Galerians, in.
Halo, halo, dan halo! Karena hamba sudah selesai final test, sekarang hamba akan langsung mempersembahkan Last Chapter: Part 2 ke hadapan readers yang sudah setia mengikuti dan udah ngebet pingin baca perkembangan cerita ini!
Ah, sebelum mulai, hamba ingin meminta maaf dulu andaikan chapter ini rada-rada jelek di mata Anda semua. Jujur saja, hamba tidak sangat mem'permak' chapter ini lebih jauh karena sudah kebelet banget ingin menamatkannya! Jadi maaf, maaf, dan maaf sekali lagi jika chapter ini bener-bener jelek (kayak yang sebelumnya nggak aja!).
Anonymous Reviews' Reply:
Aero Assassin: "Amin! Makasih banyak ya!"
Pisang goreng: "Wahh, makasih banyak atas pujiannya. Ini hamba udah apdet jauh lebih cepet dari biasanya."
4ditYa: "Yah, namanya juga crack pairing. Tapi syukurlah kalo bagus. ^_^"
Sabarjeagerjeaquis: "Waduh, kasian amat neneknya. Fic-fic rully terasa seperti menjelek-jelekkan Naruto? Mungkin cuma perasaanmu saja…"
Namikaze Indra: "OK!"
chikara kyoshiro gak login: "Kan dah dibilang apdetnya sehabis hamba selesai final test? Ah udahlah, nih chapter terbarunya."
Micon: "Memang gak kilat sih, tapi ini apdetnya jauh lebih cepat dari biasanya kan?"
Sieghart: "Hmm, sekuel? Akan hamba pikirkan. Tapi kalo sehabis ini sih hamba sedang ingin merealisasikan ide untuk fic berpairing HinataxNarutoxKyuubi. Mudahan bisa jadi kenyataan."
ini si 'no name: "Oke, nona, nggak usah minta maaf. Kau mereview begini pun sudah bikin hamba sangat senang dan berterimakasih. Review juga untuk chap ini ya
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)
'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.
Selamat membaca!
~••~
Last Chapter
You are The Only One for Me!
2 of 2
Kala matahari telah hinggap di cakrawala dan menyinarkan cahaya kemerahan yang menyilaukan mata, Kyuubi sadar bahwa dia hampir tak bisa merasakan kakinya.
Akan tetapi, dia sama sekali tak terkejut.
Dia telah tersesat di hutan ini selama 3 hari, tanpa makanan kecuali beberapa buah yang yang dia temukan di jalan. Dia masih beruntung karena belum pernah bertemu dengan satupun binatang buas, walau dia juga yakin keberuntungannya ini takkan bertahan lama. Dengan makanan yang semakin lama semakin jarang, hanya tinggal soal waktu sampai dia kehabisan tenaga untuk berjalan.
…Kyuubi bahkan tidak mengerti bagaimana dia masih punya hasrat untuk makan. Lagipula, untuk apa lagi nyawanya dipertahankan? Sekarang hidupnya telah kehilangan tujuan, seperti kereta yang kehilangan roda, seperti jam yang kehilangan jarumnya. Dia tak berharga…tak ada yang menginginkan dia…
Bukankah lebih baik jika dia mati saja?
Tapi tidak, untuk suatu alasan, Kyuubi tak bisa bunuh diri begitu saja. Mungkin, karena jauh di dalam hati kecilnya, masih ada secercah cahaya harapan yang menyala. Bahwa mungkin, seseorang di luar sana masih mencarinya, atau paling tidak, bahwa mungkin mereka masih bisa bertemu, walau untuk terakhir kalinya.
Namun, ketika kakinya yang penuh luka tiba-tiba saja kehilangan tenaga, Kyuubi tahu bahwa Sang Waktu telah menjatuhkan vonis padanya. Tak peduli seberapa keras dia berusaha, tak peduli sekeras apa dia memohon pada tubuhnya, tetap saja dia jatuh tersungkur dan terbaring diam bagaikan boneka yang dicampakkan.
Dan sebelum matanya tertutup, bibir Kyuubi bergerak untuk terakhir kalinya. Dan yang keluar darinya, hanyalah sebuah nama, "…Naruto…"
~•~
"KYUUBI!" sebuah teriakan frustasi bergema di hutan Konoha. "KYUUBI!"
Selarik sinar keemasan bercahaya di kejauhan, dan terus muncul berulang-ulang. Nama yang sama terus diteriakkan, dibiarkan bergema di udara, sebelum diulangi kembali dengan suara yang sudah serak sedemikian rupa. Setelah kerlipan cahaya keemasan yang lain, akhirnya sang pemilik suara nampak sosoknya. Wajahnya yang dihiasi 3 tanda lahir berbentuk kumis kucing dan rambut pirangnya yang biasanya berdiri jabrik kini basah kuyup oleh keringat.
Pemuda dengan nama Uzumaki Naruto itu bersiap untuk melakukan Hiraishin lagi, jutsu teleportasi yang diciptakan oleh ayahnya dan disempurnakan olehnya. Tapi baru setengah detik tubuhnya diselimuti cahaya keemasan, tubuhnya tiba-tiba mengeras dan dia jatuh berlutut ke atas tanah.
Dalam masa keemasannya, bahkan Namikaze Minato sendiri hanya bisa mengaktifkan Hiraishin paling maksimal 20 kali dalam satu hari, 30 jika ia memaksakan diri. Akan tetapi, Naruto, hanya dalam tempo 6 jam, telah menggunakan jutsu level S itu lebih dari 100 kali. Apalagi, karena sepanjang waktu dia juga terus-menerus mengaktifkan chakra Sennin, walau dia memiliki chakra sang Bijuu berekor sembilan, adalah suatu hal yang lumrah bagi makhluk hidup sepertinya untuk kehabisan tenaga.
Tidak hanya itu, chakra yang minim juga membuat Naruto takkan bisa mempertahankan keseimbangan energi alam dalam tubuhnya. Sebentar lagi, maka dia takkan bisa menahan aliran kekuatan alam dalam dirinya untuk memperlama mode Sennin, atau dia akan berakhir sebagai patung katak.
"Sial! Sial! SIAL!" Naruto mengumpat keras sambil meninju tanah, menghasilkan retak-retak besar karena kekuatan luar biasa dari mode Sennin-nya. "BRENGSEEKK!"
Naruto melolong, lama dan panjang. Merobek kesunyian hutan yang gelap dan sunyi dan kelam.
"…Kyuubi…" padahal dia terus mencoba berharap, tapi dia bisa apa jika harapan dalam hatinya yang hanya tinggal sejentik itu makin redup di tiap detiknya? Apa inilah saat dia harus tahu rasanya putus asa? "KYUUBI~!"
Sepanjang hidupnya, Naruto tidak pernah merasa setakut ini. Bahkan, untuk pertama kali dalam hidupnya, Naruto tidak bisa percaya pada kemampuannya sendiri. Ya, mode Sennin memang bisa mendeteksi aliran chakra seperti apapun bentuknya, tapi bagaimana jika orang yang ia cari sudah kehilangan semua aura chakranya?
"TIDAK!" tiba-tiba Naruto menggeram berang. Api yang hampir padam di matanya tiba-tiba menyala kembali dengan intensitas yang baru. "Kalau aku menyerah, lalu siapa yang akan menolong Kyuubi…?"
Tepat setelah menyebutkan itu, dia tiba-tiba merasakan sesuatu. Sangat redup, namun aura chakra yang hanya berupa kerlip kecil dan tidak ia kenal itu menarik perhatiannya lebih dari apapun. Dia tak tahu kenapa, tapi aura ini…seakan sedang memanggilnya…
Tanpa Naruto sadari, kakinya telah tegak dan ia telah berdiri lagi. Seakan punya naluri sendiri, kakinya mulai berlari. Dan tidak lama, dia telah berlari dengan sekuat tenaga…
~•~
Kyuubi tak tahu sudah berapa lama waktu melayang sejak dia pingsan karena kelelahan, tapi kali berikutnya dia bisa merasakan tubuhnya, Kyuubi merasakan sensasi aneh. Seperti terbungkus dalam campuran hangat dan dingin.
Dia pasti sudah lemah sekali, karena itulah tubuhnya perlu waktu jauh lebih lama dari biasanya untuk mengaktifkan fungsi-fungsinya. Kyuubi kini tahu kalau dingin yang ada di tubuhnya berasal dari terpaan angin, seakan dia sedang bergerak dengan kecepatan tinggi (walau dia masih tak tahu apa yang menyebabkan itu).
Tapi yang aneh dari sensasi itu bukanlah dinginnya, melainkan kehangatannya.
Mengapa…mengapa sepertinya kehangatan itu melindunginya? Mengapa kehangatan itu terasa begitu familier, seperti sesuatu yang sudah ia kenal untuk begitu lama, dan menempati sebuah tempat khusus di dalam hatinya?
Lalu Kyuubi tiba-tiba mengerti kenapa dia merasa kenal kehangatan ini.
"…Naruto…"
Sensasi dingin itu tiba-tiba hilang, dan suara kecipak keras yang terdengar di telinganya adalah pertanda kalau perjalanan mereka memang berhenti untuk sementara. Rasa hangat yang sama kini menjalar ke pipinya. Kyuubi tak bisa melihat karena belum membuka matanya, tapi dia bisa membayangkan tangan yang besar dan kapalan itu kini sedang membelai wajahnya.
"Kyuubi…?" dia rindu suara itu…Kyuubi sangat rindu. Lalu mengapa…? Mengapa mendengarnya sekarang membuat hatinya terasa seperti diiris sembilu? "Kyuubi, kau tak apa-apa…?"
Kyuubi membuka matanya pelan-pelan, dan pandangannya yang kabur mulai jelas secara perlahan-lahan. Dan seperti yang ia duga, wajah Naruto adalah yang pertama muncul dalam pandangan. Tidak seperti biasanya, wajah yang biasanya cerah dan sehat itu kini sedikit pucat, dan dia terlihat sangat kelelahan. Tapi senyum itu tak pernah berubah. Senyum yang ringan dan hangat itu, tak pernah sekalipun berubah…
Mata Kyuubi menjadi panas, dan walaupun ia mengira air matanya telah habis, pada akhirnya Kyuubi menangis lagi.
"K-Kyuubi…?" wajah dengan tiga kumis di tiap pipinya itu berubah menjadi panik. "Ada apa…? Kenapa kau menangis?"
Kyuubi menutup mulutnya dengan kedua tangan, tapi itu tak bisa menghentikan isakan yang kini pecah dari suaranya. Padahal dia telah menyerah, padahal dia telah ikhlas, asalkan semua penderitaan ini bisa berakhir. Lalu sekarang, mengapa? Mengapa takdir begitu senang mempermainkannya?
"Kyuubi, tolong katakan, ada apa…?" kekhawatiran yang terkandung suara itu, membuat Kyuubi senang sekaligus sedih bukan buatan. "Kyuubi, kalau kau tak bilang, aku tak bisa tahu-"
Mau atau tidak, Naruto harus berhenti bicara, karena kini jalan suaranya telah ditutup sepenuhnya oleh bibir Kyuubi. Walau kaget pada awalnya, Naruto dengan cepat sembuh dari keterkejutannya dan membalas ciuman Kyuubi dengan rasa lega yang melangit, terutama ketika gadis berambut merah itu mengalungkan kedua tangannya di sekeliling leher Naruto.
Tapi dia dikejutkan lagi, oleh Kyuubi yang tiba-tiba menjauhkan wajahnya.
"Kyuubi…?" dibanding yang dulu-dulu, ciuman tadi terlalu singkat, sehingga Naruto bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang salah. "Ada apa? Apa ada yang-"
"Naruto," satu kata dari Kyuubi sudah cukup untuk membuat Naruto berhenti bicara. "Tolong…bisakah kau turunkan aku…?"
Kening Naruto berkerut atas permintaan itu, tapi dengan cepat dia mematuhinya. Selagi sang pemuda menurunkan Kyuubi pelan-pelan dari gendongannya, Kyuubi baru sadar kalau mereka tengah berdiri di tengah-tengah sebuah sungai. Sebuah sungai yang cukup dangkal, kedalamannya pun hanya tepat di atas mata kaki Kyuubi.
Kalau tadi kening Naruto berkerut, maka kini alisnya bertaut. Karena setelah diturunkan, hal pertama yang dilakukan Kyuubi adalah mulai berjalan menjauhinya. "K-kau sedang apa?" kekhawatiran Naruto kembali muncul karena langkah gadis itu sangat tertatih-tatih, walaupun kelihatannya fakta itu tak membuatnya berhenti berjalan. "Kyuubi, kau mau pergi ke mana?"
"…J…an…uti…ku…"
"Apa? Aku nggak bisa dengar-"
"Jangan ikuti aku…!" walau terkejut dan bingung, Naruto tidak berhenti mengikuti gadis itu. Karena dia tahu, air mata yang mengalir di wajah gadis itu mengucapkan hal yang berlawanan dengan kata-katanya tadi.
"Kyuubi, apa maksudmu? Aku tak mengerti…!"
"Kubilang, jangan ikuti aku…!" walau berkata demikian, tak butuh waktu lama bagi tubuh Kyuubi yang sudah begitu lemah dan lelah untuk kehabisan tenaga. Gadis itu kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke air sungai yang dingin, dan hampir membuat jantung sang Nanadaime berhenti karena cemas.
"KYUUBI!"
"Hentikan…" walaupun hanya berupa bisikan, suara Kyuubi yang dipenuhi oleh kepahitan kembali menghentikan langkah Naruto. "Sudah cukup…aku tak mau lagi…"
"H-hei, apa yang kau bicarakan?"
"Jangan dekati aku…!" jerit Kyuubi saat Naruto mulai menunjukkan tanda-tanda ingin mendekat lagi. "Kumohon, berhenti bersikap seakan kau peduli…!"
"Apa…?" ekspresi Naruto sedikit mengeras saat menyadari arah pembicaraan itu. "Kyuubi, aku…!"
"Aku benci kau, Naruto!" Naruto tak tahu apakah ucapan itu serius atau tidak, namun yang pasti, mendengarnya membuat ia merasakan sakit yang begitu hebat di dalam dadanya. "Aku benci! Aku benci! AKU BENCI!"
Sekarang Naruto benar-benar tak tahu harus merasa bagaimana, berbagai emosi bercampur aduk di dalam hatinya seperti blender berisi jus buah. Pertama gadis itu menangis tanpa alasan jelas, dan apapun penyebabnya, dia juga tak mau bilang. Lalu, dia tiba-tiba saja menciumnya. Tapi saat akhirnya Naruto merasa kalau semuanya baik-baik saja, gadis itu minta diturunkan dan sekarang mengatakan kalau dia membencinya.
"A…" Naruto membuka mulutnya, tapi segera menutupnya kembali saat sadar dia hampir mengucapkan apa. Saat ini, marah bukanlah tindakan yang tepat karena hanya akan memperburuk suasana. Maka dari itu Naruto menggantinya dengan pertanyaan, "Kenapa? Apa salahku?"
"Karena kau pembohong, Naruto! Kau sama saja seperti mereka, kalian semua pembohong!" setiap teriakan Kyuubi kini dibarengi lelehan air mata yang semakin membuat Naruto tak tega melihatnya. "Kau bilang kalau aku bisa bahagia di sana, kau juga bilang kalau cepat atau lambat mereka akan menerimaku! Tapi apa buktinya? Pada akhirnya, semua kata-katamu hanyalah bohong belaka!"
Tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk memahami kalau maksud dari kata 'di sana' dan 'mereka' adalah Konoha dan penduduknya, dan juga fakta kalau semua ini terjadi karena dia tak ada di sana saat Kyuubi membutuhkannya. Padahal dia telah berjanji akan melindunginya, tetapi dia malah membiarkannya terluka untuk kesekian kalinya. Bahkan, kali ini luka hati Kyuubi sudah terlalu lebar, dan takkan mungkin lagi menyembuhkannya hanya dengan kata-kata.
"Aku sudah lelah, Naruto. Aku sudah lelah berharap, kalau pada akhirnya takkan pernah menjadi kenyataan…" suara gadis itu menjadi kian pelan, kelihatannya semua teriakan tadi telah menyerap habis sisa tenaganya yang terakhir. "Sudah cukup, aku tak tahan lagi. Kumohon, jika aku memang tak bisa mendapatkan kebahagiaan, setidaknya biarkan aku mengakhiri semua ini…"
"Apa? Kyuubi, i-itu tak benar…!" kalimat itu telah membuat kemarahan sekaligus kebingungan menyala di dalam hati Naruto. Kenapa Kyuubi bisa berpikir begitu? Siapa yang berani menanamkan hal semacam itu di kepalanya? "Kau…kau salah…!"
"Tidak…" rasanya tidak benar. Mendengar Kyuubi mengucapkan hal itu dengan nada yang penuh keyakinan dan kepastian seperti itu…terasa sangat salah. "Kaulah yang salah…"
"Tahukah kau, Naruto? Sebenarnya, tak bisa hidup di sana, ataupun tak diterima oleh mereka, bukanlah hal yang paling menyakitkan bagiku…" sepelan apapun suara bisikan gadis itu, Naruto merasakan setiap kata-katanya bergema di sekujur dinding dadanya. Merobek hatinya. Mencabik jiwanya. "Yang paling menyakitkan bagiku, adalah semakin lama aku merenungkannya, semakin aku menyadari…
"Bahwa kau tak pernah benar-benar membutuhkanku…"
"…!" Naruto membuka mulutnya untuk membantah, namun tak mampu mengucapkan barang sepatah kata. Dia ingin Kyuubi tahu betapa salahnya pendapatnya itu, tapi seakan ada yang memutuskan pita suaranya, Naruto tak mampu menemukan kata untuk mengungkapkan perasaannya.
"Aku…" Kyuubi melanjutkan sambil menundukkan kepala, menatap di mana air matanya bercampur dengan sungai jernih yang mengalir di bawahnya. "…tak pernah meminta hal yang muluk-muluk. Aku tak minta tempat tinggal yang layak, aku tak minta harta yang banyak…"
Karena bisa ada di sisimu, aku sudah sangat bahagia…
"Bisa memasakkanmu makan pagi dan makan malam, atau menyambutmu saat kau pulang. Menyiapkan air panas untukmu dan memandikanmu. Sesederhana dan seremeh apapun kedengarannya, semua itu sudah merupakan kebahagiaan terbesar bagiku..."
Aku sudah cukup bahagia bisa mengurusmu…
"Tapi kemudian aku sadar, tidak harus aku yang menjadi orang itu. Tidak harus masakanku yang kau makan setiap kali kau pulang. Tidak harus tanganku yang menggosok punggungmu dan mencuci rambutmu. Tidak harus tubuhku yang kau peluk saat sudah larut malam. Tidak harus wajahku yang pertama kau lihat setiap pagi menjelang…"
Tapi aku tahu itu hanyalah harapan semata…
"Aku mencintaimu…" Kyuubi mengakhiri. "Tapi kau tak pernah harus mencintaiku…"
Karena pada akhirnya, kita tak ditakdirkan bersama…
"Oleh sebab itu…lupakan aku…" pinta Kyuubi. "Masih banyak gadis lain di dunia ini…yang bisa kau pilih sesuka hati. Gadis-gadis yang normal, tidak seperti aku yang dilahirkan sebagai siluman dan sebatang kara…"
Aku adalah iblis, karena itulah aku tak pantas dipandang olehmu…
Tanganku telah berlumuran darah, karena itulah aku tak layak menyentuhmu…
"…Jadi…" setelah lama diam, Naruto akhirnya buka suara. Dengan wajah menunduk, dan dengan suara yang sama sekali tidak terdengar seperti suaranya. "Menurutmu, aku lebih baik mencari gadis lain…?"
"Itulah yang terbaik…" jawab Kyuubi, berusaha terdengar tulus walaupun hatinya hancur saat mengatakan itu. "Sejak awal, aku tak pernah pantas untukmu. Lagipula, kau juga pasti ingin gadis yang lebih baik, yang lebih-"
"DIAM." dengan kepala yang masih tertunduk, Naruto memotong perkataan Kyuubi. Suaranya yang penuh kemarahan seakan bergema di udara malam, dan sekejab kemudian, alam menjadi senyap seketika. "DIAM! Jangan kau berani ucapkan satu kata lagi!" kedua tangan Naruto terkepal kuat-kuat, saking kuatnya sampai darah mulai mengalir dan menetes jatuh, mengotori sungai yang jernih. "Beraninya kau bicara seakan-akan kau tahu apa keinginanku!"
Kyuubi menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan isakan yang hampir lepas dari mulutnya. Walaupun melakukan ini membuatnya diliputi kesedihan yang mungkin akan terus menghantuinya walau sampai ke alam baka, Kyuubi takkan menyesalinya, karena dia tahu bahwa hanya dengan membuat Naruto membencinyalah yang akan membuat pemuda lebih mudah melupakannya.
"…Baiklah kalau begitu. Jika kau memang ingin mati di sini, akan kukabulkan permintaanmu," kata Naruto dengan suara yang datar, sehingga Kyuubi tak bisa tahu apa yang pemuda itu rasakan sekarang. "Tapi setidaknya, sebelum itu, maukah kau mendengarkan kata-kataku…?"
Bibir Kyuubi hanya bisa mengucapkan hening. Tak peduli seperti apa kalimatnya, Kyuubi tahu kalau itu bukanlah sebuah permintaan. Di hadapannya, Naruto kini mulai melonggarkan kepalan tangan, menunjukkan telapaknya yang dilumuri lapisan tipis darah, membuat setiap detak jantung Kyuubi terisi oleh kekhawatiran.
Dan mungkin Kyuubi sudah bangkit dari posisinya, andai saja Naruto tidak mulai berkata-kata saat itu.
"Kau tahu, Kyuubi, aku…" kali ini, suara Naruto telah kehilangan kedatarannya, tapi emosi apapun yang tersimpan di dalamnya, Kyuubi tak mengenalinya. "Aku…tak pernah benar-benar menginginkan jabatan ini…"
"Kuakui, sejak kecil aku selalu berkata kalau aku ingin menjadi Hokage. Tapi…satu-satunya alasan aku menginginkan posisi ini, adalah karena kukira bahwa dengan menjadi Hokage, maka warga Konoha akan menerimaku. Melihatku apa adanya…bukan sebagai 'wadah' yang menyimpan seekor rubah iblis, tetapi sebagai seorang manusia, sebagai seorang Naruto Uzumaki…"
Sembari menyelesaikan kalimat itu, Naruto mengangkat kepalanya, mengarahkan mata birunya ke langit malam yang entah kenapa tak berbintang. Dalam durasi itu, untuk sekejab mereka bertemu pandang, dan walaupun hanya sepintas, Kyuubi kembali merasakannya. Emosi yang begitu kuat, begitu dalam, terpancar dari mata Naruto, namun tak sedikitpun bisa dia terka emosi macam apa.
"Tapi setelah mengalahkan Pein, aku sadar bahwa aku tak perlu itu. Saat aku melihat bagaimana mereka menyambut kepulanganku, aku langsung tahu bahwa tak perlu jabatan Hokage untuk membuat mereka menerimaku…" senyum tipis yang semula menghiasi wajah Naruto tiba-tiba hilang. "Awalnya, aku merasa senang. Sangat senang. Tapi kesenangan itu tidak bertahan lama…"
Naruto kembali menurunkan kepalanya, kemudian menatap Kyuubi dalam-dalam. "…Sejak kecil, keinginan untuk membuat Konoha menerimaku selalu menjadi dorongan terbesar dalam hidupku. Keinginan itu yang mendorongku untuk selalu berlatih, untuk selalu berusaha sebaik mungkin dan tak pernah menyerah. Saking kuatnya, apa yang semula hanya berupa keinginan berubah menjadi harapan, dan seiring waktu, berubah menjadi tujuan hidup…
"Tapi setelah keinginan itu terwujud…lalu apa? Untuk apa lagi aku terus berlatih, untuk terus bertambah kuat? Atau yang paling utama…untuk apa aku hidup?"
Sembari mendengarkan, perlahan-lahan Kyuubi mulai mengerti emosi seperti apa yang terlukis di wajah Naruto. Hanya saja, dia masih belum yakin apa. Apakah itu kesedihan? Kekhawatiran? Ketakutan? Atau…keputusasaan?
"Awalnya aku masih bisa menepis perasaan itu. Tapi lama-kelamaan, aku jadi tak bisa menyangkalnya. Aku sangat bingung, rasanya seperti tersesat di labirin tanpa jalan keluar…" Naruto mulai mencengkeram kepalanya, menekankan betapa kuatnya perasaan yang memerangkapnya di saat tersebut. "Bahkan saat aku dinobatkan sebagai Hokage, aku tak bisa merasakan apa-apa. Tidak kepuasan, tidak kebahagiaan, tak ada. Aku merasa hampa…aku merasa tak berguna…
"Aku mungkin masih yang terkuat di Konoha saat ini, tapi teman-temanku pun terus bertambah kuat. Dan cepat atau lambat, akan sampai saat di mana mereka akan cukup kuat untuk melindungi Konoha…tanpa bantuanku," Naruto mengangkat tangannya, lalu memandanginya dengan mata yang penuh kemurungan.
"Jika saat itu tiba, lalu apa gunanya aku? Satu-satunya kualitas yang ada dalam diriku adalah kekuatanku, tapi untuk apa? Untuk apa lagi kekuatan ini, jika Konoha saja sudah tak membutuhkanku lagi sebagai pelindung mereka?" tangan Naruto yang terangkat, terkepal kuat-kuat. Tapi tak lama, kepalan tangan Naruto melemah, dan lepas seluruhnya. Seakan kehilangan semua tenaga, Naruto membiarkan kedua lengannya terkulai seperti tak bernyawa di sisi tubuhnya."…Siapa yang membutuhkanku?"
Lambat-lambat, Naruto kembali mengangkat wajahnya, dan Kyuubi tersentak saat menyadari tumpahan emosi yang bersinar di mata pemuda itu. "Ketika aku hampir putus asa, tiba-tiba saja…kau muncul dalam kehidupanku. Kau yang sudah kehilangan kekuatan dan yang ternyata hanyalah seorang gadis yang rapuh dan lemah, terlihat begitu kebingungan dan kehilangan arah. Walaupun saat itu kau berlagak angkuh dan sinis di depanku, matamu yang penuh kecemasan dan ketakutan itu tak bisa berdusta padaku…"
"Dan saat itu, aku memutuskan. Karena akulah penyebab hilangnya kekuatanmu, aku akan bertanggung jawab, dan menjagamu selama hidupku," suara Naruto terdengar mengambang. "Kehadiranmu memberiku alasan, memberi arti pada kehidupanku. Dan itu cukup bagiku," Setelah beberapa lama terdiam, ia melanjutkan, "Atau yang semula kukira begitu…"
"Awalnya, aku berpikir bahwa ini sudah menjadi kewajibanku, mengingat aku sudah berhutang nyawa padamu. Tapi kemudian, kau menunjukkan dirimu yang asli padaku…" bibir Naruto melengkung, membentuk sebuah sengiran. "Kau benar-benar menyebalkan dan merepotkan, tapi sekaligus…polos bukan buatan…
"Dan entah mulai sejak kapan, aku jadi terbiasa. Terbiasa dengan semua komentar sinismu, terbiasa berbagi bak mandi denganmu, terbiasa berebut selimut denganmu. Terbiasa…dengan kehadiranmu…
"Aku ini bodoh, karena itu aku tak tahu perasaan aneh apa yang kudapatkan sejak kehadiranmu itu. Perasaan yang membuatku jadi selalu bekerja serajin mungkin hanya agar bisa cepat pulang dan melihatmu. Yang membuatku selalu tak sabar ingin mengajarimu hal-hal baru. Yang membuatku selalu begitu senang setiap kali aku berhasil membuatmu tersenyum…" kata-kata terus meluncur dari mulut Naruto seakan tak terkekang. Hal-hal yang sebenarnya ingin dia pendam seorang diri, kini keluar ke permukaan. "Saat itu, yang aku tahu pasti adalah apa yang semula kukira hanyalah kewajiban, telah berubah menjadi keinginan…"
"T-tapi, semua itu pasti kesalahan saja kan…?" sela Kyuubi, tak tahan kalau hanya terus diam mendengarkan. "Itu pasti hanya perasaan yang diciptakan oleh rasa kasihanmu…!"
"Hmh, kau benar…" Naruto tersenyum kecil. "Atau setidaknya, itulah yang kukatakan pada diriku saat itu. Mungkin…aku hanya terlalu takut untuk mengakui. Tapi…
"Dalam kunjungan kita ke pulau Mikazuki…semuanya berakhir…
"Dimulai oleh kata-kata Hikaru, ilusi kecil yang kupasang demi menipu perasaanku retak dan mulai hancur perlahan-lahan. Kutenggak berbotol-botol alkohol demi mengalihkan pikiranku. Tapi semakin waktu berlalu, semakin aku tak bisa menghindar. Dan rasa takut yang kurasakan ketika kau menghilang pada malam itu, menghancurkan pembatas terakhir yang memisahkanku dari kesadaran…"
Kyuubi ingin menutup telinganya, ingin memblokir pendengarannya. Dia tak ingin mendengar sesuatu yang seharusnya tak nyata, sesuatu yang seharusnya tak pernah terucap di antara seorang siluman dan manusia.
"Aku sadar…" Naruto mengaku dengan suara pelan. "Bahwa aku tak bisa kehilangan kamu…"
Mungkin karena dinginnya air yang membuat tubuhnya mati rasa, mungkin karena dia terbius oleh kata-kata yang terlepas dari bibir sang pemuda, tapi baru di saat inilah, Kyuubi menyadari bahwa Naruto telah berlutut di depannya. Sembari mata mereka bertemu, seulas senyum tersungging di bibir Naruto. "Di malam itu, di pantai itu, akhirnya aku menyadari betapa berartinya kau bagiku…"
"H-hentikan…!" Kyuubi tiba-tiba menyela, sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Kumohon, hentikan…hentikan kebohongan ini…!"
"Bohong?" Naruto mengulangi. "Kenapa kau bisa berpikir bahwa aku berbohong?"
"K-karena itu terlalu indah…! Terlalu indah untuk dipercaya, terlalu indah untuk menjadi nyata…!" Kyuubi tak ingin memercayainya. Dia sudah terlalu sering dibohongi, dia sudah tak tahan ditipu lagi-
"Kyuubi," Naruto berucap pelan. "Pernahkah, biar satu kali saja, aku berbohong padamu?"
Kyuubi tersentak kuat saat menyadari kebenaran perkataan pemuda itu. Akan tetapi, masih ada sesuatu yang mengganjal, "T-tapi…kenapa…?"
"…" Naruto mengambil waktu sejenak untuk berdiam diri, sebelum melanjutkan. "Semenjak aku kecil, aku selalu mengharapkan ada seseorang. Seseorang yang bisa mengerti penderitaanku, seseorang yang dapat memahami kesedihanku…"
"Betapa sakitnya ketika dipandang sebagai seekor monster. Betapa pedihnya dibenci atas sesuatu yang tak pernah kita minta. Betapa sedihnya…kesepian karena tak ada seorangpun yang mau mendekatimu, yang mau memahamimu…"
"Masihkah kau tak menyadarinya? Tentang betapa banyaknya kesamaan di antara kita?" tanya Naruto dengan lembut. "Kau…adalah satu-satunya orang yang memahamiku seluruhnya. Selalu tahu apa yang kupikirkan, apa yang kuinginkan dan kubutuhkan. Tapi entah kenapa, dengan seberapa besar kau mengerti aku, kau gagal menyadari satu hal yang paling penting…"
"…?" Kyuubi menengadahkan kepalanya dalam tanda tanya. Tapi ketika mata biru langit bertemu merah delima, Kyuubi tiba-tiba langsung tahu apa yang akan terucapkan di antara mereka.
"Kau gagal menyadari, bahwa yang paling kubutuhkan, justru adalah dirimu."
Kyuubi terkesima, sama sekali tak tahu harus menjawab apa.
"Semenjak kau tiba dalam hidupku, setiap hari menjadi sangat menyenangkan. Bekerja seharian tak lagi membuatku keberatan, karena aku tahu selalu ada kau yang menungguku di rumah. Bisa melihat wajahmu setiap hari, bisa mendengar suaramu setiap hari, membuatku begitu bahagia," setiap inci wajah Naruto melukiskan kejujuran, seperti bagaimana setiap suku katanya menyimpan ketulusan. "Kehadiranmu mengisi kekosongan di dalam hatiku. Kehadiranmu melengkapi kehidupanku.
"Sejak dulu, kau adalah pilar yang selalu menyokongku. Jika ada kau, aku takkan pernah merasa takut. Semua cobaan yang kualami, semua pertarungan yang kumenangi, semua itu bisa kulalui karena aku tahu ada kau yang menjadi penopangku."
"Karena itulah aku bersumpah akan melindungimu, sampai nyawa ini meninggalkan tubuhku."
Tapi tak selang beberapa lama setelah mengucapkan itu, wajah Naruto kembali berubah murung. Senyum di bibirnya menghilang, dan sinar di matanya padam.
"Tapi sumpah itu…sumpah yang keluar dari mulutku sendiri itu, aku malah gagal menepatinya!"
"Aku terlalu naïf! Harusnya aku menyuruh seseorang untuk mengawalmu…tidak, harusnya aku tetap di sana untuk menjagamu! Tapi tidak, aku malah pergi, dan meninggalkanmu seorang diri!" dalam setiap teriakan Naruto, terisi kemarahan yang berapi-api. Kemarahan yang dihantamkan pada dirinya sendiri. "Karena kesalahanku, kau jadi terluka lagi! Gara-gara aku, kau disakiti lagi!"
Kyuubi berdiam di sana, tubuhnya sunyi namun pikirannya berteriak-teriak. Kenapa Naruto harus berpikir begitu? Kenapa dia harus menyalahkan dirinya, padahal semua yang terjadi sebenarnya adalah salah Kyuubi sendiri? Atas semua dosa yang telah ia lakukan di masa lampau?
Tapi dia tak mampu bicara. Entah kenapa, suaranya terkatup dan bibirnya tak mau terbuka.
"Apa artinya semua latihanku selama ini jika aku tak mampu menjaga sebuah janji? Apa gunanya semua kekuatan ini, jika pada akhirnya aku malah gagal melindungi satu orang paling berarti yang pernah kupunyai?" Naruto terus bicara dengan gigi beradu, melepaskan kemarahannya di antara kesunyian malam dan hutan. "Brengsek, kenapa aku harus begitu lemah? Begitu tak berguna?"
Ada kesunyian sesaat, yang akhirnya dihancurkan oleh suara tetesan air di permukaan sungai. Hanya saja, kali ini bukan air mata Kyuubi yang menetes, melainkan air mata Naruto.
"Kau gadis yang paling berharga bagiku, dan karena kesamaan kita, aku sangat memahamimu. Dan karena itulah, aku sangat mengerti betapa besar sakit hati yang telah diberikan dunia ini padamu," sekarang, suara Naruto telah didominasi oleh isakan. "Aku mengerti kalau kau sudah tak tahan lagi, kalau kau ingin mengakhiri kehidupan yang telah memberimu begitu banyak penderitaan ini…"
Melihat bagaimana kedua pipi pemuda itu dibanjiri oleh air mata, sangat membuat Kyuubi ingin menghiburnya, menenangkannya, dan mengatakan bahwa semua ini bukan salahnya. Tetapi, entah kenapa, tak ada satupun suara yang bisa keluar dari tenggorokan Kyuubi.
"…Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa menerimanya. Walaupun aku sadar bahwa ini adalah kesalahanku, tapi tetap saja, aku tak mampu kehilanganmu…" Naruto mengaku dengan suara pelan. "Kau terlalu berharga bagiku…aku tak bisa hidup tanpamu…"
"Aku…benar-benar tak bisa…" mata Kyuubi melebar, dan napasnya tiba-tiba berhenti, saat melihat sebuah kunai di tangan kanan Naruto. "Daripada melihatmu pergi…" Naruto membawa ujungnya yang runcing ke tenggorokannya. Dia mengangkat wajahnya, lalu memandang Kyuubi dengan pasrah. "Lebih baik jika aku menunggumu di sana…"
Naruto memejamkan mata, dan menekan kunai itu tanpa keraguan. Dia merasakan pedih, dan terasa setetes darah mengalir di lehernya. Hanya saja…
Sakit itu tak berlanjut.
Naruto membuka matanya, hanya untuk menemukan bahwa tangannya ditahan di tempat, oleh dua tangan yang kecil dan berkulit halus dan sama sekali bukan miliknya.
"Hentikan!" Naruto mendongak, dan melihat bahwa wajah Kyuubi berada tak berapa inci dari wajahnya sendiri, penuh oleh air mata yang membanjiri pipinya. "Hentikan…jangan!"
"Lepaskan aku, Kyuubi…" Naruto berbisik dengan suara yang tenang, terlalu tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Kyuubi semakin ketakutan. "Biarkan aku mengakhiri ini-"
"TIDAK!" potong Kyuubi putus asa, namun masih berusaha sekuat tenaga menahan agar kunai itu tak menembus leher pria yang paling disayanginya. "Kumohon, jangan lakukan ini! Tak boleh…aku takkan mengizinkanmu!"
"Kenapa?" mereka bertatap mata, dan Kyuubi akhirnya mengerti bahwa yang ditunjukkan oleh mata Naruto…hanyalah keputusasaan. Dan itu menghancurkan hatinya. "Katakan padaku, Kyuubi. Bagaimana aku harus terus hidup, jika kau akan meninggalkanku…?"
"K-karena…kau tak mengerti…!" sahut Kyuubi, mencoba meniru kekeraskepalaan Naruto. "Kau pasti masih bisa hidup! T-tanpa akupun-"
"Tanpa kau," Naruto menyela. "Aku takkan pernah sama lagi." Kyuubi masih berusaha, namun tak ayal, ucapan Naruto itu membuat pegangan tangannya melonggar. "Ya, mungkin aku akan tetap hidup, tapi kosong. Tanpa perasaan. Tanpa jiwa. Karena kau membawa hati dan semua emosiku pergi, jauh ke tempat yang tak bisa kujangkau lagi."
"T-tapi…tapi…!" Kyuubi terbata. Dia mencoba mencari kata-kata yang tepat, tapi yang muncul di kepalanya hanya satu kalimat. "Aku tak mampu melihatmu mati!"
"Kalau begitu jangan pergi!" Naruto tiba-tiba berteriak. Kunai yang hampir membunuhnya jatuh ke sungai dengan kecipak kecil ketika ia melempar kedua tangannya ke depan, memeluk tubuh kecil Kyuubi seakan-akan gadis itu satu-satunya hal yang mengikatnya ke kehidupan. "Kumohon…!" Naruto membenamkan wajahnya ke perut Kyuubi, sambil terisak miris. "Jangan tinggalkan aku…"
"Naruto…" Kyuubi meraup kepala Naruto ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan sang pemuda. Namun ia sendiri tak bisa meredam sedu yang muncul dalam suaranya. "A-aku…"
"Aku akan melakukan apapun…" ucap Naruto dengan memelas. "Kali ini aku akan selalu ada di sisimu. Menjagamu. Melindungimu. Aku takkan membiarkan siapapun melukaimu lagi…" dia eratkan pelukannya. "…Aku sudah kehilangan terlalu banyak. Ayahku, ibuku, bahkan Ero-sennin. Aku sudah tak sanggup lagi, aku sudah tak tahan kalau harus ditinggalkan lagi…"
"Jadi kumohon…tetaplah bersamaku…"
…
Kyuubi merapatkan dekapannya. Memberi Naruto kehangatan dan semua kasih sayang dengan setiap belaian lembut tangannya, sebagai ganti kegelisahan yang telah ia berikan.
Kyuubi melanjutkan hanya dengan diam. Akan tetapi, senyum tipis namun lembut bukan buatan yang menghiasi wajahnya adalah gambaran bahwa kesedihan dan keputusasaan di hatinya telah lama meninggalkan habitatnya. Rasa takut bahwa dia tak diinginkan tak lagi bersemayam di hatinya, semua terhapus tuntas tak bersisa.
Tak pernah terbayang sekalipun dalam angan Kyuubi, betapa dalamnya kebahagiaan yang bisa ia rasakan hanya dengan memeluk Naruto seperti ini. Betapa dia merasa seperti melayang hanya dengan merasakan bagaimana jantung mereka berdetak dalam satu rima, sebuah melodi yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Seakan-akan mereka adalah satu yang utuh dan bukannya dua makhluk yang berbeda.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa ratus tahun, Kyuubi tak menyesali kehidupan yang dia miliki. Dia rela, sungguh rela, mengalami kembali semua penderitaan itu, semua kesedihan itu, berapa kalipun, jika pada akhirnya dia diizinkan untuk memperoleh satu kebahagiaan ini.
Lalu, muncullah dua kata itu. Dua kata yang akan mengubah dunia Kyuubi untuk selamanya.
"Aku mencintaimu…"
Kyuubi membiarkan kata-kata itu meresap, maknanya merasuk ke dalam sukma dan merembes ke setiap urat nadi yang menyusun tubuhnya. Kemudian, sambil mengecup puncak kepala Naruto dengan penuh rasa sayang, ia memberi jawaban.
"Aku juga mencintaimu."
~•~
Naruto menarik napas panjang. Menilik peristiwa yang terjadi beberapa jam lalu, mau tak mau dia merasa cukup malu. Dia pasti terlihat sangat memalukan, dan mungkin agak menyedihkan. Tetapi semalu-malunya dia, saat dia menatap kembali wajah Kyuubi yang sekarang tertidur nyenyak di dadanya, Naruto tak bisa bilang kalau dia menyesali kejadian itu.
Terlelap diselimuti jubah merah Naruto, Kyuubi bergerak dalam tidurnya. Bibir Naruto melengkung dengan sendirinya ketika melihat betapa tentramnya tidur gadis itu, membuatnya tak tahan untuk membiarkan jarinya berenang di lautan benang merah yang lembut bukan buatan milik Kyuubi. Seakan merasakan elusan Naruto, Kyuubi tersenyum, senyum yang polos dan bebas dari beban.
Ketika Naruto merasakan debar yang menghentak di balik dadanya, dia langsung tahu bahwa itu adalah bukti bahwa Kyuubi, dengan setiap senyumannya, selalu berhasil membuat Naruto jatuh cinta lagi dan lagi. Dan setiap kali, perasaan itu selalu lebih kuat dari sebelumnya.
Naruto, yang sekali lagi kalah dari godaan, mengecup ubun-ubun Kyuubi dalam sebuah ciuman yang panjang dan penuh kasih sayang. Dia takkan pernah puas melakukan ini, karena memeluk Kyuubi seperti ini memberikannya kedamaian dan kebahagiaan yang tak ada bandingannya. Yang membuatnya merasa seakan-akan semuanya akan baik-baik saja.
…Tapi dia tahu itu hanyalah angan. Masalah masih bersisa. Dan sialnya, Naruto masih belum mendapatkan solusi terbaik yang bisa dia lakukan untuk menyelesaikan problema yang secara pasti akan mengancam kebahagiaan mereka ini.
Namun itu sendiripun hanyalah kebohongan. Dia telah lama, sangat lama, tahu jawaban dari permasalahan ini. Maka, ketika fajar telah tua dan matahari mulai mengintip dari balik cakrawala, Naruto menjatuhkan keputusannya.
"Kau sudah berkorban begitu banyak untukku…" Naruto tetap berkata walaupun tahu Kyuubi tak bisa mendengarnya. Tangannya bergerak melepaskan hitai-ate yang terikat di kepalanya, kemudian memandangi simbol Konohagakure itu dengan mata redup, senyum penuh tekad terukir di bibir sang Hokage muda.
"Kali ini, biarkan aku yang berkorban untukmu."
To be continued on Epilogue
Bahkan dengan namanya, Last Chapter ini masih menyisakan misteri. Apakah sebenarnya keputusan Naruto? Chakra dari apakah yang sebenarnya dirasakan oleh Naruto saat dia menemukan Kyuubi? Atau mungkin tepatnya, chakra milik siapa?
Jangan lewatkan chapter Epilogue yang akan keluar untuk menuntaskan semua misteri, sekaligus menutup fic ini!
Galerians, out.
