Bunga Krisan, Simbol Cinta Kita Berdua

Summary: Kiku memikirkan seorang wanita sawo matang yang dulu pernah disakitinya. Lalu bencana melanda negara wanita itu... Dan Kiku tidak tinggal diam...


Chapter 3

Papua

Harus kukatakan, sangat SULIT untuk mendapat restu dari saudara-saudari Indonesia yang ada di negaranya. Ada banyak faktor yang mempersulitku. Baik secara teknis dan praktik. Pertama, ada daerah yang susah sekali kucapai, seperti rumah Papua. Dari info yang kuterima dari Jawa atau Jakarta, Papua (Jayapura) memiliki banyak jurang dan rumahnya berada di tengah-tengah gunung dan hanya bisa dicapai oleh helikopter. Itu masalah teknisnya. Masalah praktiknya, dia adalah adik Indonesia yang paling LIAR dalam banyak arti. Dia jarang berpakaian, jarang mandi, suka bermain-main di hutan sampai malam, dan sangat hebat kalau urusan berburu. Jakarta menambahkan dia itu keras kepala.

Jadi disinilah aku berada sekarang, duduk didalam rumah tradisional Jayapura bersama adik-adik Jawa, Jawa Tengah (Semarang), Jawa Barat (Bandung), Jawa Timur (Surabaya), dan Banten (Serang). Jawa dan Yogya sebenarnya ingin ikut tapi Yogya harus mengurusi Sultan dan urusan Keraton sementara Jakarta sibuk membuat janji temu antara aku dan adik Indonesia di pulau lain. Bagaimana aku bisa ditemani oleh adik-adik Jawa? Anggap saja ketika aku datang ke pulau Jawa (tanpa sepengetahuan Seruni tentunya), aku disambut oleh Jakarta dengan adik-adiknya yanga satu pulau dan aku 'mengobrol' dengan mereka. 3 jam kemudian aku keluar dari ruang tamu Jakarta dengan restu semua anak-anak itu dan kecapekan yang luar biasa.

Oh ya, Jayapura. Anak itu baru kembali dari berburu dan meletakkan seekor babi hutan besar di lantai/tanah. "Jayapura sudah tangkap makan malam! Ini cukup untuk semua ya?" Dia tersenyum lebar, membuatku merasa makin bersalah.

"Eh... Jayapura-kun... Saya tak akan lama kok disini... Dan kalau bisa, saya dan lainnya lebih suka makan yang lain selain daging. Buah misalnya?" Jawa Bersaudara langsung mengiyakan.

"Tidak ada." Jawabnya pendek.

"...Eh... Kalau begitu, saya akan coba jadikan pembicaraan pendek... Begini..." Aku menelan ludah. "Aku ingin melamar kakakmu, Indonesia."

...

...

...

...

...

"Melamar... Itu artinya mengajak menikah?"

"...Iya..."

...

...

...

...

...

...

...

"Jepang ingin kawin dengan Kakak Nesia?"

"Iya"

...

...

...

...

...

...

...

"Kenapa?"

"Karena aku sangat mencintainya... Aku ingin menghabiskan hidupku dengannya..."

"Kenapa Jepang mencintai Kakak Nesia?"

"Karena hatiku tahu kalau ia orang yang selama ini kucari."

"Bagaimana hati Kakak Jepang tahu?"

"Hatiku tahu. Itu saja. Tak bisa kujelaskan."

"Kenapa Kakak Jepang tidak bisa menjelaskan?"

"Karena hal itu tidak bisa dijelaskan manusia."

"Kenapa tidak bisa dijelaskan manusia?"

"Karena hanya Tuhan yang tahu."

...

...

...

...

...

...

"Kak Jepang janji untuk memberi makan, memberi perlindungan dan membuat anak dengan Kak Nesia seumur hidup?"

"Eh... Ya, aku janji."

"Kalau begitu, Jayapura restui! Nah, ayo Kak Jepang dan saudara Jawa makan malam dengan Jayapura!"

'Eh...'

Aku dan Jawa bersaudara hanya bisa diam saat Jayapura membakar babi hutan itu. Jujur, aku agak merasa takut dengan Papua dan... keliarannya tapi yang penting aku sudah dapat restu.

Jawa bersaudara langsung mendekat kepadaku saat Jayapura dengan sadis membacok- memotong daging babi bakar itu dengan kapaknya.


Sumatra

Kali ini lawanku adalah si kembar tiga Sumatra. Urutannya adalah Medan, Padang dan Palembang. Kali ini pendamping/sekutuku adalah Jakarta dan Yogya yang sudah selesai megurus keraton. Medan itu mulutnya tajam, Padang itu bisa dibilang mata duitan dan Palembang... Yah, kalau diprovokasi Palembang bisa menjadi menakutkan. Kami berenam duduk di ruang tamu vila Medan di Pulau Samosir di tengah Danau Toba. Jujur, pemandangan alam diluar jendela sedikit menenangkanku dari pandangan menusuk Medan.

"Medan-kun, Padang-san, Palembang-kun. Aku datang ke Pulau Sumatra untuk meminta sesuatu dari kalian."

"Kau mau apa?"

Kuhiraukan nada mengancam Medan. "Aku ingin meminang Indonesia sebagai istriku dan aku datang kemari untuk meminta restu dari kalian bertiga."

Palembang berhenti mengunyah makanan otak-otaknya.

Padang mengangkat wajahnya dari bacaan buku kasnya.

Medan menjatuhkan cangkir kopinya.

Terdengar Jawa dan Yogya menelan ludah bersamaan.

"Kau mau apa dengan ito Nesia?" Medan menunjuk-nunjuk padaku dengan wajah shock.

"Saya ingin menikah dengan kakak kalian."

Keheningan yang panjang langsung menyapa. Padang dan Palembang memelototiku dari belakang Medan yang sedang shock, seperti sedang mencari apa pun yang bisa memberatkanku. Padang mengibaskan rambutnya yang panjangnya sedikit melewati pundaknya secara dramatis dan menyilangkan kakinya.

"Oke, kuberi restuku pada Jepang."

Aku langsung bernapas lega dengan Jakarta dan Yogyakarta, Palembang memandang Padang sebentar dan kembali memakan otak-otaknya lagi. Medan memandang gadis yang terlihat 13 tahun itu dengan shock yang teramat sangat.

"ITO PADANG! KENAPA KAU BERI RESTU PADA... PADA... ORANG INI?"

"Mudah saja. Pertama, kalau Kak Nesia kawin dengan orang ini, dia bisa membantu kita memulihkan keuangan negara. Ini Jepang yang kita bicarakan. Lagipula Kak Nesia memang menyukainya dan seperti yang kita tahu, banyak negara mengincar Kak Nesia dan kita tahu kepolosannya itu. Lebih baik kalau Kak Nesia menikah. Jepang sama-sama Asia jadi kebudayaan kita... Yah, masih nyambung."

"Padang-"

"Aku juga merestui hubungan Jepang dengan Kakak." Palembang memotong. "Jepang itu orang baik-baik. Beda dengan France yang mesum (Kalian tak pernah lihat caranya memandang Kak Nesia?), Spanyol yang punya fetish dengan orang Italia yang suka cemberut itu, Netherlands (Kepala tulip bodoh, pencuri), dan Portugal (Orang aneh). Kalau kalian tanya padaku, Jepang dan England masih paling mending. Selain itu, aku suka kok anime dan komik dari Jepang."

"Palembang-"

"Sudahlah, Medan. Lihat situasinya. Jelas-jelas kau satu-satunya orang disini yang tidak berpikir jernih. Kak Nesia dan Jepang saling mencintai. Jepang bisa membantu perekonomian kita, anime dan komik akan lebih banyak lagi masuk ke sini, dan para pria bodoh itu akan mundur. Tidak ada hal satu pun yang merugikan kita disini dan mungkin ini kerja sama pertama dimana Indonesia sama sakali tidak dirugikan kalau kita melihat lagi sejarah." Padang menatap sengit Medan. "Kak Nesia memang sudah sangat cukup umurnya dan aku penasaran seperti tampang keponakanku nanti."

"Hahahaha! Itu juga! Pasti lucu sekali anaknya nanti!"

"Kalian berdua..."

"Medan." Jakarta membuka mulut untuk pertama kalinya. "Kenapa kamu begitu menentang Kak Nesia menikah?" Medan langsung diam, jelas dia agak takut dengan Jakarta.

"Habis... Sudah berkali-kali Kak Nesia dikejar dan ditipu laki-laki... Dia sudah seorang sendiri berusaha membesarkan kami... Kak Nesia sudah terlalu sering disakiti tapi dia tetap tersenyum kepada kami adik-adiknya. Walau kami sering berontak dia tetap sabar... Tapi..." Medan menatapku sengit.

"SEKARANG ORANG INI INGIN MENGAMBIL ITO DARI KAMI! AKU GAK TERIMA!"

"Medan-kun." Aku tersenyum lembut. "Aku takkan mengelak kalau aku pernah menyakiti Seruni." Medan langsung kaku. "dan aku juga pernah meyakiti kalian semua. Kalau dipikir lagi, tidaklah pantas untukku untuk meminta sesuatu dari kalian, sesuatu atau seseorang yang kalian sayangi. Tapi..." Aku berdiri dan berjala ke sisi meja dan bersujud.

"Rasa sayangku pada Seruni tidak kalah besar dengan rasa sayang kalian padanya." Aku tersenyum lembut dan menunduk.

...

...

...

...

...

'Orang ini... Jangan-jangan ia takkan beranjak dari situ sampai aku memberi restu?' Medan menatap pria Asia yang bersujud padanya. 'Orang ini... Dia memanggil Ito, Seruni... Tak ada seorang pun yang tahu nama asli Kakak... Kecuali kami dan Malaysia...'

...

...

...

...

'Mungkin... Kalau orang ini... Dia takkan berbuat hal bodoh...'

...

...

...

...

'Dia juga yang paling banyak membantu saat gempa Aceh...'

...

...

...

...

"Ya sudah. Aku sudah kalah jumlah." Aku langsung menengadah. "Lagipula Kak Nesia memang layak bahagia dengan seseorang. Egois sekali kalau kami menginginkan Kak Nesia untuk kami sendiri."

Medan berbalik dan berjalan ke kamarnya.

"Tapi aku tak mau melihat mukamu untuk sementara!" Telinganya memerah. "Good luck ya meminta restu pada yang lain, mereka pasti juga tidak setuju sepertiku. Aku memikirkan Kak Nesia makanya aku harus memberi restu! Jangan salah paham!" Dia berbalik dan memberikanku jempol yang dibalik. (Tahukan? Kalau ingin memberi tanda payah atau jelek pakai jempol?) "Kakak Nesia terlalu bagus untukmu! Karena itu kau harus memperlakukannya dengan baik!" Dia masuk ke kamarnya dan hendak menutup pintu.

...

Wajahnya keluar sedikit dan wajahnya tampak malu-malu.

"...kak Kiku..."

BLAM

...

...

...

...

"T-Tadi itu..." Palembang menjatuhkan otak-otaknya.

"Medan..." Padang menjatuhkan buku kasnya.

"D-Dia malu-malu..." Yogya menunjuk kamar Medan.

"Pada Kak Jepang..." Jakarta menunjuk padaku.

"Heh?" Semua orang memandangku dengan aneh. "Maaf? Apa maksudnya?" Tiba-tiba semua orang tersenyum dan menangis dan pada saat yang sama, seperti menahan tawa.

"Kak, Medan itu..." Palembang tersenyum lebar.

"Tsundere..." Yogya menyambungkan

Tsundere? Oh!

"Begitu?" Aku tersenyum.

"M-Medan... hanya... jadi Tsundere kalau berhadapan dengan Kak Nesia..." Padang terlihat tersiksa sekali menahan tawa.

"Aku benar-benar salut denganmu, Kak Jepang. Medan tak pernah memanggilku kakak. Dia hanya mau memanggil Kak Nesia kakak. Bisa membuatnya memanggilmu kakak dengan nama asli. Wah, itu benar-benar hebat." Jakarta menepuk-nepuk punggungku. "Tak salah aku menerima sebagai calon kakak iparku."

Akhirnya keempat bersaudara itu tertawa dan terdengar suara barang jatuh dari dalam kamar Medan.

Mau tak mau, aku tersenyum.


"Ararara?" Indonesia mengangkat wajahnya dari copy laporan mingguan adik-adiknya dan laporan dari negara ASEAN. Hari itu Indonesia menghadiri pertemuan ASEAN dengan adik kembarnya dan sepupu-sepupunya.

"Ada apa, Nesia~?" Thaiand tersenyum ramah.

"Tidak apa-apa kok. Entah kenapa aku merasa adik tsundereku, Medan, baru saja menunjukkan sisi tsunderenya."

"Medan?" Malaysia mendorong kacamatanya ke belakang agar pandangannya lebih jelas.

"Entahlah... Aku juga merasakan Kikkun... Aneh..."

"..." Malaysia menatap kakak kembarnya dan merenung.

'Jepang dan Seruni? Masa gosip mereka pacaran itu benar?'


-Saya berencana lebih panjang lagi chapter ini tapi karena saya sibuk jadinya segini dulu.

-Supaya tidak bingung, adik-adik Indonesia dinamai nama ibukotanya. Jadi Jawa jadi Jakarta dan Sumatra Utara jadi Medan. Reader semua mengerti? Karena akan susah sekali jadinya kalau seperti ini.

"Jawa!" panggil Indonesia kepada Jawa.

"IYA!" Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah langsung berbalik

"Aku mau manggil Jawa yang paling tua kok..."

Nah, repot sekalikan? Jadi adik-adik Indonesia kuberi nama kota-kota.

-Bagi reader yang menanyakan panggilan Indonesia kepada Kiku, dia memanggilnya Kikkun karena menurut saya terdengar imut dan jujur saya malas mengetik Kiku-kun. Menurut saya repot harus mengetik 'ku' dua kali jadi supaya menghemat waktu buat saya dan napas buat Indonesia, nickname Kiku adalah Kikkun.

-Saya membuat banyak adik-adik Indonesia disini menjadi kembar 3 atau 4 karena saya tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan hubungan mereka. Tentang penapilan mereka, kira-kira seperti ini:

Indonesia : 20 tahun

Jakarta: 15 tahun

Jawa Bersaudara: 14 tahun

Sumatra Bersaudara: 13 tahun

Papua: 14 tahun

Saya masih merencanakan siapa saja cowok dan siapa saja cewek jadi mohon maaf kalau ada ketidakjelasan jenis kelamin pada adik-adik Indonesia. Sudah diputuskan kalau Jawa Timur dan Padang perempuan.

-Saya mencoba agar sifat adik-adik Indonesia mendekati watak penduduk aslinya. Medan itu orangnya berani dan blak-blakan (menurut saya) jadi saya buat mempunyai sisi tsundere. Reader ada yang ingin recommend bagaimana sebaiknya watak adik-adik Indonesia? Saya terbantu sekali loh!

-Malaysia akhirnya muncul walau screen timenya sebentar! Di chapter berikutnya dia akan mulai curiga dengan Jakarta yang tiba-tiba hilang (sedang menemani Kiku menemui adik-adik) dan sedikit demi sedikit menyadari maksud Jepang datang ke Indonesia diam-diam saat sang personifikasi Nusantara tersebut sedang rapat ASEAN.

-Saya sedang berpikir untuk membuat fic Hetalia dengan plot World Academy alias sekolah dengan tokoh Female OC Indonesia, Seruni! (Saya tetap stick dengan namanya, kalau reader mau nama panjang diganti tapi Seruni tetap Seruni!) Saya ingin menggambarkan kondisi saat ini di fic high school ini dimana posisi wanita Indonesia masih eh... dihiraukan. Di fic ini main pairingnya SeruniXArthur! Reader setuju dengan saya publish fic ini dengan pairing itu?

Terima kasih telah membaca!

TUNE IN!

PLEASE REVIEW!