Title : I.D.S
Genre : Angst, Romance
Rating : M
Pairing : YunJae, Broken!HyunJae, Hint!JaeChun
Disclaimer : YunJae belong to each others. I own only the plot. Half of the plot Based on a True Story Novel
Warning : Typos, Violance, Cursing, YAOI (BOY X BOY) Don't Like? Please press red botton with x symbol. Yes, that botton.
Summary : Kim JaeJoong, seorang penyanyi terkenal yang rela meninggalkan dunia Showbiz demi menikahi pria yang dicintainya. Suatu malam, setelah sebuah pertengkar hebat sang suami menghilang tanpa jejak. Apakah yang sesungguhnya terjadi?
.
.
.
Decakan tidak sabar keluar dari bibir berbentuk hati itu.
Berulang kali matanya melirik jam di tangan kirinya.
Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja membentuk harmonisasi vokal dengan suasana hati sang pemilik tubuh.
Ia dibiarkan menunggu hampir dua jam penuh dan stok kesabarannya mulai menipis.
Setelah lima menit ekstra bersabar, akhirnya ia menyerah.
Ia berdiri dan sedang mengeluarkan uang untuk membayar bergelas-gelas minuman yang telah dihabiskannya sambil menunggu saat sosok yang telah dinantikannya muncul.
"Maaf, YunHo… Maaf sekali aku terlambat… Apa menunggu lama?"
Ia duduk kembali dengan alisnya berkerut, membuat dahinya-pun ikut berkerut.
"Tidak lama, hanya 1 jam 48 menit dan 32 detik saja." YunHo menginformasikan dengan nada sedikit sarkastis.
"Maaf. Tadi aku harus ke dokter hewan. Kucingku sakit."
"Eh? Kau memelihara kucing, Jae?"
"Iya."
JaeJoong sedikit mengangkat kandang kucing di tangannya sambil tersenyum canggung. Sedikit banyak YunHo merasa kasihan akan raut wajah bersalah JaeJoong.
"Duduklah. Aku tak marah."
"Maaf."
"Sudahlah. Hey, aku ingin lihat kucingmu."
"Eh, Jangan! Dia.."
JaeJoong tak sempat memperingatkan lebih lanjut karena YunHo telah membuka kandang sang kucing dan mengarahkan seekor kucing abu-abu pada pelukannya.
Mata JaeJoong melebar takjub.
Kucingnya, JiJi hanya jinak pada dirinya.
JiJi tak suka disentuh oleh orang lain, HyunJoong sering dicakaranya sedangkan YooChun tak diperdulikan seberapapun ia merayu JiJi.
Jadi JiJi yang bersedia dipeluk dan digaruk dagunya oleh YunHo merupakan kejadian langka.
"Hai, kucing kecil. Siapa namamu?"
YunHo mengajak bicara JiJi seperti mengerti akan pertanyaan itu, sang kucing mengeong dan mengangkat dagunya, memperlihatkan sebuah kalung leher.
"Namanya JiJi."
Kali ini YunHo menatap sang majikan. "Kau menamainya mirip dengan namamu?"
"Aneh ya?"
"Hahahaha.. Tidak. Cocok kok, kucing kecil ini mirip denganmu."
"…."
"Ah, aku punya sesuatu untukmu." YunHo meletakkan JiJi di pangkuannya dan meraih sesuatu di tasnya. "Ini sebagai balasan pakaian kemarin."
"Boleh dibuka?" Mata besar JaeJoong menatap boks ditangannya penasaran.
"Silahkan."
"Mug bergambar gajah? Bagaimana kau tahu aku menyukai ini?"
"Gantungan pada spion bagian depan mobilmu yang memberitahuku."
"Yunnie~~ Gumawo!" JaeJoong memeluk YunHo yang tertegun karena nama panggilan yang diberikan JaeJoong, sedetik kemudian ia mengusap punggung JaeJoong dengan senyum lebar di wajahnya.
"Syukurlah kau menyukainya."
"Hahahaha… Aku sangat menyukainya~! Aku berjanji akan menjaganya baik-baik. Ah, selasa minggu depan bagaimana kalau kita piknik? Aku akan membawakan masakan andalanku."
"Aku senang saja tapi mungkin aku sedikit sibuk dan hanya memiliki waktu di malam hari. Piknik macam apa malam-malam?"
"Tidak apa. Anggap saja kita berpiknik untuk melihat bintang. Ide bagus tidak? Aku tahu bukit yang bisa melihat bintang dengan sudut terbaik."
JaeJoong mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan denah peta, ia terlihat seperti pertama kali akan pergi piknik.
"Kalau kau begitu bersemangat, bagaimana mungkin aku tega menolaknya."
.
-YunJae-
.
Hari selasa, pukul tujuh malam menjadi hari khusus bagi JaeJoong.
Setiap minggunya pada hari itu JaeJoong bertemu dengan YunHo walaupun hanya untuk dua atau tiga jam saja.
Selama berminggu-minggu terakhir ini piknik di bukit menjadi rutinitas mereka.
Udara dingin tak pernah mampu membatalkan rutinitas itu.
JaeJoong malah pernah beralasan bintang terlihat makin indah di langin musim dingin.
.
Seperti malam ini, YunHo dan JaeJoong berbaring bersebelahan dalam diam, sibuk menatap langit bertaburan bintang.
Irama nafas keduanya saling mengejar dengan teratur.
"Aku tak menyangka kau pandai sekali memasak."
JaeJoong bangkit dan menatap YunHo. "Baru sadar sekarang? Beberapa minggu terakhir ini kemana saja?"
"Hahahahaha… Kim JaeJoong yang terhebat. Kau istri yang baik."
Senyuman jahil JaeJoong memudar.
"Kenapa? Apa kau teringat suamimu? Apa dia masih sering memukulmu? Kau mau kutemani membuat laporan?" YunHo duduk menghadap temannya.
"Tidak perlu."
"…."
"…."
"Hachiiimmm…"
"Jae.. Kau ini. Sekarang memang hampir musim semi tapi udara masih dingin. Mengapa memakai pakaian setipis ini."
YunHo memakaikan syalnya kemudian meraih kedua tangan JaeJoong, menggosokkan sepasang tangan mereka.
"Yunnie…"
"Hmmmm?"
Saat YunHo mengangkat wajahnya, pipi kirinya bertemu dengan bibir JaeJoong. "Gumawo, Yun…"
JaeJoong menunduk dan menggigit bibir bawahnya, malu.
"Jae…."
"Hmmmm?"
Debaran jantung JaeJoong makin menggila karena jarak wajahnya dengan YunHo hanya tersisa satu inci.
Namja manly itu telah menutup matanya dan pada satu tarikan nafas berikutnya bibir mereka bertemu.
JaeJoong tak bergerak, tak bernafas dan tak bisa berfikir.
Bibir tebal YunHo terasa lembut di bibirnya sendiri.
Pelan-pelan JaeJoong menutup matanya dan menikmati rasa manis saat lidah mereka bertarung memperebutkan dominasi terhadap diri masing-masing.
Mereka menyibakkan diri setelah kehabisan nafas.
"Yun…"
"Maaf." YunHo menutup bibirnya dengan lengan. "Maaf. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku."
"Yunnie…"
"Lupakan saja hal ini pernah terjadi."
"…."
Tanpa menoleh YunHo segera beranjak.
JaeJoong masih tertegun di tempatnya. Tak bisa bernafas dan tak bisa berfikir. Kali ini dengan alasan yang sama sekali berbeda.
"YunHo! Hari selasa berikutnya, seperti biasa aku akan menunggu disini! Kau harus datang!"
JaeJoong membentuk corong dengan kedua tangannya dan berteriak pada punggung YunHo setelah otaknya mampu memerintahkan tubuhnya kembali. "Aku akan terus menunggu."
.
-YunJae-
.
"Joongie…"
Susah payah JaeJoong membuka mata. Dari hembusan nafas ditelinganya tercium bau alkohol dan rokok.
"Hyun…" Sebuah ciuman kasar menghentikan kalimat JaeJoong.
Mati-matian JaeJoong menutup mulutnya, tak bersedia memberikan akses pada HyunJoong.
Tak kekurangan akal, HyunJoong mencengkram bagian bawah tubuh JaeJoong kuat-kuat membuat JaeJoong melenguh. Hal ini dijadikan kesempatan oleh suaminya untuk menyelipkan lidahnya dan menikmati bagian dalam mulut JaeJoong.
Hanya rasa pahit tembakau yang dirasakan JaeJoong dari French kiss yang diberikan HyunJoong, sangat jauh berbeda saat dengan YunHo.
Selama beberapa saat JaeJoong memberontak, dan seperti biasanya pukulan mengenai tubuh mulusnya.
Ditahannya air mata agar tak tumpah.
Sungguh ia tak ingin disentuh HyunJoong, tidak setelah ciuman manis dari YunHo.
JaeJoong ingin menyimpan kenangan akan saat-saat itu tapi tidak bisa.
Dipasrahkannya tubuhnya setelah lelah melawan dan rasa nyeri yang menyusupi tubuhnya.
JaeJoong mati rasa.
Ia tak merasakan apapun saat HyunJoong memasukinya ataupun saat sweet spot-nya ditumbuk berkali-kali.
Yang berkelebatan dalam benaknya hanya bayangan YunHo.
Bagaimana bila YunHo yang sedang berada diatasnya sekarang?
Seperti apakah tatapan mata YunHo padanya?
Apakah YunHo akan memperlakukannya dengan lembut?
Akankah YunHo merintihkan nama JaeJoong?
Akankah ia juga merintihkan nama YunHo?
Akankah JaeJoong merasa penuh?
Tidak bagaikan boneka kain yang dirobek-robek seperti sekarang?
"Kau itu milikku, Joongie... Aku mencintaimu." Bisik HyunJoong setelah menyirami JaeJoong dengan benihnya.
JaeJoong tak menjawab, wajahnya masih tetap datar. Dibiarkannya HyunJoong melakukan apapun yang diinginkannya.
"Kau memang memiliki tubuhku tapi tidak dengan hatiku. Hatiku telah dibawa pergi olehnya."
.
-YunJae-
.
"YunHo Ssi, saranghae… Kumohon terimalah perasaanku."
Ara menunduk mencoba menyembunyikan semburat merah yang mewarnai wajah cantiknya saat mengucapkan kalimat itu pada YunHo.
Seharusnya YunHo menjadi orang paling bahagia saat mendapat pernyataan cinta dari Go Ara, yeoja yang selalu menjadi wanita pujaan hatinya.
Tapi sosok Ara terlihat seperti sosok JaeJoong.
YunHo membayangkan bagaimana pipi JaeJoong akan memerah dan namja itu akan mencoba menutupinya dengan kedua tangan namun sia-sia karena telingannya juga ikut memerah.
Membayangkan suara lembut JaeJoong saat mengucapkan kalimat Ara membuat jantung YunHo berpacu gila-gilaan.
"Tidak… Ini tidak sehat. Kim JaeJoong telah menikah!" Pikiran rasionalnya meneriakkan kalimat itu yang kemudian dibantah sendiri oleh pikiran irasionalnya. "Tapi bila ia mengatakan kalimat itu padaku, aku tak peduli sekalipun dia telah menikah."
Ara memberanikan diri mengangkat kepalanya setelah lima menit penuh tak ada jawaban dari YunHo.
Tepat saat itu YunHo tengah tersenyum lembut kepada Ara, membuat Ara kembali menyibukkan diri menatap lantai.
Yang tak diketahui Ara adalah senyum itu ditujukan untuk JaeJoong imajiner.
"YunHo Ssi…. Bagaimana jawabmu?"
Sekali lagi Ara mengangkat wajahnya.
"Nado, saranghae…"
Mata YunHo membentuk garis tipis dan ia membuka tangannya seolah meminta Ara segera masuk ke dalam dekapannya.
Malu-malu Ara mendekat dan membiarkan kepalanya bersandar pada dada bidang YunHo.
"Gumawo, Oppa! Mulai hari ini aku adalah yeojachingu-mu dan aku akan memanggilmu Oppa!"
Kalimat Ara mengembalikan YunHo dari alam imajinasinya.
Yang berada dalam pelukannya adalah Go Ara bukan Kim JaeJoong.
"Kenapa kau merasa menyesal. Ini adalah yang terbaik. Kau dan Ara ternyata saling menyukai. Kalian akan menjadi pasangan yang serasi. Lepaskan namja itu, Jung YunHo!"
.
-YunJae-
.
Sedetikpun YunHo tak bisa memejamkan matanya.
Berkali-kali ia membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Hari ini selasa, dan YunHo telah memutuskan tidak akan datang.
Ia bahkan menikmati makan malam romantis bersama Ara.
Tapi pikirannya tidak berada disana.
Pikirannya selalu kembali pada satu nama, satu orang namja, JaeJoong.
Apakah JaeJoong akan menunggunya seperti yang telah dijanjikannya?
Bagaimana bila namja keras kepala itu benar-benar menunggu di sana?
.
YunHo menyambar ponselnya, hendak menghubungi JaeJoong namun kemudian urung.
Bagaimana bila suami JaeJoong yang mengangkat?
YunHo tak ingin menambahkan api dalam sekam, tak ingin merusak pernikahan mereka.
Itulah sebabnya mengapa YunHo tak pernah mencoba menghubungi JaeJoong walau telah mendapatkan nomor ponselnya.
.
Frustasi, YunHo menyalakan sebatang rokok.
Ia merokok diambang jendela yang terbuka.
YunHo memejamkan mata, mencoba mengalihkan pikirannya pada Ara.
Yeoja yang kini menjadi kekasihnya.
Yeoja yang baik dan berhati lembut. Seperti JaeJoong.
Kulit putih yang mulus seperti JaeJoong namun tidak terasa begitu lembut seperti milik JaeJoong.
Mata besar yang sama menghanyutkannya namun dalam mata hitam JaeJoong, YunHo ingin terus tenggelam tanpa perlu berenang kepermukaan kembali.
Bibir merah bagai cherry yang mirip dengan bibir JaeJoong, namun terasa bergitu asing.
Rambut panjang yang menggelitik lengan YunHo saat Ara berada dalam pelukannya namun tak terlihat berkilauan dibawah sinar rembulan seperti rambut JaeJoong.
.
"Argh.. Mengapa yang terbayang lagi-lagi JaeJoong!" YunHo memukul kepalanya sendiri.
Sekali lagi YunHo memejamkan mata, mengulangi proses yang sama namun tetap saja bayangan Ara tertumpuk oleh JaeJoong.
Bayangan itu menghimpit dada YunHo, mengirimkan degup aneh pada rongga dadanya.
Seketika itu YunHo sadar, Ara tak mampu membuatnya merasa seperti itu.
Hanya satu orang yang bisa.
Dengan panik YunHo meraih kunci mobi dan mematikan rokok setelah menyadari waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.
.
Have this desire to you is forbidden.
I get it.
But I can't help but keep on falling all over again each time I look into those eyes.
I can't suppress this feeling anymore.
So let me say it out loud, even only for one time.
I love you.
Even if you not feel the same way, I just need you to know that I love you.
I really do.
Words can't represent how much I love you.
I won't promise forever but I can promise you today.
Today, I'm going to love you like there's no tomorrow.
.
YunHo mengedarkan pandangan matanya pada sekeliling bukit.
Tak ada tanda-tanda JaeJoong.
"Mungkin sudah pulang." Dengan bahu merosot YunHo berbalik.
"Hachiiimmm…"
YunHo segera berbalik dan menuju asal suara.
Seseorang tengah berjongkok memeluk lututnya, menahan dingin.
"Jae!" Teriak YunHo yang dibalas senyum lemah.
"Yunnie.. Hehehehe… Aku tahu kau pasti datang."
"Pabboya! Kenapa masih disini? Bagaimana bila aku tak datang! Kau bisa mati kedinginan!"
"Tidak akan. Buktinya kau disini. Sniff… Hachimm…"
"Pabbo! Jae pabboya!" YunHo memeluk tubuh beku JaeJoong erat. YunHo tak tahu harus merasa senang atau kesal karena kekeras-kepalaan JaeJoong.
"Hehehe.. Yunnie, selalu hangat." JaeJoong menghirup wangi citrus yang menguar dari leher YunHo.
Mereka terus dalam posisi berpelukan sampai YunHo melepaskan JaeJoong yang telah berhenti gemetar.
"Jae…"
"Yun…"
Keduanya berbicara pada saat yang bersamaan.
"Kau duluan saja."
"Kau duluan saja."
Lagi, kalimat yang sama keluar pada saat yang juga bersamaan.
"Jae, kau duluan. Mau bilang apa?" YunHo menggaruk bagian belakang kepalanya rikuh.
"Yunnie saja."
"Aish.. Kalau begitu bersamaan saja."
"Baiklah. Hitungan ketiga. Hana… Dul.. Set… "
"Saranghae, Jae!"
"Saranghae, Yun!"
.
Sesaat mereka saling menatap dalam keheningan yang canggung, kemudian tertawa terbahak-bahak pada detik berikutnya.
"Hahahahaha.. Lagi-lagi kita mengatakan hal yang sama." JaeJoong menghapus air mata dari sudut matanya.
YunHo memandangi cara JaeJoong tertawa dengan pandangan penuh rasa sayang yang meluap-luap.
"Saranghae." YunHo mengecup dahi JaeJoong. "Saranghae." Berikutnya mengecup tahi lalat di bawah mata kiri JaeJoong.
"Saranghae." YunHo mengecup bibir JaeJoong. Bibir merah itu terasa dingin di bibir YunHo namun lama kelamaan mulai terasa hangat.
"Eum.. Na..do…" Jawab JaeJoong ditengah ciuman mereka yang berkembang makin liar. Tak diperdulikannya saliva yang sedikit menetes dari sudut mulutnya. Yang JaeJoong inginkan saat ini adalah merasakan kehangatan YunHo.
Tangan YunHo meraih pinggang JaeJoong untuk mempersempit jarak dan memperdalam ciuman.
"Yun.. Kau terasa seperti tembakau." Komentarnya dengan nafas terengah-engah saat tubuhnya telah berada kembali dalam dekapan YunHo.
"Aku merokok karena stress. Kau tidak suka?"
"….."
"Baiklah, aku berjanji akan berhenti merokok."
"Hachiiimm…"
"Ck… Aku yakin besok kau akan sakit. Ayo, masuk ke mobil."
.
YunHo menuntun JaeJoong duduk di jok belakang mobilnya. YunHo membuka jaketnya dan memakaikannya pada JaeJoong.
"Tidak perlu, Yun."
"Eh? Kenapa? Kau kedinginan bukan?"
Rona merah menyusupi pipi pucat JaeJoong. "Ada cara lain untuk menghangatkanku."
"Apa?" YunHo menatap JaeJoong dengan wajah polos, membuat JaeJoong makin memerah.
"Aish.. Dia pura-pura tak mengerti atau memang tak mengerti!"
"Jae.. Kenapa diam?"
"Selimuti aku dengan dirimu, Yun."
YunHo mengedip-ngedipkan matanya tak percaya. "Apakah aku salah dengar?"
"Aish.. Sudah, lupakan saja." Tangan JaeJoong bergerak menyambar jaket YunHo namun ditahan.
"Yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik kembali, Jae."
.
Sekali lagi YunHo mengklaim bibir merah itu, tangannya perlahan melepaskan kain yang menempel dikulit mereka.
Dalam sekejap embun memenuhi kaca mobil.
"Jae, tubuhmu…" YunHo menggertakkan gigi melihat lebam-lebam dan kissmark disekujur tubuh JaeJoong.
Mata JaeJoong berkaca-kaca. "Yun… Aku…"
"Aku tidak marah padamu." Tangan YunHo membelai pipi JaeJoong sayang.
Perlahan dan lembut YunHo menciumi setiap lebam kebiruan itu dan menghisap tempat yang sama dengan yang ditinggalkan HyunJoong.
"Dengan begini aku menghapuskan jejaknya."
.
JaeJoong tersenyum.
YunHo memang lembut seperti dugaannya.
Setiap sentuhannya seolah tidak ingin menyakiti JaeJoong.
Suara rendahnya yang membisikkan nama JaeJoong dengan kata cinta terasa begitu benar.
Setiap hentakan menutup segala rasa hampa dalam diri JaeJoong.
Kini ia penuh.
Kim JaeJoong telah sempurna.
.
"Masih dingin?"
"Tidak." JaeJoong membenamkan wajahnya pada leher YunHo, menciumi leher kokoh itu.
"Aku ingin menceritakan sesuatu."
"Apa itu?"
"Aku punya seorang kekasih."
JaeJoong berhenti menciumi leher YunHo dan mendorong dada namja tampan itu. "Kau apa?" Tanyanya tak percaya.
"Ini tak seperti yang kau bayangkan, dia memintaku menjadi kekasihnya baru-baru ini. Aku sangat bingung karena kau saat itu dan menerimanya."
"…."
"Jae, lihat aku." YunHo meraih dagu lancip itu, mencakupkan kedua tangannya pada pipi JaeJoong. "Kau tahu kaulah yang aku cintai."
JaeJoong dapat melihat kesungguhan dalam mata itu.
"Maaf. Aku hanya terlalu cemburu. Aku tak suka membayangkan kau menyentuh orang lain dan ia bisa mengakuimu sebagai miliknya. Lalu sekarang bagaimana?"
"Kita jalani seperti ini dulu untuk sementara, sambil menunggu saat yang tepat untuk berpisah dengan pasangan masing-masing."
"Tapi…"
"Aku tahu ini tidak baik. Tapi perceraian tidak bisa diurus dengan cepat, apalagi dalam kasusmu."
"Baiklah. Aku akan bersabar."
"Yang penting sekarang kita saling memiliki."
YunHo mengambil tangan JaeJoong dan mengistirahatkannya pada dadanya.
Harusnya kedua anak manusia yang tengah dimabuk cinta itu menyelesaikan masalahnya secepatnya, bukannya menunda-nundanya.
Karena hubungan terlarang mereka bagaikan bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan menghancurkan bukan hanya satu hubungan.
.
TBC
.
.
Maaf bagi yang mengharapkan adegan NC. Saya tak sanggup menuliskannya dengan detail, daripada fail, lebih baik slight. ^^v
Karena ini slight NC, jadi saya bisa menuliskannya tanpa perlu memerah seperti kepiting rebus. Hehehehe.. Perasaan JJ tersampaikan tidak? Saya harap tersampaikan.
Baik, silahkan ke chap 9.
Love, Cho Jang Mi.
