Hinata and Gaara

A fanfic Sunasiblings

Disclaimer: Udah tau semua kan? Jadi saya ga usah ngulangi dong :P

Chapter 9: I'm, Tricked?

Suasana di ruangan gelap itu sangat sunyi. Hanya terdengar suara dengkur halus seorang gadis muda yang sedang terlelap di atas sebuah kasur berukuran single. Rambut pirang panjangnya tergerai menutupi bantal serta separuh wajah cantiknya. Bayang-bayang sebuah lemari pakaian yang terdapat di sudut serta sebuah meja rias yang tersiram cahaya bulan dari jendela yang dibiarkan terbuka terlihat seram dan mengancam. Dalam kegelapan itu, samar-samar tampak sekelebat bayangan berpakaian hitam-hitam melesat di antara pepohonan yang berjajar rapat di sekeliling ruangan itu.

Sosok tersebut melompati jendela yang terbuka dan memasuki ruangan itu. Dengan anggun, ia berputar saat mendarat. Kibasan jubahnya menimbulkan hembusan angin dingin yang menerpa sang gadis. Gadis itu melenguh sedikit dalam tidurnya dan mengubah posisinya, namun ia tidak terbangun.

"Maaf, tapi ini perintah, Ino-san" bisik sosok itu. Tangannya bergerak memasuki jubahnya dan menarik keluar sebuah kunai yang berkilat. Tanpa basa-basi, ia mengayunkan kunai itu. Sasarannya hanya satu, dada sang gadis yang terbuka dan tidak terlindungi

"Tap"

Sebuah tangan menghentikan laju kunai itu tepat sebelum ujung tajamnya menyentuh dada sang gadis

"Apa yang…?" sang penyerang terbelalak kaget melihat kejadian itu, apalagi saat korban yang diincarnya, Yamanaka Ino, membuka mata sambil melempar kunai di genggaman pria itu

Ino menatap penyerangnya dengan tenang "Kau tidak berpikir kalau kedatanganmu itu tidak kuketahui kan?"

"Sial…" maki sang penyerang. Ia melompat mundur sambil mengambil sepasang kunai lain dari balik jubahnya. "Percuma Ino-san, walaupun kau melawan, hasilnya akan sama saja. terimalah kematianmu" ucapnya sembari melemparkan kedua kunai itu.

Ino bersalto menghindari kunai-kunai itu, dengan cepat, ia meraih benda terdekat yang dapat diraihnya dalam gelap. Tangannya meraba sesuatu yang keras dan berat. Tanpa pikir panjang, dilemparnya benda itu ke tempat yang ia perkirakan merupakan tempat sang musuh berada.

"PRRAAANNG" Bunyi barang pecah yang memekakkan telinga terdengar dan percikan api pun berkilat dalam gelap. Sekilas, namun cukup bagi Ino untuk dapat melihat dan mengenali siapa penyerangnya

"Kabuto.." geram gadis itu. Ia tidak habis pikir kenapa pria itu justru menyerangnya. Bukankah ia adalah seorang Bijjuu, bawahan Kabuto?

"Sayang sekali Ino-san" samar-samar Ino dapat melihat gerakan pelan di ujung lain kamarnya "Aku tidak akan membiarkanmu hidup setelah kau mengetahui identitasmu"

"Kenapa kau ingin membunuhku? Kau mengkhianati Tuan Orochimaru?" tanya Ino. Mata biru sapphirenya melebar waspada. Tidak sedikitpun ia mengalihkan pandangannya dari bayangan samar-samar Kabuto. Memang, kamar Ino sangat gelap, satu-satunya penerangan yang ada hanyalah seberkas cahaya bulan yang masuk melalui jendela, namun mata Ino bukanlah mata biasa. Ia sudah terlatih untuk membedakan jarum dan jerami dalam jarak sepuluh meter pada malam tanpa bulan, kegelapan seperti ini bukan apa-apa baginya. Tangan gadis itu meraba-raba di belakang tubuhnya "Padahal tuan Orochimaru sangat memercayaimu. Aku tidak percaya kau mengkhianatinya" desisnya sengit

Kabuto tertawa "Aku tidak mengkhianatinya. Tuan Orochimaru sendiri yang menyuruhku membunuhmu"

"Apa?" gerakan tangan Ino terhenti ketika tangannya menemukan benda yang ia cari

"Baiklah, berhubung kau akan mati, akan kuberitahu semua padamu" Kabuto menghela nafas, menyandar santai pada tembok dan menceritakan secara ringkas tentang rencana balas dendam Orochimaru pada Gaara, Hinata, Naruto, Sakura, dan Sasuke. Juga tentang tipu muslihatnya agar mereka berlima saling bertarung satu sama lain.

Semakin mendengar penuturan Kabuto, muka Ino semakin memerah dan amarahnya mulai menggelegak. Ketika akhirnya Kabuto menyelesaikannya, Ino sudah nyaris tidak dapat menahan emosinya

"Sial… Seharusnya aku tahu kalau tuanmu itu sangat busuk" makinya sambil meludah getir. Diam-diam, penyesalannya karena melibatkan Sakura dan Sasuke mulai muncul. Memang, Ino adalah seorang Bijuu, tapi ia bukan orang tak berperasaan. Kini, untuk pertama kalinya perasaan kasihan menyusup di hatinya

Ino melompat menyerang Kabuto, tangannya, yang rupanya tadi menyambar pedang hiasan di dinding, mengayunkan pedang itu membabi buta dengan kecepatan kilat. Namun, Kabuto sebagai bawahan kepercayaan Orochimaru juga memiliki kemampuan yang tidak dapat diremehkan. Ia meliuk-liukkan tubuhnya menghindari sabetan-sabetan pedang Ino sambil menyambar apa saja yang bisa dijadikannya tameng. Suara benda pecah dan makian-makian samar terdengar memecah keheningan malamm. Sayangnya, kamar kontrakan Ino berada jauh dari pemukiman sehingga tidak ada seorangpun yang mendengar semua keributan itu.

Kabuto melempar jarum-jarum beracun ke arah Ino "Terima saja nasibmu Ino-san. Waktumu sudah habis"

"Tidak akan… Aku tidak akan mati di tanganmu" Ino menepis jarum-jarum itu dan melemparnya kembali ke arah Kabuto yang melompat menghindar sehingga jarum-jarum itu menancap di tembok, dengan racunnya menetes-netes

Kabuto memandang jarum itu dan menyeringai "Kau memang hebat, Ino-san. Tapi tetap tidak sebanding denganku" bisiknya dengan suara yang seram

"Dalam mimpimu!" sengir Ino sambil kembali menyerang Kabuto betubi-tubi "Keluar dari kamarku dan enyah dari hidupku, kau dan tuanmu itu. Semoga kalian membusuk di neraka!" makinya sengit

Ino memang bukan gadis biasa. Seluruh gerakannya halus tanpa pukulan yang sia-sia. Dalam beberapa menit kemudian, Kabuto sudah mendapat luka menganga di perut, hasil sabetan pedang Ino yang sudah terkenal ketajamannya itu. Namun, Kabuto juga bukanlah anak kemarin sore yang baru belajar bertarung. Ino harus menghadapi kenyataan kalau tubuhnya sudah tergores sana-sini dan gaun tidur biru mudanya tercompang-camping serta berbercak darah.

"Hhh.." Kabuto membuang nafas berat "Ini semakin merepotkan. Ayolah Ino-san, jangan menyulitkanku. Aku masih harus membereskan Kojiro Sai malam ini juga. Kau tidak mau aku kena marah Orochimaru-sama kan?"

Ino membelalak mendengar ucapan Kabuto itu "Memberes…kan? Membunuh? TIDAKK!" Jeritnya parau "Tidak akan kubiarkan kau membunuh Sai, ular licik. Langkahi mayatku dulu kalau kau mau melakukannya" ancam Ino keras. Pancaran matanya nampak membara, aura merah darah menguar dari tubuhnya, menegaskan seberapa besar kemarahan gadis itu

Kabuto mundur beberapa langkah melihat aura baru yang mengancam itu. Ia mendorong kacamatanya agar dapat melihat lebih jelas dan tersentak.

Ino masih memakai gaun tidurnya yang sederhana dan compang camping. Darah juga masih menetes dari luka-luka di sekujur tubuhnya. Namun, pancaran energi baru merasuk melingkupi tubuh gadis itu. Pancaran energi yang timbul karena keinginannya melindungi pria yang ia cintai..

"Cih" Kabuto mengeluarkan sebutir pil biru dari saku bajunya. Ia melahap pil itu dan beberapa saat kemudian, tubuhnya serasa dialiri tenanga baru. Pria itu menatap tangannya yang kini diselimuti cahaya biru. Chakranya yang sempat terkuras habis, kini pulih kembali. Ia menatap Ino sambil tersenyum sadis dan menyerangnya tanpa basa-basi.

Pertarungan kali ini lebih mematikan, karena baik Ino maupun Kabuto telah mengerahkan kemampuan terlarang mereka, yang sebenarnya berbahaya bagi mereka. Namun, mereka sudah tidak peduli, asal keinginan tercapai, mereka tidak perduli dengan konsekuensinya

Sayangnya, ada seseorang yang memutuskan ikut campur dalam pesta kali ini….

Kamar besar itu gelap gulita. Ranjang-ranjang susun yang berderet di dalamnya nyaris tidak terlihat. Satu-satunya yang mengindikasikan kalau ruangan itu tidak kosong adalah suara tarikan nafas dan dengkur teratur dari sosoksosok yang berbaring di ranjang masing-masing. Di gantungan dekat pintu, tergantung berderet-deret seragam coklat dengan lambang ular berwarna ungu melingkar di lengan kanan. Seragam pengawal pribadi Orochimaru dan juga ada beberapa seragam dengan kesan lebih mewah, seragam milik para Bijuu yang berpangkat rendah. Dan salah satunya adalah seorang pria muda berperawakan sedang dengan rambut hitam cepak membingkai rambutnya. Sehari-hari, pria itu terkenal tidak pernah melepas senyum dari bibirnya, senyum yang ia anggap indah, tapi menurut orang yang melihatnya, senyum palsu.

Pria itu mendengkur ringan di ranjangnya yang berada tepat di depan sebuah jendela besar. Satu-satunya jendela di barak itu. Ia mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hitam dan diselimuti dengan sehelai selimut garis-garis. Tanpa ia sadari, sepasang mata hitam mengawasi dari kegelapan di luar. Mata itu mengerjap dan berubah merah. Dan beberapa saat kemudian menghilang.

"Ssshhhh…."

"Ssshhh…."

Satu persatu pria di barak terbangum mendengar suara desisan aneh itu, dan detik berikutnya mereka langsung terduduk ketika menyadari suara apa itu.

"Gas! Ada gas bocor!"

Suara teriakan-teriakan panik menggema membelah kesunyian malam. Kepanikan para lelaki yang tengah beristirahat itu membuat sang pria yang tertidur dekat jendela memmbuka mata dan dengan cepat, ia memindai keadaan sekitarnya

"Tenang semua!" ia berteriak kencang. Suaranya menggelegar mengatasi segala teriakan panik rekan-rekannya, membuat mereka semua membeku kaget

"Tenang semua, jangan panik! Kalian yang di sana!" ia menunjuk sekelompok orang yang langsung berjengit "Periksa saluran air, kalian" ia menunjuk sekelompok orang lain "Periksa daerah luar. Dan yang lain, berpencar mencari hal yang mencurigakan!"

Semua orang bergegas melakukan apa yang diperintahkan, dan pria itu juga tidak tinggal diam. Ia melompat dari ranjangnya di atas, menengok sekilas ke jendela dan ikut sibuk memeriksa sekeliling.

Sementara itu, sepasang mata beriris merah mengawasi keributan di barak. Ia tersenyum kecil melihat kepemimpinan sang lelaki

"Hmm, kau memang berjiwa pemimpin Sai-san. Tapi sayang, semua sudah terlambat" bisiknya "Ular busuk, nikmati tidurmu malam ini karena esok akan menjadi hari yang melelahkan bagimu"

Dengan satu lompatan, pemuda berjubah hitam dengan motif awan merah itu sudah mendarat ringan di ranting pohon Sakura besar "Selamat tinggal, ular-ular kecil. Maafkan perbuatanku, tapi aku ingin membalas dendam pada majikan kalian" desisnya.

Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuat serangkaian gerakan rumit dengan tangannya. Lalu dengan bunyi berhembus pelan, semburan api raksasa menyembur dari mulutnya.

Pria itu menyemburkan api selama beberapa saat. Dan setelah api dari mulutnya padam, bola matanya berubah menjadi hitam pekat, ia menonton kebakaran hebat di barak sengan seulas senyum puas. Baginya, jeritan-jeritan kematian para korbannya merupakan musik yang indah di telinganya

"Sasuke, selanjutnya aniki serahkan padamu. Berjuanglah, otoutou. Lipat gandakanlah dendammu pada aniki dan Orochimaru. Lalu, balaskan dendam tousan dan kaasan"

Tanpa diduga, pria itu menceburkan diri kedalam kobaran api yang langsung berkobar lebih hebat saat menyambut tubuh baru tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara ledakan keras yang memekakkan telinga dan barak tempat tinggal para pasukan kepercayaan Orochimarupun musnah, beserta seluruh isinya.

TBC

RnR please…