Title : I.D.S
Genre : Angst, Romance
Rating : M
Pairing : YunJae, Broken!HyunJae, Hint!JaeChun
Disclaimer : YunJae belong to each others. I own only the plot. Half of the plot Based on a True Story Novel
Warning : Typos, Violance, Cursing, YAOI (BOY X BOY) Don't Like? Please press red botton with x symbol. Yes, that botton.
Summary : Kim JaeJoong, seorang penyanyi terkenal yang rela meninggalkan dunia Showbiz demi menikahi pria yang dicintainya. Suatu malam, setelah sebuah pertengkar hebat sang suami menghilang tanpa jejak. Apakah yang sesungguhnya terjadi?
.
.
.
"Bukankan sudah berkali-kali kukatakan, aku memang mengenal Park HaNeul. Kami terus bersama di pesta namun dia pergi ke rest room dan tidak kembali. Aku tak melihatnya sampai aku dan YunHo Ssi menemukannya!" YooChun membentak SiWon, kesabarannya mulai menipis.
"Dengar, kalian telah menahan klien saya selama sepuluh jam." Seorang namja dengan rambut hitam yang duduk di sebelah YooChun berkata. "Kami dapat mengajukan tuntutan karena secara tidak langsung ini adalah pencemaran nama baik dan mengakibatkan ketidaknyamanan klien saya."
SiWon tersenyum, memperlihatkan dua lesung pipi yang biasanya dapat meredam kemarahan siapa-pun.
"Kami tak memiliki maksud dan tujuan seperti itu Kim JunSu Ssi. Lagipula kami berhak menahan seorang saksi dan mengadakan interview maksimal satu kali duapuluh empat jam. Jadi, bisakah ini saya lanjutkan?"
YooChun mengernyit dan menoleh pada pengacaranya dengan wajah frustasi. JunSu mengangguk.
"Baiklah."
Di ruangan sebelah ChangMin, KiBum dan Ara menyaksikan tanya-jawab antara SiWon dan YooChun melalui kaca riben dan mendengarkan melalui speaker yang terletak pada pojok ruangan.
Interview atau wawancara ini sebenarnya hanyalah kedok untuk mengulur waktu sementara YunHo meyakinkan atasan mereka untuk mengeluarkan surat penggeledahan.
Untuk sekedar melakukan wawancara-pun, Athena harus menunggu satu hari, karena bila sampai salah langkah, akan fatal akibatnya. Park YooChun adalah orang terpandang dimasyarakat.
"Apakah jepit dasi ini milik anda, YooChun Ssi?" SiWon mengeluarkan sebuah foto.
"Benar. Itu adalah jepit dasi yang dipesan khusus untuk saya."
"Apakah anda memakainya di pesta itu?"
"Ya."
"Lalu, dimana benda ini sekarang?"
"Tidak tahu. Sepertinya saya menghilangkannya." YooChun menjawab dengan tenang.
"Apa anda memesannya sendiri?"
YooChun menggebrak meja.
"Apakah itu penting dan ada hubungannya?"
SiWon mengangguk.
"Aishhh…. Itu adalah hadiah ulang tahun dari adik saya, Ricky, yang saat ini sedang kuliah di states."
"Mengapa anda bisa begitu santai kehilangan benda penting macam kado ulang tahun dari adik anda?"
"SiWon Ssi, saya rasa anda telah melewati batas. Masalah perasaan klien saya, itu bagian dari privacy-nya." JunSu memotong. "Perasaan klien saya yang kehilangan suatu benda sama sekali tidak ada korelasinya dengan kasus ini."
"Baiklah, mari kita lanjutkan dengan pertanyaan berikutnya."
YooChun melipat kakinya dan menatap SiWon dengan perasaan tidak puas jelas-jelas terpancar pada wajah tampannya.
ChangMin menoleh saat menyadari sosok YunHo memasuki ruangan tempat mereka memantau perkembangan wawancara yang sudah berlangsung sangat lama itu. "Bagaimana Hyung?" Tanyanya.
"Sudah beres. ChangMin dan KiBum, pimpin tim untuk mengecek setiap sudut rumah dan kantor Park YooChun Ssi. Bagi menjadi dua tim untuk menghemat waktu."
"Yes, sir!" Sahut ChangMin dan KiBum bersamaan. Keduanya bergegas keluar dan menghubungi tim forensik.
YunHo menghela nafas. "Bagaimana?"
"SiWon sedang berusaha." Ara menjawab sembari memijit bahu kekasihnya. "Sudah makan?"
YunHo menggeleng.
"Aku belikan makanan dan kopi ya."
"Thank's baby."
Ara tersenyum manis dan mengecup pipi YunHo. "Aku segera kembali, Oppa."
.
-YunJae-
.
Penat dan lelah menguasai tubuh dan pikiran YunHo. Memutuskan sedikit udara segar diperlukan, ia keluar dan menyandarkan tubuh di tembok.
Di saat seperti ini merokok bisa jadi alternatif menghilangkan stress, tapi YunHo telah berjanji untuk berhenti merokok. Jadi sebagai gantinya dikeluarkannya sebuah permen karet, mengunyah kemudian menggelembungkan sebuah balon, sampai sosok dengan rambut orange kemerahan ditangkap sudut matanya.
"Annyeong haseo." Sapa YunHo.
Sosok itu mengangguk.
"Apa ingin mencari YooChun Ssi?"
"Iya."
"Mohon maaf, sepertinya untuk saat ini belum bisa bertemu. Kami masih mengadakan sedikit wawancara."
Tak ada jawaban. Orang itu hanya memandangi sosok YunHo, seperti terhipnotis dan tenggelam dalam mata YunHo.
"JaeJoong Ssi." Ara muncul sambil membawa sebuah kantung.
"Ara Ssi."
"Wah, anda mengganti warna rambut menjadi lebih terang ya? Cocok sekali." Puji Ara tulus.
"Ah, terima kasih, Ara Ssi. Baiklah, karena tak bisa bertemu dengan Chunnie, saya duluan saja."
JaeJoong menganggukkan kepala pada keduanya.
"Oppa, apa aku perlu mengganti warna rambut menjadi lebih terang? Bosan juga dengan warna rambut gelap." Ara bertanya saat JaeJoong telah agak jauh.
"Tidak perlu. Warna coklat gelap atau hitam adalah yang terbaik." YunHo menyentuh rambut halus dan panjang Ara.
Tanpa mereka ketahui JaeJoong mendengar percakapan keduanya, ditiupnya poni yang menutupi matanya.
"Begitu ya." Bisik JaeJoong.
.
-YunJae-
.
Sejauh ini ChangMin telah mengecek setiap sudut rumah dengan nuansa warna putih milik Park YooChun, mencari apapun yang bisa dijadikan petunjuk ataupun bukti namun hasilnya nihil. Dirapikannya sarung tangannya lagi sambil dengan sabar mengintip belakang tiap lukisan, mengecek setiap laci dan lemari bahkan di dalam pot.
Frustasi dan Lelah, ChangMin duduk di kursi sebuah grand piano berwarna putih. Sepertinya Park YooChun sangat menyukai warna putih, segala barang dalam rumah ini mengandung warna itu. Dengan asal, dimainkannya tuts–tuts piano itu, sambil membayangkan wajah kecewa seorang Jung YunHo, atasan yang sangat dihormati dan dikagumi oleh ChangMin. Sungguh ia tak ingin melihat YunHo kecewa, atasannya itu telah mempertaruhkan jabatannya demi ini.
Tiba-tiba ChangMin menangkap sesuatu pada lantai kayu pada salah satu kaki grand piano itu.
"Hey… Hey.. Kemarilah." Panggilnya dan dengan segera empat orang timnya ikut berjongkok.
"Ada apa ChangMin Ssi?"
"Lihat ini, ruas lantainya berbeda. Sepintas tidak terlihat tapi sepertinya ada bekas dicongkel. Tolong dibongkar ulang." ChangMin mengetuk bagian lantai yang dimaksudnya.
Dengan cepat piano dipindahkan dan tim ahli forensik membongkar papan-papan itu.
"Ah, ada sesuatu dibawah sini."
ChangMin cepat-cepat menyambar senter dan meminta mereka menyingkir, diambilnya sesuatu dari lubang di bawah papan. Mata ChangMin melebar saat membuka gulungan hitam ditangannya.
Tanpa menunggu lebih lama, segera dihubunginya YunHo. "Hyung, kami menemukan sebuah pisau." Ujarnya.
.
Kim JunSu sangat gusar menghadapi kliennya yang bernama Park YooChun. Beberapa jam yang lalu, YooChun begitu bekerja sama dan mau mendengarkannya dalam menghadapi Choi SiWon.
Sekarang, YooChun menutup mulutnya rapat-rapat dan tak mau menjelaskan saat polisi itu menunjukkan foto-foto sebuah pisau beserta kaos hitam penuh darah kering Kim HyunJoong yang ditemukan di rumahnya.
Harusnya JunSu tak menerima tugas mendampingi YooChun yang diserahkan oleh ayahnya. Memang JunSu sedang bersinar sebagai pengacara muda yang praktis tapi ia masih perlu banyak pengalaman untuk menangani sebuah kasus tuduhan pembunuhan.
Terlebih bila klien tak mau membuka mulut dan bekerja sama denganmu, sungguh suatu tindakan bunuh diri.
"YooChun Ssi, anda harus bekerja sama. Saya akan berusaha mengeluarkan anda bila anda mau menceritakan kejadiannya. Saya yakin dapat membalik keadaaan." JunSu mencoba meyakinkan kliennya untuk kesekian kalinya.
"Aku ingin bertemu dengan Kim JaeJoong besok." Jawab YooChun.
Junsu menggebrak meja. "YooChun Ssi, anda telah resmi ditangkap dengan tuduhan dua pembunuhan. Bukan saatnya untuk bersantai seperti ini."
"Panggilkan Jae Hyung besok." Dengan itu YooChun bangkit dan kembali ke sel tahanan.
JunSu menatap kepergian YooChun tak percaya. Dia yakin YooChun tak bersalah, entah bagaimana JunSu tahu. Ia tak punya pilihan lain, selain menghubungi orang yang dimaksudkan. Siapa tahu Kim JaeJoong mampu meyakinkan YooChun untuk membela diri.
.
-YunJae-
.
Sebuah mobil convertible berwarna merah berhenti di depan kantor polisi. Seorang namja dengan langkah tergesa-gesa menuju ruang tahanan.
Setelah memberitahu siapa yang ingin ditemuinya, beberapa saat kemudian seorang namja dengan tubuh tinggi muncul.
"Chunnie…" Segera ia menghambur memeluk namja itu.
"Jae Hyung…"
"Chun… Bagaimana? Aku… "
YooChun menarik tangan JaeJoong, memintanya duduk.
"Hyung, there's something i need to know."
YooChun menatap langsung kedua mata JaeJoong dengan serius.
.
"Ya, aku telah selesai rapat dengan kepala divisi. Ada apa?" YunHo mendekati jendela, membukanya dan membiarkan angin sore hari berhembus.
"Oh ya? Jadi YooChun Ssi telah mengakui semuanya? Kerja bagus, SiWon! beritahukan tim, besok pagi Athena rapat. "
Senyum kemenangan menghias wajah tampan YunHo setelah sambungan telepon terputus. "Aku tak menyangka kasus ini yang akan mengantarku pada kursi kepala divisi. Sungguh tak sabar melihat wajah kekalahan Boa."
Beberapa saat kemudian diperhatikannya sesosok namja menendang ban mobil convertible merah di parking lot. Dilihatnya sosok itu kebinggungan dan marah-marah seorang diri.
YunHo memutuskan untuk turun dan memberikan bantuan. Ditepuknya bahu namja itu. "Perlu bantuan?" Tawarnya.
JaeJoong tersenyum. "Tidak apa, mobil derek akan datang dalam satu jam."
"Mau kemana?"
"Pulang."
"Aku antar."
JaeJoong ragu-ragu sejenak, namun akhirnya mengikuti sosok YunHo yang ternyata memarkir mobilnya tak jauh dari mobil JaeJoong.
.
Dalam mobil yang melaju pelan, tak terjadi percakapan apapun. Hanya lagu dari TVXQ yang berjudul She mengalun mengisi kesunyian.
Nun ga ma do bo ye yo (I can see even with my eyes closed)
Mel li i se do a la yo (I can recognize even if she's far away from me)
Geu nye ga el ma na yei ben sa la min gen ji (Imagine how pretty she is)
Son do mo dai gei nen ge lyo (Even if I don't touch)
Gai jye be lil ges ga ta yo (It feels like she's breaking like a glass)
Geu nye ga el ma na lye lin sa la min gen ji (Imagine how fragile she is)
Sa lam deul so gei se u go is nen (Smiling in the crowd)
Je qen sa nen na eui geu nye jyo (She is my Angel)
.
Sesekali YunHo ikut bersenandung pelan.
"Bernyanyilah lebih keras."
"Bukankah sudah kukatakan aku tak pandai menyanyi?"
"Tak apa. Bukankah sudah kukatakan aku ingin mendengarmu?"
YunHo mendesah kalah.
.
AI ga ti ja lang seu le ue yo (Proud like a Child)
Ba bo ga ten pyo jeng doai be lye yo (A foolish Expression)
Jei bal nai gei man u se yo oh he~ he~ (Please smile only for me, oh he~ he~)
.
YunHo melafalkan She menjadi He, membuat JaeJoong terkikik geli.
"Kenapa?" YunHo melirik kaca spion.
"Aniya… Lanjutkan saja."
.
Dang xi nei deu ti go xi pen gel yo (I would want her everything)
Geu go ma ni qen gu gin gel lyo (But that would be in Paradise)
Sai sang ha na bu ni oh he~ he~ (The only one in this world, oh he~ he~)
.
Suara berat YunHo membuat JaeJoong mengantuk, membuainya bagaikan lagu atau dongeng pengantar tidur. Segera saja kedua mata JaeJoong telah terpejam.
Untung saja YunHo telah menanyakan detail alamat rumah sang penumpang, sehingga ia tak perlu membangunkan JaeJoong yang tertidur lelap.
.
YunHo membangunkan penumpangnya dengan menepuk-nepuk pipinya pelan.
"Euum…" Akhirnya sang namja membuka matanya.
"Sudah sampai." YunHo tersenyum lembut, membuat mata JaeJoong terbuka lebar dan duduk tegak seketika. "Maaf." Wajah JaeJoong memerah karena malu.
"Tidak apa-apa."
Keduanya keluar dari mobil.
"Gumawoyo."
"Cheonmaneyo."
"….."
"…."
Tak ada yang beranjak, keduanya seperti tidak punya niatan untuk berpisah.
"Em… Mau mampir?"
YunHo melirik jam tangannya. "Baiklah."
Mereka berjalan berdampingan menuju apartemen JaeJoong di lantai sebelas.
Saat pintu dibuka, seekor kucing abu-abu melompat, JaeJoong mengulurkan tangannya. "JiJi."
Tapi sang kucing memilih mengabaikan tuannya dan malah mengeong dan menggesekkan tubuhnya di kaki YunHo.
"Hahahaha… Halo, kucing kecil." YunHo mengambil JiJi dan menggaruk dagunya, membuat si kucing mendengkur puas.
"JiJi pengkhianat." JaeJoong cemberut dan berkacak pinggang. Membuat YunHo menggigit sudut dalam mulutnya untuk menahan tawa yang bisa meledak kapan saja sembari terus mengelus kucing yang sekarang tidur dalam pelukannya.
"Turunkan saja disini." JaeJoong menunjuk sebuah bantal berwarna hitam yang berfungsi sebagai tempat tidur JiJi di dekat sofa, namun sayangnya JiJi tidak mau dilepas, kuku-kukunya dikaitkan pada pakaian YunHo.
"Hahahaha…. Sepertinya dia benar-benar menyukaiku."
Menyerah memaksa peliharaannya menurut, JaeJoong membuatkan minuman untuk sang tamu yang duduk di meja makan dengan JiJi melingkar nyaman dipangkuan namja berambut brunette gelap itu.
"Green tea." Ujarnya, lalu duduk disebelah YunHo.
"Thank's."
Kesunyian yang anehnya malah terasa nyaman kembali melanda. Entah bagaimana keduanya merasa nyaman hanya dengan keberadaan masing-masing walaupun tak terjadi percakapan.
"Ayo, JiJi…" Kali ini sang majikan berhasil memindahkan JiJi menuju tempat tidurnya. Sementara YunHo mengedarkan pandangan pada sekeliling ruang tamu yang terkesan cozy dan nyaman itu. Dindingnya diberi wallpaper berwarna coklat muda.
Pandangan matanya jatuh pada sosok sang tuan rumah yang kini rambutnya telah berwarna hitam dan sedang memainkan mug di tangannya.
"Warna rambut dikembalikan seperti semula ya." YunHo menyentuh poni JaeJoong.
"Bukankah warna gelap lebih bagus." Balas JaeJoong sangat pelan.
"Huh?"
Namja cantik itu menggeleng.
"Warna gelap memang jauh lebih bagus. Aku suka."
Pipi JaeJoong memanas mendengar ucapan namja dihapannya yang kini telah menarik tangannya dari rambut JaeJoong.
"Jangan berhenti."
"Huh?"
"Jangan berhenti menyentuhku." Ditatapnya mata coklat itu dengan penuh gelora, membuat YunHo kehilangan akal sehat dan mendekatkan wajah mereka. Jarak yang hanya beberapa inci membuat JaeJoong dapat mencium aroma green tea pada nafas YunHo.
Tak ada yang bergerak.
Lalu tangan besar YunHo menyentuh dagu, mengelus pipi mulus JaeJoong yang telah menutup matanya seperti menikmati setiap sentuhan YunHo dikulitnya.
Sesuatu yang lembut menempel di bibir JaeJoong, awalnya memang hanya sekedar menyentuh. Lama-kelamaan YunHo menginginkan lebih, dihisapnya bibir bawah yang memberikan rasa manis dan ketagihan itu.
"Ahhhh….."
Suara lenguhan JaeJoong bagaikan pemicu untuk YunHo, tangannya memasuki sweater v-neck yang dipakai JaeJoong, merasakan setiap inci kehalusan kulit dan memainkan nipple namja cantik itu.
"Ahhhhh…."
YunHo menghentikan ciuman mereka dan melepaskan segala kain yang melekat pada tubuh keduanya, memamerkan kulit putih susu dan coklat terbakar matahari yang sexy. Keduanya saling menatap keindahan tubuh masing-masing, sebelum dengan lembut YunHo mendorong JaeJoong ke atas meja makan dan kembali melumat bibir merah menggoda itu.
Tubuh kekar YunHo menekan JaeJoong dan membuat milik keduanya bergesekan.
"Ahhhhh…." Untuk ketiga kalinya JaeJoong mendesah nikmat, kedua kakinya dililitkan pada pinggang YunHo.
"Panggil namaku." Bisik YunHo sambil menggigit telinga JaeJoong.
"Yun… YunHo… Rasuki aku."
Senyum mengembang di wajah namja itu. "Buka kakimu." Perintahnya, JaeJoong menurut dengan patuh.
"Yun… Sa..kiiitt…." Air mata mengalir pada kedua pipi JaeJoong saat satu jari YunHo memasukinya.
"Tahanlah sebentar." YunHo memasukkan satu lagi jarinya dan mulai memaju-mundurkannya, sementara tangan yang lainnya meremas-remas kejantanan JaeJoong.
"Emmmm…. " JaeJoong mengerang kehilangan saat dirasakannya kekosongan dalam tubuhnya.
YunHo membalik tubuh JaeJoong, kemudian dengan sekali sentakan merasuki JaeJoong dan disambut dinding ketat.
"Apa sakit sekali?" Tanya YunHo saat diperhatikannya JaeJoong meremas pinggiran meja. Dikecupnya setiap inci punggung JaeJoong, meninggalkan banyak tanda merah.
"Bergeraklah Yun. Aku siap."
Suara kulit bergesekan dan desahan nikmat segera terdengar. YunHo mengeluarkan dirinya lalu menusuk kembali berkali-kali.
"Yun.. Lagi… Lebih cepat disitu."
Dengan senang hati YunHo mempercepat gerakan pinggul dan kocokan tangannya. Beberapa kali lagi tusukan dan kocokan keras membuat keduanya memuntahkan cum bersamaan. JaeJoong terpuruk lemas ke atas meja. Sementara YunHo mengeluarkan juniornya, menelan cum JaeJoong di tangannya lalu membopong tubuh lemas namja itu.
"Kamarnya dimana?"
JaeJoong menunjuk sebuah pintu yang dicat putih.
YunHo membawa JaeJoong dan menempatkannya di tempat tidur.
"Jangan pergi." JaeJoong tak mau melepaskan pegangannya pada leher kokoh YunHo.
"Hahahahaha… Kau tak ada bedanya dengan JiJi."
Pipi JaeJoong memerah sempurna. YunHo mendekatkan tubuh mereka dan menarik selimut menutupi tubuh polos keduanya.
Keduanya dapat merasakan detak jantung mereka yang bersahutan.
"Biar begini sebentar." JaeJoong berbisik dan mendekatkan hidungnya pada leher YunHo, menghirup wangi khas namja itu, citrus.
YunHo menyadarkan dagunya pada kepala JaeJoong. "Ya."
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
…..
*pingsan di depan kompi part 2*
Maaf yaw lama, harusnya kemarin sudah diupdate, tapi tiba-tiba saya tak bisa log in. Selain itu, untuk adegan NC saya semedinya lama, maaf kalau tidak memuaskan, kurang hot. *nangis dipojokan*
Review reply :
RizmaHuka-huka : Bener, siapapun harus kuat iman kalau deket-deket JJ.
Huwah.. Jangan nangis, Risma (seenaknya manggil nama) ini saya kasih tissue. Sudah dipersatukan lho ini, jadi simpan kapaknya. ^^v
Arisa Adachi : Ara kemungkinan ngga mati. Maaf yaw.. Ini sudah tidak sekedar tatap-tatapan saja. .
Thazt: Hehehehe.. Iyah, kemarin buru-buru apdet tanpa ngecek lagi. Berikutnya akan lebih hati-hati. Gumawo~~
Ika UzumakiTeukHyukkie : Terlalu semangat, makanya manggilnya pake A yang banyak.. :D
DeviL53 : Selamat datang kembaliiii~~~~ iya, ceritanya dirombak total. Silahkan nikmati apdetannya. ^o^
Delta Alpha Fujoshi : Hai juga… Tidak apa.. Terima kasih sudah review.. *peluk-peluk*
Ini sudah NC-an… tapi kurang hot, kurang sambal. #Plakkk
Angel Xiah : Makasiiiihhh… Ini Su-ie nya sudah muncul. *Lambai-lambai bareng Su*
Priss Uchun : Hehehehe.. Siapa ya? Itu uchun sudah ditangkap.. Ini sudah banyak belum YunJae mommentnya?
diidactorlove : Itu, uchunnya sudah diinterogasi. Mahap yaw apdetnya lama. Saya semedi di kaki gunung dulu untuk bikin chap ini.
Nikwon : Iyah, saya sering terbang kelangin ketujuh kalau nonton YunJae di Youtu*e.. Hahahaha.. *garing*
Sudah dilanjuuut…
junnilicious : Kali ini saya sudah berusaha memberi sedikit lebih banyak YunJae momen dibonusin NC. Gimana?
Moyoko Tomoyo : Tidak apa. Makasiiiieee sudah revieewww.. *kasih bear hug*
Iya, ini sedikit lagi kelar. Terus ikuti ya…
Lanlopumin : Saya suka pertanyaan bertubi-tubi Lanlopumin, tandanya penasaran berat.. Hohohoho…
Jung Dhede : Reviewer baruuuuuu~~~ *Peluuukkk* Tadinya masih binggung Su-ie muncul apa tidak, tapi akhirnya muncul juga… Hehehehe…
.
Yak… Review please… Flame diperbolehkan…
Love, Cho Jang Mi.
