Chapter 5 : Masa Lalu

Setelah Naruto dan Hinata meninggalkannya, Gaara memejamkan mata dan tertidur tak lama kemudian. Benaknya masih memikirkan ucapan Naruto tadi "aku bukan anak kandung mereka" Ini aneh, batin Gaara "setahuku Orochimaru dan Karin benar-benar mencemaskan Naruto. Aku pernah mendengar Karin menangis malam-malam. Apa itu bukan karena Naruto? Atau ada sebab lain?" sebelum sempat memikirkan alasannya, Gaara sudah tertidur pulas.

Pagi harinya saat Gaara terbangun, ia merasakan tubuhnya mulai pegal karena sudah 2 hari ia tidur terus. Karena itu, perlahan ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan kearah pintu. Kakinya tidak terlalu sakit lagi jadi pemuda gagah itu dapat berjalan-jalan dengan bebas. "Eh, kakak sudah sembuh ya?" sapa seorang anak laki-laki berpakaian kumal "ehh, ya.." jawab Gaara sedikit canggung. Maklum, dalam dunianya sebagai Bijuu, ia sangat jarang bertegur sapa dengan Bijuu-Bijuu lain. Para Bijuu itu berlomba-lomba menyelesaikan tugas yang diberikan secara individualistic. Bahkan tak jarang mereka mengorbankan teman sendiri untuk kepentingannya. Ia pun tak mengenal banyak anggota bijuu lainnya "Wahh… syukurlah kalau begitu, kemarin waktu kakak pingsan digigit ular, aku sempat takut lho" sambut sang anak itu lagi. Wajah mungilnya yang kotor menampakkan seulas senyum lebar. Melihatnya, Gaara tanpa sadar ikut tersenyum tipis. Anak itu kemudian kembali melanjutkan kesibukannya menyapu lantai. Lantai ubin itu tampak sangat berdebu dan kotor oleh pasir yang terbawa oleh badai semalam. Saat itu, Gaara merasakan perasaan aneh yang menyusup di sanubarinya, perasaan kasihan. "Swwuup" dengan satu kibasan tangan, pasir yang memenuhi tempat itu langsung melayang keluar tanpa sisa. "waaah…" anak laki-laki itu hanya bisa terbengong melihat kejadian aneh di depannya. "Rupanya itu kekuatanmu Gaara? Boleh juga" komentar sebuah suara ceria dari arah dapur. Gaara menoleh tenang dan melihat Naruto berjalan ke arahnya sembari membawa sebuah handuk kecil "Hmmm, ini cuma teknik dasar klan Sabaku" jawab pemuda berambut merah itu merendah. Naruto bertepuk kecil "kalau itu hanya teknik dasar klanmu, berarti kekuatanmu jauh lebih hebat dong. Pantas saja, dalam usia semuda ini kau telah menjadi seorang bijuu. Padahal, banyak pendekar-pendekar lain gagal menjadi Bijuu. Rupanya kini kau sudah menjadi pemuda yang hebat" lanjutnya memuji. Gaara hanya menatap pemuda mantan teman kecilnya tajam "jangan pura-pura, kau pasti juga tidak kalah kuat kan? Buktinya, kau bisa menjadi pacar gadis Hyuuga itu" "Eh, apa hubungannya pacar dengan kekuatan? Memangnya kalau mau menjadi pacar Hinata aku harus kuat?" tanya Naruto dengan tampang heran "gadis sehebat dia, mana mau dengan pemuda lemah?" balas Gaara tanpa menjawab pertanyaan Naruto secara langsung. "Lagipula, dari gerak-gerikmu, aku bisa menduga kalau kau menguasai paling tidak 2 jutsu, dan bukan sembarang jutsu dan ngomong-ngomong, kau berhutang penjalasan padaku" lanjutnya. Naruto menghela nafas "penjelasan mana yang mau kau ketahui?" "Sebenarnya semuanya. Tapi kurasa akan jadi cerita yang panjang. Bagaimana kalau kenapa kau ada di sini?"

Naruto duduk di satu-satunya sofa yang ada di ruangan itu dan memberi isyarat agar Gaara ikut duduk di hadapannya. "Sune-kun, pergilah kau ke dalam ya." Perintah Naruto pada anak itu, yang walaupun diucapkan dengan lembut tetap terdengar tegas membuat anak itu, Suna segera mematuhinya tanpa protes. "baiklah, aku akan menceritakannya padaku. Tapi setelah itu kau juga harus menceritakan tentang dirimu, deal?" Gaara mengangguk "deal" "Ok, semuanya berawal dari 2 tahun yang lalu…" Naruto memulai

-Flashback-

Naruto kini berumur 16 tahun. Tak terasa, sudah setahun dirinya kabur dari rumah Orochimaru dan hidup layaknya rakyat biasa. Supaya tidak mudah ditemukan, Naruto menyamar menjadi seorang gadis (Hehehe gomen Naruto, abis kamu kalau pas jadi cewek cantik sih) dengan nama samaran Usagi. Ia bekerja sebagai pelayan sebuah restoran kelas menengah yang terdapat di pinggiran kota, jauh dari keramaian dan prajurit sewaan ayahnya yang berkeliaran mondar mandir di jalan mencarinya. Karena kerapian, kejujuran, dan kerajinannya bekerja, Usagi sering mendapat bonus tambahan dari atasannya, seorang lelaki paruh baya berbadan gagah yang terkenal galak dan selalu menuntut anak buahnya agar bekerja dengan sempurna. Salah sedikit saja, anak buahnya bisa menjadi sasaran kemarahannya. Suatu malam setelah Usagi bekerja, bosnya itu memberi isyarat agar Usagi tidak pulang dulu melainkan memanggilnya masuk ke ruangannya. "Ya bos, ada apa memanggil saya?" tanya Usagi sopan dengan sedikit takut-takut setelah sang bos menyuruhnya duduk di hadapannya "Begini Usagi, aku sudah melihat hasil pekerjaanmu yang sempurna. Kurasa kau terlalu berharga untuk menjadi seorang pelayan rendahan" "ah, anda terlalu berlebihan memuji saya bos" kilah Usagi merendah "tidak tidak, aku tidak berlebihan. Semua itu kenyataan, jadi sebenarnya aku menawarkan kenaikan pangkat buatmu, menjadi seorang asistan manager. Bagaimana, kau mau?" tawar sang bos yang segera disanggupi dengan senang hati oleh Usagi.

Sebagai seorang asistan manager tugas Usagi kini bertambah yaitu mencatat segala pendapatan, pengeluaran, juga laba yang diterima restoran. Usagi juga harus mengawasi kerja para pelayan, koki, dan kasir. Memastikan kalau tidak ada di antara mereka yang berbuat curang apalagi menggelapkan uang restoran. Dan ya… selama beberapa bulan, Usagi dapat menghandle restorannya dengan baik tanpa mendapat kesulitan berarti. Tapi, semua berubah ketika suatu hari restoran kehilangan uang lumayan banyak. Setelah pencurian pertama itu, yang diikuti pencurian-pencurian lainnya, membuat pekerjaan Usagi mulai terancam. Direktur perusahaan walaupun tidak menyalahkan Usagi namun ia tampak kecewa dengan kegagalan Usagi menjaga keamanan restoran.

Seminggu setelah pencurian-pencurian itu terjadi, Usagi yang sedang dapat giliran jaga malam ia melihat seorang gadis seumurannya masuk ke sebuah bank yang terletak di seberang restoran tempat Usagi bekerja. Gerak gerik gadis itu tampak mencurigakan, apalagi tak lama setelah memasuki bank, gadis itu keluar sambil membawa sebuah karung yang menggelembung. "Jangan-jangan gadis itu pencuri…" batin Usagi curiga. ia segera berlari menyusul sang gadis yang kini tampak memasuki sebuah gang kecil. Menyadari dirinya dikejar, gadis itu mempercepat larinya dan mulai memperlihatkan kemampuan sebenarnya.

Setelah lumayan lama mengejarnya, sang gadis nampak memasuki sebuah gang buntu dan terpojok di sana, membuat Usagi dapat dengan mudah menyusulnya. "Siapa kau? Mau apa denganku!" bentak sang gadis "Justru aku yang ingin tanya begitu padamu. Apa isi karung yang kau bawa itu?" "Apapun isinya, ini bukan urusanmu" jawab gadis itu ketus. "Oya, karena itu berisi barang curian?" tanya Usagi tenang, ia mulai berjalan mendekati gadis berambut indigo panjang tersebut. "Barang curian? Aku tidak mengerti maksudmu" bantahnya dengan nada agak panik. "Aku sudah mengawasimu dari tadi nona. Aku tahu apa isi karung itu" "Oh ya? Kalau ini memang barang curian memang kenapa? Kau mau menangkapku? Coba saja" tantang sang gadis sambil meletakkan karungnya "Oh, punya nyali juga kau. Baiklah…" Usagi segera menyerang gadis itu dengan cepat. Hanya saja, ia belum mengeluarkan semua kemampuannya. Tapi, melihat kecepatan sang gadis dalam menangkis serta menyerang balik yang tidak dapat diremehkan, Usagi akhirnya mengeluarkan semua jutsu yang ia kuasai tanpa main-main lagi.

"Sudah cukup main-mainnya!" seru Usagi tiba-tiba. Secepat kilat, tangannya bergerak mendorong tubuh sang lawan ke dinding dan menguncinya. "Kau lumayan juga untuk ukuran seorang gadis" puji Usagi terengah-engah "Boleh aku tahu namamu nona?" tanyanya lagi. "Untuk apa? Apa perlunya kau tahu namaku?" balas sang gadis sama terengah-engahnya "Untuk berkenalan mungkin. Baiklah, kurasa aku lebih baik memperkenalkan diri dulu. Namaku Naruto, Uzumaki Naruto" kata Usagi tanpa sadar. "Uzumaki Naruto? Anaknya Orochimaru yang menghilang itu? Tapi setahuku dia laki-laki, dan kau perempuan" "Aku menyamar nona. Nama samaranku saat ini Usagi. Nah, aku sudah jujur padamu. Sekarang giliranmu menyebutkan namamu" tukas Usagi cepat. "Baiklah, namaku Hinata, Hyuuga Hinata" jawab gadis itu akhirnya. "Hyuuga Hinata ya? Nama yang bagus. Kenapa kau mencuri? Apa orang tuamu tidak mencukupi kebutuhanmu?" "Orang tuaku sudah meninggal. Mereka dibunuh ayahnu kalau kau mau tahu. Dan aku mencuri untuk membeli bahan makanan bagiku dan anak-anak lain yang keluarganya juga dibunuh dan dihancurkan oleh ayahmu" Hinata menjelaskan dengan nada benci.

Mendengar cerita Hinata, Usagi/Naruto ikut merasa bersalah. Akhirnya ia melepaskan Hinata dan malah membantunya mengenali semua jalan pintas di daerah ini. Setelah beberapa bulan berlalu, Hinata mulai mempercayai Naruto dan sebaliknya, Narutopun melai merasakan benih-benih cinta pada Hinata. Suatu malam, Naruto mengungkapkan perasaannya dan ternyata Hinata juga merasakan hal yang sama pada Naruto. Setelah mereka berpacaran, Naruto berhenti bekerja dan tinggal bersama Hinata serta anak-anak yatim piatu lainnya di gubuk tersebut.

-End of Flashback-