Hinata and Gaara
A fanfic Sunasiblings
Disclaimer: Ya ampun, berapa kali sih saya harus ngulangi? Au ah, readers pasti udah tau kan, Naruto itu punya siapa? Yang nggak tau boleh nganggep Naruto punya saya hehe *Digaplek om Masashi*
Chapter 7 : Kenangan Masa Lalu
Gaara memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa tua yang sedikit berdebu itu. Ia membiarkan semua informasi yang dikatakan Naruto beberapa saat yang lalu meresap, memasuki belahan otaknya yang masih setengah tidak percaya. Jadi, Naruto kabur, menyamar jadi wanita, dan bentrok dengan Hinata. Lalu, apa mungkin Naruto dengan begitu mudahnya bisa memercayai cerita Hinata, bahkan berteman dengannya? Ini mustahil. Image Hinata di hadapan tuan Orochimaru sudah begitu jelek, Naruto seharusnya curiga dengan penjelasan Hinata. Atau, jangan-jangan …
Gaara menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran buruk yang melintas di pikirannya. Tidak, Naruto bukan orang seperti itu, Gaara tahu betul. Walaupun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, Gaara yakin kalau Naruto bukan tipe orang yang kejam.
"Melamun?"
Gaara terlonjak kaget mendengar suara feminim yang tiba-tiba terdengar begitu dekat dengannya
"Hyuuga-san?"
Hinata tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya, memegang senampan makanan
"Makanlah, kau pasti lapar" tawar Hinata ramah
Gaara menerima makanan itu dan menatap Hinata. "Dia tampaknya bukan tipe gadis kejam. Tingkahnya begitu lembut"
"Naruto-kun sudah cerita padamu ya?" tanya Hinata lagi
Gaara mengangguk "Ya"
"Tapi, kami belum tahu tentangmu. Naruto hanya tahu kau sebelum kau tiba-tiba menghilang. Sebenarnya, apa yang terjadi? Aku ingin tahu, bila kau tidak keberatan menceritakannya"
Gaara terhenyak mendengar permintaan Hinata. Dadanya tiba-tiba terasa perih seperti tertusuk oleh pecahan kaca. Pecahan kaca yang bernama penyesalan.
Hinata pastilah melihat perubahan ekspresi Gaara karena kemudian ia mendesah "Aku tidak memaksamu Gaara-san. Tidak apa-apa jika kau tidak mau…"
"Tidak apa-apa Hyuuga-san. Aku tak bisa menghindar terus kan" potong Gaara tajam.
Hinata mengangguk dan duduk di sebelah Gaara. Memperhatikan pemuda itu membuang nafas keras-keras seolah-olah berusaha menguatkan dirinya sendiri sebelum mulai bercerita
Flashback
"Gaara… kau adalah satu-satunya harapan bagi klan Sabaku. Aku sudah mengajarkan semua yang ilmuku padamu, sudah tak ada lagi yang bisa kulakukan. Para penjahat itu makin dekat. Pergilah!"
Gaara, yang saat itu masih berusia 10 tahun hanya bisa menangis mendengar perkataan ayahnya yang terbaring sekarat di dipan kayu. Sementara itu, ibunya sibuk membersihkan darah yang mengucur dari luka terbuka akibat perut sobek sang ayah.
"Ayah… jangan tinggalkan aku" isak Gaara kecil
Ayahnya terbatuk, memuntahkan darah segar "Ayah harus. Pergilah Gaara.."
Selagi mereka bercakap-cakap, suara-suara bising mulai terdengar dari luar rumah. Suara itu adalah suara-suara para penjahat bertopeng hitam yang telah melukai ayah Gaara. Mendengar suara itu, ayah Gaara mendorong Gaara dengan sisa tenaga yang dimilikinya, menyuruh putranya itu segera lari. Kali ini Gaara tidak membantah. Diantar ibunya, bocah itu melarikan diri lewat pintu belakang. Ia menutupi telinganya sehingga tidak mendengar jeritan ibunya dan teriakan kematian ayahnya. Bocah itu terus berlari hingga kakinya tak sanggup bergerak lagi dan iapun terjatuh di kegelapan malam. Saat itu, Gaara menoleh memandangi pondoknya. Dan mendapati pondok mungil itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya, nyala api menerangi seluruh hutan, berasal dari tempat di mana seharusnya rumah keluarga Sabaku berada. Gaara hanya bisa memandang hampa pada api unggun raksasa itu, menyaksikan tanpa daya saat sang api menjilat, melahap pondok beserta kedua orang tua Gaara, menelannya hingga gaara tak akan dapat bertemu mereka lagi. Samar-samar, Gaara dapat melihat beberapa sosok bertopeng mengelilingi api itu, mereka menari-nari sambil menyanyi gembira. menyaksikan kehancuran klan Sabaku.
Gaara tidak tahu apa kesalahan keluarganya sehingga mereka begitu bernafsu ingin menghabisi keluarga Sabaku. Gaara juga tidak tahu siapa mereka, apa hubungannya dengan kedua orang tua Gaara, atau apa yang pernah diperbuat keluarga Sabaku sehingga mereka menjadi begitu dendam. Yang ia tahu, ia merasa begitu benci pada orang-orang itu. Ia begitu benci karena mereka telah merampas apa yang paling berharga dalam hidup Gaara. Kedua orang tuanya…
Pagi menjelang, kicauan burung-burung membangunkan seorang bocah 10 tahun dari tidurnya di tengah hutan. Mata bocah tersebut terlihat bengkak, tanda ia menangis hingga jatuh tertidur. Tak ada senyum di wajahnya yang tampan. Yang terlihat hanyalah sorot kekosongan, dan dendam. Ya, dendam ingin membalas kematian kedua orang yang paling ia cintai.
Bocah itu, Gaara, melangkah memasuki keramaian pasar. Perutnya yang keroncongan membuatnya memungut makanan apa saja yang telah dibuang orang ke tempat sampah. Sungguh, cara hidup yang menginjak harga dirinya sebagai klan Sabaku. Namun, ia bertekad untuk tetap bertahan hidup demi menyelesaikan tugasnya. Tugas yang ia yakini merupakan tujuan hidupnya saat ini.
"Sudah dengar? Hutan tadi malam kebakaran lho.."
Sebuah suara wanita masuk ke ruang lingkup pendengaran Gaara. Rupanya ibu-ibu yang bergunjing sambil berbelanja. Hati Gaara terasa sedikit pedih saat melihatnya. Ia teringat ibunya yang juga senang mengobrol sambil berbelanja, atau sekedar menyempatkan diri mengunjungi rumah tetangga untuk bergosip. Gaara ingin menghindari kedua wanita itu karena mereka mengingatkannya akan ibunya yang tiada. Namun, pembicaraan mereka menarik perhatian bocah itu
"Ya, aku tahu. Anak buah tuan Orochimaru kan, yang pertama kali menemukannya"
"Ya, dan mereka kesulitan memadamkan apinya. Padahal sudah pakai masker. Tapi, tetap saja ada yang terluka. Kena serangan binatang yang panik katanya. Kasihan lho, salah satu tangannya sampai terpuntir aneh.."
"Terpuntir aneh?" ingatan Gaara langsung membayang pada salah satu penjahat bertopeng yang berhasil dilukai ayahnya. Ayahnya berhasil memelintir tangan sang penjahat dan menusuk perutnya.
"Perutnya juga luka, kasihan sekali dia. Sudahlah, sampai jumpa, aku harus cepat pulang" tanggap wanita satunya dengan nada prihatin sebelum ia kembali berjalan meninggalkan teman bergosipnya.
Gaara segera menjauh dari keramaian pasar. Ia benar-benar yakin kalau para penjahat bertopeng itu adalah anak buah Orochimaru, pemimpin kota Oto. Tapi kenapa? Dan bagaimana bisa Gaara membalas dendam? Bocah itu terus memikirkan berbagai kemungkinan caranya selama berhari-hari.
Kemudian, seakan menjawab doanya, sebuah iklan ditempel besar-besar di jalan-jalan kota. Iklan tentang diadakannya sekolah latihan keprajuritan bagi anak-anak yang ingin menjadi prajurit. Senyum licik terkembang di bibir mungil Gaara saat ia bergabung di barisan untuk mendaftar di sekolah tersebut.
Dengan cepat, Gaara menjadi murid paling menonjol di sekolah. Latihan yang diajarkan ayahnya mampu mengesankan para senior dan Orochimaru sendiri. Mudah ditebak, dalam waktu 5 tahun, Gaara sudah direkrut menjadi prajurit tetap. Dan setahun kemudian, ia menjadi seorang Bijuu termuda yang pernah ada. Sebagai seorang Bijuu, Gaara diberi tugas untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor untuk Orochimaru, yang membuat Gaara makin membenci Orochimaru. Sayangnya, sampai ia ditugaskan untuk memburu Hinata, Gaara sama sekali belum menemukan cara untuk membalas dendam orang tuanya.
Flashback End
Maaf, updatenya telat. Kemarin mau update tapi internetnya lemot banget, bikin kesel #curcol
Ngomong-ngomong, ada berita buruk nih
Readers: Ah, masa siah?
Jadi, besok Senin itu saya mau berangkat pergi liburan sampe 10 Juli. Jadi kemungkinan besar ga bisa update dalam waktu-waktu ini. Jadi, hiatus dulu ya… Gomenasai
Semoga Chapter yang ini nggak ngecewain readers ya…
Maaf, adegan actionnya belum banyak buat saat ini. Sekarang baru pengenalan latar belakang tokoh dulu. Mungkin chapter depan sudah mulai ada pertarungannya dikit.
Jangan lupa, Review sangat diharapkan…
Arigato
