Title : I.D.S

Genre : Angst, Romance

Rating : M

Pairing : YunJae, Broken!HyunJae, Hint!JaeChun

Disclaimer : YunJae belong to each others. I own only the plot. Half of the plot Based on a True Story Novel

Warning : Typos, Violance, Cursing, YAOI (BOY X BOY) Don't Like? Please press red botton with x symbol. Yes, that botton.

Summary : Kim JaeJoong, seorang penyanyi terkenal yang rela meninggalkan dunia Showbiz demi menikahi pria yang dicintainya. Suatu malam, setelah sebuah pertengkar hebat sang suami menghilang tanpa jejak. Apakah yang sesungguhnya terjadi?

.


.

Annyeong~~~

Miannnn.. saya melanggar tradisi dengan tidak update hari selasa kemarin karena sedang sakit tapi sebagai permintaan maaf, saya double update hari ini.

Oh ya kalau ada yang ingin baca novel menjadi ide awal cerita ini silahkan cek di toko buku terdekat.

Credit : Joe McGinniss. 2007. Never Enough

.


.

ChangMin membungkuk dan memunguti kembali setiap lembar kertas dan barang-barang yang berserakan di lantai akibat ulahnya tadi.

Sesekali suara isakan masih terdengar dari bibir Ara. Tanpa banyak bicara KiBum hanya berada disana, mengelus punggung Ara dan menatap ChangMin prihatin. Namja yang memang tak pernah banyak bicara itu bingung harus mengatakan apa.

"Lalu bagaimana dengan yang satunya?" Tanya ChangMin sembari menyusun ulang letak setiap barang dengan benar.

Ara mendongkak dan menghapus air matanya. "Biar aku yang kesana." Yeoja cantik itu mengutarakan ketetapan hatinya dengan mengangkat kepala tinggi-tinggi.

"Aku ikut."

"Gumawo, KiBum Ssi."

"Bagaimana denganmu ChangMin ah?"

"Aku akan membereskan semua ini kemudian aku ingin menemui YunHo Hyung lagi. Ada yang masih ingin kuketahui."

"Baiklah, sampai nanti." KiBum membukakan pintu dan menunggu Ara.

.

Dering bel yang ditekan dengan kekuatan penuh oleh sang tamu memaksa JaeJoong menghentikan doanya.

Saat mengecek siapa yang datang melalui intercom, mata hitam JaeJoong sedikit melebar.

"Ara Ssi?"

"Ne.. JaeJoong Ssi, boleh kami masuk?"

"Ah… Ne… Silahkan."

Ara masuk diiringi seorang namja tampan yang tak dikenal JaeJoong.

"Duduklah, biar saya siapkan minuman."

"Tidak perlu repot-repot."

"Tidak masalah."

Lima menit kemudian JaeJoong kembali dengan sebuah nampan berisi tiga gelas peppermint tea.

"Silahkan dinikati."

"Terima kasih." Jawab Ara. "Ah, perkenalkan, ini Kim KiBum Ssi, salah satu rekan kerja saya."

JaeJoong masih tak mengerti penyebab kedatangan Ara ke apartemennnya ditemani rekan kerjanya itu. Tapi alih-alih bertanya ia malah berkata "Senang berkenalan dengan anda KiBum Ssi."

KiBum hanya mengangguk tanpa berbicara.

"Umm… Jadi… Ada apa kalian berdua menemui saya? Apakah ada perkembangan baru?"

Pertanyaan yang telah ditahan-tahan JaeJoong akhirnya keluar juga setelah tak tahu lagi apa yang harus dibicarakan. Selama beberapa menit terakhir Ara terus mengajaknya berbicara mengenai hal-hal sepele seperti keadaan cuaca, kenyamanan apartemen JaeJoong hingga mengenai JiJi.

Ara menghela nafas.

"Kami telah menangkap pembunuh suami anda sesungguhnya Kim JaeJoong Ssi." Ujarnya dengan wajah datar.

"Eh? Pembunuh sebenarnya?"

"Iya, dan orang itu adalah Jung YunHo."

Jantung JaeJoong serasa berhenti berdetak.

"Eh?"

"YunHo Ssi telah ditangkap pagi ini."

"Andwe! Itu tidak benar! YunHo hanya ingin melindungiku! Semua ini adalah kesalahanku! Akulah yang menusuk HyunJoong, bukan YunHo!"

.

-YunJae-

.

Namja dengan warna rambut brunette gelap itu menatap sekelilingnya dengan wajah tak bisa dijelaskan.

Dia sedang duduk dalam sebuah ruangan tertutup dengan seorang namja tampan berlesung pipi dihadapannya sebagai interrogator. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya, sepanjang perjalanan kariernya, Jung YunHo yang seharusnya segera menjadi kepala divisi kriminal malah duduk di kursi pesakitan.

Tak lama kemudian sosok tinggi ChangMin memasuki ruangan. Terlihat pembawaan ChangMin telah kembali tenang walau matanya masih menyiratkan kekecewaan.

"Semuanya telah kuceritakan. Tidak ada yang perlu ditanyakan lagi bukan?"

"Masih ada. SepertinyaChangMin masih memiliki pertanyaan untukmu Hyung."

SiWon berdiri, menepuk bahu ChangMin, sebelum melangkah keluar ruangan. Ia ingin memberikan waktu pada ChangMin untuk berbicara empat mata dengan YunHo, karena ia tahu betapa sang magnae sangat mengidolakan sosok YunHo.

"Hmm? Apa lagi ChangMin ah?"

"Kenapa melakukan ini?"

YunHo menghela nafas. "Bukankah sudah kukatakan alasannya?"

"Tapi Hyung memiliki Ara... Kenapa Hyung bersamanya kalau tak mencintai Ara?"

Wajah YunHo dirundung duka, rasa bersalah jelas terlihat pada mata coklatnya.

"Aku memang bajingan. Aku harusnya melepaskan Ara tapi aku tak tega menghapus wajah cerianya. Saat bertemu JaeJoong aku merasakan adanya persamaan antara dirinya dengan Ara yang sejak dulu mengisi hatiku. Tapi lama kelamaan aku menemukan mereka sangat berbeda."

"Itu Hyung menyadari bahwa Hyung bersalah tapi mengapa masih dilakukan?"

"Kau tak akan mengerti."

"Maka dari itu jelaskan! Buat aku mengerti, Hyung!"

"Kau tak akan mengerti karena kau tak merasakan apa yang aku rasakan terhadap JaeJoong. Kau tak mengerti bagaimana rasanya terhanyut dalam matanya. Kau tak mengerti bagaimana aku mencoba melarikan diri dari perasaanku padanya dengan menyambut perasaan Ara."

YunHo memandang lurus-lurus kedua bola mata ChangMin.

Bila ada pepatah yang mengatakan cinta membuat orang menjadi buta, tuli atau gila, kini ChangMin menyaksikan bagaimana rupa nyata sang pencinta.

Ada kemilau dalam mata YunHo saat menyebut nama JaeJoong.

Sosok YunHo terlihat indah karena diselimuti cinta tapi sekaligus juga menyedihkan karena cintanya yang terlalu dalam malah terasa menyesakkan.

"Kau tak mengerti bagaimana aku berusaha agar tak memikirkan dirinya dan pada akhirnya aku kembali lagi ke titik awal, merindukannya setiap waktu. Aku mencintainya, begitu sederhana namun juga begitu terasa kompleks."

Suara rendah YunHo makin terdengar pelan, seolah berbisik pada dirinya sendiri.

"Padahal Hyung selalu memandang rendah dan melecehkan orang-orang yang dimabuk cinta."

"Hahaha… Itu karena mereka mengingatkanku pada diriku sendiri."

"Aku tak mau mengakuinya tapi apa Hyung tahu aku sangat mengaggumi sosokmu Hyung?"

"Maaf ChangMin ah."

"What goes around, comes around."

"Terima kasih ChangMin ah."

"…"

"…"

"Hyung, Ara dan KiBum mengunjungi Kim JaeJoong Ssi."

Mata YunHo melebar, kelebatan rasa khawatir melintasi kepalanya. "Semoga Jae tidak bertindak bodoh dengan mengakui apapun."

"Satu lagi, bukti yang kami perlihatkan tadi itu palsu, dan tak ada saksi yang melihatmu membawa tubuh Kim HyunJoong Ssi. Semua itu hanya akal-akalan kami untuk menjebakmu Hyung. Park YooChun Ssi masih menutup mulutnya rapat-rapat, jadi hanya cara itu yang terpikir. Sesungguhnya skenariomu amat sangat sempurna dan bersih."

YunHo tiba-tiba tertawa sampai menegadahkan kepalanya kebelakang.

"Hahahaha… Jadi itu hanya jebakan kalian! Athena sungguh luar biasa."

"Kami hanya memiliki kecurigaan pada kalian, buktipun hanya satu buah panggilan telepon dari JaeJoong Ssi. maka dari itu kami merencanakan untuk memaksa Hyung mengaku terlebih dulu baru mengurus JaeJoong Ssi. Kami tak menyangka umpan itu akan kau telan bulat-bulat."

"Hahahaha… Benar juga, bila dipikir lagi dimana kalian menemukan potongan kain itu bila aku memusnahkannya tidak di area TKP. Sepertinya aku terbawa perasaan hingga tak berpikir logis."

"…."

"JaeJoong itu bersih, dia tak melakukan apapun. Rasa ingin melindungiku terlalu kuat hingga aku menghabisi suaminya."

"Oh ya? Kurasa bukan begitu kejadiannya, karena menurut kabar yang kuterima dari KiBum Hyung, JaeJoong Ssi telah menyerahkan diri."

"Jae, Kenapa malah mengaku!" YunHo berusaha bersikap tenang dan berpikir cepat bagaimana cara untuk mengeluarkan JaeJoong dari segala kekacauan ini, tapi sepertinya semua mengarah pada jalan buntu.

"Kurasa dia juga terlalu mencintaimu hingga tak mau kau menanggung semuanya sendirian."

"..."

"SiWon Hyung akan menangani Park YooChun Ssi, kurasa dia akan menceritakan yang sebeneranya sekarang. Jadi tak ada gunanya lagi mengelak, Hyung."

"Hey, ChangMin ah.. Tidak bisakah kalian menangkapku saja dan melepaskan Jae? Kumohon…"

"Tidak. Seperti kata Ara, kebenaran harus ditegakkan, apapun resikonya. Nah, sekarang ceritakan apa yang sesungguhnya terjadi, Hyung. Yang aku inginkan adalah kebenaran. Cukup sudah segala kebohongan yang kau rajut selama ini."

.

-YunJae-

.

1,5 years ago

.

Hujan lebat tiba-tiba mengguyur bumi.

Sungguh perubahan cuaca yang sangat ekstrim, dari sebelumnya siang tadi matahari bersinar amat terik di musim gugur.

Namun perubahan cuaca ataupun lelah tak mampu mengurangi rasa puas yang membuncah didada YunHo.

Hari ini ia ditunjuk memimpin tim penyidik untuk pertama kalinya.

Dan tanpa berpikir dua kali ia segera merekrut Shim ChangMin, Choi SiWon, Kim KiBum dan Go Ara. Nama terakhir merupakan yeoja yang sejak memasuki kepolisian telah menjadi 'secret crush' YunHo.

Bukan berarti YunHo memilih Ara hanya karena alasan itu. Ara seorang yang profesional dan kompeten dalam bidangnya.

.

YunHo menyalakan lampu dan menutup jendela mobilnya.

Ditambahkannya kecepatan laju mobil, ingin segera bersantai di apartemennya yang nyaman dengan secangkir hot chocolate.

Hujan yang berjatuhan dengan deras dan tanpa ampun membuat YunHo tak melihat seseorang yang tengah menyeberang jalan.

Dengan panik diinjaknya rem dan membanting stir mobil.

Memaki pelan, YunHo keluar untuk melihat keadaan orang yang ditabraknya.

Seorang namja terkapar dengan kedua mata tertutup di atas aspal.

.

Tak ada tanda-tanda darah yang bercucuran.

YunHo menepuk-nepuk pipi mulus orang itu, namun tak ada reaksi. Rasa panik mulai merasuki hatinya.

Segera dibopongnya tubuh tak sadarkan diri itu, membawanya ke dalam mobil.

Beruntung bagi YunHo malam telah larut hingga tak ada seorangpun yang melihat.

Ia tak ingin kariernya hancur disaat baru mulai dirintis.

Jadi tak mungkin YunHo membawanya ke rumah sakit.

Pilihan terakhir adalah membawa namja tak dikenal itu ke apartemennya.

.

Berulang kali YunHo memandang sosok namja yang tengah pingsan dan menguasai tempat tidurnya dengan raut wajah bingung.

Ia telah mengeringkan kepala dan wajah namja yang dapat dikategorikan sangat cantik untuk dapat disebut namja itu.

Bila saja pakaian orang itu tidak basah kuyub dan menempel di kulitnya, maka YunHo pasti telah mengira bahwa namja itu seorang yeoja.

Setelah beberapa menit berdebat sendiri dalam kepalanya, YunHo memutuskan untuk mengganti pakaian sang namja yang basah kuyub itu.

Sambil menutup mata, YunHo mengelap seluruh tubuh orang itu dan sebagai penutup, YunHo memasangkan pakaian miliknya yang kali ini harus dilakukan dengan mata terbuka.

Mau tidak mau YunHo menganggumi tubuh orang itu, kulitnya putih seperti susu dan ia memiliki otot perut yang sempurna.

Keindahan tubuh itu ternodai oleh lebam-lebam besar.

Alis YunHo bertautan. "Kalau ini akibat kutabrak, harusnya belum membiru."

Tiba-tiba tubuh itu mengerang dan kedua kelopak mata sang namja terbuka, memperlihatkan sepasang mata hitam besar.

Sepasang mata hitam yang mengingatkan YunHo akan mata Ara, cantik sekali.

"Eh?" Ia memandang sekelilingnya dengan gugup "Ini dimana? Kau siapa?"

"Tenang... Sebelum kau manjadi panik karena bersama orang asing dan dalam keadaan shirtless, biar kujelaskan. Namaku Jung YunHo dan aku tak sengaja menabrakmu tadi. Karena aku tak tahu dimana alamatmu dan aku tak berniat memeriksa barang pribadi seseorang, jadi aku membawamu ke apartemenku. Aku kasihan melihatmu basah karena itulah aku menggantikan pakaianmu, aku tak melakukan apapun, jangan khawatir. Nah, sebutkan siapa namamu?"

Sang namja cantik tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri saat mendengar penjelasan panjang lebar YunHo.

Wajah YunHo menggelap karena merasa tidak dihargai telah susah payah memberikan penjelasan dengan amat detail dalam satu tarikan nafas.

"Maaf… Jangan tersinggung." Kata namja berambut hitam itu akhirnya. "Namaku Kim JaeJoong. Terima kasih telah membawaku kemari alih-alih meninggalkanku di jalanan."

"Ya…"

JaeJoong menunggu-nunggu reaksi mengenali dalam diri YunHo tapi nihil.

Sepertinya YunHo tak mengenal Kim JaeJoong, sang mantan penyanyi, sang hero dari dunia musik Korea.

Sedikit banyak harga diri JaeJoong terluka, apakah mundur dari dunia showbiz selama lima tahun telah menghapus kilaunya?

Pikiran negatif itu segera disingkirkannya, JaeJoong malah lebih nyaman begini daripada dipandang sebagai Kim JaeJoong yang seorang pahlawan dalam dunia musik.

YunHo bangkit menuju dapur, beberapa saat kemudian ia kembali dengan dua mug yang mengepulkan asap.

"Ini… Minumlah, kau pasti kedinginan."

Tangan JaeJoong memainkan pinggiran mug tanpa berniat meminum isinya.

"Kenapa tidak diminum? Tidak aku racuni kok."

"Ah.. Bukan begitu maksudku… Hanya saja aku tidak terlalu suka. Hot chocolate agak terlalu manis untukku."

JaeJoong menciut dibawah tatapan menusuk YunHo. "Cicipilah dulu baru berkomentar."

Tak mau membuat sang penolongnya makin tersinggung, JaeJoong menenggak minuman itu sembari menutup hidungnya seperti akan meminum obat.

YunHo memperhatikan perubahan wajah JaeJoong dari mimik horor menjadi kaget.

"Enak bukan? Kau pasti berpikir tidak enak atau terlalu manis padahal tak pernah mencicipinya."

Mata hitam JaeJoong melebar, terkejut. Bagaimana orang yang sangat asing bisa menebak alasannya tak menyukai minuman itu tepat pada sasaran.

"Terkejut? Aku ini Jung YunHo, aku jenius. Sudah pekerjaanku untuk menebak-nebak. Lalu, kenapa kau keluar tanpa menggunakan rain coat atau payung? Kenapa kau membiarkan dirimu kehujanan sampai pingsan? Dan kenapa tubuhmu lebam-lebam?"

JaeJoong tak menjawab, matanya tertutup tirai rambut bagian depannya karena sang namja tengah menunduk, sekali lagi memainkan mug.

"Kau tahu, terkadang bercerita dengan orang yang sama sekali asing malah lebih menyenangkan. Karena mereka dapat menilai dari sudut netral, tidak seperti bercerita dengan seorang teman atau keluarga sekalipun karena sedikit banyak mereka akan terbawa pendapat dan perasaan pribadi mereka."

Air mata JaeJoong meleleh, awalnya hanya setetes dua tetes namun makin lama makin deras. Sosoknya bergetar menahan isakan, di mata YunHo sosok itu terlihat begitu kecil dan rapuh.

Sepanjang hidupnya, semua orang disekitar JaeJoong terintimidasi akan sikap dinginnya dan tak pernah ada yang berani bertanya apa yang dirasakan JaeJoong.

Kalaupun ada orang yang bertanya, itu hanya sekedar sebagai basa basi namun tak pernah benar-benar ingin tahu perasaannya.

Bahkan sang sahabatpun seperti itu, YooChun selalu melindungi JaeJoong dari jauh tanpa pernah sekalipun bertanya.

Tapi bukan itu yang JaeJoong inginkan.

JaeJoong ingin seseorang bertanya padanya, kalau perlu memaksa JaeJoong untuk menceritakan masalahnya.

Karena itu pertanda mereka memperhatikan dirinya, mereka khawatir, mereka mencintai dan menyayanginya.

JaeJoong begitu putus asa untuk dapat merasakan perasaan disayangi, dibutuhkan oleh seseorang.

"Nah… Nah… Menangislah… Itu lebih baik daripada kau menyimpannya terus menerus."

YunHo menepuk kepala JaeJoong dan menyodorkan sekotak tissue.

.

Sebuah mug hot chocolate diterima untuk kedua kalinya oleh JaeJoong.

Ia terus menangis selama satu jam penuh, mengakibatkan kedua mata besarnya menjadi makin besar alias bengkak.

Sedangkan YunHo hanya duduk disebelahnya, dengan sabar menemaninya.

Tak ada kata-kata hiburan atau tepukan menenangkan, YunHo benar-benar membiarkan JaeJoong menangis sejadinya.

JaeJoong menghirup minuman itu pelan-pelan.

Menikmati perasaan hangat yang menjalari tubuhnya dan juga pada hatinya.

"Sudah lega?"

"Terima kasih. Ini pertama kalinya sejak aku bisa mengingat, aku menangis begitu banyak." Jawab JaeJoong dengan suara serak. "Pertama kalinya juga aku menangis dihadapan orang lain. Kim JaeJoong tak pernah menangis."

"Sudah siap bercerita? Aku pendengar yang cukup baik."

JaeJoong mengangguk. "Suamiku yang menyebabkan lebam-lebam ini. Aku memang sengaja membiarkan tubuhku disirami hujan."

"Oh, jadi yang dijari manismu memang benar wedding ring."

"Kau memang pengamat yang baik."

"Terima kasih." YunHo tersenyum bangga bak anak kecil yang dipuji gurunya kerena berhasil mengerjakan soal matematika super sulit dengan benar.

"Apa kau tak jijik? Aku mengatakan suamiku lho!"

"Kenapa harus jijik? Kau jatuh cinta padanya, kita tak bisa memilih siapa yang kita cintai. Perasaan itu hanya muncul begitu saja."

"Kenapa kau bisa begitu open minded? Keluargaku sendiripun mencoret namaku dari daftar keluarga karena ingin menikahinya hampir empat tahun yang lalu."

"Eh? Kau dikeluarkan dari keluarga? Dihapuskan begitu saja? Wow.. Kau menempuh segalanya demi dia! Hebat, aku kagum akan keberanian dan tekadmu! Kau sangat mencintainya ya?"

"Semua orang menganggap pernikahan kami adalah kisah yang romantis." JaeJoong menghela nafas. "Entahlah, sekarang aku ragu dengan perasaanku sendiri. Kalau aku mencintainya, kenapa saat malam pengantin aku tak ingin disentuh olehnya? Kenapa aku memilih tidur memunggunginya setiap malam? Kenapa tiap dia menyentuhku aku merasa tidak nyaman? Hingga aku mulai menolak disentuh olehnya dan lebam-lebam ini yang kudapatkan."

"Kenapa menikahinya kalau begitu?"

JaeJoong terdiam lama. Itu adalah pertanyaan yang telah JaeJoong tanyakan pada dirinya sendiri berulang kali namun tak jua ia menemukan jawabannya.

"Apa kau berharap dia mampu mengusir rasa dingin di hatimu? Biar kutebak dia sangat baik dan perhatian padamu bukan?"

"Eh? Bagaimana kau tahu dia begitu?"

"Berapa kali kau ingin aku mengulangi pernyataan betapa jeniusnya aku?" JaeJoong terkikik mendengar ini.

"Lalu kau berpikir ia begitu baik, bagaimana mungkin kau tega menolak keinginannya memilikimu. Kau berpikir perasaan senang saat ia memperhatikanmu adalah rasa cinta, namun lama kelamaan alam bawah sadarmu menyadari itu bukanlah cinta. Maka dari itu kau tak ingin disentuh olehnya." Lanjut YunHo.

Kepala JaeJoong dimiringkan ke kiri, bibirnya sedikit mengerucut, kebiasaan yang otomatis dilakukannya saat berpikir.

"Hahahaha… Sudahlah, tak usah memaksa untuk memikirkan kata-kataku." YunHo menepuk bahu JaeJoong. "Hey, apa tidak apa-apa kau tidak pulang? Ini sudah lewat tengah malam lho."

"Mwo? Aku harus segera kembali."

"Kau mau kuantar?"

"Tidak perlu. Terima kasih."

"Tidak merepotkan kok." Jawab YunHo seolah mampu membaca isi kepala JaeJoong.

"Tidak perlu. Sungguh."

"Ya sudahlah kalau begitu."

"Em… Aku belum tahu siapa namamu."

"Oh iya, kita sudah bicara panjang lebar tapi aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Jung YunHo."

JaeJoong menatap uluran tangan YunHo. "Tangan dan jari-jarinya bagus." Pikirnya sebelum menyambut ajakan bersalaman itu. "Tangan yang besar dan juga hangat. Seperti apa rasanya bila tangan itu menyentuh pipiku?"

"Hati-hati di jalan." YunHo mengulurkan kantong berisi pakaian basah JaeJoong, jaket dan payung pada JaeJoong.

"Em… YunHo Ssi… Terima kasih."

"Panggil YunHo saja, dan tak usah dipikirkan."

"Errr… Mengenai pakaian yang telah dipinjamkan ini…"

"Simpan saja."

"Andwe! Tidak bisa begitu."

"Tidak apa."

"Tidak bisa! Aku akan membelikan yang baru bila tak diizinkan untuk mengembalikan."

"Tidak perlu."

"Aku memaksa!"

YunHo menghela nafas, sepertinya percuma saja berdebat dengan Kim JaeJoong.

"Baiklah bila kau memaksa."

Senyuman manis terkembang di wajah cantik JaeJoong membuat wajahnya makin terlihat menawan.

"Hari selasa depan bisa bertemu? Karena aku tidak tahu ukuranmu jadi sebaiknya kita membelinya bersama!"

"Baiklah, bertemu di COEX Mall, pukul 7 malam."

"Deal. Sekali lagi terima kasih banyak."

JaeJoong membungkuk hormat sebelum memakai sepatu.

"Sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Berjalan dengan langkah-langkah ringan, JaeJoong menghirup wangi yang masih tertinggal pada jaket YunHo. Jaket itu sedikit kebesaran untuk tubuh JaeJoong, lengannya begitu panjang hingga jari-jari JaeJoong tak terlihat.

"Hmm… Wangi citrus. Sama dengan HyunJoong tapi kenapa aku tidak membencinya? Malahan wanginya terasana enak…"

JaeJoong mengayunkan kantung tasnya sambil melangkah, tak menyadari perubahan pada dirinya yang tiba-tiba lebih ceria.

.

-YunJae-

.

"Dari mana?"

Lambat-lambat JaeJoong menoleh pada asal suara.

HyunJoong, suaminya, telah menunggu sambil duduk di sofa dengan melipat kaki.

"Aku jalan-jalan lalu tertabrak tapi syukurlah ada orang yang menolongku."

"Eh?"

HyungJoong berdiri dan mendekati JaeJoong, memeriksa tubuh pasangannya.

"Aku tidak apa, HyunJoong. Sungguh."

"Jinjja?"

"Ne."

"Kau tidak berbohong khan Joongie? Pakaian siapa yang kau pakai ini?"

JaeJoong menggeleng.

"Orang yang menolongku berbaik hati meminjamkan karena aku kebasahan. Sudahlah, jangan dibahas lagi, aku lelah."

"Joongie…."

Tangan HyunJoong menahan lengan JaeJoong. "Kau kenapa? Mengapa akhir-akhir ini bersikap dingin? Apa aku berbuat salah?"

"….."

"Kim JaeJoong! Jawab aku! Kau tahu aku tak suka diabaikan!"

JaeJoong meringis saat dirasakannya genggaman HyunJoong makin kuat. "Sakit… Lepaskan…."

"Kita harus bicara!"

"Iya, aku mengerti. Tapi bisa tidak berbicara baik-baik? Kau menyakitiku…"

Pegangan pada lengan JaeJoong bukannya berkurang namun menjadi makin erat. "Apa kau tak merasa hubungan kita mendingin? Kita telah menikah hampir empat tahun namun sikapmu makin dingin dan makin kaku!"

"Benar. Aku memang kaku dan dingin. Sekarang biarkan aku yang bertanya, apa kau ingat kapan terakhir kali kita menikmati waktu berdua? Apa kau ingat kapan terakhir kau bersikap lembut? Apa kau ingat kapan terakhir kali kita bercakap-cakap saat makan malam? Kau sibuk dengan bisnismu yang makin menanjak itu! Jadi jangan salahkan aku bila kita makin menjauh!"

JaeJoong ingin menjeritkan rentetan kalimat itu pada HyunJoong tapi sebaliknya ia malah menatap suaminya dengan wajah tanpa ekspresi. Bertahun-tahun terbiasa menyembunyikan isi hatinya dari orang lain membuat JaeJoong sulit untuk terbuka, kecuali pada satu orang.

"Aku tak ingin membicarakan ini."

"Terserahlah! Kau memang keras kepala!"

HyunJoong mendorong tubuh JaeJoong kasar hingga membentur meja.

"Aku pergi! Kau membuatku makin sakit kepala! Aku tidak akan kembali hingga minggu depan, ada rapat pemegang saham."

.

-YunJae-

.

Jung YunHo memandangi pantulan bayangannya pada kaca sepion mobil untuk kesekian kalinya.

Dirinya yang tak pernah perduli akan penampilan tiba-tiba menjadi kalang kabut mempersiapkan diri untuk hari ini.

Hari selasa.

Hari dimana ia berjanji bertemu dengan seorang Kim JaeJoong.

"Tunggu.. Kenapa aku jadi seperti orang bodoh begini! Kami hanya pergi berbelanja. Ini bukan berkencan!"

Tangan YunHo kemudian bergerak mengacak rambut yang telah susah payah diatur sedemikian rupa selama tiga puluh menit. Membuat rambut brunette gelapnya sedikit berantakan namun malah memberikan kesan sexy dan manly.

Sangat jauh lebih baik dari rambut super rapi tadi.

.

Sejak malam itu YunHo kebingungan bagaimana cara ia bertemu JaeJoong di mall, karena ia lupa menanyakan nomor ponsel namja cantik itu.

Awalnya YunHo berpikir untuk tidak datang saja, namun ada sesuatu yang mendorongnya untuk datang.

Tak ada salahnya datang dan melihat-lihat bukan?

Dan kebingungan YunHo terpecahkan oleh pemandangan sosok berkulit putih yang telah duduk bersandar pada sebuah mobil convertible merah, menunggu seseorang di parkiran.

Orang itu tersenyum saat melihat YunHo turun dari mobil, membuat YunHo mau tak mau membalas senyuman itu.

"Apakah menunggu lama, Jae?"

"Eh? Em.. Tidak.."

"Kenapa?"

JaeJoong menggeleng dan menyentuh dadanya, sambil berpura-pura merapikan kemeja hitam yang dipakainya. Jantungnya berdentum senang mendengar nama panggilan YunHo.

"Uh.. Tenanglah. Dia tidak bermaksud apa-apa. Banyak yang memanggilku begitu, nama panggilan itu tak ada artinya."

"Hey, kenapa melamun? Ayo.."

"Oh.. Eh.. iya…"

YunHo memeperhatikan ternyata pergi berbelanja dengan JaeJoong memerlukan tenaga ekstra. Karena namja cantik itu seolah tidak mengenal lelah memasuki satu-persatu toko yang ada.

JaeJoong memaksa YunHo mencoba lebih dari selusin pakaian, seolah YunHo adalah model yang hendak memperagakan busana.

"Semuanya pantas untukmu, tapi aku ingin yang tebaik." Itu adalah alasan yang keluar dari bibir cherry JaeJoong saat YunHo menanyakan mengapa mereka tak mengambil salah satu yang dianggap JaeJoong cocok untuk YunHo.

Setelah berputar-putar sekian lama akhirnya mereka kembali ke toko awal dan JaeJoong menyambar setelan yang pertama kali dicoba YunHo.

"Dari semuanya inilah yang terbaik." Ujar JaeJoong sat memperhatikan sosok YunHo dalam balutan kaus putih polos berpotongan v yang memperlihatkan tubuh atletis YunHo dipadukan dengan jaket hitam.

"Simple, namun menurutku ini yang tebaik."

"Yeeeeesss~~! Akhirnya!"

YunHo melompat dan meninju udara.

Dia sudah kehabisan tenaga berputar-putar dari lantai paling bawah hingga lantai teratas.

JaeJoong tertawa karena tingkah YunHo.

"Jae, setelah ini kita makan dulu ya. Aku lapar."

"Ayo, aku juga lapar."

Setelah memesan makanan, dua orang namja yang tanpa mereka sadari menarik yeoja berdatangan pada salah satu café di lantai tiga mall itu, mulai berbincang-bincang.

Percakapan tanpa arah, mulai dari pekerjaan YunHo, warna favorit, film favorit hingga musik.

JaeJoong lalu memperdengarkan lagu yang dinyanyikan olehnya tanpa memberitahukan fakta bahwa dirinyalah sang penyanyi tersebut melalui ipod-nya.

"Wow… Suaranya bagus sekali! Lagu siapa ini?"

Wajah JaeJoong sontak memerah sampai ke telinga.

"Errr… Itu laguku."

"Mwo? Kau seorang penyanyi?"

Malu-malu JaeJoong menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu, ayo, nyanyikan satu lagu."

"Tidak. Aku sudah lama tak bernyanyi. Lagipula kau sudah mendengar rekaman suaraku."

"Itu dua hal yang berbeda. Mendengarkan langsung dan melalui rekaman pasti berbeda."

"Kalau kau mau bernyanyi untukku maka aku akan menyanyi untukmu."

"Andwe! Aku tidak bisa bernyanyi."

"Kalau begitu aku tidak mau bernyanyi juga."

"Ternyata kau kekanak-kanakan ya."

JaeJoong menjulurkan lidahnya. "Biar saja."

"…"

"Mau dengar aku bernyanyi tidak? Bila iya, cepat nyanyikan sesuatu."

"Aish… Baiklah…"

YunHo mulai menyenandungkan lagu, sebuah lagu selalu didengarkan oleh Ara.

.

AI ga ti ja lang seu le ue yo (Proud like a Child)

Ba bo ga ten pyo jeng doai be lye yo (A foolish Expression)

Jei bal nai gei man u se yo oh he~ he~ (Please smile only for me, oh he~ he~)

Dang xi nei deu ti go xi pen gel yo (I would want her everything)

Geu go ma ni qen gu gin gel lyo (But that would be in Paradise)

Sai sang ha na bu ni oh he~ he~ (The only one in this world, oh he~ he~)

.

"Ah, siapa yang mengatakan kau tak bisa bernyanyi! Suaramu bagus, selain itu aku suka suara beratmu. Tapi kau salah melafalkan she menjadi he."

YunHo memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela karena dirundung rasa malu.

"Sudahlah. Jangan lagi dibahas. Sekarang giliranmu. Ayo, segera bernyanyi, supaya kita impas."

"Hahahaha.. Baiklah."

JaeJoong menarik nafas panjang sebelum mulai bernyanyi.

Saat mendengar suara merdu yang keluar dari bibir cherry itu mau tidak mau YunHo mengalihkan padangannya kembali pada diri JaeJoong.

.

chajatda nae sarang naega chatdeon saram (I found you, my love, the person I've been looking for)

ddeugeopge anajugo shipeo (I want to embrace you passionately)

gamanhi nuneul gamajulae (Stay still and close your eyes)

naega ibmacheo julsu itge (So that I can kiss you)

saranghae neol saranghae (I love you, I love you)

chajatda nae gyeote dul han saram (I found you, the one person to stay beside me)

.

"Bravo!"

YunHo bertepuk tangan setelah JaeJoong selesai bernyanyi.

"Wow… Bravo! Suaramu indah sekali! Harusnya kau tak berhenti menyanyi."

Kini JaeJoong menyadari mereka telah menjadi pusat perhatian, orang-orang mulai berbisik-bisik, mengenali dirinya.

Sebelum ada yang berhasil mengambil gambar atau mendekati mereka, JaeJoong menyeret YunHo keluar café.

"Yah~~ Jae, kenapa tiba-tiba berlari-lari begini?"

JaeJoong membawa YunHo memasuki sebuah toko musik, tak menyadari ia menggenggam tangan YunHo erat.

"Aku malu tahu! Sudah lama sejak terakhir kali aku bernyanyi dan tatapan mereka membuatku tegang."

Dengan tidak rela JaeJoong melepaskan tangan itu, dan tiba-tiba tangannya terasa dingin dan kosong.

"Hahaha.. Kau ini lucu sekali, padahal suaramu begitu indah. Ah, kebetulan kita di toko CD, aku ingin membeli albummu. Mulai sekarang aku akan menjadi penggemarmu."

"Eh? Sungguh?"

Mata sipit YunHo hanya tersisa berupa garis tipis karena tersenyum. "Tentu."

"Kalau begitu aku juga akan menjadi penggemarmu, Yun."

"Mwo? Aku? Kenapa?"

"Aku suka suaramu. Kau harus mau menyanyikan lagu tadi untuk fans-mu ini, kapanpun ia memintanya."

"Mwo? Andwe! Tidak mau."

"Harus mau."

"Tidak."

Bibir cherry itu dikerucutkan dan dimajukan beberapa centimeter.

"Eh, ternyata sudah malam. Ayo, segera kembali." YunHo mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menyerahkan album-album Kim JaeJoong pada kasir.

Taktik yang berhasil karena JaeJoong tak lagi cemberut

Namja cantik itu berganti memasang topeng tanpa ekspresi.

Topeng yang tidak disukai YunHo.

"Ternyata pergi denganmu menyenangkan, Jae. Hari selasa depan kita pergi lagi ya? Bagaimana kalau makan malam di restaurant Nine? Kata temanku makanan disana sangat enak."

"Baiklah." Mata hitam JaeJoong berkilat senang, membuat YunHo merasa lega. Setidaknya topeng tanpa ekspresi itu sudah dilepas namja cantik itu.

"Kemarikan ponselmu. Akan kuberikan nomorku."

Setelah bertukar nomor ponsel, kedua namja tampan dengan pesona yang berbeda itu melangkah menuju pelataran parkir.

"Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa minggu depan."

"Bye."

Keduanya berpisah menuju mobil masing-masing dan YunHo membiarkan JaeJoong keluar terlebih dahulu sebelum menjalankan mobilnya.

JaeJoong tersenyum-senyum sendiri di dalam mobil dan segera mensetting nomor YunHo menjadi panggilan cepat satu.

"Aish.. Seperti aku akan punya keberanian untuk meneleponnya saja!"

.

TBC

.


.

Saya kesal sekali minggu kemarin, sudah sakit lalu data chap 8 terhapus, dan tidak ada back up. Sungguh ceroboh! Jadi saya harus ketik ulang.

T . T

Hufftt….. Sudahlah…

Flashback-nya lebih panjang dari dugaan saya, 8000 kata lebih, jd saya split menjadi 2 part. Saya merasa sungguh bertele-tele, Maaf yaw..

Huffft… Silahkan klik part B nya…

Love, Cho Jang Mi.