Summary: "Aku memang tak pernah berharap sebelumnya. Tapi..." suara baritone itu terdengar semakin lirih. "Kalau aku berharap sekarang, apa Tuhan mau mendengarkanku?"


Disclaimer: Masashi Kishimoto

AURORA: Hope Never Dies

By: Black Capxa

Genre: Romance & Tragedy

Rated: T

Pairing: Sasu x FemNaru

Warning: AU, Gender-bender, Typo(s). Saya author baru disini jadi mohon kritik, review dan sarannya. Jika ada kesalahan dalam fic gaje ini, mohon maaf sebesar-besarnya. Maklum, ini baru yang pertama kalinya. Hehehehehee...

Dan yang paling penting, DON'T LIKE DON'T READ!


.

.

Chapter 3: Gray for my confussion.

.

.

.

*Konoha International Hospital at 08.30 AM

Di sebuah ruangan yang didominasi oleh warna putih dengan bau obat-obatan yang menyengat, terlihatlah seorang gadis berambut pirang cerah yang tengah duduk tenang di kursi rodanya sambil menerawang ke depan menghadap ke arah jendela ruangannya yang terbuka lebar. Ia tak tahu pasti apa yang sedang ia pandang karena memang sudah tidak bisa lagi. Ia tak bisa melihat pemandangan kota Konoha di pagi hari yang cerah, tak bisa memandang hiruk pikuk jalanan yang pastinya dipadati oleh kendaraan, dan...

'Tak bisa menatap wajah Sasuke.'

Naruto sadar bahwa ia terlalu sering memikirkan pemuda yang sejatinya adalah salah satu anggota dari keluarga Uchiha yang sangat ingin ia benci. Sangat...! Bahkan, seandainya ia tak memiliki perasaan terlarang ini, tentu pemuda itu sudah menjadi korban dari pembalasan dendamnya.

Tunggu dulu...

Perasaan terlarang?

...

"Aku salah." Naruto memejamkan matanya sesaat. "Aku mengkhianati dendamku sendiri."

Hening.

"Mengkhianati perasaanku."

...

"Menyukai pemuda yang harusnya kubenci."

Naruto memang pantas mengatakan itu sebagai perasaan yang terlarang. Bagaimana pun juga, Sasuke adalah bagian dari keluarga Uchiha. Klan yang telah memusnahkan keluarganya, kedua orang tuanya, dan yang membuat ia buta dan lumpuh. Bisakah seseorang bertahan untuk tidak membenci mereka yang telah merenggut semuanya?

Dan bagi Naruto, jawabannya hanya satu.

TIDAK!

Naruto memang tak secepat itu memaafkan kesalahan seseorang yang terlampau sangat besar. Tapi, semuanya menjadi berbanding terbalik sekarang. Ia justru menyukai Sasuke! Sejak pertama kali mereka bertemu, Naruto mulai sering memikirkan pemuda itu. Tapi, saat itu ia belum tahu kenyataan yang sebenarnya. Belum sadar bahwa orang yang menjadi teman dekatnya kini adalah seorang Uchiha.

Dan kenapa sesudah ia terlanjur menyukainya, justru kenyataan itu baru ia ketahui?

"Dia terlambat memberitahuku."

Flashback

Naruto saat itu sedang berbaring di ranjangnya. Bukan tidur. Ia hanya tengah memikirkan seseorang. Pemuda yang baru saja ia temui.

Kriett.

"Naruto, apa aku mengganggumu?"

Gadis pirang itu buru-buru membenahi posisinya.

"Oh, masuk saja. Aku sedang santai kok."

Setelah mendapatkan izin, masuklah seorang pemuda berambut hitam dengan mata onyx yang berkilau bagai batu obsidian. Perawakannya tinggi dan bertubuh atletis. Kulit putih susunya dibalut oleh kemeja hitam yang digulung di bagian lengannya. Ia memakai celana jins berwarna senada dengan kemejanya. Parasnya sangat tampan dan kharismanya begitu kuat. Benar-benar sosok yang sempurna.

"Bagaimana keadaanmu, Naruto?" tanya pemuda itu sambil tersenyum tipis pada sosok pirang yang ada di hadapannya.

"Aku baik-baik saja."

"Haahh...syukurlah."

Pemuda itu memang sangat peduli dengan keadaan Naruto. Ia hanya ingin melindungi seseorang yang sudah menjadi bagian dari hatinya. Sangat menyayanginya sebagai sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

"Oh iya Naruto," pemuda itu kini menampakkan raut wajah yang serius. "Ada yang ingin kusampaikan padamu."

Naruto mengernyit heran. "Tentang apa?"

Pemuda itu kini berbalik dan membelakangi gadis tersebut. "Tentang seseorang yang baru saja kau temui."

"Memangnya kenapa?"

Pemuda itu lalu melangkahkan kakinya menghadap ke jendela. "Dia pendusta!"

Hening sesaat.

"Jangan bercanda! Dia sangat baik padaku, kok..."

Pemuda itu kini menampakkan raut wajah yang dingin. Tatapannya pun perlahan berubah semakin tajam. "Seingatku, hanya ada satu Sasuke di kota ini. Dan dia bukan Harashi Sasuke!"

Naruto semakin bertambah bingung dengan arah pembicaraan ini. "Maksudmu?"

...

"Dia bohong, Naruto! Karena sesungguhnya ia adalah seorang Uchiha Sasuke."

DEG

Naruto bergetar saat nama itu disebutkan kembali. Uchiha! Tapi, kenapa nama terkutuk itu harus digabungkan dengan nama Sasuke? Tidak! Ini semua pasti bohong!

"Bohong! Dia bilang marganya Harashi, bukan Uchiha! Katakan kalau ini semua hanyalah lelucon!" Bahu Naruto bergetar hebat seakan ingin menangis saat itu juga.

"Aku tidak akan pernah mengatakan ini sebuah lelucon. Karena memang dia seorang Uchiha. Sebagai pemilik perusahaan Amateringan Corp, tentu wajah dan nama itu sudah tidak asing lagi di hidupku. Kami sama-sama seorang pebisnis! Dan dia adalah saingan terberat perusahaanku. Sasuke adalah pewaris dari Uchiha Group!"

Naruto tak bisa membalas lagi.

"Aku hanya ingin mengatakan hal ini padamu karena sepertinya Uchiha itu ingin memanfaatkan ketidaktahuanmu dan mungkin sedang merencanakan sesuatu."

Naruto masih diam.

"Berdusta bukanlah adat seorang Uchiha. Kecuali..."

Kali ini Naruto berusaha menutup telinganya rapat-rapat.

"Dia sedang menginginkan sesuatu! Dan apapun yang menjadi keinginannya haruslah terpenuhi! Entah dengan cara yang benar, atau licik sekalipun."

Tangan kecoklatan milik Naruto perlahan semakin terkepal erat. Rahangnya mulai mengeras. Kedua alisnya pun semakin tertekuk ke dalam. Ia benar-benar sedang dalam keadaan yang labil saat ini.

Pemuda itu kemudian berbalik untuk mendapati raut wajah Naruto yang sedang menahan kemarahan. Sebuah seringaian pun terbentuk di bibirnya.

"Tahan dulu emosimu, Naru. Kalau kau ingin membuktikan ucapanku tadi, coba saja uji dia! Jika ia menemuimu lagi, katakan apa yang kau rasakan saat ini! Luapkan semua kebencianmu tentang keluarga Uchiha padanya. Dan jika dia bereaksi, maka apa yang kukatakan tadi sudah merupakan kebenaran yang mutlak, kan?"

Naruto tak segera menjawabnya.

Beberapa menit kemudian, suasana menjadi hening. Hanya ada suara denting jam dinding disana. Tapi, sesaat setelah itu...

"Terimakasih atas informasinya, nii-san. Sangat membantuku sekali..."

"Sama-sama, imouto."

End of flashback.

"Arghh...Kami-sama, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku membencinya atau..."

Suaranya perlahan semakin merendah.

"...tetap menyukainya?"

Hening.

Tak ada yang mampu menjawab. Hanya semilir anginlah yang kembali menenangkannya. Membelai lembut rambut pirang panjangnya yang tergerai bebas.

Tanpa Naruto sadari, seseorang di luar sana telah memberikan jawabannya.

"Berusahalah membencinya, Naru! Dia tak pantas untukmu!"

Pemuda itupun kemudian melenggang pergi dari depan pintu ruangan rawat Naruto. Mata sekelam malamnya pun kini berkilat penuh amarah.

"Kau bodoh jika ingin menguji kesabaranku, Sasuke!"

**Aurora**

*Mansion Uchiha at 02.45 PM

"Maaf. Tapi, keadaan anda semakin memburuk, Sasuke-sama."

Kakashi baru saja selesai mengecek keadaan tuannya yang tiba-tiba saja drop tadi pagi ketika pemuda itu hendak berangkat ke perusahaannya. Menurut analisis Kakashi, sepertinya tuannya ini tidak tidur semalaman. Terlihat jelas dari kantung matanya yang sedikit menghitam dan wajahnya yang kian memucat.

"Sepertinya anda kurang tidur, Sasuke-sama," Kakashi berusaha agar tak menyinggung tuannya. "Sebenarnya apa yang anda pikirkan?"

Sasuke tak langsung menjawabnya. Ia mulai mengingat, apa saja yang ia lakukan semalaman hingga akhirnya ia tidak bisa tidur dan harus berakhir menyedihkan seperti ini.

Ah...Sasuke tak akan pernah melupakan hal itu. Pertemuan antara dirinya dengan gadis blonde itu di bawah siraman cahaya rembulan dan bintang. Pertemuan singkat yang berakhir dengan sebuah kecupan yang lembut dan pelukan yang hangat. Bagaimana ia bisa melupakan hal itu, kalau setelahnya ia tak bisa melepaskan pikirannya dari Naruto? Salahkan saja jantungnya yang terus tak berhenti berdebar-debar di sepanjang malam. Salahkan saja bibirnya yang terus menyunggingkan senyum saat itu. Salahkan saja otaknya yang tak bisa sejalan dengan hatinya. Oh, Sasuke...ternyata si stoic ini masih bisa merasakan yang namanya 'jatuh cinta' rupanya. (*dichidori ayam).

"...ma..Sasuke-sama...Anda baik-baik saja, kan?" seru Kakashi panik sambil mengibaskan tangan kanannya di depan wajah tampan Sasuke.

"Hn." balas Sasuke singkat.

Kedua orang itu pun kembali diam untuk beberapa saat. Sasuke kini tengah terbaring lesu di ranjang kamarnya. Sementara Kakashi kini sedang sibuk menyiapkan obat yang harus di minum oleh tuannya.

"Kakashi," panggil Sasuke pada dokter pribadinya sejak kecil. "Berapa lama lagi?"

Kakashi nampak bingung dengan pertanyaan tuannya. "Maksud anda?"

"Berapa lama lagi waktuku di dunia ini?"

Sebuah pertanyaan yang sukses membungkam Kakashi untuk beberapa detik berikutnya.

"Maaf..." Kakashi tak sanggup menatap mata onyx itu. "Anda hanya punya waktu 1 bulan saja terhitung dari sekarang."

Hening.

Seberapa tegar dan kerasnya Sasuke, ia tetap goyah saat mendengar kenyataan itu. Padahal sebelumnya, ia tak pernah peduli dengan umurnya yang tinggal menghitung hari saja. Entah kenapa, ada suatu perasaan yang sangat aneh tengah bergejolak di dalam dirinya. Rasanya...sakit dan perih! Mungkinkah ini karena perasaan mendalamnya terhadap Naruto? Hingga ia menolak untuk pergi, padahal sebelumnya ia tersenyum menantang hadirnya maut.

"Hn."

Ia sudah kehabisan kata untuk diucapkan lagi. Dalam hatinya, Sasuke merasakan bahwa batinnya tengah menangis sedih. Bayang wajah Naruto terus menggelayut di pikirannya. Hingga perasaan yang membuncah di dadanya semakin bertambah sakit. Amat sakit! Membuat tangan kanannya bergerak sendiri untuk mencengkram bagian dimana hatinya tersimpan.

"Sasuke-sama..." lirih Kakashi saat kedua matanya melihat dengan jelas keadaan tuannya yang sangat terpuruk. Baru pertama kali baginya melihat tatapan sayu Sasuke setelah sekian tahun lamanya.

...

"Kakashi..." suara Sasuke terdengar begitu rendah. "Apa aku pantas untuk berharap?"

Pertanyaan sederhana namun menyakitkan tersebut membuat pria berambut silver itu termangu sesaat. Mengapa Sasuke bertanya seperti itu? Setiap manusia tentu berhak untuk sekedar berharap!

"Aku memang tak pernah berharap sebelumnya. Tapi..." suara baritone itu terdengar semakin lirih. "Kalau aku berharap sekarang, apa Tuhan mau mendengarkanku?"

"..."

"Heh, kurasa Tuhan tidak akan sudi mendengarnya."

"Tentu saja, tuan!" sela Kakashi. "Semua orang berhak dan pantas untuk berharap! Tuhan pasti akan mendengarkan setiap keluh kesah umatnya. Dan usaha kita juga yang akan menentukan terkabul atau tidaknya suatu harapan. Jadi, kalau Sasuke-sama ingin meminta umur yang lebih panjang lagi, tuan juga harus berusaha untuk bertahan hidup!"

Sasuke sedikit tercengang mendengarnya walaupun wajahnya tetap dingin seperti biasanya. Kalimat beruntun Kakashi seperti sebuah penyemangat hidup baginya. Ya, tak ada salahnya kita berharap. Tuhan pasti akan mendengarkannya.

"Hn. Arigatou Kakashi."

Pria berjas putih itu nampak tersenyum tulus. "Sama-sama, tuan."

Setelah itu, Kakashi pun pergi dari hadapan Sasuke setelah meminta izin sebelumnya. Kini, tinggallah dia di kamar yang didominasi oleh warna biru gelap itu sendirian. Menatap hampa sekitarnya tanpa terkecuali. Sesaat kemudian, ia mendongak menatap langit-langit kamarnya. Dengan tangan yang masih mencengkram erat dadanya.

"Tuhan...untuk yang pertama kalinya aku berharap padamu."

...

"Aku mohon."

...

"Beri aku sedikit waktu lebih banyak lagi untuk menebus segalanya."

...

"Dan jangan biarkan harapanku mati..."

Hari inilah untuk yang pertama kalinya, seorang Uchiha Sasuke berharap pada Tuhannya. Memohon penguluran waktu bagi hidupnya. Waktu yang sangat berharga untuk ia berikan pada sosok gadis pirang bermata biru yang telah menderita karenanya.

"Aku lelah..."

Setelah mengumandangkan harapan pertamanya, Sasuke langsung ambruk di tempat tidurnya yang nyaman. Hanya bisa menunggu dalam tidur lelapnya.

Sasuke mungkin tidak tahu.

Tuhan telah mendengar harapannya.

Suara gemuruh di luar menjadi bukti akan sebuah harapan yang terkabul.

**Aurora**

Tbc...


A/N: Hai minna-san...maaf kalau chap ini nggak terlalu panjang. Habisnya saya bingung mau buat apa. (readers: Huuu...!).

Jadi disini Naruto memang sudah tahu bahwa Sasuke adalah bagian dari keluarga Uchiha. Tapi, dia tidak tahu kalau Sasukelah yang menjadi dalang pembunuhan keluarganya. Dan untuk pemuda misterius itu, untuk sementara masih akan tetap dirahasiakan demi kelancaran ceritanya. (*dibantai). Hehehehe...gomen...tapi kyaknya udah ada yang bisa nebak dengan bener tuh...^_^ salut!

Naru-chan buta n lumpuh beneran kok...! (*dirasen)

Kalo sakitnya si sasu-teme sih saya masih bingung mau ngasi penyakit apa. (*ditendang ayam) Kalo saya kasih tau, ceritanya jadi nggak seru...hehe

Thanks for:

okarasdianto

okarasdianto

nii'aR-chi Lie Viathan

Black134

Misyel

Itazurayuuki

zaivenee

Dae Uchiha

CCloveRuki

kanon1010

Superol

Untuk para readers yang sudah sempat mereview fic ini, saya ucapkan terimakasih banyak..^_^

Review please...