Disclaimer : Tite Kubo.
Warning : AU, OOC (maybe), Typo (s), maksa.
Don't Like Don't Read.
Enjoy.
A Star and A Bee.
Chapter 10.
Lost Control.
"Halo," sapa Ggio. Hening—tidak ada suara yang keluar dari speaker ponselnya dalam beberapa detik. Ggio sendiri masih menunggu hingga orang itu berbicara.
"Ggio," ucap seseorang dari seberang telepon. Ggio memilih diam, dan melanjutkan acara jalan kakinya menuju ke rumah. "Aku rasa, kamu belum mengetahui penyebab Sunsun pergi ke Paris," lanjutnya.
Ggio memutar knop pintu rumahnya, dan mulai melangkah masuk. "Apa penyebabnya?" orang itu mendesah berat. Tiba-tiba terdengar suara ketukan ringan dari seberang telepon itu.
"Ggio, Sunsun ..."
Kunci yang tergenggam di tangan pemuda itu terlepas dan menimbulkan bunyi gemerincing yang sangat khas. Rahangnya sedikit menegang mendengar setiap kata dari ibu Sunsun barusan.
1 Februari.
Setelah libur panjang, akhirnya sekolah kembali beraktifitas. Dinginnya angin musim salju masih terasa di permukaan kulit. Tampaknya musim semi masih enggan menebarkan kehangatannya.
Soifon mendesah dan membuka lokernya seperti biasa. Hari-hari santainya akan kembali terusik. Suasana sekolah masih sangat sepi, mungkin Soifon terlalu bersemangat untuk ke sekolah.
"Huft."
Soifon bergidik saat seseorang menghembuskan nafas tepat di telinganya. Gadis itu langsung menoleh ke samping.
"Apa kabar, Soifon?"
Buk.
Buku di genggaman tangan Soifon langsung terjatuh saat mendapati wajah Ggio dalam jarak yang tidak dapat dikatakan jauh dari wajahnya. Wajah Soifon pun langsung memerah.
Ggio berdecak dan langsung mengambil buku-buku yang berserakan itu. "Apa yang terjadi dengamu?" Ggio menyerahkan bukunya ke tangan Soifon. Secara tak sengaja kulit mereka bersentuhan, hal ini kembali membuat Soifon gugup dan menjatuhkan kembali bubu-buku itu.
Dengan segera Soifon berjongkok dan mengambil buku itu, Ggio pun ikut berjongkok dan bermaksud membantu gadis berkepang itu.
"Tidak, jangan membantuku!" ucap Soifon—sedikit membentak.
Ggio terkejut mendengar nada penolakan itu, dengan sangat terburu-buru Soifon mengambil bukunya dan langsung menjauhi tempat itu. Frekuensi debar jantungnya semakin cepat jika mereka bersentuhan.
Suka, kau menyukaiku, 'kan?
Perkataan itu selalu terngiang di kepalanya, berkali-kali ia berusaha mengalihkan pikirannya dari christmas eve itu, tapi empat kata itu selalu menyusup ke dalam otaknya.
"Ada apa dengannya?" tanya Ggio pada dirinya sendiri.
"Soifon, ada apa denganmu? Kau sakit? Wajahmu merah," tanya Tatsuki yang baru saja memasuki kelasnya. Soifon langsung membenamkan kepalanya dan menggeleng.
"Bagaimana liburanmu?" Tatsuki menarik kursinya dan menatap Soifon yang duduk di belakangnya. Lagi-lagi Soifon menggeleng. "Lalu, bagaimana malam Natalmu bersama Tesla?"
Soifon langsung mengangkat kepalanya dan menatap Tatsuki. "Jangan membahasnya," ucap Soifon sambil membuka buku di depannya.
"Apa kau sudah betemu dengan Ggio?" Soifon langsung menutup bukunya kembali dan menundukan kepalanya—menyembunyikan semburat merah di pipinya. Tatsuki tersenyum saat menyadari penyebab wajah merah Soifon.
Tatsuki melemparkan pandangannya keluar kelas dan mendapati Orihime sedang berdiri berhadapan dengan Ulquiorra di depan kelasnya.
"Sampai istirahat, Ulquiorra," Orihime melambaikan tangannya ke arah Ulquiorra. Kemudian, gadis berambut jingga itu melangkah masuk ke kelas sambil bersenandung ceria.
"Ohayou, Orihime," sapa Tatsuki. Orihime tersenyum dengan ceria.
"Ohayou, Tatsuki-chan," balas Orihime, dengan segera gadis itu meletakkan barang-barangnya dan menarik kursi di dekat Soifon dan Tatsuki. "Aku mempunyai kabar baru pada malam Natal kemarin," ucapnya antusias.
Tatsuki mulai menopang dagunya dan menatap iris abu milik Orihime yang tampak berbinar. "Kau makan donat bersama Ulquiorra?"
Orihime mengembungkan pipinya pertanda salah.
"Kau makan es krim bersama Ulquiorra?"
Bibir Orihime semakin berkedut.
"Lalu?"
Orihime langsung melebarkan senyumnya. "Aku dan Ulquiorra sekarang adalah sepsang kekasih!" serunya penuh semangat. Tatsuki membelalakan matanya dan Soifon mengangkat sedikit kepalanya untuk menatap wajah Orihime yang mulai merah.
"Lalu, Ichigo?" tanya Tatsuki, Orihime terdiam sejenak dan kembali tersenyum.
"Aku sedang belajar melupakannya," ucapnya sambil tersenyum. Soifon kembali menundukan kepalanya, dia tahu gadis berjepit hexagonal ini menyembunyikan perasaan dengan senyum manisnya.
Lalu, hari itu pun dilalui dengan cerita Orihime yang dimulai saat mereka berjalan menuju pohon Natal di pusat kota, hingga detik-detik Ulquiorra menyatakan perasaannya.
"Aku tidak mengerti bagaimana kalian bisa menjadi sepasang 'kekasih', bukankah kalian hanya sahabat?" cecar Soifon saat Orihime menarik napas sejenak. Orihime tampak berpikir.
"Apa kau hanya menjadikannya sebagai pelampiasan?" Tatsuki tersentak dan langsung menatap Soifon.
Orihime menggeleng cepat. "Tidak, bukan seperti itu. Memang aku masih menyukai Kurosaki-kun, tapi jika aku bersama Ulquiorra, aku merasa nyaman. Lalu, jika kau tanya kenapa? Hum, mungkin karena aku selalu bertemu dengannya," Orihime kembali tersenyum.
Soifon kembali menelungkupkan kepalanya dan memejamkan mata sejenak, mencoba mencerna perkataan Orihime.
'Karena nyaman di dekatnya? Karena terlalu sering bertemu dengannya? Apakah hanya seperti itu 'suka' dapat terbentuk?' batin Soifon.
Suka, kau menyukaiku, 'kan?
Dengan segera kepala Soifon langsung terangkat. Orihime menghentikan ceritanya dan menatap wajah Soifon yang merah padam. "Soifon, daijobu ka?" Soifon langsung menggeleng pelan dan mengalihkan pandangannya.
Tatsuki langsung tersenyum geli. "Biarkan saja, lanjutkan ceritamu." Orihime kembali menatap Tatsuki dan bercerita dengan semangat berapi-api. Soifon mendesah.
'Kenapa perkataan itu selalu berputar di otakku?'
Soifon memukul-mukul kepalanya pelan.
Keesokan harinya.
Ggio menghampiri kelas Soifon untuk mengajak gadis itu ke kantin bersama. "Soifon!" teriak Ggio saat berada di depan pintu. Hampir saja permen yang ada di dalam mulut gadis itu meloncat keluar.
Lagi—jantung Soifon berdebar dengan kencang setiap ia melihat pemuda itu dan setiap pemuda itu menyebut namanya. Saat Ggio tiba di depan meja Soifon, gadis berkepang itu mendorong kursinya dan berdiri.
"Ayo, ke—"
"Aku ke toilet sebentar," potong Soifon cepat. Orihime hanya menganggukan kepalanya dan setelah itu Soifon langsung berjalan keluar kelas, membuat Ggio mematung di tempat. Gadis itu ... gadis itu menghindarinya.
"Ggio, tadi kau mau bilang apa?" tanya Tatsuki. Ggio langsung berbalik dan mengangkat tangannya tanda tidak ada yang ingin dikatakan dan langsung keluar dari kelas Soifon.
"Tch." Ggio mengepalkan tangannya.
Keesokan harinya.
Ggio baru saja memasuki ruang loker dan menemukan Soifon sedang mengambil beberapa buku. "Soifon," sapanya. Sontak buku-buku di tangan Soifon langsung terjatuh dan wajah gadis berkepang itu langsung memerah.
Baru saja Ggio mengulurkan tangannya untuk membantu Soifon, namun secepat itu pula gadis beriris abu itu meninggalkan ruang loker. Ggio memandangi tangannya yang bahkan belum menyentuh kulit putih Soifon.
Lagi-lagi gadis itu menghindarinya.
Kejadian ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut sementara Ggio sudah tak memiliki waktu lebih banyak lagi. Ada banyak hal yang ingin Ggio sampaikan kepada gadis berambut biru tua itu.
Tapi, bagaimana bisa berbicara? Baru berjarak dua meter dari gadis itu saja, Soifon langsung menghindar dari Ggio. Apa yang salah dengan Ggio hingga gadis itu terlihat enggan mendekati pemuda beriris emas itu?
Cukup! Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap tidak jelas Soifon. Ggio harus berbicara dengan Soifon. Harus! Apapun yang terjadi.
Dan di sinilah dia, berdiri di depan kelas Soifon menunggu hingga gadis itu keluar dari kelasnya. Tampaknya, Soifon sengaja pulang paling akhir untuk menghindari Ggio.
Soifon telah selesai membereskan barang-barangnya dan segera berjalan keluar kelas. Saat Soifon ingin berbelok ke sisi kanan, tangan kanannya ditarik oleh seseorang menuju sisi yang berlawanan. "Ap—Ggio!" seru Soifon kaget saat menatap pemuda itu.
Soifon menarik tangannya, tapi semakin ia berontak, maka semakin kencang genggaman tangan Ggio. Saat berada di lapangan parkir, Ggio berhenti di depan motornya. "Naik," perintah Ggio.
"Tidak mau. Lepaskan aku!" ronta Soifon, dengan sekuat tenaga ia menarik tangannya hingga akhirnya Ggio melepaskannya. Soifon pun berbalik dan bersiap untuk melangkah. Tapi, sikap gadis itu hanya membuat Ggio menyeringai.
"Jangan terlalu cepat, Soifon."
Detik berikutnya Ggio menyentuh pinggang Soifon—mengangkatnya. Soifon langsung terkejut saat menyadari tindakan Ggio, semburat merah tak dapat terelakan lagi dari kedua pipinya. Dan sekarang, Soifon sudah duduk di jok motor Ggio.
Tanpa banyak bicara, Ggio langsung menyalakan motornya dan membawa Soifon pergi jauh dari lingkungan sekolah.
Soifon mengatupkan kelopak matanya erat-erat karena terpaan angin kencang yang benar-benar membuat matanya perih. Ditambah sekarang adalah musim dingin sehingga tangan Soifon mulai menggigil karenanya.
Tiba-tiba kecepatan motor Ggio menurun dan tak lama mereka berhenti di suatu tempat. Mereka berhenti di depan sebuah lapangan usang yang sudah tidak pernah dipakai lagi. Soifon membuka matanya perlahan.
Soifon terkejut saat mendapati seseorang sedang berlari di tengah lapangan. "Yoruichi-neesama," ujarnya pelan. Yoruichi berlari mengitari lapangan itu berkali-kali.
Merasa cukup, Ggio kembali menyalakan mesin motornya dan dengan segera Soifon membetulkan posisi duduknya. Detik berikutnya, mereka sudah melesat jauh dari lapangan barusan.
Soifon bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang kakaknya lakukan di tempat seperti itu? Terlebih lagi, kakaknya sedang berlari, berlari seperti saat-saat keemasannya sebagai atlet lari dari SMA Karakura.
"Kita sampai," ujar Ggio. Soifon langsung terbangun dari lamunannya, suara debur ombak langsung menarik indera pendengarannya. Soifon sedikit terpana saat menyadari mereka berada di mana sekarang. Ya, mereka berdua berada di pantai.
Ggio lebih dulu melangkahkan kakinya mendekati bibir pantai—yang dengan segera diikuti oleh Soifon. Angin pantai yang berhembus kencang menerbangkan rambut kepang mereka berdua dan beberapa helai rambut Soifon sehingga sedikit mengganggu penglihatannya.
"Tunggu, Ggio!" Soifon menjulurkan tangannya bersiap menyentuh bahu tegap Ggio. Tapi, sebelum Soifon menyentuhnya, Ggio langsung berbalik dan menahan tangan Soifon.
"Kenapa? Kenapa kau menghindariku?" tatapannya kali ini berbeda, dia tidak bermain-main ataupun bercanda. Pemuda beriris emas ini menatapnya dengan serius.
Soifon mulai menundukan kepalanya—menghindari iris emas Ggio. "Aku tidak menghindarimu, hanya saja ... hanya saja ..." Soifon meremas roknya untuk menutupi kegugupannya. "Hanya saja jika aku melihatmu, aku tidak bisa mengontrol diriku," ucap Soifon sambil mengalihkan pandangannya.
Ggio mengembangkan senyumnya dan langsung menarik Soifon untuk duduk di sampingnya. Soifon pun langsung menekuk lututnya dan masih menundukan kepalanya. Ggio meletakkan kedua tangan di belakang tubuhnya sebagai tumpuan. Perlahan kedua bola matanya melirik Soifon.
"Jadi, maksudmu kau selalu kehilangan kontrol jika berada di dekatku, begitu?"
Soifon langsung membenamkan kepalanya di lututnya. Tangan Ggio refleks bergerak dan menyentuh sejumput rambut Soifon.
"Kehilangan kontrol seperti apa yang kau maksud?" bisiknya tepat di telinga Soifon. Wajah Soifon memerah akibat ucapan Ggio, dengan segera gadis itu mendorong tubuh Ggio untuk menjauh dari tubuhnya.
"Jangan mempermainkanku!" bentak Soifon, dan akhirnya gadis itu menunjukan wajahnya kepada Ggio. Pemuda berkepang itu langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Soifon yang memerah.
Buru-buru Soifon mengalihkan pandangannya lagi. Ggio masih tertawa sambil memegangi perutnya. Hal ini berlangsung hingga 20 menit, sampai akhirnya pemuda itu merasa lelah akan tingkah tertawanya.
Mereka terdiam dan saling memandangi lautan yang terbentang di hadapan mereka. Perlahan langit di atas mereka mulai bermetamorfosa menuju warna lain. "Jadi, kau takut gelap?" tanya Ggio.
Soifon bungkam dan tak ingin menjawabnya. Ggio sendiri menunggu hingga Soifon menjawab pertanyaannya. Setelah beberapa menit berlalu terdengar desah napas dari Soifon.
"Sembilan tahun lalu, terjadi perampokan di rumahku. Pada malam itu, saat hujan turun dengan derasnya, saat petir saling menyambar, dan saat petir dengan cepatnya memutus listrik setiap rumah, segerombolan orang datang ke rumahku."
Soifon menggenggam erat pasir di genggaman tangannya. "Di malam yang gelap itu, aku terbangun dari tidur saat mendengar jeritan dari ibuku. Saat aku membuka pintu kamarku, kakakku yang nomor tiga langsung menyambutku."
Soifon menarik napasnya sejenak, kedua kelopak matanya mulai mengatup. "Dengan wajah panik, dia menceritakan semua kepadaku dan menyuruhku untuk kabur sejauh mungkin. Dia yang bertugas membawaku kabur dari rumah itu. Saat sedikit lagi kami keluar dari rumahku, seseorang muncul dari belakang kakakku dan menusuk perutnya."
Keringat dingin mulai membanjiri dahi Soifon. Ggio menggerakan tangannya dan menggenggam tangan mungil itu, seolah menandakan bahwa dia masih ada di samping Soifon.
"Aku berlari, terus berlari, bersembunyi dari para pembunuh itu hingga waktu berganti pagi dan aku memutuskan untuk kembali ke rumah itu. Rumahku kotor, penuh darah, bau anyir menyeruak dari dalamnya."
Soifon menelungkupkan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya. Ggio menarik Soifon mendekat dan menyandarkan kepala gadis itu di bahunya. "Saat pemakaman keluargaku, keluarga Shihoin yang merupakan relasi keluargaku, mengadopsi diriku." Soifon membuka matanya dan menatap ombak yang saling mendahului satu sama lain.
"Oleh karena itu, aku terpukul saat kalah. Sebagai anak angkat harusnya aku tidak boleh seperti itu, harus—"
"—berlatih," potong Ggio, Soifon langsung menoleh dan menatap pemuda itu. "Berlatih, terus dan terus. Bahkan kakakmu tetap berlari hingga sekarang. Kau ingin membuktikan pada mereka, bukan?" Ggio mulai berdiri dari tempatnya, dan mengulurkan tangannya.
"Berlari terus dan terus hingga mereka mengakuimu."
Soifon menyambut uluran tangan itu, dan berdiri dari tempatnya. Perlahan Ggio mengajak Soifon berlari bersama. Sesekali air laut menyapa kaki mereka berdua.
Tapi, itu bukan masalah bagi mereka. Karena sekarang mereka berlari, tertawa dan saling bergandengan tangan.
Setelah beberapa lama mereka berlari, Soifon melepaskan tangan Ggio. "Biarkan aku melakukannya sendiri," pinta Soifon. Dengan senang hati Ggio menyingkir dan kembali duduk di tempatnya semula.
Soifon sudah mengambil ancang-ancang.
"Satu ... dua ... tiga!"
Setelah mendengar aba-aba itu, Soifon langsung berlari menuju sebuah garis yang sudah ditentukan oleh mereka berdua.
Ggio menyunggingkan senyumnya saat melihat Soifon yang tampaknya sudah kembali memiliki motivasinya. Dia bisa pergi dengan tenang sekarang.
Sunsun menderita leukimia, dan hanya kamu yang dapat menolongnya.
Suara ibu Sunsun kembali menggema di kepalanya.
Kamu tahu, mencari pendonor sumsum tulang belakang itu sulit.
"Ggio!" Soifon melambaikan tangannya saat telah sampai di garis finish. Ggio kembali berdiri dan menghampiri gadis itu.
Bagaimana bibi tahu sumsum tulang belakangku pas bagi Sunsun?
Ggio tersenyum menatap wajah bahagia Soifon dan saat tinggal beberapa centi lagi dari Soifon, gadis berkepang itu langsung mencipratkan air laut ke tubuh Ggio.
Kamu ingat saat terjatuh dari motor lima tahun lalu? Aku meminta dokter untuk memeriksa sumsum tulang belakangmu. Dan ternyata kalian memiliki kecocokan.
"Hei!" teriak Ggio, sedikit tidak senang walau wajahnya berhias bulan sabit. Soifon tertawa, dan akhirnya mereka bermain air hingga baju mereka basah.
Lagipula orangtuamu meninggalkan dua perusahaan untukmu di sini.
Kemudian mereka kembali duduk dan menatap matahari yang mulai kembali ke peraduan.
"Cantik, ya?" gumam Soifon. Ggio hanya mengangguk. Iris emasnya menatap Soifon yang begitu senang menatap matahari itu.
"Soifon ..." panggil Ggio. Soifon menoleh dan beradu pandang dengan Ggio. Seketika keinginan Ggio sirna untuk mengatakan yang sejujurnya pada Soifon. Sehingga, dia hanya mengangkat tangannya dan mengacak rambut Soifon.
"Ada lebah di rambutmu," ucapnya usil, hingga mendapatkan pukulan pelan di lengannya dari Soifon. Mereka berdua kembali menatap langit yang mulai gelap dan terhiasi oleh bintang.
"Kamu sepertinya dibuang oleh keluarga bintangmu, ya?" ledek Soifon. Ggio tidak tertawa, dia hanya menggerakan tangannya dan menggenggam jemari lentik milik Soifon seolah tak ingin melepaskannya.
'Karena aku bosan menatap lebah pendiam sepertimu dari atas sana,' jawab Ggio dalam hati.
Baiklah, aku akan berangkat tanggal 12.
2 hari setelahnya.
Soifon disibukan oleh banyak tugas hingga ia sulit untuk bertemu dengan Ggio. Pemuda itu pun tampak jarang mendekatinya lagi—kali ini. Jika mereka bertemu, Ggio hanya menyapa gadis itu dan langsung berlalu begitu saja.
Tanpa ejekan, tanpa tindakan jahil, dan tanpa seringaian. Semua terasa normal dan biasa, seperti teman biasa, tidak lebih. Hal ini sedikit membuat Soifon kecewa. Seperti hari ini, bahkan seharian dia belum bertemu dengan Ggio.
Padahal, ia ingin mengajak pemuda itu untuk bertemu dengan Byakuya. Soifon ingin meminta Ggio menemaninya, tapi di luar dugaan pemuda beriris emas itu tidak dapat ditemukan di sekolah.
Soifon mendesah dan mulai membuka pintu ruang guru. Soifon melangkahkan kakinya menuju meja Byakuya. Guru tampan itu sedang menyesap tehnya sambil membaca buku di hadapannya.
"Ano ... Kuchiki-sensei," panggil Soifon. Byakuya mengangkat kepalanya dan menatap Soifon.
"Ada apa?" Soifon menggerakan bola matanya, dan meremas roknya pelan.
"Aku ingin kembali ke klub lari," jawabnya. Byakuya menyingkirkan bukunya dan kembali menyesap tehnya.
"Latihan masih sama seperti biasa," ujar Byakuya. Soifon mengangkat kepalanya dan langsung mengangguk. Setelah itu dia langsung keluar dari ruang guru. Baru kali ini dia merasa begitu antusias dalam mengikuti klub lari.
Dan semua berkat satu nama, Ggio.
Seminggu kemudian, 11 Februari.
"Tanjoubi omeedeto, Soifon!" seru Orihime saat Soifon baru memasuki lingkungan sekolahnya. Soifon langsung berlari ke arah Orihime dan membungkam mulut gadis berjepit itu.
"Sssst," perintah Soifon. Ia melirik sekelilingnya yang menatapnya dengan pandangan aneh. Orihime menganggukan kepalanya dan Soifon melepaskan tangannya.
"Demo, tanjoubi omeedeto." Orihime langsung memeluk Soifon, hingga Soifon sesak.
"A-arigatou," ucap Soifon terbata dan mendorong tubuh Orihime menjauh. Orihime hanya tersenyum dan mengajak Soifon masuk ke gedung sekolah. Mereka berbincang tentang rencana perayaan yang dibuat oleh Orihime dan Tatsuki untuk ulang tahun Soifon.
"Tidak perlu," sergah Soifon entah untuk yang keberapa kali. Tapi, Orihime tidak mendengarnya, dia tetap membicarakan rencana briliant-nya. Soifon hanya mendengus dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari seseorang yang mungkin memberinya kejutan yang berbeda.
Tapi, tidak. Sosok yang dicarinya tidak ia temukan di mana pun. Soifon kembali mendesah dan melangkah masuk ke dalam gedung sekolah.
Seperti halnya Orihime, Tatsuki juga mengucapkan selamat ulang tahun pada Soifon, gadis berkepang itu hanya menanggapinya dengan seulas senyum tipis. Padahal dia berharap sesuatu yang berbeda dari ulang tahunnya kali ini—dengan kehadiran Ggio tentunya.
"Bagaimana?" suara Tatsuki menyadarkan Soifon. Gadis berambut biru tua itu memutar kepalanya, menatap Tatsuki yang ada di sampingnya.
"Ehm, apa?" Tatsuki memutar bola matanya dan sedikit mendengus, tangannya pun mulai diletakan di pinggang.
Orihime langsung berganti posisi dengan Tatsuki, takut gadis itu memarahi Soifon. "Kami ingin mengajakmu makan, seperti yang aku ceritakan tadi, bagaimana?"
"Maaf, aku tidak bisa. Di rumahku juga sedang mengadakan perayaan untukku," tolak Soifon. Orihime menghela napasnya dan mulai berjalan kembali.
Mereka bertiga pun diam—tidak ada yang berbicara, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Soifon melempar bola matanya ke sekeliling untuk mencari Ggio. Tapi, pemuda berkepang itu masih belum terlihat.
"Ah!" seruan Orihime membuat Soifon dan Tatsuki menatap gadis berjepit hexagonal itu secara bersamaan. "Kalian tahu? Sebentar lagi valentine, dan aku belum membuat cokelat untuk Ulquiorra!" ucapnya dengan penuh semangat.
Tatsuki mendesah dan menepuk pundak Orihime. "Orihime, masih ada tiga hari lagi," ujar Tatsuki. Orihime tersenyum dan menatap Tatsuki.
"Tapi, aku belum menentukan bentuk, serta bahan apa yang akan aku gunakan." Orihime meletakkan jari telunjuknya di dagu—berpikir. Dahi Tatsuki berkerut samar saat mendengar Orihime menyebutkan kata 'bahan'.
"Kau hanya butuh cokelat batang, susu, gula, dan jangan tambahkan bahan lain."
Orihime tertawa pelan dan mengangguk. Tatsuki mendesah tentu saja, Orihime memiliki sifat keingintahuan yang besar, hingga ia sering mencampurkan bahan-bahan aneh ke dalam masakannya.
Soifon kembali berjalan dan kembali tenggelam di dalam pikirannya.
'Valentine? Apakah tahun ini aku harus membuat cokelat? Tapi, untuk siapa? Ggio?'
Soifon langsung menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia memberikan cokelat kepada seseorang yang bahkan hilang entah ke mana. Tiba-tiba Soifon merasakan sesuatu yang panjang berkibar di samping kanannya.
Soifon menghentikan langkahnya sejenak, tidak salah lagi—itu rambut, dan rambut itu berkepang. Sebuah nama langsung terukir di kepalanya. Ggio. Soifon langsung berbalik dan menemukan pemuda itu sedang berjalan menuju ruang guru.
"Ggio!" teriak Soifon, hingga membuat orang di sekitarnya menatapnya. Pemuda itu tidak berhenti dan terus berjalan. "Ggio!" teriak Soifon sekali lagi. Ggio membuka pintu ruang guru dan mulai melangkah masuk.
Sesaat sebelum pintu itu tertutup sempurna, Soifon beradu pandang dengan Ggio. Aneh, tatapan pemuda itu aneh. Perlahan bibir Ggio terbuka dan mengucapkan sesuatu. Soifon menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti tapi tak ada kesempatan kedua karena pintu telah tertutup.
"Soifon," panggil Orihime. Soifon langsung menatap Orihime, wajahnya masih terlihat begitu bingung. "Ayo," ajak Orihime. Soifon hanya mengangguk dan mereka bertiga kembali berjalan menuju kelas.
Soifon tidak lagi fokus pada pelajaran dan perbincangan kedua temannya. Di otaknya hanya ada Ggio. Soifon masih memikirkan apa yang dikatakan Ggio pagi tadi, dan kenapa tatapannya begitu ... sedih?
Soifon menggerakan tubuhnya dengan gelisah, gadis bermata abu itu belum dapat tidur pada waktu selarut ini. Padahal, seharusnya ia bisa tidur dengan nyenyak karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Tapi, hingga detik ini kelopak matanya enggan mengatup dalam jangka waktu lama. Soifon menatap benda penunjuk waktu di hadapan kasurnya, tiga puluh menit lagi maka hari bahagianya akan berakhir.
Dan pemuda bernama Ggio Vega itu juga belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Memang terlalu cepat bagi Soifon untuk berharap seuatu yang lebih dari pemuda itu. Hanya saja, mereka teman, bukan?
Setidaknya sebuah pesan singkat yang menandakan bahwa Ggio tidak lupa akan hari ulang tahun Soifon. Bukan hanya itu yang mengganggu pikirannya, ada hal lain yang juga menganggunya, yakni tatapan serta gerakan bibir Ggio tadi pagi.
Soifon menyingkap selimut tebalnya dan mengambil ponsel di meja belajarnya. Hanya memeriksa mungkin Ggio telah mengucapkannya. Tapi, TIDAK, tidak ada pesan masuk dari pemuda bermata emas itu.
Soifon meletakkan kembali ponselnya, tiba-tiba dia merasa sesuatu yang aneh di luar jendelanya. Harusnya sekarang gelap mendominasi dan menutupi cahaya, tapi kenapa di luar tampak begitu terang?
Penasaran, Soifon pun menyingkap gorden abunya dan matanya terbelalak. Tentu saja taman usang itu begitu bercahaya, seseorang meliliti pohon-pohon kering di sekitar situ dengan lampu-lampu kecil di sepanjang jalan.
Di tengah-tengah jalanan sepi itu seseorang berdiri sambil memegang sesuatu di tangannya. Sebuah benda bundar dengan lilin yang mengelilingi benda itu dan yang lebih membuat Soifon terkejut adalah seseorang yang membawa kue itu. Pemuda yang tadi bersikap aneh padanya, Ggio.
Dengan segera Soifon menutup gorden kamarnya dan berlari ke taman usang itu. Napasnya memburu, keringat pun tak dapat disembunyikan tapi seulas senyum tipis dan semburat merah di wajahnya membuat Soifon terlihat berbeda.
Ggio mengangkat kepalanya dan menatap Soifon yang sudah berdiri di hadapannya, sudut bibirnya tertarik ke atas hingga membentuk senyum di wajah Ggio.
"Kau lama sekali, aku hampir beku menunggumu," candanya. Soifon ingin memukul pemuda itu, tapi Ggio langsung menyodorkan kue ke hadapan Soifon. "Buat permohonanmu," perintah Ggio.
Soifon mendengus dan memejamkan matanya sejenak. Setelah beberapa menit, Soifon membuka matanya dan meniup lilin di atas kue itu.
"Selamat ulang tahun, Soifon," bisik Ggio.
Ggio mengajak Soifon duduk di atas ayunan taman dan memakan kue itu bersama-sama. "Apa yang ingin kau katakan tadi pagi?" tanya Soifon. Ggio menelan kuenya dan menggeleng pelan.
"Bukan sesuatu yang penting," ucap Ggio. Alis Soifon bertaut pertanda tak percaya dengan ucapan pemuda itu. "Aku dorong ayunanmu," ucap Ggio mengalihkan pembicaraan.
Soifon mengikuti Ggio yang sudah berdiri di belakangnya dan menyentuh rantai ayunan itu. Perlahan Soifon merasakan angin mulai menerpa wajahnya, rasanya sudah lama dia tidak bermain seperti ini.
"Apa kau menyukainya?"
"Tidak mungkin," kilah Soifon.
"Kau itu tidak pandai berbohong," ucap Ggio lagi.
"Kalau iya, kenapa?"
"Harusnya kau tertawa."
"Ha-ha-ha-ha."
Ggio tertawa pelan mendengar suara tawa Soifon yang begitu dipaksakan. Soifon melirik Ggio sejenak dan kembali menatap langit di atasnya dan dia tersenyum.
"Soifon," panggil Ggio.
"Apa?" Ggio kembali memegang rantai ayunan itu dan mendorongnya.
"Terima kasih untuk semuanya," ucapnya lembut.
"Apa yang salah denganmu? Kau seperti akan pergi jauh saja," tuding Soifon. Ggio hanya tertawa dan kembali mendorong ayunan Soifon.
"Soifon," panggil Ggio lagi. Saat kembali memegang rantai ayunan itu, Ggio memutarnya hingga membuat Soifon berhadapan dengan Ggio dan dengan segera pemuda beriris emas itu menempelkan bibirnya ke bibir Soifon.
Soifon membelalakan matanya, tangannya yang menggenggam erat rantai ayunan itu bersiap mendorong Ggio. Tapi kedua tangan kurus itu langsung digenggam oleh Ggio—menahannya di tempat.
Soifon dapat merasakan rasa manis dari krim kue yang masih tersisa di bibir Ggio. Perlahan Soifon memejamkan matanya dan mulai ... menikmatinya?
Setelah beberapa menit, Ggio melepaskan ciumannya dan kembali memutar ayunan itu. Soifon melepaskan pegangannya pada rantai ayunan dan menyentuh bibirnya. Jantungnya melompat-lompat kegirangan karena tindakan Ggio.
Ggio kembali mendorong ayunan Soifon. "Kenapa?" tanya Soifon.
"Jika aku mengatakan alasannya, kau akan percaya?"
"Katakan saja," desak Soifon.
Ggio tidak langsung mendorong ayunan itu kembali, ia malah menyentuh pundak Soifon dan merendahkan kepalanya. "Aku menyukaimu," bisik Ggio dan dia kembali mendorong ayunan itu.
Soifon terdiam, kakinya terasa lemas dan pipinya terasa panas. Apa yang harus ia jawab? Jantungnya semakin melompat secara abstrak karena bisikan Ggio. Dia benar-benar kehilangan kontrol akan dirinya.
Soifon ingin turun dari ayunan itu dan menatap bola mata emas Ggio. Tapi, tangannya lagi-lagi digenggam oleh Ggio, seolah menahannya untuk turun. "Ggio, aku—"
"Jawab aku, ketika aku kembali." Soifon terbelalak saat mendengar ucapan Ggio. Dia ingin segera turun tapi pemuda itu mendorong ayunan itu setinggi mungkin. Dengan segera Soifon memutar kepalanya dan menemukan Ggio sedang berjalan menjauh.
"Ggio!" teriak Soifon. Ggio semakin menambah kecepatan langkahnya menuju motornya. Saat Soifon menginjak tanah, dengan segera ia berlari menyusul Ggio. Tapi, pemuda itu lebih cepat dan telah menjalankan motornya.
"Ggio!" teriak Soifon lagi. Tapi, suaranya seolah tertelan oleh deru motor Ggio.
12 Februari.
"Ggio baka," ucap Lilynette pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Ggio tersenyum dan menepuk pelan kepala Lilynette. "Siapa yang akan mengantarku nanti?"
"Ada Starrk yang dapat mengantarmu." Ggio melirik Starrk yang menguap di samping Lilynette. "Ayolah jangan menangis, kau bukan sepupuku kalau menangis," ancam Ggio.
"Aku tidak menangis, mataku kemasukan debu," bantah Lilynette dan mulai mengusap matanya. Ggio terkikik dan langsung memeluk Lilynette. Tangisannya tumpah saat kepalanya menempel pada dada Ggio. "Kau kan tidak harus tinggal selamanya di sana," isaknya.
Ggio mengelus punggung Lilynette. "Tenanglah, tidak selamanya aku pergi. Aku akan berkunjung ke sini lain kali," ucap Ggio. "Sudah waktunya aku pergi," Ggio ingin melepaskan pelukannya, tapi Lilynette menahannya dan tetap memeluk Ggio.
Ggio mendesah dan kembali mengelus punggung Lilynette untuk menenangkan gadis itu.
Tuuuuuut
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ..."
Soifon kembali berdecak dan menutup ponselnya. Jari telunjuknya diketukan di atas meja, iris abunya menatap fokus keluar jendela kelasnya.
Waktu istirahat telah berakhir, sementara Soifon masih terus memandang keluar kelasnya dan belum menyiapkan bukunya sama sekali.
"Soifon."
Sebuah tepukan dan berdengungnya nama itu membuat Soifon menoleh dan mendapati Tatsuki di hadapannya.
"Apa?"
Tatsuki menunjuk seseorang di pintu kelasnya. Bola mata Soifon menggelinding mengikuti arah jari telunjuk Tatsuki. Bibirnya berkedut saat mengetahui siapa yang berada di sana.
"Aku malas bertemu dengannya," ucap Soifon, lalu kembali memandang keluar jendela.
"Katanya dia ingin membicarakan tentang Ggio."
Soifon langsung mendorong kursinya dan menjauhkan tubuhnya dari punggung kursi. Siswa yang lain menatap Soifon dengan gurat bingung, karena kelas sudah hampir dimulai.
Srek.
Pintu pun tertutup.
Tesla berjalan lebih dulu dan berhenti di ujung koridor lantai tiga. Punggungnya ia sandarkan ke dinding yang tak tertimpa terik cahaya matahari. Derap langkah sepatu Soifon menjadi satu-satunya suara di koridor sepi itu.
Tak lama, Soifon juga berhenti dan menyandarkan punggungnya di dinding yang bersebrangan dengan Tesla.
"Kau sangat mudah dipancing jika menggunakan nama Ggio," ucap Tesla sambil terkekeh.
"Apa yang ingin kau katakan?" Soifon mulai melipat tangannya di depan dada dan menatap tajam Tesla.
"Jangan terlalu kasar denganku, kau marah karena aku tinggalkan pada malam Natal itu?" Tesla menelengkan kepalanya dan menyandarkannya di tiang penyangga di sebelahnya.
"Aku sudah tidak peduli dengan alasanmu meninggalkanku," ucap Soifon dingin dan mulai memperlebar jarak antara mata mereka.
"Tidak apa, lagipula aku tidak membutuhkan maafmu," Tesla kembali berdiri tegap dan menjejalkan tangannya ke dalam saku celana. Kakinya bergerak beraturan dan tidak terburu-buru.
Tangan kirinya bergerak mencari sesuatu di dalam saku celana itu seiring dengan menghilangnya suara derap langkah kaki pemuda itu. Tangan kirinya terjulur dan terdapat sepucuk surat di sana.
"Ini, dari Ggio," bisik Tesla. Jantung Soifon berdegup kencang saat mendengar nama tersebut. Bukan, bukan perasaan senang yang ia dapatkan kali ini. Melainkan rasa takut saat menatap surat di genggaman tangan Tesla.
"Dia meninggalkan Jepang dalam kurun waktu 30 menit lagi."
Bola mata Soifon langsung membulat mendengarnya. Bahkan dalam kurun waktu 20 detik yang lalu ia lupa mengedipkan matanya.
Tangannya terjulur dan meraih surat itu. Tesla langsung berbalik dan meninggalkan Soifon sendiri yang sedang membuka amplop putih di kedua tangannya.
Nee, Soifon apakah sekarang kau sedang mencariku? Hehehe, aku harap tidak.
Aku harap Tesla tidak melakukan sesuatu yang buruk saat memberikan 'ini' kepadamu. Aku rasa dia juga telah mengatakan bahwa aku akan berangkat ke Paris untuk menemui Sunsun.
Sebuah pengumuman dari speaker bandara itu membuat Ggio melepaskan pelukannya. Wajah Lilynette memerah akibat usapan yang dilakukannya berkali-kali untuk menghentikan turunnya cairan bening dari pelupuk matanya.
"Sampai bertemu, Lilynette," ucap Ggio sambil menepuk kepala Lilynette. Ggio mulai mengambil tasnya dan berpamitan dengan Starrk. Setelah itu dia langsung berjalan memasuki ruang pemeriksaan.
Aku ... pergi dalam jangka waktu yang cukup lama. Aku tidak meminta pengertianmu. Aku juga tidak bermaksud mempermainkanmu dengan ucapanku saat itu.
"Tolong, passport-nya," ucap salah satu petugas pesawat itu. Ggio memberikan passport di tangannya. Petugas itu memeriksanya, setelah itu ia mengangguk. "Silakan, semoga perjalanan Anda menyenangkan," ucapnya lagi.
Sunsun membutuhkanku saat ini, begitu juga dengan perusahaan keluargaku. Awalnya aku ingin berpamitan padamu saat kita berada di pantai. Tapi, rupanya aku tidak dapat mengatakannya.
Ggio memasuki pesawat dan mulai mencari tempat duduknya. Ia lewati satu persatu bangku dan berhenti di salah satu bangku di bagian tengah kapal udara itu.
Tangannya terangkat dan membuka tempat penyimpanan barang. Dengan mudah Ggio memasukan tasnya dan kembali menutup tempat itu. Ggio duduk di dekat jendela dan mulai menyandarkan kepalanya.
Kau benar saat itu, aku dibuang oleh keluarga bintangku. Kini mereka membutuhkanku dan aku harus kembali ke keluargaku.
Tak lama, sebuah suara mengisi speaker pesawat dan mengabarkan bahwa mereka akan terbang 10 menit lagi. Ggio mulai memasang sabuk pengamannya. Beberapa pramugari bersiap di tempatnya untuk memeragakan penyelamatan dalam keadaan darurat. Perlahan pemandangan yang terlihat dari jendela kaca Ggio semakin kecil dan kecil.
Teruslah berlari, Soifon.
Aku menyukaimu, Shaolin Fon.
"Sayonara, Soifon," bisik Ggio, dan langsung menutup jendela itu, kemudian memejamkan matanya.
To Be Continued.
A/N : dou? Dou? Haahhh sepertinya sedang terjadi yang ndak beres pada diri saya ahahaha, yaudah maaf kalo ndak jelas dan sebagainya. Yang di bold itu isi surat Ggio. Maaf kalo jadi bikin bingung.
Anyway aku lagi suka Code Geass.
Asdfghjkl
Lelouch itu haaaaaaaah.
Lalu, kalau sempat mampir ke fic collab-ku bersama yuminozomi dengan judul Prisoner of Love hehehe
Yaudah ndak usah banyak bla-bla-bla.
Sepecial thanks always to my beta reader aRaRaNcHa hohohohoho
Okelah makasih sudah menyempatkan diri untuk baca, masih berminat untuk revi?
hohohoho
