Disclaimer : : Tite Kubo

Warning : : OOC, GAJE, ABAL, AU, TYPO, HUMOR GARING, DLL! No flame!

I can change you!

Chapter 6

Di hari yang masih sama, yaitu hari di mana Rukia sedang berada di rumah Kurosaki Ichigo, saat ini cuaca masih belum berubah. Hujan masih turun dengan derasnya, dan semakin dingin pula hawa dingin yang bisa kita rasakan.

Kuchiki Byakuya masih diam di tempatnya sambil memandang pemandangan hujan deras dari luar jendela. Pikirannya masih berpusat khawatir dengan bagaimana keadaan adiknya yang saat ini belum pulang juga.

Tok... Tok...

Suara ketukan pintu rumah kediaman Kuchiki yang sederhana itu terdengar. Si pemilik rumah beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah pintu rumah untuk membukakan pintu itu pada si tamu yang mengetuk pintu rumahnya tersebut. Byakuya memutar kenop pintu. Ia sedikit merasa heran pada tamu itu. Siapa dia? Dan kenapa di tengah hujan seperti ini ia bertamu di rumahnya? Mungkinkah itu Rukia? Tidak. Itulah jawaban yang diberikan Byakuya jika ada pertanyaan seperti itu. Adiknya pasti tidak akan senekat itu berlari dan basah kuyup di tengah hujan deras seperti ini.

Namun dugaannya salah. Begitu mata abu-abu itu menangkap seorang gadis di hadapannya yang sangat basah kuyup sambil menunduk itu, mata abu-abu itu membulat. Mengekspresikan sebuah keterkejutan.

"Ru-Rukia!" Byakuya langsung merengkuh kedua pundak kecil Rukia dan menggeretnya dengan hati-hati masuk ke dalam rumah. Ia tak peduli dengan lantai rumahnya yang basah yang mengotorinya akibat air hujan yang menetes dari tubuh Rukia. Yang harus ia lakukan adalah segera menghangatkan tubuh adiknya itu.

"Rukia, kau kenapa? Kenapa kau senekat ini menerobos hujan?" tanya Byakuya sembari mengeringkan tubuh Rukia dengan handuk yang baru saja ia ambil dari lemarinya. Rukia tersenyum, bermaksud untuk menenangkan kakaknya itu.

"Sudahlah Nii-sama. Aku tidak apa. Memang sih ini dingin, tapi sudah mulai menghilang kok dinginnya." balas Rukia. Byakuya menghela nafas lega setelah mendengar jawaban dari sang adik.

"Tadi kau kutelpon, tapi nomermu tidak aktif. Apa yang sedang kau lakukan di rumah Hinamori?"

Rukia tertegun kaget. Dia kan tadi berada di rumah Ichigo, bukan di rumah Hinamori. Dan siapa yang bilang seperti itu pada Nii-samanya?

"Nii-sama tahu darimana?"

"Aku tahu dari salah satu temanmu. Tadi aku meneleponnya, dan ia menjawab kau sedang bersenang-senang dengan Hinamori di rumahnya."

Rukia sedikit bingung dengan Nii-samanya. Tapi ia harus berterima kasih pada salah satu temannya yang entah itu siapa karena telah membohongi Nii-sama kalau ia tadi sedang bersama Hinamori. Daripada Nii-samanya harus tahu kalau kenyataannya ia sedang bersama Ichigo, bisa-bisa Byakuya membuat masalah lagi dengan laki-laki berkepala jeruk itu.

Rukia mengkalungkan handuknya di leher. Gadis itu kemudian berjalan gontai menuju kamarnya di lantai atas.

"Rukia, sekalian saja kau mandi." seru Byakuya dengan sedikit berteriak agar Rukia yang masih ada di tangga mendengarnya.

"Ya, Nii-sama!"

# # #

Gadis bermata violet itu menghempaskan tubuh mungilnya di kasur kamarnya yang empuk. Ia tak peduli dengan pakaian seragamnya yang masih basah oleh air hujan yang pastinya membasahi kasurnya itu. Gadis bermata violet itu merenung di kasurnya dengan selimut tebal yang ia cengkram erat.

"Ichigo..." gumam Rukia yang lalu menutup kedua matanya dan kembali mengingat kejadian saat ia bersama Ichigo tadi.

FLASHBACK

"Ahh... I-Ichi..." desahan Rukia yang menggoda itu menggema di kamar Ichigo. Laki-laki yang mencumbunya dengan asyiknya itu terus melakukan kegiatannya di atas ranjang. Kedua dada mungil Rukia terus diremasnya, dan bibirnya asyik menikmati leher putih Rukia. Ichigo seperti kecanduan dengan tubuh Rukia, hingga ia tak sadar sudah berapa banyak kissmark yang telah ia berikan pada tubuh gadis di bawahnya itu.

"Hen-Hentikanhh... kumohon," pinta Rukia dengan nada memelas.

"ICHIGOOOOO!" kali ini Rukia berteriak nyaring di telinga Ichigo hingga telinga pemuda itu berdengung hebat setelah mendengar teriakan barusan. Bukan hanya teriakan yang membuat telinganya sakit, tapi jambakan kuat yang hampir mebuat rambut Ichigo rontok hingga sekepal tangan itu ia terima dari Rukia. Dan akhirnya laki-laki berambut oranye itu menyerah dengan siksaan yang Rukia berikan. Ichigo kemudian menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap wajah mungil Rukia yang ada di bawahnya itu.

"Apa-apaan kau, mid... get?" Mata hazelnya membulat seketika saat melihat air mata yang menetes dan membasahi pelupuk mata violetnya itu. "R-Rukia?" Ichigo menyeka bekas air matanya yang ada di pipi Rukia dengan tangannya.

Gadis itu masih sesenggukan, menahan tangisnya.

"Kumohon... aku tidak mau melakukannya... lepaskan aku, Ichigo,"

Ichigo mengerutkan dahinya. Kekecewaan tiba-tiba muncul dari hatinya. Tangannya yang semula menahan Rukia untuk berontak itu ia lepaskan. Pemuda itu menggeram kesal pada Rukia lalu menggeser tubuhnya dari atas tubuh Rukia dan turun dari kasurnya. Rukia sedikit tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Benarkah Ichigo terpengaruh dengan aktingnya yang ia lakukan agar Ichigo berhenti melakukan hal yang seharusnya masih belum boleh mereka lakukan itu?

"I-Ichigo?" panggil Rukia pada Ichigo sambil menarik selimut putih yang ada di kasur Ichigo sebatas dada agar menutupi tubuh telanjangnya itu. Ichigo hanya diam membelakanginya. Ia seolah tak mendengarkan panggilan tersebut.

"Aku..." Rukia menggantung ucapannya. Gadis itu mengambil seragamnya yang terjatuh di lantai dan memakainya kembali. Mata violetnya melirik Ichigo yang kini duduk di lantai bersandarkan pada tembok.

"Mana bisa aku melakukannya," ucapnya. Rukia hanya diam mendengar perkataan Ichigo.

"Mana bisa aku melakukannya jika kau sampai menangis. Aku tidak bisa memaksamu seperti ini walau aku menginginkanmu, Rukia." lanjutnya. Rukia terdiam. Hatinya terasa sakit begitu mendengar ucapan Ichigo. Ia memang senang karena telah berhasil membuat Ichigo membatalkan hal terlarang tadi, tapi hati kecilnya juga kecewa karna Ichigo dengan mudahnya terpengaruh oleh sandiwara yang ia buat. Dan itu artinya, Rukia sebenarnya juga menginginkan Ichigo saat ini.

"Pulanglah."

Rukia mengangguk mendengar apa yang Ichigo perintahkan kepadanya. Gadis itu mengambil tasnya yang tergeletak di lantai lalu berjalan sambil sesekali melirik Ichigo yang masih terdiam bersandar di tembok. Ichigo tidak membalas mata tatapannya, seolah menganggap Rukia tidak ada di dekatnya saat ini. Suasana panas tadi kini menjadi dingin. Atau bahkan sunyi senyap. Rukia berdiri dan diam di tempat. Sebelum pergi, ia harus tetap berpamitan pada Ichigo walau sepertinya Ichigo sedang marah padanya.

"Ichigo, aku pula-"

"Aku menyukaimu, Rukia."

Hening. Mendengar kalimat tadi, Rukia segera menoleh pada Ichigo yang ada di belakangnya itu, yang masih duduk bersandar tembok. Kedua mata itu saling memandang. Tatapan tak percaya dari Rukia dan tatapan serius dari Ichigo. Sesaat setelahnya, Ichigo tertawa kecil dan mengalihkan pandangannya dari Rukia.

"Haha. Sudahlah, tadi aku cuma asal bicara, jangan terlalu kau pikirkan. Pulanglah sebelum aku berubah pikiran untuk menyerangmu kembali." kata Ichigo dengan senyum mesum seperti biasanya. Ciri khas yang ada pada dirinya. Namun Rukia merasa canggung pada Ichigo meski pemuda itu kembali seperti biasanya. Ichigo dengan senyum mesum yang ia kenal.

"A-Aku pulang dulu ya!" ujar Rukia dengan suara berat sambil tersenyum pada Ichigo. Tentunya senyum yang dipaksakan darinya. Langkah kaki kecilnya pun dengan berat meninggalkan kediaman rumah Kurosaki. Dan tentunya juga meninggalkan orang yang mungkin telah berhasil meluluhkan hatinya, yaitu Kurosaki Ichigo. Di tengah derasnya hujan, ia berlari cepat. Berfikir ingin segera pulang ke rumah dan melupakan bahwa Ichigo hampir menyentuhnya. Air hujan yang membasahi pipinya, menutupi air mata yang keluar dari matanya. Yah, tangisan untuk Ichigo.

END FLASHBACK

Rekaman ulang dari otak Rukia itu telah selesai. Kedua matanya kembali terbuka. "Ichigo, apa aku keterlaluan?" tanyanya entah pada siapa. "Kau boleh memilikiku." lanjut Rukia. Gadis itu lalu beranjak bangun dari kasurnya dan membersihkan dirinya di kamar mandi.

# # #

Esok harinya di sekolah...

"Oy Ichigo! Bagaimana kemarin? Kau sukses making love dengan Kuchiki Rukia tercintamu itu?" seorang laki-laki berambut hitam itu menepuk bahu Ichigo yang sedang diam memandangi kota Karakura dari atap sekolahnya. Hembusan angin membuat rambut oranyenya tergerak sesuai arah angin.

"Tidak. Aku tidak melakukannya, Kaien." jawabnya singkat.

Semua teman, atau lebih tepat gerombolannya itu terkejut mendengar jawaban dari ketuanya itu. Suasana menjadi heboh karena baru kali ini Ichigo gagal melakukan hal mesum. Apalagi padahal di rumah tidak ada siapa-siapa selain Rukia dan dirinya.

"Kenapa bisa begitu, Ichigo? Kau tahu, kemarin Byakuya meneleponku karena ingin menanyakan keadaan Rukia, dan aku sudah berbohong padanya. Aku bilang kemarin bahwa Rukia sedang bersenang-senang dengan Hinamori agar kau lolos dari pukulan maut yakuza mengerikan itu dan nyawamu tidak terancam!" cerita Kokuto pada Ichigo saat kemarin Byakuya meneleponya. Seperti orang bodoh, Ichigo tidak peduli dengan laporan dari Kokuto itu. Ia hanya diam dan tetap memandangi pemandangan yang terlihat olehnya itu.

"Sudahlah. Kalian tidak perlu ikut campur lagi urusan antara aku dengan Rukia lagi,"

Kesal dengan Ichigo yang seperti itu, Renji mencengkram kerah seragam Ichigo dan berteriak padanya. "ADA APA DENGANMU? AYO CERITAKAN PADA KAMI! KAU INI MENGANGGAP KAMI SEBAGAI SAHABATMU ATAU BUKAN, HAH?" Ichigo tertegun kaget mendengar kata-kata Renji. Renji menunjukkan rasa kecewa dan kesal pada sahabatnya itu. Ia kecewa karena Ichigo saat ini mengacuhkan sahabatnya saat ia mendapat masalah.

"Ichigo, sahabat ada untukmu berbagi masalah. Sahabat ada untuk membantumu menyelesaikan masalahmu. Dan sahabat ada untuk memberi motivasi saat kau menyerah. Itulah kami, Ichigo."

Laki-laki berambut oranye itu menatap Ishida yang berbicara tadi. Senyum tipis kembali muncul di wajah Ichigo. Tangan Ichigo menyentuh pergelangan tangan Renji sambil kemudian membalas tatapan Renji dengan tatapan meledek. "Yah. Aku tahu, aku mohon bantuannya ya, sobat!" tangan Ichigo kemudian melepas pelan tangan Renji yang mencengkram kerah seragamnya barusan. Cengiran kuda muncul di wajah Renji dan kemudian disusul oleh senyuman Kaien, Kokuto dan Ishida.

"Inilah Kurosaki Ichigo yang kami kenal!"

# # #

"Hhhh..." Rukia menghela nafasnya dengan malas. Rukia sesekali melirik ke pintu kelas. Ia mengharapkan Ichigo kembali ke kelas. Tadi, Ichigo sedang bolos pelajaran jam terakhir ini tentu beserta dengan teman- temannya.

'Kau ke mana sih, Ichigo. Ini sudah hampir pulang...' pikir Rukia dengan kepala yang ia tidurkan di meja. Memang rasanya ia merasa adalah seorang perempuan bodoh yang awalnya benci dengan Ichigo, kini malah berbalik jadi menyukainya. Suka? Tunggu! Itu belum tentu. Rukia saat ini masih ragu akan perasaannya pada Ichigo. Tapi seandainya Ichigo menyatakan perasaannya, mungkin hatinya bisa menerima Ichigo dengan tulus.

'Argh! Kenapa ini seperti drama atau sinetron yang biasa tayang di televisiiii?' gumam Rukia memikirkan kisah perasaannya dengan Ichigo.

# # #

Lima orang laki-laki bergerombol membentuk sebuah lingkaran yang dihasilkan oleh posisi mereka bersama itu. Kelima laki-laki itu berjongkok, merencanakan sesuatu yang seperti sebuah rahasia.

"Kalian dengar, nanti setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku akan mencegah Rukia dulu dan menyatakan perasaanku pada Rukia! Tapi, seperti yang kalian tahu. Aku bukan laki-laki romantis! Jadi aku minta bantuan kalian untuk membuat kata-kata romantis yang pantas aku gunakan untuk menyatakan perasaanku pada Rukia. Tulis kata-kata itu di kertas ini, lalu setelahnya berikan hasilnya kepadaku. Mengerti?" kata Ichigo sebagai kapten yang memberikan aba-aba atau tugas pada bawahannya itu. Semua mengagguk mengerti. Setelah itu, Ichigo memberikan selembar kertas pada mereka masing-masing untuk menuliskan kata-kata romantis buatan dari otak mereka masing-masing.

"Hmm... Oh, Kuchiki... matamu indah bagaikan permata ungu, tubuhmu mungil bagaikan barbie,"

"Renji, yang romantis!" sela Ichigo yang mendengar puisi dari Renji. Puisi? Entah kedengarannya itu barusan bukanlah sebuah puisi, lebih tepatnya yang tadi itu adalah lelucon.

"Oke, oke! Begini saja!"

"Rukia, kau seperti malaikatku... malaikat pencabut nyawa. Kau shinigami untukku! Kau membunuhku dengan ucapan pedasmu! Kau-!"

Ichigo langsung melempar batu ke kepala Renji. "Mati saja kau!"

# # #

Beberapa menit telah berlalu, tidak seperti yang Ichigo duga, ternyata teman-temannya benar-benar sangat membantunya. Ichigo melirik semua kata-kata romantis yang tepat untuk dijadikan pernyataan cinta dari teman-temannya dan hasilnya hampir semuanya memuaskan. Kecuali Renji. Dari tadi dia selalu membuat kata-kata konyol. Begitu Ichigo menegurnya karena membuat kata-kata konyol, ia selalu menyangkal bahwa kata-kata yang dibuatnya sudah romantis.

"Oy Kokuto, bagaimana kata-kata yang kau buat?" tanya Renji sambil melirik Kokuto yang sudah selesai dengan pekerjaannya. Dengan sombong, Kokuto tertawa. "Punyaku pasti sangat romantis! Aku kan ahlinya meluluhkan hati perempuan dengan kata-kata. Coba dengarkan aku ya! Ehem...!"

Hey gadis, tahukah kau?

Sedari dulu kau selalu diperhatikan seseorang.

Sedari dulu kau selalu diinginkan olehnya.

Sedari dulu pula dia mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati.

Dan setelah waktu berlalu dengan lama dan cepatnya, kurasa kau harus tahu siapa orang yang memperhatikanmu dari kejauhan itu.

Ketahuilah, bahwa akulah orang yang menyukaimu dan mencintaimu setulus hatiku.

Ashiteru, Rukia.

Semua terdiam mendengar kata-kata dari Kokuto. Benar-benar sangat romantis dan tentunya itu bisa memikat hati seorang gadis!

"BRAVO, KOKUTO! MILIKMU BENAR-BENAR KEREN!" komentar Kaien pada kata-kata buatan Kokuto.

"Yah, benar-benar hebat!" puji Ichigo yang masih terpaku dari kejauhan dengan kalimat-kalimat yang diciptakan oleh Kokuto. Seperti maestro! (?)

"Fufufu. Aku kan sudah berpengalaman dengan yang seperti ini." balas Kokuto dengan nada bangga sambil memasang pose seperti seorang artis dengan bunga mawar yang digigitnya dan background bersinar-sinar.

Merasa kalah, Renji dengan kesal merebut lembaran kertas milik Kokuto dan membaca ulang kembali. Menurutnya, miliknya itu kan lebih mengena daripada milik Ichigo. Sementara Renji membaca milik Kokuto, Kokuto bertukar mengambil lembaran kertas milik Renji dan membaca hasil karya miliknya.

Teeeeet! Teeeet!

Bunyi bel pulang sekolah tiba-tiba terdengar. Belum sempat Imembaca hasil karya milik Renji, kertas yang dipegang Kokuto itu langsung disambar oleh Ichigo yang panik.

"Kokuto, aku ambil kata-kata milikmu! Terima kasih atas kata-kata romantis ini ya!" teriak Ichigo sebelum meninggalkan teman-temannya untuk bertemu dengan Rukia dan menyatakan perasaanya dengan kata-kata buatan Kokuto.

"Ichigo, itu...!"

Belum sempat memberitahu kertas siapa yang dibawa Ichigo, Kokuto menghentikan teriakannya. Percuma, Ichigo sudah jauh darinya karena laki-laki itu berlari dengan cepat dan penuh semangat. Kokuto menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Dasar. Kertas yang dia bawa kan milikmu, Renji. Kau membuat kata-kata yang bagus kan?" Kokuto menoleh pada Renji yang ada di sebelahnya. Renji mengangguk mantap. Tapi melihat dari raut mukanya, sepertinya ada yang tidak beres...

"Le-Lebih baik kita juga segera menyusul Ichigo untuk melihat pernyataan cintanya itu..." usul Renji yang kemudian disetujui oleh semuanya dengan sebuah anggukan.

# # #

Semua murid kelas 2-E telah keluar dari kelas mereka. Ichigo sedikit kebingungan mencari keberadaan gadis mungil yang dicarinya itu. Karena terlalu banyak murid-murid yang berbaur di sekitar kelasnya itu.

'Rukia... Rukia... dimana kau?' pikir Ichigo berlonjak-lonjak sambil memandangi sekitarnya. Matanya menangkap seorang gadis mungil berambut pendek di sekitar gerombolan Chizuru. Dan tidak salah lagi, itu pasti Rukia! Segera saja Ichigo berlari cepat menuju tempat gerombolan Chizuru yang tak jauh dari tempatnya. 'Rukia, aku akan menembakmu!' batin Ichigo dengan penuh harap agar Rukia menerima perasaanya nantinya.

"Rukia!"

Gadis yang dipanggil Ichigo itu berhenti melangkah di antara teman-teman perempuannya yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah. "Ichigo?" Rukia kaget melihat Ichigo yang berlari ke arahnya dan dengan tiba-tiba menarik Rukia mundur dari gerombolannya dan mengajaknya berlari entah ke mana.

"R-Rukiaaa!"

Teriak Chizuru yang mendapati Rukia berlari menjauhinya bersama Kurosaki Ichigo yang menggandeng tangan mungil Rukia.

# # #

"I-Ichigo, apa yang kau lakukan sih?" Rukia hanya bisa menurut Ichigo yang saat ini menariknya ke taman belakang sekolah. Ichigo melepas genggamannya itu di sana lalu kemudian membalikkan badannya menjadi berhadapan dengan gadis itu. Mata hazel Ichigo menatap serius nata Rukia. Pandangan kedua mata mereka saling bertabrakan, membuat suasana menjadi tegang.

"Ada yang ingin kukatakan padamu, Rukia. Kuharap kau menerima pernyataanku ini!" kata Ichigo dengan rasa penuh keberanian hingga keringat dingin menetes banyak. Rukia mengerutkan alisnya melihat sikap aneh Ichigo. Bisa dilihatnya saat ini wajah pemuda di hadapannya itu campur aduk. Rasa takut, gugup, dan lainnya jadi satu, berekspresikan di wajahnya. Ichigo mengambil sebuah kertas yang ada di saku celananya, kertas yang berisikan kata-kata romantis. Dan pastinya itu bukan buatan darinya, karena ia bukalah tipe laki-laki yang romantis. Tahukah kalian? Selama berpacaran dulu, Ichigo tidak pernah mengutarakan kata-kata romantis untuk pacarnya itu. Yang ada di pikirannya hanyalah pelampiasan nafsunya bisa dilampiaskan kepada pacar-pacarnya itu. Dan karena sikap tidak senonohnyalah yang membuat Ichigo ditinggal oleh pacar-pacarnya. Sungguh kejadian tragis bagi Kurosaki Ichigo!

Ichigo menatap Rukia dengan penuh keseriusan sambil tangannya membuka kertas yang terlipat itu. Kertas yang akan membuatnya yakin Rukia bisa luluh begitu ia selesai mengucapkan kalimat-kalimat yang tertulis di sana.

"Rukia, aku..." Ichigo menundukkan kepalanya dan bersiap membacakan kalimat yang tertulis di kertas yang dibawanya dan tanpa pikir panjang dan tidak peduli dengan yang lainnya, dengan berteriak lantang seolah menunjukkan kesungguhan perasaanya itu, seorang Kurosaki Ichigo menyatakan perasaannya pada Kuchiki Rukia dengan kalimat yang akan membuat hati seorang wanita akan luluh meski kata-kata itu tidaklah murni dari pemikirannya sendiri.

"IKAN HIU PEGEL-PEGEL,

I LOVE YOU, GIRL!"

"..."

Seketika suasana di antara kedua insan itu hening.

"Kaak! Kaaak!"

Terdengar suara burung gagak yang terbang lewat di antara mereka. Ichigo melihat Rukia yang melihatnya dengan mulut terbuka seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ichigo pun kembali membaca kalimat dari kertas yang dibawanya itu dan meyimaknya dengan sesama. Setelahnya, dengan cepat tubuh Ichigo membatu. Sebuah kesalahan vatal dilakukannya. Ia keliru mengambil kertas berisikan kata-kata buatan Kokuto dengan kata-kata buatan Renji. Dan parahnya lagi, Ichigo membacanya dengan berteriak. Yap! Berteriak dengan lantang! Apalagi itu bukanlah kata-kata romantis, lebih tepat disebut dengan pantun gombal.

"R-Rukia, anoo... maaf, maksudku," Ichigo hanya bisa menyengir kuda pada Rukia dengan muka biru dicampur merah. Sepertinya ia mual dengan apa yang diucapkannya sendiri ditambah rasa malu yang sangat amat hebat pada Rukia. Niatnya menyatakan perasaannya secara romantis dan lembut, tapi kenapa malah jadi menyedihkan seperti ini? Sepertinya setelah ini, Ichigo akan membunuh seorang murid dari SMA Karakura bernama Abarai Renji.

"HMPH! HAHAHAHAHA!" tawa Rukia yang tadinya ia tahan akhirnya langsung meledak begitu keras dan beberapa saat kemudian disusul oleh gelak tawa para murid yang ternyata mengintai mereka dari tempat persembunyian termasuk gerombolan Ichigo. Ichigo terkejut melihat teman-temannya yang tertawa keras di balik semak-semak dan pohon di taman belakang sekolahnya itu. "K-Kalian!" geram Ichigo.

"I-Ichigo... tidak kusangka kau mengucapkannya sambil berteriak! Wuahahahahahaha!" sahut Kaien yang sampai menangis dengan kejadian tersebut. "Diam kau!" balas Ichigo dengan salah tingkah di hadapan semua murid-murid SMA Karakura yang mengintainya itu. Dengan setengah tertawa, Rukia berjalan lebih mendekat pada Ichigo. Ia genggam tangan pemuda itu.

"Pernyataan perasaanmu lucu sekali, Ichigo. Aku benar-benar tak menyangkanya kau melakukan hal seperti ini. Kau hebat!" kata Rukia sambil masih terkikik mengingat cara pernyataan Ichigo. Ichigo hanya bisa diam dengan muka merah sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Pemuda itu melirik Rukia yang ada di sampingnya.

"Jadi, bagaimana jawabanmu? Meski aku bilang seperti itu dengan cara memalukan, yang tadi itu juga serius loh."

Mata violet Rukia membalas tatapan Ichigo yang kemudian sebuah senyuman riang menghiasi wajah gadis mungil itu.

"Ya. Aku menerima perasaanmu, Ichigo!"

Jawaban Rukia membuat Ichigo tak kuasa menahan rasa bahagianya. Niatnya untuk membunuh Renji karena telah mebuat kata-kata memalukan tadi telah sirna. Sepertinya kata-kata tadi itu tidak terlalu buruk juga. Buktinya Rukia menerima perasaannya. Tangan kuat Ichigo langsung mengangkat tinggi-tinggi tubuh mungil Rukia dan memutarkan tubuh mereka bersama.

"Aku mencintaimu, Kuchiki Rukia!" kata Ichigo tanpa malu di hadapan para murid-murid yang masih ada di tempat. Muka Rukia langsung memerah begitu mendengarnya. Senyuman kecil mengembang di wajah manisnya itu.

"Hahaha. Benar-benar kejadian unik. Pantun buatanmu ternyata tidak buruk juga, Renji." kata Kokuto menyeggol lengan Renji. Renji tertawa. "Tentu! Sudah kubilang, aku akan jadi yang terbaik di antara semuanya!"

"Hey Renji, buatkan juga untukku kalau suatu saat aku berencana menyatakan perasaanku pada seorang perempuan ya." bisik Ishida lirih dengan muka merah. Laki-laki itu malu dengan permintaanya sendiri. Renji mengedipkan matanya. "Tentu!"

Semua murid terbawa oleh suasana yang diciptakan kedua insan itu. Dan mulai hari ini, Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Rukia resmi menjadi pasangan kekasih. Para murid yang melihat mereka tersenyum melihat sepasang kekasih yang masih berputar-putar dengan tawa bahagia mereka bersama.

'Ichigo, aku percaya bahwa sekarang kau sudah berubah. Aku yakin, kau pasti tulus mencintaiku kan? Kupastikan, aku tidak akan meragukan ketulusanmu.' itulah yang dipikirkan Rukia saat ini. Rasanya seperti mimpi begitu melihat senyuman hangat Ichigo yang ditunjukkan kepadanya.

# # #

Di kediaman Kuchiki...

Seorang laki-laki dengan rambut biru tengah duduk di sofa milik keluarga Kuchiki dengan santainya dan kedua kakinya berada di meja. Laki-laki itu menghembuskan asap rokok dari mulutnya sambil melirik seorang laki-laki yang tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Yah, tergeletak di bawahnya dengan bersimbah darah. Laki-laki berambut biru itu tersenyum melihatnya. Ia memainkan sebuah pisau dengan darah merah kental yang ia genggam di tangan kirinya.

"Ayolah, Byakuya... kau tidak akan mati semudah ini kan? Mana seorang mantan pemimpin yakuza yang dibilang tangguh itu?" ucapnya dengan seringaian di wajahnya. Ternyata Kuchiki Byakuya-lah yang tergeletak dengan mengenaskan di bawah laki-laki berambut biru itu. Byakuya mendongakkan kepalanya. Tangannya mengepal dengan kuat dan wajahnya menampakkan sebuah rasa sakit yang ia tahan di tubuhnya. Mata abu-abu itu menatap laki-laki itu dengan kemarahan yang tak bisa ia bendung lagi.

"K-Kau..."

To Be Contiuned...

Holaaa~! kembali lagi bertemu dengan saia! XD -halah!

Chapter ini kayanya bikin image Ichigo jadi super ancur yah? ==a haha, biarlah, sekali-kali aja! -dikeplak!

Kayanya chapter depan mulai lebih ke cerita tentang masa lalu Byakuya nih, n sama Hisana juga sih ^^a

wokeh! Bales repiu dulu!

Searaki Icchy La La La : : Biasalah, Ichigo kan orang sopan, makanya minta ijin dulu kalau buat nge-rape! Tenang, Byakuya gak terlibat acara lemonan kok. XD

Yamakaze Shizuka : : Maaph, gak jadi lemon nih ^^ -Ditabok!

Ddbb : : Maaph, lemonnya ney belum waktunya! XD

Chessa : : Wkakakak! Ichigo kan orangnya sopan, makanya tanya dulu sebelum nge-rape -?-

Kurosaki Miyuki : : Yupz, gak papa kok! Tapi maaf ya, kali ini masih belum bisa lemon ^^

Dobelianaru : : Oh ya? Maaph, lemonnya belum bisa muncul kali ini ^^

Rukiberry si Silent Reader : : Wahaha, maaph, gak jadi lemon nih! Dan byakuya bakal sakit, makanya ntar dy gak bisa ganggu IchiRuki!

Kyucchi : : Deng Dong! salah, byakuya gak mergokin IchiRuki kok ^^

Meyrin Kyuchan : : Tenang, Rukia gak jadi di rape kok ^^ umur mereka sekitar 16-17

Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura : : Yupz, lemonnya bakal saia tampakkan setelah mereka saling cinta XD

Voidy : : Iya, sama! Dulu saia juga pernah loh dapet kelompok yang bikin stress seperti Rukia, bedanya gak mesum, haha!

Karin Uzumaki : : Ichigo cemburu? Chapter depan! XD

Kuro Chappy Ruki : : Makasih ^^

CrimsonDevil D. ShinSen Hanero : : Ahaha, maaph, tapi lemonnya gak bisa lanjut nih. ^^

Chacha d'PeachyxSuika Lovers : : Cerita yang hebat tuh! Sangat singkat, jelas dan padat, haha! XD

Kokota : : Tenang, Byakuya gak ikut campur dalam masalah itu XD

GodCrusader : : Yupz! Ini udah apdet! XD

Wokeh, akhir kata maaf kalau ada yang menyinggung! Silahkan Repiu! Monggo repiu pinarak! -?- XD