IT'S YOUR FARM, BUT YOUR MINE—CHAPTER 6 © ME
HARVEST MOON BELONG TO NATSUME


"Rick benar. Caci maki takkan menyelesaikan pertikaian kita…"

"Ya, kontes memasak bisa menuntaskannya."


21'ST SPRING 08.00 AM, AT THE FARM

BRUK

Claire menjatuhkan dirinya sendiri di atas rerumputan di peternakannya, lelah bekerja, "Capek sekali!"

Sudah kesekian harinya Claire mengerjakan pekerjaan rivalnya, Jack. Juga sudah kesekian hari pula, Jack tinggal di rumah Claire. Hanya saja Claire menyuruhnya untuk tidur di lantai, yang dialasi tikar dan seprai empuk tentunya.

"Claire~" rival gadis itu datang mendekati dari rumah Claire. Ia membawa sebuah piring dengan nasi kepal dan gelas berisi air di kedua tangannya. Tentu saja jalannya masih sedikit pincang, tapi sudah jauh lebih baik dari pada yang dulu.

"Ada apa, Jack?"

Jack ikut duduk disampingnya, lalu menyodorkannya piring itu, "Sarapanmu, belum kan?"

Claire menatapnya, "Terima kasih, tapi—nasi kepal lagi?"

Jack mengendus, "Cuma itu yang ada."

"Hng…" Claire mengangguk, dan dimakan juga meski cukup bosan. Uang mereka belum cukup banyak untuk membangun dapur untuk memasak, jadi makanan hanya bisa mereka dapat dari supermarket, dari peternakan mereka sendiri, atau memetik langsung dari hutan.

Di tengah kesunyian itu, datanglah Mayor Thomas dengan cerianya, "Ahoi! Jack! Claire! Apa kabar kalian?"

"Ah, mayor," Jack menyambutnya, "Ada angin apa kesini?"

Pria paruh baya dan paruh badan itu berdehem sebentar, "Hanya memberi tahu, besok ada cooking festival. Dimana semua warga yang berminat untuk menjadi peserta di harapkan membuat masakan rumah sendiri lalu membawanya ke festival untuk dijurikan oleh Gourmet. Masakan yang menurut Gourmet paling enak, akan memenangkan uang yang cukup banyak!" Mayor menjelaskan dengan semangat jumawa. Tapi dua orang di depannya sepertinya tidak mendengarkan.

"OI," Mayor sweatdropped.

"Maaf," Jack menyahut, "Aku tidak tertarik."

Sedangkan Claire mencibir, "Mengundang kami yang bahkan belum punya dapur untuk mengikuti kontes memasak? Kau mengejek kami ya, mayor."

Mulut pria kerdil itu ditekuk, "Aku hanya memberi tahu, kok."

"Jangan marah, mayor! Claire hanya bercanda! Iya kan'?" Jack menoleh pada Claire, yang sedang menatapnya dengan aura suram—Oke, Claire memang ada benarnya. Jack lalu bertanya, "Tidak semua warga diwajibkan ikut kan?"

"Tidak. Tapi kalaupun tak ikut, kau boleh datang hanya untuk melihat-lihat," mayor menjelaskan, "Baiklah, selamat bersenang-senang kalau begitu."

Ia pun pergi meninggalkan peternakan. Jack kemudian bicara pada Claire, "Kau tahu, sepertinya aku mulai tertarik dengan kontes itu. Hadiahnya terutama."

"Haha," Claire tertawa hambar, "Kalau begitu pergilah."

Jack mencibir, "Kau kan' perempuan, kenapa tidak ikut saja? Biasanya perempuan yang ikut kontes begini kan?"

Claire mulai merasa laki-laki disampingnya ini sengaja memancingnya, "Oh ya? Kalau begitu kau adalah perempuan!"

"Kenapa aku—"

"Karena kau ikut kontes itu! Dan katamu 'hanya perempuan yang ikut kontes itu'! Iya kan?" Claire berdiri, bicaranya sudah agak lantang.

"Aku bilang, 'biasanya perempuan yang ikut kontes memasak', tahu!" leking Jack, dengan bagian 'biasanya' sedikit ditekan.

Dan caci maki pun berlanjut tegang. Kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah dengan topik yang tidak penting untuk diperdebatkan. Untunglah, saat itu Rick sedang lewat di tempat dan segera melerai keduanya.

"Hei, kalian berdua! Apa tiap kali aku lewat sini kalian harus bertengkar? Caci maki tidak akan menyelesaikan masalah!"

Claire terdiam, lalu angkat bicara, "Rick benar. Caci maki takkan menyelesaikan pertikaian kita…"

"Ya, kontes memasak bisa menuntaskannya," Jack melanjutkan.

"Eh?" Rick merasakan hawa-hawa peperangan.

Claire tersenyum nista, dengan sebuah ide brilian (tapi nekat) dipikirannya, "Yang menang tidak hanya mendapatkan hadiahnya, tapi pekerjaannya juga akan dikerjakan oleh yang kalah selama seminggu!"

"Setuju!" Jack berdiri mantap, meskipun kakinya kurang mendukung. Lalu setelah saling bertatapan mata maut, Jack maupun Claire meninggalkan Rick untuk bersiap-siap besok.

Laki-laki berambut jingga kecoklatan itu sendiri melepaskan napas lega, "Setidaknya kota ini bisa kembali sunyi," ia lalu kembali pulang.

21'ST SPRING 11.00 AM, AT THE SUPERMARKET

"Kok bisa sih, kalian berdua tidak bosan bersaing terus…," komentar Karen, ia sedang mengobrol dengan Jack yang tiba-tiba datang ke supermarket. Katanya Jack sih, ia ingin mencari inspirasi masakan di tempat yang banyak makanannya.

"Justru karena itu, aku jadi semakin tertantang," jawabnya, sambil melihat-lihat counter, "Oh iya Karen, tiap tahun kau selalu ikut kontes ini, kan?"

"Iya, tapi aku tidak pernah menang, padahal ibu sering mengajariku memasak."

'Ahaha, aku mengerti. Aku pernah merasakan masakan anak ini. Padahal waktu itu hanya telur dadar, tapi rasanya kayak aspal,' Jack tertawa datar, dengan alis kanan yang sedikit bergetar. Tapi, sebuah pertanyaan menggemparkan jiwa tiba-tiba ia dengar dari Karen, "Jack, apa kau mau satu tim denganku untuk kontes memasak besok?"

"A-A-A-A—," mendadak laki-laki itu membatu. Karen yang melihatnya seperti itu, wajahnya memelas, "Ti-tidak mau ya… Yah, aku memang gadis aneh yang tidak bisa memasak…"

"A-A-A—," Jack masih terbata-bata di tengah perang batinnya, 'Ke-kebaikan orang jangan ditolak, Jack! Ta-tapi… Karen yang masakannya uhuk-sangat buruk-uhuk sa-satu tim denganku bisa menjadi ancaman bagi potensi kemenanganku! Ta-tapi…RASANYA SULIT UNTUK MENOLAKNYA.'

"Jack?" Karen mulai khawatir pada Jack yang mulai mematung layaknya Patung Pancoran.

Pemuda bertopi itu mengambil nafas, dan menghentikan 'A-A-A'-nya, "Ba-baiklah, Karen… Aku setuju untuk satu tim denganmu…(hiks)."

Mata gadis itu berbinar, "Benarkah? Kalau begitu, ayo mulai persiapannya!"

"Ayo…," Jack menitirkan air mata dalam batin.

THE SAME TIME, AT THE POULTRY FARM

Lilya menyerahkan sebuah buku agak tebal dengan sampul berwarna merah pada Claire, "Ini, kau boleh pinjam sampai festival itu selesai, Claire."

Gadis itu memilah-milah halamannya sambil terkagum-kagum, "Ini lengkap sekali, Lilya. Terima kasih banyak!—Eh, tapi bukankah tiap tahun kau ikut festival ini? Benar kau tidak butuh buku kumpulan resep ini?"

Lilya mengibaskan tangannya, "Tidak apa-apa kok. Hari ini aku kurang enak badan, jadi sepertinya sampai besok harus istirahat. Tapi tahun ini, Rick yang akan menggantikanku."

Rick yang tadinya sedang minum kopi dengan damai di depan perapian mendadak memuncratkan isi mulutnya, kaget, "APA? Ibu tidak memberi tahukan hal ini sebelumnya!" pekiknya, protes.

"Eeh… Kasihan kan' kalau Popuri ikut sendiri, sebagai kakak seharusnya kau bertindak inisiatif, Rick…" Lilya menceramahinya dengan lembut. Akhirnya, meskipun sempat tidak setuju, Rick mengalah, "Baiklah, aku ikut… Tapi ibu tahu sendiri kan' aku tidak pandai memasak?"

Lilya tersenyum manis, "Tidak perlu khawatir, sebab Claire akan satu tim denganmu."

Claire yang tadinya sedang minum teh suguhan Lilya dengan damai mendadak memuncratkan isi mulutnya, kaget, "APA? Me-memangnya boleh? !"

"Tidak apa-apa, lagipula tidak ada yang melarang kalau boleh membuat tim dalam kontes itu~," Lilya tertawa kecil, kalau kau menajamkan pendengaranmu, terdengar tawa kecil 'ohoho' ibu itu.

"Sebenarnya sih tidak masalah, tapi apa Claire mau satu tim denganku?" Rick menoleh pada Claire.

Claire menggaruki kepalanya yang tak gatal, "Itu… Um, boleh juga?" katanya, sambil membatin, 'Mungkin dengan ini potensi kemenanganku bisa makin besar. Karena satu tim dengan Rick yang punya dapur tentunya!'

.

.

21'ST SPRING 04.00 PM, AT THE FRONT OF BLACKSMITH

Jack berjalan lunglai menuju peternakan, padahal seharian ia dan Karen hanya berlatih memasak dan berbelanja keperluan besok. Tapi rasanya seperti habis mengangkut karung beras keliling kota, "…Aku jadi malas untuk menyiram tanaman sore ini…"

"Eh, Jack," sapa Claire, yang datang dari arah Poultry Farm. Jack reflek menoleh padanya, namun begitu ingat kalau mereka sedang bersaing, tiba-tiba masing-masing mereka memalingkan wajahnya.

"Jack, malam ini kau tidur di Inn saja, bisa-bisa saat aku tidur kau mencuri resep masakan ultimate yang diberikan Lilya untukku dan Rick!" seru Claire, dengan bumbu kebanggaan di kata-katanya.

Jack menepis, "BAH! Siapa juga yang mau mencuri resepmu—eh, kau dan… Rick?"

Claire melanjutkan, "Kami satu tim untuk besok."

'…Sama denganku. Tapi aku tak perlu bilang kalau aku juga satu tim dengan Karen kan? Bisa-bisa ditertawakan,' batin Jack, "Oh… Baiklah, aku akan menginap di Inn malam ini… Mungkin saja aku bisa mendapat resep yang lebih ultimate dari Doug!" Jack menggeretak. Membuat Claire tersentak, melupakan hal yang satu itu.

"Tu-tunggu, Jack! Aku cuma bercanda! Kau masih boleh menumpang dirumahku!" Claire menarik-narik baju Jack sampai melar.

Senyum nista terkulas di wajah Jack, 'Yes.'

.

.

22'ND SPRING 08.00 AM, AT KAREN'S HOUSE, KITCHEN (karena Jack tidak punya dapur)

Jack dan Karen sedang hilir mudik di dapur. Jack sedang melelehkan gula pasir dan air, Karen sedang mencincang cokelat—Jack tidak membiarkan Karen menyentuh barang-barang fatal. Rencananya, mereka akan membuat cake kecil, dengan bahan utama cokelat. Semua bermula saat Karen mengusulkan makanan manis untuk musim semi yang juga (menurutnya) manis. Jack hanya pasrah, dan berusaha untuk mencegah Karen memasukan bahan-bahan mencurigakan seperti merica misalnya ke dalam adonan cake.

Dan mereka pun terus memasak sebelum tenggat waktu, dua jam lagi. Butuh waktu cukup lama untuk memanggangnya sampai matang dan mendekorasinya.

22'ND SPRING 10.00 AM, AT THE ROSE SQUARE

Rick dan Claire mengambil posisi di meja nomer 2, dengan sebuah kotak bekal makanan buatan mereka. Mereka memutuskan untuk membuat set bekal makan siang untuk kontes. Karena bicara soal musim semi berarti bicara soal bunga sakura dan bicara soal sakura berarti bicara soal hanami* dan hanami takkan lengkap tanpa bento makan siang yang mengenyangkan.

Claire melirik kanan dan kirinya. Di sebelah kiri ada Doug di meja nomer 1 dengan masakannya yang menggugah selera. Di sebelah kana nada Anna di meja nomer 3 dengan kue keringnya. Dan masih banyak peserta lain yang sudah menduduki meja bernomernya. Dan tentu saja, bernafas disana sama dengan memproduksi air liur, karena wangi-wangi masakan lezat yang dahsyat.

'Jack belum datang… Aku penasaran dengan masakannya,' batin Claire, resah.

Tiba-tiba Rick menepuk pundak Claire, "Hei Claire, kau sudah tahu belum? Kalau Karen dan Jack satu tim, sama seperti kita."

Hening.

Wajah Claire memutih. Sangat putih. Lebih putih dari pada beruang kutub albino. "HI-HIEEEEE? !"

"Ke-kenapa? !" Rick kaget dengan sikap Claire yang mendadak berdiri membanting meja—nyaris menumpahkan bento mereka. Mulutnya bergetar, ingin menertawakan kemalangan Jack bisa satu tim dengan biang kerok Harvest Festival itu.

Claire mengusap air matanya yang keluar karena menahan tawa, "Ti-tidak apa-apa, Rick. Hanya saja…"

"RIIIICK~~!"

Semua orang langsung menoleh ke sumber suara. Karen. Sedang menenteng sebuah kotak persegi berukuran sedang, dengan Jack disampingnya, "Kami sudah datang!"

Jack melirik Claire lalu mengedipkan mata kirinya seraya menjulurkan lidah, dan mengirim telepathy: Kami akan menang, Claire!

Dan Claire menerimanya, 'Nggak akan kubiarkan.'

Jack dan Karen sergap menduduki meja bernomer paling akhir, lalu membuka kotak itu. Ternyata pikiran orang-orang yang lalu lalang disana langsung berubah. Dari yang mereka kira makanan berbau busuk, sekarang justru memberi aroma manis cokelat yang lengket di hidung mereka. Di saat itulah juga, Jack menangis bahagia, berhasil mencegah Karen bertindak brutalisme pada si kue.

Mayor pun memberi sepatah kata, "Baiklah, karena para peserta sudah disini, mari mulai penjuriannya!"

.

.

22'ND SPRING 04.00 PM AT THE ROSE SQUARE

"Baiklah, Gourmet. Silakan umumkan pemenangnya!" seru Mayor pada pria bermulut buaya itu.

Gourmet berdehem sebentar, "Ini pertama kalinya, aku sulit untuk menentukan pemenang utama, jadi… tahun ini kita punya dua pemenang! Tim Claire dan tim Jack!"

"Selamat untuk keduanya!" seru Mayor lagi.

Namun yang menyahutnya malah keheningan dari kedua belah pihak.

"APAA? Hasilnya SERI?" Claire menganga penuh kekecewaan. Tak kalah lebar dengan mulut Jack yang juga menganga, "Iya, benar! Apa tidak ada poin tambahan atau apa kek gitu! ?"

"Nope. Bento buatan tim Claire memang membawa nuansa musim semi ke mulutku. Aku bahkan terkejut rasanya bisa lebih enak dari buatan Doug. Lalu kue cokelat buatan tim Jack, rasa cokelatnya terasa sekali dan membawa kesan langket. Terlebih kau berada di nomer terakhir, seperti makanan pencuci mulut yang mengunci semua rasa masakan peserta sebelumnya di mulutku. Benar-benar luar biasa kalian berdua," Gourmet menjelaskan panjang lebar.

Mayor melanjutkan sepatah katanya, "Hadiahnya akan dibagi 50%, para pemenang harap hubungi saya begitu festival ini usai untuk mengambil hadiahnya! Baiklah hadirin, terima kasih sudah mau hadir di cooking festival tahun ini, sampai jumpa lagi tahun depan!"

Orang-orang pun mulai meninggalkan tempatnya, bersiap untuk makan malam. Dan disanalah, Jack dan Claire saja yang tersisa. Berdiri berhadapan tanpa kata.

Claire bergumam, "Hasilnya… Seri."

Jack melanjutkan, "Lalu bagaimana taruhan kita? Batalkan saja?"

"Ya, batalkan saja—K-kau mau mencoba bento buatanku, Jack? Seharian pasti belum makan… Yah, memang bekas Gourmet sih, tapi bersisa banyak," Claire menyodorkan kotak makanan berwarna hijau cerah pada Jack dengan sedikit malu-malu. Langit-langit senja menyinari wajah Jack yang terdiam heran dengan sikap Claire. Lalu tertawa kecil, "Khe, itu kan' bukan cuma buatanmu, ada bantuan Rick didalamnya."

Claire mencibir, "Sudah, makan saja!"

Jack tersenyum lalu tangannya ingin mengambil kue buatannya yang ada di atas meja, "Kalau begitu, kau juga harus coba ku—Lho? Kok tidak ada?" Jack terkejut dengan raibnya kue cokelat yang harusnya ada di sana. Tapi nyatanya kue itu hilang. Lenyap. Musnah. Pergi.

"Omong-omong Rick dan Karen kemana, ya?"

22'ND SPRING 04.10 PM AT THE BEACH

Karen menyodorkan kotak merah muda itu pada Rick, "Ri-Rick… Kau mau kan memakan chocolate cake ini? Yah… meski ini juga ada bantuannya Jack, tapi…"

Rick tersenyum, meski dalam batin ia masih belum percaya dengan masakan Karen. Namun setelah mengingat bahwa kuenya dan bentonya sama-sama menang kontes, ia mengambil sepotong kue dari beberapa potongan kue itu, "Terima kasih, Karen. Ini boleh kumakan sekarang?"

Wajah gadis tomboy itu memerah, "Tentu saja boleh!"

Dan Rick pun benar-benar melahapnya, mengunyahnya, merasakan sensasi cokelat yang meleleh di lidahnya. Tak jauh dari tempat mereka berdua, terlihat Jack dan Claire sedang menguntit dari balik semak di hulu tangga besar.

"Err… Bukannya Winter Thanksgiving Festival itu masih lama ya?" tanya Jack

Claire mengangguk, "Ternyata diam-diam mereka—Astaga, Jack! Aku lupa! Seharian aku belum menyiram tanaman kita!"

"Aaah, kau ini!," Jack mengacak-ngacak rambut Claire dengan kesal, meski ada tawa keluar dari mulutnya, "Ayo, segera kembali ke peternakan!"

"Ayo."

Tak lama setelah mereka pergi, Rick muntah.

Belakangan diketahui kalau Rick 'beruntung' karena dalam potongan kuenya terdapat sebongkah terasi utuh yang Karen tambahkan dalam adonan setelah diaduk. Dan Gourmet saat itu memakan potongan kue yang 'tidak beruntung'.

Yea, it's still TO BE CONTINUED

*: Hanami, kebiasaan kultur orang-orang Jepang di musim semi. Mereka menikmati bunga-bunga sakura yang sedang mekar dengan menggelar 'piknik massal' dan biasanya yang bekal dibawa ke 'piknik' itu bento, sake, dan makanan minuman lainnya.

Balesan anon reviewer:

Satia Vathi: Jack emang usil KOLKOLKOL~ Sip, sudah update ;D Dan makasih doanya, saya bisa lulus dengan keren(?) ;w;

males ngasih nama: Saya suka review kakak kok ;u; Dan makasih sudah mereview, saya udah bales selengkapnya di fb kan? :D Semoga kau cepat kembali ke HMI kak... ;w;

A/N: Chapter kali ini panjang ya =w=; Seperti rencana sebelumnya, semua chapter di fanfic ini isinya adalah festival-festival (tertentu)~ Oh yeah, review please?