Ini adalah translasi dari cerita yang ditulis oleh theGuyWhoWroteAStory, sudah mendapat izin dari dia


Itu adalah bencana, bencana yang pasti tidak meninggalkan apapun kecuali kerusakan yang tak terkira. Para dewa sendiri akan menangis, matahari tidak akan pernah bersinar lagi, tidak akan ada yang sama lagi.

Aku telat ke kelas.

"Nama aku Adam Coates dan ini adalah cerita tentang bagaimana kehidupan aku hancur." Itulah bagaimana aku menulis awal dari autobiografi aku 20 tahun dari sekarang, tidak diragukan lagi. Ini adalah hal terburuk yang mungkin terjadi.

Sekarang, kamu mungkin berpikir aku terlalu bereaksi, tapi sebelum kamu menilai aku, aku ingin mengambil kesempatan untuk menjelaskan situasi aku secara rinci. Soalnya, tujuan utama aku di sekolah, tidak, di kehidupan adalah untuk tetap tidak diperhatikan dan senormal mungkin. Kenapa aku mau melakukan itu? Yah, jujur saja, jawabannya agak personal dan melibatkan banyak sekali faktor, tapi aku pikir kamu akan mengerti pada waktunya. Omong-omong, jika aku ingin tetap tidak diperhatikan itu berarti aku tidak bisa melakukan apapun yang menarik perhatian yang tidak perlu, termasuk terlambat datang.

Syukurlah, ini pertama kalinya aku telat datang, jadi konsekuensinya akan berdampak hanya sebentar saja. Yang terbaik, bisikan tentang aku seorang pecandu narkoba atau calo hanya akan berakhir paling lama beberapa jam sebelum terjadi hal lain yang mengalihkan sorotan dari aku. Soalnya, SMA Gensokyo cenderung memiliki banyak kejadian aneh yang di dalam dinding, dan terkadang di luar dindingnya.

Contohnya, seminggu yang lalu, seorang murid berjalan di aula saat istirahat periode keempat, lalu tiba-tiba dia meledak menjadi katak. Ya, kamu tidak salah dengar. Seharusnya, katak-katak itu berkumpul dan membentuk kembali menjadi murid yang utuh dalam waktu singkat, walaupun tanpa busana. Apa yang dia lakukan yang membuat dia terlibat dalam petaka ini? Well, berdasarkan rumor, sebelum dia berubah menjadi katak dia merayu seorang gadis.

Yap, benar, hanya itu yang dia perbuat. Mungkin ada orang yang bilang dua kejadian ini tidak ada kaitannya. Namun, setelah menghadiri SMA Gensokyo untuk beberapa waktu, aku belajar pelajaran tertentu yang aku selalu simpan di belakang pikiranku:

Di sekolah ini, bahkan hal kecil dan tidak berbahaya seperti merayu seorang gadis atau telat ke kelas dengan mudahnya berubah menjadi suatu hal yang berbeda total.

Itulah mengapa aku sangat gugup kalau telat, dan kenapa aku tetap sangat waspada di saat aku menyelinap melintasi aula sekolah yag sudah kosong menuju ke ruang wali kelas aku. Untungnya, aku mendapatkan sedikit keajaiban menghindari kepala sekolah, tapi aku tahu keberuntunganku tidak akan bertahan selamanya. Setelah beberapa saat, aku akhirnya sampai di tujuan tanpa memberi tahu siapapun dan dengan pelan membuka pintu… lalu bergerinyit di saat engsel tuanya mendecit dengan keras, seketika menarik perhatian semua orang yang di dalam kelas ke aku.

Yah, sepertinya bertingkah seperti Solid Snake sampai ke kursi aku tidak akan bekerja.

"Tn. Coates, " Dia berkata dengan nada sengau. "Saya percaya kamu tahu kalau kamu telat?"

"Ya, Tn. Wakabayashi, Saya minta maaf." Aku berharap dia tidak bersikap keras jika aku memanggil nama panjangnya, walaupun itu merepotkan dan aku tidak yakin aku mengucapkannya dengan benar.

Tn. Waka mendengus. "Baiklah, karena ini pelanggaran pertama kamu, Saya akan bermurah hati dan tidak menghukum kamu untuk saat ini. Namun, aku berharap hal ini tidak akan terulang kembali. Sekarang duduk di kursi kamu."

Sukses! "Ya Tn. Wakabayashi." Aku berkata, berterima kasih kepada rasa simpati Tn. Waka yang langka. Namun, aku belum keluar dari wilayah bahaya.

Ingat mengenai "hal-hal aneh" yang aku bicarakan tadi? Well, kebanyakan dari hal-hal aneh yang terjadi di sekitar sini lebih mengarah ke murid-murid youkai. Youkai sendiri adalah spesies yang aneh, mereka lebih cenderung ke sihir dan membuat masalah setiap waktu, terkadang kamu tidak bisa melihat sebuah masalah sampai mereka melakukan trik aneh. Itulah mengapa aku memilih untuk menjauh dari mereka apapun resikonya. Lagipula, apa mungkin aku bisa memiliki harapan untuk mencapai kehidupan yang normal dan membosankan jika aku bergaul dengan orang-orang seperti mereka?

Sayangnya, aku sudah ditetapkan untuk duduk di sebelah orang yang adalah youkai. Yang lebih tidak beruntungnya, sepertinya dia sangat tertarik mengapa aku terlambat hari ini karena dia terus menatapku sejak aku berjalan ke kursi aku. Maksudku, murid lain juga menatap, tapi saat aku bilang menatap, dia menatap. Seolah-olah matanya menusuk tepat ke dalam jiwaku.

Alhasil, yang mana seharusnya berjalan selama lima detik ke kursi aku menjadi terasa bertahun-tahun. Bahkan ketika akhirnya duduk, dia tidak berhenti menatap aku. Itulah mengapa aku tidak ingin bergaul dengan youkai, mereka semua aneh seperti ini.

Aku menjaga pandanganku ke depan, mati-matian mencoba untuk tidak melihat kearahnya, tapi dia tetap menatapku dengan mata ungu sialan itu. Jika dia belum berhenti juga, tidak dipungkiri orang-orang akan tersadar, dan lalu harapan dan mimpiku untuk kehidupan yang normal benar-benar usai. Sekarang, alih-alih aku menjadi bandar narkoba atau calo, rumor akan berganti kalau aku adalah youkai, atau setidaknya bersekutu dengan mereka. Yang mana sesuatu yang aku tidak inginkan.

Jadi, aku melakukan satu-satunya yang aku pikirkan, aku berdoa kepada dewa apapun yang memutuskan menaruh aku di posisi ini. Tolong buat Patchouli berhenti menatap aku, aku mohon.

Syukurlah, sepertinya kepada siapapun aku berdoa akhirnya mendengar, dan Patchouli mengalihkan perhatiannya kuliah membosankan Tuan Waka tentang Matematika atau apalah. Tapi yang terpenting adalah dia akhirnya berhenti menatapku. Aku terlalu sibuk merasa lega untuk mendengarkan pelajaran Tuan Waka dan selang kemudian, bel berbunyi. Semua orang bernafas lega selagi mereka dengan lemas berdiri dari kursi mereka.

Sekarang, aku? Aku ingin melompat dari kursiku dan berlari ke luar ruangan secepat mungkin. Namun, itu akan menarik perhatian, dan kita tidak mau itu. Jadi alih-alih aku menetap untuk membereskan barang-barangku sedikit lebih cepat dari biasanya dan berharap aku bisa keluar dari mimpi buruk yang menyeramkan dengan segera. Sayangnya, aku bersiap-siap untuk pergi di saat yang bersamaan dengan Patchouli. Tidak mungkin aku duduk kembali dan berpura-pura aku masih sibuk tanpa Patchouli sadar. Jadi, akhirnya, kita terpaksa berdiri bersampingan di saat murid-murid yang tersisa keluar dari kelas dengan sangat lambat. Aku berpikir ini baik-baik saja, tentunya Patchouli sudah lupa tentang aku sekarang, ya kan?

"Hei."

Aku membeku. Aku tahu siapa yang berkata itu.

Aku perlahan-lahan menghadap Patchouli, yang mana menatap aku lagi dengan mata ungu yang tertutup setengah.

"Ya?"

"Mengapa kamu terlambat hari ini?" Dia bertanya dengan nada bosan.

"Uh… hanya masalah alarm, tidak serius kok," Aku tertawa dengan canggung. Keluarkan aku dari sini, keluarkan aku dari sini, keluarkan aku dari sini.

Patchouli melihat aku. "Masalah… alarm?" Dia mengulang, tentu saja curiga.

"Y-Ya! Uh…" Aku dengan gugup melihat ke arah antrian dan merasa bersyukur ketika aku melihat celah. "Samapi jumpa lagi, Patchouli!" Aku buba dari percakapan dan bderjalan dengan cepat keluar dari kelas.

Aku berharap aku tidak melihatnya lagi.

"Dadah…" Patchouli dengan lambaian tangan kecil, tapi Adam sudah terlalu jauh dari pendengarannya.

"Yo, Patchouli!" Sebuah suara yang Patchouli sangat kenal memanggilnya. Dia berputar tepat waktu untuk melihat temannya Marisa Kirisame dan Reimu Hakurei, berjalan ke arahnya.

"Apa kamu sudah siap untuk nanti?" Marisa bertanya.

"Aku pikir aku siap." Patchouli menjawab.

Marisa tersenyum. "Bagus! Omong-omong, siapa anak itu?" Dia bertanya sambil menunjuk ke arah murid laki-laki yang dengan canggung berjalan cepat menjauh dari mereka.

Patchouli menghela nafas, sesuatu yang dia selalu cenderung melakukannya. "Tidak ada. Yang terpenting, aku bisa konfirmasi kalau ya, barang itu ada di dalam kotak makannya."

Reimu mengangguk. "Bagus, itu seharusnya membuat semuanya lebih mudah bagi kita."

"Yeah, lebih mudah, ze." Marisa berkata dengan nada yang membuat Patchouli mempertanyakan kalau dia sedang sarkastik atau tidak.

"Omong-omong, mari kita bertemu di ruang klub saat makan siang, oke?" Reimu memberi saran.

"Rencana yang bagus. Ayo, kita ke kelas kedua, ze. Aku bertaruh Yuyuko akan meminta kita membuat sesuatu yang enak hari ini." Marisa berkata.

"Yuk. Sampai jumpa nanti, Patvhouli." Reimu mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi dengan Marisa.

Patchouli seharusnya pergi ke kelas dia selanjutnya juga, tapi dia berhenti untuk mencuri tatapan terakhir ke arah Adam menghilang. Dia sudah tidak kelihatan lagi, tentunya, tapi Patchouli masih terganggu.

Adam menarik banyak perhatian hari ini, bukan? Aneh, aku penasaran jika ada sesuatu yang terjadi. Patchouli berpikir.