Disclaimer : Tite Kubo.

Warning : AU, Gaje, Abal, Typo(S), OOC(maybe), alur kecepetan dan EYD sedikit berantakan.

A/N : Gak tau deh, tapi ini aqu jadi kayak balapan sama yuminozomi.. ehehehe tapi gak apa justru itu yang buat aqu semangat. Cerita dikit juga pas kemarin update fic ini dia beneran update fic juga ahahah lucu loh serius deh.. ^^

Dan yes! Kali ini aku memang dalam mood yang baik karena mengetik fic ini dibarengi dengan menonton Hakuouki Shinsengumi Kitan. Entah kenapa saya lagi tergila-gila sama anime itu ahahaahah. Jadi, maafkan aya kali hasil fic ini gak jelas *plak* hontou ni gomenne. eheheh

Chapter ini lombanya dimulai ayo tebak Soifon menang apa kalah?

Okeh selamat membaca.

Don't like don't read.

Enjoy.

A Star and A Bee.

Chapter 5.

Tired.


Hari ini cuaca cukup berawan, matahari tidak tampil seperti biasanya. Tampaknya dia telah terbuai oleh angin yang berhembus, membuat dia memilih untuk bersembunyi dibalik tebalnya awan.

Angin yang tadinya bertiup pelan sekarang berubah menjadi angin yang kencang, membuat suasana pagi itu semakin sepi dan dingin.

Soifon membuka tirai jendelanya, "Sepertinya akan turun hujan lagi," Soifon mendesah berat, dan menutup tirai jendela itu kembali.

"Soifon! Segeralah turun, sarapanmu sudah siap!" ibunya berteriak dari bawah. Soifon melangkahkan kakinya dengan berat. Dan berjalan menuju ruang makan.

Kondisinya tidak terlalu baik sejujurnya, mengingat kemarin dia kembali pulang dalam kondisi basah kuyup. Wajah putihnya tampak jauh lebih pucat dari biasanya. Soifon mengulurkan tangannya dan membuka pintu dihadapannya.

Dia terkejut saat melihat kakaknya dan ayahnya telah duduk manis di meja makan. Dia mengira mereka masih tertidur. "Soifon, semoga beruntung," Yoruichi langsung mengacak rambut Soifon lembut. Yeah, tentu aja mereka sudah bangun untuk menyemangatinya yang akan berlomba.

Soifon hanya mengangguk dan duduk dikursinya. "Nah, makanlah yang banyak, agar kau dapat memenangkan perlombaan nanti," ibunya memberikan semangkuk nasi kehadapan Soifon. Soifon hanya tersenyum pelan. Tanpa ibunya tahu satu beban lagi langsung tertambah dipundaknya.

Pagi itu, dia lewatkan dengan hening, diam dan pelan. Ya, dia sangat tidak ingin berbicara panjang lebar sekarang. Entahlah rasanya kepalanya menjadi pusing, dan dia tidak ingin terburu-buru pagi ini.

Jika awalnya dia sangat ingin mengikuti lomba lari itu, hari ini dia hanya ingin berbaring dikamarnya sepanjang hari. Entahlah pertemuannya dengan Sunsun kemarin cukup membuat kepala dan telinganya lelah. Ucapan Sunsun selalu terngiang dikepalanya. Hal ini selalu memaksanya untuk kembali mengingat percakapan mereka kemarin.

"Soifon, benar?" perempuan itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya. Ingin rasanya Soifon berlari saja saat itu. Tapi tidak, dia malah menjabat tangan perempuan itu.

"Iya, kau siapa?" Sunsun tersenyum dan melepaskan tangannya. Dia langsung berbalik dan menatap Soifon.

"Ada yang ingin aku sampaikan tentang..." Sunsun sengaja menjedakan kalimatnya. Menunggu reaksi Soifon, Soifon hanya diam dan menautkan alisnya. "Ggio Vega, kau mencarinya, kan?" Sunsun kembali memutar kepalanya dan berjalan.

Jika boleh memutar kembali, Soifon ingin rasanya tidak mengikuti perempuan itu. Tapi tidak, saat itu dia berlari dan menyusulnya. Sunsun hanya tersenyum licik saat menyadari Soifon berjalan dibelakangnya.

Cring. Bunyi krincingan terdengar saat Sunsun dan Soifon memasuki sebuah kafe. Mereka berdua langsung duduk ditempat yang jauh dari keramaian. "Apa yang ingin kau katakan?" Sunsun menggerakkan tangannya dan langsung menopang dagunya. Tangan yang satu lagi bergerak memainkan bunga yang ada ditengah-tengah meja.

Setelah itu dia mendesah dan kembali menatap Soifon, "Jangan mendekati Ggio lagi," ucapnya serius, Soifon terkejut mendengarnya. Otaknya langsung berputar cepat, mengolah perkataan itu. Lalu, dia menggeleng dan menatap Sunsun tajam.

"Kau siapanya?" Sunsun terkikik, dan kembali menopang dagunya. Soifon semakin menatap bingung Sunsun. "Apanya yang lucu?" nada Soifon kini sedikit meninggi. Sunsun menghentikan kikikannya.

"Kau memang lucu. Kau tidak tahu?" Sunsun memutar matanya dan memainkan rambut panjangnya, "Aku Sunsun, pacarnya Ggio," Soifon diam, hanya terdengar suara rintik-rintik hujan yang mulai turun. Beberapa kali Soifon mengerjapkan matanya tanda tidak percaya. Sunsun hanya tersenyum sinis menatap reaksi itu.

"Kau mencari Ggio, kan? Dia berada di rumah sakit sekarang karena kecelakaan," Soifon masih tidak bergeming, rasanya hari ini dia tidak berulang tahun, tapi kenapa begitu banyak kejutan yang ditujukan padanya? Padahal pemuda itu terlihat santai dan bebas, sama sekali tak terlihat dia telah memiliki kekasih. Dan kini orang yang merupakan kekasihnya itu mengatakan Ggio kecelakaan?

"Ggio tidak memberitahumu, kan? Tapi dia memberitahuku. Jadi menjauhlah darinya sekarang," Soifon segera berdiri dengan tiba-tiba membuat kursinya yang dia duduki terjatuh ke belakang. Dia masih menatap tajam Sunsun. Dia menarik nafasnya berusaha tenang.

"Aku memang tidak ingin mendekatinya lagi," Soifon langsung berbalik, tapi baru tiga langkah dia berjalan dia langsung berhenti dan berbalik, "Satu lagi, tolong sampaikan pada pacarmu. Kembalikan pita putihku," Soifon tersenyum sinis dan langsung berjalan. Dia dapat merasakan perempuan berambut hijau itu kesal.

Tapi, biarlah dia tidak ingin berbaik hati sekarang. dan saat dia keluar dari kafe itu Soifon langsung berlari dengan kencang. Tidak peduli berapa banyak tetes hujan yang ikut menemaninya. Dia hanya ingin berlari mengalihkan pikirannya dari ucapan yang baru saja dia dengar.

"... Fon, Soifon," Yoruichi mengguncang bahu Soifon pelan saat menyadari dari tadi Soifon tidak berada disana. Soifon mengerjapkan matanya dan menemukan tatapan cemas ibu dan kakaknya, "Kau baik-baik saja?" tanya Yoruichi khawatir.

Soifon menggeleng, dan memberikan sulas senyum, "Maaf, aku baik-baik saja," Yoruichi masih menautkan alisnya dan menatap Soifon curiga. Tapi Soifon buru-buru mengalihkan pandangannya dan menghabiskan makanannya. "Aku sudah selesai, terima kasih makanannya. Aku pergi," Ibunya hanya mengangguk mendengar rentetan ucapan Soifon.

"Kami akan menonton, hati-hati Soifon!" teriak Yoruichi, dan setelah itu pintu depan tertutup.

Wuuuus

Berada diluar jauh lebih dingin, angin yang bergerak cepat benar-benar membuat tubuhnya cukup gemetar. Soifon merapatkan jaketnya, dan segera berjalan menuju sekolahnya untuk berkumpul terlebih dahulu di klub lari.


Dirumahnya Sunsun mengeluarkan ponselnya dan menelpon Ggio. Dia hanya tertawa saat penerima pesan yang menjawab telponnya. Dia tahu Ggio hanya tidak ingin berbicara dengannya. Tapi, tidak apa dia tetap akan memberikan kabar baik ini padanya.

"Ggio, aku tahu kau disana," sapanya lembut, "Aku hanya ingin memberikan kabar untukmu, kemarin aku berbicara dengan Soifon," setelah mengatakan itu Ggio langsung mengangkat telpon itu, "Sudah kuduga kau akan tertatrik," Sunsun terkikik.

"Apa yang kau katakan padanya?" desis Ggio kesal, Sunsun memainkan tangannya. Dan menatap pigura yang berisi dirinya dan Ggio.

"Kau tidak lagi tertidur?" Sunsun kembali tersenyum saat mendengar Ggio kembali mendesis, "Baik, baik aku hanya mengatakan bahwa aku pacarmu. Haaah, rupanya dia tidak peduli," Sunsun berjalan dan menghempaskan tubuhnya dikasur besarnya. Dan setelah itu telpon terputus. Dia kembali terkikik dan kembali memandang pigura itu. "Kau terlalu tegang Ggio, santai saja dan nikmati pertunjukan ini," setelah itu terdengar suara tawa dari bibir Sunsun.


"Maaf saya terlambat, Kuchiki-sensei," Byakuya langsung menoleh dan menatap Soifon yang baru datang. Hinamori langsung berdiri dan menyiapkan teh hangat untuk Soifon.

"Segeralah duduk," Soifon hanya mengangguk dan berjalan menuju kursinya sendiri. Hinamori langsung menyuguhkan teh kehadapan Soifon.

"Kau baik-baik saja? Wajahmu merah," Soifon langsung menoleh menatap Hinamori. Tangannya bergerak menyentuh wajahnya. Benar wajahnya panas sepertinya dia akan demam. Tapi, tidak dia harus tetap mengikuti lomba hari ini.

"Aku baik-baik saja," Soifon kembali menatap Byakuya yang sedang memberikan pengarahan.

"Baiklah, semoga kalian berhasil, ayo kita pergi," mereka semua langsung berdiri dan berjalan menuju bus yang akan mengangkut mereka. Tiba-tiba Hitsugaya berhenti di hadapan Soifon. Hinamori berbalik menatap mereka, tapi dia langsung mengalihkan pandangannya dan masuk ke dalam bus.

"Apa?" tanya Soifon. Dengan cepat Hitsugaya menggerakkan tangannya dan menyentuh dahi Soifon. Soifon terkejut dengan perlakuan itu, dia pun langsung mundur selangkah dan menepis tangan Hitsugaya, "Apa yang kau lakukan?" tanya Soifon tajam.

"Shihoin, kau sa-hmmhp," perkataannya terhenti karena Soifon menutup mulut Hitsugaya. Jarak mereka sangat dekat, kedua bola mata itu saling bertatapan. Tatapan Soifon berubah menjadi sedikit sedih.

"Kumohon, jangan katakan pada siapapun hingga pertandingan berakhir," suaranya sangat pelan dan lirih. Hitsugaya menggerakkan tangannya menyentuh tangan Soifon dan menurunkan tangannya.

"Apa yang kalian berdua lakukan, cepat masuk," perintah Byakuya, mereka berdua langsung menoleh dan mengangguk. Soifon berjalan dan masuk lebih dulu. Dia memilih duduk dengan Mashiro. Sementara saat Hitsugaya masuk dia menatap tinggal satu kursi yang belum terisi.

"Boleh aku duduk disini?" Hinamori mengangkat kepalanya, dan menatap Hitsugaya.

"Tentu," dia tersenyum, dan Hitsugaya duduk disebelah Hinamori. Sesekali dia melirik Soifon yang duduk tak jauh dari dirinya, dan berakhir dengan desahan berat dari bibirnya.

30 menit berikutnya.

Mereka tiba di stadion, dan bersiap untuk melakukan perlombaan. "Ulquiorra, kau yang pertama, kita akan menentukan urutan start terlebih dahulu," Ulquiorra hanya mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya ke tengah lapangan. Saat tiba disana Orihime berteriak, "Ulquiorra! Ganbatte!" Orihime berteriak dengan begitu semangat.

Ulquiorra hanya mengalihkan pandangannya dengan angkuh, seolah dia ingin mengatakan kalau dia tidak suka dengan tindakan itu. Bunyi tembakan terdengar, dan Ulquiorra langsung berlari mengitari lapangan itu.

"Shihoin," Soifon mengangkat kepalanya dan menangkap botol minum yang diberikan Hitsugaya. Soifon menoleh menatap Hitsugaya, dan Hitsugaya mengerakkan tangannya memberi isyarat agar dia meminumnya. Setelah itu Hitsugaya langsung berbalik dan menatap Ulquiorra.

Soifon menatap botol itu, rupanya dia menyelipkan obat di pembungkusnya. Soifon membuka pembungkus obat itu, dan membuka tutup botol. Dia menegak obat tersebut bersama dengan air yang diberikan oleh Hitsugaya.

"Shihoin, giliranmu," Soifon berdiri dan bersiap di posisinya. Bunyi tembakan terdengar dan dia langsung berlari. Iya, dia merasa kondisinya lebih baik sekarang. rasanya rasa pusing yang dari tadi membayanginya hilang dalam sekejap.

"Soifon!" Soifon semakin menambah kecepatanya saat mendengar suara Yorucichi di bangku penonton. Ya, keluarganya telah tiba dan menonton perlombaan itu. Hal itu semakin membuat Soifon bertekad untuk menang dan tidak mengecewakan orang tuanya.

Beberapa menit berikutnya.

"Hosh.. hosh.." Byakuya menatap Soifon, "Bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum. Ingin rasanya Byakuya memberikan pujian pada perempuan itu, tapi tidak karena pertandingan belum dimulai.

"Buktikan saat perlombaan dimulai," Dia berjalan kembali ke tempat duduknya, dan menatap Hitsugaya yang juga menatapnya.

"Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum, Hitsugaya mengangguk dan kembali menatap pelari lain dari sekolah lain.


"Ggio, kau mau kemana?" teriak Nel saat melihat Ggio memakai jaketnya dan melepas selang infus yang terdapat ditangannya. Ggio membuka setiap laci yang ada di kamar inap itu.

"Mana kunci motorku?" Nel langsung mundur selangkah dan menahan kunci motor itu. Ggio langsung berjalan cepat dan bersiap untuk mengambil kuncinya. Tapi, Nel selalu menjauh dari jangkauannya.

"Tidak, dokter bilang kau belum boleh mengenakan motor Ggio. Tanganmu terkilir," larang Nel. Ggio menjalan mendekat dengan perlahan, masih terlihat jelas perban yang melilit di tangannya.

"Aku harus pergi," lalu, Grimmjow masuk kedalam ruangan itu. Mereka menatap Grimmjow sejenak dan Ggio kembali menatap Nel. "Berikan kunci motorku, Neliel," kali ini Ggio mendesis.

"Berikan saja," Nel menatap Grimmjow kaget. "Biarkan dia pergi," Ggio langsung mengambil kunci ditangan Nel dan segera keluar dari ruangan itu.

"Grimmjow, dia masih terluka," Nel langsung menatap tajam Grimmjow. Sedangkan pemuda yang ditatap hanya diam dan memandang langit dari sofanya. Nel mendesah berat dan langsung duduk dihadapan Grimmjow.

Sementara itu Ggio berlari menyusuri koridor itu. Sesekali Ggio meringis kesakitan dan dia menyentuh tangannya. "Sebentar saja," dia kembali berjalan menuju parkiran motornya. "Kumohon," pintanya menatap perban ditangannya.


"Sudah saatnya berlomba, tunjukkan yang terbaik yang kalian miliki," Ulquiorra dan Soifon mengangguk. Lalu, mereka segera berlari ke tengah lapangan. Mereka langsung bersiap diposisi masing-masing.

"Soifon!" Soifon menoleh, Sunsun berdiri di samping Orihime dan melambaikan tangannya. Sunsun berseringai sedangkan Soifon menatap tajam perempuan itu. "Perbincangan kemarin sangat menyenangkan!" teriak Sunsun lagi.

Soifon seolah membatu, dia sangat sensitif jika menyangkut hari kemarin. Tiba-tiba tatapannya kosong dan ingatannya langsung berputar ke hari kemarin. Hingga bunyi tembakan terdengar dan Soifon belum melangkahkan kakinya, "Soifon!" Yoruichi langsung berteriak. Soifon mengangkat kepalanya dan menatap pelari lain telah berlari.

Dengan cepat dia berusaha menyusul pelari lain, sementara Sunsun langsung melebarkan senyumnya. Soifon terus berlari, pikirannya berputar, kepalanya mulai terasa pusing. Dia tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, pdahal dia berusaha untuk tidak memikirkan kejadian kemarin.

Tapi, kenapa bayangan Ggio muncul disaat kekasihnya juga muncul dihadapannya. Saat dia mengangkat kepalanya dia sudah tertinggal jauh.

Ekspresinya berubah menjadi sedikit panik, dia sudah cukup tertinggal jauh. "Soifon! Ganbatte!" Orihime berteriak-teriak dari tempat penonton, tapi dia tahu mustahil, mustahil mengejar ketertinggalannya. Dari sudut hatinya dia ingin, ingin Ggio kembali meneriaki namanya, dan memberinya semangat.

Lalu Soifon menggeleng dan langsung menatap kedepan. Tiba-tiba suara bergemuruh terdengar, saat Ulquiorra mencapai finish terlebih dahulu. Soifon melambat sejenak, tapi dia berusaha untuk mendapatkan juara kali ini, hingga dia kembali berlari menyusul pelari dihadapannya.

Tiba-tiba suara tembakan berbunyi yang itu berarti mereka telah memiliki juara pertama hingga ketiga, dan artinya pertandingan juga berakhir. Langkah Soifon terhenti. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa? Apakah dia harus menjerti-jerit seperti perempuan lain?

Ataukah dia harus menangis dan berlutut dilapangan itu? Entahlah, dia tidak mengerti yang jelas dia merasakan hampa, sedih dan kesal yang tidak dapat diukur dan dilukiskan oleh dirinya sendiri. Soifon pun hanya diam dan mengangkat kepalanya saat menyadari tetes-tetes hujan menyentuh wajahnya.

Karena hujan, pemberian piala pun dilakukan ditenda panitia. Semua orang bertepuk tangan saat Ulquiorra meneima piala itu. Soifon memutar kepalanya mencari keluarganya. Tapi, kepala Soifon kembali tertunduk saat menatap ayahnya berjalan pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Shihoin," Hitsugaya menepuk pundaknya, Soifon melepaskan tangan Hitsugaya dan mulai berjalan. Iya, dia tidak ingin membicarakannya sekarang. Hitsugaya hanya terdiam ditempatnya dan menatap punggung Soifon dengan sendu.

"Soifon," Yoruichi berdiri dihadapannya dan ingin mengajaknya pulang, tapi Soifon hanya berjalan melewati kakaknya.

"Aku pulang sendiri," tidak ada sahutan dari Yoruichi dia hanya diam. Karena dia tahu bagaimana rasanya kalah dan bagaimana rasanya tidak dihargai. Akhirnya, Soifon berjalan keluar dari stadion itu tanpa payung dan tanpa jaket. Dia berjalan dengan pelan sangat pelan, rasanya dia terlalu lelah untuk berlari menembus hujan lagi.


Ggio berusaha secepat mungkin tiba di stadion perlombaan itu. Padahal entah sudah berapa kali dia meringis karena sakit tangannya kembali kambuh. Tapi dia biarkan dia terus mengendarai motornya dengan kencang. Tiba-tiba matanya menyipit, dengan cepat dia mengerem motornya dan berhenti di dekat Soifon,

Perempuan itu berjalan dengan pelan, beberapa kali dia tertabrak para pejalan kaki yang terburu-buru pulang karena hujan sudah semakin deras. Tapi Soifon diam, dia tidak ingin pulang dan melihat ekspresi kekecewaan ayahnya. Dan dia ingin sendiri sekarang, hingga seseorang menepuk bahunya.

"Soifon," Soifon tidak menoleh, lebih tepatnya dia tidak ingin menatap pemuda itu. Tidakkah dia mengerti, bahwa Soifon tidak ingin diganggu? "Soifon!" kali ini dia berteriak agar dapat menyaingi suara hujan. Tapi, perempuan itu tetap tidak bergeming, Ggio langsung memutar tubuh Soifon hingga mereka berdua kini bertatapan.

Ya, iris abu dan iris keemasan itu akhirnya kembali bertemu, "Lepas," perintah Soifon dingin, dia menepis tangan Ggio dan kembali berbalik.

"Tunggu," Ggio menarik tangan Soifon, Soifon langsung menepis tangan itu lagi dengan kasar dan mendorong pemiliknya.

"Jangan ganggu aku! Kenapa kau selalu mencampuri urusanku!" kali ini Soifon mengangkat kepalanya dan menatap tajam Ggio. Ggio melangkah maju, tapi Soifon mundur kebelakang.

Ggio tidak berhenti, dia tetap melangkah maju. Soifon bersiap berbalik dan mulai berlari, tapi tangan Ggio lebih cepat sehingga dengan satu gerakan tangannya Soifon berhenti bergerak.

"Ada apa denganmu?" tanyanya, sambil menatap iris abu itu lurus. Soifon mengalihkan pandangannya.

"Kenapa? Kenapa kau tidak mengurus saja pacarmu yang baik itu," jawab Soifon sengit, dia tidak menatap Ggio, tapi sangat tersirat betapa keslanya Soifon saat ini.

Untuk ketiga kalinya Soifon beusaha lepas dari tangan Ggio, tapi cengkramannya lebih kuat. "Soifon," kali ini suara Ggio terdengar lirih dan lembut, tangannya bergerak dan menyentuh dagu perempuan itu. Membuat Soifon menatap iris keemasan Ggio.

Tatapan Soifon berubah, tangannya bergerak menyentuh tangan Ggio dan menurunkannya dari dagunya. Dia menatap Ggio, "Aku... kalah," Ggio menjulurkan tangannya, dan menyentuh bahu Soifon.

Dengan perlahan dia menarik Soifon kedalam pelukannya. Awalnya Soifon memberontak berusaha lepas dari pelukannya, tapi gerakannya terhenti saat mendengar bisikan dari Ggio, "Maaf," bisiknya lirih. Soifon terdiam sebentar, dan detik berikutnya tangannya bergerak dan memeluk pemuda itu.

Saat mereka sedang berpelukan sebuah mobil melintas dengan pelan disamping mereka, "Sunsun, tidak apakah?" ucap Mila Rose, Sunsun hanya menoleh sejenak menatap Ggio dan Soifon berpelukan. Lalu, setelah itu dia langsung mengalihkan pandangannya.

"Tidak apa, dia membutuhkannya sekarang," balas Sunsun. Mila Rose masih sibuk mengamati mereka berdua, hingga pemandangan dihadapannya berganti.

Setelah beberapa menit Ggio melepaskan pelukannya, lalu dia menatap wajah Soifon yang terlihat lebih tenang. Soifon langsung mengalihkan pandangannya, "Baiklah, aku antar kau pulang," Ggio berbalik dan menggenggam tangan Soifon. Tapi, Soifon sama sekali tidak bergerak. Ggio menoleh, "Ada apa?"

"Aku tidak mau pulang," Ggio membalikkan badannya dan menatap Soifon. Lalu, Soifon melepaskan tangannya dari Ggio dan berbalik.

"Tunggu," Ggio menyentuh bahu Soifon, "Baiklah, aku bawa kau ke suatu tempat," Soifon berbalik dan mengikuti langkah Ggio. "Naiklah," perintahnya, dan setelah itu Soifon langsung naik keatas motor itu. "Pegangan," Soifon menggerakkan tangannya dan menyentuh baju Ggio.

Ggio pun langsung menyalakan motornya dan menjalakannya. Makin lama kecepatan motor itu makin kencang, sehingga membuat Soifon perlahan melingkarkan tangannya dipinggang Ggio. Ggio hanya berseringai menyadarinya.

Tiba-tiba Soifon mendengar Ggio meringis kesakitan. Dia mengangkat kepalanya dan menoleh kesamping berusaha menatap Ggio. "Ada apa?" tanya Soifon dengan sedikit mengencangkan volume suaranya.

Ggio menatap Soifon sejenak, dan kembali menatap jalanan dihadapannya, "Sebaiknya, kau diam!" perintah Ggio. Dan dia pun meningkatkan kecepatannya.

Setelah beberapa menit mereka tiba didepan sebuah rumah. Ggio mematikan mesin motornya dan memasukkannya kedalam rumah. Soifon berhenti dan mengamati rumah itu, "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ggio saat menatap Soifon yang hanya berdiri disamping motornya, "Ayo masuk," ajaknya, Soifon melangkahkan kakinya dan mengikuti Ggio.

"Rumah siapa ini?" Ggio membuka pintu rumah itu, dan mempersilakan Soifon masuk terlebih dahulu.

"Rumahku tentu saja," Soifon menoleh saat menatap Ggio menutup pintu rumahnya dan menguncinya, Soifon menatap curiga Ggio, "Tenang saja nona manis, aku tidak akan mencelakaimu," Ggio terkikik melihat ekspresi parno Soifon.

Ggio jalan memasuki rumahnya, "Duduklah," Soifon hanya mengangguk dan duduk disofa terdekat. Ggio berbalik dan meninggalkan Soifon.

Soifon mengamati setiap inch ruangan itu. Banyak pigura terpajang di dinding, ada foto orang tua Ggio, bergeser sedikit terdapat foto Ggio dan Lilynette, Soifon sedikit mengumpat saat melihat Lilynette, dan disebelahnya ada foto Ggio bersama 4 orang yang membuat Soifon terekejut.

Keempat orang itu Grimmjow, Nel, Halibel, ketiga orang itu adalah kakak kelasnya. Sedangkan yang satunya adalah Ulquiorra. Dia tidak tahu bahwa mereka teman dan dekat. Saat dia memutar kepalanya kembali matanya terbelalak saat melihat satu foto terpajang disana. Foto itu adalah foto Sunsun yang sedang tertawa bersama Ggio.

Soifon berdiri dari sofanya dan berjalan mendekati foto itu. "Puas mengamati fotoku?" langkah Soifon terhenti dan dia langsung menatap Ggio. Ggio melempar handuk kepada Soifon.

"Maaf saja," Soifon kembali duduk disofa, dan begitupula Ggio, "Dimana keluargamu?" Ggio menatap lurus Soifon. Soifon pun mulai mengeringkan rambutnya.

"Mereka sudah meninggal," gerakan Soifon terhenti dan dia menatap Ggio.

"Aku-," ucapannya terhenti saat jari telunjuk Ggio menyentuh bibirnya. Lalu dia tersenyum.

"Aku tahu, kau tidak perlu mengkhawatirkanku," Soifon langsung memukul tangan pemuda itu. Ggio langsung meringis kebetulan itu adalah tempat lukanya berada.

"Aku tidak mengkhawatirkanmu," Soifon kembali mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba dia teringat perkataan Sunsun, lalu dia menatap Ggio. "Bukanya, kau berada di rumah sakit?" Ggio hanya tersenyum.

"Begitulah," Soifon langsung memutar tubuhnya menghadap Ggio, "Hanya kecelakaan ringan," Ggio memerkan giginya agar Soifon tenang. Lalu, Soifon menatap tangan Ggio yang dari tadi ditutupi sarung tangan. Dengan cepat dia mengangkat tangan Ggio. Ggio langsung meringis, yang membuat Soifon makin curiga.

"Kenapa kau tidak melepas sarung tanganmu?" tanya Soifon tajam, Ggio hanya memutar bola matanya, "Ada apa ditanganmu?" Ggio diam dan tidak menjawab. Dengan perlahan Soifon membuka sarung tangan itu, seketika dia merasakan Ggio meringis. Dan matanya terbelalak saat menatap bengkak yang mulai membiru walau tertutup perban sekalipun.

"Ini kau bilang ringan?" bentak Soifon, lalu dia langsung melepas perban itu, ekspresinya kembali terkejut saat menatap betapa parahnya luka ditangan Ggio. "Tunggu dan jangan bergerak. Katakan dimana kotak obatmu?" Soifon berdiri dari duduknya.

"Ka-," ucapannya terhenti saat dia menatap tatapan kemarahan Soifon, "Kau hanya perlu belok kanan, tergantung disamping kamarku," Soifon langsung berjalan, "Ingat, jangan coba-coba memasuki kamarku!" teriak Ggio. Soifon terus berjalan tanpa mengubrsinya.

Lalu, dia menatap kotak obat tergantung rapi disana, dengan segera langsung diambilnya kotak itu. Soifon kembali duduk dihadapan Ggio dan membuka kotak obat itu, "Dimana perban?" tanya Soifon sambil terus mengaduk kotak obat itu.

"Tidak ada perban disini," ucap Ggio. Soifon mengangkat kepalanya dan menatap Ggio. Tangannya bergerak kebelakang menyentuh kepangannya, "Oi, oi, apa yang ingin kau lakukan?" Soifon tidak menjawabnya.

"Diam saja," setelah itu Soifon langsung melepaskan pita kuning yang ia kenakan. Ggio terkejut melihatnya. Dengan begitu serius Soifon membalurkan pita kuning itu ditangan Ggio. Sesekali Ggio meringis, "Maaf," setelah itu tangan Soifon yang satunya mencari perekat, "Selesai," Soifon menggenggam tangan itu.

Dan sekali lagi Ggio meringis, Soifon langsung menatap Ggio, "Maaf," Ggio hanya tertawa melihat ekspresi Soifon. Lalu, dia mengangkat tangannya melihat pita kuning itu.

"Kau tidak pandai membalutkan perban," Ggio menatap Soifon dengan senyuman mengejek, Soifon langsung membuang wajahnya dan kembali melanjutkan kegiatan mengeringkan rambutnya, "Tapi, terima kasih," Ggio mengelus rambut Soifon pelan.

Tanpa dia sadari dibalik handuk putih itu wajah Soifon memerah. Tiba-tiba Soifon berdiri dan membuat Ggio menatapnya kaget, "Ka-kau mau makan apa?"

"Ini rumahku, ingat?" Ggio ikut berdiri disamping Soifon, Soifon langsung menyentuh bahu Ggio dan mendorong Ggio kembali duduk.

"Ti-tidak, biar aku yang memasak. Kau mau makan apa?" Ggio hanya tersenyum sambil memejamkan matanya.

"Aku hanya punya mi instant," lalu, saat dia membuka matanya kembali Soifon sudah tidak ada disana, "Oi, Oi," Ggio hanya dapat berteriak, lalu dia kembali menyandarkan tubuhnya. Sesekali dia mengangkat pita ditangannya dan dia tersenyum.

Sementara itu, Soifon berjalan menuju dapur tiba-tiba dia merasakan matanya berkunang, kepalanya terasa berat. Sepertinya dia belum sepenuhnya pulih dari demam yang dia derita. Tangan Soifon bergerak dan menyentuh kepalanya, "Tidak, aku ti..dak," ucapnya terbata, lalu matanya terpejam.

BUK. Setelah itu dia terjatuh.

Ggio bangkit dari tempat duduknya saat mendengar suara itu. "Soifon! Kau baik-baik saja?" tidak ada sahutan, lalu Ggio langsung melesat menghampiri Soifon. Langkahnya terhenti saat menatap Soifon terkulai dilantai rumahnya. "Soifon," Ggio langsung berlutut dan menggoyangkan tubuhnya, "Soifon!" Ggio menyentuh dahi Soifon, "Dia demam," dengan cepat dia menggendong Soifon.

Dengan kakinya dia langsung membuka pintu kamarnya, dan segera membaringkan Soifon disana, "Soifon," ucapnya panik saat mendengar nafas Soifon sangat tidak beraturan, Ggio langsung berlari mencari handuk untuk mengompres dahi perempuan itu.

Eskpresinya sedikit tenang saat merasakan nafas Soifon mulai tenang, "Kau benar-benar mengkhawatirkan," Ggio hanya tersenyum dan menyibakkan rambut Soifon yang menghalangi pandangannya.

"Sudah saatnya, kau pulang manis," Ggio mengambil ponselnya dan menelpon Grimmjow.

"Ayah.. ibu... aku rindu kalian," Ggio langsung menatap Soifon yang baru saja mengigau. Dia ingin kembali menghampiri Soifon dan menyentuh tangannya, tapi tiba-tiba telpon tersebut diangkat.

"Halo, Grimmjow datanglah kerumahku sekarang," ucapnya cepat, seketika terdengar omelan dari mulut Grimmjow, tapi Ggio menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

"Ada perlu apa?" tanyanya, Ggio kembali mendekatkan ponselnya, dan menatap Soifon yang mulai mengigau kembali.

"Kau akan tau nanti, cepat ke rumahku dan bawa mobilmu!" perintah Ggio. Lalu, Grimmjow terkikik mendengarnya

"Baik, baik. Jangan lupa bayaran dari jasaku ini," setelah itu sambungan telepon terputus. Setelah menelpon Grimmjow, Ggio duduk ditepi kasur itu, mengamati Soifon. Sesekali dia mengganti handuk di dahi Soifon, yang memang sudah panas kembali.

Setelah 30 menit menunggu, tiba-tiba terdengar bunyi klakson dari luar rumahnya. Dengan segera Ggio mengangkat tubuh Soifon, dan keluar dari rumah itu. "Grimmjow bantu aku!" teriak Ggio. Grimmjow langsung kelaur dari mobilnya, dan bersiul.

"Apa yang kau lakukan padanya?" Ggio hanya berdecak dan menatap tajam Grimmjow. "Baik, baik," Grimmjow berjalan dan menghampiri Ggio bersiap untuk mengangkat Soifon.

"Bukan dia," Ggio menjauhkan Soifon dari Grimmjow, "Maksudku bantu aku mengunci rumahku," Ggio langsung berputar dan berjalan memasuki mobil, dia masih dapat mendengar umpatan dari Grimmjow. Tentu saja dia tidak ingin membiarkan Soifon digendong oleh orang lain.

Setelah itu, Grimmjow masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya, dan menjalankannya. Ggio membaringkan Soifon dipangkuannya. Dia meletakkan tangannya di dahi permepuan itu sebagai handuk untuk sementara.

30 menit berikutnya.

"Tunggu disini," Ggio membuka pintunya dan kembali menggendong Soifon, "Ingat jangan kabur!" Grimmjow hanya terkikik.

"Tenang saja," Ggio langsung berjalan memasuki pekarangan rumah itu. Dia hanya tersenyum simpul melihat taman yang ia lewati. Saat berada dipintu utama dia memencet bel.

Ggio menunggu beberapa menit. Lalu, pintu itu terbuka. "Siapa kau?" Yoruichi menatap Ggio dari atas kepala hingga ujung kaki. Lalu, dia terkejut menatap Soifon, "Soifon!" pekiknya, "Apa yang kau lakukan padanya?" Ggio langsung menyerahkan Soifon.

"Dia demam. Sepertinya dia terlalu memaksakan dirinya," Yoruichi menatap wajah Soifon. Lalu dia kembali menatap Ggio.

"Kau siapanya?" kali ini pertanyaannya tidak sekasar tadi. Ggio hanya tersenyum dan membungkukan badannya.

"Teman sekolahnya, saya permisi," Ggio langsung berbalik dan berjalan. Yoruichi berniat mengejarnya tapi terhenti saat mendengar suara adiknya. Diapun mengurungkan niatnya dan berbalik memsuki rumah itu.

Saat dijalan ponsel Ggio berbunyi, "Halo," hening, tidak ada yang menjawab, "Halo!" kali ini nada suara Ggio meninggi. Lalu terdengar kikikan dari seberang telepon, "Sunsun," suara itu berhenti.

"Bingo, bagaimana keadan Soifon? aku harap pelukan tadi itu cukup untuk menenangkannya," Ggio langsung mendesis, dan melanjutkan langkahnya, "Jangan terlalu kasar Ggio," Sunsun terkikik lagi.

"Kau masih kekasihku," Ggio langsung mengertakkan giginya, Sunsun mengehentikan suara tawanya, "Aku harap kau segera masuk Ggio. Aku tahu kau akan kembali ke rumah sakit hingga perjanjian kita berakhir," Ggio hanya berseringai.

"Senang rasnaya, jika kau mengerti maksudnya, jadi aku tak perlu susah payah menjelaskan padamu," Sunsun mendengus dari seberang telepon.

"Iya, kau memang nekat dari dulu. Aku tunggu kedatanganmu ke sekolah Ggio tentunya bersama Soifon," setelah itu telpon terputus. Ggio menggenggam erat ponsel di tangannya. Namun tiba-tiba dia kembali meringis.

"Cih," Ggio langsung berlari menuju mobil Grimmjow, "Adikmu menelponku," Grimmjow langsung menoleh menatap Ggio.

"Adikku?" tanyanya bingung, tentu saja bingung karena dia tidak memiliki adik sama sekali.

"Sunsun," Grimmjow langsung berdecak kesal dan membalikkan badannya kembali, Ggio hanya tertawa melihatnya.

"Apa yang dia katakan?" Ggio membaringkan tubuhnya, dan mendesah berat. Grimmjow pun mulai menyalakan mobilnya.

"Tidak, hanya menyuruhku cepat ke sekolah. Aku istirahat sejenak," setelah itu Grimmjow langsung membawa Ggio kembali ke rumah sakit. Mereka sama-sama lelah sekarang.


To Be Continued.

A/N : ba-bagaimanakah? Huwaaaa hontou ni gomenne kalo jelek *plak* maafkan saya *pundung*.. anyway UASku telah berakhir.. fiuh doakan hasilnya bagus yah *plak*

anyway.. Yu aqu udah update duluan nieh.. ahahaha *ditendang* semoga kau tidak jerit-jerit dirumah (?)

Hehehe

Yaks, dimohon komentarnya tentang episode ini, so review pliss...

dan makasih bagi yang menyempatkan diri untuk membaca fic ini ^^

arigatou gozaimasu ^^