Title : I.D.S

Genre : Angst, Romance

Rating : M

Pairing : YunJae, Broken!HyunJae, Hint!JaeChun

Disclaimer : YunJae belong to each others. I own only the plot. Half of the plot Based on a True Story Novel

Warning : Typos, Violance, Cursing, YAOI (BOY X BOY) Don't Like? Please press red botton with x symbol. Yes, that botton.

Summary : Kim JaeJoong, seorang penyanyi terkenal yang rela meninggalkan dunia Showbiz demi menikahi pria yang dicintainya. Suatu malam, setelah sebuah pertengkar hebat sang suami menghilang tanpa jejak. Apakah yang sesungguhnya terjadi?

.


.

.

Suara ketukan high heels yang beradu dengan lantai menggema sepanjang koridor.

Seorang yeoja dengan langkah gemulai sesekali tersenyum pada rekan kerjanya, berjalan menuju parking lot.

Senyumnya makin melebar melihat punggung seorang namja bertubuh tinggi berdiri beberapa meter didepannya.

"Op…" Sang yeoja hendak memanggil namun diurungkannya karena melihat namja berambut hitam bersama dengan sosok itu.

Alisnya berkerut. "JaeJoong Ssi?"

Kedua namja itu masuk ke dalam mobil dan segera saja pergi. "Kenapa JaeJoong Ssi bersama dengan YunHo Oppa?"

.

-YunJae-

.

Jung YunHo mengerjapkan matanya karena masih mengantuk, suara ponsel yang terus berdering mengganggu tidurnya. Tangannya meraba-raba mencari sesuatu atau seseorang yang harusnya tertidur disebelahnya dan kini telah menghilang entah kemana.

Dengan malas ia menyambar dan mengangkat telepon dari siapapun itu yang tanpa mengenal lelah terus menghubunginya berulang kali pagi ini.

"Eh? Akhirnya diangkat juga!" Suara Ara terdengar bahkan sebelum YunHo sempat memberi salam.

"Ara, Ada apa pagi-pagi menelepon?"

"Aniya, Oppa dimana?"

"Di apartemen tentu saja."

"Hmmm… "

"Ada apa?"

"Apa Oppa bisa menjemputku? Hari ini aku tidak bawa mobil lagi. Hehehehe…"

"Baiklah. Satu jam lagi akan kujemput."

"Ne.. Saranghae Oppa.."

"Hahahaha… Iya.. Iya.. Aku tahu. Sampai nanti."

Sambungan telepon diputus YunHo.

Ara memandang nanar ponsel kemudian beralih pada sebuah pintu coklat.

"Oppa, kenapa berbohong? Aku semalaman menunggu di depan apartemenmu dan terus menelepon, tapi kau abaikan. Oppa menginap dimana?"

Disandarkannya dahinya pada pintu itu, setitik air mata mengalir pada pipi putih Ara. "Kenapa Oppa tidak menjawab nado saranghae seperti biasanya? Jangan membuatku merasa gelisah lebih dari ini."

Ara berbalik dan merosot ke lantai sambil terus terisak. "Jangan tinggalkan aku Oppa. Aku sungguh mencintaimu."

.

-YunJae-

.

Wangi masakan menguar memasuki kamar, membuat perut YunHo berbunyi keras. Meletakkan ponselnya di meja sebelah tempat tidur, YunHo bangkit dan menuju kamar mandi. Memutuskan bahwa membersihkan diri lebih penting dari perut yang keroncongan.

Tigapuluh menit kemudian YunHo menuju dapur dan langsung mendapati sosok seorang namja dengan apron hitam sedang sibuk memasak.

"Selamat pagi." YunHo mendekat dan memberikan morning kiss pada bibir si namja.

Sapaannya dijawab malu-malu dengan suara hampir tak terdengar.

"Benar-benar tidak tidur semalaman ya?" Diangkatnya dagu namja itu dan memandang kantung mata yang tercetak pada wajah sempurna itu.

"…."

"Kenapa jadi begini pendiam? Padahal semalam ada yang terus memanggil namaku minta tidak ditinggalkan dan mencuri ciuman semalam suntuk seolah ingin menandaiku sebagai miliknya. Lupa ya?"

Sontak wajah JaeJoong yang sudah memerah menjadi semakin merah saja. Tabung pemadam kebakaran saja kalah merah dari pipinya. Ditundukkannya wajahnya untuk menyembunyikan rona itu.

Saat ingin lebih menggoda namja yang lebih kecil darinya itu, sesuatu yang terbakar tercium.

"Huwah..! Jae, ada bau gosong! Frying pan itu berasap!"

Dengan panik kedua namja itu menyelamatkan apapun yang sedang dimasak JaeJoong.

"Ini karena kau…" JaeJoong memukul bahu YunHo pelan. "Jadi jangan protes kalau kita hanya bisa makan roti panggang saja."

"Maaf.. Maaf… Tapi apapun hasil masakanmu aku tidak akan pernah protes."

Suara mengeong terdengar dari sekitar kaki mereka, menginterupsi (lagi) apapun jawaban JaeJoong.

"Selamat pagi, JiJi." YunHo segera menggendong kucing abu-abu itu, membawanya ke ruang tamu dan membiarkan JaeJoong menyelesaikan aktivitas memasaknya.

Tawa YunHo terdengar, JaeJoong mengintip sedikit dan melihat namja itu tengah asik bermain dengan JiJi. Tanpa sadar JaeJoong ikut tersenyum melihat sisi kanak-kanak dalam diri YunHo.

"Dia memang berbeda." Bisiknya.

Entah bagaimana YunHo selalu sadar saat JaeJoong memperhatikannya, ia menoleh sambil tersenyum lembut. Mengakibatkan namja yang ketahuan mengintip itu segera mengasingkan diri lagi di dapur.

"Apakah masih lama? Aku harus berangkat pagi, selain itu harus mengganti pakaian." Kepala YunHo menyembul tak berapa lama kemudian.

Mata besar JaeJoong menatap balik dengan pancaran sinar kekecewaan. "Makanlah dulu. Ini sudah siap."

Setelah selesai sarapan JaeJoong mengantarkan YunHo kepintu depan.

"Bagaimana dengan Ara Ssi setelah ini?"

Tanpa menjawab YunHo mendekat dan mengelus pipi mulus itu dengan punggung tangannya, JaeJoong menangkap tangan YunHo dan membawa tangan besar itu kebibirnya. Menciumi jari-jari panjang YunHo.

"Apa kita bisa segera bertemu lagi?"

"Bersabarlah." YunHo membelai rambut hitam halus JaeJoong dengan sayang.

JaeJoong menghela nafas. "Hati-hati dijalan."

Sebuah ciuman mendarat pada dahi JaeJoong, ditutupnya kedua matanya. Menikmati sentuhan hangat yang diberikan YunHo.

"Baik-baiklah di rumah."

Pintu sosok JaeJoong mematung ditempatnya.
Beberapa saat kemudian senyumnya mengembang, membuat wajah tampan itu berkilau karena pancaran kebahagian.

"Aku sungguh menantikan bisa menyambutmu setelah pulang bekerja dan berkata, selamat datang ke rumah."

.

-YunJae-

.

Ara masuk ke dalam mobil YunHo dengan memasang wajah ceria.

"Selamat pagi Oppa~~~"

Direntangkan tangannya dengan manja, meraih leher YunHo agar mendekat dan bermaksud mengecup bibir kekasihnya. Tapi YunHo mengelak pada saat yang tepat, hingga bibir Ara hanya menempel pada pipinya.

"Pagi baby…" YunHo menyalakan mobil dan menjalankan mobil.

"Oppa, kita sudah lama tidak pernah berkencan. Bagaimana kalau setelah ini kita mengambil cuti dan liburan ke Hawaii? Bukankah Oppa ingin kesana?"

"Ara, kenapa tiba-tiba? Aku senang tentu saja tapi setelah ini kita masih sibuk."

"….."

"Jangan marah, baby. Aku janji paling lambat dua bulan lagi kita pergi. Okay? Sekarang tersenyumlah."

"Ne, Oppa."

Ara tersenyum, bukan senyum manis yang mempercantik wajahnya seperti biasa tapi senyuman yang mengandung kegetiran yang sama sekali tidak disadari oleh YunHo.

Saat turun dari mobil Ara meraih lengan kekar YunHo dan menggandengnya, pemandangan langka karena tidak biasanya mereka memamerkan kemesraan di tempat kerja.

"Tumben hari ini manja sekali?" YunHo yang merasa tidak nyaman dengan tatapan penasaran rekan-rekan kerjanya hingga melepaskan tangan Ara. "Jangan disini ya, baby."

Melihat kedua alis kekasihnya berkerut YunHo melanjutkan. "Maaf.. Tidak enak, bukankah kau selalu bilang kita harus menjaga profesionalisme? Oh ya, rapat kita tunda sampai setelah jam makan siang ya, aku dipanggil oleh kepala divisi lagi. Tolong sampaikan pada tim. Sampai nanti." Dengan itu YunHo berbalik dan menuju lantai tiga gedung kantor polisi tersebut.

Ara menatap punggung yang perlahan namun pasti menjauh itu.

"Sejak kapan kau peduli pandangan orang, Oppa?"

Ingin sekali Ara berlari dan memeluk sosok itu, meneriakkan bahwa Jung YunHo adalah milik Go Ara.

Tapi tidak dilakukannya, sebaliknya ia malah berbalik untuk mencari anggota satu timnya.

.

-YunJae-

.

Tumpukan lunch box ditempatkan di hadapan Park YooChun yang mengangkat sebelah alisnya.

"Apa ini?"

"Makan siang untuk anda YooChun Ssi." JunSu menjawab kalem.

"Tidak perlu repot setiap saat membawakan makanan kemari, JunSu Ssi. Lagipula mengurusi keperluan saya tidak ada dalam job description seorang pengacara bukan?"

YooChun terus saja menanggapi dingin kebaikan yang diberikan JunSu.

"Memang bukan. Tapi berhubung belum ada orang yang menjenguk anda selain JaeJoong Ssi dan saya asumsikan anda pasti sangat tidak terbiasa dengan makanan penjara, jadi saya berbaik hati membawakan ini."

"Terima kasih banyak tapi maaf, sikap mengasihani yang anda tunjukkan tidak membuat saya merasa tersentuh."

"Ini bukan rasa kasihan!"

"Lalu apa?"

JunSu terdiam. Sejujurnya ia sendiri binggung mengapa begitu perhatian dan terbebani akan bayangan keadaan kliennya ini dalam penjara.

"Jangan protes dan dihabiskan saja daripada makanan ini sia-sia." JunSu mengalihkan pembicaraan dengan mulai membuka dan menyodorkan lunch box itu pada YooChun. Awalnya memang segan, namun YooChun selalu menghabiskan apapun yang dibawakan oleh JunSu.

"Hey, YooChun Ssi, Mangapa anda mengakui perbuatan yang sama sekali tidak anda lakukan?"

YooChun meletakkan sumpitnya dan menatap JunSu dengan berapi-api.

"Aku mulai bosan dan muak mendengar pertanyaan itu setiap saat. Kenapa begitu cerewet? For your information, cepat atau lambat polisi akan menangkapku, jadi aku hanya mempermudah pekerjaan mereka."

"Saya tahu bukan itu alasannya. Anda melindungi seseorang bukan?"

Suara dengusan menghina keluar dari bibir YooChun.

"Jadi memang benar. Apakah anda melindungi Kim JaeJoong Ssi, kekasih anda itu?"

"Jangan bicara sembarangan!" YooChun menggebrak meja, emosinya mulai naik.

"Saya tidak berbicara sembarangan, ini menjelaskan sikap anda yang tiba-tiba berubah drastis. Anda pasti melindungi seseorang yang berarti bagi anda, dan sejauh yang saya lihat Kim JaeJoong Ssi adalah orang yang amat sangat berarti bagi anda."

"Just mind your own business, Kim JunSu Ssi." Mata YooChun berkilat berbahaya.

"Sebagai pembela anda, ini adalah urusan saya YooChun Ssi. Saya akan memastikan anda mengatakan kebenaran kepada saya secepatnya."

"You're insane. Listen, I admitted it. Aku membunuhnya karena jahanam itu telah menyakiti JaeJoong-ku dan aku muak melihatnya menyentuh orang yang tidak bisa kusentuh setiap hari."

"Bohong."

"Argh… Why it so fucking difficult talking to you! Aku tak pernah bertemu dengan orang yang begitu keras kepala seperti kau."

"Terima kasih." Kedua sudut bibir JunSu tertarik membentuk sebuah senyuman manis, menampilkan deretan gigi yang rapi.

"It's not a damn compliment by the way."

"Hahahaha…. Sudahlah. Kita lihat saja nanti, saya akan mengeluarkan anda bagaimanapun caranya." JunSu mengambil tasnya dan meninggalkan YooChun.

"Wae?"

Bisikan YooChun menggema dalam ruangan besar yang sepi, JunSu Membalikkan badannya dan menatap langsung YooChun. "Karena saya percaya pada anda." Ujarnya sebelum menghilang.

.

-YunJae-

.

Perasaan gelisah menghantui ChangMin selama beberapa waktu ini, sejak pengakuan Park YooChun akan kejahatannya tepatnya.

Memang ia sendirilah yang menemukan barang bukti itu, tapi ChangMin merasa ada yang mengganjal.

Ia tak bisa berpikir tanpa memberikan asupan nutrisi ke dalam otaknya, maka dengan langkah lebar-lebar ChangMin menuju cafetaria. Setelah membeli setupuk roti, cookies, cracker, susu dan yogurt, ChangMin hendak mencari tempat duduk kosong hingga matanya mendapati SiWon dan Ara tengah duduk berhadap-hadapan dan mendiskusikan sesuatu.

"Hai…" ChangMin menghampiri keduanya dan menghempaskan diri pada salah satu kursi dan dengan hati-hati meletakkan nutrisnya pada meja bulat dihadapannya. Tanpa berniat sekedar berbasa basi dengan menawarkan untuk membagi makanannya tercinta, ia segera melahap salah satu roti sambil mendengarkan SiWon.

"Kupikir hanya aku saja yang merasa ini sangat janggal. Sebelumnya Park YooChun Ssi begitu vokal dalam menekankan dirinya bersih, namun saat aku menunjukkan foto barang bukti itu, besoknya ia malah menyerah begitu saja." SiWon menyeruput kopinya sebelum melanjutkan.

"Selain itu ekspresi wajahnya saat itu tidak seperti orang yang ketakutan karena perbuatannya ketahuan. Bagaimana mengatakannya ya…"

"Terguncang?" Sambar ChangMin sambil membuka rotinya yang kedua.

"Ya.. Bisa dibilang begitu, dan tiba-tiba ia lebih banyak diam, YooChun Ssi tak lagi menjawab pertanyaanku dengan benar, pikirannya seperti berada diawang-awang."

"Kim JaeJoong…" Ujar Ara tiba-tiba.

Kedua namja tampan itu menoleh pada satu-satunya yeoja yang sedari tadi hanya diam.

"Kita sejak awal tak memperhitungkan dia karena kita menganggap dia adalah salah satu korban. Siapa selain YooChun Ssi yang memiliki motif untuk membunuh Kim HyunJoong Ssi? Sang pasangan. Siapa yang menguatkan pernyataan JaeJoong Ssi bahwa ia dipukuli dan pingsan saat suaminya menghilang? Tidak ada."

"Benar, aku setuju dengan Ara. Siapa yang menguatkan alibi Kim JaeJoong pada tanggal 9 April selewat pukul 2 dini hari? Park YooChun. Berlaku juga sebaliknya, Bukankah mereka kekasih? Sungguh sangat wajar bila mereka membuat dalih untuk saling melindungi." ChangMin berkata sambil melambaikan cookies coklatnya.

"Tapi kita tak punya bukti yang menunjuk Kim JaeJoong Ssi." SiWon memijit sisi kepalanya.

Ketiganya terdiam. Memang benar alibi Kim JaeJoong lemah, tapi ia terlihat "bersih" dalam kacamata hukum.

Suara ponsel SiWon memecah kesunyian. "Dari KiBum." Katanya.

"Ya, Bummie?"

"…."

"Cafetaria."

"…"

"Hmm? Aku bersama ChangMin ah dan Ara. Baiklah, aku tunggu."

"KiBum bilang akan segera kemari. Sepertinya dia membawa suatu berita." SiWon menjelaskan setelah selesai berbicara di telepon.

Beberapa menit kemudian sosok KiBum terlihat dan ketiganya melambaikan tangan pada namja itu.

"Mana YunHo Hyung?" Tanya KiBum yang kini duduk disebelah SiWon.

"Masih ada rapat dengan atasan."

"Oh…"

Hening beberapa saat.

KiBum terlihat ragu-ragu namun akhirnya ia berkata "Aku ingin menunjukkan ini."

Disodorkannya sebuah file yang berisikan print out rapi pada ChangMin yang duduk diantara SiWon dan Ara. Ketiganya membaca isi file tersebut dengan kepala berdekatan.

"Ini….." Ara menutup mulut dengan tangan lentiknya.

ChangMin membalik-balik file ditangannya. "Ini bukan lelucon khan?" Tiba-tiba ia sudah tak lagi bernafsu untuk makan.

KiBum menggeleng singkat.

"Jadi begitu. Sekarang kita memang bisa menahan keduanya. Tapi Bagaimana menurut kalian?"

SiWon bertanya dan menatap partnernya satu persatu dengan wajah galau. Matanya berhenti pada sosok Go Ara yang tengah duduk tegak.

"Kita polisi bertugas untuk mencari kebenaran. Kita telah bersumpah bahwa kebenaran harus selalu ditegakkan. Apapun resikonya." Ara berkata dengan tegas.

Empat orang partner, yang telah bekerja sama begitu lama, yang bisa dikatakan sebagai sahabat dan bediri dalam satu tim benama Athena, pimpinan seorang Jung YunHo kini tenggelam dalam suasana suram dan kelam.

Kenyataan memang terkadang kejam namun kebenaran harus ditegakkan.

.

TBC

.


.

Lagi, chappie ini minim YunJae momen.. Maaf ya.. Disini memang agak fokus dengan penderitaan Ara, prasangka SiBuMin dan interaksi YooSu.

Review reply :

Diidactorlove : Nasibnya Ara? Lagi menangis itu dia.. Maaf ya Ara Ssi.. Temukan jawaban semua pertanyaannya di chappie depan.. Jiah…

Diana 'dobe-chan' Cassiopeia : Hehehehe.. Saya masih belajar kalau soal NC, jadi mohon maklum ya… :D Su sedang berusaha keras tuh..

Thazt: *Hugs back* Hehehe… Kalau soal itu, Chap depan ya, ketahuan semuanya.

Priss Uchun : Maaf ya kalau tidak suka NC.. . YunJae harus bersatu. Mudah-mudahan. *dilempar ke laut*

Angel Xiah : Ara diputusin? Mungkin ya.

RizmaHuka-huka : Hahahaha.. Rizma bahagia sekali YunJae bersatu.. ^^

Beneran hot? Saya berasa masih kurang, soalnya itu di skip karena waktu buatnya, otak otomatis ngayalin & hasilnya mimisan parah. #Plak

Lanlopumin : Iya, itu YunJae baru ditinggal sebentar udah berakhir begitu. :))

Arisa Adachi : Kecepetankah YunJae nya NC-an? Hehehehe.. Geregetan abisan liat tidak ada perkembangan yang berarti.

zero BiE : Maaf ya, saya masih kagok kalau NC. Saya masih binggung sanggup nulis NC lagi atau tidak.. TToTT

Delta Alpha Fujoshi : Hehehehe.. Mian.. Saya akan berusaha pada NC-NC yang lainnya (kalau ada). Kali ini Ara yang menderita kok. Tapi kata teman saya kurang kejam menyiksa Ara. Tidak, JJ tidak akan hamil disini.

Moyoko Tomoyo : *Peluk balik* makasih suka sekali chap ini.. Saya kebayang kalau Ara ternyata adalah seorang YunJae Shipper.. Tapi bagiannya Su sedikit, hehehe.. maaf ya..

Back-total yaoi addict : Kya… Reviewer baruuuuu~~ *peluuuuk* Terima kasih, saya jadi terharuuuuuu~~~ terus ikuti FF ini ya..

.

Yak… Review please… Flame diperbolehkan…

Love, Cho Jang Mi.