Chapter 3 : Pertemuan

Cahaya mentari menerobos sebuah gorden usang yang terpasang di sebuah kamar. Sinarnya yang hangat menyinari wajah sesosok pemuda yang berada di sana. Pemuda itu, Gaara menggeliat dan membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat. Perlahan, ia mengumpulkan seluruh kesadarannya hingga akhirnya ia menyadari bahwa ia tengah berbaring di sebuah dipan tua. Otaknya mulai berputar. Mencerna dan mengingat-ingat alas an mengapa ia dapat berada di sini. "ah" Gaara mendesah pelan. Ia sudah mengingat kejadian yang menimpanya kemarin malam dengan jelas namun, ia belum menemukan alasan kenapa ia berada di kamar yang asing. Tiba-tiba, pintu reyot itu terbuka dan seorang gadis berambut indigo masuk. "Hyuuga Hinata? Apa yang ia lakukan di sini?" batin Gaara saat melihat gadis yang kemarin ia intai masuk membawa sebuah nampan usang. Gaara segera menyiagakan dirinya, walau tubuhnya masih terasa lemas. Ia memaksakan diri mengamati Hinata dengan waspada

Hinata masuk dan menutup pintu kamar perlahan-lahan seolah tidak ingin membangunkan pemuda yang ada di sana. Ia menuju ke meja kecil di samping dipan dan menaruh cangkir teh yang dibawanya "Tak usah bersiap bertarung, tubuhmu masih lemah" nasihat gadis itu pada Gaara yang terhenyak mendengarnya 'gadis ini bukan gadis biasa. Gerakannya lembut tapi waspada. Aku harus hati-hati' batinnya, memutuskan akan bersikap rileks tapi tetap siaga penuh. "apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya kemudian "sedang apa aku?" ulang Hinata dengan alis terangkat "ini rumahku. Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di sini?" "aku…" Gaara agak gugup menjawabnya "aku hanya… ehm…" "memata-mataiku eh?" potong Hinata tenang sambil menatap mata Gaara dengan mata lavendernya yang indah namun tajam membuat Gaara merasa seolah ia mampu membaca semua pikirannya. Entah kenapa, kepala berambut merah itu mengangguk jujur padahal otaknya sudah mengarang alas an untuk menutupinya. Sekarang Gaara hanya bisa pasrah akan apa yang dilakukan Hinata terhadapnya. Tubuhnya masih sangat lemah dan ia takkan bisa melawan Hinata yang telah terkenal akan kemampuan beladirinya. "Jadi, kau anggota Bijuu?" Tanya Hinata tetap kalem "ya" jawab Gaara singkat membuat Hinata mengamatinya dari atas sampai bawah lalu mengangkat alis "kau masih muda. Hebat juga kau bisa menjadi Bijuu dan yang pertama berhasil membuntutiku sampai sini tanpa kusadari. Oya, kita belum berkenalan siapa namamu?" "aku Gaara, Sabaku No Gaara. Dan kau pasti Hyuuga Hinata kan?" Hinata menggangguk "Sabaku No Gaara?" ulang Hinata lambat-lambat "Jadi kau yang katanya keturunan clan Sabaku itu?" Gaara mendesah "mungkin" "kau lebih muda dari dugaanku. Tapi, mengingat kau yang pertama kaali membuntutiku sampai ke sini, kemampuanmu pasti di atas bijuu lain" ucap Hinata sembari mengulurkan cangkir berisi es the. Gaara menerima tanpa meminumnya walaupun tenggorokannya terasa panas "tidak diminum? Kau pasti haus kan" Gaara hanya memainkan cangkirnya. Seolah dapat membaca pikiran Gaara, Hinatamengambil sebuah sendok dan mencicipi the Gaara "tidak apa-apa kan" ucapnya sambil tersenyum. Merasa aman, Gaara meminumnya hingga habis dan menikmati sensasi dingin menurunoi lehernya. Tak lama, Gaara merasakan kepalanya pusing. "Oh ya, aku ingin memeperingatkan kalau aku kebal terhadap racun" suara Hinata samar-samar memasuki telinga Gaara sebelum ia jatuh dalam kegelapan pekat "sial…"