Disclaimer : Tite Kubo.
Warning : AU, OOC (maybe), Typo(s), Gaje, Abal, EYD bernatakan.
A/N : hai hai minna-san.. bagaimana hasil rapor kalian? Semoga hasilnya bagus dan memuaskan ^^ hohoho... bagaimanakah liburan kalian? Maaf atas keterlambatan ini, karena authornya juga liburan *bletak* ahahaha. Oke ini dia chapter 7. Yaks chap kali ini masih gaje seperti kemarin *plak* hahaha.
Selamat membaca.
Don't like don't read.
Enjoy.
A Star and A Bee.
Chapter 7.
Ggio!
"Kau melihatnya, kan?" Ggio menggerakan kepalanya dan menatap Sunsun yang berjalan ke arahnya. Dia tidak menghampirinya atau menghindarinya, dia hanya diam dan menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Sunsun lebih baik kau menjauh dariku sekarang, aku sedang tidak ingin bercanda kali ini," desis Ggio penuh peringatan. Sunsun tidak mundur, sepasang kaki jenjangnya tetap melangkah mendekati Ggio.
"Ggio kau harus ikut denganku, orang tuaku menunggumu," Ggio menggerakkan bola matanya menatap iris lavender itu.
"Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak ingin ikut denganmu," desisnya lagi. Sepertinya dia memang tidak dalam moodyang baik.
"Tapi, saat itu kau setuju, dan semuanya sudah dipersiapkan," Ggio tidak menggubrisnya, kepalanya tertunduk dan kembali menatap Tesla dan Soifon.
Loly menggeram saat melihat adegan itu, dia pun segera bangkit berdiri. "Bohong! Itu hanya bohongan jangan percaya padanya!" Loly berteriak, kemudian ia melangkahkan kakinya dan berkacak pinggang. "Setidaknya berikan kami bukti," seringainya.
"Bukti?" alis Tesla terangkat dan balas berseringai. Iris coklatnya kembali menatap iris abu milik Soifon. Alis Soifon terangkat seolah bertanya. Apa-yang ingin-kau-lakukan? Tesla hanya tersenyum dan menyentuh dagu Soifon, mengangkat kepalanya. Belum sempat Soifon menebak apa yang akan dilakukan pemuda itu, tiba-tiba Tesla menelengkan kepalanya, mendekati bibir Soifon.
Ggio langsung terbelalak saat melihatnya, tangannya semakin terkepal. Ingin rasanya dia menghambur ke dalam kerumunan itu dan menghajar Tesla. Tapi tentu saja, jika ia melakukannya, itu akan sangat terlihat aneh.
Para perempuan yang menatapnya blushing dan bersiap berjalan. Sementara Loly menghentakkan kakinya ke lantai dan berbalik pergi, diikuti Menoly. Setelah melihat mereka semua pergi, Tesla menjauhkan kepalanya.
"Lebih baik kau ikut denganku Ggio, dia sudah memiliki pelindungnya... bahkan kekasih," Ggio menatap tajam Sunsun, tidak ada suara kikikkan dari bibir mungil itu. Dan tidak ada senyuman mengejek untuk pemuda itu. Yang ada hanya tatapan mengajak dari seorang teman kepadanya.
"Diam," desis Ggio. Sunsun maju selangkah.
"Percuma, dia sudah bersama Tesla sekarang. Kau terlambat Ggio," tidak ada penekanan yang memojokan Ggio.
"Diam!" kini suaranya sedikit meninggi, Sunsun membuka mulutnya— bersiap bersuara lagi. Tapi, Ggio langsung berbalik dan mencengkram bahu Sunsun hingga membuatnya tersandar di dinding, "Aku bilang diam," tatapnya tajam,
"Sunsun, aku katakan sekali lagi, aku tidak akan ikut denganmu," ucapnya tegas. Lalu cengkraman itu terlepas dan dia segera berjalan pergi.
Sunsun hanya menatap punggung Ggio yang mulai menjauh. Tubuhnya merosot turun, dan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. "Ggio," bisiknya pelan.
Tesla langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf," ucapnya. Soifon hanya menatapnya bingung. "Kalau kau tak suka caranya, aku minta maaf."
"Iie, kau tidak menciumku, 'kan? Jadi tak ada yang harus meminta maaf," Soifon mulai melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik. "Arigatou."
Tesla hanya tersenyum.
Iris abu Soifon menyapu sekelilingnya kalau-kalau para perempuan itu masih mengikutinya. Tapi, rupanya tidak, kini dia sendirian dan tidak ada yang mengikutinya. Soifon tersenyum puas saat menyadarinya.
"Kau sepertinya senang, Soifon?" Ggio bersandar di dinding pintu masuk dan menatap Soifon yang baru keluar. Langkahnya langsung terhenti dan menatap pemuda di sampingnya.
"Ggio," ucapnya. Ggio mulai berjalan mendekati Soifon. Wajahnya berseringai. "Ada perlu apa?" tanya Soifon langsung, dia merasa ada yang aneh dengan Ggio kali ini.
Saat berada di hadapan Soifon, Ggio mengulurkan tangannya dan menyentuh bibir Soifon. Soifon langsung terkejut dan menepis tangan Ggio. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya marah.
Ggio menatap tangannya yang baru saja ditepis dan kembali menatap Soifon. Tatapannya berbeda, bukan tatapan hangat maupun usil yang ditunjukannya. Kali ini tatapannya terasa... pedih dan... marah.
"Bagaimana ciumannya?" tidak, bukan nada mengejek yang keluar dari bibir pemuda itu, nada itu terdengar marah di gendang telinga Soifon.
"Apa... maksudmu?" tanyanya. Dia tidak menyangka bahwa Ggio juga ikut menyaksikan pertunjukkan bodoh tadi. Padahal dia kira Ggio sudah pulang.
"Aku melihatnya," tangan Ggio kembali terjulur dan menyentuh bibir Soifon. tangan Soifon bergerak bersiap menepis tangan Ggio. Tapi tangannya langsung di tahan oleh Ggio. "Saat bibirnya menyentuh bibirmu," ada sedikit penekanan disetiap kata-katanya kali ini. Menunjukkan sejujurnya ia marah akan perbuatan mereka.
Soifon menatap Ggio dengan tatapan yang sulit diartikan, dia bagaikan seorang kekasih yang tertangkap basah sedang selingkuh oleh kekasihnya. "Tidak, kau salah Ggio," tangan Ggio terlepas.
Lalu, dia menggeleng dan berbalik. Soifon langsung menarik bajunya— menahan Ggio untuk pergi. Ggio menepis jemari lentik Soifon dengan kasar, hingga membuatnya meringis.
Ggio kembali menatap Soifon tajam, "Aku melihatnya, dia datang dan memelukmu. Dengan gampang dia menciummu, padahal... padahal aku ada di sana dan ingin menolongmu!" bentaknya dengan nada tinggi. Soifon tidak bisa mengatakan apa-apa untuk membalasnya. "Tapi, kalian menyuguhiku dengan pemandangan itu," Ggio kembali berbalik dan tertawa miris.
Lalu, Ggio merogoh sakunya, mengambil pita kuning yang pernah digunakan Soifon untuk membalut tangannya. Tanpa menoleh dia memberikan pita itu ke Soifon dan langsung berlari.
Sakit. Rasanya sakit mendengarkan setiap kata yang dihujamkan Ggio padanya. Padahal... padahal semua yang dia lihat tidak seperti itu. Soifon menatap pita kuningnya. Dia tidak tahu apa yang sedang merasukinya sekarang, tapi dia merasa sangat sesak jika mengingat tatapan kemarahan Ggio,
Dengan gontai ia langkahkan kakinya. "Soifon!" langkahnya terhenti. Tidak, perempuan itu tidak menoleh karena ia tahu siapa yang memanggilnya. Tesla berlari kecil mendekati Soifon dan menyentuh pundaknya, "Kau tidak apa-apa?" Soifon hanya menggeleng pelan dan melepaskan tangan Tesla dari bahunya.
"Iya, aku baik-baik saja," jawabnya lirih dan berlalu.
Sunsun menatap keluar dari jendela sekolahnya.
"Sunsun, ayo pulang," ajak Apache. Tapi, Sunsun masih bergeming menatap Ggio yang sedang berbicara dengan Soifon. Dari tempatnya dia dapat mendengar bentakan Ggio, dan suara lirih Soifon.
Tiba-tiba ponselnya berdering, jemarinya bergerak mengambil sebuah benda berbentuk persegi panjang, mengangkatnya dan mulai beranjak dari sana. "Halo," sapanya.
"Sunsun, jadwalnya dipercepat. Dia sudah tak bisa menunggu lagi. Empat hari lagi kau akan segera berangkat," tidak ada nada keterkejutan yang terlontar dari bibir mungil Sunsun. Tatapannya kosong.
"Aku mengerti," suaranya yang biasanya tajam, kini lemah dan serak. Apache menoleh mendengar nada suara itu. Dia hanya mendesah saat menyadari yang menelponnya adalah ibunya.
"Lalu, apakah Ggio akan ikut?" langkahnya terhenti saat mendengar pertanyaan itu. Sejujurnya, dia sendiri tidak mengerti kenapa Ggio harus ikut dengannya.
"Kenapa... kenapa Ggio harus ikut?" tanyanya tiba-tiba. Ibunya mendesah dari seberang sana.
"Kau akan mengerti nanti, sayang. Baiklah empat hari lagi bersama Ggio," Sunsun mendesah dan kembali melangkah.
"Baik," sambungan telepon pun terputus. Apache berjalan dan mendekati Sunsun, tapi Sunsun langsung mengangkat tangannya mengisyratakan 'jangan mendekatinya'.
Apache berhenti dan menatap Sunsun. Perempuan itu semakin hari semakin terlihat rapuh di matanya. Walaupun di mata para siswi Sunsun mengerikan tapi di saat sepi menyapa, sosok itu begitu lemah seolah jika tidak diperhatikan dia bisa hancur saat itu juga.
Perjalanan itu sepi, sesekali Apache melirik Sunsun saat mendengar dia mendesah. Suasana seperti ini sangat tidak ia sukai, jika sekarang ada Mila Rose mungkin mereka sedang bertengkar. Tapi perempuan berkulit cokelat itu sedang ada kegiatan klub saat ini.
Tangan Apache pun terangkat. Dengan sekali ayun tangan itu memukul bahu Sunsun, "Awww!" teriak Sunsun yang dipukul secara tiba-tiba. Tangannya menyentuh bahu yang baru saja mendapatkan sapaan dari tangan Apache. "Apa masalahmu?" bentaknya.
Apache hanya tertawa pelan melihat tingkah Sunsun. "Kau yang apa? Tiba-tiba mendesah, lalu diam, mendesah lagi. Kau sudah tidak kuat berjalan, eh?" ledeknya. Sunsun membuang wajahnya dengan anggun.
"Tidak ada hubungannya denganmu," jawabnya dingin. Apache menggeram dan ingin memukul perempuan itu lagi. "Besok aku akan melakukannya. Jika dia tidak ingin mundur juga... aku yang akan mundur," gerakan Apache terhenti.
Entahlah ini perasaan Apache atau memang kenyataannya begitu, tapi perkataan Sunsun seolah mengatakan dia akan segera pergi dan besok adalah usaha terakhirnya. Apache mendesah sehingga membuat Sunsun menoleh. "Besok pun kami akan membantumu," Apache menyeringai.
"Siapa yang membutuhkan bantuanmu?" ucapnya sinis. Empat siku langsung terbentuk di dahi Apache. Sunsun menggerakkan tangannya dan menutup mulutnya, tertawa pelan, "Demo... Arigatou. Hontou ni... arigatou," ucapnya lagi.
"Jeez," lalu, mereka berdua tetawa bersama-sama.
"Okaerinasai," ucap Soifon lemah. Tak ada balasan dari dalam rumahnya. Ah! Sudahlah dia sedang tidak ingin repot mencari dimana keluarganya berada sekarang. Dia terlalu lelah bahkan untuk mengucapkan salam yang kedua kalinya. Tanpa basa basi Soifon langsung melangkah naik dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
Blam.
Dengan sekali hentakan dia langsung melempar tasnya ke sembarang tempat dan menghempaskan tubuhnya ke kasur miliknya. Dia mendesah berat dan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, perempuan itu tampak begitu... resah.
Tok. Tok. Tok.
Soifon mengangkat kepalanya, tanpa menunggu jawaban dari Soifon, pintu itu telah terbuka. "Soifon," Yoruichi langsung masuk ke kamar adiknya dan duduk di sebelahnya. "Kau berhenti berlari?" Soifon langsung mendesah dan mengalihkan pandangannya.
"Tidak apa, jika kau memang berhenti karena kemauanmu sendiri," Soifon menundukan kepalanya.
"Aku su—" perkataannya terhenti saat Yoruichi menempelkan jari telunjuknya ke bibir gadis berkepang di sebelahnya, menyuruhnya diam.
"Tidak apa, aku tidak ingin mendengarnya. Sebentar lagi musim dingin, pakailah baju yang lebih tebal," ucapnya sambil menepuk kepala Soifon dan bangkit dari tempat itu. Saat di ambang pintu, Yoruichi berbalik. "Kami tidak seburuk itu, Soifon," alis Soifon berkerut samar dan pintu itu langsung tertutup.
'Musim dingin, ya,' pantas saja cuaca belakangan menjadi dingin. Soifon mendesah. Dia tidak suka musim dingin, karena pada musim dingin pasti akan dilakukannya kegiatan itu. Dan dia sama sekali tidak mahir dalam melakukannya.
Keesokkan harinya, Soifon berangkat ke sekolah dengan menyelimuti lehernya menggunakan syal tebal dan mantel miliknya. Tangan yang biasanya ia letakkan di luar saku, kini terkurung di dalamnya. Benar saja, hari ini angin bertiup lebih kencang. Membuat dia sendiri enggan datang ke sekolah— tapi jika dia melakukannya, ayahnya pasti akan memarahinya.
Saat tiba di ruang loker, Soifon dapat bernafas lega dan segera melepaskan mantel serta syalnya. Bersyukur gedung sekolah itu dilengkapi dengan pemanas. Jika tidak, mungkin mereka akan segera membeku di tempat.
Soifon melirik loker di sebelahnya sejenak. Bibirnya kembali mendesah berat saat mengingat kejadian kemarin. Dengan gontai ia langkahkan kakinya menuju kelas. Sepertinya kali ini tidak ada lagi yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
Hanya saja masih ada siswi yang berkasak-kusuk tentang dirinya. Tapi... Hei! Dia menjadi terkenal dalam sehari! Bukankah itu menyenangkan?
Tiba-tiba langkahnya berhenti saat menatap Sunsun yang melewatinya. Tidak tidak, kali ini perempuan berambut hijau itu tidak menegurnya atau mengejeknya, bahkan berseringai saja tidak.
Berhasil, dia tidak menggangguku lagi, batin Soifon. Tiba-tiba segalanya menjadi gelap. Seseorang menutup matanya dari belakang.
"Siapa itu? Cepat lepaskan tanganmu," Soifon menyentuh tangan yang menutupi matanya. Tiba-tiba terdengar gelak tawa dari orang tersebut. 'Ggio-kah?' batinya menebak.
Ggio tetap berdiri di samping pemuda yang menutup mata Soifon, sambil menatap Soifon dengan dingin. Iris keemasannya bergerak untuk mengalihkan pikirannya dari perempuan itu.
"Ggio?" iris keemasannya kembali bergerak menatap Soifon. Perlahan tangan yang menutupi matanya melonggar. Dengan segera Soifon melepaskan tangan itu dan berbalik untuk menatap siapa pelakunya.
"Ta-da!" Tesla tersenyum menatap Soifon. Perempuan bermata abu itu hanya tersenyum tipis menanggapinya. Bola matanya menggelinding ke kiri, menatap Ggio yang berdiri di samping Tesla— untuk beberapa saat, mereka beradu pandang.
"Soifon," dia tersentak dan menatap Tesla. Tangan pemuda itu bergerak meraih tangan Soifon dan mengangkatnya, hendak mencium punggung tangan perempuan itu. Dengan segera tangan itu langsung ditarik menjauh. Ggio langsung mengalihkan pandangannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Soifon. Tesla mengangkat kepalanya dan menatap Soifon. Tangannya kembali bergerak menggapai tangan Soifon.
"Aku pacarmu sekarang, ingat?" tidak ada perlawanan saat Tesla mengucapkan itu. Dengan mudah Tesla kembali menangkap tangan Soifon. "Jangan hancurkan sandiwara ini," bisiknya, Tesla menarik Soifon mendekat.
"Lepas," Soifon sedikit mendorong tubuh Tesla menjauh. "Ini semua hanya kepura-puraan," desisnya.
Tesla meletakkan jarinya ke bibir Soifon, "Ssst," dia mendekatkan wajahnya sehingga dapat melihat iris abu itu dengan jelas. Dengan mudahnya semburat merah muncul dikedua pipinya. Ggio melirik Soifon dan secepat itu pula dia langsung kembali mengalihkan pandangannya.
"Aku katakan padamu, Soifon. Kemarin bukan sebuah sandiwara, tapi aku serius mengatakan kau adalah pacarku, karena aku— ," kalimatnya terhenti saat dia mengangkat tangan Soifon mendekati bibirnya, "— menyukaimu," sebuah kecupan mendarat di tangannya.
Ggio langsung menoleh saat mendengar kata-kata barusan. Dan matanya membulat saat melihat kecupan yang diberikan Tesla. Soifon menangkap iris keemasan Ggio saat ia mendongakkan kepalanya.
Entah kenapa, tanpa perlu dikomando, Soifon langsung menarik tangannya dan mendorong tubuh Tesla menjauh. Dengan tergagap gadis itu melangkah mundur dan langsung berlari.
Apa yang mereka inginkan? Mempermainkanku? Soifon menyentuh telapak tangannya dan mengusapnya, seolah ingin menghilangkan keberadaan Tesla di sana.
"Dia lari," sesal Tesla, "Ayo, Ggio!" Tesla mulai berjalan terlebih dahulu. Tiba-tiba tangannya ditahan oleh Ggio, dia menoleh, "Ada apa?"
"Apa yang kau rencakan, Tesla?" Tesla menepis tangan Ggio dan tersenyum simpul.
"Aku tidak bohong, Ggio. Aku menyukainya," dia menampilkan giginya. Ggio menggeram melihatnya.
"Uso!" Ggio mencengkram kerah Tesla dan mendorongnya hingga ke tembok, "Sebaiknya kau serius Tesla Lindocruz," ancamnya. Tesla terkekeh dan menyentuh tangan Ggio, menurunkannya dari kerahnya.
"Ada apa, Ggio Vega? Jangan katakan kau mulai menyukainya," Tesla menyeringai. Ggio menggertakan giginya dan langsung berlalu.
Brak.
Tanpa memperdulikan pandangan teman sekelasnya, Soifon langsung menduduki kursinya dan menelungkupkan kepalanya.
Apa yang ada di kepala mereka? Permainan ini sama sekali tidak lucu, gerutunya dalam hati, Terutama dia! Apa maksud tatapannya itu? Memangnya aku pacarnya? Memberikan tatapan menyebalkan seperti itu.Tiba-tiba dia bergeming, dan menatap punggung tangannya.
Ggio. Tatapannya mulai menyendu, dan gambaran akan wajah Ggio berputar di kepalanya. Tatapan kemarahannya, kepedihannya, kekecewaannya, itu semua menyesakkan bagi Soifon
TEEEEEEEEET
Bahkan bel nyaring itu tak dapat membuat gambar Ggio menghilang dari kepalanya. Beberapa kali Soifon menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemuda itu dari pikirannya. Tapi percuma, tidak berhasil sama sekali. Padahal mereka baru bertemu. Tapi, kenapa sesakit ini? Soifon mendesah dan menatap Aizen yang baru saja masuk ke kelasnya.
Saat pulang sekolah.
"Soifon, kau yakin tidak ingin pulang bersama?" tanya Orihime cemas, sedari tadi dia melihat Soifon tampak resah. Soifon menggeleng.
"Setidaknya Ulquiorra dapat menjagamu," tawar Orihime lagi.
Brak.
Tiba-tiba buku yang dipegang Soifon terjatuh dengan keras. "Cukup, aku baik-baik saja," ucapnya dingin. Ulquiorra langsung memasuki kelas itu saat mendengar suara barusan.
"Sudah ayo pergi," Ulquiorra langsung menarik tangan Orihime menjauh. Orihime menatap Soifon.
"Tapi..." Orihime terus berontak agar terlepas dari cengkaraman Ulquiorra. Ulquiorra pun berhenti dan menatap Orihime.
"Kau hanya akan menganggunya," Orihime tersentak dan menatap Ulquiorra. "Ayo pulang, udaranya semakin dingin," Ulquiorra menepuk kepala Orihime, "Tampaknya salju pertama akan turun hari ini," kedua bola mata Orihime langsung berbinar.
"Benarkah?" Ulquiorra melepaskan tangannya dan segera berbalik.
"Kalau kau sudah mengerti, ayo pulang," Orihime langsung berlari menyusul Ulquiorra dan mulai bercerita tentang kegiatan yang akan mereka lakukan untuk menyambut musim dingin.
Soifon hanya mendesah saat menatap kedua temannya barusan. Setelah ia selesai dengan barang-barangnya, perempuan itu menyandang tasnya di bahu, dan segera berjalan menuju ruang loker.
"Halibel, aku duluan," seorang perempuan berambut kuning hanya mengangguk dan membereskan barangnya sendiri. Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dari luar kelasnya. Dari suaranya perempuan itu tahu siapa pemiliknya dengan jelas. Sebuah helaan nafas keluar dari bibirnya.
"Ggio, tunggu!" teriaknya. Tangan kurusnya bergerak menangkap tangan Ggio, dan menahan pemiliknya untuk melangkah lebih jauh. Pemuda berkepang itu menoleh dan menatap datar Sunsun.
"Apa lagi yang kau inginkan?" tanyanya malas. Sunsun menarik tangan pemuda itu dan menggenggam kemeja sekolahnya.
"Ggio, jika kau tak percaya padaku, kau bisa menanyakannya pada orang tuaku," entah kenapa kali ini nafas Sunsun terasa tidak beraturan dan kulit putihnya pun tampak lebih pucat dari biasanya.
Ggio menyadari perubahan ini. "Kau baik-baik saja, Sunsun?" tanyanya bingung. Perempuan berambut hijau itu melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah.
Sunsun terdiam sebentar dan mencoba mengatur nafasnya. Tapi percuma, nafasnya tidak kunjung tenang. Sunsun kembali menatap iris keemasan itu. "Aku baik-baik saja. Kau mau ikut aku atau tidak?" desisnya.
"Tidak!" jawabnya tegas. Sunsun menyentuh pegangan tangga di sampingnya. Seolah menahan bobot tubuhnya yang bisa ambruk kapan saja.
"Kenapa?" ucapnya pelan. Nafasnya semakin tak beraturan, entah apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ggio berjalan maju mendekat. "Jangan mendekat!" bentaknya. "Jawab saja pertanyaanku," langkah Ggio langsung terhenti.
"Sunsun, kau sakit. Lebih baik kau pulang."
Sunsun menyibakkan rambutnya ke belakang dan menatap pemuda itu, bola matanya menggelinding dan menemukan Soifon berjalan di lantai bawah.
"Oh! Aku tau, dia 'kan? Karena DIA, 'kan?" jeritnya sambil menunjuk gadis berkepang di bawahnya. Sontak Soifon langsung mengangkat kepalanya dan menatap Ggio dan Sunsun di atasnya.
Soifon menatap Ggio sejenak dan kembali berjalan. "Kau mau kemana?" tanpa menghiraukan rasa aneh dalam tubuhnya, Sunsun berjalan cepat menyusul Soifon, tapi, pemuda berkepang di hadapannya langsung menahan tangannya.
"Lepas!" ditepisnya lengan itu dan dia langsung menuruni tangga menghampiri Soifon. Gadis berkepang itu terus berlalu, mengabaikan suara-suara yang memintanya untuk berhenti, "Mau kemana kau, Shaolin Fon?"
Tanpa perlu dikomando, tubuh itu terhenti, langkah Sunsun pun turut berhenti, dan sebuah senyum sinis menghiasi wajahnya. "Melihat reaksimu, jadi benar, nama aslimu Shaolin Fon?" ucapnya sinis.
Soifon langsung berbalik menatap iris lavender Sunsun dengan penuh keterkejutan. "Bagaimana kau—"
"Bisa tahu nama aslimu?" sergahnya. Ggio sendiri tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang perempuan di hadapannya. "Tidak penting bagaimana aku bisa tahu," Sunsun mengibaskan tangannya. Iris lavendernya berputar dan kembali bertemu pandang dengan iris keemasan Ggio.
"Benarkan? Karena dia, kau tidak ingin pergi, 'kan?" pemuda itu bungkam, dia diam seribu bahasa. Dia sendiri tidak mengerti kenapa begitu cepat pikirannya berubah. Padahal saat itu dia setuju untuk pergi ke Paris bersama dengan Sunsun. Apa benar semua ini karena Soifon?
"Jawab aku, GGIO VEGA!" bentaknya sekali lagi. Soifon hingga terkejut mendengarnya. Sunsun yang biasanya tenang dan mengucapkan setiap katanya dengan pelan namun menusuk, kini membentak seorang laki-laki.
Sret.
Halibel menggeser pintu kelasnya dan mulai berjalan keluar. Tapi, tampaknya tidak ada yang menyadari keberadaannya akibat ketegangan yang terjadi di sana.
"Aku beri tahu padamu Ggio, perempuan yang kau lihat itu. ANAK PUNGUT!"
Kedua bola mata Ggio membulat mendengarnya, begitupula dengan Soifon. Kata-kata itu terdengar kasar di telinganya. Bak radio rusak yang berulang kali mengucap kata yang sama dan mengisi setiap celah yang ada di kepalanya.
Tangannya terkepal erat, dalam beberapa langkah dia berhasil menyamai posisi Sunsun dan menyentuh bahu perempuan itu. Ggio pun langsung melangkah turun. "Sunsun, kau—" ucapannya terhenti saat menyadari seseorang menyentuh bahunya. "Tia," panggil Ggio pelan, dan perempuan berkulit cokelat itu langsung berjalan menghampiri Sunsun.
Perempuan itu menatap Soifon sinis, seolah meremehkan. Tangan Soifon tearangkat dan saat dia mengayunkannya, tiba-tiba seseorang memutar kepala Sunsun.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di tempat yang mulai sepi itu. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sunsun, dan menimbulkan warna merah di kulit pucatnya. Matanya terbelalak saat menatap si penampar, "Ha... libel...-senpai," ujarnya kaget. Ggio hanya menatap adegan itu dalam diam.
"Kenapa?" tanyanya, dengan mata yang mulai berair. Dia sangat tidak menyangka Tia Halibel yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, orang yang sangat dia kagumi sekaligus hormati, menampar dirinya. Padahal Halibel sendiri ingin membantunya, tapi kenapa?
"Sudah cukup. Aku tidak memberimu informasi untuk menghina gadis ini," ucapnya dingin. Sunsun menggelengkan kepalanya dan langsung berlari meninggalkan tempat itu. Kecewa. Tentu saja, ia ditampar di hadapan Ggio dan Soifon, sungguh memalukan. Halibel menghela nafasnya dan mulai berjalan tenang.
"Tia!" Ggio berjalan cepat untuk menyusul Halibel, "Tidak apakah?" Halibel berhenti dan menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa," jawabnya singkat dan berlalu. Tinggal mereka berdua di tempat itu, mereka saling menatap satu sama lain— suasana menjadi sangat canggung. Bahkan walaupun gedung sekolah itu dilengkapi pemanas, entah kenapa hawa-hawa dingin menyusup diantara mereka berdua.
Soifon membuka mulutnya, bersiap berbicara, tapi dia segera mengatupkannya lagi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi. Dengan segera Soifon berbalik dan berjalan. Tapi, baru beberapa langkah, tangannya langsung ditarik oleh Ggio, dan membuatnya jatuh ke dalam pelukan Ggio. Pemuda itu pun memeluknya dari belakang.
"G-Ggio," bisiknya pelan. Semburat merah mulai muncul dikedua pipi putih Soifon. Dapat ia rasakan desah nafas Ggio yang mengenai tengkuknya. Tubuhnya terasa tersengat saat merasakan kehangatan nafas Ggio. Dapat ia dengar dengan jelas detak jantungnya yang mulai berdebar keras dan detak jantung Ggio yang juga berdetak pelan namun terdengar tak beraturan.
Debaran jantung mereka seolah saling menyapa satu sama lain, membuat suasana semakin canggung. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Soifon, mencoba bersikap tenang dan mengabaikan debaran jantungnya yang selalu bertambah cepat setiap detiknya.
"Tesla," panggil seseorang berambut blonde panjang, saat menemukan Tesla sedang mengamati seseorang di belakangnya. Tesla langsung menoleh.
"Ssst," pemuda berambut blonde itu mengangkat tangannya, tanda maaf, dan berjalan mendekati Tesla.
"Apa yang sedang kau lihat?" bisiknya, sambil berusaha mencari celah untuk melihat apa yang sedang dilihat Tesla.
"Bukan apa-apa. Sana pergi!" bisik Tesla dengan nada mengusir. Pemuda itu mengerutkan alisnya curiga, tapi Tesla langsung mengibaskan tangannya, menyuruh pemuda itu pergi. Dia menatap Tesla sejenak dan langsung pergi meninggalkan pemuda itu lagi. Setelah memastikan pemuda tadi benar-benar pergi, Tesla kembali menatap Ggio dan Soifon.
"Kau jahat," bisiknya, yang membuat gadis itu bergidik. Semakin lama pelukan itu semakin erat.
"Apa maksudmu?" Ggio diam dan semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk antara bahu dan kepala Soifon. "Ggio... lepas," Soifon mendorong tubuh Ggio, tapi pemuda itu bergeming.
"Kau mengizinkannya menciummu," ucapnya lirih, setiap dia berbicara, bibir Ggio secara sengaja-tak-sengaja menyentuh lekuk leher Soifon. Membuat debaran jantung gadis itu semakin tak karuan.
"Ggio, lepas!" kali ini suara Soifon meninggi, dan dia dorong sekuat tenaga tubuh Ggio. Usahanya tak sia-sia, akhirnya ia terlepas, dan bersiap berlari. Tapi sekali lagi tangan Ggio bergerak cepat dan menangkap lengan kurus itu untuk kedua kalinya.
Tidak ada pelukan kali ini, Ggio menariknya hingga tas Soifon terhempas, dan membuat pemiliknya tertahan di dinding. Debaran jantungnya bertambah cepat, tapi kali ini tercampur rasa takut dalam debaran itu. Rasanya, pemuda di hadapannya ini bukanlah Ggio yang ia kenal.
Apa yang kau kenal tentang pemuda ini, Soifon? Kau tidak mengenalnya sama sekali. Tanpa menatap iris abu Soifon, Ggio langsung menelengkan kepalanya, mendekati bibir kecil gadis berkepang itu.
"Di sini, dia menciummu," nafasnya begitu terasa hangat di bibir Soifon. Entah apa yang merasuki pemuda yang juga berkepang itu, hingga membuatnya melakukan ini. Marahkah? Kesalkah dia? Cemburukah dia?
Tanpa Soifon sadari, tubuhnya sedikit bergetar akibat ketakutan yang bercampur dalam debaran jantungnya. Dia ingin melawan, tapi tangannya tertahan di dinding oleh Ggio. Dia ingin berteriak, tapi tenggorokannya serasa tercekat. Matanya terpejam secara instingtif— memikirkan hal terburuk yang akan di lakukan oleh Ggio.
Ggio menyadari getaran pada tubuh Soifon dan menghentikan gerakannya. Kepalanya terangkat dan dia menatap mata terpejam Soifon. Perlahan kakinya melangkah mundur, dan melepaskan tangan Soifon dari cengkramannya.
Kedua kelopak mata Soifon langsung terangkat, kembali menunjukkan keindahan iris abu yang tersembunyi di dalamnya. Kedua kaki Soifon terasa lemas, hingga membuat tubuhnya terperosok, terduduk di lantai.
Nafasnya sedikit menderu, walau begitu, Soifon tetap menatap Ggio yang berbalik membuka tas miliknya. Tiba-tiba Ggio berbalik dan melempar sebuah syal ke tangan Soifon. Detik berikutnya, Ggio menyandang tasnya sendiri dan berbalik.
Sebelum itu dia sempat menatap iris abu Soifon, tatapannya menunjukkan rasa penyesalannya, "Pulanglah, dan jangan lupa pakai syal itu," setelah itu dia berbalik dan segera meninggalkan soifon.
Bola matanya menatap syal kuning di atas tangannya, dan mulai melingkarkannya di leher putihnya. "Seperti Ggio," bisiknya sambil menatap syal itu. Setelah itu, dia berdiri, menyandang tasnya kembali dan berjalan pulang.
Ggio berbelok menuju tempat parkir, pemuda itu telah diizinkan menggunakan motor sekarang, karena luka di tangannya sudah sembuh total. Saat berbelok, dia melihat Tesla bersandar di dinding, tapi pemuda itu tidak menghiraukannya dan terus berlalu.
"Ggio, aku tidak menciumnya."
Sampai kata-kata itu terucap dari bibirnya. Bagaikan mantar sihir yang langsung mengambil alih otaknya, membuat tubuhnya berhenti dan berbalik menatap Tesla.
To Be Continued.
A/N : haaaaah, aku tidak tau bagaimana pendapat kalian tapi saya merasa fic ini, haaaaaah. Yah maafkanlah author gaje ini hix hix
Silahkan lontarkan keluh kesah kalian tentang fic ini di review
So, review pliss. hehe
Give thx :
To Divinne Oxalyth ga login : hahahaha Yumi yumi *geleng-geleng* anyway thx atas reviewnya yah ^^
To pecinta fic : begitukah? Terima kasih heheh, gimana reaksinya? Silahkan diliat *ditendang* hehe makasih atas reviewnya yah ^^
Special thx to aRaRaNcHa walau dia sudah quit hix hix, tapi aqu berterima kasih kepadanya, karena sekarang aku mengenakan jasa beta read darinya. Kenapa? Untuk memperbaiki penulisan saya.
Kenapa aku tulis nama cha terakhir? Karena aku suka bagian terakhir, makanya aku tempatkan nama dia di terakhir hehehe. Sekali lagi makasih cha *hug* ^^
