Chapter 4 : Tell Me

"Kau yakin akan membiarkannya hidup? Dia itu musuh" "Ya, dia sedang terluka. Tak mungkin aku membunuhnya. Lagipula, dia akan berada dalam pengawasan ketatku" Sayup-sayup Gaara mendengar suara orang berdebat. Perlahan, mata aquamarine pemuda itu membuka dan ia melihat sesosok pemuda blonde jabrik membelakanginya. "Kau bukan tandingannya Hinata-chan, dia bisa membunuhmu. Aku tak ingin hal itu terjadi, aku mengkhawatirkanmu" sahut si pemuda penuh emosi "aku adalah penerus clan Hyuuga. Aku takkan mati semudah itu, jangan terlalu khawatir Naruto-kun" Gaara mengenali suara lembut yang menenangkan milik Hinata. "Naruto?" pikir pemuda itu heran. Nama itu mengingatkannya akan seseorang yang menghilang. Orang yang pernah ia kenal baik.

-Flashback-

"Gaara-kun, ayo kejar Naru" seorang bocah pirang berumur sekitar 7 tahun berlari mengelilingi sebuah halaman rumah. Gaara mengejarnya sambil tertawa lepas "aku pasti dapat mengejarmu, awas ya!" sesaat kemudian ia berteriak "kena, hore, Naru-chan kena. Sekarang ayo kejar aku" serunya gembira. Kedua bocah itu terus bermain sepanjang hari hingga Karura, ibu Gaara memanggil putranya "Gaara, ayo kita pulang. Sudah sore" "yaah" sambut Gaara kecewa. "Kaasan, Gaara masih mau main sama Naru-chan" rengeknya. Si ibu hanya tersenyum kecil "besok lagi ya, mainnya. Sekarang pulang dulu, ayo pamit pada Naru" bujuknya. Akhirnya dengan berat hati Gaara melambaikan tangan pada sahabatnya itu diiringi janji bertemu esok hari. Sayang, malam itu, Gaara pindah bersama keluarganya. Ayahnya memutuskan untuk tinggal di tengah sebuah hutan kecil di desa sembari mengajarkan keahlian clan Sabaku. Dan itu adalah terakhir kalinya kedua sahabat itu bertemu.

Bertahun sesudah itu, ketika usia Gaara menginjak 15 tahun, kota gempar. Seorang putra pejabat terkemuka hilang tanpa jejak. Pemuda itu bernama Uzumaki Naruto dengan cirri-ciri berambut pirang jabrik, berkulit coklat, dan memiliki 3 pasang goresan tipis di pipi. Bekas cakaran Gaara sewaktu mereka bertengkar. Walau puluhan orang telah dikerahkan untuk mencarinya, bahkan sayembara berhadiahpun telah diselenggarakan namun, Naruto tak pernah ditemukan.

-End of Flashback-

Entah mengapa, Gaara yakin kalau pemuda di hadapannya ini adalah Naruto sahabatnya yang menghilang. Tapi, apa yang ia lakukan di sini? Mengapa ia tampak tak mengenali Gaara, sahabat kecilnya? Dan apa yang ia lakukan di tempat Hinata, yang dianggap penjahat? Beribu pertanyaan menggema di benak pemuda itu sementara perdebatan antara Hinata dan Naruto masih terus berlanjut. "ukh!" sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Terlihat, Gaara sedang mengaduh sambil memegang bahunya yang nyeri akibat gerakan tiba-tiba yang ia lakukan saat ingin duduk. Walaupun dalam kondisi kesakitan, Gaara masih sempat melihat wajah Naruto yang menengok sekilas ke arahnya. Ya, kini Gaara yakin 100 % dia adalah Naruto sahabatnya, dan sekaligus pemuda paling dicari di seluruh kota.

Naruto hanya menengok sekilas kearah Gaara lalu membuang muka. "tampaknya aku harus pergi. Sampai nanti Hinata-chan" ucapnya sembari melangkah keluar "Tunggu!" seruan Gaara menahan langkah Naruto "ada apa?" "kau,Uzumaki Naruto kan?" tanyanya sedikit ragu. Pemuda bermata biru langit itu hanya nyengir "ternyata kau masih mengenaliku, Sabaku No Gaara, lama tak bertemu kau sudah jadi hebat begini" pujinya "Jadi kau benar-benar Naruto? Kenapa kau…" "berada di pihak Hinata-chan yang dianggap penjahat? Ceritanya panjang. Lebih baik kuceritakan setelah kau sembuh" Naruto terbahak "kau itu bisa bisanya menduduki sarang ular. Untung Kushi-chan melihatmu. Seharusnya kau mempelajari sekitarmu dulu kalau ingin jadi mata-mata yang baik" "ngomong-ngomong Naruto, aku rasa kau harus menjelaskan alasanmu menghilang sekian lama dan membuat orang tuamu cemas" Naruto tersenyum sedih "mereka tidak mencemaskanku. Itu semua hanya topeng belaka yang mereka pakai agar orang-orang bersimpati. Mereka tidak menyayangiku dan aku yakin mereka pasti senang jika aku mati. Lagipula, mereka juga bukan orang tua kandungku. Aku diadopsi saat berumur setahun. Namaku sebenarnya adalah Namikaze Naruto" jelasnya panjang lebar. Sesaat wajahnya terlihat sendu, tetapi kesan itu segera berlalu dan ia kembali nyengir "oya, aku sebenarnya ingin mengenalkan diriku sebagai tunangan Hinata-chan, tapi karena kau sudah keburu mengenaliku ya… tidak jadi deh" ucapnya membuat pipi Hinata memerah. Gadis itu menunduk malu "Na..Naruto-kun, apa yang kau katakana?" Naruto tertawa melihatnya salah tingkah. "sudahlah, kami pergi dulu, istirahat ya, supaya cepat sembuh" tiba-tiba wajahnya berubah serius "dan jangan mencoba kabur. Kami tak ingin tempat ini diketahui orang lain. Kalau kau berani coba-coba, hadapi kami dulu" ia memperingatkan. Gaara mengangguk, ia merasa ada sesuatu yang ingin sahabatnya itu tunjukkan padanya, lagipula tubuhnya juga belum memungkinkan untuk melakukan hal yang berat.

Setelah keluar dari kamar Gaara, Hinata menyiapkan makan malam untuk anak-anak di sana dibantu Naruto "kau yakin akan menjelaskan 'itu' padanya Naruto-kun? Bukankah kau yang mengatakan kalau dia itu musuh?" pemuda yang diajak bicara itu mendesah "aku hanya ingin membelamu. Lagipula, kurasa Gaara pasti akan mengerti. Aku percaya akan rasa kesetiakawanannya" Hinata mengangguk "terserah kau saja"

Sementara itu, di sebuah bilik yang gelap tampak beberapa sosok sedang duduk di hadapan sebuah meja lingkaran "bahkan kini Sabaku No Gaara juga menghilang. Aku curiga ini ada hubungannya dengan putra tuan Orochimaru, Naruto yang menghilang 3 tahun yang lalu" ucap salah seorang dari mereka yang mengenakan pakaian hitam "maksudmu, Naruto masih hidup? Bukankah kita sudah yakin kalau ia sudah mati, dan aku tidak mau merusak ketenangan tuan Orochimaru" kawannya membantah "tapi beliau menginginkan agar gadis bernama Hinata itu segera ditangkap hidup atau mati supaya tidak meresahkan. Beliau pasti ngamuk jika tahu kita bahkan tidak dapat mencari tempat persembunyiannya" sahut orang pertama "kurasa kita harus menggunakan akal licik" satu-satunya gadis di kelompok itu angkat bicara "apa maksudmu Ino?" Ino menyeringai licik lalu membisikkan sesuatu kepada teman-temannya "bagaimana?" mereka menangguk-angguk "baiklah, rencana itu cukup bagus, namun siapa yang akan menjalankannya?" seorang pemuda berkulit pucat mengangkat tangannya "bagaimana kalau Sasuke dan Sakura? " usulnya "ide bagus, tapi mereka berdua terkenal susah diajak kompromi. Kalau mau, kau saja yang menghubungi mereka, Sai" "baiklah" Sai mengangguk "aku juga ikut" Ino berdiri mantap. "Oke, Sai dan Ino akan ke tempat Sakura dan Sasuke, sisanya tetap lanjutkan pengejaran kalian terhadap Hinata. Rapat bubar!" putus pemimpin rapat itu

Ino melangkah menuju sebuah rumah tua di atas bukit. Rumah itu mungil namun menunjukkan kesan angker. Terlebih saat itu, senja mulai turun dan langit berubah menjadi jingga, benar-benar seperti dalam film horror. Gadis pirang itu mengangkat tangan dan mengetuk pintu kayu yang tampak kuno dan antic. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka diiringi duara derit menyeramkan dan sesosok wanita muda muncul "mau apa kau kemari?" Tanya wanita berambut pink itu. Ino membungkuk sopan "saya Yamanaka Ino, seorang anggota Bijuu dan saya ingin meminta bantuan anda, nona Sakura" "bantuan?" Sakura mengernyit "benar" dengan ringkas, Ino menceritakan apa yang ia inginkan "apabila anda berhasil, bayarannya sangat tinggi. Dan tentu saja tuan Sasuke juga kami ajak. Salah seorang rekan saya sedang menghubunginya" bujuk Ino. "hmm, aku tidak hobi melakukan hal sadis semacam itu" ucap Sakura ragu "Namun perlu anda ketahui, wanita bernama Hyuuga Hinata ini sangat berbahaya dan meresahkan warga. Jika ia tidak segera ditangkap, maka korban akan lebih banyak berjatuhan. Kini, tinggal anda dan tuan Sasukelah harapan kami" Ino berkata dengan nada memelas hingga akhirnya Sakura mengangguk "jika ia memang sekejam itu, aku setuju untuk melakukannya. Tapi bukan tidak mungkin aku akan berbalik mendukungnya jika ia ternyata tidak seperti yang kau katakan" kata Sakura sedikit mengancam "sekarang pulanglah, sisanya biar aku yang urus" lanjutnya. Ino mengangguk "ini ada sedikit dana, anggap saja sebagai uang muka. Kami benar-benar merasa terbantu"ucap Ino lalu menyelipkan sebuah amplop ke tangan Sakura, namun Sakura menepisnya "aku tak butuh itu sekarang" "baiklah" Ino membungkuk hormat sebelum melangkah meninggalkan Sakura.