Hinata and Gaara

A fanfic Sunasiblings

Disclaimer: Gaara sama Hinata punya saya, yang lain diobral *Plakkk* Hehehe, punya Masashi Kishimoto ding…

Chapter 6 : Sang Pelacak

Sore itu, udara terlihat cerah. Langit dihiasi oleh awan-awan putih yang melayang ringan di langit, membiarkan mereka disirami cahaya jingga sang surya yang mengucapkan selamat malam. Keadaan di taman kecil di pinggir kota nampak sepi, hanya ada beberapa pasang muda mudi yang bercengkerama, menikmati keindahan alam bersama sembari bercakap-cakap mesra. Seorang gadis berjalan perlahan-lahan menuju sebuah bangku panjang kosong, ia mengenakan tank top bergaris-garis dan kakinya yang putih dan jenjang dibalut oleh celana jeans hitam. Tanpa memerdulikan pandangan heran para pengunjung taman yang kebanyakan mengenakan sweater untuk menahan angin musim gugur yang kencang, gadis muda itu duduk dengan anggun di bangku sembari jari-jari rampingnya memainkan rambut merah mudanya.

"Sudah lama?" seorang pemuda berbaju biru tua mendekati gadis itu

"Lumayan" sang gadis melirik jam tangannya sekilas

"Kau tepat waktu seperti biasa, Sasuke" sapanya tanpa melihat lawan bicaranya.

Pemuda yang dipanggil Sasuke itu menyunggingkan senyum tipis

"Dan kau selalu datang lebih awal Sakura. Jadi, mau pergi sekarang?"

Sasuke mengulurkan lengannya yang segera disambut oleh Sakura. Perlahan, mereka berdua berjalan pergi dari taman itu.

Sepintas, mereka nampak seperti pasangan biasa yang menghabiskan sore cerah seperti hari ini dengan berjalan-jalan berdua menikmati udara indah. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, tampak sebilah pisau berkilau dekat ikat pinggang sang pemuda, kontras dengan kemeja biru tua yang ia pakai. Mereka berdua berjalan cepat menuju sebuah café kecil berpenerangan remang-remang yang nampak tidak cocok bagi pasangan muda seperti mereka.

Sasuke membantu Sakura duduk dan memanggil pelayan "Kau mau pesan apa?" tanyanya pada sang gadis

"Hmm, hot capuccino saja deh" respon sang gadis tanpa melihat daftar menu.

Sasuke segera mengatakan pesanan mereka pada sang pelayan dan pelayan itu berlalu membawa nota pesanan.

Sasuke menatap Sakura tajam "Jadi, kau juga mendapat misi yang sama?" tanyanya langsung ke pokok masalah

Sakura mengangguk, tangannya tetap sibuk memainkan rambut panjangnya, menggelungnya, lalu melepasnya lagi seolah-olah itu adalah sebuah tali mainan.

"Hmm.. gadis yang menghubungiku, Ino bilang kalau dia memang mengajakmu dalam misi ini. Tapi tak kusangka mereka juga sudah mengirim orang untuk menghubungimu"

"Jangan lupa nona, mereka adalah Bijuu. Orang-orang terlatih yang menjadi pengawal tuan Orochimaru. Aku jadi merasa heran, sebenarnya siapa sih Hyuuga Hinata itu? Kenapa mereka sampai minta bantuan kita segala."

Obrolan mereka terputus saat pelayang kembali datang membawa dua gelas berisi hot capuccino pesanan mereka. Sakura menyesap capuccinonya dalam-dalam, seakan tidak terpengaruh suhunya yang menimbulkan asap diantara mereka.

"Kalau dia, aku pernah dengar. Hyuuga Hinata kabarnya adalah penerus terakhir clan Hyuuga. Klan yang terkenal dengan kemampuan tenaga dalamnya itu loh… kabarnya mereka punya mata ketiga yang bisa mendeteksi 'hawa' di sekitar mereka"

Sasuke mengangguk-angguk mendengar penjelasan Sakura

"Dan ngomong-ngomong, aku punya tambahan menarik. Kabarnya ini ada kaitannya dengan Uzumaki Naruto. Putra tuan Orochimaru yang menghilang"

"Hmm. Kasus ini membuatku penasaran. Ayo pergi, kita mulai"

"Tumben kau semangat Sakura"

"Hehehe" Sakura hanya nyengir "Kau juga kan?"

Sasuke mengangguk lagi. Keduanya segera berdiri, meninggalkan sejumlah uang dibawah gelas yang sudah tidak berisi, dan berjalan keluar meninggalkan café.

Walaupun kelihatannya mereka berjalan dengan santai, beberapa mrnit kemudian mereka sudah memasuki area pinggir yang merupakan perumahan kumuh di pinggir kota yang letaknya sekitar dua kilo dari café tempat mereka ngobrol tadi. Suasana di tempat itu benar-benar terasa suram. Walaupun tidak banyak orang yang berada di luar rumah, kebanyakan anak kecil, namun setiap orang yang menginjakkan kaki di sana pasti merasakan suasana yang tidak enak. Sakura bergidik sedikit

"Kalau mereka berbohong dan Hinata ternyata tidak seperti yang mereka katakan, aku benar-benar akan membunuh mereka" desisnya

Sasuke mendesah "Kau terlalu baik Sakura."

"Aku hanya tidak mau kita membunuh orang yang salah"

"Lihatlah.."

Pemuda itu menunjuk seorang anak perempuan sedang memunguti sampah yang berceceran di jalan. Memilah yang masih dapat dipakai dan memasukkannya ke kantong plastik yang dibawanya. Wajah anak itu kotor dan tidak terurus, namun pancaran matanya berkesan 'hidup' seperti layaknya anak-anak pada umumnya. Sakura mengamati anak itu sebentar kemudian tangannya merogoh kantung celananya, mengambil sehelai foto yang diberikan Ino padanya. Matanya bergantian menatap sang bocah dan foto di tangannya. Tak lama kemudian, sebuah senyum terkembang

"Target locked. Mission begins"

Ruang rapat kembali dipenuhi oleh orang-orang berbaju hitam, bertampang sangar yang terlihat khawatir. Tak lama setelah semua bangku terisi, sang pemimpin kembali membuka rapat

"Kalian tahu, tuan Orochimaru minta agar gadis itu segera dibereskan. Ia mulai tidak sabar lagi. Sebentar lagi akan ada pemilihan umum dan beliau ingin agar penduduk kota melihat kalau beliau mampu menangkap orang yang selama ini sudah mengganggu ketentraman dengan meresahkan warga"

"Sabarlah Shikaku. Kita sudah mengerahkan seluruh kemampuan kita. Juga minta bantuan pada Sasuke dan Sakura. Kita pasti dapat menangkapnya tak lama lagi"

"Tapi kapan mereka akan mulai bergerak? Gadis Hyuuga itu lebih licin dari belut. Aku bukannya meragukan kemampuan mereka, tapi tugas ini harus cepat-cepat diselesaikan"

Ino yang merasa bertanggung jawab, karena bagaimanapun idenyalah untuk meminta bantuan mereka, akhirnya angkat bicara "Mereka sudah mulai. Aku lihat tadi sore"

Sang pemimpin mengangguk puas "Bagus. Dan kalau ini tidak berhasil, aku yang akan mengadukanmu ke bos, Ino" ancamnya sebelum membubarkan rapat.

Sakura mengendap-endap mendekati gadis kecil yang sedang mengumpulkan barang rongsokan itu. Langkah kakinya tidak menimbulkan suara sedikitpun saat beradu dengan aspal dan bahkan gadis kecil itu tidak menyadari keberadaan Sakura yang hanya berjarak beberapa senti di belalkangnya. Bagai ayunan sabit malaikat pencabut nyawa, tangan Sakura bergerak cepat menepuk pundak sang anak. Membuatnya terkulai tak sadarkan diri.

"Kau yakin ini aman Sakura? Apa gadis Hyuuga itu benar-benar tak akan melihatnya?" Sasuke bertanya khawatir.

Sakura mengelap tangannya yang berlumur darah dan menegadahkannya di hadapan Sasuke "Aku sudah terlatih. Cepat, mana kameranya?"

Sasuke menyerahkan sebuah benda mungil hitam kepada Sakura yang bergegas memasukkannya ke dalam daging gadis kecil yang pingsan itu. Lap putih yang mengelilingi sayatan buatan Sakura tampak memerah karena darah. Dengan cekatan, setelah kamera kecil itu aman tersembunyi dalam tubuh sang gadis, Sakura menekankan tangannya pada bekas luka itu. Sebuah cahaya kehijauan berpendar di tangan Sakura, melingkupi luka itu. Dan secara ajaib, luka itu menutup dan mengering dengan cepat. Seolah-olah tidak pernah ada luka di bahu gadis kecil itu. Sementara itu, Sasuke sibuk membersihkan darah yang berceceran di tempat itu dan mengelap pisaunya yang memerah karena digunakan untuk menyayat oleh Sakura.

Setelah semuanya beres, Sakura membaringkan anak itu dalam posisi yang lebih enak dan mengambil sebuah botol berisi parfum. Ia membuka tutup botol parfum itu di bawah hidung sang anak, membuatnya menggeliat dan membuka mata perlahan. Namun, ketika sang anak membuka mata, ia mendapati dirinya terbaring sendirian di pinggir jalan berdebu. Walaupun, ia melihat dengan cermat, ia tetapa tidak menemukan sosok kedua orang yang telah membuatnya pingsan. Mereka berdua menghilang begitu saja seperti hantu.

Tbc

Halo semua, saya balik lagi…. *Teriak-teriak gaje*

Maaf ya, sudah lama banget hiatusnya. Sekarang testnya udah selesai, jadi mogain aja bisa update teratur. Mau saya sih update setiap Senin/Selasa. Moga-moga kesampaian.

Yah, semoga readers ga kecewa dengan part 6 ini… Happy reading.

Jangan lupa lho, reviewnya