Disclaimer : Tite Kubo.
Warning : OOC (maybe), gaje, abal, Typo(s), alur kecepetan, dan maksa..
A/N : okeh chap ketiga hadir, semoga tidak mengecewakan hum atas review dari yang log in mauapun tidak log in, bukan hanya itu aku berterima kasih bagi kalian yang bersedia untuk membaca fic saya, arigatou gozaimasu. Maafkan keterlambatan ini *pundung*. Thx to yuminozomi, makasih yang udah rajinnya bertanya tentang fic ini ^^
Okeh ini dia.
Selamat membaca ^^
Don't like don't read.
A Star and A Bee.
Cold... It's Ice Cream.
"Soifon!" ibunya langsung berteriak saat menatap Soifon pulang dengan tubuh basah kuyup, dan wajah pucat membingkai wajahnya.
"Ada apa?" kakaknya langsung berlari ke depan pintu saat mendengar teriakan dari ibunya. Lalu, dia terdiam menatap Soifon di hadapannya, "Sudahlah, ayo masuk," Yoruichi langsung menarik Soifon masuk.
Sementara tubuhnya ditarik Soifon hanya diam, pikirannya masih terpaku pada beberapa jam yang lalu.
Flashback.
"Baka," sebuah umpatan terdengar di sela-sela kencangnya suara hujan. Soifon hanya membuang wajahnya menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Soifon dengan nada sedikit bergetar. Soifon berusaha bangkit, namun saat berdiri tubuhnya kembali oleng dan langsung ditahan oleh Ggio.
Ggio hanya menatap perempuan dihadapannya, "Lihat, berdiri saja kau tak mampu," Soifon hanya mengalihkan pandangannya.
Seketika, dia langsung mendorong tubuh Ggio, "Lepaskan," Soifon menepis tangan Ggio. "Ini bukan urusanmu, jangan menggangguku," Soifon menatap tajam Ggio.
Ggio langsung menggerakkan tangannya dan menyentuh bahu Soifon, "Sudah, sudah cukup," Soifon kembali mengalihkan pandangannya, dia tak ingin menatap bola mata keemasan yang sangat mirip dengan kakaknya itu. Setelah itu, Soifon merasakan tangan Ggio menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk kedalam gedung sekolahannya. Yang Soifon tidak mengerti, kenapa dia hanya diam dan mengikuti laki-laki ini?
Lalu, mereka berhenti didepan ruang kesehatan. Ggio menyuruh Soifon duduk, dan dia segera mencari peralatan untuk mengobati bengkak dipergelangan kaki Soifon. "Kenapa?" tiba-tiba Soifon bersuara, dan membuat Ggio menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia menatap Soifon yang duduk di belakangnya, Soifon melontarkan pertanyaan itu tanpa menggerakkan sedikit pun kepalanya.
Ggio kembali mencari kotak kesehatan, "Kenapa kau menolongku? Padahal kita tidak saling kenal," Soifon kembali bersuara. Namun, kali ini dia menatap punggung Ggio.
Ggio hanya mendesah mendengar pertanyaan dari Soifon, dia segera mengambil kotak kesehatan diatas rak dan kembali berdiri di hadapan Soifon. Ggio berlutut dihadapan Soifon untuk mempermudah dirinya dalam mengobati Soifon. "Ggio, Ggio Vega, kau?" Ggio kembali memperkenalkan dirinya.
Soifon hanya menatap Ggio dengan bingung, "Aku sudah tahu namamu," ucap Soifon.
"Sudahlah, cepat katakan siapa namamu," ucap Ggio dengan nada sedikit tinggi. Lalu, dia membuka kotak kesehatan itu dan mulai membuka sepatu Soifon.
"Namaku... Shiho-err.. maksudku Soifon," Soifon akhirnya menyebutkan namanya. Ggio mengeluarkan perban dari kotak kesehatan itu dan mulai memerban luka bengkak di pergelangan kaki Soifon.
"Sekarang kita sudah saling kenal, kan? Jadi aku sudah boleh membantumu?" Soifon terkejut mendengar jawaban Ggio. Lalu, dia menatap Ggio lekat-lekat. "Sudah," Ggio bersuara saat dia selesai memerban luka itu.
"Aku ingin pulang," ucap Soifon. Ggio mengangkat kepalanya dan menatap iris abu milik Soifon dari jarak dekat. Merasa risih, Soifon segera mengalihkan pandangannya dan turun dari kasur yang sedari tadi dia duduki. Soifon segera berjalan dan membuka pintu ruang kesehatan itu.
Ggio menatap punggung Soifon dan segera menahannya, "Masih hujan," ucapnya. Soifon membalikkan badannya dan menatap Ggio, lalu dia segera menepis tangan Ggio.
"Hujan adalah temanku," Soifon sedikit berseringai, dan seegra berlari meninggalkan Ggio.
End Of Flashback.
Kini Soifon sudah duduk dikasur miliknya sendiri, dia masih menatap perban yang dibalutkan oleh Ggio di kakinya. "Arigtou," Soifon langsung membaringkan tubuhnya.
Sunsun duduk diruang tamu miliknya sendiri, dihadapannya terdapat dua orang permpuan lain. Yang satu berambut coklat panjang, dan yang satu berambut biru pendek. "Shaolin Shihoin, huh?" ucap perempuan berambut biru.
Perempuan tadi langsung melempar foto-foto itu kembali ke meja di hadapannya. Foto-foto itu berisi gambar Ggio dan Soifon yang sedang berada ditengah hujan. "Jangan sok, Apache," perempuan berkulit cokelat dan memiliki rambut senada langsung menatap Apache dengan tatapan mengejek.
"Apa yang kau maksud, Mila Rose?" Apache langsung menatap galak Mila Rose.
Sementara mereka berdua akan mulai pertengakaran, Sunsun langsung berdiri menyalakan rokok yang bertengger di bibirnya. Dia juga mengambil foto Ggio dan Soifon, lalu dia berdiri menatap taman dibelakang rumahnya melalui kaca besarnya.
"Perempuan itu tidak bisa dimaafkan," Apache dan Mila Rose langsung terdiam dan mengangguk tanda menyetejui pernyataan Sunsun. Sunsun mendekatkan ujung rokoknya sehingga menyentuh ujung foto itu. Dan perlahan foto itu mulai terbakar. "Lihat saja, Shaolin Shihoin," Sunsun kembali melempar foto itu ke meja, "Tidak, lebih tepatnya Soifon," Sunsun kembali menyeringai saat foto itu terbakar sempurna.
"Tia!" seseorang melambaikan tangannya dan memanggil Halibel yang sedang duduk disalah satu meja di cafe tersebut.
Halibel segera memutar kepalanya dan meletakkan tehnya. "Nel..dan Grimmjow," mereka berdua langsung berjalan dan menghampiri Halibel.
"Aku sudah dengar dari Rangiku," Grimmjow membuka pembicaraan, "Kau akan membantu Sunsun, kan?" tanya Grimmjow memastikan jawaban yang telah diberikan Halibel mlalui telepon beberapa jam yang lalu.
Halibel menyesap tehnya perlahan, "Iya, aku akan membantunya. Kenapa kau ikut campur masalah Sunsun kali ini?" tanya Halibel. Grimmjow hanya memejamkan matanya sejenak.
"Hanya membantunya memberi pelajaran," Grimmjow sedikit mengertakkan giginya . Nel hanya diam menatap mereka berdua.
"Apa yang akan kau lakukan, Tia?" tanya Nel. Halibel menggerakkan matanya dan menatap Nel yang duduk disamping Grimmjow.
Halibel sedikit mendesah, "Memberi informasi seperti biasa, aku tidak suka mengotori tanganku," ucapnya dingin.
"Tidak apakah kau melakukannya? Aku pikir kalian sangat dekat," Nel kembali bersuara dan menatap bola mata hijau milik Halibel.
"Tidak apa, seperti Grimmjow aku akan membantunya untuk belajar," Nel hanya mengangukkan kepalanya.
Keesokkan harinya Soifon bangun seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda. Dia merasa kepalanya terasa amat berat, dan dia seolah berputar saat menginjakkan kakinya dilantai kamarnya. "Aku tidak boleh sakit," Soifon segera menepis rasa sakit yang mencoba menganggunya dan menggoyahkan niatnya untuk sekolah dan berlatih.
Dengan langkah cukup berat Soifon melangkah menuju kamar mandi yang ada disebelah kamarnya.
30 menit berikutnya Soifon selesai bersiap dan kini wajahnya sudah tidak sepucat tadi, dan dia terlihat lebih baik. "Baiklah, ayo pergi," ucap Soifon saat selesai merapikan pitanya. Lalu, dia segera pergi ke sekolah.
Setibanya di sekolah dia langsung disapa oleh Orihime. "Ohayo, Soifon!" Soifon yang sedang membuka lokernya menatap Orihime yang baru saja datang.
"Ohayo," jawab Soifon datar. Dengan semangatnya seperti biasa Orihime langsung mendekati Soifon
"Soifon, kau harusnya tersenyum," Orihime menyontohkannya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Orihime dari belakang. "Tatsuki-chan!" Orihime berseru menatap sahabatnya itu dan mereka berduapun mengobrol dengan begitu antusias. Soifon hanya menghela napasnya dan menatap loker di sebelahnya.
'Dia belum datang?' batin Soifon menatap cukup lama loker itu.
Brak.
Suara keras itu membuyarkan lamunan Soifon. "Apa yang sedang kau lihat? Menungguku?" Soifon mengangkat kepalanya dan menatap sosok laki-laki berkepang itu berdiri dihadapannya sambil berseringai.
"Sepertinya begitu," Soifon balas berseringai. Ggio terkejut melihat reaksi itu. Lalu dia menggerakkan tangannya dan menyentuh dahi Soifon.
"Ada apa denganmu? Kau sakit?" Ggio mengerutkan dahinya saat menyentuh dahi itu, dan dia menatap mata Soifon. "Panas, kau sakit?" mendengar pernyataan itu Soifon langsung menepis tangan Ggio dan segera berbalik.
"Tidak, aku baik-baik saja," diapun menutup pintu lokernya dan segera berlari menuju kelasnya.
Ggio hanya menatap bingung Soifon. Tapi sikap soifon semakin memperkuat dugaannya, bahwa perempuan itu sedang sakit dan dia tidak ingin mengakuinya.
Ggio pun segera menutup lokernya dan berjalan menuju kelasnya. Saat Ggio mulai berjalan dia menatap Apache berdiri di ujung koridor sedang menatapnya. Saat Ggio menatap perempuan itu, dia segera berbalik dan meninggalkan koridor itu. "Perempuan yang merepotkan," Ggio kembali berjalan.
Soifon menaiki tangga menuju kelasnya, saat berada dipuncak tangga dia menatap Sunsun berjalan kearahnya. Sunsun tersenyum seperti biasanya, dan saat melewati Soifon dia sedikit berseringai. Soifon segera memutar kepalanya menatap punggung perempuan itu. Seorang perempuan berkulit cokelat menunggunya, dan berjalan bersama Sunsun. Saat akan berbelok Sunsun menatap Soifon sebentar dan akhirnya dia menghilang di balik tikungan.
"Siapa perempuan itu?" seseorang menepuk bahu Soifon, sehingga membuatnya terkejut. "Hinamori!" Soifon menatap managernya itu.
"Apa yang sedang kau lakukan dengan tatapan seperti itu?" tanya Hinamori dengan senyumnya.
"Kau membuatku terkejut, aku akan ke kelasku. kau sendiri?" tanya Soifon.
"Kau lupa kelasku disini," Hinamori tertawa pelan. Soifon meganggukkan kepalanya.
"Baiklah aku duluan," Soifon melangkahkan kakinya.
"Anoo..Shaolin-san kemarin Hitsugaya-kun.." Soifon menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Hinamori.
"Ada apa dengan Hitsugaya?" tanya Soifon.
Lalu Hinamori tersenyum dan menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa," Soifon hanya menautkan alisnya dan segera berjalan menuju kelasnya.
Sedangkan di belokan tingkungan tadi Sunsun masih berdiri disana.
"Dia mengikuti klub lari, dan akan mengikuti lomba hari minggu besok," ucap Mila Rose.
"Sunsun," sebuah suara membuat Mila Rose dan Sunsun menoleh.
"Halibel-senpai," Sunsun tersenyum menatap kakak kelasnya itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Halibel dengan datar seperti biasa.
"Tidak ada," Sunsun hanya tersenyum membalas pertanyaan Halibel.
"Masuklah ke kelasmu," setelah mengatakan itu Halibel langsung kembali berjalan dan meninggalkan mereka.
Bel istirahat berbunyi.
Entah kenapa Soifon merasa enggan untuk meninggalkan kursinya, tubuhnya terasa berat. Sehingga dia hanya membaringkan kepalanya di meja "Soifon, kau baik-baik saja?" tanya Orihime dan Tatsuki dengan cemas. Dengan kepala yang masih terbaring Soifon hanya menggelelng pelan.
"Aku tak apa-apa, kalian pergilah lebih dulu," ucapnya serak, lagi pula dia sedang tidak berminat makan sekarang mengingat tubuhnya tak dapat menerima tambahan berat lagi.
"Tapi.." Orihime berusaha membantah tapi lengannya langsung di tarik Tatsuki.
"Sudahlah, biarkan dia beristirahat sejenak. Lagipula Ulquiorra sudah menunggumu dari tadi," Orihime memutar kepalanya dan menatap Ulquiorra berdiri di depan pintu sambil melihat jam.
Orihime tersenyum melihat pemuda itu, "Baiklah aku duluan, Soifon tapi kalau kau merasa kurang enak badan datang saja ke ruang kesehatan," anggukan lemah menjadi tanda persetujuan dari Soifon. Setelah itu ruangan kelas itu menjadi sepi.
Hampir rata-rata seluruh murid pergi menghabiskan waktu meeka diluar kelas. Napas Soifon semakin menderu, dia merasa sangat pusing. Dia menggerakkan kepalanya dan mencoba duduk tegap di kursinya. Sambil menatap keluar kelas dia melihat Ggio berjalan melewati kelas itu.
Soifon mendesah pelan, karena merasa Ggio tak melihatnya. Padahal Ggio mengamati kondisinya tanpa dia ketahui. Soifon ingin sekali pulang tapi tak bisa karena dia harus segera berlatih untuk pertandingan itu. Dan akan ada pemilihannya besok.
Entah kenapa tiba-tiba Soifon meraa dirinya sendiri, tak ada siapapun di sekelilingnya dan ini terdengar menyedihkan. Soifon memejamkan matanya sejenak.
Tanpa dia sadari Ggio berjalan memasuki kelas itu dan mendekati Soifon, "Dingin!" Soifon langsung berseru saat merasakan tangan dingin itu menyentuh pipinya. Dengan reflek dia langsung membuka matanya.
"Kau!" Ggio hanya berseringai dan duduk di atas meja Soifon, "Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanyanya galak. Ggio hanya menanggapinya dengan tatapan mengejek.
"Membangunkanmu," Ggio kembali menyentuh pipi Soifon, dan Soifon kembali menyernyit dingin.
"Apa sih yang ada di tanganmu?" Ggio hanya tertawa pelan melihat rekasi Soifon.
"Tidak ada, hanya saja aku baru selesai menghabiskan esku," deretan giginya kembali dia tampilkan. Soifon hanya membuang wajahnya kesal.
"Ini," Ggio memberikan eskrim batangan kepada Soifon. Tapi, Soifon malah menatap aneh eskrim itu.
"Dingin!" Soifon kembali menatap tajam Ggio, dan Ggio kembali tertawa saat melihat eskrim yang dingin itu menyentuh kulit putih Soifon.
"Ambil," perintah Ggio. Tapi Soifon kembali memalingkan wajahnya dengan angkuh. Ggio mendengus kesal dan sebuah sneyum menyebalkan terukir di wajahnya.
"Pantas kau tak suka eskrim, kau sama sekali tidak manis," Ggio menggerakkan tangannya dan senyum jahil merekah di bibirnya, "Padahal.." Ggio menyentuh rambut kepang Soifon dan membuat pemiliknya memandang iris keemasan Ggio. Wajah mereka sangat dekat sehingga menimbulkan semburat merah di pipi Soifon, "Lebah itu manis."
Jantung Soifon langsung bergerak tak karuan saat mendengar kata-kata terakhir itu, "Sini," dengan cepat Soifon langsung mengambil eskrim itu dan melepaskan rambutnya dari tangan Ggio. Sontak Ggio kembali tertawa melihatnya.
"Kau itu sangat angkuh, ya?" ucap Ggio sambil mengacak rambut Soifon. Soifon hanya tersenyum dalam hatinya dan mulai menjilat eskrim di tangannya. Melihat apa yang dilakukannya sudah cukup, Ggio melompat turun dari meja Soifon.
Soifon bingung dengan sikap itu, "Tunggu, kau mau kemana?" Soifon langsung menggigit bibir bawahnya saat menyadari ucapannya dan dia kembali membuang wajahnya.
"Kelasku bukan disini, Soifon," baiklah, sekali lagi jantung Soifon langsung terlonjak saat mendengar namanya disebutkan oleh Ggio, "Tenang saja kita akan bertemu lagi kok," Ggio kembali tersenyum jahil dan menatap Soifon dengan smeburat merah di pipinya.
"Si-siapa juga yang ingin kembali bertemu denganmu," jawab Soifon gugup, dan Ggio langsung berjalan menuju pintu, "Tapi, arigatou," suara Soifon sangat kecil saat mengucapkannya tapi cukup untuk membuat Ggio mendengarnya. Ggio berbalik sebentar dan tersenyum. Setelah itu pintu kelas kembali tertutup.
Dengan semburat merah Soifon menatap eskrim itu. Dia tidak mengerti apa artinya ini tapi dia menjadi semangat saat melihat Ggio tersenyum kearahnya.
Saat pulang sekolah.
Soifon sekali lagi melihat Ggio pulang bersama anak junior yang waktu itu. Hal ini membuatnya bertanya-tanya siapa perempuan itu? Pacarnyakah? Soifon langsung menggeleng dan berjalan menuju rumahnya.
Saat tiba di rumahnya dia mematung untuk sementara saat membuka ruang keluarga, mengira semua anggota keluarganya berada disana, "Okaerina..sai," Soifon terkejut saat dia menatap Byakuya duduk diruang keluarga, "SENSEI!" pekik Soifon, dengan gayanya yang biasa Byakuya hanya menatapnya sekilas dan kembali menatap lukisan didepannya.
"Tenang dulu, Soifon," Yoruichi masuk membawa minuman untuk Byakuya. "Dia hanya datang untuk menemuiku," Soifon bernapas lega, dia berpikir Byakuya akan melaporkan catatan larinya.
"Kalau begitu saya permisi," Soifon membungkukan badannya dan berjalan menuju kamarnya, samar-samar dia mendengar pembicaraan Byakuya dan Yoruichi.
"Tidak, dia baik-baik saja, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Yoruichi, langkah Soifon terhenti jantungnya langsung berdegup cepat.
"Dia terlihat aneh, lebih baik kau bertanya padanya. Dan tentang perlombaan lari nanti.." Soifon tak dapat mendengar lanjutan dari pembicaraan mereka karena Soifon telah berlari terlebih dahulu menuju kamarnya.
Blam.
Bunyi bantingan pintu terdengar, Soifon langsung melempar tasnya dan merebahkan tubuhnya.
"Kenapa mereka selalu membahas lari.. lari.. lari dan lari.." Soifon mematut dirinya dicermin, "Aku aneh?" Dia memutar tubuhnya, dan tiba-tiba dia teringat akan Ggio, dia menyentuh pipinya. Tiba-tiba semburat merah itu langsung muncul. Soifon langsung menggelengkan kepalanya dan duduk meja belajarnya.
"Mungkin dengan belajar akan memperbaiki moodku," Soifon membuka lembar-perlembar yang ada dihadapannya dan mulai belajar.
"Huh, besok hari pemilihan," jantungnya berdegup cepat saat memikirkan hal itu. "Baiklah aku harus lolos," Soifon meninju udara dengan bersemangat.
"Ggio," panggil Lilynette, dan saat dia menoleh sebuah pukulan mendarat telak dikepalanya.
"Sakit," Ggio mendesis dan menatap perempuan yang masih duduk manis dimotornya, "Apa yang kau lakukan? Baka!," bentak Ggio sambil menyentuh wajahnya.
"Kau kenapa? Tiba-tiba bengong," Ggio mengangkat Lilyentte turun dari motornya dan menggendong gadis kecil itu masuk kerumahnya.
"Bukan urusanmu, nona manis," Ggio menurunkan Lilynette tepat dipintu masuk dan membunyikan belnya. "Nah, sampai jumpa besok," Ggio melambaikan tangannya dan berbalik, setelah itu asap knalpot memenuhi pekarangan rumah itu.
Ggio menatap jalan raya didepannya, tiba-tiba didepannya Sunsun berdiri dan merentangkan tangannya. Sontak Ggio buru-buru mengerem dan membuat bunyi gesekan di aspal sore hari itu.
"Sunsun," peremuan bermabut hijau itu tersenyum, dan menghampiri Ggio.
"Kopi?" tawarnya, Ggio hanya melirik perempuan itu sejenak dan mendesah.
"Baiklah," Ggio memakirkan motornya disana dan berjalan kaki menuju kafe terdekat dengan Sunsun.
"Kenapa kita tidak naik motormu saja?" tanya Sunusn saat melihat Ggio malah memarkirkan motornya.
"Sudah ada yang punya," Sunsun mendengus dan mengalihkan tatapannya.
"Gadis junior itu?" tanyanya sinis, Ggio langsung mendelik dan menatap Sunsun tajam.
"Apa?" Sunsun langsung menggeleng cepat dan menarik Ggio bur-buru untuk memasuki kafe itu. "Apa yang kau inginkan? Aku rasa hubungan kita sudah berakhir," Sunsun hanya menatap Ggio sejenak dan kembali menatap daftar menu dihadapannya.
"Kau pesan apa?" Ggio mendelik menatap Sunsun, "Aku pesankan untukmu," Ggio hanya menatap aneh perempuan dihadapannya, apa yang sebenarnya yang diinginkan perempuan ini?
"Kau tadi bicara apa Ggio?" Ggio memukul meja dihadapannya dengan pelan, namun cukup membuat Sunsun terkejut.
"Aku tidak sedang bercanda, apa yang kau mau?" Sunsun hanya tersenyum bak putri raja, dia tersenyum anggun sekali.
"Iya, aku tidak bilang bahwa aku ingin meminta hubungan kita kembali, bukan?" Sunsun memainkan rambutnya, "Aku hanya ingin mengobrol, tidak boleh?" Ggio mendesah dan kembali menatap pemadanngan disebelahnya, "Ah! Aku dengar kau dekat dengan perempuan dikelas seberang? Siapa namanya? Soifon?" Ggio menatap Sunsun.
Ggio bungkam dia tidak ingin membahasnya dengan Sunsun, "Ayolah kita hanya berbagi saja, aku akan bercerita bahwa aku juga sedang dekat dengan Tesla," Ggio mengangkat sebelah alisnya. Yang dia kenal Tesla tidak akan berhubungan dengan Sunsun, bagaimana bisa? "Apakah Soifon itu begitu menarik?" Ggio bersiap menjawab pertanyaan itu, namun terhenti karena pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Ya," Sunsun masih dengan tenangnya menyesap kopinya, "Setidaknya dia lebih baik daripada dirimu," Sunsun menghentikan gerakannya dan menatap tajam Ggio. Ggio hanya tersneyum melihat ekspresi itu. "Dia lucu, baik, dan sulit untuk mendapatkannya. Dan dia tidak mengejar aku sepeti perempuan lain. Yah, dia memiliki apa yang tidak kau miliki pastinya," telinga Sunsun panas mendengarnya.
Tangannya bergetar, membuat bunyi-bunyi gesekan antara gelas dan piring yang dia pegang. Hingga akhirnya gelas itu pecah dan mengeluarkan semua isi yang ada didalamnya. Sunsun bangkit berdiri dan mengambil tasnya. Dengan tatapan tajam dia berjalan meninggalkan kafe itu.
Semua orang menatap adegan yang baru saja terjadi, sedangkan Ggio hanya tersenyum sambil menyesap kopi miliknya sendiri.
Keesokkan harinya.
Pemilihan siswa yang akan mengikuti perlombaan tingkat Nasional digelar. Beberapa siswa memilih tinggal dan menyaksikan pemilihan tersebut sambil mendukung jagoan mereka.
"Baiklah, kita akan mengadakan pemilihan sekarang, aku tidak akan mengasihani kalian jika kalian gagal," jantung Soifon tak hentinya berdetak cepat.
"Akan dipilih 2 orang dari sekolah kita. Semuanya duduk dengan tenang hingga namanya dipanggil," dengan teratur mereka semua duduk dipinggir lapangan.
"Ulquiorra Schiffer," pemuda bermabut hitam dan berkulit pucat langsung melangkahkan kakinya dan bersiap diposisinya. "Dalam hitungan ketiga. 1... 2...3," Ulquiorra langsung berlari selama dua putaran. Sorak sorai dari para pendukung Ulquiorra langsung bergemuruh.
Tak lama Ulquiorra berhenti dihadapan Byakuya, "Silakan duduk. Hitsugaya Toushiro," Hitsugaya melangkah dan langsung berlari pada aba-aba ketiga. Sama seperti Ulquiorra dalam sekejap lapangan menjadi riuh. Tepuk tangan dan sorak-sorak pendukung terus mengalir. Setelah beberapa menit pemuda berambut putih tu berhenti dengan napas terengah-engah.
Hinamori berjalan dan memberikan handuk kepadanya, Hitsugaya menatapnya, "Terima kasih," Hitsugaya pun berlalu dan menghampiri Soifon. Hinamori hanya diam dan kembali ke kursinya.
"Giliranmu?" Soifon hanya menggeleng, dia benar-benar gugup sekarang dan tak dapat berbicara. "Tak perlu takut, kau pasti bisa," Soifon mengangkat kepalanya dan menatap mata Hitsugaya. Tak lama nama Soifon dipanggil. "Sudah waktunya,"
Soifon berjalan ke tempat yang ditentukan dan bersiap pada posisinya. Tidak ada yang menyebutkan namanya, hanya Orihime dan Tatsuki yang dapat ia dengar. Soifon memjamkan matanya jauh dari lubuk hatinya dia ingin banyak yang mendukungnya. Dalam pikiran seperti itu tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil.
"SOIFON!" Soifon langsung bangkit berdiri dan mendapati Ggio menggoyangkan pita putihnya. Soifon hanya bergumam melihat tindakan yang menurutnya memalukan.
"Baka," tapi saat dia kembali bersiap, dia tersenyum dia senang karena ada yang menyebutkan namanya sekeras itu.
Setelah beberapa menit Soifon berhenti.
"Baiklah Istirahat sejenak, 15 menit lagi pengumuman," Semuanya langsung menagmbil botol minum masing-masing. Hitsugaya memperhatikan Soifon sejak namanya diteriaki oleh Ggio.
Dia melihat perubahan dalam diri perempuan itu. Soifon menghabiskan minumannya dan duduk di pinggir lapangan, "Yo," Ggio menepuk pundak Soifon. Soifon berusaha bersikap tenang dan menyembunyikan kesenangannya.
"Huh, kau lagi," Dia membuang wajahnya, Ggio terkikik melihatnya, dia berjalan kedepan Soifon sehingga mereka sekarang berhadapan. "Aku bosan melihatmu."
"Bo..hong," Ggio menggerakkan tangannya hingga menjepit hidung Soifon dan menariknya.
"AW," erang Soifon dan memukul tangan Ggio memintanya melepaskan hidungnya.
"Kalau bohong hidungmu nanti tambah panjang loh," Soifon berdecak kesal dan memegangi hidungnya. Dari kejauhan Hitsugaya mengamati kedua orang itu tanpa mereka sadari.
Setelah beristirahat sejenak Byakuya kembali berdiri ditengah lapangan.
"Baiklah yang mengikuti perlombaan kali ini, Ulquiorra Schiffer," para pendukungnya yang rata-rata perempuan langsung berteriak histeris begitupula Orihime langsung menghampirinya dan memberinya ucapan selamat.
"Dan satu orang lagi.." Soifon mendengarkan pengumuman itu penuh harap, hingga sebuah dering ponsel membuyarkan konsentrasinya. Ggio mengangkat ponselnya.
"Halo," lalu terdengar suara cekikikan perempuan dari seberang telepon. Tanpa perlu Ggio melihat nama siapa yang menelpon dia sudah tahu siapa yang menelpon. Sunsun.
"Wow Ggio, foto kalian dibawah hujan sangat mesra," ekspresi Ggio berubah. Soifon menatapnya, dia bahkan tak pernah melihat ekspresi seperti itu dari Ggio.
"Darimana kau tahu?" suara itu lebih tepat disebut sebagai desisan.
"Di mading banyak foto kalian, kok," dia kembali terkikik, saat mendengar gemertakan gigi dari Ggio. Ggio langsung mematikan ponselnya dan berbalik.
"Tunggu," Soifon menahan gerakan Ggio. Ggio menatap Soifon dari sudut matanya. Seolah tak ingin perempuan itu melihat ekspresi kemarahannya dia berseringai.
"Lihat, kau tidak ingin berpisah dariku sekarang," Soifon menatap tangannya dan buru-buru melepaskannya.
"Yasudah, pergi saja sana," Ggio hanya tersenyum dan langsung berlari menerobos kerumunan. Tapi, Soifon masih mengamati punggung pemuda itu dengan tatapan khawatir.
Tiba-tiba suasana menjadi sepi dan semuanya menatap Soifon. Soifon terkejut saat menyadarinya, "Apa?"
To Be Continued.
Balesan review.
Kazurin Ishihara gak log in : hai ^^ yups.. terima kasih atas kritik dari qmu yang membantu saya ^^ terima kasih sudah membca dan mereviw fic ini. Sekali lagi terima kasih.
Relya schiffer g login lg : ahahah dikira film india ini? *buagh* hum hum. Qta lihat saja yah ^^ *dilempar* yaks makasih reviewnya lya ^^
NaMIKAze Nara : hai hai salam kenal.. aqu juga suka sama mereka..*tos* iyah kita liat ajah nanti, apakh Hitsu suka sama Soifon? reviewnya yah ^^
A/N : yups makasih bagi yang sudah baca..maafkan author ini yang sangat lama mengupdate fic ini. Lalu bagaimanakah chap ini? Makin gajekah? Astaga. Dimohon reviewnya teman-teman ^^
