Disclaimer : Tite Kubo.

Warning : AU, gaje, OOC , Typo(S), alur kecepetan, dan EYD yang masih berantakan.

A/N : Yo-ho! Chapter 6 is up.. hohoho yosh fic ini kembali update dengan chapter terbaru.. makasih atas review dari teman-teman sekalian *gak jelas* heheeh

Chapter ini gak terlalu gimana, gimana masih gak jelas seperti yang biasanya *plak*

Yosh selamat membaca..

Don't like don't read.

Enjoy.

A Star and A Bee.

Chapter 6.

Run!


Setelah 2 hari hujan, kali ini matahari bersinar cerah dan terang. Menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan akibat hujan deras beberapa hari lalu. Kehangatan ini pun tak luput menghangatkan kediaman Shihoin yang saat itu sangat sepi.

Tik. Tik. Tik. Suara jarum jam yang bergerak perlahan terdengar jelas di kamar Soifon. kamar itu sepi tanpa banyak orang yang duduk di sampingnya untuk menjenguknya. Soifon masih tertidur di kasurnya, tampaknya demam yang dia derita mulai membaik.

Rupanya Soifon tidak sendiri, dia ditemani oleh seorang laki-laki berambut panjang dan bermata abu. Laki-laki itu sedang duduk di meja belajar Soifon sambil mengamati pigura yang di dalamnya terdapat Soifon, Byakuya dan Yoruichi yang saling memandang satu sama lain.

"Ungh," Soifon menggeliat dan membuka matanya perlahan, "Dimana... aku?" laki-laki itu langsung menoleh dan menghampiri Soifon.

"Kau sudah sadar," Soifon menggerakkan bola matanya dan menatap Byakuya yang langsung duduk di sampingnya, "Kau di kamarmu," Soifon menatap ke sekeliling ruangan itu dan mengangguk.

"Apa yang sensei lakukan di kamarku?" tanyanya langsung. Jika dia sedang sehat pasti suara bentakan lagsung terdengar di rumah itu.

"Kakakmu, memintaku menjagamu selagi keluargamu pergi hari ini," Soifon mengalihkan pandangannya dan mendesah lagi.

"Kenapa bukan Kuchiki Rukia?" Byakuya bangkit dan mengembalikan pigura itu ke meja belajar Soifon.

"Dia sedang ada urusan sekarang," setelah itu Byakuya kembali duduk di samping Soifon mengambil handuk di dahinya dan membasahinya kembali dengan air dingin. "Kau lapar?" tanyanya, Soifon hanya menggeleng dan terdiam sejenak.

'Tunggu dulu, keluargaku pergi hari ini. Berarti kami hanya berdua, APA! AKU DAN KUCHIKI-SENSEI BERDUA?' Pekik Soifon dalam hati saat menyadari keadaan ini.

"Ano.. sensei," Byakuya menatap Soifon, Soifon pun langsung menggeleng, "Ti-tidak jadi," ucapnya.

"Jangan panggil sensei, Byakuya saja cukup aku hanya berbeda 6 tahun darimu," jawabnya lagi dan dia kembali menatap jendela di dekatnya. "Apa yang akan kau lakukan sekarang? tetap berlari?" Soifon memejamkan matanya sejenak dan kembali mendesah.

"Aku tidak tahu," Byakuya menatap Soifon dalam-dalam dan kembali mengalihkan pandangannya, "Apa yang dikatakan ayahku?" Byakuya menggeleng.

"Dia kecewa tentu saja," Soifon tahu pasti seperti itu, "Apa yang terjadi padamu?" Soifon kembali mengingat saat Sunsun datang dan mengubah semuanya. "Aku tidak memaksamu," Soifon kembali menggeleng.

"Hitsugaya mengatakan kau memang sakit, dan tak seharusnya mengikuti lomba," Soifon membuka matanya dan menatap lampu yang bergerak di atasnya.

"Demo, kalau aku tidak mengikutinya sekarang. aku tidak akan pernah bisa mengikutinya lagi," ucapannya kali ini lebih beremosi dari sebelumnya, tangannya menggenggam erat selimut yang menggelungnya.

Tangan Byakuya bergerak, dan Soifon memejamkan matanya kembali. Dengan segera matanya kembali terbuka saat merasakan tangan Byakuya menyentuh dahinya, "Aku tahu itu," dia mengangkat handuk itu lagi.

Soifon baru menyadari satu hal, bahwa Byakuya juga kalah melawan kakakya saat itu. "Bagaimana prasaanmu saat itu?" gerakan Byakuya terhenti, namun dengan segera dia kembali menaruh handuk itu di dahi Soifon.

"Apakah ini semacam wawancara?" Soifon mengangkat sebelah alisnya, setelah itu dia tertawa, menurutnya nada bicara Byakuya saat itu berbeda dan itu sangat lucu. Soifon tertawa hingga dia tak bisa mengontrol dirinya sendiri, "Sudah berapa lama kau tidak tertawa?" gelak tawa itu terhenti.

"Kau benar, rasanya sudah lama aku tidak tertawa," Byakuya menepuk kepala Soifon dan langsung berdiri dari kursinya, "Kau mau kemana?" Byakuya berbalik dan membuka pintu kamar itu.

"Jangan coba-coba untuk turun satu inchi pun dari kasur itu," ancamnya dengan tatapan mengerikan. Soifon langsung mengangguk, dan pintu itu tertutup.

Byakuya turun menuju dapur dan mengambil bubur yang baru saja dihangatkannya. Setelah mengambil obat penurun panas, Byakuya kembali naik ke kamar Soifon. Byakuya kembali duduk di samping Soifon dan meletakkan bubur itu di sampingnya.

Setelah itu dia membantu Soifon duduk, "Aku bukan orang lumpuh," bentaknya dan dia duduk dengan kemampuannya sendiri. Byakuya hanya mendengus mendengar bentakannya, dan kembali mengambil mangkuk bubur itu. "Apa? Kau ingin menyuapiku? Tidak! Aku bisa makan se-huap panas!" protes Soifon dan menatap tajam Byakuya.

"Jangan banyak bicara, patuhi perintah gurumu," ucap Byakuya dingin. Soifon langsung mendelik ke arah Byakuya.

"Tapi ka-huap panas! Hentikan tindakan itu, kau menyiksa lidahku!" bentaknya lagi. "Baik, baik lakukan sesukamu. Tapi, tiup dulu!" perintahnya, Byakuya hanya mendesah dan kembali menyendoki bubur itu, meniupnya pelan. "Kau tidak mengajar?" lalu, satu suapan masuk ke dalam mulutnya.

"Tidak, aku libur untukmu," Soifon hampir tersedak mendengarnya, dengan epat dia langsung menatap Byakuya, "Balas budi," satu suapan kembali diterima Soifon.

"Balas budi?" tangan Byakuya bergerak dan mengambilkan minum untuk Soifon. Dia tampak berpikir berusaha mengingat apa yang telah dia lakukan dan belum dibalas oleh Byakuya, "Ah! Saat itu, saat kau menangis karena tangan kananmu terkilir, kan?" ejek Soifon.

Tatapan tajam langsung diterimanya, Soifon langsung membuang muka dan bersiul-siul mengalihkan perhatian, "Saat itu keluargaku sedang keluar negeri untuk pembukaan perusahaan baru. Dan sialnya aku terjatuh dari tangga, hingga tanganku terkilir. Dan sialnya lagi kau yang harus merawatku," Soifon mencibir lalu memberikan gelas tadi ke Byakuya.

"Saat itu aku baru berumur 8 tahun, harus aku akui tampangmu saat itu benar-benar lucu," Byakuya meletakkan gelas itu cukup keras hingga membuat Soifon menatap Byakuya, "Ups maaf," Soifon kembali menerima bubur itu, "Dan saat itu aku masih bernama Shaolin fon. Aku rasa kita impas sekarang."

"Iya, sepertinya," Byakuya menghentikan gerakannya, "Apa yang terjadi antara kau dan Vega?" kali ini Soifon sukses tersedak. Dengan pelan dia memukul-mukul dadanya, Byakuya pun segera memberikan air untuk Soifon.

"Uhuk.. uhuk," lalu, dia menatap Byakuya, "Kau ingin merawatku atau membunuhku?" tanya Soifon tajam, lalu dia kembali terdiam dan sedikit menundukkan wajahnya, "Tidak ada yang terjadi antara aku dan dia," ucapnya sambil mengingat pelukan yang diberikan Ggio kemarin.

"Aku rasa sebaiknya kau berhenti sejenak dari klub lari," Byakuya kembali menggerakkan tangannya dan menyuapi Soifon, "Mengurusi masalahmu," Soifon menatap Byakuya.

"Bagaimana kau tahu? Maksudku, di sana kau guru," Soifon mengerjapkan matanya tanda tak percaya.

"Aku melihat, itu hanya saran dariku," Soifon menelan bubur barusan dan kembali mengalihkan pandangannya.

"Jika aku berhenti sementara, apakah kelak aku boleh menjadi anggota lagi?" Byakuya kembali mengangkat tangannya dan memindahkan bubur di sendok itu ke dalam mulut Soifon.

"Iya, tentu saja," dan tangan Byakuya pun berhenti, karena bubur itu sudah habis. Tangan satunya bergerak menggapai gelas di sebelahnya dan memberikannya kepada Soifon.

"Biarkan aku memikirkannya sejenak," Byakuya mengambil obat di sebelahnya dan memberikannya pada Soifon, "Obat? Aku sudah sembuh," Soifon menolak mentah-mentah obat itu.

Byakuya mengambil kembali bungkusan obat itu, membukanya. Lalu, dia mendekati wajah Soifon, tangannya bergerak menyentuh dagu Soifon, "Buka," Soifon menggeleng dengan terus menutup mulutnya. Wajahnya seketika memerah.

"IIE!" teriak Soifon sambil memejamkan matanya dan mendorong tubuh Byakuya. Tapi Byakuya tidak bergerak sedikit pun. Saat itu dengan cepat Byakuya memasukkan obat itu ke dalam mulutnya.

Tangan Soifon bergerak meminta air, dan Byakuya langsung memberikannya. "Puah... BYAKUYA!" teriaknya dan Byakuya langsung melesat membawa mangkuk kembali ke dapur.

"Tch," Soifon langsung berdecak. Lalu, dia mulai menerawang, "Lari? Apa aku masih bisa berlari?" Soifon menggenggam erat selimutnya, dadanya terasa sesak dan sakit saat mengingat eksprsi kemarahan ayahnya sebelum meninggalkan stadion itu.

Soifon membungkukkan badannya, dan mulai mengerang. Mengekspresikan betapa kesal dan kecewanya dia pada dirinya sendiri, yang tak bisa mengontrol dirinya dan tak bisa sehebat kakaknya. Tetes-tetes air mata mulai menyentuh selimutnya, tapi dia tak berniat mengelapnya.

Dia tetap membiarkan benda itu jatuh dengan mulus. Byakuya tidak jadi masuk ke dalam kamar Soifon saat mendengar suara isakan yang tertahan dan raungan dari bibir Soifon. Semakin lama suara isakan Soifon semakin kencang, dan Soifon sendiri merasa sulit untuk menghentikannya.

Cklek.

Akhirnya Byakuya memutuskan untuk memasuki kamar itu, dengan buru-buru Soifon mnundukkan kepalanya makin dalam. Byakuya duduk di samping Soifon dan mengulurkan sapu tangannya ke hadapan soifon. "Aku tidak butuh," jawabnya serak,

Byakuya mengulurkan tangannya dan mengangkat kepala Soifon, "Ambil," perintahnya, Soifon menggeleng dan melepaskan tangan Byakuya, "Aku menyuruhmu untuk mengambilnya, Shaolin Fon," ada sedikit perubahan nada saat Byakuya menyebutkan nama Soifon.

Soifon langsung menatap tajam Byakuya, "Sudah aku katakan aku tidak butuh, Kuchiki Byakuya!" bentak Soifon, "Tidakkah kau mengerti? Aku tidak butuh rasa kasihan darimu, aku tidak butuh," suaranya semakin pelan dan pelan hingga bulir-bulir air mata itu kembali jatuh.

"Aku mengerti, dan aku mengetahuinya. Apa salahnya jika aku mengasihanimu? Aku sudah mengenalmu sejak kau berumur 2 tahun." Byakuya menghapus air mata itu dengan sapu tangannya.

Byakuya hanya menepuk kepala Soifon saat perempuan itu kembali meneteskan air mata. Dan hal itu terus berlanjut, hingga perempuan berambut biru tua itu tertidur kembali.


"Halo," Sunsun mengangkat ponselnya yang berdering dengan suara lembut.

"Sunsun, kau sudah mempersiapkan semuanya? Kau sudah menghubungi sekolahmu?" Sunsun memejamkan matanya sejenak. Dia tahu pasti hal ini yang akan dibahas orang tuanya.

"Iya, mereka sedang memprosesnya," jawab Sunsun pelan, rasanya dia sangat ingin menutup telepon itu sekarang. Tapi jika dia melakukannya pasti seluruh telepon yang ada di rumahnya akan brdering.

"Lalu, Ggio?" tatapan yang biasanya tajam itu kini melemah.

"Aku sedang mengusahakannya," suara dari seberang sana mendesah. Sunsun sendiri hanya diam menunggu pertanyaan berikutnya.

"2 minggu, Sunsun," Sunsun mendesah dan menatap pigura dirinya dan orang tuanya.

"Aku tahu. Aku ingin mengerjakan tugas dulu. Jaga kesehatan, ya Okaa-sama," lalu setelah itu sambungan telepon itu terputus. Sunsun mengeluarkan foto Soifon dan Ggio dari lacinya, dan dia menekan tombol di ponselnya.

"Halo," jawab seseorang bernada galak dari seberang sana dan suara bising di sekitarnya

"Apache, lakukan rencana itu," hening, Apache diam sejenak beserta suara bising itu.

"Kau yakin akan melakukannya?" tanyanya serius. Sunsun mendesah dan memejamkan matanya sejenak.

"Iya, bagaimanapun dia harus ikut denganku," terdengar suara dentingan gelas dari seberang telepon.

"Baiklah," lalu, sambungan telepon terputus. Sunsun membuka lacinya lagi dan menatap sebuah amplop bertuliskan.

To Ms. Sunsun.

Sunsun langsung menutup lacinya kembali dan merebahkan tubuhnya.


Soifon memasuki halaman sekolahnya, setelah kemarin dia abesnt. Kini dia kembali menginjakkan kakinya di sekolahnya. Tapi, dia merasa ada yang aneh kali ini. Dia merasa sedang ditatap oleh seluruh murid di sekolah itu. Sesekali dia mendengar para siswi berbisik-bisik.

"Itu, Soifon?" tentu saja Soifon langsung menoleh, tapi saat dia melakukan itu mereka berjalan pergi.

Hal ini semakin membuatnya merasa aneh, tapi dia mencoba untuk tidak menggubrisnya. Dia kembali berjalan menuju ruang loker, dan tepat saat dia membuka pintu kaca itu. Setiap murid yang ada di sana langsung menatapnya dan berbisik.

'Ada apa ini?' Kali ini Soifon mulai merasa tidak enak, tapi sepertinya dia telah mengetahui jawabannya.

"SHAOLIN!" Tatsuki berlari ke arah Soifon dengan terburu-buru, Soifon menatapnya dengan bingung, "Kau... kau ada di mading," ucapnya sambil mengatur nafasnya.

Iris abu itu langsung melebar, tanpa memperdulikan orang di sekelilingnya yang berbisik, dia langsung berlari menuju mading sekolah. Langkahnya terhenti saat menatap sekeliling mading yang dipenuhi dengan para siswi yang menunjuk-nunjuk sesuatu di mading itu.

Dengan segera Soifon berlari menerobos kerumunan itu. Langkahnya langsung terhenti dan matanya langsung terbelalak saat melihat fotonya dan Ggio terpampang di mading itu. "Apa?" ucap Soifon refleks, otaknya berpikir 'Bagaimana bisa?' batinnya.

"Jadi, kau yang bernama Soifon?" Soifon langsung berbalik menatap perempuan berkuncir dua dan berambut ungu tua.

"Lalu, apa masalahmu?" tantang Soifon. Loly begitu perempuan itu dipanggil, langsung melangkahkan kakinya mendekati Soifon sambil berkacak pinggang.

"Jadi kau yang merebut Ggio dari Sunsun?" nadanya sama sekali tidak menyiratkan sebuah pertanyaan melainkan sebuah tuduhan. Soifon hanya berseringai dan mengangkat sedikit kepalanya, dia melangkahkan kakinya hingga jarak mereka sangat dekat.

"Lalu kenapa? Kau siapanya Sunsun? Pelayannya?" ejeknya. Loly langsung mengepalkan tangannya dan mulai menggeram. Tapi, setelah beberapa menit tidak ada balasan dari bibir Loly, "Huh," Soifon langsung berjalan dan menarbak bahu Loly hingga membuat pemiliknya mundur selangkah.

Soifon sendiri langsung berjalan keluar dari kerumunan itu, "Soifon, jangan membuat kami membencimu," ucapnya ramah, tapi terdengar menyebalkan di telinga Soifon.

Soifon berhenti dan menelengkan kepalanya menatap Loly, "Jadilah begitu," Loly kembali menggeram, dan Soifon langsung melenggang pergi.

Saat berbelok dari koridor itu Soifon langsung mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya, "Tch," gumamnya.

Sementara itu di belokan yang satunya, Ggio hanya tersenyum saat mendengar perdebatan kecil antara Soifon dan Loly tadi. Ya, dia telah kembali ke sekolah tapi dengan satu syarat dia belum boleh mengendarai motor hingga tangannya pulih dengan sempurna.

Ggio mengambil ponselnya dan mendekatkannya ke telinganya, "Halo, Tia."

"Ada apa?" Suara Halibel langsung mengisi telinganya, "Kau ingin aku mencopot fotomu?" Ggio berseringai.

"Tidak, biarlah seperti itu. Maaf merepotkanmu," ucap Ggio. Halibel mendesah berat dari seberang sana.

"Apa terjadi sesuatu, hingga membuatmu berubah pikiran?" Ggio hanya tertawa pelan dan kembali mengintip mading sekolah. Tampaknya Sunsun telah datang ke tempat itu.

"Aku rasa Sunsun akan langsug memberitahumu," Ggio mulai melangkah menjauh dari tempat itu, "Baiklah, sekali lagi terima kasih Tia," setelah itu telepon kembali terputus.

Dia bersenandung pelan saat kembali mengingat ucapan Soifon, perempuan itu tidak membantah foto itu, dia malah menantang Loly saat mendengar perkatan dia merebut Ggio. Entah kenapa perkataan itu sedikit membuat seulas senyum merekah di bibirnya.


"Haaaah," Soifon mendesah saat sudah sampai di kelasnya dan duduk di kursinya, dia pun langsung membaringkan kepalanya. Orihime segera berdiri dan menghampirinya.

"Doushite Soifon?" Soifon hanya menggeleng. Lalu, Orihime menatap Tatsuki yang datang bersamanya.

"Fotonya dan Ggio terpampang di mading, tadi dia sedikit berdebat dengan Loly. Tampaknya hidup damainya telah berakhir," Soifon kembali mendesah dan memutar kepalanya menghindari tatapan mata Orihime.

"Kau tidak apa-apa Soifon?" tanya Orihime. Soifon kembali menggeleng. Tatsuki langsung menyentuh bahu Orihime dan menyuruhnya duduk.

"Kenapa aku bisa mengatakan hal seperti itu?" rutuk Soifon pada perkataannya tadi, "Bagaimana aku bisa melanjutkan lariku?" Soifon langsung mendesah berat dan memejamkan matanya sejenak. Hingga bel pelajaran dimulai berbunyi.


Soifon buru-buru keluar kelas saat bel istirahat berbunyi, dapat dia rasakan beberapa orang mengikutinya. Tapi, dia tetap tidak menggubrisnya dia tetap berjalan menuju ruang guru.

Sret.

Dia menghentikan langkahnya sejenak dan mencari meja Kuchiki Byakuya. Dengan mudah dia langsung menemukannya, Byakuya sedang duduk dan membolak-balik halaman tugas muridnya. Dengan segera Soifon melangkahkan kakinya.

Saat berjalan menuju meja Byakuya, dia dapat melihat Hitsugaya sedang berbicara dengan Aizen salah satu guru Fisika mereka. Dan dia juga melihat Ggio sedang berbicara dengan Nemu selaku wali kelasnya.

Saat melewati Ggio, pemuda itu mengedipkan sebelah matanya dan membuat Soifon langsung mengalihkan pandangannya. Dalam hati dia cukup senang karena pemuda itu telah kembali ke sekolah.

"Kuchiki-sensei," panggilnya. Hitsugaya langsung menoleh saat mendengar suara Soifon. sedangkan Ggio menatapnya dari sudut matanya.

Byakuya mengangkat kepalanya dan menatap Soifon, "Ada apa?" tangannya bergerak menutup buku di hadapannya, dan menggesernya ke samping.

"Aku sudah memutuskannya," Hitsugaya langsung tidak fokus dengan apa yang dibicarakan Aizen. "Aku akan berhenti sementara waktu dari klub lari," ucapnya pelan. Sontak Hitsugaya langsung menoleh menatap Soifon yang langsung mendapatkan deheman dari Aizen.

"Baiklah, jika itu yang kau inginkan," Byakuya menatap Soifon lurus-lurus, menunggu jika perempuan beriris abu itu berubah pikiran. "Ada lagi yang ingin kau katakan?" Soifon langsung meggeleng. "Baiklah kau boleh pergi."

Soifon mulai berbelok dan membuka pintu ruang guru kembali. Soifon berpapasan dengan Rukia saat keluar dari ruang guru itu. Rukia hanya menatapnya begitupula Soifon. Tapi saat Soifon mulai berjalan, tangannya langsung ditahan oleh Rukia, "Ada apa?" tanya Soifon.

"Kau mau kemana?" tanyanya, Soifon hanya menautkan alisnya menatap aneh Rukia. Lalu dia melepaskan tangan Rukia. Tidak ingin berlama-lama di sana.

"Hanya ke taman belakang," lalu Soifon langsung berjalan lagi. Tak lama pintu ruang guru kembali terbuka Hitsugaya keluar dari sana.

"Hitsugaya-san, bagaimana?" Hitsugaya menatap Rukia yang memegang tangannya.

"Gomenne Kuchiki, aku akan menjelaskan semuanya nanti." Hitsugaya melepas tangan Rukia dan bersiap untuk berlari.

"Matte," Rukia kembali menahan tangannya, "Kau mencari, Soifon kan?" perkataan itu terdengar menuntut dan nadanya yang tersirat sebuah ketidaksukaan. Hitsugaya menatap Rukia, perempuan bermata violet itu melepaskan genggaman tangannya. Bibirnya bergetar seolah menyesal telah mengatakannya.

"Kau tau dimana dia?" Rukia menggigit bibirnya, "Katakan padaku dimana dia?" Rukia mengalihkan pandangannya menyalahkan dirinya yang kelepasan bicara. "Kuchiki Rukia!" bentak Hitsugaya. Rukia langsung menatap Hitsugaya.

"Dia... pergi ke taman belakang," setelah itu Hitsugaya langsung berlari meninggalkan Rukia. Rukia hanya mengalihkan pandanganya tersirat penyesalan dari sorot matanya.


Soifon membaringkan tubuhnya di sana, berusaha menenangkan dirinya, "Apa yang harus aku katakan pada ayah nanti?" lalu dia tertawa hambar, "Rasanya dia sudah tak peduli lagi padaku," Soifon menutup matanya dengan lengan kirinya.

Dia tak peduli jika ada sekolompok perempuan datang dan menyerangnya dengan tiba-tiba, dia hanya ingin diam sejenak. Tiba-tiba terdengar bunyi kresek dari semak-semak di dekatnya. Soifon hanya menyunggingkan senyumnya.

"Sepertinya mereka sudah ingin menampakkan diri mereka," Soifon tidak bergerak dia masih diam dan menunggu. Dapat dia rasakan seseorang berdiri di hadapannya sekarang, walau dia masih belum melihat siapa orang tersebut.

"Kenapa kau keluar dari klub?" suara dingin itu membuat Soifon menyingkirkan lengannya dan menatap wajah Hitsugaya yang berkeringat akibat berlari. Soifon segera duduk dan kembali menatap Hitsugaya.

"Apakah kau ada masalah dengan keputusanku?" Hitsugaya ikut duduk di samping Soifon. "Tidak ada gunanya lagi aku berlari, tidak ada lagi yang aku tuju," Soifon mengangkat kepalanya menatap langit di atasnya.

"Kau tidak boleh keluar begitu saja, dengan anak perempuan yang membuntutimu, klub lari dapat melindungimu," cecar Hitsugaya. Soifon hanya memejamkan matanya dan tersenyum sinis.

"Oleh karena itu, aku tidak ingin menjadikan klub lari sebagai tamengku," Soifon kembali membuka matanya dan merasakan angin semilir di wajahnya, "Klub jauh lebih membutuhkanmu daripada aku," Soifon menelengkan kepalanya dan menatap Hitsugaya, "Terima kasih bantuanmu selama ini Hitsugaya," Soifon segera bangkit dan menepuk-nepukkan roknya,

"Sampaikan salamku pada semuanya," Soifon segera berbalik dan meninggalkan Hitsugaya yang masih terdiam.

"Tidak apakah meninggalkan dia begitu saja?" Soifon menghentikan langkahnya dan menatap Ggio yang sedang bersandar di dinding dekatnya. Ggio berjalan menghampiri Soifon sambil tersenyum.

"Iya," jawabnya singkat sambil menoleh menatap Hitsugaya yang belum bergerak. Lalu dia kembali menatap Ggio, "Apa yang sedang kau lakukan? Menguntitku?" Ggio hanya tersenyum dan menepuk pundak Soifon.

"Kau tentu sudah melihat mading, bukan?" Soifon menatap iris keemasan itu dengan serius.

"Iya tentu," Soifon menggerakkan kedua bola matanya menatap dua orang perempuan yang membuntutinya.

Tiba-tiba Ggio menyentuh bahu Soifon membuat Soifon kembali menatap iris keemasan itu, "Gomenne," ucapnya dengan tatapan yang sangat sulit dimengerti. Tanpa dia sadari pipi Soifon mulai memerah.

BUAGH. Soifon memukul wajah Ggio, "Sakit!" erang Ggio sambil memegang wajahnya, "Apa masalahmu? Aku sedang meminta maaf dan kau memukulku?" bentak Ggio.

"Kau yang apa, tiba-tiba meminta maaf dan menatapku dengan tatapan menyebalkan begitu?" balasnya sambil membuang wajahnya menutupi kabut merah di pipinya.

Ggio hanya tersenyum, "Sepertinya aku tidak harus mengkhawatirkanmu," Ggio tertawa pelan.

"Kau kira aku tidak bisa menjaga diri sendiri?" lalu Soifon segera berjalan melewati Ggio.

"Segeralah pulang hari ini," bisiknya sambil menyentuh kepangan Soifon, "Jangan putar kepalamu. Ingat kata-kataku jangan menunggu siapapun dan jangan berhenti jika ada yang memanggilmu kecuali aku," bisiknya lagi, setelah itu Ggio melepaskan tangannya dari rambut Soifon dan segera berjalan. Soifon hanya menatap punggung itu dari sudut matanya.


Sesuai perkataan Ggio, Soifon buru-buru keluar dari kelas. Saat bel pulang telah berbunyi dengan nyaring, "Shihoin-san," langkah Soifon langsung terhenti saat mendengar suara familiar itu.

"Aizen-sensei? Ada apa?" Aizen berjalan ke arahnya dengan buku tertumpuk di tangannya. Soifon mulai merasakan firasat buruk.

"Bisa bantu aku mngoreksi tugas-tugas ini? Nilaimu yang tertinggi dalam tugas ini, bukan?" Soifon mengangguk pelan. Aizen tersenyum, "Ayo," Soifon langsung mendesah dan mengikuti Aizen ke kantor guru.

30 menit kemudian.

"Arigatou Shihoin-san, maaf merepotkanmu," Soifon hanya menggeleng dan bangkit dari kursi.

"Kalau begitu saya permisi," Soifon berjalan keluar dari kantor guru dan menatap koridor yang mulai sepi.

"Soifon, bisa bicara sebentar?" seseorang berambut pirang dan pendek menghampiri Soifon.

"Tidak, aku tiak punya waktu," tolaknya dan dia segera berlari. Dia tahu perempuan barusan pasti orang suruhan Loly, dia pasti ingin balas dendam.

Soifon langsung berlari saat melihat tiga orang perempuan mengejarnya, "Kau tak bisa lari, kau telah mengambil Ggio, kau tahu Ggio hanya milik Sunsun. Kau pasti hanya mempermainkannya, jelas-jelas kau tadi sedang bersama Hitsugaya Toushiro!" bentak salah satu dari mereka.

Soifon hanya berdecak dan berbelok ke dalam sebuah koridor dengan mengerahkan seluruh kecepatannya.

Sret!

Pintu kelas itu dibanting dengan kasar oleh Soifon. nafasnya terengah.

"Kau!" teriak Tesla. Soifon terkejut saat menatap Tesla masih di ruang kelas.

"Sssst," Soifon meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, menyuruh Tesla diam. Setelah itu terdengar beberapa langkah kaki mendekat. Soifon langsung meggerakkan matanya mencari tempat bersembunyi. Dengan cepat dia bersembunyi di bawah meja guru.

Sret.

Tesla langsung menatap pintu kelasnya, "Ada apa?" tanyanya lembut. Pipi perempuan itu langsung memerah ketika mendengar suara Tesla. Sementara Soifon menjulurkan lidahnya tanda jijik.

"Ano.. apa kau melihat Soifon?" tanyanya langsung. Tesla tampak berpikir sejenak.

"Maaf, aku tidak melihatnya," jawabnya lagi sambil tersneyum. Lalu perempuan-perempuan itu kembali blushing.

"Maaf mengganggu," setelah itu pintu tertutup.

Soifon mendesah lega, dan keluar dari persembunyiannya. "Arigatou," ucapnya lalu dia melangkah menuju pintu.

"Jika melihat mading hari ini tidak heran kau dikejar oleh para fans Ggio," ucap Tesla sambil memasukkan bukunya ke dalam tas. Soifon menghentikan langkahnya dan menatap Tesla, "Aku rasa sekarang Ggio juga sedang dicari mengenai foto kalian," Tesla tertawa pelan dan mulai menyandang tasnya.

"Apa yang ingin kau katakan?" Tesla menatap Soifon lurus-lurus, kali ini tatapannya terlihat sangat serius.

"Aku bisa membantumu terhindar dari mereka semua," Soifon menatap Tesla penuh minat.

"Bagaimana kau melakukannya?" tanyanya lagi. Tesla menggoyangkan jari telunjuknya dan memejamkan matanya sejenak.

"Aku tidak akan mengatakan rencanaku. Jika kau mau aku bersedia membantumu. Kau mau atau tidak?" Soifon berbalik dan tersenyum sinis menatap Tesla.

"Kalau begitu aku tidak membutuhkan bantuanmu," Soifon langsung membuka pintu kelas itu dan berjalan keluar. Tesla hanya tersenyum saat melihat Soifon mulai berjalan keluar. Dia pun segera mengikuti Soifon.

Saat Soifon berbelok tiba-tiba tanganyya ditarik oleh seseorang. Tesla hanya diam, dia masih bersenandung pelan dan berhenti di tikungan itu sambil memejamkan matanya.

"Apa yang kalian inginkan?" bentak Soifon. lalu Loly berjalan mendekatinya.

"Aku sudah memperingatimu, kan?" Soifon ingin mendorong Loly, tapi tangannya langsung dipegang oleh perempuan bermbut pirang tadi.

"Rambutmu dikepang ya? Sangat mirip dengan Ggio," Loly berjalan dan mengelurkan gunting dari kantungnya. Loly mulai menjulurkan tangannya dan menyentuh rambut kepang itu. Soifon berusaha berontak dan menjulurkan lidahnya merasa jijik terhadap sentuhan Loly.

Loly hanya terkikik pelan melihat usaha Soifon. Lalu, mata Soifon terbelalak saat melihat Loly mendekatkan rambutnya dengan guntingnya.

"Bagaimana kalau rambutmu kuubah modelnya agar sama dengan Menoly?" Loly menatap perempuan berambut pirang tadi.

"Kalian semua pengecut, kenapa? Kalian tidak berani menghadapi satu lawan satu, hah? Pantas Ggio tak pernah mendekati kalian. Cih," ejek Soifon.

"Aku tidak bercanda!" Loly geram mendengar ucapan Soifon barusan dan dia benar-benar mendekatkan guntingnya ke rambutnya.

"Lakukan kalau kau berani!" tantang Soifon. Loly menatap tajam Soifon dan menarik guntingnya, dengan segera dia kembali bersiap memotong rambut itu. Mata Soifon terbelalak dia tidak menyangka orang ini sungguhan ingin menggunting rambutnya.

Tesla tidak bergerak dari tempatnya dia masih tersenyum dan memejamkan matanya. 'Tidak ada pilihan lain,' batin Soifon. "Baik baik, kau mendengarku, kan?" teriaknya, Tesla langsung membuka matanya dan berlari menerobos kerumunan perempuan itu.

Saat sedikit lagi gunting itu mengenai rambut Soifon, Tesla langsung mendorong Loly hingga dia terjatuh dan menarik Soifon ke pelukannya. "Apa yang kalian lakukan terhadap pacarku?" bentak Tesla sambil menatap tajam para perempuan itu.

Semua orang yang ada di sana terbelalak saat mendengar perkataan Tesla. Begitu pula Soifon. dia ingin berteriak memprotes tapi Tesla langsung berbisik, "Sst, kau meminta bantuanku ingat?" ucapnya sambil mendekap tubuh Soifon, seolah menjaganya dari apapun yang akan melukainya.

Ggio mematung di balik tikungan di dekat mereka saat mendengar ucapan Tesla barusan. Padahal dia berusaha secepat mungkin mencari Soifon saat mengetahui Soifon tertangkap oleh Loly. Tapi terlambat Tesla telah membantunya lebih dulu.


To Be Continued.

A/N : Bagaimanakah? Huwaaa gomen gomen.. kalo tambah ancur *dilempar* hix hix makasih bagi yang sudah membaca fic saya, dan makasih juga bagi yang menyempatkan diri untuk mereview. Yo-ho yuminozomi.. ^^ keep smile okeh *smirk*

Arigatou gozaimasu.

Lalu, bagaimanakah chap kali ini?

Mind to RnR minna?

Arigatou sebelumnya