Bunga Krisan, Simbol Cinta Kita Berdua
Summary: Kiku memikirkan seorang wanita sawo matang yang dulu pernah disakitinya. Lalu bencana melanda negara wanita itu... Dan Kiku tidak tinggal diam...
Chapter 2
11 Maret 2011
Gempa sebesar 8,9 magnitude melanda Tokyo dan daerah sekitarnya, disusul juga dengan pengunguman keadaan darurat di sebuah pabrik nuklir. 350 orang dinyatakan tewas dan masih 500 atau mungkin ribuan orang hilang. Banyak bangunan hancur atau sudah rata menjadi tanah. Banyak orang terpisah dari keluarganya dan orang tercintanya. Banyak anak kehilangan masa depannya. Raungan tangis dan amarah terdengar dimana-mana. Semuanya menjadi terasa berat dan langit menjadi terlihat kelam. Dunia seperti berhenti berputar dan diam.
Inikah yang dirasakan Indonesia saat gempa melanda Aceh?
Padahal hari itu dimulai dengan pagi yang cerah. Burung-burung berkicau, udara terasa sangat sejuk dan sarapannya terasa enak sekali. Bunga-bunga mulai bermekaran. Kalau dipikir, musim semi baru saja dimulai. Dunia terlihat indah sekali, kenapa kemudian semuanya menjadi hancur dalam seperkian detik?
Sakit...
Rasanya sakit sekali...
Tubuhku tak bisa bergerak saking sakitnya...
Inilah akibatnya kalau kita sebuah negara... Setiap masalah yang terjadi di satu negara, tubuh negara itu akan terluka...
Itulah yang terjadi padaku sekarang... Aku tak bisa merasakan tubuhku... Tidak bisa menggerakkan satu jaripun... Kepalaku terasa berat sekali... Aku tak bisa bernapas... Rasanya ada sesuatu yang mencengkramku... Sesuatu yang dingin...
Kematiankah?
Apakah aku akan mati?
Tak pernah terpikir olehku kalau aku akan mati. Tapi negara memang bisa mati, contohnya Kekaisaran Roma dan Germania... Kurasa hal yang sama bisa terjadi pada semua orang termasuk aku...
Seperti apa dunia setelah aku mati? Tidak ada yang tahu. Mungkin memang sudah hukum alam tidak boleh ada yang tahu... Karena itulah tidak ada yang tahu kebenaran tentang 'dunia sana'...
Apa reaksi negara lain kalau aku mati? Akankah mereka menangis? Italy-kun pasti akan menangis. Apa kakak China akan menangis? Apa Netherlands akan berduka untukku? Diriku langsung dipenuhi pertanyaan-pertanyaan.
Apakah...
Apakah Seruni-san akan menangis untukku?
Wajah cantiknya terbayang di pikiranku. Senyumnya, tawanya, ekspresi paniknya saat melihat ulat, dirinya yang sedang memasak, dirinya yang sedang meracik jamunya yang tidak enak itu. Tubuhku langsung merinding ketika memori diriku pertama meminum jamunya. Kalau England dicap koki paling tidak enak maka Indonesia paling hebat kalau membuat minuman tidak enak (Tapi teh dan kopinya lumayan enak). Aku ingin sekali makan soto ayam, bakso, kue serabi, pika Ambon buatan Indonesia satu kali lagi... Mungkin sekalian ikan bakar, gado-gado dan tahu... Aaaah... Sekarang aku jadi lapar sekali...
Padahal World Conference akan mulai minggu depan... Padahal aku hendak memberikan bunga krisan pada Indonesia disana... Padahal bunga krisannya sudah mau mekar...
Aku ingin bertmu dengannya sekali lagi...
Melihat senyum riangnya sekali lagi...
Tertawa bersamanya...
Aku masih ingin bersamanya... Bersama Kak China... Bersama Italy dan German... Bersama yang lain...
Aku sudah janji untuk makan pasta bersama Italy dan German...
Aku sudah janji untuk menemani Amerika jalan-jalan di Akihabara...
Aku sudah janji untuk minum teh dengan England...
Aku sudah janji untuk mengunjungi Kak China dan makan masakannya...
Aku masih ingin hidup...
Aku ingin hidup bersama semuanya...
Aku tak mau semuanya berakhir...
Aku ingin teman-temanku...
Aku ingin Seruni-san...
Aku ingin...
Yang sangat kuinginkan saat ini adalah...
Keluargaku...
Aku ingin bersama-sama semuanya...
"..."
...
"...n..."
?
"...kun..."
S-Siapa...
"...kun... Bangunlah..."
Suara ini...
"...KIKKUN!"
...Seruni-san?
Sesuatu yang hangat menyentuh dahiku dan kepalaku terangkat. Sesuatu yang harum dan empuk ditaruh dibawah kepalaku. Perasaan hangat yang familiar langsung menjalar diseluruh tubuhku. Bisikan yang lembut mencapai telingaku, menenangkan hatiku. Sesuatu yang basah mengenai pipiku. Sakit kepalaku hilang dan aku membuka mata...
Dalam sekejap dunia menjadi putih...
Indonesia menangis dan membelai pipiku sambil terisak. Matanya melebar saat melihatku bangun dan senyum lega menghias wajahnya. Pita putih dan merahnya terikat di kepangan kecil yang jatuh dipundaknya. Air matanya kembali mengenai pipiku, yang entah kenapa terasa mendinginkan luka-lukaku. Aku sadar kalau kepalaku ada di pangkuannya dan tangannya yang kecil menggengam erat tanganku. Aku balas menggengamnya dan tersenyum padanya.
"Seruni-san..." Perasaan hangat itu makin besar saat aku mengucapkan namanya. Tersadarlah diriku, apa arti perasaan ini. Bodohnya diriku, butuh berapa puluh tahun untukku menyadari perasaan ini. Perasaan yang sangat penting, tak tergantikan. Hanya kurasakan pada wanita didepanku ini.
"Kikkun... Syukurlah kau baik-baik saja... Aku khawatir sekali..."
"Seruni... Ada... Ada yang harus kukatakan pa-padamu..." Tanganku yang satunya memegang lembut pipinya. Kutatap lekat-lekat matanya yang bening. Jantungku berdetak semakin kencang. Tubuhku kembali hidup. Bibirku bergerak dan aku mengucapkan kata itu.
"Aishiteru"
Mata beningnya melebar dan semakin banyak air mata jatuh. Senyumku semakin lebar dan mataku melembut.
"Aku sudah lama mencintaimu... Sejak kali pertama kita bertemu... Sampai sekarang... Perasaan ini tidak berubah, hanya bertambah besar... Aku amat sangat menyukaimu... Cinta..."
Indonesia tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum dan menarikku ke pelukannya. Tetes demi tetes air mata mengenai rambutku.
"Aishiteru juga."
Mataku melebar dan aku hendak mengucapkan sesuatu ketika...
"JEEEEeeeeeeePaaaaaaaaang! Veeeeeeee!"
"Italy! Kenapa anak itu hanya cepat kalau kabur atau mengejar seseorang?"
"HAHAHAHA! HERO GAK AKAN KALAH!"
"AMERIKA BODOH! TANDUNYA JANGAN DISERET! KUKUTUK KAU NANTI!"
"JEPANG! Adikku tersayang! Baik-baik saja, ARU?"
"Akan kubuatkan Pot Au Feu andalanku. Dan akan kubuat dengan cinta~ Seindah mawar ini~"
"Semuanya heboh sekali~ Jepang baik-baik saja, Da?"
Mataku langsung melebar saat kulihat Axis, Allied Force dan negara-negara lainnya berlari kearah kami berdua. Semuanya entah menangis atau terlihat cemas kepadaku. Ketika mereka sampai ditempatku, mereka semua tersenyum.
"Jepang! Huwaaa! Kukira kau mati!"
"Kau baik-baik saja?"
"Jepang! Kau selalu saja membuatku cemas, aru!"
Rasa keharuan yang amat besar langsung melanda diriku. Seperti gempa yang tak bisa kucegah, air mataku mengalir deras. Semua orang langsung kaget dan langsung bertanya mana yang sakit. Aku hanya bisa menutup mata dan tersenyum. Indonesia tertawa kecil dan menyandarkan kepalaku di dadanya, menyisiri rambutku. Setelah mengeluarkan tawa kecil dengan susah payah, aku pun tertidur dalam pelukannya, dengan senyum bahagia di wajahku.
As you go through life you'll see
There is so much that we
Don't understand
Seluruh negara telah datang ke Jepang dan menolong penduduk setempat dan membangun pondok-pondok kecil sebagai tempat tinggal sementara. Setiap harinya, mereka membawa ke basecamp, korban terluka dan korban tewas. Setiap malam, kami akan duduk bersama dan makan bersama dengan France, China dan Indonesia sebagai koki. Setiap malam, Indonesia, Italy dan German akan duduk disebelahku sampai aku dan Italy tertidur.
And the only thing we know
Is things don't always go
The way we planned
Setiap pagi, Indonesia dan Sealand kecil akan mendorong kursi rodaku berkeliling dan berhenti untuk melihat bunga liar yang masih hidup, sekecil apa pun. Russia membawakanku setangkai bunga matahari setiap harinya dan menaruhnya di sebuat vas besar di pojok kamarku.
But you'll see everyday
That we'll never turn away
When it seems all your
dreams come undone
Ada berita kalau nuklirnya menyebar sampai negara lain sehingga ada negara yang sementara menolak ekspor dari Jepang. Yah, ketakutan mereka itu wajar. Tapi mereka tetap mengirimkan bantuan ke negaraku.
We will stand by your side
Filled with hope
and filled with pride
Indonesia nyaris tak pernah meninggalkanku. Dia selalu disisiku. Setiap hari dengan penuh perhatian dia mengganti perbanku dan mengobati luka-lukaku. Jawa sempat mengunjungiku, dengan membawa seribu origami burung bangau yang dibuatnya dengan saudara-saudaranya. Dia langsung tersenyum licik saat melihat Indonesia bersimpuh disebelahku, menyuapiku bubur. Ketika Indonesia kembali ke dapur, dia bertanya kepadaku dengan niat iseng.
"Kapan melamarnya?"
"Kalau aku sudah dapat restu dari semua saudara-saudaranya. Itu berarti aku harus menemui setiap saudara dan saudarinya."
Jawa langsung terdiam. Setelah beberapa detik, dia tersenyum kepadaku.
"Kak Jepang sudah mendapat restu dariku."
We are more than we are
WE ARE ONE
Setiap harinya, aku dan Indonesia semakin dekat dan dekat. Semakin lama cinta kami berdua semakin besar. Persahabatanku dengan negara lain juga semakin erat. Aku baru saja menyadarinya.
Dunia ini amat indah.
Semua orang adalah keluarga.
Kita semua adalah keluarga.
Dan aku amat bersyukur kalau aku ini...
Hidup
Hidup ini adalah berkah
Karena aku punya Indonesia, Kak China dan semuanya.
Karena aku tak pernah sendirian
To be continued...
Jujur, ini rekor buat saya. Terimakasih kepada Aiko no Nyo, BraveNina dan Lyxian Naomi Cotton yang telah review. Aku sudah edit chapter pertama. Lagu diatas adalah We Are One dari Lion King 2. Saya harap fic ini menyampaikan pesan bahwa kita semua bersaudara, kita semua keluarga, bahwa dunia ini indah. Kita tak pernah sendirian. Saya ga pinter ngomong tapi saya harap pesannya tersampaikan oleh fic ini.
Akhirnya Jepang menyatakan cintanya dan Indonesia menerima! Di chapter 3, Jepang minta restu saudara Indonesia seperti Malaysia dan...
Tunggu chapter berikutnya!
Please review!
