Summary: CHAPTER 2 is UPDET! "Apa yang kau inginkan dari Uchiha?" Naruto menyeringai tajam. "Kematian mereka!" SasufemNaru. RnR please...

Disclaimer: Masashi Kishimoto

AURORA: Hope Never Dies

By: Black Capxa

Genre: Romance & Tragedy

Rated: T

Pairing: Sasu x FemNaru

Warning: AU, Gender-bender, Typo(s). Saya author baru disini jadi mohon kritik, review dan sarannya. Jika ada kesalahan dalam fic gaje ini, mohon maaf sebesar-besarnya. Maklum, ini baru yang pertama kalinya. Hehehehehee...

Dan yang paling penting, DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

Chapter 2: Black for my grudge and your eyes

.

.

.

"Sasuke. Ada yang ingin ku sampaikan padamu!"

Sasuke hanya menatap dingin sosok pria dewasa yang ada di hadapannya. Seolah bisa membaca ekspresi sang anak, pria dengan kemeja hitam itupun melanjutkan kembali kalimatnya.

"Kau tahu sendiri bagaimana kemajuan perusahaan kita saat ini." Pria itu meraih sebotol wine dan menuangkan isinya ke dalam sebuah gelas kecil. "Tapi, itu masih belum cukup memuaskanku! Ternyata ada satu kerikil yang menghalangi jalan kita menuju kesuksesan sejati." Sang ayah, Uchiha Fugaku menatap putranya dengan intensif. Sementara Sasuke hanya mendengus pelan mendengarnya.

"Jangan membuang waktuku! Katakan, apa maumu!"

Fugaku hanya tersenyum sinis. Diraihnya segelas wine yang sudah ia siapkan, kemudian menyesapnya perlahan seakan berusaha untuk mengulur waktu lebih lama lagi.

"Kukira kau sudah paham apa maksudku," tatapannya kini berubah menjadi tajam. "Pergunakanlah kejeniusan Uchihamu untuk saat ini!"

"Cih..." Sasuke berdecak pelan. "Kau ingin aku membuang kerikil itu?"

Fugaku kini menampakkan seringaian tajamnya. "Lebih tepatnya lagi... melenyapkannya!"

Sasuke sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Ia hanya memutar bola matanya pertanda bosan.

"Hancurkan kerikil itu! Ia sudah banyak menyusahkan Uchiha"

"Hn," sahut Sasuke singkat. Ia kini sudah bersiap pergi dari ruangan kerja sang ayah. "Siapa?"

"Lenyapkan mereka! Lenyapkan Namikaze!"

**Aurora**

.

*Mansion Uchiha at 02.26 AM

"Hosh...hosh..."

Sasuke baru saja terbangun dari tidurnya setelah diganggu oleh sekelebat mimpi tentang percakapannya dengan sang ayah. Entah kenapa setelah mendengar kisah pilu Naruto, Sasuke kini menjadi gelisah tak karuan. Keringat dingin pun mengalir deras dari pelipisnya. Mata Onyxnya menerawang jauh ke depan. Mengulas kembali rentetan kejadian dua minggu yang lalu, saat ia memulai seluruh penderitaan Naruto.

Flashback

Sasuke saat itu sedang berdiri tegap di atap gedung perusahaan Uchiha, memandang langit senja yang sedikit mendung tersaputi oleh awan kelabu. Beberapa kali ia terlihat menghela nafas panjang, entah apa yang sedang ia pikirkan. Kelopak matanya pun terpejam untuk beberapa saat, menikmati hembusan angin semilir yang begitu lembut menerpa tubuhnya.

Drap...drap...drap...

Indera pendengaran Sasuke menangkap sebuah suara yang familiar ditelinganya. Refleks ia membuka matanya kembali dan menampilkan sepasang Onyx yang menatap dingin sekitarnya.

Drap..drap..drap..

"Anda memanggil saya, Sasuke-sama?" Tanya seorang pria bertubuh besar dengan jubah hitam yang menjuntai panjang hingga pergelangan kakinya. Ia terlihat memakai sebuah topi dan kacamata yang sama hitamnya. Penampilannya memang terlihat begitu misterius. Sangat meyakinkan sebagai seorang mafia.

"Hn," tanggap Sasuke singkat. "Aku punya misi untukmu, Juugo."

Sasuke masih setia membelakangi pria bernama Juugo tersebut. Sementara itu, langit terlihat makin mendung dengan gumpalan awan hitam yang semakin pekat di langit.

"Apa itu, Sasuke-sama?"

Bulir-bulir air hujan kini mulai berjatuhan dari langit di atas mereka. Walaupun belum deras sepenuhnya. Tapi, kedua orang itu masih tetap berdiri disana. Bertahan dalam desiran angin yang perlahan mulai terasa dingin saat menyentuh kulit.

"Misi kali ini..." Sasuke kini membalikkan badannya. "Singkirkan seluruh keluarga Namikaze!"

Misi yang disambut dengan seringaian tipis oleh Juugo.

"Perintah anda adalah kewajiban saya." Juugo kini membungkukkan badannya sebagai bukti loyalitasnya terhadap perintah sang tuan

Sasuke tak berekspresi sedikitpun.

"Ingat satu hal!" Tatapan Sasuke kini berubah semakin tajam seakan mengintimidasi siapapun. "Lakukan sebersih mungkin!"

Dan langit pun tak kuasa lagi membendung muatannya. Kini hujan turun dengan derasnya, seakan menangisi keputusan Sasuke.

"Baik, Sasuke-sama."

Setelah membungkuk hormat, Juugo pun berlalu dari hadapan Sasuke. Meninggalkan ia sendirian ditengah rinai hujan yang seolah mengamuk padanya. Kakinya masih berpijak disana. Menikmati sensasi dingin yang merayap disekujur tubuhnya. Mendongak menatapi langit seakan menantangnya.

"Aku memang jahat," Sasuke bisa merasakan tubuhnya bergetar seiring dengan rasa sakit yang mendera kepalanya. "Neraka memang pantas untukku."

Sosoknya masih setia berdiri disana. Entah sampai kapan. Mungkin ia akan menunggu sampai hujan menghapus cairan kental berwarna merah yang mengalir pelan dari hidungnya.

End of Flashback

Kepala Sasuke mulai berdenyut sakit saat ingatan itu mulai terus membayangi pikirannya. Apakah ini karma untuknya?

"Argghhh..."

Sasuke merasa dirinya sangat kacau. Rasa sakit di kepalanya semakin membuatnya sulit untuk bernafas. Kedua tangannya pun terus memegangi kepalanya. Sasuke sadar bahwa waktunya di dunia ini semakin tipis. Dan ia bahkan belum menyiapkan apapun sebagai bekal menghadap sang malaikat kematian.

"Sial..."

Hanya itu yang bisa ia sampaikan kepada sang dewi malam yang menyaksikan seluruh ungkapan dan erangan kesakitannya. Mungkin, ia akan menghabiskan beberapa jam kedepan untuk mengilhami setiap rasa sakitnya.

**Aurora**

*Konoha Internasional Hospital at 08.56 AM

"Paman Iruka, aku ingin ramen!" Teriakan melengking Naruto terdengar begitu jelas dari ruangannya. Iruka yang berada disampingnya hanya bisa menutup telinga serapat mungkin demi menjaga gendang telinganya agar tidak mengalami tuli permanen.

"Tidak, Naru-chan!" Tegas Iruka sambil mengambil kembali semangkuk bubur yang tadi sempat ia letakkan.

"Paman Iruka yang baik..." Naruto terus merajuk diatas tempat tidurnya. "Izinin Naru makan ramen yah? Sekali ini saja..."

Plus tatapan memelas andalannya.

Oke, Iruka memang lemah saat berhadapan dengan tatapan itu. Ia pun dengan pasrah mengiyakan permintaan Naruto. "Baiklah, Naru-chan. Tapi, jangan banyak-banyak ya? Ramen itu tidak baik untuk kesehatan! Kamu tidak ingin mendekam selamanya disini kan?" Ujar Iruka sambil menirukan gaya khas ibu-ibu yang sedang menasehati anaknya.

Naruto terkekeh pelan ketika mendengar ocehan Iruka. Sosok pamannya ini memang lebih mendekati peran ibu rumah tangga. Tapi, karena hal itu juga Naruto sangat menyayangi pamannya yang merupakan sepupu sang ayah.

"Yah...paman Iruka nggak asyik! Naru kan pengennya makan lima porsi ramen miso. Kalau Naru banyak makan, artinya Naru bisa cepat sembuh kan?"

"Argumen konyol macam apa itu?"

Masuklah seorang wanita berambut pirang panjang yang dikuncir menjadi dua bagian. Perawakannya sekilas seperti seorang wanita dewasa umur 30-an. Tapi, jangan salah. Walaupun begitu, dia sebenarnya sudah berumur 65 tahun! Wauu...

"Ramen itu tidak cocok untuk orang yang sedang sakit! Makan lima porsi ramen, itu artinya kau akan menghabiskan waktu disini selama 5 hari lagi! Bagaimana?" Wanita itu nampak menyeramkan kalau sedang marah. Yah wajar saja! Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Naruto yang sudah dianggapnya sebagai cucunya sendiri.

Naruto nampak kesal. Ia pun menggembungkan pipinya. "Tsunade baachan nggak asyik!"

"Apa kau bilang bocah? Berarti kau akan tinggal disini se-la-ma-nya!" Kata Tsunade sambil menekankan kata terakhirnya. Otomatis Naruto yang tadinya merasa kesal, langsung bereaksi selembut mungkin.

"Ahhh...Tsunade baachan yang cantik nan sexi, Naru akan nurut kok sekarang!" Naruto pun segera mengambil semangkuk bubur yang digenggam oleh Iruka dan memakannya dengan setengah hati. Tsunade yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala saja. Sedangkan Iruka nampak sedang membantu Naruto yang terkadang sulit untuk memakan buburnya.

"Haahh...Ada-ada saja."

Setelah melalui perjuangan yang begitu sulit (bagi Naruto), akhirnya bubur itu habis juga.

"Nah, setelah ini minum obatmu. Lalu kau bisa istirahat lagi." Ujar Tsunade sembari meninggalkan ruangan Naruto.

Iruka kini nampak sibuk menyiapkan berbagai macam obat yang akan diminum oleh Naruto. Sedangkan orangnya sendiri hanya diam menunggu diranjangnya.

"Paman, setelah ini Naru akan bersantai lagi di taman. Bolehkan?" Tanya Naruto lirih.

Iruka memandang Naruto dengan senyum tulus terkembang diwajahnya. "Tentu saja, Naru-chan."

"Arigatou."

**Aurora**

Sasuke nampak terlihat gusar di dalam mobilnya. Pandangannya terus menerawang ke arah taman rumah sakit yang tampak kosong. Berkali-kali ia memukul setir mobilnya sendiri karena apa yang diharapkannya belum juga muncul.

"Dimana kau, Dobe?"

Jelas Sasuke sekarang sedang menunggu si Dobe alias gadis pirang yang kemarin ia temui. Gadis yang ia hancurkan hidupnya. Dan maksud Sasuke kemari hanya ingin menemani Naruto yang terlihat begitu rapuh dalam penglihatannya.

"Akhirnya..."

Dari kaca depan mobilnya, Sasuke bisa melihat dengan cukup jelas. Naruto kini sedang menuju ke taman sambil diantar oleh seorang pria berambut coklat yang mendorong kursi rodanya. Sasuke hanya diam mengamatinya. Karena ia tidak ingin diketahui oleh siapapun, jadi dia hanya menunggu di mobilnya sampai pria itu pergi.

Sasuke's POV

Sial! Aku paling benci saat seperti ini. Menunggu adalah hal yang paling ku benci! Kalau bukan karena si Dobe, aku tidak akan melakukan hal konyol seperti ini. Cih, memalukan harga diriku saja!

Aku lihat dia sedang berbicara dengan pria berambut coklat itu. Entah siapa dia, aku tidak ada urusan dengannya. Setelah beberapa menit yang menyiksa, akhirnya pria itu pergi juga. Inilah saatnya aku menemuinya. Menemui Naruto sebagai seorang Harashi Sasuke. Bukan Uchiha Sasuke!

End of Sasuke's POV

Sasuke kini sudah turun dari Ferrari hitamnya. Langkahnya begitu tenang saat menyusuri jalanan yang akan membawa ia ke tempat dimana Dobenya sudah menunggu. Tak lupa, Sasuke juga sudah mengenakan topi hitamnya demi menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya.

Naruto sudah nampak dengan jelas dalam pandangannya. Namun ada suatu kejanggalan yang ia rasakan saat telinganya mulai menangkap suara alunan melodi yang begitu indah dan merdu dari arah si blonde. Begitu jaraknya dan Naruto sudah sangat dekat, Sasuke bisa melihat bahwa saat ini Naruto sedang memainkan biolanya dengan penuh penghayatan. Kelopak matanya terpejam, menyembunyikan mata sebiru langitnya.

'Dobe...'

Sasuke hanya bisa terpaku ditempatnya, masih setia berada dibelakang Naruto. Kemudian ia melangkahnya kakinya ke arah Naruto namun berusaha agar sepelan mungkin.

'Dia tidak menyadariku?'

Naruto mungkin terlalu fokus pada permainan biolanya hingga tak menyadari keberadaan Sasuke yang kini sudah berdiri disampingnya. Memandang dirinya dengan tatapan yang tak terdefinisikan.

'Naruto...'

Sasuke ingin sekali menyentuh gadis pirang itu, membelainya dalam sebuah kehangatan. Perlahan, ia mulai mengulurkan jemari tangannya ke pundak Naruto. Pelan dan sangat pasti. Sasuke ingin merasakan juga apa yang dirasakan oleh sang gadis, ia hanya ingin meringankan sedikit bebannya.

Tangannya kini sudah hampir menyentuh pundak sang gadis. Seiring dengan itu, permainan biolanya pun semakin terasa menghanyutkan. Begitu lirih dan penuh emosi. Hingga akhirnya..

Tes...tes...tes...

Kelopak mata itu mengeluarkan bulir kristalnya. Naruto ternyata menangis dalam diam.

Sasuke kini mulai meragu. Tangannya yang sempat terulur pun ia tarik kembali.

Hembusan angin yang segar menerbangkan beberapa kelopak bunga sakura. Dan kedua pasang manusia itu masih setia dalam kebisuannya. Menunggu alunan melodi itu berakhir.

"Sasuke..."

Si pemilik nama itu terkejut. Naruto menyebut namanya dengan lirih. Hati Sasuke kembali bergemuruh dalam badai kebimbangan. Ia sudah tak tahan lagi menahan perasaannya yang sudah bergejolak.

"Aku disini," ujar Sasuke lembut. "datang untukmu."

Naruto menghentikan permainan biolanya. Ia pun tersenyum ketika mendengar suara berat dari orang yang ia harapkan kehadirannya.

"Kau lama sekali teme," gumam Naruto. "Kukira kau tak akan pernah menemuiku lagi."

Sasuke tersenyum tipis mendengarnya. "Aku pasti datang sesuai janjiku."

Naruto kemudian memangku biolanya. Tangannya kini mulai bergerak untuk menghapus jejak air mata yang masih menempel diwajahnya. "Maaf, penampilanku sangat kacau sekali."

"Hn. Tak masalah, dobe." Sasuke terlihat memejamkan matanya. "Terkadang kita memang perlu menangis sebagai salah satu bentuk pelampiasan."

"Iya, kau benar." Sahut Naruto membenarkan pernyataan Sasuke. "Saat aku sendiri, hanya bayangan kelam itu saja yang terus berputar dikepalaku. Membuatku terus ingin menangisinya."

"..."

"Aku benci mereka! Aku sangat membenci keluarga Uchiha!" Mata biru Naruto kini berkilat kemerahan. "Akan kuhancurkan mereka dengan caraku sendiri!"

Tangan mungilnya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mata seindah samudranya kini berubah menjadi lebih tajam. Pandangannya begitu menusuk dan pehuh dengan dendam yang membara kuat.

Sasuke tercekat mendengarnya. Mata onyxnya tak dapat lagi menyembunyikan keterkejutkannya. Badannya bergetar hebat. Ia begitu sakit saat melihat tatapan menusuk Naruto. Tatapan itu ternyata sudah sanggup menembus hatinya.

"Apa tak ada maaf lagi untuk mereka?" Tanya Sasuke dengan nada yang serendah mungkin.

Naruto tersenyum meyakinkan. "Tidak! Kesalahan mereka tak akan pernah terhapus oleh pernyataan maafku! Selamanya, rasa sakit ini akan semakin bertambah kuat dan perlahan akan berubah menjadi rantai kebencian yang mengikat dendamku. Kali ini, biarkan rasa sakitku terpuaskan dengan penderitaan mereka..."

Hening.

Hawa disekitar mereka perlahan menjadi dingin. Dan Sasuke membeku didalamnya.

'Tak ada maaf untukku'

Sasuke merasa Tuhan terlalu senang mempermainkan hidupnya. Apa yang mesti ia lakukan saat ini? Berlari pun rasanya kakinya tak bisa bergerak lagi. Hidupnya sudah terikat oleh dendam Naruto. Uchiha yang harus menderita hanyalah ia seorang.

"Apa yang kau inginkan dari Uchiha?"

Naruto menyeringai tajam.

"Kematian mereka!"

Sasuke merasa kepalanya ditimpa oleh beban yang berat.

"Uchiha telah merebut paksa nyawa kedua orang tuaku. Inilah saatnya mereka membayar semuanya!"

Deru nafas Sasuke semakin memburu.

"Harapan terbesarku..."

Sasuke mulai tak bisa mempertahankan keseimbangannya.

"Semoga malaikat maut menjemput mereka!"

BRUK..

Sasuke ambruk ke tanah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat ketika rasa sakit dikepalanya semakin menjadi-jadi. Tangan kanannya pun kini sedang sibuk membekap mulutnya.

"Kau kenapa, teme? Sepertinya kau tersedak." Tanya Naruto khawatir.

Sasuke tak tahu harus menjawab apa. Kesadarannya perlahan-lahan mulai menipis. Sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya, buru-buru Sasuke meninggalkan Naruto sambil terus berusaha menguatkan matanya yang mulai terasa berat.

'Maaf Naruto'

Sedangkan Naruto sendiri hanya bisa diam dikursi rodanya tanpa mampu mengejar Sasuke yang entah kenapa tiba-tiba meninggalkannya begitu saja.

"Apa aku keterlaluan?"

...

"Mungkin tidak."

Naruto terkejut saat suara khas seorang pemuda berambut hitam menyapa gendang telinganya. Pemuda itu kemudian berjalan menghampiri sosok Naruto yang berada tak jauh darinya.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Naruto hampir tidak terdengar.

"Dia memang harus tahu diri. Kau tak usah merasa bersalah seperti itu, Naruto." Pemuda itu perlahan mengacak rambut pirang Naruto dengan lembut sambil tersenyum tipis.

Naruto sangat nyaman diperlakukan seperti ini oleh pemuda tersebut.

"Jadi bagaimana keadaanmu sekarang, Namikaze Naruto? Sepertinya tidak lama lagi kau akan bebas dari tempat ini."

Naruto tampak menahan emosinya. Tatapannya kini berubah menjadi dingin.

"Jangan pernah memanggilku dengan nama itu lagi! Nama itu sekarang sudah mati! Menghilang bersama kedua orang tuaku."

Pemuda bermata sekelam malam itu nampak sedikit terkejut. Tapi, perlahan bibirnya tertarik hingga menampakkan sebuah seringaian yang mengerikan.

"Kau benar, Naruto. Namikaze memang sudah lenyap. Dan sekarang hanya ada Uzumaki yang akan membalaskan kematiannya!"

Naruto menyeringai tajam.

Langit di atas sana seakan menjawabnya. Gumpalan awan hitam kini mulai menggulung menutupi langit biru yang cerah. Seperti hati Naruto yang tertutupi oleh kebenciannya.

Memperlihatkan sosok Uzumaki Naruto yang sebenarnya.

**Aurora**

"Shit!"

Sasuke kini tengah berjuang melawan rasa sakitnya. Langkah kakinya benar-benar tidak teratur lagi. Dengan sisa-sisa energi yang dimilikinya, Sasuke akhirnya bisa sampai di mobilnya. Walaupun demikian, ia tak akan bisa mengemudi dengan keadaan seperti itu. Jadi, Sasuke terpaksa berperang dengan penyakitnya sendirian didalam mobilnya.

"ARGHHH..."

Entah sudah yang keberapa kalinya ia berteriak dan mengerang kesakitan seperti itu. Dengan tenaga yang semakin melemah, akhirnya Sasuke hanya bisa pasrah. Perlahan kesadarannya mulai menipis dan semuanya kemudian menjadi gelap bagi Sasuke.

Erangan kesakitan itupun berhenti.

Perlahan, tangan yang membekap mulutnya mulai terjatuh. Memperlihatkan cairan kental berwarna merah yang sangat kentara disana.

**Aurora**

Keesokan harinya, keadaan Sasuke sudah mulai membaik berkat perawatan dokter pribadinya, Hatake Kakashi. Dan kini ia sedang berada di rumah sakit, lebih tepatnya berada di taman tempat ia biasanya menemui Naruto. Walaupun Sasuke sudah mendengar seluruh luapan kebencian Naruto pada keluarganya, ia tetap tak pernah bisa lepas dari bayang gadis berambut pirang cerah itu. Entah kenapa dirinya tak pernah bisa berhenti memikirkan gadis yang ia panggil dengan sebutan Dobe tersebut.

Seperti biasa, Sasuke sudah mengenakan seluruh kelengkapan penyamarannya yang terdiri dari sebuah topi berwarna hitam, dan jaket kulit berwarna senada. Ia kini mulai duduk gelisah dibangku taman yang berada tak jauh dari tempat Naruto biasanya menghabiskan waktunya. Menunggu bukanlah kebiasaan seorang Uchiha!

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya yang dinanti pun datang juga. Seperti hari sebelumnya, Naruto selalu diantar oleh pria berambut coklat dengan luka melintang di hidungnya tersebut. Tapi ia tak mau ambil pusing! Setelah pria itu pergi, Sasuke kini mulai mendekati Naruto yang sedang menikmati angin senja.

"Sasuke, kaukah itu?" Tanya Naruto penuh harap.

Sasuke tersenyum tipis. "Hn. Ini aku, dobe."

Matahari di ufuk barat sudah mulai menghilang dari cakrawala. Saat ini langit begitu indah dengan rona merah yang berpendar dalam temaram malam. Bintang-bintang mulai bermunculan di atas langit. Berkelap-kerlip bagai serpihan kristal yang memukau.

"Pasti sekarang bintang-bintang sudah mulai bermunculan kan, teme? Andai saja aku bisa melihatnya. Menikmati indahnya suasana taman ini dibawah siraman cahaya bulan dan bintang." Ujar Naruto sambil menerawang ke depan. Sayang sekali, mata seindah batu safir itu hanya bisa melihat satu warna saja. Hitam. Seluruh dunianya begitu gelap dan pekat. Naruto sangat merindukan saat ia menghabiskan waktunya dengan memandangi langit malam yang penuh dengan bintang di balkon kamarnya. Saat-saat yang sangat berarti dalam hidupnya.

"Hn." Sahut Sasuke singkat. Dari langit, kini mata onyxnya memandangi wajah manis Naruto yang terlihat berkilauan dibawah sinar sang rembulan. Tanpa ia sadari, tangannya kini sudah menggenggam jemari Naruto yang halus. Tangan yang begitu terasa hangat dan nyaman. Sasuke terkejut saat Naruto menggenggam balik tangannya. Membuatnya merasa lebih hangat lagi walaupun malam ini udara yang berhembus begitu dingin. Di bawah sinar rembulan dan jutaan bintang, mereka berusaha menyelami perasaan masing-masing. Saling menguatkan perasaan dalam sebuah genggaman yang hangat. Berbagi rasa yang tak pernah terungkapkan.

"Sasuke."

"Hn?"

"Bolehkah aku menyentuh wajahmu?"

Sasuke nampak ragu untuk beberapa saat. Namun keraguannya segera sirna saat melihat tatapan Naruto yang seolah memohon padanya.

"Baiklah."

Sasuke mulai mensejajarkan dirinya dengan Naruto yang sedang duduk dikursi rodanya. Ia gunakan kedua lututnya sebagai tumpuan. Perlahan namun pasti, jemari lentik Naruto mulai menelusuri setiap lekuk wajah dari orang yang selama ini memenuhi pikirannya. Berusaha menggambarkan wajahnya dalam ingatannya. Kini kedua tangan itu mulai membingkai wajah Sasuke. Mereka secara tak langsung saling bertatapan walaupun hanya Sasuke saja yang bisa merasakannya.

Di bawah lindungan sang rembulan mereka bisa saling memahami.

Saling menyelami keindahan Onyx dan safir dalam sebuah tautan.

Perlahan jarak diantara mereka mulai menipis. Dengan genggaman yang erat, Sasuke mulai menautkan kedua jemarinya di jemari Naruto. Sebuah ciuman yang lembut tercipta diantara mereka. Saling berbagi kehangatan sejati dalam sebuah ikatan yang murni. Hanya beberapa detik saja ciuman itu berakhir. Menyisakan rona merah dikedua pasang pipi mereka.

"Maaf. Aku terlalu terbawa suasana," gumam Sasuke sambil memalingkan wajahnya yang terlihat sedikit bersemu merah. Sedangkan Naruto hanya menunduk kebawah, berusaha untuk menyembunyikan warna merah dipipinya.

"Aku juga minta maaf. Seharusnya kita bisa menahan diri." Ujar Naruto lirih.

...

Hening.

Langit kini semakin bertambah ramai dengan gugusan bintang-bintang yang membentuk sebuah konstelasi yang indah. Sasuke memandangnya penuh arti. Sebuah pemikiran kini terbayang dibenaknya.

"Naruto,"

"Iya?"

Sasuke memantapkan hatinya. "Izinkan aku menjadi mata kedua untukmu. Yang akan selalu melihat apa yang ingin kau lihat. Biarlah Onyx ini menjadi onyxmu juga."

Naruto diam untuk mencerna setiap patah kata yang Sasuke ucapkan padanya. Ia paham apa arti dan maksud pemuda itu. Hanya saja perasaannyalah yang kini mulai terjebak dalam kebimbangan. Hatinya mulai ragu. Bukan! Bukan keraguan ini yang ia butuhkan saat ini.

"Jika kau mau, aku bisa menjadi pengganti Uchiha yang kau maksud. Kalau kau kesal, makilah aku sesuka hatimu. Bila kau marah, pukul saja aku sampai mati sekalipun. Bagiku tak masalah. Asalkan kau senang, akupun juga akan begitu."

Naruto semakin bertambah bimbang. Tapi saat sebuah pelukan hangat mendekapnya erat, segala kebimbangannya perlahan mulai sirna. Tangannya yang tergantung bebas, kini mulai membalas pelukan tersebut. Sebuah jawaban dalam bentuk isyarat no-verbal yang mudah untuk dimengerti keduanya.

'Aku tak akan pernah bisa membencimu, Sasuke. Walaupun aku sangat ingin sekali...'

**Aurora**

Sepasang mata onyx yang lain di tempat yang sama terlihat menatap nyalang sekitarnya.

"Kau benar-benar tak tahu diri, Uchiha Sasuke!"

**Aurora**

Tbc...

A/N: Fiuuhh...akhirnya update juga! Terimakasih buat para readers dan senpai yang sudah sempat mereview fic gaje saya.

kanon1010: Salam kenal juga senpai...

Itazurayuuki: Sankyuu buat masukannya senpai. Galau...? Kayaknya sih gitu. Hehehe...Kalau soal Sasu sakit apa, itu emang sengaja saya rahasiakan walaupun kayaknya udah bisa ketebak.

Superol: Sankyuu senpai...sakitnya sasu masih misterius tuh. (dibacok)

CCloveRuki: Iya tuh senpai. Sasu emang jahat! (dichidori)

Misyel: Ini dia lanjutannya senpai. Semoga berkenan.

Dae Uchiha: My imouto...sankyuu atas kritik dan sarannya.

Arigatou...^_^

Aduh, kayaknya ni fic bakalan panjang jadinya. Saya yang buat aja bingung mau dibawa kemana alur ceritanya. (readers: gak konsisten loe!)

Ada yang bisa menebak siapa sebenarnya pemuda misterius berambut hitam itu?

Review please...