Disclamers : : Tite Kubo

Title : : I can change you!

Warning : : GAJE, ABAL, OOC, BAGI YANG GAK SUKA, LANGSUNG AJA KELUAR! :p

"Selamat pagi, Kurosaki Rukia!"

"Pagi, Rukia-chan!"

"Hey, itu Kurosaki Rukia, haha,"

Damn it! Mulai pagi ini, entah siapa orang yang memulainya, semenjak kejadian kemarin, aku dijuluki Kurosaki Rukia oleh siswa-siswa di sini. Gara-gara kejadian Kurosaki Ichigo brengsek yang kemarin menciumku di depan umum, para siswa mulai banyak mengira bahwa aku dan Ichigo pacaran. Pacaran? Oke, aku akui Ichigo memang tampan dan masuk lelaki idaman untuk kebanyakan gadis. Tapi bagaimana mungkin jika lelaki itu sikapnya buruk dan menyerupai iblis itu bisa diterima oleh kebanyakan gadis? Huh. Dia itu cuma menang tampang saja.

"Pagi, Kurosaki-chan!" lagi-lagi seseorang memanggilku seperti itu.

"Kumohon berhentilah memanggilku dengan nama seperti itu, Hinamori. Namaku ini Kuchiki Rukia, bukan Kurosaki Rukia!" kataku dengan mual begitu menyebutkan 'Kurosaki'. Tidak hanya Hinamori, Tatsuki dan Inoue pun ikut menghampiriku yang baru saja tiba di kelas yang kemudian duduk di kursi.

"Kuchiki, bagaimana rasa ciuman Ichigo kemarin? Sepertinya kau juga ikut menikmati ciuman panas itu, hihi."

"Kurosaki benar-benar tidak tahu malu. Dia tidak memikirkan perasaanmu yang begitu malu karna di cium di depan banyak murid ya!"

Oh, sudahlah. Aku muak dengan pembicaraan pagi ini yang selalu membicarakan Kurosaki brengsek itu. Bodohnya aku sempat berfikir untuk minta maaf padanya gara-gara dia dibuat babak belur oleh Nii-sama. Dan pada akhirnya setelah mendapat pukulan Nii-sama, dia tetap tidak jera dengan kelakuannya!

Aku sesaat melirik ke arah pintu kelas. Pintu itu dibuka oleh seseorang yang selalu membawa gerombolannya. Tidak lain dan tidak bukan tentu saja dia Kurosaki Ichigo. Ichigo dan gerombolannya memasuki kelas. Aku memandangnya dengan sinis. Rasanya dendamku kembali muncul begitu melihat gerombolan laki-laki mesum itu. Karna terlalu fokus memandang Ichigo dengan dendam yang terus membayangiku, tanpa sadar ternyata Ichigo sedari tadi membalas tatapanku padanya itu. Mata hazelnya menyiratkan tatapan menantang, tatapan yang paling tidak aku sukai! Senyum licik juga mulai nampak di wajahnya.

"Hey Ichigo, kau tidak bersenang-senang dulu dengan kekasihmu?" kata Renji sambil menepuk bahu Ichigo dan menunjukku yang hanya diam menatapnya dengan emosi. Pemuda berambut oranye itu menoleh kepadaku lalu menyeringai.

"Ini masih pagi, waktu bersenang-senangku kan malam hari." sialan! Jawabannya itu ditunjukkan padaku. Jangan harap aku mau bersenang-senang denganmu saat malam, brengsek!

Ah, bagus! Dia dan kawanannya itu mendekatiku! Semakin dekat, dekat dan sampai pada akhirnya dia berdiri di depan bangkuku.

"Mau apa kau?" kataku sinis.

"Mengucapkan selamat pagi pada kekasihku, Kurosaki Rukia," jawabnya. Sontak aku menggeram marah. Belum sempat aku memakinya, pemuda itu menundukkan kepalanya dan dengan santainya mencium pipiku.

"Kyaaa~! Kurosaki nekat!" sama seperti kemarin, sekarang semua mata para murid yang ada di kelas langsung memandangiku. Aku kembali dibuatnya malu di depan semuanya. Ichigo dengan cepat menjauhkan wajahnya setelah mencium pipiku. Setelahnya ia tersenyum puas ke arahku.

"Pagi ini parfum lavender kan," ucapnya dengan seringaian yang menjadi ciri khasnya itu. Mukaku langsung merah padam dengan perasaan marah dan malu. Bagaimana bisa dia menebak parfum yang aku pakai saat ini.

Setelah puas mempermainkanku pagi ini, Ichigo dan kawanannya kemudian pergi dari hadapanku dengan gelak tawa yang menandakan mereka telah puas dengan tontonan ciuman tadi. Sial, kenapa aku tidak bisa membalas perbuatannya! Aku merasa seperti pasrah tadi saat Ichigo mencium pipiku.

"Wah, mesranya Kurosaki Rukia. Pagi-pagi sudah dapat ciuman mesra dari kekasih." ledek Hinamori dengan nada menggoda.

"Sudah kubilang aku bukan kekasih Ichigo brengsek itu!"

# # #

"Aku masih penasaran dengan yang kemarin. Apa kau benar-benar sudah sadar dari kemesumanmu terhadap perempuan, Ichigo?" pertanyaan dari Ishida di atap sekolah itu membuat Ichigo mengalihkan pandangannya yang awalnya ke langit kini teralih ke arahnya yang kemudian juga diikuti dengan Renji, Kaien dan Kokuto.

"Tentu saja. Aku sekarang jadi tidak tertarik dengan perempuan lain. Aku hanya tertarik pada gadis Kuchiki itu. Apa aku kelihatan meragukan?"

"SANGAT!" jawaban singkat dan jujur dari gerombolan Ichigo membuat Ichigo pundung.

"Rasanya benar-benar tidak mungkin kalau kau bisa tahan tidak menyentuh perempuan. Aku berani taruhan, sebentar lagi kau akan menyentuh perempuan yang ada di dekatmu!" kata Kaien sambil memainkan game di ponselnya. Yah, itulah hobinya, seorang gamer sejati.

"Kau berani pasang berapa?" sahut Renji.

Kaien tertawa mendengar kalimat yang diucapkan Renji. "Ayolah, aku hanya bercanda. Aku tidak suka taruhan. Lebih baik uangnya aku gunakan untuk beli cd game terbaru!"

Ichigo hanya tersenyum tipis mendengar ocehan-ocehan temannya. Yah, siapa sangka dirinya bisa benar-benar dibuat berubah oleh Kuchiki Rukia. Ichigo sekarang menganggap gadis itu sebagai kekasihnya, padahal gadis itu sendiri tidak menganggapnya kekasih. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia masih menyimpan sedikit dendam pada Rukia, yaitu dendam saat dia dikerjai hampir bercinta dengan seorang laki-laki. Dahinya mengkerut begitu membayangkan betapa menjijikannya dia telah memegang sesuatu yang dibanggakan oleh seorang laki-laki.

Tiba-tiba terbesit ide di otaknya. "Hey teman-teman!" panggil Ichigo pada semuanya. Semuanya menoleh merespon panggilan Ichigo.

"Di rumahku saat ini sedang sepi karna semua keluargaku sedang kerja di luar daerah Karakura sekaligus mereka liburan selama 4 hari. Kalian mau berpesta di rumahku malam ini?" tawaran menarik Ichigo membuat semuanya tersenyum lebar. Pesta? Wah, itu adalah sesuatu yang paling mereka senangi. Apalagi kalau tidak ada orang dewasa atau orang tua yang mengatur batasan pesta mereka. Dan Ichigo pun menerima anggukan persetujuan dari semua temannya itu.

# # #

Pukul 10.30, bel saatnya masuk dan belajar kembali pun terdengar. Semua murid di sekolah Karakura memasuki kelasnya masing-masing dan menerima tiap pelajaran. Jam saat seperti ini sih jam pelajaran Ochi-sensei, pelajaran sastra bahasa yang cukup aku sukai.

"Hey, midget!" huh? Midget? Siapa yang dipanggil dengan panggilan seperti itu? Haha, panggilan memalukan!

Bletak!

"Awwww!" aku berteriak kesakitan sambil memegangi kepalaku yang tadi entah dilempar bolpoin oleh siapa. "Haha, kena kau!" aku segera menoleh ke asal suara itu, dia pasti pelakunya. Aku terheran melihat pelakunya adalah Ichigo yang duduk di sebelah bangkuku. Bukannya dia duduk di belakang, tapi kenapa sekarang dia ada di sebelahku?

"K-Kau! kembali ke tempatmu!" bentakku kasar seolah tak menginginkannya duduk dekat denganku. Tentu saja, bisa dikerjai habis-habisan aku olehnya. Ichigo menjulurkan lidahnya, dia mengejekku.

"Aku boleh pindah semauku kan, midget!" balasnya. Midget? Jadi julukan itu darinya yang diberikan untukku? Menyebalkan! Terpaksa aku harus mengalah padanya karna saat ini Ochi-sensei sudah memasuki kelas. Dan pelajaran pun dimulai.

Setelah menerangkan, Ochi-sensei memberi tugas rumah yang dikerjakan secara berkelompok. Aku sedikit kecewa begitu mendengar harus dikerjakan secara berkelompok. Menurutku berkelompok itu susah, akan banyak pendapat yang berbeda hingga aku tidak bisa menyalurkan ideku sendiri yang menurutku jenius. Perlu diketahui, aku menduduki peringkat 2 di kelas ini, jadi aku boleh dibilang jenius kan? Hohoho~

Setelah Ochi-sensei mengatur sebagian kelompok di kelas, tiba giliranku yang akan diatur kelompoknya oleh Ochi-sensei. "Baiklah, untuk Kuchiki... kau dapat kelompok 5 yang beranggotakan Kau, Uryuu Ishida, Shiba Kaien, Abarai Renji, Muguruma Kokuto dan... Kurosaki Ichigo,"

JLEGAAAAAAAAAAAAAR!

Rasanya ada gunung yang meletus di kepalaku begitu aku mendapat orang-orang yang paling kuhindari untuk menjadi kelompokku. Tidak! Enak saja, kenapa hanya aku yang perempuan di kelompok ini? Setidaknya aku butuh perempuan juga untuk jadi temanku di kelompok yang beranggotakan iblis-iblis SMA Karakura ini!

"S-Sensei, apa aku boleh pindah ke kelompok lain? Atau boleh aku oper salah satu dari anggota kelompokku dengan seorang perempuan?" pintaku dengan penuh harap agar sensei mengabulkan permintaanku ini. Tapi yang kudapat malah senyuman darinya dengan dahi yang berkerut.

"Maaf Kuchiki, pembagian kelompok ini sudah pas dan tidak bisa dirubah. Lagipula kau pasti bisa mengatur kelompokmu dengan bijaksana kan? Aku yakin kau bisa!" jawab Ochi-sensei lalu berjalan ke papan tulis. Ahh... pupus sudah harapanku untuk merubah kelompokku. Aku menyandarkan kepaku di meja. Kalau begini caranya, lebih baik aku bekerja sendiri daripada harus bekerja bersama mereka, para gerombolan mesum nan jahat itu.

Tiba-tiba ada gulungan secarik kertas yang mendarat di mejaku. Aku langsung mengambilnya lalu menoleh ke sebelahku. Cih, sudah kuduga ini dari Ichigo. Aku pun membuka dan membaca tulisan yang terpampang di gulungan kertas itu.

'Kalau mau kerja kelompok, di rumahku saja. Setelah itu, ayo kita lakukan seks! Aku punya banyak pengaman di rumah! -evil smile-'

Brengsek! Umpatku lalu segera melempar balik kertas itu tepat di kepala oranyenya sekeras mungkin. Ichigo hanya tertawa melihat mukaku yang merah ini akibat tulisan mesumnya itu. Ah, aku punya ide! Aku mengambil halaman terakhir di bukuku lalu menyobeknya sedikit dan menuliskan sesuatu.

'Nii-sama akan memukulmu 2x atau bahkan memanggil teman-teman yakuzanya jika kau berani macam-macam padaku.'

setelah menulisnya, kulempar ke arah Ichigo. Tangan pemuda itu dengan lincah menangkap gulungan kertas dariku itu dan membacanya dengan seringaian yang tak lepas dari wajahnya. Namun begitu selesai membaca tulisanku, seringaiannya mulai pudar. Haha, sepertinya ancamanku berhasil!

"Sekian dulu pelajarannya! Jangan lupa kumpulkan tugas kalian setelah 2 hari ini," pesan Ochi-sensei sebelum meninggalkan kelas yang kemudian di jawab dengan seruan para murid. Aku menghela nafas panjang. Betapa malangnya nasibku harus dapat kesialan seperti ini.

"Rukia, yang sabar ya. Hehe." kata Hinamori yang ada di belakangku yang menyemangatiku. Aku hanya mengangguk menanggapinya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa denganku kalau sudah berhadapan dengan gerombolan mesum ini.

Kaien, Renji, Kokuto dan Ishida menghampiriku. Mereka sepertinya terlihat senang karna aku menjadi salah satu dari kelompok mereka. "Jadi, bagaimana, Rukia? Di mana kita harus kerja kelompok?" tanya Kaien girang. Tapi pasti ada maksud tersembunyi yang jelek padanya. Dia kan tidak jauh beda sifatnya dengan jeruk busuk itu.

"Entahlah. Bagaimana kalau di rumahku saja?"

"AKU TIDAK SETUJU!"

Ichigo yang masih duduk di tempatnya tapi menyimak pembicaraan tentang tugas ini menjawab tidak setuju oleh tawaranku. Aku menggumam kesal.

"Kenapa kau tidak mau di rumahku?"

"Kau mau aku dihajar oleh kakakmu yang seperti monster itu? Cih. Aku tidak mau pergi ke dunia lain yang diantara surga dan neraka itu!" jawaban Ichigo membuatku hampir tertawa. Jadi dulu itu dia berpura-pura kuat di hadapanku padahal aslinya dalamnya dia sudah hancur? Aku akhirnya terpaksa mengikuti apa kemauan anggotaku ini. Yaitu bekerja kelompok di rumah Ichigo. Yah terpaksa, lagipula sensei hanya memberi waktu 2 hari, waktu yang singkat. Jadi harus cepat-cepat diselesaikan tugasnya itu.

# # #

"Kalian ini niat tidak sih!"

Aku, Kuchiki Rukia menyatakan menyesal oleh keputusanku sendiri! Bagaimana tidak? Sepulang sekolah ini aku terpaksa bekerja kelompok di rumah Ichigo dulu untuk menyelesaikan tugas dari Ochi-sensei untuk membuat poster dengan slogan yang menarik. Dan apa yang kudapat setelah sampai di rumah Ichigo? Yaitu anggota yang malas-malassan! Saat ini aku sedang berada di kamar Ichigo yang bisa dibilang kecil. Dan aku kemarahanku ini diabaikan oleh anggota-anggotaku.

Lihatlah Shiba Kaien, dengan santainya dia bersandar di tembok sambil bermain game di ponselnya. Sedangkan Abarai Renji, dia asyik memakan dengan sajian pisang yang disuguhkan oleh Ichigo. Kemudian Uryuu Ishida yang serius membaca buku aneh dengan judul 'panduan menjahit rapi' yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah sebelum ke rumah Ichigo. Lalu Muguruma Kokuto, dia saat ini sedang mencontek tugas matematika yang belum dia kumpulkan milik Ishida. Dan yang paling parah dan bisa kita bilang sebagai bos dalam gerombolan ini adalah Kurosaki Ichigo! Dia sedang ber-internet ria dan asyik membuka situs-situs hentai di ponselnya. Sialan! Aku benar-benar terabaikan! Kalau begini sama saja aku bekerja sendiri, bukan kelompok!

"Hey, kalian! Jangan santai terus! Cobalah ungkapkan pendapat kalian mengenai slogan-slohan menarik dari otak kalian!" kataku yang akhirnya angkat bicara.

"Slogan ya... hmm... game itu membuat cerdas!"

Kaien, kenapa di otakmu cuma ada game terus?

"Pisang itu sehat!"

Slogan dari Renji sangat aneh!

"Menjahit itu simbol rumah tangga yang baik,"

Kalimatmu tak masuk akal, Ishida!

"Diagonal 1 di bagi diagonal 2..."

Kokuto, slogan! Slogan! Bukan rumus!

"Seks itu nikmat,"

Sial. Ini yang paling buruk diantara semuanya, yaitu sloganmu, Ichigo.

"Ichigo, aku permisi ke kamar mandi dulu!" ucapku sinis. Ichigo sejenak menoleh padaku. "Ya. Kau tahu di mana kamar mandinya kan?" tanyanya. Aku mengangguk. Tentu aku tahu, aku kan pernah menyelinap rumahmu saat Yumichika mengerjaimu. Aku berdiri dari tempatku lalu berjalan menuju kamar mandi.

Sesampainya di sana, aku membasuh mukaku. Oh Kami-sama, apa yang harus aku lakukan di tengah-tengah gerombolan setan-sertan jahat itu? Dan apanya kalimat Ichigo yang bilang bahwa dia tidak bisa mesum selain padaku? Buktinya dia saat ini masih membuka situs-situs menjijikkan di depanku tanpa malu. "Kau menyebalkan, Kurosaki Ichigo."

"Apanya yang menyebalkan?"

Aku terhenyak kaget begitu seseorang muncul di belakangku tanpa kusadari. Aku segera membalikkan tubuhku dan mundur darinya.

"K-Kokuto?" kataku dengan takut. Bagaimana bisa dia menyusulku di sini? Kokuto tersenyum padaku. Yah, senyuman yang menenangkan, tidak seperti senyuman licik milik Ichigo!

"Kau tadi berpikiran tentang kekasihmu ya?" tanyanya. Aku menggeleng cepat. "Tidak! Ichigo itu bukan kekasihku! Aku tidak pernah punya rasa suka padanya."

"Tapi bagaimana kalau dia yang punya perasaan padamu?"

Seketika aku bungkam. Aku tdak bisa membalas ucapannya itu. Kalau Ichigo menyukaiku, ya sudah. Aku hanya menganggapnya biasa karna dia bukanlah orang yang spesial untukku.

"Rukia, Ichigo benar-benar berubah. Aku salut denganmu karna bisa merubahnya jadi seperti ini. Benar-benar hebat," Kokuto menunjukkan senyuman hangatnya padaku. Membuat wajahku memerah. Entah kenapa hatiku jadi berdebar-debar kalau melihatnya tersenyum. Kokuto benar-benar tampan.

"A-Aku permisi dulu. Tugasnya harus selesai!" kataku dengan gugup, sebenarnya aku tidak kuat untuk berduaan dengannya. Dia terlalu berbahaya bagiku. "Yah. Ayo segera kita selesaikan tugasnya!"

# # #

"Eh?" aku heran begitu kembali ke kamar. Yang tadinya ramai, kini kamar Ichigo jadi sepi. Hanya ada Ichigo di sana yang masih memainkan ponselnya. Mata hazel Ichigo menatapku yang dengan Kokuto.

"Semuanya sudah pulang karna cuacanya mendung. Dan katanya mereka ada kesibukan masing-masing di rumah." kata Ichigo dengan nada bicara kesal. Aku melihat pemandangan dari jendela kamar Ichigo. Ternyata awannya memang mendung, sepertinya mau hujan.

"Kalau begitu aku juga harus pulang. Ayah bisa marah kalau aku tidak pulang saat mau hujan seperti ini!" Kokuto kemudian mengambil tasnya yang tergeletak dan keluar dar kamar. "Dah, Rukia, Ichigo!" pamitnya. Aku kecewa. Kalau begini, berarti tugas ini tidak jadi kan. Aku pun mengangkat tasku, bermaksud untuk ikut pulang sama dengan yang lain.

"Kau mau pulang juga? Dasar tidak tanggung jawab. Tugasnya belum selesai, ketua!" ledek Ichigo menyindirku. Aku menggumam-gumam tak jelas sambil mengacuhkan Ichigo. Segera kupakai tasku dan keluar dari kamarnya tanpa pamit. Dan tiba-tiba sebuah tangan besar melingkar di pinggangku saat aku berdiri di depan pintu kamar Ichigo.

"I-Ichigo! Lepaska... aaah!" hey, kerasukan apa laki-laki ini? Dia memelukku dari belakang sambil menciumi leherku, membuatku merasa geli.

"Sudah kubilang kan tadi, setelah selesai dengan tugasnya kita lakukan seks..." bisik Ichigo di telingaku. Tubuhku bergetar mendengarnya. "J-Jangan sembarangan kau! Aku ti- Nnggh! Ichi!" tubuhku mulai menggeliyat di pelukannya begitu tangan Ichigo meremas dada kananku. Lidahnya pun turut ambil bagian menjilati leherku, menghantarkan rangsangan kepadaku. Perlahan-lahan, Ichigo menarik tubuhku masuk kembali ke dalam kamarnya. Dengan masih memelukku, dia menutup pintu kamarnya. Tangannya semakin menjadi-jadi bermain dengan dadaku, membuatku kesakitan dengan remasan yang ia lakukan.

"I-Ichigooo...! H-Hentikaan... nnhh," aku tak bisa menahan desahanku begitu Ichigo menggigit leherku sambil tangan lainnya yang tak ia gunakan untuk meremas dadaku berusaha melepas kancing seragamku. Aku tidak bisa melawannya. Yang bisa kulakukan hanya mendesah menerima perlakuannya. Hujan deras mengiringi nuansa di antara kami. Hujan yang membuat udara dingin itu tidak berpengaruh pada kami yang sedang berpelukan dan berciuman dengan panasnya.

Aku menggengam erat seprei kasur oranye Ichigo dengan cengkraman kuat. Ichigo terus melumat-lumat bibirku dengan liarnya. Tanpa mempedulikan rintihanku, Ichigo melepas seragam yang melekat dari tubuhku hingga saat ini aku hanya mengenakan bra. "A-aahn..." aku segera menghirup oksigen begitu Ichigo melepas ciumannya. Tapi itu tak bertahan lama, pemuda berambut oranye itu kembali melumat dan mengulum bibirku dengan kasar. Lidahnya bermain-main di rongga mulutku dengan lihainya. Ia menautkan lidahnya dengan lidahku dan tanpa kusadari, aku menerima tantangannya itu untuk beradu lidah. Semakin lama, terdengar suara kecapan-kecapan kecil saat bibir kami saling melumat.

"Rukia... kau menikmatinya?" bisik Ichigo dengan menyeringai sambil mengecup keningku. Aku hanya diam tak bicara apapun. Mata hazelnya seakan menghanyutkanku untuk menuruti apa yang dia mau. Jemari-jemarinya mulai bermain di pahaku dan menuju selangkanganku karna rokku yang tersingkap ini. "Tenang saja, yang kau dapat bukan sakit. Tapi kenikmatan, Rukia..." aku memekik pelan saat tangannya yang ada di dadaku menggeser braku ke atas lalu memainkan putingku. Aku benar-benar tidak bisa menahan rangsangan ini. Masa bodoh dengan semuanya, yang aku pikirkan hanyalah jangan sampai terbawa oleh permainannya!

"Cukuphh... Ichi... goooo!" teriakku yang merasakan gigitan kecil di dadaku. Tanganku menjambak rambut oranye Ichigo, berharap dia mau melepaskanku. Tapi kelakuanku ini malah membuatnya makin bersemangat. Ia menghisap dadaku kuat-kuat sambil sesekali ia gigit. Uhhh... aku tidak mau munafik, yang bisa kukatakan saat ini adalah aku menikmatinya. Sementara Ichigo bermain dengan dadaku, jemari Ichigo yang lain menurunkan celanaku. Setelah berhasil melepasnya, ia sentuh klitorisku yang menegang itu dengan jari telunjukknya, membuatku tersentak.

"Ah! I-Ichi... go! k-kumohon... sshh... hentikaaanhh!" desahku tak kuasa menahan geli dan nikmat yang ia berikan. Ichigo mengacuhkanku. Dia masih menghisapi dadaku secara bergantian. "Ayolah Rukia... jangan minta berhenti. Aku tahu, kau suka yang seperti ini kan?" bisiknya dengan suara lirih lalu kembali menyedot-nyedot dadaku layaknya seorang bayi.

Aku menggigit bibir bawahku. Sudah tidak kuat! Bisa kurasakan tiga jari Ichigo bermain-main di kewanitaanku. Jarinya yang basah terkena cairanku itu membuat gerakan maju-mundur jarinya semakin cepat. Aku semakin mendesah keras begitu Ichigo menggerakkan jari-jarinya secara zig-zag. Sepertinya ia bermaksud membuat lubang agar memudahkan miliknya masuk ke dalam mlikku.

Air mataku mulai keluar. Perih yang kurasakan sudah tak kuat kutahan. "Ahh... Mmmngh... Ichi..." hanya rintihan yang bisa kukeluarkan. Ichigo berhenti menghisapi dadaku dan menatapku dengan senyumannya. "Rukia, kau benar-benar menarik... kau berbeda dengan perempuan lain, kau istimewa." ucapnya lalu mengecup leherku. Kata-kata manisnya membuatku tak berdaya. Tapi kata-kata manis itu tidak sesuai dengan tindakannya. Jari-jari Ichigo semakin meliuk-liuk dengan kasar di vaginaku, membuatku terus mengerang kesakitan sekaligus nikmat. "Kumo... hon... Hen-Hentikannh! Cukupph! Ngggh~!" Ichigo terus saja menggerakkan jari-jarinya dengan kasar sambil memandangiku yang kesakitan. Senyum puas terkembang di wajahnya. "Ayo Rukia, keluarlah sekarang!" dengan sekali dorong, ketiga jari Ichigo langsung masuk dengan dalam di bagian terdalam vaginaku.

"Aaaaahhhh! Hhh... Ah..." cairan hangat yang mendesakku untuk mengeluarkannya akhirnya keluar. Cairan kenikmatan yang membuat Ichigo semakin bernafsu melihatku. Ichigo membuka lebar pahaku, ia memandang pemandangan yang terpampang di hadapannya itu. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri, seakan menemukan makanan yang enak.

"Slrrp..." Ichigo menjilati daerah kewanitaanku, sekali lagi aku dibuatnya mendesah. Wajahnya semakin menempel pada kewanitaanku dan lidahnya masuk meliuk di lubangku. Ditambah jarinya yang memainkan klitorisku, membuatku semakin gila. Ichigo terus menghisapinya.

"Ichigo... hentikanh... a-aku...ahh..." bahkan untuk bicara saja aku tak bisa. Ichigo benar-benar liar!

"Sepertinya bukan hanya mulutku saja yang ingin merasakan ini, Rukia... milikku juga ingin merasakannya." kalimat Ichigo membuatku semakin takut. Ichigo merangkak naik di atas tubuhku. Sesaat ia kecup dadaku lalu menatapku yang sudah lemas ini.

"Kau mau pakai pengaman atau tidak?" tanyanya. Ahh... pakai pengaman atau tidak itu sama saja keperawananku bisa hilang nantinya, kumohon jangan lakukan itu!

# # #

Seorang pria dengan mata abu-abu menatap hujan deras dari jendela rumahnya. Pemuda bernama Kuchiki Byakuya itu mencemaskan adiknya, Rukia. Beberapa kali ia menelpon Rukia, tapi yang ia dapati hanya terus nomor yang tidak aktif. Byakuya mengeluarkan ponselnya dari sakunya lalu menghubungi salah satu nomer yang ada di kontaknya.

"Halo," jawab si penerima telepon Byakuya. Byakuya diam sejenak.

"Kau tahu adikku di mana?" tanyanya. Si lawan bicara Byakuya menjawabnya dengan helaan nafas.

"Tak kusangka setelah sekian lama kita tidak kontak, kau menelponku dan menanyakan keadaan adikmu."

"Sudahlah, cepat jawab, Kokuto!"

Si lawan bicara Byakuya, yaitu Kokuto hanya bisa diam. Ia kemudian tertawa pelan.

"Adikmu sedang bersenang-senang dengan seseorang..."

TBC

Holaaa~! chapter ini akhirnya muncul sedikit lemon... atau masih lime ya? Haaha... sudahlah, saia mau minta pendapat, enaknya tar pakai pengaman atau gak? -plaaak!

Buat balas repiu, sekali lagi maaf! Saia ga sempat! Waktu tidak mengijinkan DX

Chapter depan pasti saya balas! Wokeeh! Mohon repiunya yah!