyentuh bahunya, membuat kekesalan Naruto melejit naik kembali karena ada yang berani mengusiknya ketika ia sedang semarah ini. Dia menoleh dengan ekspresi sekeras batu, namun aura kemarahannya yang tadi begitu membara langsung padam saat dia menyadari siapa yang ada di belakangnya.

"Naruto…?" suara itu begitu menenangkan, dan Naruto merasa seakan dunianya tiba-tiba menjadi lebih luas dan lapang hanya karena mendengarnya. "Kau tak apa-apa?"

"…" Naruto segera meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya erat, sehembus napas lepas dari mulutnya. "…Sekarang baru aku tak apa-apa."

"Apa yang terjadi, Naruto?" Naruto mengangkat kepalanya dan menemukan kalau pertanyaan itu datang dari Sakura yang berdiri di belakang Kyuubi. "Jarang-jarang aku mendengarmu sampai semarah itu."

"Jangan tanya," Naruto menggeram rendah, tapi tatapan sekilasnya pada Kyuubi menunjukkan pada mereka semua apa yang menjadi penyebab ledakan kemarahan itu. "Tak ada hal menarik yang terjadi kok."

"Tak mungkin." tukas Neji cepat, menangkap kebohongan dalam perkataan Naruto. "Ini pertama kalinya aku mendengarmu semarah itu setelah 2 tahun. Mustahil tak ada yang terjadi."

"Dengar, tak ada apa-apa, oke?" Naruto kembali berusaha berkilah. "Kami hanya berdebat seperti biasa. Tak ada hal khusus."

"Aku ya?" cetus Kyuubi singkat, dan perubahan warna wajah Naruto secara tak langsung membenarkannya. Kyuubi tak pernah membanggakannya, tapi di saat-saat seperti ini, gadis itu selalu bersyukur karena mempunyai intuisi yang tajam.

"Bisakah kita membicarakan hal lain saja?" tanya Naruto dengan nada memohon, memandang tepat ke dua bola mata Kyuubi. "Lagipula, itu tidak pentin-"

"Naruto," Kyuubi memotong perkataan pemuda itu sambil meletakkan tangannya yang lain di pipi Naruto. "Tolong, beritahu aku."

Naruto menatap Kyuubi dalam-dalam, dan dari mata biru langitnya, Kyuubi bisa menangkap kalau pemuda itu lebih memilih dihajar sampai babak belur sekalian daripada harus memberitahunya. Tapi Kyuubi bertahan, membuat Naruto menyerah pada akhirnya.

"Kalian tahu sendiri bagaimana dua orang tua itu, mereka jarang sekali setuju dengan keputusan-keputusan yang kubuat dan sangat menikmati menentangku seperti itu. Tapi aku tahu, kalau aku punya dasar-dasar dan argumen yang kuat, maka cepat atau lambat mereka juga akan menyerah.

"Tapi kali ini, ketika topik perdebatan kami adalah Kyuubi, biarpun aku menjawab setiap sanggahan mereka dengan jawaban-jawaban yang cukup meyakinkan, entah kenapa mereka tak mau menyerah. Sampai-sampai aku yakin kekeraskepalaan mereka hanya bisa ditandingi berlian," Naruto menghembuskan napas, dan alisnya jadi bertaut. "Lalu hal itu dimulai…"

"Hal apa?" tanya Sakura.

"Bahasa mereka bertambah kotor…" mata Naruto menyipit, dan pemuda itu harus menahan dorongan untuk menghancurkan sesuatu demi memuaskan amarah yang kini kembali padanya. "…Aku tak pernah begitu peduli kalau mereka menggunakan bahasa macam itu padaku. Mereka bisa mencaciku atau memakiku atau menghinaku sesuka hati mereka. Tapi…"

Kyuubi merasakan genggaman Naruto bertambah erat ketika sekali lagi pemuda itu mengangkat kepala untuk menatapnya, "Jika hinaan itu ditujukan pada orang lain…aku tak bisa terima…"

Walaupun dua kata itu bisa ditafsirkan dengan makna generik, namun dari cara Naruto mengatakannya, semua orang yang mendengar langsung tahu kalau perkataan sang Shichidaime itu hanya mengarah pada satu orang. Satu gadis saja.

"Aku berusaha sabar sambil terus mengingatkan mereka agar berhenti bicara seperti itu, namun peringatanku sama sekali tak didengarkan. Dan di akhir, apa yang mereka ucapkan sudah terlalu kelewatan…" Naruto menggertakkan rahangnya kuat-kuat. "Dengan apa yang sudah mereka katakan, aku heran bagaimana aku bisa puas hanya dengan berteriak-teriak seperti itu…"

Naruto berhenti sebentar, menimbang-nimbang perkataannya. Tapi dia memutuskan untuk jujur saja, "Ketika mereka mengatakan kalau Kyuubi lebih baik dibunuh saja, kupikir aku siap mencabik-cabik mereka…"

Naruto menunduk sekali lagi, dan guncangan kecil pada pundaknya menceritakan tentang kemarahan yang berusaha dia tahan dalam dadanya. Hanya ketika Kyuubi mendekat dan menarik kepala penuh rambut pirang itu ke dalam pelukannya, tanpa kata kecuali tatapan syahdu dari mata merahnya, barulah aura murka Naruto kembali pupus.

"…Yah," Kakashi buka suara. "Memang begitulah mereka. Tapi kau tak usah terlalu khawatir, Naruto."

"…?" Naruto mengangkat kepalanya sedikit, menatap sang Sensei dari celah yang disisakan pelukan lengan Kyuubi.

"Kami akan membantumu," kata sang pria bertopeng itu mantap. "Kita akan membuktikan kalau Kyuubi sudah berubah, dan kita akan buat Konohagakure menerimanya, kalian setuju kan?"

"Ou!" seru Rock Lee dan Kiba bersamaan.

"Serahkan pada kami…!" Sakura, Tenten, dan Ino berkata dengan sinkron.

"Merepotkan sih, tapi ayo sajalah…" gumam Shikamaru sambil menguap setelahnya, dengan Chouji mengangguk-angguk mengiyakan di belakangnya.

Beberapa pasang mata langsung tertuju pada Shino dan Neji. Shino, sebagaimana biasa, dengan kalem dan tenang menganggukkan kepala, memberikan persetujuannya. Neji nampak berpikir keras selama beberapa saat, namun pada akhirnya, dia berkata, "Aku masih ragu, tapi aku akan ikut membantu…"

"Kalian…" rasa haru memaksa mata Kyuubi menjadi berkaca-kaca. "…Terima kasih…"

"A-aku tak tahu harus berkata apa…" kata Naruto pelan. "…K-kenapa…?"

"Oh, ayolah. Memang salah ya kalau kami mau membantu seorang teman…?" nada suara Sakura saat bicara seakan-akan mengatakan "Bukannya itu sudah jelas?". Dia lalu menambahkan, "Lagipula…"

"Hm? Lagipula apa?"

"Wajar kalau kami membantu teman yang sedang kasmaran kan?"

Seperti ada yang menghantamkan palu godam, kesadaran segera datang ke kepala Kyuubi dan Naruto, yang sejak tadi terus bertindak tanpa mikir. Kyuubi segera melepaskan pelukannya pada kepala Naruto dan menjauh satu langkah, menatap ke arah lain sambil menutupi pipinya yang tanpa keraguan penuh warna merah. Naruto, yang sama-sama malu, hanya bisa pasang tampang gugup.

"Memang sih, belum jelas sedalam apa hubungan kalian…" Sakura melanjutkan, senyumnya bertambah lebar. "Tapi kalau sudah sampai berani berbuat seperti itu di depan publik sih…kuras-"

"S-Sakura!" semua yang ada di situ terkaget-kaget mendengar teriakan Kyuubi, dan menilik dari ekspresi wajahnya, kelihatannya gadis berambut merah itu juga terkejut dengan perbuatannya sendiri. Dengan wajah yang bertambah merah dan rasa malu yang amat sangat, Kyuubi segera bersembunyi di belakang Naruto, menyusupkan wajah di antara jubah merahnya.

…yang akhirnya malah membuat senyum Sakura cs makin lebar saja.

"A-ah, itu…anu, ini…" Naruto gelagapan, karena terus gagal dalam mencari alasan. Namun melihat senyum-senyum jahil dari teman-temannya, cowok berambut pirang itu tambah panik. Ujung-ujungnya…

"Ah," ucap Kakashi singkat ketika wujud Naruto dan Kyuubi mendadak saja lenyap. "Dia kabur pakai Hiraishin."

"Ihihihi…" ketiga cewek di situ terkikik bersama, seperti anak kecil yang dapat mainan baru. "Asyik banget menjahili mereka ya…!"

"Tanpa sadar saja mereka udah semesra itu, gimana kalau sadarnya…?" gerutu Kiba pelan. "Bikin ngiri aja…"

Sementara itu, di halaman gedung Hokage, dua sosok tiba-tiba saja muncul seakan terbentuk dari udara bebas. Dengan tangan yang saling genggam, wajah kedua orang itu sama-sama begitu merah seakan-akan baru saja kelamaan berendam di onsen. Setelah menarik satu napas panjang, si cowok pirang, mengangkat kepalanya.

"Huah, wajahku serasa direbus saja…"

"Masih enakan kamu dong…" gerutu gadis di sampingnya. "Punyaku rasanya kayak dibakar nih…"

"…" Naruto menatap Kyuubi tajam. "Kau sih…"

"Apa? Jadi ini salahku?" Kyuubi bertanya cepat, setengah jengkel.

"Memangnya yang meluk-meluk tadi siapa?" Naruto balik bertanya.

"E-eh, itu kan refleks…! Lagipula, kau sama sekali tidak berbuat apa-apa untuk mencegahku kan!"

"Gimana mau mencegah? Nyadar juga baru aja!"

"Kalau begitu jangan nyalahin aku dong!"

Cowok dan cewek yang beradu mulut itu kini kelihatan seperti siap berduel, dengan wajah kurang dari beberapa inci dan alis bertaut pertanda jengkel. Tapi entah kenapa, beberapa saat kemudian mereka berdua malah mendengus, sebelum tertawa bersama-sama.

"Hah~, memang menyebalkan ya, mereka itu…" kata Naruto dengan senyum yang mengatakan 'cape deh'.

"Jangan mengejek orang lain," omel Kyuubi sambil mencubit pipi Naruto. "Kau juga sama saja, tahu."

"Apa? Jadi bagimu aku juga menyebalkan nih?"

"Begitulah," jawab Kyuubi singkat. "Karena kalau tidak, maka kau bukan Naruto-ku."

Naruto tersenyum tipis, menyadari dan menyenangi nada posesif dalam perkataan Kyuubi. Pemuda itu mengeratkan genggaman tangannya, sebelum bertanya, "Hei, bagaimana kalau kita hari ini pulangnya jalan kaki aja?"

"Eh?" tiba-tiba wajah Kyuubi jadi pucat. "Naruto, kurasa itu bukan ide yang bagus…"

"Kalau kita ingin penduduk desa ini mau menerimamu, kita harus mulai dari hal-hal kecil," Naruto membujuk dengan sabar. "Aku akan menemanimu kok, jadi tidak usah khawatir."

"T-tapi, kalau ada yang tanya, gimana?"

"Hmm…" Naruto berpikir sebentar, sebelum wajahnya jadi cerah mendadak. "Kyuurin."

"…Kyuurin?"

"Ya, Kyuurin."

"Oh, jadi itu nama baru bagiku ya?"

"Apa maksudmu? Tentu saja tidak."

"Eh? Tapi tadi kau bilang…"

"Itu hanya nama samaran yang akan kita pakai jika ada yang tanya," ujar Naruto. "Tapi bagiku, kau tetap Kyuubi, dan akan selalu menjadi Kyuubi."

"Oh…" pipi Kyuubi terasa memanas. "Senang mendengarnya…"

"Jadi…" Naruto menarik tangan Kyuubi pelan, mengisyaratkannya agar mulai berjalan. "Ayo pulang."

~•~

Walaupun awalnya itu kelihatan seperti ide yang bagus, Naruto dengan segera menyesali usulannya untuk berjalan pulang kaki.

Mereka memang sama sekali tidak mendapatkan masalah di jalan. Tak ada seorangpun yang menyadari identitas Kyuubi yang sebenarnya (yang memang tidak mungkin mengingat penampilan gadis itu). Bahkan para penduduk sudah cukup baik dengan tak bertanya apa-apa walaupun keingintahuan menguasai pikiran mereka karena melihat Hokage mereka bergandengan dengan seorang gadis tak dikenal.

Tidak, yang membuat Naruto menyesali keputusannya adalah fakta bahwa di sepanjang jalan, terlalu banyak mata yang menatap Kyuubi. Dia tak terlalu ambil peduli pada mereka yang memandang Kyuubi dengan rasa ingin tahu atau heran, yang dia tidak suka adalah para laki-laki muda (bahkan yang sudah paruh baya) yang menatap Kyuubi dengan terlalu lekat seakan berusaha menelanjangi gadis manis itu dengan mata mereka.

Kekesalan yang menggumpal makin besar dalam hatinya memaksa insting posesif Naruto untuk ambil alih, memaksa sang pemuda untuk mempercepat langkahnya, tak ingin lelaki lain bisa melihat Kyuubi lebih lama dari yang diperlukan.

Tapi tentu saja, kelakuannya yang aneh dan langkahnya yang semakin susah diimbangi menarik perhatian gadis yang sedikit terseret di belakangnya, tapi dia sama sekali tak kesempatan untuk bertanya sampai akhirnya kedua orang itu tiba di depan pintu apartemen mereka.

"N-Naruto…?" gadis berambut merah itu bertanya heran, tepat setelah napasnya yang agak tersengal teratur kembali. "Kau kenapa sih tadi…?"

Naruto berbalik dengan cepat dan menyambar bahu Kyuubi dengan kedua tangannya, menakuti gadis itu untuk sekejab. Saat mata mereka bertemu, Kyuubi melihat ada sinar aneh di mata biru langit Naruto, "Kau tak boleh keluar rumah sendirian."

"…He?"

"Aku melarangmu keluar rumah, kecuali kau bersamaku atau ada yang menjagamu. Paham?"

"Tunggu, Naruto, ada apa tiba-tib-"

"Jawab aku dulu. Kau paham atau tidak?"

"Iya, iya, aku mengerti. Tapi katakan dulu, kenapa kau mendadak bicara begitu?"

"Karena di desa ini ada terlalu banyak bahaya untukmu," ucap Naruto dengan begitu tegas, sinar aneh di matanya semakin jelas terlihat.

"…Bahaya?"

"Kau tidak sadar bagaimana cara cowok-cowok memandangimu di sepanjang jalan?" baru setelah mendengar itulah, Kyuubi mengerti apa arti sinar di mata Naruto. Itu adalah kecemburuan. "Pokoknya, kau tidak boleh keluar rumah sendirian. Aku khawatir."

"Naruto, kau ini berlebihan ah," ucap Kyuubi, tapi tak tahan untuk tidak tersenyum senang. "Masa cuma begitu saja kau sudah khawatir sih?"

"Tolong jangan meremehkan ini, Kyuubi," desak Naruto, kekhawatiran semakin jelas tergambar di suaranya ketika pemuda itu menarik Kyuubi makin dekat padanya. "Kau yang sekarang ini nggak ada bedanya dengan gadis biasa. Kau tak tahu hal seperti apa yang bisa terjadi di luar sana."

"Sudah kubilang, kau ini berlebihan," kata Kyuubi sambil pura-pura memberengut, walaupun sesungguhnya dia sangat gembira karena Naruto yang begitu protektif padanya. "Aku yakin aku akan baik-baik saja kok."

"Bagaimana kau bisa seyakin itu? Di dunia ini tak ada yang tak mungkin, Kyuubi, jadi kumoho-"

"Karena kau ada di sini," potong Kyuubi pendek, sambil meletakkan tangannya di kedua pipi Naruto. "Selama aku punya Naruto-ku, aku yakin takkan ada yang bisa melukaiku."

Sesederhana apapun kedengarannya, kalimat itu punya cukup kekuatan persuasif untuk menenangkan seorang Hokage yang overprotektif. Pemuda itu memejamkan mata, menikmati kehangatan telapak tangan Kyuubi di pipinya, sebelum menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Kau tahu tidak? Cuma kau satu-satunya orang yang selalu bisa menenangkanku seperti ini," bisik Naruto pelan ke telinga Kyuubi. "…Dan karena itulah, aku tak bisa kehilanganmu."

"Naruto, lebih percaya diri dong. Sifat paranoid itu tidak cocok denganmu…"

"…Baiklah, tapi aku mau kau berjanji satu hal," Naruto menarik dirinya agar bisa menatap Kyuubi tepat di kedua matanya. "Jika nanti ada bahaya, sekecil apapun, dan aku tak ada di sampingmu, maka berteriaklah memanggil namaku. Aku pasti datang, kapanpun dan dimanapun, aku pasti akan datang dan menyelamatkanmu."

Kyuubi tersenyum lebar sambil mengangguk, "Mm…!"

"Ah iya, aku hampir lupa," Naruto melepaskan pelukannya dan mulai merogoh saku celananya. "Mana ya…?"

"…?"

"Ah, ini dia…!" pemuda itu mengangkat tangannya dalam keadaan terkepal, menyembunyikan apa yang ada di dalamnya. Dia menengadahkan telapak tangan Kyuubi, sebelum meletakkan sebuah objek di atasnya. "Ini untukmu."

"…" Kyuubi memperhatikan benda itu: sebuah anak kunci. Gadis itu diam selama beberapa saat, memikirkan arti pemberian ini. Dan saat dia mengerti, Kyuubi mendongak, menatap Naruto dengan mata melebar tak percaya. "Naruto, ini…? Kunci apartemenmu…?"

Naruto hanya mengangguk dan tersenyum lebar sebagai jawabannya, dan bagaikan badai yang tiba-tiba tercipta, mata Kyuubi yang semula kering tiba-tiba basah ketika gadis itu merasakan kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata memenuhi hatinya.

Kyuubi melompat, meraih leher Naruto dengan kedua lengannya dan memeluk pemuda itu kuat-kuat. Naruto balas merengkuh, lembut namun tetap rapat, seraya kedua orang yang dipenuhi kebahagiaan itu tersenyum dan tertawa bersama, mengucapkan sebuah janji sunyi di dalam hati mereka untuk selalu bersama dan takkan berpisah selamanya.

~•~

Sementara itu, di kantor Hokage, seorang kakek dan nenek kini tengah menatap pintu yang remuk dengan ekspresi keras menutupi wajah tua mereka yang penuh keriput. Biarpun bahasa tubuh mereka cukup tenang, sorot mata yang berapi-api adalah pertanda bahwa kedua orang tua ini tengah dilanda amarah.

"Bocah bau kencur itu…!" geram sang kakek dengan suara rendah. "Apa yang dia pikirkan? Membawa masuk iblis macam itu ke desa ini…!"

"Tenanglah…!" sang nenek menyahut, berusaha menenangkan suaminya. "Aku tahu ini sudah kelewatan, tapi kita harus menanggapinya dengan kepala dingin."

" Kenapa tidak kita berhentikan saja dia dari jabatannya?" desis sang kakek.

"Karena kita tak bisa," si nenek menjawab sederhana. "Sang Daimyo cukup menyukai bocah sial itu, jadi tak mungkin dia akan diberhentikan walaupun kita mengusulkannya. Lagipula, dia itu idola sekaligus ninja terkuat di desa ini, takkan ada penduduk yang setuju."

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tak mungkin membiarkan Rubah Iblis itu hidup di sini begitu saja kan?" tanya si kakek.

"Tentu saja," wanita tua itu mengangguk. "Tapi masalahnya adalah…bagaimana caranya?"

"Bagaimana kalau kita beberkan saja identitas siluman itu? Di desa ini pasti ada sangat banyak yang mendendam pada Kyuubi, dan jika mereka tahu Naruto melindunginya, mereka takkan tinggal diam!"

"Tak bisa, rencana itu masih punya kelemahan. Kau tahu sendiri besarnya kepercayaan penduduk pada Naruto yang sekarang. Jika kita sampai salah perhitungan, bisa-bisa terjadi perpecahan. Dan itu pasti menimbulkan kekacauan…"

"Tapi aku tak bisa menunggu lama…!" kakek tua itu segera berhenti ketika melihat ekspresi istrinya, ekspresi yang mengatakan kalau otak perempuan tua itu tengah mendapat sebuah pencerahan. "…Kau punya rencana?"

"Sebenarnya…ya, aku punya." nenek tua itu tersenyum licik. "Tapi kita harus menunggu…"

"Kenapa?"

"Karena jika kita menjalankannya di saat yang tepat…" senyum liciknya berubah menjadi sebuah senyum kejam, sebuah senyum yang menyimpan kejahatan. "Kita pasti bisa melenyapkan iblis itu."

"Untuk selama-lamanya."

To be Continued

~••~

_'Nilai tersembunyi' untuk chap 9! Jreng jeng jeng!

Mungkin ada yang bingung kenapa Kyuubi begitu bahagia hanya karena Naruto memberikan kunci apartemennya. Bagi yang belum tahu, ini adalah budaya (yang pasti sih di Jepang, gak tahu deh di tempat lain gimana).

Jika seorang laki-laki memberikan kunci cadangan dari rumah atau apartemennya (atau bangunan apa saja, yang penting itu adalah tempat tinggalnya) pada seorang gadis, maka tindakan itu sederajat dengan melamar perempuan tersebut (walau emang secara informal sih). Sekarang kalian ngerti kan, kenapa Kyuubi sangat senang?_

Kayaknya hamba salah perhitungan, fic ini tak mungkin selesai hanya dengan 10 chaps. Setelah dihitung-hitung lagi, mungkin bakal perlu 12. Yah, mudahan bisa selesai tanpa harus membuatnya kelewat panjang aja deh.

Terima kasih sudah membaca!

Galerians, out.