Disclaimer : Tite Kubo.
Warning : AU, OOC (maybe), Typo (s).
A/N : Astaga! Belakangan saya sibuk sekali haaaaaah, sampai-sampai mengetik fic saja tidak sempat /plak ahahahaha. Anyway chapter kali ini banyak ngomong seperti biasa /plak ahahahaha.
Selamat membaca.
Don't like don't read.
Enjoy.
A Star and A Bee.
Chapter 8.
Confession.
Tik tok tik tok.
Suara dari gerak jarum jam menggema di sebuah ruangan bercat putih yang di kelilingi oleh loker-loker para siswa. Dua orang siswa yang belum pulang, berdiri di antara tingginya loker-loker di sekitar mereka, saling memandang satu sama lain.
"Apa katamu?" salah satu dari mereka—Soifon—memecah keheningan, dengan suara serak dan lirih yang ia keluarkan. Pemuda di hadapannya diam, berusaha mengumpulkan keberanian lagi.
Tangan yang tersimpan rapi di saku celana bergetar pelan akibat kegugupan yang sedari tadi merasukinya. Walaupun iris turquioise-nya masih menatap serius gadis di hadapannya.
"Shaolin Shihoin, aku... menyukaimu," ulangnya untuk yang kedua kali. Soifon kembali mengerjap, memastikan bahwa dia benar-benar tidak sedang bermimpi. Pemuda tadi—Hitsugaya—membuka bibirnya lagi. "Apa jawabanmu?"
Soifon langsung terkesiap mendengar pertanyaan itu, bola matanya bergerak menghindari tatapan pemuda berambut putih itu, dan kaki kanannya bergerak mundur. Mendadak ia merasa pusing karena begitu banyak hal yang terjadi hari ini.
Ia baru saja bernapas lega saat menuruni tangga menuju ruang loker saat tiba-tiba sesosok pemuda berdiri sambil menyandar pada loker-loker di belakangnya, lalu menatap Soifon, seolah dia memang sedang menunggu kedatangan gadis itu.
"Hitsugaya?" panggil Soifon ragu, dan benar pemuda berambut putih itu menoleh dan menjauhi loker yang sedari tadi ia sandari, kemudian berjalan mendekati Soifon. Berjarak beberapa langkah dari gadis itu, Hitsugaya berhenti.
"Aku menyukaimu," Soifon langsung membekap mulutnya untuk tidak menjerit kaget karena mendengar pernyataan Hitsugaya secara mendadak. Iris abunya ia kerjapkan beberapa kali dan mencoba mencerna perkataan Hitsugaya sekali lagi.
"Shihoin," lamunan Soifon buyar saat mendengar suara dingin itu kembali menyebut namanya, kepalanya terangkat dan menatap Hitsugaya.
"Aku..." kepalanya menggeleng dan dengan cepat dia mengambil barang-barangnya, lalu meninggalkan Hitsugaya yang masih mematung.
"Tunggu!" teriaknya, membuat sepasang kaki kecil Soifon berhenti melangkah. "Katakan dengan jelas," pintanya, dan Hitsugaya memutar tubuhnya hingga menatap punggung Soifon.
Bibir bawah Soifon sedikit gemetar, dia tidak tahu apa yang akan ia katakan, gadis itu bingung dan sangat tidak mengerti apa pun lagi. "Aku tidak bisa," ucapnya pelan seperti berbisik.
Hitsugaya mengangkat kaki kanannya dan berjalan mendekati Soifon, perlahan tangannya menyentuh bahu Soifon yang gemetar samar akibat kekagetan yang melanda hatinya. "Tatap aku," diputarnya tubuh gadis itu, hingga mereka kembali berhadapan.
Iris abu Soifon kembali bertemu dengan iris turquoise Hitsugaya. Dan sekali lagi ia mengalihkan pandangannya, lalu melepaskan tangan Hitsugaya. Perempuan itu pun berjalan menjauh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Sial!" Hitsugaya memukul loker di sebelahnya, hingga menimbulkan bunyi nyaring di ruangan sepi itu.
Seseorang di balik barisan loker lain menutup mulutnya, berusaha menahan apapun yang mungkin dapat keluar dari dalamnya. Baru saja ia mendengar percakapan mereka berdua.
Rasanya seluruh tubuhnya lemas, karena mendengarnya. Harusnya tadi ia langsung pulang, harusnya dia tidak mendengar percakapan mereka, seharusnya. Namun itu sudah terlambat, ia memilih tinggal dan mendengar semuanya tanpa terkecuali.
Dan sekarang, bola mata hazelnya membulat lebar, ia sandarkan tubuhnya ke loker di belakangnya. Jantungnya berdebar keras antara kesal, kecewa, kaget dan iri bercampur jadi satu.
Di sentuhnya loker di belakangnya, mengira-ngira apakah Hitsugaya masih ada di baliknya. Suasana ruang loker itu kembali sepi, sepertinya Hitsugaya telah meninggalkan tempat itu.
Dengan segera gadis bercepol itu mengambil jaketnya dan berbalik, untuk segera keluar dari sekolah. Saat ia berbelok, langkahnya terhenti. Hitsugaya masih berdiri di sana sambil bersandar.
Hinamori tidak tahu harus bersikap seperti apa, ia ingin pulang dan segera berbalik. Tepat saat perempuan itu berbalik, Hitsugaya menggerakkan bola matanya ke kanan. "Hinamori," panggilnya pelan.
Hinamori memutar kepalanya dan menatap iris turquiose itu sesaat, dan langsung berbalik menjauh.
"Ggio, aku tidak menciumnya," langkah Ggio langsung terhenti saat mendengarkan mantra yang baru saja Tesla ucapkan. Pemuda bermabut dirty blonde itu menjauhkan tubuhnya dari dinding dan berdiri tegap di belakang punggung Ggio.
"Apa maksudmu?" Ggio belum berbalik, dia masih memunggungi pemuda itu. Tangannya mulai terkepal erat.
"Aku belum menyentuh bibirnya. Kau mengerti maksudku," Ggio langsung berbalik dan kembali menyudutkan pemuda itu ke dinding. Tatapannya dingin dan sangat serius.
"Kau mempermainkannya!" bentaknya, tangannya mencengkeram erat kerah leher pemuda itu. Tesla menyentuh tangan Ggio—berusaha melepaskan diri, tapi Ggio tetap mengencangkan cengkramannya.
Terlihat Tesla sudah mulai sesak karena cengkaraman Ggio, napasnya mulai menderu mencari pasokan udara sebanyak mungkin. Lalu, dia pun menatap Ggio tajam. "Aku tidak mempermainkannya!"
Tesla balas membentak Ggio, dan mendorong tubuh pemuda berkepang itu menjauh dari tubuhnya. "Aku tidak mempermainkannya, karena aku serius mengatakan aku menyukainya," ucapnya, di sela-sela pengisian udara ke dalam paru-parunya.
"Kau bohong, Tesla Lindocruz!" Tesla menyeringai, sepertinya dia sudah kembali berpikir jernih.
"Siapa yang pembohong? Jangan menuduhku sementara kau sendiri tak bisa menyatakan perasaanmu!" nadanya semakin meninggi, dan jari telunjuknya mengarah ke Ggio. "Kau menyukai Shaolin Fon, Ggio Vega," ucapnya pelan.
Iris keemasan Ggio membulat, tidak pernah terukir di otaknya tentang sebuah perasaan seperti itu. Tidak pernah ia pikirkan sebuah kesimpulan seperti 'suka' di dalam hubungannya dengan Soifon. Tidak pernah ia pikirkan sebuah kata 'suka' adalah alasan dari sikap kesalnya pada Tesla dan Soifon. Tidak pernah!
"Aku tidak—" Ggio berbalik memunggungi Tesla.
"Kau bohong!" kini balas Tesla meneriakinya. "Kau menyukainya, kau hanya tak ingin mengakuinya," Ggio diam tak membalas. "Baik, teruslah seperti itu, dan aku akan mendapatkan hatinya lebih dulu!" Tesla berbalik dan langsung menjauh dari lingkup pandang Ggio.
"Aku tidak tahu—" jawab Ggio kemudian, lebih tepat kepada dirinya sendiri. Dia menatap pita putih milik Soifon yang masih ia simpan di saat pertama kali mereka bertemu. "—Soifon," bisiknya pelan.
Keesokan harinya.
Cuaca tidak lebih baik dari sebelumnya, kapas-kapas lembut yang turun dari langit menjadi pemandangan indah di pagi hari yang tenang di SMA Karakura. Semua orang mengamatinya dengan tenang dari jendela kelasnya, termasuk diantaranya Soifon.
Dia duduk di kursinya sambil menatap ke luar jendela. Butiran-butiran suci itu jatuh perlahan dan bersatu dengan teman-teman yang sudah terlebih dahulu menginjak bumi.
Dalam sekejap, sekeliling mereka terselimuti oleh kepingan empuk bernama salju. Semuanya didominasi oleh warna putih: atap rumah, jalanan, pohon-pohon. Semuanya terlihat putih, lembut dan suci.
Soifon menghela napasnya lagi saat melihat ke-360 butir kristal es yang menyentuh permukaan putih di bawahnya. Ya, dia menghitungnya, dia menghitung setiap butir salju yang tertangkap oleh indera penglihatannya. Hal itu ia lakukan karena bosan, harusnya sekolah telah diliburkan.
Karena tumpukan salju yang semakin meninggi, para guru pastilah tertahan di jalan. Dan para murid terpaksa menunggu hingga guru-guru tersebut datang.
Tuk tuk tuk.
Soifon memutar kepalanya dan menatap ke depan kelas. Tiga orang yang ia kenal sebagai anggota OSIS berdiri di depan kelas sambil mengetukkan kapur ke papan tulis, meminta perhatian penghuni kelas itu.
Saat semua mata menatap tiga orang itu, seorang siswi berambut hijau tosca maju selangkah. "Selamat pagi, kami datang hari ini untuk menyampaikan kegiatan tahunan kita saat musim dingin," sontak suasana kelas riuh mendengarnya.
Beberapa dari mereka tertawa, dan mulai berbisik dengan teman mereka. Sementara Soifon hanya mendengus dan bertopang dagu mendengar berita itu. Nel—perempuan berambut hijau tosca tadi—tersenyum dan mengangkat tangannya, menyuruh adik kelasnya diam.
"Besok, kita akan mengadakan acara ice skating bersama. Tidak, tidak, besok adalah giliran kelas dua untuk ber-skating, kalian di harapkan berkumpul di sekolah ini. Semua wajib ikut, dan jika berhalangan harus menelpon sekolah, itu pun dengan alasan jelas."
Kelas kembali gaduh saat Nel mengucapkan kata-kata 'wajib', ada yang senang, dan ada yang menekuk wajahnya karena tidak terlalu mahir di bidang itu. "Kami akan mencatat satu persatu nama kalian," Halibel beserta satu orang lagi maju dan menulis nama-nama para siswa.
Tidak ada kritikan yang terlontar saat Halibel mengelilingi meja-meja itu, semuanya diam dan patuh. Nel tersenyum melihatnya, sesekali bola mata hazelnya menatap Soifon.
"Sudah," Nel terbangun dari lamunannya dan menatap Halibel yang telah berdiri di sampingnya.
"Baiklah, terima kasih kerja samanya, selamat pagi," pamit Nel, lalu ketiga orang itu berjalan keluar dari ruang kelas dan berjalan ke kelas berikutnya. Soifon mendesah dan kembali menatap keluar jendela.
Gerakan bola matanya terhenti saat menangkap sosok yang menarik perhatiannya. Seseorang dengan rambut berkepang dan beriris emas sedang bermain bola salju bersama teman-temannya.
Tanpa ia sadari, bola matanya mengikuti setiap gerak-gerik dari pemuda itu, sesekali dia tertawa pelan saat Ggio—pemuda itu—terkena bola salju oleh temannya. Orihime menoleh saat mendengar suara tawa Soifon yang amat pelan itu.
Orihime berjalan mendekati meja Soifon, dan mencondongkan wajahnya ke jendela untuk melihat siapa yang sedang diperhatikan oleh Soifon. Tampaknya mantan anggota klub lari itu belum menyadari kehadiran Orihime.
Orihime tersenyum geli, saat menyadari siapa yang diperhatikan oleh Soifon. "Ggio, ya?" Soifon langsung melepaskan tangan dari dagunya, dan menatap Orihime yang ada di sampingnya. Gadis itu tertawa pelan.
"Bu-Bukan," jawab Soifon sedikit gelagapan dan mengibaskan tangannya. Tapi, jutsru itu semakin memperkuat pernyataan Orihime.
"Kamu menyukainya?" wajah Soifon memerah dan langsung menggeleng cepat. Orihime kembali tertawa. "Ah! Aku lupa, kamu sedang menjalin hubungan dengan Tesla," Soifon terdiam, dalam sekejap rona merah di pipinya menguap begitu saja.
Sementara di tempat Ggio.
"Hei!" bentaknya, saat lagi-lagi pemuda itu terkena bola salju, tangannya pun bergerak mengambil sejumput salju dan melemparkannya ke temannya itu. Sebenarnya, Ggio sudah merasakan sejak tadi bahwa dia sedang diperhatikan oleh seseorang.
Tapi, dia enggan menoleh, menurutnya itu pasti salah satu fans-nya. Tapi, hal ini mengganggunya, ia risih jika harus ditatap dan diperhatikan oleh seseorang dalam jangka waktu yang tidak sebentar.
Dengan sekali gerakan, kepalanya berputar dan sedikit mendongak. Kelopaknya tidak mengatup untuk sementara saat menatap siapa yang sedang menatapnya. Gadis berkepang dua dan beriris abu—Soifon.
Gadis itu menoleh, saat Orihime muncul di sampingnya, dan mereka tertawa pelan. Ggio membuka bibirnya, ingin menyapa gadis itu, ingin menyebutkan namanya, ingin mengajaknya bermain bersamanya.
Tapi, rasanya sulit. Sehingga Ggio hanya membuka bibirnya, tanpa mengeluarkan satu kata pun.
"Tesla, ayo main bersama!" nama itu membuat Ggio mengalihkan pandangannya dari Soifon, menatap pemuda beriris cokelat yang lewat di koridor sebelah mereka.
Tesla mengangkat tangannya, sebagai tanda ia menolaknya. Untuk sesaat Ggio dan Tesla saling pandang. Tapi, hanya sesaat dan setelah itu Tesla kembali melangkah.
BUK
"Aku belum siap!" bentak Ggio lagi, saat untuk kesekian kalinya gumpalan kapas lembut itu mengenai kepalanya.
"Ojou-sama, tolong buka pintunya," seseorang bersuara parau mengetuk pintu kayu itu beberapa kali. Tapi, tidak ada sahutan dari orang di dalamnya. Pemilik kamar itu masih diam dan memeluk lututnya.
Ruangan yang sangat luas itu tampak gelap, tanpa penerangan. Di samping kasur berukuran king size, sang pemilik kamar duduk dan bersandar pada dinding sambil terus memeluk lututnya.
Kejadian kemarin terulang di kepalanya. Tangannya bergetar dan menyentuh pipinya yang masih berdenyut sakit. Sesekali dia bergumam. "Halibel-senpai." Sunsun memejamkan mata dan mengingat perkataan Halibel. Saat perempuan berambut kuning itu menelponnya.
Sunsun, aku tahu kau di sana. Aku hanya memberi tahumu, lebih baik kau bertanya kepada ibumu kenapa Ggio harus ikut denganmu.
Kepalanya menggeleng, menolak kenyataan bahwa dia tidak mengerti kenapa Ggio harus ikut dengannya. Sunsun berdiri dari tempatnya dan mencari ponselnya. Indera perabanya mulai bekerja untuk menemukan sebuah benda mini dengan warna hitam, senada dengan ruangannya yang gelap.
Gerakan perempuan itu terhenti saat mulai merasakan benda yang ia cari ada di genggaman tangannya. Kemudian, tangannya bergerak lincah menekan sederet nomor. Lalu, ia pun mendekatkan ponselnya ke daun telinga.
"Halo, Sunsun," sapa suara lembut dari seberang sana. Sunsun mendesah dan kembali duduk sambil memeluk lututnya.
"Okaa-sama..." panggilnya. Sunsun memberi jeda sejenak, ia sendiri masih menimbang apakah keputusannya tepat menelpon ibunya? "Beritahu aku, kenapa Ggio harus ikut bersamaku?"
Ibunya mendesah berat. "Sayang, jangan terlalu memikirkannya." Sunsun menggenggam erat selimut di bawahnya.
"Aku tidak akan berangkat, sampai ibu memberitahuku yang sebenarnya!" ancam Sunsun, membuat ibunya terdiam sejenak. "Belakangan aku merasakan sesautu yang aneh dalam tubuhku, aku merasa kurang sehat, ada apa dengan diriku?" suaranya semakin terdengar lirih.
"Sunsun..." iris lavender itu membulat sempurna. Secara perlahan ponsel itu terlepas dari genggamannya dan jatuh di atas kasur yang empuk. Sunsun tidak mengacuhkan ibunya, dan beringsut turun dari kasur besarnya.
Jemari lentiknya membelai pelan gorden yang menutupi jendela besarnya. Dengan satu gerakan pelan, ia sibakkan gorden itu hingga menampilkan butir-butir salju yang bergerak turun dari singgasana langitnya.
"Ggio, maafkan aku," bisiknya pelan.
Keesokan harinya, di arena ice skating. Para siswa kelas dua SMA Karakura berbaris teratur. Tempat itu memiliki dua ice rink, dan bersebelahan satu sama lain.
Mereka dibagi dua kelompok, kelas Soifon bergabung bersama kelas Ulquiorra, yang berarti kelas Ggio juga. Kelas Hitsugaya bergabung dengan kelas Hinamori. Soifon menghindari tatapan Hitsugaya saat pemuda berambut putih itu lewat di sampingnya. Dia masih tidak ingin menyakiti hati pemuda yang bersikap sangat baik padanya.
"Sekarang, letakan tas kalian di loker yang tersedia," ucap instruktur yang berdiri di hadapan mereka. Siswa-siswa yang bergerumul itu langsung bergerak untuk mendapatkan loker, Soifon memilih menyingkir karena dia tidak ingin terdorong ataupun terinjak oleh orang-orang yang lebih besar darinya.
Saat semuanya telah memakai sepatu skate, Soifon baru berjalan memasuki ruang loker. Tangannya bergerak mencari-cari loker yang masih kosong, tapi tidak dia temukan. Alisnya berkerut samar dan menatap petugas di sebelahnya.
"Pak, loker di sini sudah penuh," petugas itu menoleh dan menatap Soifon, kepalanya menatap loker di sampingnya, lalu kembali menatap Soifon.
"Ada satu lagi ruang loker di sana, tapi pemanasnya rusak. Kamu mau menggunakannya?" Soifon terdiam sejenak, tak lama setelah itu, dia mengangguk. Petugas itu menggerakkan tangannya menunjukkan jalan bagi Soifon.
"Baiklah, terima kasih," Soifon membungkukan badannya dan berjalan menuju loker itu. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu, kemudian tangannya terjulur untuk menyentuh gagangnya. Perlahan, ia dorong pintu itu.
Ia buka sebuah loker yang berada paling dekat dengan pintu, gadis berkepang itu langsung menjejalkan tasnya ke dalam ruang sempit itu dan berjalan menuju tempat pengambilan sepatu skate.
Perlahan, ia langkahkan kakinya ke atas rink yang dingin dan licin. Satu langkah ia masih bisa berdiri dengan baik, dan saat ia melangkahkan kaki yang satu lagi ke dalam rink.
Dengan cepat tubuhnya tidak seimbang, tangan Soifon refleks bergerak cepat menyentuh tiang datar di sebelahnya, untuk menopang dirinya. Dia menggerutu dalam hati—mengutuk kegiatan ini.
"Sugoi!" suara Orihime yang berdiri di sampingnya mengagetkan Soifon, gadis itu langsung menatap ke tengah rink, melihat Ulquiorra dan Ggio sedang berseluncur dengan lancar dan sangat baik.
"Pamer," ucap Soifon sinis. Orihime memutar kepalanya dan menatap Soifon yang mengerucutkan bibirnya tanda tidak menyukai pertunjukan dua orang barusan. Orihime tertawa pelan dan menatap Ichigo yang berada di rink sebelah mereka.
Lagi-lagi ia tertawa melihat Ichigo yang selalu terjatuh karena tidak mahir melakukan olahraga di atas es ini. "Soifon, lihat, lihat. Hitsugaya-kun dan Kuchiki-san!" seru Orihime, Soifon memutar matanya, lalu menatap dua orang yang sedang berseluncur secara berpasangan dan sangat... manis.
Di ujung yang lain Hinamori juga menatap adegan berselancar dua orang tadi, dia pun langsung membuang wajahnya dan menggerakkan kakinya perlahan, mencoba berseluncur.
"1... 2... 1... 2..." gumamnya sambil memperhatikan sepasang kakinya yang saling mendahului satu sama lain. Kepalanya tertunduk dan tidak melihat jalan di hadapannya.
"Awas!" teriak Ichigo dari kejauhan, Hinamori terlambat menyadari dan—
Buk.
Mereka berdua bertabrakan, sontak Hitsugaya dan Rukia menoleh ke arah Hinamori dan Ichigo. "Tch," pemuda berambut putih itu berdecak, Hitsugaya pun berseluncur mendekati Hinamori. Rukia berbalik dan menatap Hitsugaya, dengan perlahan ia seret kakinya mendekati Ichigo.
"Ayo berdiri," Hitsugaya mengulurkan tangannya, Hinamori menolak dan berusaha berdiri sendiri—ia tekuk lututnya dan mencoba berdiri. Awalnya, ia berhasil, tapi tak lama. "Huwwaaaa~," tangan Hinamori bergerak-gerak mencari pegangan, dan dengan sigap Hitsugaya menangkapnya.
"Aku bantu kau berseluncur," Hitsugaya menggenggam tangan Hinamori dan mulai berseluncur bersama-sama. Mereka semakin menjauh dari Ichigo dan semakin mendekati bagian tengah rink.
"Hei, kau tak ingin membantuku?" Rukia memutar bola mata violetnya, dan menatap Ichigo. Dia mendesah dan mengulurkan tangannya.
"Kau menyedihkan, Ichigo," ledek Rukia, Ichigo menggeram dan berusaha mendekati Rukia, tapi dengan santainya gadis itu semakin mundur dan mundur. Ichigo pun semakin berusaha menggapai gadis itu.
Tapi, jangankan menggapai, mendekati saja tidak. Sebagai gantinya dia kembali terjatuh, Rukia tertawa pelan dan kembali mendekati Ichigo. "Pegang tanganku," Rukia mengulurkan tangannya sambil mengalihkan wajahnya. Ichigo menggapai tangan mungil itu dan menggenggamnya, kemudian keduanya mulai berseluncur bersama.
Soifon melirik gadis berambut oranye kemerahan di sampingnya saat melihat adegan itu. Terlihat sedikit perbedaan pada air muka Orihime, walau gadis itu tetap tersenyum. Soifon mendesah dan kembali berbalik.
"Huwa~~!" serunya kaget lantaran dia melihat Ulquiorra berdiri di belakang mereka. Orihime langsung menoleh dan tersenyum menatap sahabat laki-lakinya itu.
"Apa yang kau lakukan? Mengamatinya?" Orihime menundukkan kepalanya malu, dengan semburat merah yang mulai menjalar di pipi putihnya.
"Tidak apa, 'kan? Toh aku tak bisa berseluncur, berbeda denganmu yang hebat," ucapnya sinis. Ulquiorra mendesah, tanpa meminta izin dari Orihime, dia langsung menggamit tangan kurus gadis di hadapannya.
"Tunggu, Ulquiorra!" ronta Orihime, sambil terus menerus menarik tangannya. Ulquiorra meliriknya sekilas, dan langsung melepaskannya. Semua pasti tahu Orihime tidak bisa berseluncur, dan dengan tindakan Ulquiorra melepaskan tangannya, gadis itu bisa langsung tergelincir. Orihime langsung memejamkan matanya, tidak berani membayangkan apa yang akan menimpanya.
Tapi, dengan sigap tubuh ramping Orihime di tangkap oleh Ulquiorra. "Kau tak bisa berdiri tanpaku, di sini. Terimalah," bisik Ulquiora. Orihime membuka matanya, dan menemukan iris emerald milik Ulquiorra. Wajah mereka sangat dekat, hingga membuat Orihime sedikit gugup.
"Ba-Baik, le-lepaskan aku sekarang," ucapnya gugup sambil menutupi wajahnya yang mulai memerah.
"Hm?" Ulquirra mengangkat alisnya. "Kau yakin ingin aku melepasmu?" bisiknya lagi dengan jarak yang sama. Pipi Orihime menjadi setingkat lebih merah dari sebelumnya.
"Ma-Maksudku, ki-kita meluncur bersama saja. Ja-Jadi..." sebelum Orihime menyelesaikan kalimatnya, Ulquiorra sudah melepaskan tangan kanan yang melingkar di pinggangnya dan menggenggam tangan Orihime, menariknya berseluncur.
Orihime menatap punggung yang berada di depannya, bibirnya terbuka. "Kenapa?" tanyanya pelan, padahal dia mengira Ulquiorra akan terus mengerjainya dengan memanfaatkan kegugupannya.
"Aku tidak mungkin mengerjaimu, bodoh," Ulquiorra melirik Orihime. Gadis itu tersenyum dan menggenggam erat tangan dingin Ulquiorra.
"Huft," Soifon melirik ke sekelilingnya dan menyadari bahwa mereka semua berseluncur bersama teman mereka. Tinggal dia sendiri yang masih berdiri sambil berpegangan pada tiang besi datar di belakangnya.
"Baiklah, mencoba tidak ada salahnya," Soifon menggerakkan kakinya perlahan. Jujur, melakukannya sangat sulit walau sudah beberapa kali dia melakukan olahraga di atas es ini.
Iris abunya menangkap gerakan Ggio yang sedang menolong seseorang dari teman sekelasnya yang sedang terjatuh.
'Mungkin, jika aku pura-pura jatuh dia dapat menolongku?' Soifon menggelengkan kepalanya.
'Apa yang ada di kepalaku?' kakinya mulai berdenyut pelan, karena sakit ketika mengenakan sepatu skate ini. Hal ini memang sudah biasa dia rasakan dan dia selalu mendiamkannya.
"Awas!" teriak Ggio di hadapannya, Soifon terkejut dan berusaha memberi jalan bagi seorang gadis yang tampaknya sedang belajar, tapi karena dia terburu-buru, ia tergelincir dan langsung terjatuh. Gadis tadi menoleh dan membungkukan badannya tanda maaf, kemudian segera berlalu.
"Aww~" ringisnya, tak terlihat bahwa Soifon ingin berdiri dari tempatnya. Tangannya menyentuh kakinya yang semakin sakit. Ggio berhenti di depan Soifon, lalu ikut berjongkok.
Dibukanya dengan perlahan sepatu yang melekat di kaki Soifon. "Kau salah memakainya. Lihat, kakimu jadi sakit," ucapnya—tanpa menatap Soifon—dipasangkannya kembali sepatu skate gadis itu, dan diikatnya dengan kencang dan benar. Setelah selesai, tangan pemuda itu tidak menjauh dari sepatu Soifon.
"Gomenne, Soifon," Soifon menatap Ggio yang masih belum mengangkat kepalanya. Perkataannya terdengar sangat tulus. Soifon mendesah dan sedikit menyunggingkan senyum tipis.
"Kau tau, aku membenci musim dingin," Ggio mengangkat kepalanya dan menatap Soifon. "Karena akan selalu terjadi hal buruk pada diriku," dengusnya kesal. Ggio mengangkat sudut bibirnya dan mengacak rambut Soifon.
"Dan biasanya, pada musim dingin lebah akan meningg-"
Buagh.
Soifon meninju lengan Ggio, dan disambut dengan ringisan serta senyuman pemuda itu. Ggio membantu Soifon berdiri. "Astaga, lebah itu sangat lemah, ya?" Ggio menghindar dari pukulan Soifon dan mengeluarkan tawa khasnya.
Dalam hatinya, ia senang dapat kembali berbicara dengan Soifon, dan dapat kembali menggenggam tangan mungil itu.
Tesla bersandar di tiang penyangga sambil menatap Ggio—yang tampaknya sudah berbaikan dengan Soifon. Kepalanya berputar saat menangkap suara desahan seseorang di sampingnya. "Sunsun?"
Gadis bersyal putih itu menoleh dan menatap Tesla di sampingnya. "Tidak datang dan menolong Soifon lagi?" tanyanya sinis. Tesla tertawa renyah dan menatap Ggio serta Soifon yang sedang berseluncur bersama.
"Kamu sendiri? Kenapa tidak datang dan memisahkan mereka, lagi?" Sunsun mengedikkan bahunya, dan kembali mendesah.
"Permainan sudah selesai. Game over," tandasnya. Tesla mengangkat alisnya dan menatap Sunsun bingung. "Setidaknya masih ada kamu, yang masih akan merebut gadis itu dari Ggio." Sunsun melirik Tesla dan mengedipkan sebelah matanya.
Tesla kembali tersenyum dan mengulurkan tangannya. Sunsun menelengkan kepalanya. "Sampai bertemu lagi, Sunsun." Sunsun menyambut uluran tangan itu. Bagaimana pun mereka adalah teman sejak SMP.
Anggap saja, tanda kenang-kenangan.
2 jam berlalu.
Kegiatan ice skating itu akhirnya selesai. Para murid diminta mengambil barang-barangnya kembali. Soifon menyeret kakinya untuk memasuki ruang loker tanpa pemanas itu.
Pintu berderit nyaring saat Soifon membukanya. Suasana dingin langsung menyeruak begitu dia menginjakkan kakinya ke dalam ruangan itu. Ia mempercepat langkahnya dan mengambil barangnya. Jujur, berlama-lama di tempat dingin seperti ini sama sekali bukan kesukaannya.
"Kenapa tidak bisa dibuka?" Soifon menarik-narik daun pintu di yang ia genggam. Tapi, pintu itu bergeming dan enggan untuk terbuka. Soifon mulai menggedor pintu itu dari dalam, berusaha meminta bantuan.
"Ada orang di luar?" teriaknya. Sesekali Soifon menarik daun pintu itu, dan kembali menggedornya. "Sial," umpatnya. Soifon langsung merogoh sakunya untuk menelpon siapa saja yang bisa membantunya.
Namun sayangnya, ponselnya mati. Sekali lagi Soifon memukul pintu di sampingnya. Soifon terdiam, sambil menunggu bantuan datang. Ia berharap ada seseorang yang ingat akan keberadaannya dan berinisiatif untuk mencarinya.
Tapi, tampaknya tidak ada yang mengingat kehadirannya. Soifon mengetukkan kakinya ke lantai, berusaha membunuh bosan serta rasa takut yang mulai menyergapnya.
"Ayolah, masa kalian tidak mengingatku?" gumamnya frustasi. Tiba-tiba lampu yang tergantung manis di langit-langit, berkedip pelan. "Tidak, tidak, jangan mati," pintanya.
Dan detik berikutnya, lampu padam. "Baiklah, Soifon ini hanya mati lampu," Soifon mulai menenangkan dirinya yang mulai gugup akibat keadaan ruangan yang gelap. Sepasang iris abu yang ia miliki bergerak liar. Berusaha memastikan semua baik-baik saja, dan hanya dia sendiri di dalam ruangan itu.
Kelopak matanya mengatup beberapa kali. Baiklah, dia membenci keadaan gelap, atau apapun namanya. Jantungnya berdebar kencang, rasanya pori-pori yang sudah tertutup rapat akibat udara dingin di sekitarnya, terbuka paksa karena ketakutan yang menyusup ke dalam pikirannya.
Keringat dingin pun mulai mengalir di pelipisnya. Soifon memejamkan mata, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran menyeramkan yang meracuni otaknya.
'Aku takut... gelap... kakak... gelap,' batin Soifon, sambil terus memejamkan matanya.
Soifon.
Suara seseorang mengisi kepalanya, dengan cepat kepala mungil gadis itu menggeleng, berusaha menyingkirkan suara-suara itu. Kakinya mengambil langkah mundur hingga ia menabrak tembok di belakangnya. Tubuhnya merosot turun dan dengan segera Soifon langsung memeluk kedua lututnya.
Soifon.
"Hei, kenapa kita masih belum berangkat?" protes salah satu murid. Halibel—yang bertugas mengawasi—langsung melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Ggio bangkit dari kursinya dan mendekati gadis berkulit cokelat itu.
"Ada apa?" Halibel mendesah dan menatap lurus iris keemasan Ggio.
"Soifon, belum kembali," bisiknya rendah. Tidak, tidak perlu dua kali penjelasan tentang apa yang ia dengar barusan, tidak perlu pertanyaan seperti: "Apa?"
Tidak, tidak perlu, karena Ggio langsung meloncat keluar dari bus, dan berlari secepat mungkin ke dalam ice rink tadi.
"Ggio!" Halibel berlari menyusulnya, bisa gawat kalau sampai semakin banyak orang yang tidak kembali ke dalam bus.
"Soifon!" panggil Ggio sambil memeriksa ruang loker, tapi dia tidak menemukan siapapun, kakinya langsung berbalik dan berlari menuju toilet. "Soifon!"
Tidak ada yang menjawab. Tempat itu sepi, tanpa pengunjung.
Ggio berhenti sejenak dan mengatur napasnya. Ia menyapu sekeliling ruangan, berusaha menemukan gadis berkepang itu. Entah kenapa, dia merasa takut akan kehilangan sosok gadis itu.
"Anda mencari siapa?" Ggio menatap seorang petugas keamanan yang menyentuh bahunya.
"Bapak, melihat seorang gadis berkepang dua, pendek, dan memiliki bola mata abu-abu?" petugas itu diam, dan tampak berpikir sejenak.
"Sepertinya dia masih di dalam ruang loker, di ujung sana," dengan sekali hentakan Ggio langsung berlari menuju tempat yang di maksud.
"Ggio!" panggil Halibel saat mereka kembali berpapasan. Langkah Halibel terhenti saat seseorang menahan lengannya. "Tesla?"
"Mereka akan segera kembali," ucap Tesla pelan. Halibel mendesah dan langsung berbalik menjauhi tempat itu, meninggalkan Tesla sendiri.
Soifon... lari...
Suara itu lagi, suara yang Soifon kenal sebagai suara kakaknya.
'Aku takut... gelap...'
Soifon semakin merapatkan kelopak matanya, dan merasa enggan menunjukkan iris abunya. Bahunya mulai sedikit gemetar.
Soifon.
Suara itu semakin jelas. Semakin terasa tercekat dan menyesakkan bagi gendang telinganya.
Soifon!
Gadis itu akhirnya menampilkan iris abunya kembali, bola matanya bergerak liar. Tangannya menyentuh kedua daun telinganya dan menggelengkan kepalanya pelan.
'Darah... aku takut... ruangan ini gelap dan... penuh darah...'
Soifon kembali merapatkan kelopaknya. Ia sungguh terlihat takut akan masa lalunya. Wajahnya mulai pucat.
"Sial, tidak dapat dibuka," terdengar umpatan dari luar. "Soifon!" Ggio menggedor pintu yang sudah berembun akibat suhu ruangan yang semakin dingin. "Soifon, jawab aku!" panggil Ggio lagi, tapi Soifon masih meringkuk dengan tubuh gemetar.
"Sial!" Ggio mengambil langkah mundur, dan dengan segera mendobrak pintu itu.
Duk, duk.
DUAK!
Pintu terbuka lebar, Ggio langsung mengedarkan pandangannya, mencoba mencari keberadaan Soifon.
"Soi...fon" ucapnya lirih saat melihat Soifon sedang meringkuk dengan tubuh gemetar dan mata terpejam di sudut ruangan.
Dengan langkah besar, Ggio sudah berdiri di hadapan Soifon. Pemuda itu menekuk lutunya, membuka jaket yang melindunginya, lalu menyelimuti gadis di hadapannya dengan jaketnya.
Dengan tangan yang masih memegang kerah jaketnya, Ggio menarik Soifon ke dalam pelukannya. Hatinya miris melihat Soifon yang begitu ketakutan. Semakin ia eratkan pelukannya saat merasakan bahu Soifon masih bergetar hebat.
"Soifon," bisiknya lembut. Masih tidak ada tanggapan yang baik dari Soifon. Gadis itu masih terlihat sangat ketakutan. Bahkan Ggio dapat merasakan gelengan pelan dari kepala gadis itu.
"Soifon," bisiknya lagi. "Tidak apa, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Aku di sini," mendengar kata-kata itu, Soifon membuka kelopak matanya perlahan. Iris abunya bergerak ke atas dan menemukan Ggio yang sedang memejamkan sepasang matanya.
"G-Ggio," bahu Soifon berhenti bergetar, dan tangan yang menyelimuti telinganya juga telah ia turunkan. Ggio melepaskan dekapannya dan menatap wajah pucat Soifon.
Ia tersenyum dan kembali memeluk Soifon. "Kau sungguh membuatku khawatir."
Hangat, sangat hangat, dalam sekejap hawa dingin yang menggelitik kulit Soifon sirna ketika Ggio mendekapnya. Mentransfer kehangatan yang ia miliki ke dalam diri gadis itu.
Rasa takut yang ia rasakan tadi ikut sirna bersamanya, ia merasa tenang jika pemuda ini ada di dekatnya. "Maaf," bisik Soifon pelan, dan setelah itu Soifon jatuh pingsan dalam pelukan Ggio.
"Soifon?" Ggio mengguncang bahu Soifon pelan, dan menatap wajah polos Soifon yang tampak sedang tertidur. Dengan sangat hati-hati, ia angkat tubuh gadis itu—menggendongnya.
Saat keluar dari tempat skating itu, ia berpapasan dengan Tesla yang tampaknya juga ingin mencari gadis berambut biru gelap di gendongannya. Tesla menghentikan langkahnya, sementara Ggio terus melangkah maju.
Saat melewati Tesla, Ggio memejamkan mata sejenak, dan membuka bibirnya. "Kau benar, aku menyukainya," Tesla tersenyum, kemudian berbalik menatap punggung Ggio.
"Jangan berpikir aku akan membiarkanmu mendapatkannya begitu saja," tantang Tesla dan hanya ditanggapi dengan senyum Ggio yang menatap wajah damai Soifon.
To Be Continued.
A/N : Ba-Bagaimana? hehehe, chapter 9 akan segera menyusul ^^
Spesial thx to my lovely beta reader aRaRaNcHa thankies cha ^^ *hug*
okelah, terima kasih bagi yang telah menyempatkan waktu untuk membaca fic ini.
dan satu lagi, sekalian promosi, jika berminat baca fic collabku bersama yuminozomi, ya? judulnya Prisoner of Love heheheh
dan yang terakhir, review pliss ^^
