Galerians, in.

Greetings, folks! And Happy New Year! Sori lama banget baru apdet ya!

Hahaha, oke, oke. Hamba minta maaf karena updatenya selalu lama, tapi itu tak bisa dihindari. Namanya juga anak kuliahan, hamba hanya bisa minta maaf karena tak bisa lebih cepat meng-update. Your humble servant apologizes deeply *bow*

Anonymous reviews' reply:

Pisang goreng: "Wahh, kita sama-sama preman insaf! Makasih atas reviewnya ya!"

eca chan: "Aduh, sori banget ya udah bikin nunggu. Udah deket final test nih soalnya…"

(no name): "Manggilnya apa nih? Ahh, Descendant of Dracula mungkin bakal dilanjutkan setelah fic ini tamat. Karena hamba mau konsen sama fic ini dulu."

Cecania Kuroshiyu ga Login: "Hou, hou, makasih banyak atas reviewnya! Anda dipersilahkan untuk mereview chap ini juga!"

Mushamushafir: "Oke, bro! Ini apdetannya!"

NaMIAkaze-kawaii: "Haduh, biar pengen, tapi hiatus itu tidak bisa dihindari. Hamba kan kadang juga musti konsen sama tugas universitas kan? Maaf sekali ya…"

Aero Assassin: "Mau pencerahan, mau pemendungan, pokoknya inilah chapter 10!"

diana 'Cassiopeia' dobe-chan: "Walau gak cepet, tapi setidaknya ini hamba apdet!"

Lady Regenbogen: "Aduh, cup, cup, ya! Kan hamba suka bikin angst, jadi nggak ngagetin kan kalo isinya bikin sedih…!"

bacadoang: "Oke, penungguanmu berakhir, sobat!"

Micon: "Aduh, ampun, gak bisa apdet kilat lagi! Maafin ya…"

Saphire c'm0etz: "And you shall wait no more!"

D'black flash of mollucas: "Oi, jangan salahin Sakura dong. Ente juga kayaknya semangat banget kalo udah ketemu scene2 kayak gitu. Hehehe ^_^."

Warning:

Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.

Selamat membaca!

~••~

Last Chapter

She is The Only One for Me!

Part 1 of 2

"Shikamaru, bagaimana dengan masalah serangan pada pos perbatasan Kirigakure yang kemarin disebutkan?"

"Sudah selesai. Aku sudah mengklarifikasi data yang mereka ajukan dan aku yakin para penyerang itu tidak berasal dari Konoha."

"Bagus," Naruto mengangguk puas. "Ah, bisakah kau menuliskan surat ke Konoha untukku? Tugaskan 2 Chuunin dan 1 Jounin untuk mengurus ini dalam misi berlevel A," perintah Naruto dengan lancar.

"Eehh? Ngerepotin banget sih…"

"Kerjakan saja," kata Naruto dengan nada tegas. "Bandit, missing nin, atau siapapun yang menyerang pos perbatasan itu, serangan mereka berasal dari teritori Konoha, karena itu sudah jadi tanggung jawab kita untuk mengatasinya."

"…Haah…" Shikamaru mengeluh singkat sebelum keluar ruangan. "Baik, Hokage-sama,"

Naruto mendengus puas seraya kembali memfokuskan diri pada pekerjaan. Setelah setidaknya 3 dokumen ia rampungkan, pemuda itu mengalihkan perhatiannya pada sang asisten. "Sakura-chan, tolong ingatkan aku lagi apa saja hasil diskusi di pertemuan hari ini."

Sakura menghentikan kegiatannya menulis dokumen sejenak untuk menjawab bosnya itu, "Hmm, tidak banyak. Ada mosi untuk mengadakan ujian Chuunin selanjutnya di Kumo, itu saja."

"Ah, benar," Naruto melihat sekali lagi ke arah kertas yang ada di depannya. "Dan…mereka ingin kerjasama dengan kita untuk menentukan apa yang akan diujikan?"

"Betul."

"Hmm, apa pendapatmu?"

"Tidak masalah. Aku yakin kita memiliki kesiapan yang mencukupi, lagipula ini kesempatan yang bagus untuk membangun persahabatan yang lebih dalam dengan Kumogakure." jawab Sakura dengan lancar.

"Pendapat bagus," puji Naruto. "Bisakah aku memintamu menuliskan pernyataan tertulis kalau kita juga setuju?" pintanya. "Lakukan dengan cepat dan rapi. Aku ingin semuanya selesai malam ini juga."

Tapi sebelum Sakura sempat memberi jawaban, sebuah suara lain tiba-tiba muncul, "Kenapa semuanya harus selesai malam ini sih?"

"Ah, sudah balik, Shikamaru? Suratnya sudah kau kirimkan kan?"

"Nggak, aku lapar jadi merpati posnya kubakar dan kumakan," melihat Naruto yang ternganga shock, Shikamaru hanya menghembuskan napas. "Bercanda, tahu. Ya pastilah sudah kukirimkan." pemuda dengan potongan rambut nenas itu menutup pintu di belakangnya sebelum melanjutkan. "Lalu? Kenapa semuanya harus selesai malam ini?"

"Karena aku ingin cepat-cepat pulang," jawab Naruto sambil mulai menggoreskan penanya kembali.

"Entah kenapa aku merasa jawabanmu itu bukan yang paling jujur. Tapi tak apalah," Shikamaru mengangkat bahu. "Aku mau tidur duluan. Sakura, Naruto, sisanya kuserahkan kalian ya?"

"Iya, iya," jawab Sakura santai. "Terima kasih atas kerja kerasnya."

Si jenius pemalas itu tak menjawab lagi, cuma melambaikan tangan lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menguap lebar. Sepeninggal Shikamaru, ruangan itu menjadi sepi, tak diisi oleh suara selain bunyi bolpoin menggores kertas dan hembusan napas.

"M-mmm…" Sakura meletakkan alat tulisnya dan menggeliat nikmat. Setelah mengecek dan puas dengan hasil pekerjaannya, Sakura menggulung surat itu dan pergi ke meja Naruto. "Sudah selesai."

"Ahh, terima kasih, Sakura-chan. Sekarang istirahat dan tidurlah, besok kita pulang cukup pagi."

"Bagaimana denganmu? Bukannya masih ada pekerjaan?" tanya Sakura sambil menunjuk kertas-kertas yang ada di meja Naruto.

"Sudah tidak banyak lagi, aku bisa selesaikan sendiri kok," jawab Naruto sambil tersenyum ramah. "Kau sudah bekerja keras sampai hari ini. Sebagai atasanmu, setidaknya aku harus memberimu satu malam untuk tidur nyenyak kan?"

"…" Sakura mengerutkan dahinya. "…Ini cuma perasaanku, atau kau memang terlihat aneh beberapa hari ini, Naruto?"

"Apa? Aneh bagaimana?" tanya Naruto sambil terus tersenyum.

"Nggak, hanya saja, entah kenapa kau kelihatannya ceria banget…"

"Lho, bukannya aku ini memang selalu ceria?"

"Aku tahu itu. Tapi…" sahut Sakura ragu-ragu. "Tapi kali ini kau…rada kelewat ceria, mungkin?"

"Apaan sih, caramu menyampaikan itu seakan-akan aku sudah terkena penyakit menular saja…" Naruto tertawa geli. "Sudah, tenang saja. Aku belum gila kok, kalau itu yang kau takutkan."

"Tapi, kau benar-benar tidak apa-apa kan?"

"Tentu saja," Naruto menjawab yakin. "Sekarang pergilah ke kamarmu dan istirahatlah."

"U-um," Sakura mengangguk. "Selamat malam…"

"Selamat malam."

Naruto terus memperhatikan Sakura sampai sosok gadis itu menghilang di balik pintu di samping pintu kamar Shikamaru, sebelum melanjutkan memeriksa dan mengisi dokumen-dokumen. Ketika jarum pendek jam dinding telah mencapai angka 11, barulah Naruto bisa menggulung semua kertas tersebut dan menyusunnya dengan rapi di samping meja.

Naruto melirik ke sana-sini, memastikan kalau semua pekerjaannya telah selesai, sebelum bangkit dari kursi dan mematikan lampu. Penerangan langsung menghilang, kecuali cahaya bulan yang kaca jendela yang bersih dan tembus pandang. Sang pemuda pirang melangkah ke samping arah jendela, dan saat melihat pantulan wajahnya, itulah dia baru sadar kalau dia masih saja senyum-senyum.

"Heh…" tangan kanan Naruto terangkat dan membuka jendela, mengizinkan angin malam yang sejuk berhembus ke dalam ruangan." 'Terlalu ceria', ya…?"

Ya, mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menyebutnya. Tapi biar demikian, Naruto memiliki alasan yang sangat bagus sehingga menjadi sesenang ini.

Dan 'alasan' itu muncul dalam bentuk sebuah kotak yang ia keluarkan dari kantong jubahnya.

Kotak itu sama sekali tidak terlihat istimewa. Bentuknya bundar, dengan bagian atas dan bawah yang datar, dengan ukuran diameter dan tinggi yang sama. Sebuah engsel kecil terlihat di bagian belakangnya, sebuah bukti bahwa kotak itu bisa dibuka. Dan kain merah yang melapisi permukaannya pun sederhana.

Tidak, keistimewaannya sama sekali tidak terletak pada kotaknya yang cukup sederhana. Karena nilai sebenarnya, terletak pada apa yang nampak di mata saat kotak itu dibuka.

Sebuah cincin emas putih, berhiaskan sebuah permata merah yang walaupun mungil, tapi tak bisa mengurangi sedikitpun keindahannya.

Senyum Naruto semakin lebar saat memandangi cincin kecil itu.

~(FBS)~

Awalnya, hal itu sama sekali tak terlintas di kepalanya. Dia hanya sedang berjalan-jalan di Suna, untuk mengistirahatkan otaknya yang jadi agak sakit setelah rapat selama 12 jam berturut-turut. Dan harus ia akui, terletak di tengah-tengah gurun pasir tidak lantas membuat desa ini surut penduduk. Bahkan kerumunan manusia di sini hampir bisa menandingi Konoha dari segi kuantitas.

Hanya saja, niat Naruto untuk melihat-lihat langsung rusak ketika orang-orang mulai menyadari siapa dirinya. Perlahan-lahan Naruto mulai merasakan banyak pandangan yang terarah padanya, bahkan lama-kelamaan, dia menyadari banyak yang berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.

Bukannya dia benci, tapi sekarang dia sedang benar-benar tidak butuh perhatian berlebih. Tapi bukannya berkurang, bisik-bisik itu justru makin bertambah dalam jumlah dan volume, membuat sakit kepalanya bertambah parah. Dan tak lama kemudian, dia sadar kalau dia juga mulai diikuti. Parahnya, mayoritas pengejarnya adalah perempuan.

Naruto langsung mempercepat langkahnya. Tapi kelihatannya niatnya untuk kabur ketahuan dalam waktu yang tidak panjang, karena para pengejarnya itu juga menambah kecepatan mereka. Naruto mencoba meleburkan diri di dalam kerumunan, namun ujung-ujungnya, dia malah dirugikan karena jadi susah bergerak. Merasa kepepet, Naruto bertindak nekat, dan menyusup masuk ke sebuah toko tanpa melihat dulu.

Setelah pintu berdebam menutup, Naruto diam-diam mengintip lewat lubang kunci. Napas lega langsung terhembus dari lubang hidungnya saat melihat para pengejarnya melewati tempat ia bersembunyi.

"Apa yang bisa kubantu, anak muda?"

"UWAAA!" Naruto menjerit kaget, dan langsung berbalik dengan terburu-buru. Ternyata setelah dilihat, suara yang tadi hampir membuat jantungnya melompat keluar dimiliki oleh seorang kakek tua. "Aduh, Kek, mau bikin aku mati jantungan ya?"

"Hahaha, maaf, maaf," jawab kakek itu sambil tertawa renyah. "Aku hanya terlalu bersemangat tadi. Sudah lama sekali sejak tokoku ini kedatangan tamu."

"Toko?" Naruto kembali memperhatikan sekeliling. Dilihat dari furnitur dan kayu dindingnya, Naruto bisa memperkirakan kalau tempat ini sudah cukup tua. Tidak nampak seperti toko pada umumnya. "Maaf kalau tidak sopan, tapi kalau benar ini toko, kenapa kosong begini?"

"Ahaha, kau salah, anak muda. Tempat ini tidaklah kosong," pria yang rambutnya sudah uban semua itu berjalan melewati Naruto, kemudian mengisyaratkan agar dia mengikutinya. "Kemari."

"…?" walau heran, Naruto menahan rasa keingintahuannya dan menurut saja. Kakek itu membimbingnya melewati meja kaca yang berdebu, menuju sebuah kotak kaca persegi yang diletakkan di atas sebuah meja kecil. Dan di dalamnya, terdapat sebuah kotak bundar yang sudah berdebu. "Kakek, itu…?"

"Ya," sang kakek membuka kotak kaca tersebut dengan tangannya yang kurus dan keriput, sebelum mengambil kotak bundar di dalamnya dan meletakkan di atas telapak tangan. "Untuk benda inilah aku terus membuka toko ini."

"Hanya ini?" tanya Naruto sambil memungut kotak merah kecil itu, memperhatikan desainnya yang biasa-biasa saja.

"Ya, hanya itu. Sebenarnya, aku juga sudah siap pensiun dan menutup tempat ini," urai kakek itu dengan nada yang melankolis. "Akan tetapi, aku tak bisa. Karena dulu aku telah berjanji pada istriku untuk tidak menutup tempat ini sampai aku berhasil menjual semuanya."

"Ooh…" Naruto manggut-manggut. "Lalu? Mana istri Kakek?"

"…" demi mendengar pertanyaan itu, si kakek hanya tersenyum lembut. "Dia sudah mendahuluiku, anak muda. 9 tahun yang lalu…"

"O-oh…" Naruto terlihat menyesal. "M-maafkan aku. Aku tidak bermaksud…"

"Tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak berniat buruk," sang kakek hanya tertawa lagi. "Jadi, kenapa tidak kau buka kotak itu?"

"Bolehkah?" tanya Naruto sangsi.

"Tentu saja. Biar sudah tua, aku tetap seorang pedagang. Dan mana ada pedagang yang tidak mau menunjukkan barang dagangannya?" untuk semakin meyakinkan Naruto, kakek tua itu menepuk punggung sang Hokage Ketujuh. "Ayo, cepat dibuka…!"

"Iya, iya. Sabar sedikit, kenapa…"

Dari kotaknya saja, Naruto sudah mengerti kalau isinya pasti merupakan perhiasan. Dan jika harus jujur, perhiasan tak pernah membuatnya begitu tertarik. Tapi demi menyenangkan si kakek, Naruto akhirnya membuka kotak itu juga.

…Dan dia dipaksa terpana.

Bukanlah benda yang menakjubkan yang ia lihat, hanya sebuah cincin yang terbuat dari emas putih berhiaskan batu permata mungil semerah darah di atasnya. Walaupun tetap cantik, semua orang pasti bisa melihat kalau cincin itu sama sekali tidak memiliki apapun yang bisa membuatnya disebut sebagai menakjubkan.

Namun, tepat di detik mata Naruto terpaku pada perhiasan itu, terjadi sesuatu yang aneh dalam dirinya. Tiba-tiba saja, bayangan demi bayangan muncul dalam pikirannya, begitu jelas dan gamblang seakan-akan dia sedang melihatnya di depan mata. Dalam bayangan itu, Naruto melihat dirinya menyelipkan cincin sederhana itu ke jari manis seorang gadis. Naruto bisa melihat keterkejutan memenuhi wajah cantiknya, yang dengan cepat digantikan oleh keharuan luar biasa, dan tak perlu waktu lama sampai dua matanya yang semerah delima dipenuhi oleh air mata.

Naruto melihat bagaimana dia yang ada di dalam imajinasi itu mengajukan sebuah pertanyaan, dengan wajah penuh kegugupan dan merah karena malu bukan buatan. Dan dia melihat sang gadis menyunggingkan sebuah senyum, senyum terindah yang membuat dunianya seakan dipenuhi kerlap-kerlip bintang, sebelum mengangguk dengan wajahnya yang bersimbah air mata penuh kebahagiaan.

Dan di sana, mereka berpelukan. Mengukuhkan sebuah janji setia yang akan menyatukan mereka berdua dalam keabadian.

"Anak muda?" pertanyaan itu dengan segera membuyarkan bayangan Naruto, menghempaskan si cowok kembali ke alam nyata. "Kau tidak apa-apa?"

"A-ah, iya…! Aku baik-baik saja…!" jawab Naruto, sedikit terbata karena baru saja kembali dari alam imajinasinya, dengan setiap segmen terpatri dalam ingatannya. Pemuda itu menatap cincin di tangannya sekali lagi, dan memutuskan, "Kakek, aku boleh beli ini kan?"

"Eh? Kenapa tiba-tiba sekali memutuskannya?"

"Ah, tidak. Hanya saja, melihat cincin ini membuat sadar akan sesuatu yang harus kulakukan. Dan tak tahu kenapa, aku merasa kalau aku harus melakukannya dengan cincin ini," jawab Naruto seraya menggenggam kotak cincin itu dengan antisipasi yang meluap-luap. "Jadi? Berapa Ryo yang harus kubayar?"

"…Maaf, tapi aku tak bisa menjualnya," jawab sang kakek, suaranya penuh keseriusan.

"Heh? A-apa?" Naruto terbata kaget. "A-aku mau bayar berapapun kok! Kumohon, izinkan aku membeli cincin ini!"

"Bukan itu. Maksudku adalah, aku tak bisa menjual cincin ini demi uang," sang kakek mendekati Naruto. "Tetapi, ada satu hal yang bisa kau berikan padaku."

"Apa itu?"

"Sebuah janji," mereka berdiri berhadapan, dan sang kakek menusukkan jari telunjuknya ke dada Naruto. "Siapapun yang muncul dalam hatimu ketika kau melihat cincin itu, ketahuilah bahwa dia adalah orang yang paling kau butuhkan, sebagaimana kau adalah orang yang paling dia butuhkan di dunia ini. Berjanjilah padaku bahwa kau akan melindunginya. Menjaganya. Mencintainya dengan seluruh jiwa dan raga yang kau punya, dan takkan membiarkan dia terluka untuk kedua kalinya."

Naruto bertanya-tanya dalam hati, bagaimana kakek yang baru pernah dia temui untuk kali ini, bisa tahu apa yang mengalir dalam kepalanya dan yang bersembunyi di kedalaman benaknya seakan-akan mereka telah kenal begitu lama. Tapi pada akhirnya, itu semua tidaklah penting. Dan dengan mata yang bersinar tanpa keraguan, Naruto memberikan jawabannya, "Aku janji."

"…Itu cukup untukku," sang kakek tersenyum puas, lalu melambaikan tangannya. "Sekarang pergilah. Cincin itu sudah jadi milikmu."

"…" Naruto mengangguk, sebelum berbalik untuk melangkah menuju pintu keluar. "Terima kasih, Kek."

"Tidak, akulah yang berterima kasih, anak muda…" suara sang kakek tiba-tiba menjadi pelan, sampai hampir sunyi. "Berkat kau, akhirnya aku bisa menyusul istriku…"

"Hah? Kau bilang apa tadi, Ke-"

Namun saat Naruto berbalik, sudah tak ada siapa-siapa di sana.

~(FBE)~

Sebodoh apapun dirinya, Naruto tahu kalau di dunia ini ada beberapa (atau banyak) hal yang sebaiknya tak usah diketahui. Dan karena itulah ia tidak mengindahkan keingintahuannya atas peristiwa lenyapnya si kakek itu. Apalagi, dia punya perasaan bahwa ke manapun kakek itu menghilang, dia pasti sudah berada di tempat yang jauh lebih baik.

Lagipula, sekarang cincin itu sudah berada dalam genggamannya. Itulah yang terpenting. Karena hanya dengan cincin inilah dia baru bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan…

Dia akan melamar Kyuubi.

"Ehe, ehehe…" Naruto terkekeh sendiri. "Ah, bahaya, bahaya. Kalau begini terus nanti aku benar-benar dikira gila nih…"

Tapi dia tak bisa berhenti. Kebahagiaan yang dia rasakan sekarang sangat besar, membuatnya merasa tidak puas dengan sekedar tersenyum saja. Hanya mengingat kembali bahwa besok dia akan pulang ke Konoha dan melamar Kyuubi membuat Naruto ingin melompat setinggi-tingginya, membuatnya ingin berteriak sekencang-kencangnya! Naruto ingin membelah kesunyian malam dan memberitahukan pada seisi dunia bahwa dia akan mengambil Kyuubi sebagai istrinya!

Naruto mengangkat kotak yang terbuka itu ke udara. Pada waktu sinar bulan memandikannya, kemilau memantul dari cincin di dalamnya. Dan saat itulah nilainya yang sebenarnya muncul, karena biarpun sesederhana apapun penampilannya, cincin itu memiliki kemampuan untuk mengeluarkan kemilau cahaya yang begitu indahnya.

Namun Naruto yang tak kenal dengan alam Suna, tak tahu tentang fenomena alam yang kadang terjadi di kala malam. Dalam sekejab mata, angin yang sangat kencang tiba-tiba datang, dan dengan penuh horor, Naruto melihat bagaimana kotak merah di telapak tangannya bergoyang, sebelum kemudian jatuh bebas dari tangannya.

"Ah-" tanpa berpikir, Naruto segera terjun mengejar. Tepat di saat itu, badai gurun mulai mengganas, mengirim jutaan butir pasir mengamuk di udara, mengaburkan pandangan dan menggoyahkan keseimbangan.

"Guh…!" tepat sebelum badai mencapat puncak amukannya, Naruto berhasil menggapai kotak merah itu, dan beberapa saat kemudian, mendarat di atas pasir yang menjadi lantai bumi Sunagakure.

Naruto memastikan kalau cincin itu masih ada di tempatnya, sebelum menutup kotaknya kembali dan memegangnya erat-erat ke dadanya.

'Sedikit saja…' gumam Naruto dalam hati. 'Andai tadi terlambat sedikit saja, maka aku pasti takkan bisa menemukannya lagi…'

Dan secepat kemunculannya, badai gurun yang tadi menghantam Suna menghilang begitu saja. Meninggalkan kesunyian, kesenyapan…dan sebuah firasat yang sangat buruk di hati sang Hokage muda.

~•~

"Hei…!" dalam napasnya yang memburu, Sakura berteriak. "Hei, Naruto! Tunggu!"

Namun yang dipanggil seakan tuli. Dan itu terbukti dari tindakannya yang malah menambah kecepatan.

Memang, Naruto telah bersikap aneh sejak mereka keluar dari Suna beberapa jam lalu. Bukan hanya menjadi diam membisu, Naruto juga bergerak dalam kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti oleh kedua bawahannya. Dan terlebih lagi, dia bahkan tidak mau menjawab pertanyaan apapun yang mereka ajukan.

…andai mereka tahu betapa dahsyatnya gempa yang terjadi dalam dada Naruto sekarang, maka mereka pasti akan mengerti.

Kemarin malam, tak sedetikpun Naruto bisa memejamkan mata, dia bahkan tidak naik ke atas ranjangnya. Seraya detik waktu berdetak, firasat buruk dalam hatinya pun semakin membesar, membayangi benak dan pikirannya seperti awan hitam. Dan sekuat apapun dia berusaha menyangkal, Naruto tetap harus mengakui bahwa dia…sangat ketakutan.

Dan itulah penyebab tingkah lakunya sekarang. Dan karena dulu ia pernah berjanji pada Kyuubi takkan memakai Hiraishin selain untuk urusan yang mengancam jiwa, kini satu-satunya pilihan bagi Naruto adalah mengerahkan seluruh kekuatan dalam setiap jejakannya.

Dan sekarang, walau mereka telah menghabiskan setengah jarak Konoha dengan kecepatan ini, Naruto malah semakin menambah kecepatannya. Dia bahkan tak sadar pada dua bawahan yang sejak tadi memanggil-manggilnya, telah sangat jauh tertinggal sampai akhirnya menghilang di belakangnya.

~•~

"KYUUBI!"

Untuk sesaat, Naruto mengira dia akan melihat wajah yang sangat ia rindukan itu lagi. Akan tetapi, teriakannya hanya disambut oleh kesunyian dan gelap yang sungguh pekat.

"Kyuubi?" Naruto mencoba memanggil sekali lagi, namun kali ini, suaranya mulai bergetar. "Kyuubi, jawab aku…!"

Naruto pergi ke ruang tengah, ke dapur, bahkan ke kamar mandi, namun satu-satunya yang ia temukan hanyalah kekosongan. Entah kenapa, apartemen yang sudah belasan tahun ia tinggali, kini terasa asing, tak ada kehangatan dan menyisakan hanya dingin.

Dan pencarian Naruto, berakhir di kamar tidurnya.

"Kyuubi…?" Naruto berharap, dan berdoa dengan seluruh jiwa agar kekhawatiran yang menggerogotinya ini akan berakhir menjadi kekhawatiran belaka. Agar ketakutan yang mencemari relung hatinya ini hanya khayalan semata. Namun ketika pintu terbuka, dan tak ada siapapun di sana, harapan Naruto musnah dalam sekejap mata.

Namun Naruto berusaha menepis ketakutannya. Ini tak mungkin terjadi, Kyuubi tak mungkin pergi! Pasti dia cuma sedang keluar, mungkin berjalan-jalan mencari udara segar, atau juga belanja kebutuhan rumah tangga-

Pikiran Naruto terhenti ketika matanya terpaku pada selembar kertas di atas futonnya yang terlipat rapi di sudut kamar. Firasat buruk itu kembali terasa di dalam dadanya, tapi Naruto menguatkan dirinya, dan pergi memungut kertas itu.

Dan di saat itu, Naruto tahu bahwa hanya butuh 2 kata untuk membuat seluruh dunianya ambruk.

Lupakan aku

Seluruh tenaga menghilang dari tubuh Naruto, sampai pegangannya pada kertas itu lepas, membuat lembaran putih itu melayang dan jatuh tanpa suara ke atas tatami yang ia pijak. Mata Naruto terbelalak, dan napasnya tercekat.

Dia tak percaya…dia tak bisa percaya…Naruto menolak untuk percaya!

"…Kulihat kau sudah menyadari apa yang terjadi," sebuah suara berbunyi dari arah belakang. "Naruto."

Naruto berbalik, dan melihat sosok seorang pria tua dengan kepala penuh uban di belakangnya.

"…Bagaimana kau masuk kemari?" tanya Naruto dengan suara rendah, menyadari identitas orang itu. "Apa yang kau-"

Perkataan Naruto terhenti saat dia menyadari apa maksud perkataan kakek tua itu tadi.

"Kau tadi bilang apa…?" tanya Naruto pelan-pelan, tak sadar bahwa suaranya telah berubah menjadi geraman. Namun kakek itu hanya diam. "Homura-jiji, aku tanya kau tadi bilang apa?"

Namun Mitokado Homura hanya menjawab dengan bibir yang terkatup. Akan tetapi, perubahan ekspresi yang terjadi di wajahnya sudah cukup sebagai jawaban.

Naruto melesat ke depan dengan kekuatan yang tiba-tiba kembali padanya, sebelum mencengkeram kerah Homura dan mengangkatnya ke udara. "KAU!" pemuda itu meraung dengan rasa berang yang sama sekali tak disembunyikan. "Kau tahu sesuatu!"

"Ya, memang," jawab Homura, dengan ketenangan yang membuatnya seakan sedang ngobrol. "Tapi kalau begini, aku takut aku akan kehabisan napas dulu sebelum bisa memberitahukannya padamu-"

Perkataan Homura terpotong di tengah-tengah saat Naruto melemparkan kakek itu ke dinding terdekat. "Jangan kau berani bersikap konyol di depanku!" kedua mata Naruto menyipit, sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan bahkan saat memperhatikan lelaki lanjut usia itu terbatuk-batuk di lantai. "Sekarang katakan, apa yang sudah kau lakukan? Sudah kau apakan Kyuubi?"

Walaupun sudah diperlakukan sedemikian rupa, Homura tetap tenang. Bahkan, nadanya cukup datar saat dia menceritakan dengan detil apa yang terjadi pada 3 malam yang lalu. Dan setelah dia mengakhiri penjelasannya, kakek tua itu masih bisa mempertahankan kekalemannya di hadapan hawa membunuh luar biasa yang dipancarkan oleh Naruto yang murka.

"…Kenapa kau memberitahuku tentang ini?" dalam suara Naruto, terkandung amarah yang menggelegak bagai lahar membara, dan siap untuk meletus kapan saja.

"…" kakek itu menoleh ke samping, dan kini wajahnya dipenuhi oleh rasa bersalah. "Mungkin…" dia memulai. "Karena aku sadar…bahwa gadis itu memang sudah benar-benar berubah."

"…Lalu kenapa?" Naruto mendekat dan melayangkan sebuah pukulan telak ke pipi Homura. "Kenapa?" satu pukulan lagi. "KENAPA!" Naruto mencekal kerah tetua Konoha itu dan mengangkatnya, sebelum menghantamkan tubuh sang kakek ke dinding. "Kenapa kau malah membiarkan hal itu terjadi, bangsat!"

"…Itu sudah tak penting lagi," sahut Homura sambil membalas tatapan Naruto, seakan tak menggubris darah yang merembes di celah bibirnya dan menetes di dagunya. "Melampiaskan kemarahanmu padaku takkan mengubah apapun. Lagipula, ada hal yang lebih penting yang harus kau lakukan sekarang, dan kau tahu apa."

"…" Naruto melepaskan cengkeramannya, membuat si kakek jatuh dan menggelosoh di dinding sebelum terduduk di lantai. "…Kau tak perlu memberitahuku itu."

Homura menyeka darah di mulutnya sambil menatap Naruto yang berbalik dan berlari ke pintu depan. Walaupun dia sedang kesakitan setelah dihajar oleh Naruto, tapi Homura malah tersenyum.

"Paling tidak..." dia berbisik pelan. "Setelah semua kesalahan yang kulakukan, kali ini aku sudah bertindak benar…"

Sementara itu, di luar, Naruto mungkin sudah lama meninggalkan desa, andai bukan karena Gerbang Besar Konoha yang kini tertutup rapat menjulang tinggi di depannya.

"Apa artinya ini!" Naruto berteriak dengan tak sabar. Perhatiaannya teralih saat 2 orang mendekatinya dari arah kanan.

"H-Hokage-sama…! Apa ada masalah…?"

"Kenapa gerbang ini tertutup…?" tanya Naruto dengan suara pelan, berusaha meredam kekesalannya.

"A-anu. Baru saja ada Anbu yang datang dan mengatakan bahwa kami harus menutup gerbang ini dan tak boleh membiarkan siapapun keluar," jawab Chuunin yang bertugas itu. "Terutama Anda, Nanadaime-sama."

"…Oh," sahut Naruto singkat, tinjunya terkepal dan buku tangannya berkeretak. "Jadi mereka berusaha menghalangiku…"

Shikamaru dan Sakura masih berjarak beberapa ratus meter sampai ke Konoha, saat mereka mendengar sebuah ledakan luar biasa dahsyat, yang diikuti oleh melayangnya serpihan-serpihan besar kayu yang mendarat di sekeliling mereka.

"A-apa itu tadi?" tanya Sakura panik.

"Aku tak tahu," jawab Shikamaru, wajahnya yang biasanya malas kini berubah serius. "Yang kutahu, ledakan itu berasal dari Konoha. Ayo!"

Tak butuh 5 menit bagi mereka untuk mencapai desa kelahiran mereka itu. Dan saat mereka tiba, kedua Jounin itu terpana, melihat Hokage mereka berdiri di depan gerbang Konoha yang hancur berantakan, yang entah bagaimana mereka ketahui adalah hasil perbuatan ninja berjubah merah tua itu.

"Naruto!" mereka mendengar seseorang berteriak, dan baru saat itulah mereka menyadari kerumunan orang yang ada di belakang sang Hokage ketujuh itu. Sebagian besar dari mereka adalah Anbu…dengan pedang terhunus. "Kuperingatkan sekali lagi! Jika kau masih bersikeras, maka aku takkan ragu memerintahkan mereka untuk menahanmu dengan paksa!"

"Aku tidak takut," berlawanan dengan suara sebelumnya, suara Naruto terdengar begitu tenang. Namun mereka yang cukup perasa, pasti bisa merasakan bahaya mematikan yang terkandung oleh suara pemuda itu. "Aku tetap pergi, dan tak ada satupun dari kalian yang bisa menghentikanku!"

"Tunggu! Aku bilang TUNGGU!" akhirnya Shikamaru dan Sakura sadar, bahwa suara ini berasal dari sang tetua desa, Utatane Koharu. "Kenapa juga kau begitu peduli padanya? Sudah kubilang berapa kali padamu, dia itu cuma seekor iblis! Makhluk yang sama sekali tidak berharga-"

"Dan sudah kubilang berapa kali padamu, JANGAN PERNAH SEBUT DIA ITU!" biarpun sudah lama mengenalnya, Shikamaru dan Sakura tetap tak suka jika Naruto sedang marah. Karena sebelumnya mereka tak pernah menyangka, orang yang sebegitu ramah, bisa berubah menjadi sebegitu menakutkan hanya dalam selayang pandang. "Kenapa aku begitu peduli padanya? Karena kami sama! Itulah kenapa!"

"Sama? Sama dalam hal apa?"

"Apa kau sudah lupa, seperti apa kalian menyebutku di masa kecil?" tanya Naruto tajam, membuat si nenek terkesiap. "Dan jika kau lupa, kalian memanggilku dengan sebutan yang sama! SAMA PERSIS, KAU DENGAR?"

"Kami tak pernah memilih bagaimana kami dilahirkan, tapi biar demikian, kalian dengan seenaknya memasang cap terkutuk itu pada kami! Kami telah dikucilkan, dihina, bahkan dianiaya, hanya karena sesuatu yang tidak pernah kami minta!" bahkan dalam jarak mereka sekarang, Shikamaru dan Sakura bisa merasakan emosi yang membuncah dari setiap suku kata yang dilayangkan Naruto. "Andai aku tak punya Iruka-sensei dan teman-temanku, aku sendiripun tak tahu aku akan berakhir seperti apa! Tapi dia…dia tak pernah punya siapa-siapa! Dia terus sendirian, bukan hanya untuk satu, dua, belasan, atau puluhan, tapi ratusan tahun!

"Segala yang dia minta, hanyalah orang yang mau peduli padanya! Tidak perlu banyak, satu orangpun cukup! Tapi yang pernah dia terima, hanyalah orang-orang yang mengejar-mengejarnya, mencoba menjadikannya senjata, serta orang-orang yang berusaha membunuhnya!"

"Tak sadarkah kalian? Yang sudah menciptakan monster itu, yang sudah menciptakan apa yang kalian sebut iblis terkutuk itu, bukanlah dia! Tapi kita! KITA!"

Akan tetapi, walaupun sudah berargumen sedemikian rupa, Utatane membuktikan kalau dia sangat keras kepala. Dan Sakura, yang masih belum sangat mengerti apa yang sudah terjadi, menatap Shikamaru untuk mencari pertolongan.

…hanya untuk menemukan kalau cowok itu sudah beberapa langkah di depannya.

"Hei, Shikamaru!" panggilnya cepat. "Kau mau ke mana?"

"…Aku sudah cukup mendengar," jawab Shikamaru singkat, walau tak cukup untuk menjawab keingintahuan Sakura. "Sakura, ayo!"

"Tunggu! Apa maksudmu 'ayo'? Oi! Tunggu aku!"

"Kau-" Naruto yang sudah siap berteriak sekali lagi, berhenti saat merasakan sebuah tepukan di bahunya. Detik berikutnya, Shikamaru dan Sakura yang entah kapan datang sudah berdiri di depannya. "Shikamaru? Sakura-chan?"

"…Pergi," ucap Shikamaru singkat, kedua tangannya membentuk segel. "Serahkan ini pada kami."

Sakura, yang cuma bisa menyerah pada nasib, hanya diam sambil ikut mengencangkan sarung tangannya.

"A-apa? Kau bicara apa, Shikamaru?"

"Kubilang, pergi!" hardik Shikamaru. "Bisa-bisanya kau ribut-ribut di sini, saat dia masih sendirian di luar sana! Cepat pergi, dia jauh lebih membutuhkanmu, brengsek!"

Naruto tersentak, dan tanpa panjang kata, mengangguk. Dengan wajah penuh rasa terima kasih, Naruto menepuk pundak Shikamaru sambil berkata, "Aku berhutang budi padamu."

"Ahh, dasar kau ini, selalu merepotkanku saja," gerutu Shikamaru, walau dengan senyum. "Tapi itulah gunanya teman kan?"

Naruto mengangguk sekali lagi sebelum berbalik. Dan dalam kilatan sinar keemasan, dia menghilang.

"…Em, Shikamaru," bisik Sakura seraya mengetuk-ngetuk lengan Shikamaru. "Hadap sini deh, kayaknya kita punya masalah besar nih."

"Kalian!" Utatane meraung layaknya harimau luka. "Kalian pikir apa yang kalian lakukan!"

"…Tch," Shikamaru mendecak, dan bayangan di bawah kakinya tiba-tiba saja membesar, bahkan mulai membentuk tentakel-tentakel. "Kami sedang melindungi Hokage kami. Kau punya masalah?"

"Tentu saja! Kalian tahu apa yang akan dia lakukan? Dia itu-"

"Akan mencari dan menemukan gadis yang dia cintai," Sakura memotong. "Apa yang salah dengan itu?"

"Ugh~, kaliaan~!" merasa kalah debat, Utatane berang. "Kalian akan menyesal telah melakukan ini!"

"Oh, kita lihat saja," walau jawaban Shikamaru terdengar santai, auranya yang berubah membuat semua yang ada di situ langsung bisa merasakan tekanannya. Tak urung, para Anbu menjadi sedikit gemetar. "Akan kutunjukkan pada kalian, apa tepatnya yang membuat Naruto memilih kami sebagai asisten dan bodyguard pribadinya."

"Ahh, hal-hal yang kita lakukan untuk Naruto…" Shikamaru sedikit kaget saat mendengar Sakura mengeluh di sampingnya. "Benar-benar deh…"

"Hei, jangan meniru cara bicaraku dong," sahut Shikamaru. "Lagipula, biar bilang begitupun kau tetap melakukannya juga kan?"

"Kurasa sebesar itulah rasa sayang kita pada si duren bego itu." Sakura mengangkat bahu, kemudian mempersiapkan kuda-kuda bertarungnya. "Tapi itu sama sekali tidak membuat melawan puluhan Anbu begini jadi lebih mudah sih."

"Heh, benar sekali…" Shikamaru terkekeh, sebelum mempersiapkan dirinya untuk bertarung. "…Ayo."

"Ayo!"

To be Continued

Jadi, bagaimana pendapat kalian? Tolong jangan sungkan kasih komentar ya, kritik dan saran, flame atau pujian, hamba menerima semuanya…

Sebenarnya, hamba nggak pengen membagi Last Chapter ini jadi dua part, tapi seluruhnya itu ada sekitar 40 halaman MS Word lho! Sekitar 8500+ kata! Emang gak capek apa ngebaca sebanyak itu sekaligus?

Makanya, hamba bagi dua aja. Dan part duanya akan segera dipost setelah final test hamba berakhir. Doakan hamba sukses ya!

Galerians, out.